Friday, June 9, 2017

Kelas Logika: Berpikir Induktif

Berpikir induktif berarti berpikir dari kejadian khusus ke kesimpulan yang bersifat umum. Pada dasarnya, cara berpikir kita memang demikian adanya, termasuk pada saat berpikir deduktif sekalipun. Misalnya, pada silogisme yang paling umum seperti: 

Semua manusia akan mati 
Sokrates adalah manusia 
Sokrates akan mati

Premis “semua manusia akan mati” sebenarnya hanya abstraksi dari pengalaman-pengalaman kita akan matinya beberapa manusia. Pada dasarnya, secara epistemologi, kita tidak bisa mengetahui apakah semua manusia itu mati atau tidak. 

1. Argumen Kausal Mill 

Pada abad ke-19, seorang pemikir Inggris, John Stuart Mill merumuskan lima argumen kausal. Argumen kausal dengan berpikir induktif adalah saling bertalian. Hal tersebut sesuai dengan definisi Aristoteles tentang sains, yaitu, “Penjelasan atas segala sesuatu dengan menelusuri sebab-sebabnya.” Penelusuran sebab-sebab tersebut oleh Mill dibagi ke dalam lima bagian. 

1.1. Metode Kesamaan 

Metode kesamaan dapat ditunjukkan lewat sebuah contoh penemuan fluoride dan hubungannya dengan penurunan tingkat kerusakan pada gigi di pertengahan abad ke-20. Daerah yang orang-orangnya mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, setelah diteliti, adalah daerah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya. Setelah membandingkan ke beberapa wilayah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya dan ternyata benar orang-orang di tempat tersebut mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, maka disimpulkan berdasarkan metode kesamaan bahwa fluoride adalah zat yang mampu menurunkan tingkat kerusakan gigi. Contoh lainnya, seorang guru hendak mengetahui mengapa empat siswanya mengalami keracunan. Setelah diselidiki, siswa 1 memakan sup, roti, salad, dan apel kalengan; siswa 2 memakan sup, roti, sayur, dan apel kalengan; siswa 3 memakan roti, sayur, salad, dan apel kalengan; siswa 4 memakan sup, salad, sayur, dan apel kalengan. Berdasarkan data tersebut maka dapat diperoleh hasil bahwa keempat siswa tersebut sama-sama memakan apel kalengan. Maka itu dapat disimpulkan bahwa apel kalengan adalah penyebab para siswa keracunan. 

1.2. Metode Perbedaan 

Metode perbedaan dapat ditunjukkan lewat contoh tentang separuh penumpang pesawat yang mendadak sakit perut. Maskapai penerbangan menawarkan dua jenis makanan pada penumpang, yaitu ayam atau lasagna untuk makan malam. Mereka yang sakit perut adalah yang memilih ayam untuk makan malam sedangkan mereka yang tidak sakit perut adalah yang memilih lasagna untuk makan malam. Maka itu dapat disimpulkan bahwa ayam adalah penyebab sakit perut tersebut. Contoh lainnya, misalnya, dalam sebuah lomba gitar klasik, juri memutuskan bahwa juaranya adalah bernama Asep. Ketika Asep menaiki podium, ia mengatakan bahwa kuncinya mendapatkan gelar juara adalah latihan delapan jam sehari. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan peserta lain yang latihan kurang dari lima jam per hari. Maka itu, kesimpulannya, berdasarkan metode perbedaan, latihan delapan jam sehari adalah penyebab mengapa Asep menjadi juara. 

1.3. Metode Perbedaan dan Kesamaan 

Antara metode perbedaan dan kesamaan, keduanya bisa digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan induktif yang lebih meyakinkan. Misalnya, seorang analis sepakbola ingin mengetahui mengapa Real Madrid dapat menang melawan Juventus di final Liga Champions musim kompetisi 2016 / 2017. Pertama-tama, ia menggunakan metode kesamaan dengan melihat musim sebelumnya ketika Real Madrid menang melawan Atletico Madrid di final Liga Champions. Dua musim berturut-turut, Real Madrid selalu menggunakan formasi lini depan Cristiano Ronaldo – Gareth Bale – Gonzalo Higuain, sehingga analis sepakbola tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan trisula itulah yang membuat Real Madrid selalu juara Liga Champions. Kemudian analis sepakbola melihat faktor lain yang berbeda dari Real Madrid, yaitu kekalahan Juventus itu sendiri. Juventus kalah, kata analis, karena mereka tidak menguasai lini tengah dan kalah cepat di sektor sayap. Artinya, dapat disimpulkan, kemenangan Real Madrid melawan Juventus yang membuat mereka berturut-turut menjuarai Liga Champions adalah tetap menggunakan trisula Ronaldo – Bale – Higuain (metode kesamaan dengan formasi di musim sebelumnya) serta penguasaan lini tengah dan sayap yang cepat (metode perbedaan dengan strategi Juventus). 

1.4. Metode Residu 

Metode residu artinya mencari penyebab bukan berangkat dari konsekuennya, melainkan antesedennya (lihat bagian proposisi majemuk sub bagian hipotetikal). Perlu diketahui bahwa metode residu ini agak berbau deduktif karena diturunkan dari sebuah asumsi umum. Misalnya, seorang guru fisika mendapati dirinya mengidap hipertensi setelah melakukan pengecekan tekanan darah. Menurut dokter, setelah dicek, ia tidak menemukan kesalahan pada gejala-gejala yang memungkinkan terjadinya tekanan darah: ginjal bagus, asam urat bagus, kolesterol bagus, dan trigliserida bagus. Akhirnya dokter tersebut mengasumsikan bahwa hipertensi yang diidap guru fisika tersebut berasal dari faktor genetis (turunan). Dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa metode residu adalah metode induksi yang bergerak dengan mengeliminasi berbagai sebab-sebab yang mungkin lewat keadaan anteseden yang akibat-akibatnya sudah ditegakkan (dibuktikan) oleh induksi-induksi terdahulu. 

1.5. Metode Variasi Keseiringan 

Metode variasi keseiringan merupakan metode yang digunakan secara cukup luas. Kita bisa memahaminya lewat contoh-contoh berikut ini: Seorang petani membuktikan bahwa terdapat hubungan kausal antara penggunaan rabuk (fertilizer) dengan hasil panen. Ia mencatat bahwa bagian-bagian yang terhadapnya digunakan lebih banyak rabuk akan menghasilkan panen yang lebih melimpah. Kemudian di contoh lain, seorang pengusaha membuktikan bahwa semakin sering produknya diiklankan, maka semakin laku usahanya. Artinya, gejala-gejala itu berubah (bervariasi) secara langsung antara yang satu dengan yang lainnya, yakni, jika yang satu meningkat, yang lainnya juga meningkat. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu itu harus berbanding lurus. Metode variasi keseiringan juga menerima hubungan kausal antara gejala-gejala yang berubah secara berbanding terbalik, yakni, antara gejala-gejala yang sedemikian rupa hingga jika yang satu meningkat, maka yang lainnya menurun. 

2. Argumen Analogikal 

Sebagian besar penalaran dalam kehidupan kita sehari-hari berlangsung berdasarkan analogi. Misalnya, saya berpendapat bahwa sepasang sepatu baru akan mempunyai daya tahan lama berdasarkan pengalaman saya bahwa sepatu terdahulu yang dibeli dari toko yang sama mempunyai daya tahan yang sama; dosen itu akan terlambat datang lagi karena minggu lalu pun ia datang terlambat. Secara sederhana, dapat diartikan bahwa analogi adalah landasan dari semua penalaran sehari-hari kita dari pengalaman di masa lampau ke yang akan terjadi di kemudian hari. Argumen analogikal tidak dimaksudkan untuk memberikan kepastian. Argumen analogikal tidak dapat dinilai dan diklasifikasikan sebagai valid atau tidak valid. Argumen analogikal hanya dapat dinilai atau dikualifikasikan berdasarkan tingkat dan derajat probabilitasnya. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama berpendapat bahwa makanan di Bandung adalah enak. Orang pertama, yang tinggal di Bandung baru satu bulan, tentu pernyataannya tersebut lebih tidak kuat dibanding orang kedua, yang tinggal di Bandung selama satu tahun. 

Daftar Pustaka  

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Causal Reasoning. http://www.philosophypages.com/lg/e14.htm


Previous Post
Next Post

0 comments: