Tuesday, June 13, 2017

Menunda Asumsi, Melesapi Peristiwa: Selayang Pandang Konsep Fenomenologi dalam Pandangan Husserl dan Caputo



Pada awal abad ke-20, muncul benih-benih perlawanan terhadap paradigma positivisme dalam ilmu pengetahuan. Cara pandang yang sudah sedemikian lekat sejak era Francis Bacon di abad akhir ke-16 tersebut dianggap tidak mampu menjawab sejumlah permasalahan. Protes mulai bermunculan ketika Auguste Comte, seorang sosiolog Prancis di abad ke-19, menyerukan dengan sangat yakin, bahwa sebagaimana halnya alam yang bisa diprediksi dan dikontrol, manusia pun akan sampai pada tahap yang demikian. Majunya ilmu pengetahuan, bagi Comte, akan membawa manusia keluar dari fase teologis dan metafisik, sehingga masuk ke suatu era yang paling cerah: era positif. Pada titik ini, sederhananya, segalanya menjadi jelas dan bisa dijelaskan, baik fenomena alam maupun fenomena manusia. 

Protes tersebut datang dari beberapa kubu. Wilhelm Dilthey misalnya (1833 – 1911), membedakan tegas antara ilmu-ilmu alam (naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu manusia (geisteswissenschahften). Ilmu-ilmu alam, menurut Dilthey, dipahami melalui penjelasan (erklären) sedangkan ilmu-ilmu sosial dipahami melalui pemahaman (verstehen). Artinya, pola penafsiran ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial mesti dibedakan dan tidak bisa dipukul rata seperti positivisme Conte. 

Edmund Husserl (1859 – 1938), di wilayah lain, mengajukan konsep fenomenologi untuk menambal lubang-lubang yang tidak bisa ditutup oleh positivisme. Menurut matematikawan Jerman tersebut, dunia pengalaman keseharian manusia yang muncul di dalam dunia-yang-ditinggalinya (lebenswelt) tidak bisa dijelaskan begitu saja oleh positivisme. Harus ada pendekatan baru yang sarat nilai (bukan bebas nilai), (inter) subyektif (bukan obyektif), dan penuh empati (bukan berdiri di luar). Konsep sentral dalam fenomenologi adalah epoché atau tanda kurung. Husserl selalu mengingatkan pentingnya memasukkan segala asumsi-asumsi ke dalam tanda kurung sebagai bentuk penundaan kesimpulan. Makna terdalam, kata Husserl, hanya akan timbul jika kita tidak melihat lewat kacamata yang sudah kita pakai sebelumnya. 

Fenomenologi Agama 

Pada ranah teologi, kemudian muncul juga istilah fenomenologi agama. Kata “fenomenologi” ini sebenarnya tidak mengacu pada Husserl, tapi pada G.W.F. Hegel yang sudah menggunakannya terlebih dahulu di periode Romantik Eropa. Fenomenologi agama dikembangkan awal mulanya oleh Pierre Daniël Chantepie de la Saussaye (1848-1920), William Brede Kristensen (1867-1953) dan Gerardus van der Leeuw (1890-1950). Inti fenomenologi agama adalah memahami keberbedaan dalam beragama berdasarkan pengalaman-pengalaman personal individu ataupun kelompok yang memeluknya. Meski tidak dilahirkan dari rahim yang sama, namun prinsip epoché tetap ada dalam fenomenologi agama: harus ada proses menunda asumsi dan meletakannya dalam tanda kurung, sehingga fenomena keberagamaan dapat dipahami secara empatik dan inter-subyektik. 

Ketimbang dua nama lain, Van Der Leeuw dapat dikatakan sebagai peletak dasar fenomenologi agama yang lebih sistematis – dicurigai karena ia sudah kena terpaan dari Husserl -. Dalam bukunya yang berjudul Religion in Essence and Manifestation: A Study in Phenomenology of Religion, ia menyebutkan langkah-langkah penggalian makna keagamaan, dengan prinsip epoché sebagai sentral. Langkah-langkah itu antara lain: (1) Pengklasifikasian. Termasuk ke dalam apakah fenomena keagamaan yang hendak diketahui, apakah kurban, tempat suci, waktu suci, teks suci, festival, mitos, dan sebagainya. (2) Keterlibatan. Makna hanya bisa dikuak jika kita masuk ke dalam fenomena itu sendiri – menjadi bagian darinya –. (3) Epoché. Menahan asumsi dan menunda kesimpulan tentang fenomena tersebut jangan sampai kita terburu-buru – biarkan fenomena yang “berbicara” tentang dirinya sendiri -. (4) Mencari hubungan fenomena dengan struktur yang lebih besar agar pemahaman kita dapat lebih holistik. Misal: puasa adalah bentuk asketisme yang ada hampir di semua agama besar. (5) Melakukan pendekatan interdisiplin dengan melibatkan tradisi pemikiran lain seperti filsafat, psikologi, antropologi, hingga linguistik agar kompleksitas fenomena dapat diurai dengan jernih. 

Fenomenologi Agama John D. Caputo: Tuhan sebagai Yang Lemah dan “Membelum” 

John D. Caputo (lahir tahun 1940) adalah filsuf asal Amerika Serikat yang menggeluti teologi dari kacamata posmodernisme. Ia begitu dekat dengan pemikiran filsuf Prancis, Jacques Derrida, terutama mengenai dekonstruksi – beberapa kali juga mereka pernah tampil satu forum -. Pendekatan Caputo sangat erat dengan teologi negatif (apofatik) yang kuat kaitannya dengan prinsip epoché. Teologi negatif, pada dasarnya, merupakan teologi yang mendekati konsep Tuhan dengan “yang bukan” (lawannya adalah teologi positif atau teologi katafatik yang mendekati konsep Tuhan dengan “adalah”). 

Ini mungkin bisa kita bayangkan dengan bagaimana seorang peneliti fenomenologi, jika ia sedang berhadapan dengan fenomena, ia harus senantiasa menempatkan asumsi-asumsi ke dalam epoché sambil terus menegasi dengan berkata “yang bukan”. Misalnya, jika menjadikan sendal sebagai objek penelitian fenomenologi, maka peneliti tersebut harus senantiasa membuang asumsi, dan terus menegasi dengan mengatakan bahwa sendal adalah “bukan (semata-mata) alas kaki” dan “bukan (semata-mata) komoditi”. Sendal mungkin punya makna yang lebih daripada itu, jika diselami secara total, misal: ekspresi ritual shalat di Indonesia. 

Caputo menawarkan konsep weak theology sebagai implementasi dekonstruksi, teologi apofatik, sekaligus fenomenologi yang menjadi dasar pemikirannya. Ia ingin melihat Tuhan bukan lagi yang Maha Kuat, Maha Absolut, dan Maha Segalanya. Pandangan-pandangan tentang Tuhan harus didekonstruksi menjadi yang lemah, terbatas, dan hanya timbul dari pengalaman-pengalaman partikular – pada titik ini, Caputo mulai masuk pada fenomenologi -. Hanya konsep Tuhan dalam weak theology ini, menurut Caputo, yang bisa relevan dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara. Kita akan melihat Tuhan selalu dalam proses “menjadi” dan “membelum” dan seolah-olah kian terdewasakan bersama peristiwa-peristiwa. 

Daftar Referensi 

Connolly, Peter. 1999. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKIS
Heltzel, Peter Goodwin. 2006. The Weakness of God: A Review of John D. Caputo, Weakness of God: A Theology of The Event. http://www.jcrt.org/archives/07.2/heltzel.pdf
Media Stanford Encyclopedia of Philosophy. Phenomenology. https://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/
Van Der Leeuw, Gerardus. 2014. Religion in Essence and Manifestation. New Jersey: Princeton University Press
Continue reading

Sunday, June 11, 2017

Manusia di Hadapan Teknologi: Tuan atau Budak?

Kita sering menyebut abad ini sebagai abad teknologi. Nyaris tidak ada satu hal pun yang kita lakukan tanpa melibatkan bantuan teknologi. Teknologi juga telah membawa kita pada hal-hal yang sulit terbayangkan sebelumnya: Mengetahui berita lintas benua secara langsung, mempublikasikan sebuah pesan serentak ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari sedetik, berkendara melampaui samudera, hingga menembus atmosfer dan melayang-layang di ruang hampa udara. Ketika Era Renaisans bermula pada sekitar tahun 1500-an, masyarakat Eropa mulai mempertimbangkan rasionalitas sebagai pusat dari kehidupan manusia dan mengembangkannya tanpa henti. Hingga abad-abad ke depannya, kredo “manusia mengendalikan alam” terus menjadi sandaran bagi setiap perkembangan teknologi. Umat manusia serta merta ada pada ledakan kegembiraan setiap ada penemuan baru. Mereka percaya bahwa kita semua, seperti kata Friedrich Hegel, berada pada suatu perjalanan menuju pencerahan. 

Namun menjelang abad ke-21, ketika teknologi menjadi semakin canggih, para pemikir tidak lagi fokus pada bagaimana teknologi dapat menaklukkan alam serta menunjukkan kedigjayaan manusia. Neil Postman, Martin Heidegger, Jurgen Habermas, Herbert Marcuse, John Zerzan, hingga Don Ihde, mulai merenungkan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang hilang akibat kemajuan teknologi ini. Pada tulisan ini, hanya akan dibahas sari-sari dari dua pemikir saja, yaitu Postman dan Heidegger. Dari pemikiran dua orang itu, mungkin kita bisa ikut merenungkan pertanyaan yang diajukan dalam judul esai ini, apakah manusia, jika berhadapan dengan teknologi, menjadi tuan atau malah menjadi budak?  

Mendefinisikan Teknologi 

Teknologi tidak selalu terkait dengan hal-ikhwal penemuan abad modern. Pada dasarnya, segala benda yang membantu manusia dalam kehidupan, dapat dikatakan sebagai teknologi –atas dasar itu, teknologi juga dapat dikatakan sebagai “extension of men”-. Kata dasar dari teknologi itu sendiri adalah techne, yaitu istilah dalam bahasa Yunani yang berarti seni, keterampilan, atau kerajinan tangan –jika tangan kita sebut juga sebagai teknologi, apakah kita bisa katakan teknologi sebagai “extension of mind”?-. Atas dasar itu, maka sudah sejak zaman prasejarah, manusia menggunakan teknologi seperti batu, kayu, atau logam. Bahkan sebelum manusia prasejarah berkembang menuju spesies homo erectus (manusia yang berdiri tegak, seperti manusia hari ini), terlebih dahulu mereka mengalami fase homo habilis. Homo habilis diartikan sebagai manusia yang menggunakan alat. Artinya, teknologi, pada dasarnya, mendahului segala peradaban, bahkan kebudayaan.  

Kemudian bagaimana hubungan antara sains dan teknologi? Secara umum mungkin kita dapat menyebutkan bahwa sains ada terlebih dahulu, untuk kemudian lahir darinya sebuah teknologi. Namun tidak selalu seperti itu. Jika direnungkan lebih lanjut, maka sebenarnya teknologi itu sendiri mendorong sains. Kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan mengenai mikroba misalnya, hanya dimungkinkan jika sudah ditemukan teknologi mikroskop. Juga sulit untuk dibuktikan apakah manusia, pada awalnya, menemukan sains atau teknologi terlebih dahulu? Bisa saja ketika manusia prasejarah memburu binatang dengan menggunakan teknologi tombak, ia tidak dalam “kesadaran saintifik”, melainkan semata-mata berlandaskan insting untuk bertahan hidup saja. 

Neil Postman: “Pertukaran Faustian” 

Neil Postman (1931-2003) adalah pemikir yang cukup kritis dalam mengomentari keberadaan teknologi. Ia kerap berpikir bahwa teknologi baru tidak pernah mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah buku mengenai televisi berjudul Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business (1985). Dalam buku tersebut, ia mengatakan bahwa kehidupan masyarakat kontemporer adalah refleksi dari novel karya Aldous Huxley yang berjudul Brave New World (1931). Dalam novel tersebut, digambarkan bahwa kelak, masyarakat akan tertekan bukan oleh kontrol pemerintah – seperti yang dituliskan oleh George Orwell dalam 1984-, melainkan oleh kecanduan akan hiburan. Postman lantas menunjuk sumber candu akan hiburan itu adalah televisi. Meski demikian, yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah bukunya mengenai televisi, melainkan esainya yang berjudul Five Things We Need to Know About Technological Change. Dalam esai tersebut, Postman melontarkan lima hal yang mungkin bermanfaat bagi para audiens: –ia membacakan esai tersebut dalam sebuah konferensi mengenai teknologi-.  


  • Pertama, keberadaan teknologi baru, oleh Postman, dikatakan sebagai “pertukaran Faustian”. Ketika teknologi baru datang, maka ada yang sekaligus dicerabut dari kehidupan manusia. Misalnya, kehadiran teknologi kendaraan bermotor, membawa dampak serius pada pencemaran udara dan keindahan kota; Teknologi medis memang menyembuhkan banyak orang, tapi juga sekaligus berdampak pada jenis penyakit yang juga bertambah; Keberadaan mesin cetak berpengaruh luar biasa. Ia bisa menyebarkan ide-ide seperti misalnya nasionalisme, secara serentak, pada masyarakat. Namun ingat bagaimana nasionalisme di era Romantik berkembang menjadi patriotisme yang merusak. Intinya, ada yang direnggut dari kehidupan kita, ketika teknologi baru hadir.  
  • Kedua, keuntungan yang didapat dari teknologi baru, tidak pernah merata untuk seluruh populasi. Selalu ada yang diuntungkan, ada yang dirugikan, bahkan tidak merasakan apapun. Postman kemudian memberi contoh dengan keberadaan televisi. Menurutnya, televisi tentu mendatangkan keuntungan dengan membuka lapangan kerja baru semisal teknisi, pembawa acara, penyiar berita, hingga para penghibur. Namun di sisi lain, keberadaan televisi menyebabkan, misalnya, –dalam jangka panjang- karir guru sekolah pelan-pelan berakhir. Keberadaan karir guru sekolah, tidak bisa tidak, merupakan efek dari kehadiran teknologi mesin cetak. Namun seiring dengan informasi yang ditebar melalui televisi (yang ia sekaligus juga perlahan menggantikan peran mesin cetak), peran guru sekolah menjadi minim dan informasi-informasi yang ia berikan menjadi kalah intensitas dengan yang diberikan oleh televisi.  
  • Ketiga, teknologi mengubah cara berpikir kita akan dunia. Misalnya, dulu, Raja Solomon disebut sebagai yang paling bijaksana karena mampu mengingat tiga ribu kalimat bijak. Kemudian muncul budaya tulis menulis yang membuat peran ingatan menjadi tidak sepenting sebelumnya. Orang yang suka menulis, ia lebih erat dengan logika dan analisis; orang yang terbiasa dengan telegraf, ia lebih erat dengan kecepatan; orang yang terbiasa dengan televisi, ia lebih erat dengan kesegeraan; orang yang terbiasa dengan komputer, ia lebih erat dengan informasi. Artinya, teknologi mengubah cara kita dalam menggunakan pikiran. Kemana perginya konsep kebijaksanaan Raja Solomon? Mungkin semakin kemari, hal semacam itu semakin mustahil.  
  • Keempat, perubahan yang disebabkan oleh teknologi, adalah perubahan yang bersifat ekologis. Sebagai analogi, apa yang terjadi jika air sebelanga ditetesi tinta merah? Apakah yang terjadi adalah air sebelanga plus tinta merah semata-mata? Tidak, yang terjadi adalah air dalam belanga tersebut keseluruhannya berubah menjadi merah. Artinya –jika dikembalikan pada konteks teknologi-, perubahan yang disebabkan oleh teknologi selalu mengubah lingkungan secara keseluruhan. Ketika mesin cetak ditemukan pada sekitar tahun 1500-an, maka yang terjadi bukanlah wajah Eropa plus mesin cetak, melainkan mesin cetak yang merubah wajah Eropa secara keseluruhan. Ketika Amerika menemukan televisi, maka yang terjadi bukanlah wajah Amerika plus mesin cetak, melainkan seluruh Amerika yang berubah dari berbagai aspek.  
  • Kelima, teknologi dapat berkembang menjadi mitos tersendiri. Tidak semua orang dapat menerima bahwa, misalnya, alfabet, adalah sesuatu yang ditemukan. Mereka menganggap bahwa alfabet memang ada dengan sendirinya. Lebih gawat lagi, kemudian orang juga mulai berpikiran bahwa hal-hal seperti mobil, pesawat, televisi, film, dan koran, adalah hal-hal yang ahistoris dan ada begitu saja. Mereka lupa bahwa keberadaan teknologi, tidak bisa lepas sedikitpun dari konteks politik, ekonomi, budaya, dan sejarah. Selain itu, jika tiba-tiba terdapat usul bahwa sebaiknya televisi tidak perlu lagi ada iklan, maka serta merta orang akan protes. Mengapa? Karena sudah seperti mitos bahwa keberadaan televisi pasti juga sepaket dengan keberadaan iklan.  


Martin Heidegger: “Menjauhkan dari Poiesis” 

Martin Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf Jerman yang banyak membicarakan tentang fenomenologi dan eksistensialisme. Meski demikian, terdapat salah satu karyanya berjudul The Question Concerning Technology (1954) yang membahas mengenai esensi dari teknologi. Menurut Heidegger, teknologi, pada dasarnya melakukan pembingkaian (enframing; gestell) terhadap pandangan kita akan dunia. Melalui teknologi, kita serta merta melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai dan dimanipulasi. Heidegger mengakui, dengan keberadaan teknologi, manusia berhasil menyibak sesuatu dari yang tadinya gelap menjadi terang. Namun harus diakui, lanjutnya, ketersibakan ini adalah sekaligus juga ketertutupan di sisi yang lain. Dalam bukunya tersebut, Heidegger memberi contoh bagaimana keberadaan pembangkit listrik di Sungai Rhine telah mengubah fungsi dari sungai tersebut menjadi sebuah energi untuk kehidupan manusia. Namun di sisi lain, sungai sebagai sebuah penampakkan alam yang utuh, menjadi tersembunyi di waktu yang sama. 

Pada mulanya, lanjut Heidegger, teknologi bersifat erat dengan alam. Penciptaan teknologi baru tidak bersinggungan dengan alam. Para pengrajin di Yunani Kuno misalnya, dianggap sebagai orang-orang yang mampu merepresentasikan keindahan alam lewat karya-karyanya seperti kursi, patung, lukisan, dan lain-lain. Namun semakin modern, teknologi menghilangkan kemungkinan alam untuk menampilkan pesona dirinya (bringing forth; poiesis). Dalam arti kata lain, teknologi semakin melepaskan diri dari hakikat ke-alamiah-an. Kita akan selalu melihat teknologi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan alam. 

Komentar 

Pemikiran-pemikiran mengenai teknologi tersebut sangat mungkin tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap kemajuan teknologi itu sendiri. Kita bisa melontarkan tuduhan bahwa renungan-renungan yang disampaikan oleh Postman dan Heidegger, adalah sebuah aktivitas tidak populer ketika dunia sains semakin maju dengan penemuan demi penemuan yang membantu kehidupan manusia. Namun tanpa perlu membaca pemikiran para filsuf tersebut, pada dasarnya kita mulai sadar bahwa teknologi itu mempunyai dampak negatif bagi nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, kita sering sekali menemukan orang-orang yang duduk semeja tapi tidak berbincang satu sama lain karena sibuk dengan gadget-nya –ada istilah bagus untuk fenomena ini, yaitu “end of conversation”-; ada orang-orang yang pandai bergaul di media sosial, namun ternyata pendiam di dunia nyata; ada orang-orang yang merasa sudah pandai dengan berdebat menggunakan link-link dunia maya, ketimbang referensi dari buku, guru, atau dosen mereka; ada anak-anak yang tumbuh berkembang dengan ucapan dan tindakan yang berada di luar kontrol orangtua, akibat akses terhadap internet yang terlalu terbuka; dan sebagainya. Hal yang dipaparkan di atas masih berupa problem kemanusiaan, belum masuk pada problem ekologis seperti kerusakan lingkungan.  

Satu-satunya jalan terkait teknologi ini barangkali adalah “hubungan bebas”. Hubungan bebas merupakan suatu sikap menjaga jarak dengan teknologi agar tidak terjadi suatu ketergantungan yang akut. Keberadaan teknologi, secanggih apapun, mesti tetap disikapi dengan kesadaran penuh sehingga jika teknologi itu mengalami kerusakan –seperti yang diramalkan oleh Heidegger bahwa teknologi, ketika rusak, maka ia tergeletak tidak berdaya dan kita baru sadar bahwa teknologi hanyalah benda, bukan “extension of man” apalagi “extension of mind”-, maka kehidupan kita tetap baik-baik saja. 

Juga harus disadari bahwa ada hal-hal tertentu yang memang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun. Seperti kata Heidegger, kita tetap harus membiarkan poiesis melingkupi hidup kita, seperti misalnya: Senyum yang mengembang, bunga yang mekar di pekarangan, buku tua dengan segala wewangiannya yang khas, serta kicau burung dari atas pohon. Hal-hal semacam itu adalah bentuk ketersingkapan alam yang paling sejati. Kita tidak bisa mencerap sepenuhnya melalui teknologi, secanggih apapun.  

Daftar Referensi  

  • Haviland, William A. 2004. Cultural Anthropology: The Human Challenge. The Thomson Corporation.   
  • Heidegger, Martin. 1982. The Question Concerning Technology. HarperCollins.  
  • Huxley, Aldous. 2010. Brave New World. Rosetta Books.  
  • Postman, Neil. 1986. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business. Penguin Books.  
  • Postman, Neil. 1998. Five Things We Need to Know About Technological Change.

Continue reading

Friday, June 9, 2017

Menahan Diri dari Berbelanja, Bisakah?

Bulan Ramadhan telah datang, dan umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpuasa – atau setidaknya, begitulah kelihatannya-. Seperti kita ketahui secara umum, puasa berarti menahan diri dari segala kenikmatan badani seperti makan, minum, dan seks. Tidak hanya itu, puasa juga menekan nafsu-nafsu negatif lainnya seperti membicarakan kejelekan orang lain, menghina, melihat hal-hal tidak senonoh, atau mungkin juga, menyebarkan hoax (untuk yang terakhir ini, belum kelihatan buktinya). 

Namun ada hal yang tidak pernah dibahas sebagai bagian dari nafsu “negatif” yang faktanya terjadi saat bulan puasa hingga nanti lebaran, yaitu nafsu berbelanja. Menjadi konsumtif adalah salah satu tren yang umum terjadi di Indonesia pada periode ini. Misalnya, yang biasanya makan di rumah, karena sekarang makan menjadi momen istimewa, maka lebih indah jika makan itu beli jadi, atau sekalian di restoran, sambil reuni. Menjelang lebaran nanti, apalagi. Baju baru menjadi tujuan hidup yang utama, karena seolah menjadi simbol bagi sebuah hidup baru yang penuh kesucian. Kadang tidak hanya baju baru, tapi bisa juga mobil baru atau bahkan rumah baru. 

Berbelanja memang bukan suatu “dosa”. Malah perniagaan itu sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad. Menjadi konsumtif berarti juga menggerakkan roda ekonomi dan menjadikan pihak-pihak tertentu merasa diuntungkan. Namun mari berpikir sejenak dan menjauhkan diri dari keriuhan: Apakah berbelanja sekarang ini lebih sentral dan lebih esensial dari ibadah puasa itu sendiri? Mari juga merenungkan: Sebenarnya, puasa itu, untuk apa, sih

Puasa tidak hanya milik umat Muslim. Tradisi-tradisi keagamaan lain juga punya puasanya sendiri. Misalnya, kepercayaan Baha’i punya periode puasa sembilan belas hari di bulan Maret yang disebut sebagai bulan ‘Ala’; Buddhisme pun demikian adanya. Puasa dijadikan bagian dari meditasi demi mencapai kesehatan jasmani dan rohani; Belum lagi kaum Nasrani punya versi puasanya yang lain -yang berbeda juga dengan Yudaisme, Jainisme, Sikhisme, dan sebagainya-. 

Puasa, walaupun berbeda-beda asupannya, atau juga waktunya, tapi intinya tetap satu: Menahan diri. Puasa mungkin semacam latihan agar tubuh ini tidak “nakal” dan malah menjadi terlatih senantiasa -tidak sedikit-sedikit tunduk pada hawa nafsu-. Asumsinya, jika tubuh ini berhasil dijinakkan, maka jiwa manusia akan lebih sampai untuk memahami sang khalik. Seperti kata Plato: Tubuh adalah penjara jiwa. 

Maka itulah, jika puasa adalah latihan, maka mungkin tujuannya kira-kira: mengerem segala sesuatu agar nafsu dan tindakan tidak selalu bertalian. Belanja, harus diakui, adalah sebuah kegiatan yang tidak jarang, didasari juga oleh nafsu. Misalnya, nafsu ingin memiliki, nafsu mendapat pengakuan, ataupun nafsu untuk menjustifikasi bahwa kita harus membeli ini karena kita sudah “menderita” sepanjang hari. “Saya kan, sudah menahan lapar dan haus selama satu bulan. Apa salahnya, sih, setelah itu, makan bermewah-mewah dengan baju-baju indah,” ujar seseorang, mungkin. 

Jadi, apakah kita masih ingat dengan tujuan berpuasa? Atau jangan-jangan, puasa telah dikomodifikasi secara sistematis sehingga orang-orang menjadi lupa akan tujuan utamanya? Belum apa-apa, di televisi, sudah muncul iklan sirup yang menyatakan bahwa berbuka puasa bagusnya dengan sirup tersebut; belum apa-apa, sudah muncul iklan baju koko dan sarung apa yang tepat untuk kita nanti solat Idul Fitri; belum apa-apa, lagu-lagu Islami sudah diputar di berbagai toko ataupun restoran sehingga kita merasa berpahala ketika tengah mengonsumsi; belum apa-apa, tiket kereta sudah diborong karena keharusan untuk mudik; belum apa-apa, sudah memilih barang mana yang harus digadaikan agar bisa pulang kampung nanti. 

Dunia yang kian kapitalistik memang telah mengaburkan batas antara yang profan dan yang sakral. Misalnya, ketika natal di Prancis, orang tidak lagi saling menyapa dengan “Selamat Natal!” tapi “Bonne fĕte!” yang jika diartikan kurang lebih: “Selamat berpesta!”. Tapi hal yang semacam itu tidak terlalu salah juga. Agama dan kapitalisme memang punya hubungan mesra sudah sejak lama. Orang tidak akan merasa keberatan keluar uang banyak asalkan itu punya motif agama – sama halnya dengan hubungan kapitalisme dengan anak-anak, yang orangtua manapun kelihatannya susah menolak jika harus membeli sesuatu untuk kepentingan anaknya-. 

Suka tidak suka, fenomena di Indonesia juga sudah mulai seperti itu, meski orang masih malu-malu. Inginnya, sih, saling menyapa seperti ini, “Selamat menunaikan ibadah berbelanja. Mohon maaf lahir dan batin, karena saya, tahun ini, akan mengonsumsi lebih banyak dari tahun kemarin.”

Sumber gambar: http://www.zerohedge.com/news/2014-05-27/religion-cosnumerism

Continue reading

Kelas Logika: Berpikir Induktif

Berpikir induktif berarti berpikir dari kejadian khusus ke kesimpulan yang bersifat umum. Pada dasarnya, cara berpikir kita memang demikian adanya, termasuk pada saat berpikir deduktif sekalipun. Misalnya, pada silogisme yang paling umum seperti: 

Semua manusia akan mati 
Sokrates adalah manusia 
Sokrates akan mati

Premis “semua manusia akan mati” sebenarnya hanya abstraksi dari pengalaman-pengalaman kita akan matinya beberapa manusia. Pada dasarnya, secara epistemologi, kita tidak bisa mengetahui apakah semua manusia itu mati atau tidak. 

1. Argumen Kausal Mill 

Pada abad ke-19, seorang pemikir Inggris, John Stuart Mill merumuskan lima argumen kausal. Argumen kausal dengan berpikir induktif adalah saling bertalian. Hal tersebut sesuai dengan definisi Aristoteles tentang sains, yaitu, “Penjelasan atas segala sesuatu dengan menelusuri sebab-sebabnya.” Penelusuran sebab-sebab tersebut oleh Mill dibagi ke dalam lima bagian. 

1.1. Metode Kesamaan 

Metode kesamaan dapat ditunjukkan lewat sebuah contoh penemuan fluoride dan hubungannya dengan penurunan tingkat kerusakan pada gigi di pertengahan abad ke-20. Daerah yang orang-orangnya mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, setelah diteliti, adalah daerah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya. Setelah membandingkan ke beberapa wilayah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya dan ternyata benar orang-orang di tempat tersebut mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, maka disimpulkan berdasarkan metode kesamaan bahwa fluoride adalah zat yang mampu menurunkan tingkat kerusakan gigi. Contoh lainnya, seorang guru hendak mengetahui mengapa empat siswanya mengalami keracunan. Setelah diselidiki, siswa 1 memakan sup, roti, salad, dan apel kalengan; siswa 2 memakan sup, roti, sayur, dan apel kalengan; siswa 3 memakan roti, sayur, salad, dan apel kalengan; siswa 4 memakan sup, salad, sayur, dan apel kalengan. Berdasarkan data tersebut maka dapat diperoleh hasil bahwa keempat siswa tersebut sama-sama memakan apel kalengan. Maka itu dapat disimpulkan bahwa apel kalengan adalah penyebab para siswa keracunan. 

1.2. Metode Perbedaan 

Metode perbedaan dapat ditunjukkan lewat contoh tentang separuh penumpang pesawat yang mendadak sakit perut. Maskapai penerbangan menawarkan dua jenis makanan pada penumpang, yaitu ayam atau lasagna untuk makan malam. Mereka yang sakit perut adalah yang memilih ayam untuk makan malam sedangkan mereka yang tidak sakit perut adalah yang memilih lasagna untuk makan malam. Maka itu dapat disimpulkan bahwa ayam adalah penyebab sakit perut tersebut. Contoh lainnya, misalnya, dalam sebuah lomba gitar klasik, juri memutuskan bahwa juaranya adalah bernama Asep. Ketika Asep menaiki podium, ia mengatakan bahwa kuncinya mendapatkan gelar juara adalah latihan delapan jam sehari. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan peserta lain yang latihan kurang dari lima jam per hari. Maka itu, kesimpulannya, berdasarkan metode perbedaan, latihan delapan jam sehari adalah penyebab mengapa Asep menjadi juara. 

1.3. Metode Perbedaan dan Kesamaan 

Antara metode perbedaan dan kesamaan, keduanya bisa digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan induktif yang lebih meyakinkan. Misalnya, seorang analis sepakbola ingin mengetahui mengapa Real Madrid dapat menang melawan Juventus di final Liga Champions musim kompetisi 2016 / 2017. Pertama-tama, ia menggunakan metode kesamaan dengan melihat musim sebelumnya ketika Real Madrid menang melawan Atletico Madrid di final Liga Champions. Dua musim berturut-turut, Real Madrid selalu menggunakan formasi lini depan Cristiano Ronaldo – Gareth Bale – Gonzalo Higuain, sehingga analis sepakbola tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan trisula itulah yang membuat Real Madrid selalu juara Liga Champions. Kemudian analis sepakbola melihat faktor lain yang berbeda dari Real Madrid, yaitu kekalahan Juventus itu sendiri. Juventus kalah, kata analis, karena mereka tidak menguasai lini tengah dan kalah cepat di sektor sayap. Artinya, dapat disimpulkan, kemenangan Real Madrid melawan Juventus yang membuat mereka berturut-turut menjuarai Liga Champions adalah tetap menggunakan trisula Ronaldo – Bale – Higuain (metode kesamaan dengan formasi di musim sebelumnya) serta penguasaan lini tengah dan sayap yang cepat (metode perbedaan dengan strategi Juventus). 

1.4. Metode Residu 

Metode residu artinya mencari penyebab bukan berangkat dari konsekuennya, melainkan antesedennya (lihat bagian proposisi majemuk sub bagian hipotetikal). Perlu diketahui bahwa metode residu ini agak berbau deduktif karena diturunkan dari sebuah asumsi umum. Misalnya, seorang guru fisika mendapati dirinya mengidap hipertensi setelah melakukan pengecekan tekanan darah. Menurut dokter, setelah dicek, ia tidak menemukan kesalahan pada gejala-gejala yang memungkinkan terjadinya tekanan darah: ginjal bagus, asam urat bagus, kolesterol bagus, dan trigliserida bagus. Akhirnya dokter tersebut mengasumsikan bahwa hipertensi yang diidap guru fisika tersebut berasal dari faktor genetis (turunan). Dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa metode residu adalah metode induksi yang bergerak dengan mengeliminasi berbagai sebab-sebab yang mungkin lewat keadaan anteseden yang akibat-akibatnya sudah ditegakkan (dibuktikan) oleh induksi-induksi terdahulu. 

1.5. Metode Variasi Keseiringan 

Metode variasi keseiringan merupakan metode yang digunakan secara cukup luas. Kita bisa memahaminya lewat contoh-contoh berikut ini: Seorang petani membuktikan bahwa terdapat hubungan kausal antara penggunaan rabuk (fertilizer) dengan hasil panen. Ia mencatat bahwa bagian-bagian yang terhadapnya digunakan lebih banyak rabuk akan menghasilkan panen yang lebih melimpah. Kemudian di contoh lain, seorang pengusaha membuktikan bahwa semakin sering produknya diiklankan, maka semakin laku usahanya. Artinya, gejala-gejala itu berubah (bervariasi) secara langsung antara yang satu dengan yang lainnya, yakni, jika yang satu meningkat, yang lainnya juga meningkat. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu itu harus berbanding lurus. Metode variasi keseiringan juga menerima hubungan kausal antara gejala-gejala yang berubah secara berbanding terbalik, yakni, antara gejala-gejala yang sedemikian rupa hingga jika yang satu meningkat, maka yang lainnya menurun. 

2. Argumen Analogikal 

Sebagian besar penalaran dalam kehidupan kita sehari-hari berlangsung berdasarkan analogi. Misalnya, saya berpendapat bahwa sepasang sepatu baru akan mempunyai daya tahan lama berdasarkan pengalaman saya bahwa sepatu terdahulu yang dibeli dari toko yang sama mempunyai daya tahan yang sama; dosen itu akan terlambat datang lagi karena minggu lalu pun ia datang terlambat. Secara sederhana, dapat diartikan bahwa analogi adalah landasan dari semua penalaran sehari-hari kita dari pengalaman di masa lampau ke yang akan terjadi di kemudian hari. Argumen analogikal tidak dimaksudkan untuk memberikan kepastian. Argumen analogikal tidak dapat dinilai dan diklasifikasikan sebagai valid atau tidak valid. Argumen analogikal hanya dapat dinilai atau dikualifikasikan berdasarkan tingkat dan derajat probabilitasnya. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama berpendapat bahwa makanan di Bandung adalah enak. Orang pertama, yang tinggal di Bandung baru satu bulan, tentu pernyataannya tersebut lebih tidak kuat dibanding orang kedua, yang tinggal di Bandung selama satu tahun. 

Daftar Pustaka  

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Causal Reasoning. http://www.philosophypages.com/lg/e14.htm


Continue reading

Monday, June 5, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Membahanakan Ide dari Ruang Kecil (5 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Komunitas kebangsaan yang menjadi fenomena belakangan ini seperti Asian African Reading Club (AARC) dan Api Bandung, sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, para Bapak Bangsa sudah mendirikan komunitas kebangsaan. Sejarah Republik kita mengenal Budi Utomo, suatu organisasi pemuda yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia. Pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski dianggap sebagai tonggak kebangkitan –salah satunya melahirkan Indische Partij, organisasi politik yang cukup vokal menuntut kemerdekaan Indonesia-, keberadaan Budi Utomo tidak lepas dari tudingan-tudingan miring. 

Misalnya, Pramoedya Ananta Toer berkata bahwa Budi Utomo sebenarnya tidak lebih daripada organisasi elitis yang ditujukan untuk orang-orang bersuku Jawa saja. Versi yang lain mengatakan bahwa sejarah pergerakan nasional lebih tepat jika dimulai dari Sarekat Islam –didirikan tahun 1912 oleh H.O.S Tjokroaminoto- daripada Budi Utomo. 

Namun agaknya tidak akan banyak terjadi perdebatan, jika dikatakan bahwa Indonesia adalah buah perjuangan dari orang yang kemudian menjadi presiden kita yang pertama, Soekarno. Soekarno adalah orang yang beririsan baik dengan Indische Partij maupun Sarekat Islam. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengakui bahwa Ernst Douwes Dekker (Indische Partij) dan H.O.S. Tjokroaminoto (Sarekat Islam) adalah dua guru politik yang termasuk paling banyak memengaruhi pola pikir dan arah perjuangannya. Lalu, jalan apa yang ditempuh Soekarno untuk mencapai kemerdekaan? Tentu kita sama-sama tahu bahwa ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang amat berperan dalam perjuangan. 

Namun sebelum PNI, ada embrio yang kerap dilupakan orang, namanya Algemene Studie Club. Kelompok belajar yang didirikan oleh Soekarno semasa ia belajar di Technische Hoogeschool (sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1925 ini, lebih bisa disamakan dengan spirit yang diusung oleh komunitas kebangsaan yang kita kenal sekarang. Melalui kegiatan diskusi dan belajar bersama yang terbuka untuk umum, Algemene Studie Club berperan besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. 

Teori Ruang Publik Habermas 

Dalam bukunya yang berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere (1962), pemikir Jerman, Jurgen Habermas, menulis tentang perubahan-perubahan besar dalam sejarah yang dimulai dari ruang publik. Pertama-tama, Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai tempat bertemunya orang-orang dari berbagai golongan untuk berdiskusi dan berdebat secara egaliter. Habermas mencontohkan fenomena salon di Prancis -ruang publik yang muncul sejak awal abad ke-16 dan dijadikan tempat diskusi intelektual-. Terjadinya Revolusi Prancis di abad ke-18 –yang menggulingkan kekuasaan monarki absolut dan menggantinya dengan republik- sedikit banyak dipengaruhi oleh pertemuan-pertemuan di salon. Menurut Habermas, situasi santai, non-formal, dan egaliter, justru lebih bisa melahirkan ide-ide besar, ketimbang situasi yang sebaliknya. Sama dengan salon di Prancis, Habermas juga mencontohkan coffeehouses serta tischgesellschaften di Jerman pada abad ke-17 dan abad ke-18 sebagai tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang merubah situasi di Eropa secara keseluruhan. 

Pemikiran Habermas tersebut barangkali bisa dikaitkan tentang kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas kebangsaan yang sifatnya santai, non-formal, dan egaliter. Sebelum Algemene Studie Club, di Surabaya terlebih dahulu berdiri Indonesische Studie Club pada tahun 1924 oleh Dr. Sutomo. Meski kemudian muncul komunitas yang serupa di berbagai kota di Indonesia (seperti Solo, Yogya, Semarang, dan Bogor), namun Algemene Studie Club tetap merupakan komunitas yang terdepan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia –terutama karena keberadaan Soekarno di dalamnya-. 

Algemene Studie Club 

Kegiatan yang dilakukan oleh Algemene Studie Club mungkin dapat sama-sama kita bayangkan. Menurut buku berjudul Ir. Martinus Putuhena (Martinus Putuhena adalah Menteri Pekerjaan Umum di Masa Revolusi yang pernah mengikuti kegiatan diskusi di sana) yang ditulis oleh Putuwati, Algemene Studie Club adalah komunitas yang berisikan para intelektual, yang tidak hanya membicarakan kegiatan akademik secara umum, tapi juga hal-ikhwal politik dan kebangsaan. Martinus menyebutkan bahwa meski berisikan orang-orang berkedudukan cukup baik dan terpelajar –yang seharusnya tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial masa itu-, Algemene Studie Club tidak lepas dari pengawasan mata-mata. Maklum, selain belajar bersama di lingkungan tertutup, Algemene Studie Club tersebut juga perlahan-lahan mulai membangkitkan kesadaran orang-orang di luar komunitas lewat majalah bulanan Suluh Indonesia Muda. 

Lewat majalah tersebut, Soekarno menyuarakan pemikiran-pemikirannya yang paling dalam tentang negara dan bangsa. Dalam satu artikelnya yang berjudul Nasionalisme, Islam, dan Marxisme yang terbit di Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Soekarno mengatakan, “Masa dimana kita harus puas dengan keadaan kita sendiri telah lewat. Era baru, era para pemuda, kita songsong bagai fajar yang merekah. Teori konservatif yang mengatakan bahwa ‘Orang kecil harus puas dengan keadaannya. Harus senang berada di balik tirai sejarah dan menawarkan bantuan untuk keagungan mereka yang berada di panggung depan’ tidak boleh lagi diterima oleh orang-orang Asia.” Dengan pergerakan intelektual yang dimulai dari komunitas kecil-kecilan dan majalah yang bersifat indie, Algemene Studie Club bertransformasi menjadi PNI –ketika situasi sudah semakin memungkinkan untuk total di jalur politik-. Cerita setelah itu, kita semua tahu: Indonesia lambat laun mencapai kemerdekaannya. Komunitas kebangsaan dulu dengan sekarang tentu ada perbedaan. Sudah jelas bahwa Algemene Studie Club berada di masa penjajahan sedangkan komunitas kebangsaan yang tumbuh di periode ini sudah menikmati alam kemerdekaan. Namun seperti yang Soekarno katakan, perjuangan kita, para penerus, akan lebih sulit karena berhadapan dengan bangsa sendiri. Tujuan komunitas kebangsaan hari ini tidak lagi melawan belenggu penjajahan yang mengambil tanah dan hak-hak politik, tapi melawan belenggu penjajahan yang menyerang kesadaran.


Continue reading

Saturday, June 3, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Jalan Sunyi Para Penjual Buku (4 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Jika ada beberapa dari kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh hal-ikhwal pemikiran dari para Bapak Bangsa maupun pergerakan nasional Indonesia, tentu di zaman sekarang ini, internet menyediakan semuanya. Ketersediaan yang cukup lengkap di internet tersebut bisa jadi menyurutkan semangat sebagian orang untuk mencari sumber dari buku. Alasannya, tentu saja, selain lebih membutuhkan tempat untuk menyimpannya, buku-buku juga harus dibeli (bandingkan dengan informasi dari internet yang bisa didapat secara gratis). 

Maka itu, jika melihat ada sebagian kecil lapak yang masih mau berjualan buku-buku tua bertema kebangsaan, tentu kita bisa menyebut bahwa jalan yang mereka tempuh, adalah jalan yang sunyi. Salah satu penempuh jalan sunyi itu adalah Lawangbuku yang bertempat di Balubur Town Square. Lapak berukuran sekitar dua kali tiga meter milik Deni Rachman tersebut memang menitikberatkan penjualan buku-bukunya sebagian besar di wilayah sejarah Indonesia. Buku-buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi dan Sarinah karya Soekarno; Dari Penjara ke Penjara dan Madilog karya Tan Malaka, Kumpulan Karangan karya Moh. Hatta, buku seputar Konperensi Asia Afrika 1955, sejarah Bandung, dan lain-lain, tampak mendominasi, disamping buku-buku bertemakan lain seperti sastra dan filsafat (contohnya karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Hamka, dan Alan Paton). Sekali lagi muncul pertanyaan, di tengah-tengah kecenderungan masyarakat kontemporer yang lebih senang mencari informasi lewat internet, tidakkah menjual buku –terutama buku-buku tua seperti yang dijajakannya-, membuat LawangBuku menjadi terasing? 

Semangat Mendidik Masyarakat 

Menurut Deni, keputusannya menjual buku-buku bertema tidak populer tersebut, bukan hanya sekadar ingin terlihat unik atau berbeda. Ada alasan yang lebih bersifat edukatif. “Saya tidak yakin bahwa segala yang dicantumkan di internet, diambil dari sumber-sumber primer. Artinya, bisa saja hoax. Untuk mengimbangi informasi, saya mencoba untuk konsisten berjualan buku yang banyak diantaranya ditulis langsung oleh Bapak Bangsa itu sendiri,” ujar Deni. Harapannya, semakin banyak orang membaca dari sumber primer, semakin sedikit peredaran informasi yang bersifat palsu dan menyesatkan. 

Keberadaan toko buku yang menjual literatur bertema kebangsaan, lambat laun dapat membuat publik menjadi lebih dekat dengan tema-tema tersebut. Maklum, sebelumnya, buku-buku semacam itu mungkin hanya bisa ditemui di perpustakaan kota ataupun museum –yang secara umum lebih berjarak dengan publik, ketimbang toko buku umum-. Deni sendiri secara konkrit melakukan upaya “jemput bola” agar literatur kebangsaan ini semakin diminati. Misalnya, lewat aktivitasnya di Museum Konperensi Asia Afrika. Selain turut ambil bagian dalam pendirian kelompok diskusi Asian African Reading Club (AARC) di museum tersebut, Deni juga turut memasok buku-buku yang digunakan untuk diskusi. Misalnya, buku Renungan Indonesia (1946) karya Syahrazad (nama pena Sutan Syahrir) merupakan literatur yang pernah ambil bagian dalam komunitas AARC yang keanggotaannya terbuka untuk umum itu. Dengan berkontribusi secara maksimal sejak awal berdirinya AARC (tahun 2009) dan konsisten berjualan buku di lapak yang berlokasi cukup strategis di tengah Kota Bandung, Deni merasa optimis bahwa buku-buku bertema kebangsaan akan kian terjangkau oleh masyarakat secara luas. 

Populer lewat Jalur Online 

Mungkin tidak banyak juga diantara kita yang mengira, bahwa apa yang dilakukan Deni, di sisi lain, ternyata merupakan hal yang semakin hari, semakin digandrungi. Sebagai contoh, di media sosial seperti Facebook, bertebaran puluhan akun yang menjual buku-buku tua bertema kebangsaan secara online. Akun-akun tersebut menjanjikan proses transaksi yang cepat dan mudah. Setelah pembayaran melalui transfer ke nomor rekening tertentu, beberapa hari kemudian, buku yang kita pesan sudah sampai di rumah. Artinya, kita bisa mendapatkan buku tanpa mesti repot meluangkan waktu dan tenaga untuk pergi ke toko buku. 

Namun tidak semua hal harus berubah seiring waktu. Ada sikap-sikap dasariah, yang barangkali terlihat konvensional, tapi sebenarnya masih penting. Deni misalnya, meski ikut menjajakan buku via online, ia merasa tetap penting untuk berjualan buku-buku tua di lapak offline. Mengapa? “Mereka yang mencari buku-buku tua, biasanya merupakan pembaca kritis dan serius. Mereka bukan hanya mau mencari dan membeli, tapi ingin juga mendapatkan informasi tambahan mengenai buku yang akan dibaca,” kata Deni. Itu sebabnya, lapak offline tetap diperlukan. Pertama, untuk mereka yang ingin memastikan bahwa toko buku tersebut benar-benar ada –karena mungkin saja, penjajaan yang dilakukan oleh akun- di media sosial malah berujung pada penipuan akibat tidak adanya pertemuan tatap muka yang lebih membangun sisi trust-. Kedua, lapak offline memberikan kesempatan bagi pembeli, untuk berbincang langsung dengan penjual, demi memperoleh informasi tambahan mengenai buku yang dijajakan. 

Tentunya, pengalaman Deni dalam berkomunitas bersama AARC membuat ia punya pengetahuan tambahan mengenai buku-buku yang dijajakannya. Katanya, selalu ada poin plus bagi penjual buku yang juga merupakan seorang pembaca buku. Kenyataannya, untuk memaksa orang-orang agar membaca, kadang tidak bisa hanya dengan berjualan dan berpromosi saja. Harus ada semacam perjuangan untuk menyadarkan pentingnya literasi bagi masyarakat. Perjuangan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Deni, bisa melalui pendirian komunitas baca yang secara rutin menjalankan agenda diskusi buku. Kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah kerja untuk keabadian. Tapi bagi para pejuang literasi, mungkin mereka berpikir, bahwa menyadarkan orang untuk tetap membaca, adalah juga kerja untuk keabadian.

Continue reading

Kelas Logika: Silogisme




Silogisme merupakan bentuk kegiatan akal budi tingkat ketiga yang dinamakan juga dengan argumentasi. Diklasifikasikan sebagai cara berpikir yang bersifat deduktif, silogisme sering juga disebut sebagai “jantung”-nya ilmu logika.

1. Unsur-Unsur Silogisme 

Kita bisa mulai pelajaran tentang silogisme ini dari contoh paling klasik yaitu sebagai berikut:

Semua manusia akan mati
Sokrates adalah manusia
Sokrates akan mati

Jika kita perhatikan silogisme, maka ada unsur-unsur sebagai berikut:

1.1. Terdapat tiga proposisi yang terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan.
Dua premis: “Semua manusia akan mati” dan “Sokrates adalah manusia”; Satu kesimpulan: “Sokrates akan mati”.
1.2. Terdapat tiga term, yang mana setiap term digunakan dua kali.
Ada tiga term yaitu “manusia”, “mati”, dan “Sokrates”.
1.3. Subjek dari kesimpulan disebut juga dengan term minor.
Subjek dari kesimpulan: “Sokrates”.
1.4. Predikat dari kesimpulan disebut juga dengan term mayor.
Predikat dari kesimpulan: “mati”.
1.5. Term yang muncul di kedua premis tapi tidak muncul di kesimpulan disebut dengan term tengah.
Term tengah: “manusia” karena ada premis mayor dan premis minor, tapi tidak ada di kesimpulan.
1.6. Premis yang mengandung term mayor disebut dengan premis mayor.
Premis mayor: Premis yang mengandung kata “mati” yaitu “Semua manusia akan mati”.
1.7. Premis yang mengandung term minor disebut dengan premis minor.
Premis minor: Premis yang mengandung kata “Sokrates” yaitu “Sokrates akan mati”.

Hal penting yang harus diingat adalah kita tidak bisa identifikasi mana premis mayor dan mana premis minor sebelum melihat kesimpulan. Maka itu untuk mengetahui premis mayor dan premis minor, mesti diikuti tahapan-tahapan berikut:

1.8. Pertama-tama, kenali dulu kesimpulannya.
1.9. Setelah itu, kenali mana term minor dan term mayornya (yang bisa dilihat dari posisi subjek dan predikatnya).
1.10. Lalu kita bisa mengetahui mana premis mayor dan premis minornya.



2. Entimeme 

Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, jarang sekali kita secara sadar berpikir dengan tiga proposisi. Seringkali, kita hanya menggunakan dua proposisi dimana satunya tersembunyi. Ini disebut dengan entimeme (bahasa Yunani: entymeme yang artinya “disimpan dalam pikiran”). Misalnya: “Orang itu makan daging, berarti dia itu pemarah.” Jika kita bedah dalam suatu silogisme, maka ada satu proposisi yang hilang yaitu “Semua yang makan daging adalah pemarah.” Begini kira-kira lengkapnya:

Semua yang makan daging adalah pemarah
Orang itu makan daging
Orang itu pemarah

Sebenarnya kita bisa mencoba menyusun silogisme hanya dari kesimpulannya saja. Hal yang menjadi tantangan adalah mencari term tengahnya. Misalnya: Kalimat “Kucing adalah mamalia” bisa kita susun menjadi silogisme, dengan terlebih dahulu menempatkan subjek dari kesimpulan (kucing) yang berarti term minor ke posisi premis minor, dan menempatkan predikat dari kesimpulan (mamalia) yang berarti term mayor ke posisi premis mayor. Tantangan berikutnya adalah mencari term tengah. 

………. adalah mamalia
 Kucing adalah ……..
 Kucing adalah mamalia

Term tengah yang mungkin adalah “Hewan yang menyusui”. Sehingga silogisme lengkapnya adalah sebagai berikut:

Hewan yang menyusui adalah mamalia
Kucing adalah hewan yang menyusui
Kucing adalah mamalia

3. Bentuk Silogisme

Berdasarkan posisi term tengah, silogisme mempunyai empat bentuk. Empat bentuk silogisme tersebut adalah sebagai berikut:


Seperti yang dapat dilihat di gambar, bentuk I adalah bentuk silogisme yang term tengahnya di dalam premis mayor berkedudukan sebagai subjek, dan di dalam premis minor berkedudukan sebagai predikat.
Bentuk II adalah bentuk silogisme yang term tengahnya baik di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor berkedudukan sebagai predikat.
Bentuk III adalah bentuk silogisme yang term tengahnya baik di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor berkedudukan sebagai subjek.
Bentuk IV adalah bentuk silogisme yang term tengahnya di dalam premis mayor berkedudukan sebagai predikat, dan di dalam premis minor berkedudukan sebagai subjek.

4. Corak Silogisme 

Berdasarkan bentuk silogisme di atas, maka corak yang valid (ingat pelajaran tentang proposisi di bab sebelumnya) adalah sebagai berikut (yang diberi kurung adalah cara mudah untuk menghapalkannya):
Bentuk I: AAA (Barbara), AII (Darii), EAE (Celarent), EIO (Ferio)
Bentuk II: AEE (Camestres), EAE (Cecare), EIO (Festino), AOO
Bentuk III: AAI (Darapti), AII (Datisi), IAI (Disamis), EAO (Felapton), EIO (Ferison), OAO (Bocardo)
Bentuk IV: AAI (Bramantip), Camenes (AEE), EAO (Fesapo), EIO (Fresison), IAI (Dimaris)

5. Validitas Silogisme 

Untuk memeriksa validitas silogisme, maka harus melewati aturan dasar dan juga aksioma. Aturan dasar silogisme adalah sebagai berikut:
5.1. Silogisme terdiri atas hanya tiga proposisi.
5.2. Tiap proposisi dirumuskan dalam salah satu bentuk dari proposisi tradisional, yakni proposisi A, E, I, dan O.
5.3. Tiap silogisme memuat hanya tiga term.

Setelah melalui tiga aturan dasar tersebut, kemudian ada aksioma yang harus dilewati agar silogisme menjadi valid. Aksioma tersebut ada lima, yaitu sebagai berikut:
5.4. Sekurang-kurangnya satu term tengah harus didistribusi.
5.5. Term yang di dalam kesimpulannya didistribusi, harus didistribusi juga di dalam premisnya.
5.6. Sekurang-kurangnya satu premis harus afirmatif.
5.7. Jika salah satu premisnya negatif, maka kesimpulannya juga harus negatif.
5.8. Jika premis dua-duanya afirmatif, maka kesimpulan juga harus afirmatif.


6. Distribusi term 

Pada aksioma silogisme, disebutkan tentang distribusi term. Pembahasan ini sebenarnya agak mundur ke belakang (di bagian proposisi), namun tidak ada salahnya dijelaskan setelah aksioma silogisme. Distribusi term adalah penentuan apakah sebuah term dalam sebuah proposisi ditujukan kepada semua atau hanya ditujukan kepada sebagian saja dari anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. Sebuah term dikatakan terdistribusi, jika term itu ditujukan kepada semua anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. Sebuah term dikatakan tidak didistribusi, jika term itu ditujukan kepada sebagian saja dari anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. 

Pada proposisi A (Universal Afirmatif), term subjeknya didistribusi, sedangkan term predikatnya tidak didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Semua kuda adalah binatang”, term “kuda” dalam konteks proposisi itu mencakup semua anggota kelas “kuda” (jadi didistribusi), sedangkan term “binatang” mencakup hanya beberapa anggota kelas “binatang” (jadi tidak didistribusi). 

Pada proposisi E (Universal Negatif), baik term subjek maupun predikatnya didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Semua mahasiswa adalah bukan penyontek”, term “mahasiswa” dalam konteks proposisi tadi ditujukan kepada semua anggota kelas “mahasiswa”, dan term “penyontek” dalam konteks proposisi tersebut juga ditujukan kepada semua anggota kelas “penyontek”. 

Pada proposisi I (Partikular Afirmatif), baik term subjek maupun term predikatnya dua-duanya tidak didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Beberapa mahasiswi adalah peragawati”, term “mahasiswi” dalam konteks proposisi tadi ditujukan pada sebagian dari anggota kelas “mahasiswi” dan term “peragawati” dalam konteks proposisi tersebut juga ditujukan hanya kepada bagian anggota kelas “peragawati”. 

Pada proposisi O (Partikular Negatif), term subjeknya tidak didistribusi, tetapi term predikatnya didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Beberapa mahasiswi adalah bukan peragawati”, term “mahasiswi” dalam konteks proposisi tadi hanya mencakup beberapa anggota kelas “mahasiswi”, tetapi term “peragawati” dalam konteks proposisi tersebut ditujukan pada semua anggota kelas “peragawati”. 

Namun pada intinya, jika ingin disederhanakan (terutama untuk bagian predikat yang sedikit membingungkan), predikat dari proposisi afirmatif selalu tidak didistribusi, dan predikat dari proposisi negatif selalu didistribusi.




Daftar Pustaka:

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.
Continue reading

Friday, June 2, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Membangun Masa Depan (Lewat) Museum (3 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” kata Soekarno dalam pidatonya di tahun 1966. Bangsa yang besar, lanjut sang proklamator, adalah bangsa yang menghargai sejarahnya sendiri. Perwujudan kalimat yang kemudian disingkat dalam akronim “Jas Merah” tersebut tentu bisa kita temukan di dunia pendidikan. Pelajaran mengenai sejarah Indonesia tidak pernah luput diajarkan dari mulai tingkat sekolah dasar, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi. Pendidikan sejarah juga dapat kita temukan melalui film-film yang marak beredar di bioskop belakangan ini seperti Soekarno, Sang Kiai, Sang Pencerah dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Selain itu, ada pula museum. Museum memberikan pendidikan penting lewat benda-benda bersejarah. Melalui artefak tersebut, para pengunjung dapat membayangkan serta merasakan apa yang terjadi di suatu masa yang lampau. 

Di Bandung sendiri, ada sejumlah museum yang bertemakan sejarah nasional Indonesia. Misalnya, Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA). Museum Mandala Wangsit Siliwangi menitikberatkan benda-bendanya pada hal yang terkait sejarah pasukan Divisi Siliwangi dan peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946. Sedangkan MKAA fokus pada peristiwa sejarah Konperensi Asia Afrika tahun 1955. Pada konferensi tersebut, kita tahu, sejumlah kepala negara dari negara-negara di Asia dan Afrika, mengumumkan tekad serta solidaritas untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan. 


Namun jika kita perhatikan, pengunjung museum belumlah terlalu ramai –kalaupun ramai, biasanya oleh anak sekolah yang sedang studi lapangan-. Menurut Setiawan Sabana, Guru Besar FSRD ITB yang menulis artikel berjudul Museum di Tengah Kepungan Mal, museum memang belum jadi tujuan utama warga Bandung ataupun turis sekalipun untuk melakukan rekreasi. Pamor museum masih kalah dengan mal atau pusat perbelanjaan. Namun jika demikian, atas minimnya animo terhadap museum, apakah kita bisa menyalahkan kesadaran masyarakat yang kurang? Kata Setiawan, tidak. Museum tidak bisa menunggu dan berharap masyarakat untuk datang ke museum dengan sendirinya. Justru di tengah kepungan mal yang semakin marak di Kota Bandung, museum harus lebih rendah hati untuk mendatangi masyarakat. 

Lewat Komunitas 

Sejalan dengan pernyataan Setiawan, sejumlah museum pun membenahi diri. Mereka mendatangi masyarakat dengan cara memberikan ruang bagi komunitas untuk berkumpul dan belajar bersama. Komunitas yang dihadirkan, tentu saja, harus punya keterkaitan dengan tema museum itu sendiri. Misalnya, komunitas Historia van Bandoeng yang berkumpul di Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Komunitas tersebut, selain melakukan diskusi dan riset, juga melakukan hal-hal menarik seperti reka ulang sejarah lengkap dengan pakaian dan propertinya. Namun jauh sebelum itu, di tempat lain, Sahabat Museum digagas di Museum Konperensi Asia Afrika –dengan sebutan SMKAA atau Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika-. Menurut Desmond Satria Andrian, PIC kegiatan edukasi dan publikasi museum KAA yang berbasis komunitas, “MKAA menerapkan konsep pengembangan komunitas melalui partisipasi publik. Partisipasi publik tersebut dapat kita kelompokkan menjadi benefaktor (penerima manfaat), volunteer (pemberi manfaat) dan donatur (penyandang dana).” SMKAA sendiri mempunyai belasan program. Misalnya, pemutaran dan diskusi film dari komunitas Bioscoop Concordia dan Layarkita, klab budaya mulai dari China, Jepang, Asia Barat Daya, Afrika Utara, Esperanto, hingga Sunda; klab menggambar, klab angklung, klab public speaking, klab merajut, klab film, hingga Kelompok Studi Asia Afrika (KSAA). 

Namun keberadaan komunitas-komunitas tersebut, diakui oleh Desmond, merupakan turunan dari semangat serta tradisi literasi dari Asian African Reading Club (AARC). AARC, yang digagas pada tahun 2009 dan berkumpul rutin setiap hari Rabu tersebut, disebut Desmond sebagai “pesantren” Dasasila Bandung (poin-poin pernyataan semangat dan solidaritas yang dihasilkan dari Konperensi Asia Afrika 1955). “AARC mengajak kita untuk melawan lupa dengan cara membaca. Tujuannya tidak lain adalah pada penguatan upaya internalisasi nilai-nilai KAA di kalangan generasi muda,” tambahnya. Walhasil, dengan sikapnya yang rajin “menjemput masyarakat” itu, MKAA mendapat penghargaan sebagai Museum Bersahabat dan Museum Menyenangkan dari Komunitas Jelajah. 

Masa Depan Museum 

Tidak hanya Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan MKAA, museum-museum lain pun nampaknya semakin merasakan pentingnya menjemput publik untuk berpartisipasi. Museum Barli, Museum Geologi, dan Museum Sri Baduga, merupakan contoh museum yang juga mempunyai konsep Sahabat Museum. Terlebih lagi, jumlah museum di Kota Bandung semakin bertambah: Ada Museum Braga di Jalan Braga, Museum Wolff Schoemaker di Hotel Prama Grand Preanger, Museum Pendidikan Nasional di Universitas Pendidikan Indonesia, dan Museum Memorabilia di Gedung Heritage Bank Indonesia. Jika museum-museum yang baru bermunculan tersebut melakukan hal yang sama dengan pendahulunya -membuka partisipasi publik-, maka kita bisa optimis bahwa lambat laun masyarakat kita akan jadi masyarakat yang tidak melupakan sejarah –seperti amanat Bapak Bangsa kita-. 

Angin segar mulai bertiup. Museum tidak lagi dipandang sebagai bangunan membosankan yang berisi benda-benda dari masa lalu yang sudah tua dan berdebu. Museum hari ini harus pelan-pelan membuat publik yakin, bahwa museum juga merupakan sarana untuk membangun masa depan. Kita bisa bayangkan masa depan bangsa yang cerah, yang dihasilkan oleh generasi muda yang menyibukkan hari-harinya bersama sejarah.

Continue reading

Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Pandangan Althusserian

(Tulisan ini adalah pengembangan Power Point yang dipresentasikan di acara KAA: Dari Pancasila ke Dasasila pada tanggal 1 Juni 2017)

  • Topik ini dipilih untuk memberi variasi pandangan setelah pembicara lain, Desmond Satria Andrian memaparkan tentang "Historisitas Pancasila" dan Dian Andriani memaparkan tentang "Pancasila sebagai Sumber Hukum". Saya ingin agar para hadirin sedikit melihat kembali Pancasila sebagai sebuah ideologi, yang maka itu, tidak haram untuk dikritisi. Justru kritik perlu dilancarkan untuk membangun kembali pemahaman yang lebih kuat - yang bisa berangkat dari apologi atas kritik tersebut -.  

Apa itu Ideologi?

  • Berasal dari dua kata dalam Bahasa Yunani yaitu idea dan akhiran -logia. Idea secara etimologis artinya bentuk atau pola. Idea dalam konteks ini lebih ke arah ide dalam pemahaman John Locke, yang berarti "abstraksi dari kenyataan" dan bukan ide a la Rene Descartes yang sifatnya innate atau bawaan. Sedangkan akhiran -logia diartikan secara kontekstual sebagai "ilmu tentang - ".
  • Diungkapkan pertama kali oleh Antoine Destutt de Tracy. seorang pemikir yang sempat dipenjara di Masa Teror (bagian dari Revolusi Prancis) di bawah kekuasaan Maximilien Robespierre. Ia menyebut ideologi sebagai "ilmu tentang ide-ide", yang harusnya dipakai untuk menentang irasionalitas - Irasionalitas di sini menunjuk pada konteks di Masa Teror yang mana otoritas di masa itu berusaha menebar ketakutan dengan melakukan hukuman mati terhadap puluhan ribu orang tanpa pengadilan -. De Tracy mengatakan bahwa ideologi yang dimaksud adalah ideologi liberal yang percaya pada kebebasan individu, kepemilikan, pasar bebas, dan pembatasan kekuasaan negara. 
  • Lalu Willard A. Mullins, dalam bukunya yang berjudul On The Concept of Ideology in Political Science mengatakan bahwa ideologi harus dibedakan dengan utopia ataupun mitos. Ideologi setidaknya terbentuk dari empat karakteristik dasar:  
  1. Ia harus mampu menguasai pikiran. 
  2. Ia harus mampu mengevaluasi program dan kebijakan.
  3. Ia harus mampu menjadi panduan serta alasan bagi berbagai tindakan bagi siapapun yang termuat dalam ideologi tersebut. 
  4. Ia harus logis.    
  • Kemudian Terry Eagleton, seorang pemikir asal Inggris, dalam publikasinya yang berjudul Ideology: An Introduction, menyebutkan sejumlah definisi ideologi yang beberapa diantaranya bersifat peyoratif - seperti kata Marx dan Engels-. Definisi-definisi tersebut antara lain: 
  1. Proses produksi makna, tanda, dan nilai-nilai dalam kehidupan sosial.
  2. Ide yang melegimasi kekuatan politik yang dominan.
  3. Distorsi komunikasi yang sistematis.
  4. Bentuk pemikiran yang didorong oleh kepentingan sosial tertentu.
  5. Kebingungan antara bahasa dan realitas. 
  • Slavoj Zizek, pemikir asal Slovenia, dalam video Youtube yang berjudul What is Ideology?, mengatakan bahwa ideologi adalah seperti apa yang digambarkan dalam film tahun 1988 berjudul They Live. Pada film itu, tokoh utama bernama John Nada, tiba-tiba mendapati kiriman sedus kacamata di apartemennya. Kacamata itu, jika dipakai, selain menimbulkan efek hitam putih, juga melihat segala pesan tersembunyi di balik sesuatu. Misalnya, ketika melihat papan iklan berjudul "Come to Caribbean", jika menggunakan kacamata maka akan terlihat bertuliskan "Marry and Reproduce". Jika kacamata tersebut terus digunakan, maka dimana-mana akan terlihat "arti sesungguhnya" dari segala visual, misalnya: "consume", "obey", "no thought", dan sebagainya. Menurut Zizek, ideologi berarti "sesuatu yang tersembunyi" dan kacamata tersebut adalah analogi bagi kritik ideologi. Ia harus dipakai terus menerus untuk melihat ideologi apa yang bekerja secara sistematis ada di sekitar kita. 


Pandangan Althusserian Tentang Ideologi
  • Louis Althusser, seorang pemikir Neo-Marxisme asal Prancis, mengurai ideologi secara lebih rinci beserta kritiknya. Kritik ideologi yang ia lancarkan, merupakan pengembangan pemikiran Marx dan Engels yang dituangkan dalam manuskrip The German Ideology (1846). 
  • Althusser menyebutkan bahwa karakter ideologi adalah kemampuan melakukan interpelasi atau pemanggilan. Interpelasi mengubah individu menjadi "subjek yang terpanggil". Artinya, ideologi masuk ke alam bawah sadar, membuat orang yang tadinya tidak peduli, kemudian mau bergerak atas nama ideologi. 
  • Althusser membagi penyebaran ideologi ke dalam dua aparatus yaitu Repressive State Apparatuses (RSA) dan Ideological State Apparatuses (ISA). RSA adalah elemen yang memaksakan ideologi secara represif lewat tentara, polisi, penjara, dan undang-undang. Sedangkan ISA adalah elemen yang menyusupkan ideologi secara halus lewat institusi seperti agama, pendidikan, politik, komunikasi, kebudayaan, hukum, perdagangan, hingga keluarga.
  • Berbeda dengan Marx dan Engels yang dalam The German Ideology mengatakan bahwa ideologi punya kaitan historis dengan nilai-nilai proletariat, justru Althusser mengatakan bahwa sifat ideologi ini ahistoris. Mereka diciptakan begitu saja agar masyarakat mengikutinya. Bukan nilai-nilai masyarakat yang menjadi dasar ideologi, tapi nilai-nilai ideologilah yang menjadi dasar masyarakat.
  • Untuk yang kali ini, Althusser sepakat dengan Marx dan Engels bahwa ideologi menciptakan hubungan imajiner antara individu dengan kondisi riil di sekitarnya. Ideologi bersifat ilusif, seolah-olah punya kaitan dengan persoalan-persoalan mendasar kemasyarakatan, padahal tidak sama sekali - justru persoalan itu dibuat dengan semena-mena oleh ideologi -. 



Relevansi dengan Pancasila

  • Apakah Pancasila berhasil melakukan interpelasi terhadap kita?
  • Apakah Pancasila bersifat ahistoris?
  • Apakah Pancasila merupakan representasi hubungan imajiner antara individu dengan kondisi riil di sekitarnya? 
  • Bagaimana cara agar kita bisa merebut IRS untuk menyebar ide-ide segar tentang Pancasila?


Continue reading

(Komunitas Kebangsaan) Mereka Berusaha Menumbuhkan Elan (2 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Tumbuhnya komunitas kebangsaan dapat diartikan sebagai respon terhadap konsep nasionalisme yang kian pudar, terutama di kalangan generasi muda. Asian African Reading Club (AARC), misalnya, menumbuhkan semangat nasionalisme lewat pengkajian pemikiran para Bapak Bangsa. Komunitas yang berkumpul setiap hari Rabu di Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) tersebut mempunyai program bernama tadarus buku. Apakah gerangan tadarus buku? Misalnya, karya Soekarno yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, dibaca secara bergantian -dengan masing-masing orang membaca sebanyak dua hingga tiga halaman-. Kegiatan tersebut tentu tidak dilakukan dalam satu kali pertemuan saja. Kegiatan dilanjutkan di Rabu-Rabu berikutnya, hingga akhirnya buku Di Bawah Bendera Revolusi dengan tebal ribuan halaman tersebut, selesai hingga tanda titik yang terakhir. “Tadarus buku Di Bawah Bendera Revolusi,” kata Adew Habtsa yang menjabat sebagai sekjen AARC, “memakan waktu hingga delapan bulan.” Agar lebih variatif, dalam setiap pertemuannya, diundang narasumber untuk memberikan informasi-informasi yang bisa memantik diskusi. 

Asian African Reading Club 

AARC berdiri pada tanggal 23 Agustus 2009. Buku-buku yang pernah ditadaruskan oleh AARC –selain Di Bawah Bendera Revolusi-, antara lain, Demokrasi Kita karya Moh. Hatta, Islam dan Sosialisme karya H.O.S. Tjokroaminoto, dan Renungan Indonesia karya Sutan Sjahrir. Pemikiran yang dibicarakan di forum tersebut, sebenarnya tidak terbatas pada para pemikir dari Indonesia saja, melainkan juga dari negara-negara di Asia dan Afrika secara umum. Misalnya, AARC pernah mengadakan kegiatan berupa tadarus dari buku Nelson Mandela yang berjudul Langkah Menuju Kebebasan: Surat-Surat dari Bawah Tanah. Meski tidak membicarakan tentang Indonesia, namun prinsip-prinsip yang dipegang oleh tokoh Afrika Selatan tersebut bisa direlevansikan dengan kehidupan kita: Perjuangan untuk bebas dari segala penindasan. Selain Mandela, pernah dibahas juga novel berjudul Korupsi dari penulis Maroko bernama Tahar Ben Jelloun. 

Di AARC ini, seolah menjadi tradisi, sebelum dan sesudah kegiatan tadarus, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Harapannya, kata Adew, nilai-nilai kebangsaan tidak masuk hanya ke dalam pikiran, tapi juga merasuk secara emosional. Konsistensi AARC dalam menjalankan programnya ini mendapat angin segar, terutama dalam setahun terakhir. “Setahun terakhir ini, AARC semakin didatangi oleh banyak orang dari beragam latar belakang, mulai dari psikologi, filsafat, hubungan internasional, hingga sastra,” ujar Adew. Selain tadarus dan diskusi, Adew juga berharap bahwa ke depannya, AARC bisa melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang jauh. Misalnya, ke rumah pengasingan Soekarno di Ende, Flores, atau tempat pembuangan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir di Banda Naira, Maluku. 

Api Bandung 

Lain AARC, lain pula Api Bandung. Meski berbeda, namun Api Bandung, yang didirikan pada tahun 2013 ini, diakui sendiri oleh Lely Mei, koordinator, sebagai komunitas yang terinspirasi oleh AARC. “AARC adalah ruang pertemuan, pembelajaran, dan diskusi nasionalisme serta nilai-nilai budaya, sedangkan yang bergerak untuk menyebarkan nilai-nilai itu, adalah Api Bandung,” ujar Lely. Maka itu, Api Bandung lebih banyak melakukan semacam aktivisme. Misalnya, pada tanggal 21 Mei 2015, bertepatan dengan hari ulang tahun Ali Sastroamidjojo –mantan Perdana Menteri dan Ketua Umum Konperensi Asia Afrika tahun 1955- yang ke-112, Api Bandung mengadakan kegiatan Malam Renungan untuk Ali Sastroamidjojo. Kegiatan tersebut diisi dengan penyalaan 112 lilin, pengumpulan tanda tangan dukungan agar Ali Sastroamidjojo diangkat sebagai pahlawan nasional, serta pembacaan catatan kenangan dari keluarga. 

Meski terhitung belia, geliat Api Bandung ternyata cepat menarik perhatian. Museum Sri Baduga, misalnya, mempercayakan Api Bandung untuk menghidupkan kembali museum tersebut lewat berbagai kegiatan. Misalnya, dengan menginisiasi terbentuknya komunitas Laskar Inggit yang bertujuan untuk mengenalkan siapa Inggit Garnasih –istri kedua Soekarno- pada generasi muda. Api Bandung pun tengah mengusahakan agar Inggit bisa diangkat posisinya menjadi pahlawan nasional. 

Lely berprinsip bahwa Api Bandung harus berpegang pada empat nilai inti Spirit Bandung, yaitu niat baik, egaliter, kerjasama, dan perdamaian. Dengan bermodalkan nilai-nilai tersebut, ia berjanji akan terus memerangi pengaruh dari hantaman globalisasi yang berdampak kuat pada lemahnya akar nasionalisme pada generasi muda. 

Pada anak muda seperti Adew dan Lely, kita bisa berharap banyak. Mereka tidak sedang mencari uang dan popularitas, atau bahkan tidak butuh setitikpun pujian. Semua orang pada dasarnya punya panggilan dalam hati tentang harus kemana ia berjalan dalam hidupnya. Hanya saja, ada yang mengikuti, ada juga yang memilih untuk tutup telinga dan hanya mengikuti arus zaman saja. AARC dan Api Bandung merupakan perwujudan suatu idealisme dari orang-orang yang mau mendengarkan panggilan hatinya yang terdalam. Pada mereka kita berharap semangat kebangsaan tertanam kuat dalam diri para pemuda.
Continue reading