Thursday, December 28, 2017

Akademisi dan Bigotri

Awal mula saya menuliskan ini, pertama-tama yang saya cari adalah asal kata "bigot". Wiktionary menyebut bigot sebagai kata yang berasal dari Bahasa Prancis Kuno yang disematkan pada orang yang mempunyai pandangan religius yang hipokrit. Bigot juga diartikan sebagai orang dengan sikap intoleran dan berpandangan penuh kebencian pada kubu yang berseberangan dengannya secara ideologis. Bigot, dalam Bahasa Indonesia, sinonimnya sangat sederhana: fanatik.

Lalu sebuah status yang ditulis oleh dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD kemarin, Aquarini Priyatna, menggelitik benak saya. Isi status tersebut kira-kira menyebutkan tentang bahaya orang-orang berpendidikan tinggi yang terjangkiti bigotri (ke-bigot-an). Status tersebut juga ternyata menjadi pertanyaan saya sudah sejak lama: Mengapa pendidikan yang tinggi tidak menjadi jaminan seseorang untuk berpikiran lebih terbuka? Dalam pengamatan saya yang sederhana, setidaknya dari kampus yang pernah saya gauli, bigotri itu tidak kenal level pendidikan. Bahkan penyandang gelar doktor pun bisa sangat tertutup pola pikirnya dan menghalalkan segala argumen demi melegitimasi kebenciannya pada kaum selain dirinya.  

Semestinya, akademisi bisa tidak terjangkiti bigotri. Saya tidak tahu apakah ilmu logika masih diajarkan dengan baik di kampus-kampus di Indonesia saat ini, tapi seharusnya ilmu logika bisa menjadi pertahanan pertama anti-bigotri. Dengan pola penarikan kesimpulan yang hati-hati, baik deduktif maupun induktif, bigotri, yang biasanya ditandai dengan pengambilan kesimpulan yang terburu-buru dan cenderung hitam putih, harusnya dapat dihindari. Misalnya, saya pernah berdebat dengan seorang doktor dari suatu kampus, yang mengatakan bahwa, "Kemerdekaan Indonesia diusahakan oleh orang-orang Islam. Bukan oleh orang-orang non Islam, apalagi ateis dan komunis." Pernyataan ini agak sesat pikir dan ahistoris, karena dalam literatur manapun kerap disebutkan peran PKI dalam kemerdekaan, plus tidak sedikit daftar para pejuang yang bukan beragama Islam - perjuangan di Bali dan Sumatra Utara, misalnya -. Pertanyaannya: Mengapa ia bisa berkesimpulan seperti itu? Premis apa yang mendasarinya? Apakah karena di Indonesia banyak Muslim lalu ia berkesimpulan dengan yakin bahwa orang Islam lah yang mengusahakan kemerdekaan?

Belum lagi, sesaat setelah Ibu Aquarini mengeluarkan status tersebut, saya langsung bersemangat menginventarisasi kerancuan berpikir apa yang sering muncul dalam perdebatan dengan topik agama. Rupanya cukup banyak, dan ini saya ragu sudah semua disebutkan: 

  • Argumentum ad hominem (menyerang pribadi): "Ngapain ngomongin agama, anakmu saja gak pake penutup kepala."; 
  • Argumentum ad populum (mengacu pada orang banyak): "Ini suara mayoritas, harus ikut."; 
  • Arguing in a circle ("mbulet"): "Pernyataan ini benar karena tertuang dalam kitab suci. Kitab suci pasti benar karena mengandung kata-kata Tuhan. Kata-kata Tuhan pasti benar karena iman saya kepadanya." 
  • Non sequitur (kesimpulan tidak mengikuti premis): "Dia sekolah di Kanada, pasti dia benci pada agama saya." 
  • Post hoc ergo propter hoc (menyimpulkan berdasarkan urutan kejadian): "Setelah PM Inggris datang, terjadi gempa bumi di Padang." 
  • Stereotyping (menyimpulkan secara terburu-buru berdasarkan pengetahuan sepintas): "Rambutnya pirang, pantas dia dukung LGBT." 
  • Strawman fallacy (mengulang argumen lawan dalam versi keliru): "Oke, saya mengerti. Argumenmu tentang larangan pengeras suara hanya menunjukan kebencianmu pada agama kami kan?" 
  • The black and white fallacy (melihat sesuatu secara hitam putih): "Kamu tidak sembahyang? Berarti kamu sudah keluar dari agamamu!" 
  • To quoque (melakukan sesuatu atas dasar pembalasan): "Kalian duluan yang menyerang umat kami sehingga kami boleh dong menyerang umat kalian."
Itu baru dalam pandangan sebuah mata kuliah mendasar yang biasanya diajarkan di semester awal tingkat strata satu. Biasanya di level magister dan doktoral, ada mata kuliah lain yang harus ditempuh dan ini sangat penting sebagai landasan berpikir keilmuan kita: filsafat ilmu - di beberapa kampus malah mata kuliah ini sudah diajarkan di strata satu -. Filsafat ilmu mengajarkan asal usul keilmuan dan landasan epistemologi kita. Misalnya, bagaimana kita dapat tahu sesuatu? Apakah berdasarkan pengamatan empirik, intuisi, atau rasionalitas? Bagaimana posisi teori dalam keilmuan, apakah untuk membuktikan atau memaknai? Bagaimana dengan ilmu kritis atau teori kritis, apakah dapat dikatakan ilmiah atau tidak? Dalam konteks ilmu sosial, manakah yang lebih mencerminkan realitas masyarakat, penelitian dengan metode kuantitatif atau kualitatif? 

Segala pertanyaan yang diungkapkan tersebut setidaknya (atau seharusnya), menciptakan sikap hati-hati dalam diri seorang akademisi, karena bagaimanapun, ilmu pengetahuan, yang seolah begitu konkrit dalam menyelesaikan persoalan umat manusia, ternyata juga mesti berhadapan dengan sejumlah perdebatan metodologis. Seharusnya dengan demikian, seorang akademisi juga seyogianya lebih rendah hati melihat agama yang dalam kacamata Kant, ada di wilayah noumena (tidak terjangkau oleh kategori-kategori pengetahuan manusia dan hanya ada di tataran keimanan dengan fungsinya sebagai postulat). 

Pun agak sukar membayangkannya: Ketika ia menulis tesis atau disertasi. Ia menyusun latar belakang, merumuskan masalah, menyusun teori, membandingkan dengan penelitian sebelumnya, mengobservasi dan mewawancarai objek penelitian, dan kemudian menyimpulkan dengan rendah hati (seperti kata Popper, penelitian yang baik adalah yang cukup rendah hati untuk disempurnakan oleh penelitian lain di kemudian hari). Adakah celah untuk bigotri? Harusnya tidak. Saya tidak menyalahkan siapapun yang ingin membela agamanya, tapi bagi seorang akademisi, harusnya apologia berlaku dengan lebih teliti dan argumentatif. 

Penyebab lain, yang tidak bisa dianggap sepele, adalah kemungkinan jika seorang akademisi kuliah di luar negeri. Meski negara tempat ia kuliah sangat sekuler, namun biasanya ada upaya pengerasan identitas dengan tetap berkumpul bersama yang sepaham. Selain itu, skenario terburuknya: pendidikan yang tinggi menciptakan superiority complex yang cukup serius. Seseorang bisa merasa punya otoritas untuk berbicara, meski dasarnya lebih kepada iman ketimbang kemasukakalan - hal yang seyogianya bertentangan dengan prinsip keilmiahan yang membutuhkan eksplanasi sebaik-baiknya agar dapat diterima secara "objektif" -. 

Tiba-tiba saya ingat seorang ilmuwan besar dalam dunia Islam, namanya Al-Ghazali. Ia adalah orang yang begitu kuat menentang filsafat. Sekilas mungkin ia tampak seperti bigot yang pikirannya tertutup dan intoleran. Namun coba baca tulisan anti-filsafat-nya di Tahafut Al Falasifah (kerancuan para filosof). Tulisan anti-filsafatnya, begitu filosofis! Menunjukan kebesaran pengetahuannya dalam hal mantiq (logika). Ia membela akidah dengan apologia yang bukan main, cantiknya. Tidakkah kita merindukan, akademisi yang demikian? 

Pun demikian saat Romo Franz Magnis Suseno menulis buku Menalar Tuhan dengan pesan yang jelas: Ketika semakin marak ateisme oleh sebab nalar modern yang seolah kian tidak sejalan dengan nalar keagamaan, maka membela Tuhan dengan nalar yang baik adalah hal yang mendesak. Romo Magnis adalah seorang pastur, keberpihakannya pada Katolik sudah jelas. Tapi tengok bagaimana ia melakukan pembelaan dan serangan balik terhadap argumen lima ateis besar sepanjang sejarah: Nietzsche, Sartre, Marx, Freud, dan Feurbach. Memang ujung-ujungnya kembali pada iman, tapi argumentasinya tidak patut disepelekan. 

Alangkah indahnya jika para akademisi yang pendidikannya sudah tinggi-tinggi, ingat dengan apa yang sudah dipelajarinya selama ini. Dengan demikian, mungkin, sikap bigotri bisa dihindari. Tapi seorang teman berpesan, "Bigotri itu penyakit, kadang tidak bisa disembuhkan, meski ia kuliah S3 sampai ke negara paling sekuler sekalipun." 
Previous Post
Next Post

0 comments: