Monday, May 22, 2017

Kelas Logika: Pernyataan dan Proposisi



Setelah membahas tentang konsep dan definisi – yang merupakan bagian dari kegiatan akal budi tingkat pertama yaitu “pengertian”-, kita sekarang tiba pada pembahasan mengenai topik mengenai pernyataan dan proposisi. Pernyataan dan proposisi merupakan salah satu kegiatan akal budi tingkat kedua yaitu “keputusan” (judgement). lmu logika menggunakan istilah proposisi untuk menunjuk pernyataan yang sifatnya menghubungkan antara dua konsep (term). Proposisi bersifat deklaratif, yang artinya digunakan untuk menunjuk “kebenaran” (tentang kebenaran itu artinya apa, bisa dibahas nanti). Misalnya: Proposisi “Kucing adalah binatang” bersifat deklaratif karena ingin menunjukkan suatu kebenaran tentang kucing. Hal ini berbeda dengan pernyataan-pernyataan non deklaratif, misalnya interogatif (“Kucing itu apa?”), imperatif (“Kucing itu tolong dikasih makan”), eksklamatori (“Kucing punyamu lucu ya!), atau performatori, (“Aku menerima permintaan maafmu, Kucing.”). Proposisi dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu proposisi tradisional dan proposisi majemuk.

1. Proposisi Tradisional 
Proposisi tradisional adalah proposisi yang hanya memiliki satu subjek dan satu predikat. Untuk memahami proposisi tradisional, maka akan dibahas secara bertahap melalui poin-poin berikut ini:

1.1. Subjek dan Predikat 
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tentu kita sudah biasa dengan subjek dan predikat. Subjek diartikan sebagai “apa yang sedang kita dibicarakan” (what we are talking about) dan predikat diartikan sebagai “memang kenapa dia?” (what we say about it). Misalnya: “Semua manusia (subjek) akan mati (predikat)”; “Apel (subjek) adalah buah-buahan (predikat)”; “Asep (subjek) adalah pendidik (predikat)”.

1.2. Unsur-unsur dalam Proposisi 
Kalimat “Semua hewan adalah ciptaan Tuhan”, jika dibedah, mengandung beberapa unsur. Unsur-unsur itu adalah sebagai berikut:
a. Kata “semua” adalah quantifier, yang menunjukkan jumlah anggota. Selain “semua”, bisa juga “setiap”, “ada”, “beberapa”, “sejumlah”, dan lain-lain.
b. Kata “hewan” adalah subjek, yang nantinya disebut dengan istilah term subjek.
c. Kata “adalah” adalah kopula, yang menunjukkan hubungan antara term subjek dan term predikat, apakah menegasi atau mengafirmasi. Kata “adalah” menunjukkan afirmasi, yang mana lawannya adalah “adalah bukan”.
d. Kata “ciptaan Tuhan” adalah predikat, yang nantinya disebut dengan istilah term predikat.


1.3. Ragam Proposisi Tradisional 
Proposisi universal adalah proposisi yang mengandung quantifier yang bersifat seluruh untuk term subjek, seperti “Semua politisi…” atau “Setiap orang…”. 
Proposisi partikular adalah proposisi yang mengandung quantifier tidak semua untuk term subjek, seperti “Beberapa mahasiswi...”; “Sejumlah penyanyi…”; atau “Ada hansip…”. 
Proposisi positif adalah proposisi yang mengandung kopula mengiyakan atau mengafirmasi hubungan antara term subjek dan term predikat, seperti “… adalah racun”, atau “adalah ustad”. Proposisi negatif adalah proposisi yang mengandung kopula menolak atau menegasi hubungan antara term subjek dan term predikat, seperti “… adalah bukan besi”, atau “… adalah bukan permainan” 
Namun dalam kenyataannya, tidak ada proposisi yang hanya universal saja atau partikular saja, atau afirmatif saja atau negatif saja. Setiap proposisi selalu merupakan gabungan antara unsur-unsur di atas yang jika dijabarkan adalah sebagai berikut:


Jika melihat lambang nama, huruf A dan I diambil dari huruf hidup yang terdapat dalam Bahasa Latin “Affirmo” yang berarti “saya mengiyakan”, dan huruf-huruf E dan O diambil dari “Nego” yang berarti “saya menyangkal”.
Contoh proposisi A: Semua manusia adalah makhluk hidup; Semua kucing adalah mamalia
Contoh proposisi E: Semua tentara adalah bukan dokter; Tidak ada tanaman yang dapat melakukan pembicaraan.
Contoh proposisi I: Beberapa kucing adalah Persia; Ada pulpen yang berwarna hitam
Contoh proposisi O: Beberapa perempuan adalah bukan penyanyi; sejumlah massa adalah bukan pendukung Ahok.

Penting untuk diketahui: 
a. Dalam proposisi, lebih disarankan jika subjek dan predikat menjadi kata benda (noun) atau kata ganti orang (pronoun) alih-alih kata sifat atau kata kerja. Misalnya, jika ada kalimat “Udin mengajar” lebih baik diganti jadi “Udin adalah pengajar” atau “Burung terbang” menjadi “Burung adalah hewan yang terbang” atau “Burung adalah penerbang”. 
b. Proposisi singular termasuk ke dalam proposisi universal. Misalnya: Amir adalah astronot, Sokrates adalah manusia, termasuk ke dalam proposisi A meski tidak ada quantifier yang menunjukkan tentang jumlah Amir dan Sokrates.

1.4. Hubungan Antar Proposisi
Mari berangkat dari diagram berikut ini:


  • Hubungan kontraris artinya pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” tidak bisa sama-sama benar dengan pernyataan “Semua ekonom adalah bukan S.E.”. Jika “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “Semua ekonom adalah bukan S.E.” pasti salah, pun sebaliknya. 
  • Hubungan subalternasi artinya jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “beberapa ekonom adalah S.E.” juga benar. Tapi jika “beberapa ekonom adalah S.E.” adalah benar, belum tentu “Semua ekonom adalah S.E.” juga benar. Hal tersebut juga berlaku untuk hubungan proposisi E dan O. 
  • Hubungan subkontraris artinya jika pernyataan “Beberapa ekonom adalah S.E.” itu benar, maka belum tentu pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” itu benar. Tapi jika pernyataan “Beberapa ekonom adalah S.E.” itu salah, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” itu pasti benar. 
  • Hubungan kontradiksi artinya jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” pasti salah. Sebaliknya, jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu salah, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” pasti bener. Hal tersebut juga berlaku untuk hubungan antara proposisi E dan I.

2. Proposisi Majemuk 
Proposisi majemuk atau compound proposition adalah proposisi yang tersusun atas dua atau lebih proposisi tradisional. Bentuk-bentuk proposisi majemuk adalah sebagai berikut:

2.1. Hipotetikal 
Proposisi hipotetikal adalah proposisi majemuk yang salah satu proposisinya (konsekuen) adalah akibat dari proposisi sebelumnya (anteseden). Biasanya dirumuskan dalam bentuk logikal: “Jika…, maka…” Misalnya: “Jika saya masuk kelas logika hari ini, maka saya tidak akan paham.” Proposisi antesedennya adalah “Jika saya masuk kelas logika hari ini,” sedangkan proposisi konsekuennya adalah “maka saya tidak akan paham.” 

2.2. Disjungtif 
Proposisi disjungtif adalah proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi, dan salah satu dari proposisinya adalah benar, tanpa menutup kemungkinan keduanya benar. Bentuk logikalnya adalah: “Atau …, atau …” Misalnya: “Atau dia ini orang jahat atau orang baik.” Jika ingin memastikan bahwa hanya salah satu saja yang benar, maka digunakan kalimat “tapi tidak bisa keduanya”. Misalnya, “Atau dia ini orang jahat atau orang baik. Tapi tidak bisa keduanya.” Kalimat tersebut disebut dengan disjungtif kuat atau strong disjunction

2.3. Konjungtif 
Proposisi konjungtif adalah proposisi majemuk yang mengandung proposisi yang sama derajatnya. Masing-masing dapat dikemukakan secara mandiri tanpa berubah maksudnya. Bentuk logikal dari proposisi konjungtif adalah menggunakan kata “dan” sebagai penghubung. Misalnya: “Kelas logika ini ramai dan lancar.” Bisa berdiri sendiri jika kalimat tersebut dibagi dua menjadi “Kelas logika ini ramai.” dan “Kelas logika ini lancar.”

Daftar Pustaka 

  • Introduction to Compound Propositions. http://proofsfromthebook.com/2016/09/11/compound-propositions/ 
  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press 
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Square of Opposition. http://www.iep.utm.edu/sqr-opp/

Continue reading

Sunday, May 21, 2017

Menjadi Manusia Merdeka di Hadapan Absurditas (Bahasan Eksistensialisme tentang Tokoh Meursault, Bernard Rieux, dan Sisifus)

*) Ditulis dalam rangka Diskusi Rabuan di Common Room Thamrin Residence Lantai 5, Jakarta, 20 Mei 2015.


Ada perasaan gembira dan juga cemas, ketika saya dihubungi untuk membicarakan hal ikhwal Albert Camus, dalam kesempatan kali ini. Mengapa? Gembira karena tentu saja, Camus adalah filsuf besar. Pikiran-pikiran dia begitu penting bagi perkembangan kehidupan Barat pada umumnya. Camus menawarkan solusi bagaimana untuk tetap hidup berbahagia di tengah kekosongan batin yang hadir akibat konsekuensi logis dari modernitas. Selain itu, tulisan-tulisannya juga amat memikat dan mempunyai nilai sastra tinggi –bandingkan dengan Descartes, Kant, atau Hegel, yang tulisannya begitu menyebalkan untuk dibaca-. 

Selain itu, ada perasaan cemas karena kenyataan bahwa membicarakan pemikiran seseorang adalah kegiatan yang tidak mudah. Kita tidak bisa begitu saja memeras pemikiran Camus lewat satu dua tagline yang sudah ia lontarkan. Mau tidak mau, saya mesti membaca hampir seluruh tulisannya, sebagai upaya untuk memahami jalan pikir filsuf Prancis-Aljazair ini. Tidak dapat dipungkiri pula, bahwa meski disampaikan dengan cara yang enak, tulisan Camus tetap saja berisi hal-hal “tidak enak”. Pikirannya terlampau muram, pesimistis, dan seperti tokoh Meursault dalam salah satu bukunya, L'Etranger, penuh dengan sikap masa bodoh. Artinya, saya cemas bahwa dengan membaca Camus secara lebih teliti, hari-hari saya, yang sudah nyaman dengan modernitas, menjadi keruh dan memuakkan. Tapi mungkin hanya dengan cara seperti ini, saya menjadi dengan serius memeriksa hidup saya kembali. 

Eksistensialisme: Obat Penawar Abad Ke-20 

Sebelum mulai berbicara tentang Albert Camus, ada baiknya kita membicarakan terlebih dahulu asal usul pemikiran eksistensialisme dalam peta filsafat Barat. Albert Camus sendiri menolak dengan label eksistensialisme pada dirinya –ada kemungkinan karena tidak mau disamakan dengan pemikir sejamannya yang sering tidak sejalan, yaitu Jean Paul Sartre?-. Meski demikian, dengan sangat terpaksa, kita mesti juga melekatkan suatu label pada dirinya (sematamata agar menjadi mudah bagi kita untuk memahaminya) dan label yang paling tepat adalah eksistensialisme. Mengapa? Pikiran-pikiran Camus secara umum mempertanyakan secara terus menerus hakikat keberadaan manusia. Tulisan-tulisannya juga dianggap sejalan dengan pemikiran eksistensialisme pada umumnya yang menganggap bahwa eksistensi mendahului esensi. Artinya kurang lebih yaitu bahwa nilai-nilai dalam hidup ini, sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan manusia. 

Eksistensialisme sendiri bisa dikatakan merupakan bentuk kritik terhadap filsafat idealisme, yang amat populer terutama di akhir abad ke-18 dan abad ke-19. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), tokoh yang banyak dikaitkan dengan filsafat idealisme, mengatakan bahwa alam semesta (Hegel membahasakannya dengan istilah “roh absolut”) bergerak lewat dialektika kesadaran manusia. Alam semesta akan semakin cerdas, seiring dengan manusia yang terus mengalami perubahan dan bergerak dalam sejarah. Dalam arti kata lain, alam semesta ini selalu bergerak menuju sesuatu yang lebih cerah dan lebih baru. 

Soren Kierkegaard (1813-1855), filsuf Denmark, adalah orang yang dengan terangterangan menolak pikiran-pikiran Hegel yang menurutnya terlalu abstrak dan mengawangawang. Kata Kierkegaard, dengan filsafat Hegel, manusia sebagai makhluk yang konkrit justru tidak dihargai keberadaannya. Manusia hanya merupakan perwujudan dari alam semesta yang baginya, bukan sesuatu yang nyata atau perlu dibahas panjang lebar. Justru eksistensi manusia dengan segala persoalannya seperti cinta, tragedi, kemarahan, kebencian, nestapa, dan kepercayaannya akan Tuhan (bukan Tuhan itu sendiri) adalah hal yang patut dijadikan pusat filsafat yang baru. Manusia harus dipikirkan mula-mula tentang keberadaan dia sendiri di dunia (eksistensi) sebelum bagaimana ia memaknai semuanya (esensi). Eksistensi manusia sendiri, dalam pandangan Kierkegaard, tidak diragukan lagi, adalah sesuatu yang menyedihkan. Oleh sebab pemikirannya yang berpusat pada eksistensi manusia, maka aliran filsafat ini disebut dengan eksistensialisme. 

Tidak sulit untuk kemudian dunia Barat dapat menyerap ide-ide dari pemikiran Kierkegaard –yang juga mendapat pengembangan dalam versi yang lebih ateistik lewat Jean Paul Sartre dan Albert Camus-. Pemikiran Friedrich Nietzsche, yang tadinya tidak terlalu populer, diangkat kembali karena dianggap senafas dengan eksistensialisme. Pertanyaannya, mengapa eksistensialisme dapat diterima dengan cepat? Filsafat idealisme, yang dicetuskan Hegel, memang berhasil menciptakan optimisme besar tentang dunia yang lebih cerah, lebih baru, dan lebih rasional. Optimisme ini pertama-tama menimbulkan kemajuan di segala bidang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi optimisme tersebut juga punya andil terhadap sikap patriotisme berlebihan dan semangat untuk menguasai yang lain. Itu sebabnya, eksistensialisme pada akhirnya mengritik kekosongan batin yang ditimbulkan akibat penderitaan perang (PD I dan PD II) dan kemajuan peradaban manusia. Kata eksistensialisme, idealisme Hegel tidak menghargai manusia sebagai dirinya sendiri, sebagai subjek, sebagai individu. 

Eksistensialisme mungkin memang punya karakter gelap, muram, dan pada titik tertentu, memuakkan. Namun filsafat ini berusaha jujur dengan memotret kondisi sebenar-benarnya manusia modern tanpa suatu iming-iming pencerahan yang semu. Camus termasuk orang yang tidak hanya menyadari situasi memuakkan eksistensi manusia modern ini, melainkan berusaha, dengan perjuangan yang keras, untuk mencarikan jalan keluar tentang bagaimana sebaiknya manusia bersikap dan memandang dunia yang katanya, sia-sia ini. 

Pemikiran Albert Camus dalam La Peste, L’Etranger, dan Le Mythe de Sisyphe 

Sebelum memasuki alam pikirnya, ada baiknya untuk membahas secara sangat singkat tentang latar belakang kehidupan dari Albert Camus. Camus lahir pada tanggal 7 November 1913 di Aljazair –negara Afrika Utara yang merupakan jajahan dari Prancis-. Masa kecilnya terbilang miskin karena salah satunya, ayahnya gugur akibat PD I ketika Camus baru berusia satu tahun. Sepanjang hidupnya, selain aktif berpolitik (Camus adalah seorang aktivis partai komunis dan juga anarkis), gemar olahraga sepakbola (pernah menjadi kiper untuk klub sepakbola junior, Racing Universitaire d’Alger), Camus adalah seorang penulis yang produktif. Ia banyak menulis sejumlah novel, cerpen, dan esai. Tema dari tulisan-tulisannya sendiri, jika disarikan, banyak berbicara tentang absurdisme (akan dibahas kemudian). Camus meninggal pada tahun 1946 akibat kecelakaan mobil di sebuah kota kecil bernama Villeblevin. 

Pemikiran Camus yang paling inti adalah tentang absurdisme. Absurdisme dapat dikatakan sebagai aliran pemikiran yang menganggap bahwa ada upaya terus menerus dalam diri manusia untuk mencari makna sejati dalam kehidupan. Namun di sisi lain, upaya tersebut selalu menemui kegagalan. Mengapa, karena selain dari kemungkinan bahwa kehidupan itu sendiri pada dasarnya tidak mempunyai makna, tapi juga karena keterbatasan manusia dalam mencapai makna tersebut. Artinya, absurd bisa dimaknai sebagai ketegangan antara dua situasi yang ideal: Manusia yang selalu ingin, dan kenyataan yang tidak mungkin. 

Kita bisa memahami absurdisme ini misalnya dari salah satu novelnya yang berjudul La Peste (1947). Dalam novel tersebut, kota Oran diserang wabah pes yang menyebabkan kematian bagi banyak warganya. Wabah tersebut membuat orang-orang mencoba mengerti dan memaknai apa arti kehidupan ini. Ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang murni melihatnya sebagai sesuatu yang rasional –persoalan medis semata-, ada yang menganggapnya sebagai berkah –karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya-. Namun diantara upaya-upaya memaknai yang berseliweran tersebut, Camus seolah mau berkata lewat tokoh dokter bernama Bernard Rieux, bahwa sikap yang benar adalah menerima ketidakmampuan manusia untuk memaknai tersebut dengan sejujur-jujurnya, dan mencoba untuk hidup berbahagia saja. 

Absurdisme dengan karakteristik sedikit lain dapat ditemukan dalam novelnya yang pertama, yang ditulis sebelum La Peste, berjudul L’Etranger (1942). Dalam novel tersebut, tokoh utama yang bernama Meursault, adalah orang yang terkesan masa bodoh dengan situasi di sekitarnya. Di bagian pembuka, langsung ditunjukkan bagaimana ia sedemikian tidak tersentuh sedikit pun oleh kematian ibunya. Ia enggan membuka tutup mati untuk melihat wajah ibunya untuk terakhir kali dan bahkan tidak ada perasaan untuk ingin menangis. Esoknya, Meursault malah langsung menjalin hubungan romantika dengan seorang perempuan bernama Marie – seolah tidak ada waktu sedikitpun untuk berkabung-. Lewat sebuah perjalanan yang rumit – awalnya berupa solidaritas untuk membantu temannya yang bernama Raymond-, Meursault diadili karena membunuh seorang Arab dengan pistol. Ia divonis hukuman mati dengan cara dipenggal oleh guillotine

Sepanjang kejadian tersebut, Meursault menyikapinya dengan seolah masa bodoh. Ia sendiri tidak bisa mengerti mengapa ia tidak menangisi kematian ibunya, ia sendiri tidak mampu menjelaskan apakah perasaannya pada Marie adalah cinta atau apa –ia mengatakan, “Kalau kamu mau menikah, maka saya akan mau, walau saya tidak tahu untuk apa.”-, ia sendiri tidak punya penyesalan serius ketika selesai membunuh dan kemudian divonis mati, ia sendiri enggan menerima Tuhan meski sudah didatangi pendeta berulang kali pada momen-momen terakhir menjelang eksekusi. 

Ada banyak tafsir tentang mengapa Meursault bersikap sedingin itu terhadap kehidupan. Namun agaknya, label “masa bodoh” dan “dingin” bukanlah kata yang tepat disematkan pada Meursault jika ditilik dari konteks filsafat Camus. Lebih tepat dikatakan bahwa Meursault menerima dengan sepenuhnya makna absurd dalam kehidupan. Ia dengan jujur mengakui bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti –hidup bahkan, katanya, tidak layak untuk dijalani-. Namun meski hidup ini begitu sia-sia, Camus menolak dua jalan keluar untuk menyelesaikannya: bunuh diri dan percaya pada Tuhan. Kedua hal tersebut, dianggapnya, merupakan penolakan keras terhadap hidup itu sendiri. Justru sikap yang benar adalah menerima dengan terbuka, meski dengan perjuangan yang perih, untuk kemudian meraih kemenangan hidup lewat kematian yang wajar –Meursault berbahagia dengan kisah akhir hidupnya yang diselesaikan lewat pisau guillotine yang katanya jauh lebih baik daripada “mati” oleh ucapan pendeta tentang Tuhan-. Dalam L’Etranger, disebutkan bahwa satu-satunya cara bagi Meursault untuk mengisi batinnya adalah dengan mengingat kenangan-kenangan lama yang indah dan pernah mewarnai kehidupannya. Bahkan kemudian ia menganggap bahwa harapan-harapan yang akan datang pun akan menjauhkannya dari hidup yang jujur dan paripurna. 

Dalam pandangan Camus, bagaimana cara hidup yang dipraktikkan oleh Rieux ataupun Meursault, akan membawa manusia pada suatu kemerdekaan. Sebelum membahas lebih jauh tentang kemerdekaan yang dimaksud, kita singgung secara singkat tentang bagian keempat dari esai Camus yang berjudul Le Mythe de Sisyphe (1942). Pada tulisannya tersebut, ia memberi contoh sebuah legenda dari Yunani, tentang seseorang bernama Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu besar hingga ke atas bukit, untuk kemudian batu tersebut menggelinding ke bawah lagi, dan Sisifus harus mendorongnya kembali ke atas –berlaku ad infinitum-. Kehidupan manusia modern, kata Camus, adalah persis seperti Sisifus. Mereka menjalani sesuatu yang berulang-ulang, tanpa makna, dan pada akhirnya akan kembali ke titik nol. Lantas, jika memang benar demikian adanya, apa yang harus dilakukan? Camus berkata dengan pasti, “Seseorang harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia (dengan apa yang dilakukannya).” 

Pada tiga tokoh tersebut (Rieux, Meursault, dan Sisifus), kita bisa menemukan satu kebebasan tersendiri. Kebebasan tersebut adalah kebebasan karena penderitaan, kebebasan karena ketiadaan harapan, dan yang terpenting: kebebasan yang hadir karena kesadaran penuh bahwa hidup ini, pada dasarnya, adalah kesia-siaan belaka. Namun sekali lagi, ketiga tokoh itu tidak putus asa dan berserah diri. Mereka terus menerus melakukan perlawanan –dalam terminologi Camus, kita harus terus melakukan revolusi melawan keabsurdan-. Hanya dengan demikian, kebahagiaan dan kemerdekaan bisa tampil paripurna. 

Saya sendiri menemukan sikap a la Rieux, Mersault, dan Sisifus ini, pada sebuah percakapan dengan seorang tukang gorengan di dekat rumah. Tukang gorengan tersebut mempunyai lima orang anak dengan istri yang tinggal di rumah (demi mengurusi anak-anaknya). Namun tukang gorengan tersebut hidup tanpa rasa takut. Dengan tetap bertahan pada berdagang gorengan, ia mengatakan dengan tegas bahwa, “Hidup ini dijalani saja dengan santai. Toh pada akhirnya juga kita akan mati.” Dalam pandangan saya, tukang gorengan ini lebih mengerti Camus daripada saya sendiri. Saya takut mati, dan juga takut untuk hidup.
Continue reading

Thursday, May 18, 2017

Bioskop Alternatif Berjasa Lahirkan Pemikir Film

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Sutradara yang kesulitan mendapat tempat di layar lebar, mempunyai kesempatan agar filmnya diputar di bioskop alternatif. Di Bandung, kesempatan itu salah satunya datang dari satu komunitas bernama Warung Film (sub-divisi dari komunitas Ruang Film Bandung) yang mengelola sebuah tempat di Jalan Banda, bernama Indi Sinema –terletak di gedung Bale Motekar lantai tiga-. Bekerjasama dengan UNPAD dan DILo (Digital Innovation Lounge), mereka kerap menjadi penyelenggara bagi pemutaran film dari para sutradara muda yang filmnya belum berhasil menembus pasar bioskop umum. 

Indi Sinema ingin agar tempat tersebut menjadi satu persinggahan bagi para sutradara yang menginginkan alternatif tempat pemutaran film yang tidak membutuhkan persyaratan serta perjanjian yang rumit. Menurut Rhisa, humas Indi Sinema, “Keberadaan kami adalah dalam rangka memberi ruang pemutaran film bagi para sutradara, sehingga setidaknya mereka menjadi lebih percaya diri sebelum memasuki respon pasar yang lebih luas.” Indi Sinema sendiri dibuat sedemikian rupa agar suasananya seperti bioskop pada umumnya: ada pendingin, layar lebar dan ruangan nyaris tanpa cahaya, serta tempat duduk nyaman. Hanya saja, kapasitasnya relatif kecil yaitu hanya terbatas sekitar lima puluh orang. Mereka mempunyai jadwal pemutaran rutin hampir sehari tiga kali dan hanya libur pada hari Senin. “Pemutaran akan terus dilakukan, meski tidak ada penonton,” kata Rhisa. Untuk beberapa pemutaran tertentu, Indi Sinema menarik semacam donasi bagi mereka yang menonton –donasi tersebut hanya kisaran sepuluh hingga lima belas ribu-. Dengan cara tersebut, selain menjadi jalan untuk menghidupi bioskop alternatif itu sendiri, mereka juga dapat memberikan separuhnya pada pembuat film. 

Beberapa film yang pernah diputar di Indi Sinema antara lain Urbanis Apartementus (2013), Karbon dalam Ransel (2014), Pulau Bintang (2014), Jelaga Asa Belantara (2016), dan Bendera (2016). Meski umumnya Indi Sinema memutar film-film yang belum mendapat kesempatan di gedung bioskop umum, tapi ada pula beberapa film yang statusnya “turun layar” atau pernah diputar di bioskop umum dan kemudian sudah selesai masa penayangannya. Mereka juga menerima pemutaran film untuk kategori lain, seperti film dokumenter panjang, film fiksi panjang, film edukatif, dan kompilasi film pendek. 

Namun secara umum, Indi Sinema menunjukkan dukungan serius terutama bagi perkembangan film-film dalam negeri yang menurut Rhisa, “Sangat berlimpah dan potensial, namun seringkali terhambat regulasi serta seleksi pasar yang terlampau ketat.” Dengan menggeliatnya bioskop alternatif seperti Indi Sinema ini, maka boleh kita berharap: Sutradara dalam negeri semakin produktif berkarya dan semakin tidak gentar dengan momok bernama pasar. Ketika film tersebut diapresiasi, maka konsekuensi positif akan datang dengan sendirinya, dan memberikan satu kepuasan tak ternilai bagi sang pembuat film. 

Ruang Film Bandung 
Indi Sinema dengan Warung Film sebagai pengelolanya, mungkin hanya sebagian kecil dari program komunitas Ruang Film Bandung yang memang sangat memberi perhatian bagi perkembangan film, khususnya film lokal. Selain pengelolaan bioskop alternatif, Ruang Film Bandung juga cukup rutin berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menyelenggarakan kegiatan. Misalnya, kerjasama dengan Telkom University untuk membuat kelas film pendek dengan durasi delapan pertemuan. Di akhir pertemuan, harus ada hasil berupa film yang kemudian diapresiasi secara bersama-sama. Selain itu, ada juga pelatihan produser film yang merupakan kerjasama dengan Dinas KUKM dan Perindag Kota Bandung serta even Bandung Youth Short Film Competitions (ajang penghargaan film untuk pemuda atau komunitas film di Bandung) yang bekerjasama dengan Dispora Kota Bandung. 

Mereka juga menggelar sebuah program bernama Klinik Film. Pada Klinik Film tersebut, diputar sekitar tiga film pendek untuk kemudian dikomentari dan dianalisis oleh tiga orang akademisi, pengamat, atau penikmat film yang sudah dipilih oleh panitia. Misalnya, bulan Oktober 2016 lalu, diputar tiga film pendek berjudul Senyum Sempit, Salam dari Anak-Anak Tergenang, dan Fashion Syndrome, dengan menghadirkan tiga analis yaitu Esa Hari Akbar, Vanny Rantini, dan Harry Reinaldi. 

Ina Khuzaimah, salah seorang pendiri Ruang Film Bandung, menyebutkan tentang visi misi komunitas ini, “Kami ingin membangun ekosistem sinema lokal, khususnya Bandung, agar terus menggeliat dan dapat bersaing dengan perfilman nasional atau bahkan mancanegara.” Ikhtiar semacam itu memang tidak pernah mudah dan kerap membutuhkan napas panjang. Kita, selaku masyarakat, turut andil dalam mendukung –termasuk mengawasi- sepak terjang Ruang Film Bandung agar terus konsisten memajukan ekosistem sinema lokal. Salah satu bentuk dukungannya bisa dimulai dengan mendatangi bioskop alternatifnya dan menjadi penonton yang tidak hanya apresiatif, tapi juga kritis.


Continue reading

Ateisme Sebagai Sikap Kemanusiaan Baru

*) Ditulis sebagai suplemen diskusi mengenai ateisme di Gallery Cafe, Taman Ismail Marzuki, atas prakarsa Lembaga Bhinneka hari Sabtu, 30 Agustus 2014.

Sumber gambar: http://bsnscb.com/atheism-wallpapers/27216671.html


1. Mengapa Ateisme Muncul? 
Tentu saja kita bisa mengira bahwa sebelum abad ke-20, sudah terdapat orang-orang yang dalam hidupnya tidak meyakini keberadaan Tuhan. Namun perlu diakui bahwa sikap semacam itu baru disuarakan secara lantang ketika dunia memasuki abad ke-20. Paham ateisme, atau sebuah aliran yang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, menjadi tren yang berkembang di era modern. Perkembangannya sangat ditopang oleh berbagai hal yang akan kita bahas bersama-sama. 

a. Perkembangan Sains dan Teknologi 
Ketika Eropa memasuki periode Zaman Pencerahan pada sekitar abad ke-17 dan abad ke-18, terdapat sikap percaya Tuhan yang berbeda sama sekali. Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, Tuhan yang dipercayai oleh –umumnya- para ilmuwan masa itu adalah Tuhan yang bersifat Deisme. Apa itu Tuhan Deisme? Dianggapnya, Tuhan mencipta seperti seorang pembuat jam. Ketika jam itu sendiri sudah selesai dibuat, maka tidak perlu lagi campur tangan sang pembuat jam. Jam itu dibiarkannya berjalan sendiri sesuai dengan mekanisme yang ada. Demikian halnya dengan pandangan terhadap Tuhan. Tuhan membuat dunia dan seisinya, untuk kemudian berhenti bekerja dan membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Katanya, tugas para ilmuwan adalah menelaah cara kerja “jam semesta” tersebut tanpa melibatkan keberadaan Tuhan di dalamnya. Hanya dengan demikian, menurut mereka, sains dan teknologi dapat berkembang tidak hanya pesat, melainkan juga objektif serta bebas nilai. 
Kepercayaan Deistik tersebut menjadi cikal bakal ateisme modern yang menolak keberadaan Tuhan seluruhnya. Deisme memulai suatu cara berpikir yang memisahkan secara tegas antara Tuhan dan ciptaannya. Bahkan dengan berani ia mengatakan bahwa antara Tuhan dan ciptaannya sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa. Pada sejumlah pemikiran ateisme modern, kelak akan diketahui bahwa tidak perlu ada Tuhan lagi sebagai premis sebelum adanya alam semesta. Lebih baik kita andaikan saja bahwa alam semesta tersebut ada dengan sendirinya tanpa sebuah proses penciptaan. 
Kemudian August Comte, seorang pemikir Prancis di abad ke-19, memberi sumbangsih bagi cikal bakal ateisme modern. Ia mengatakan bahwa tahap perkembangan manusia terbagi tiga, yaitu tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positif. Tahap teologis adalah ketika manusia mempercayai bahwa ada suatu entitas tunggal yang supranatural di balik segala kejadian di alam semesta ini. Tahap metafisis dianggap Comte lebih maju dari tahap teologis. Tahap metafisis berarti manusia mempercayai bahwa memang ada suatu entitas tunggal, tapi sifatnya tidak supranatural. Entitas tersebut berasal dari unsur-unsur yang ada dalam alam semesta itu sendiri. Misalnya, percaya bahwa alam semesta ini terbuat dari air, dianggap Comte, jauh lebih maju daripada percaya bahwa alam semesta ini dibuat oleh Tuhan. Yang ketiga, tahap positif, yaitu tahap ketika manusia sudah tidak lagi mencari-cari sebab musabab dari seluruh kejadian dari hal-hal di luar alam semesta itu sendiri. Tidak hanya itu, kata Comte, manusia di tahap ini dapat menjelaskan seluruh kejadian secara gamblang dan bahkan mampu mengontrolnya. 
Pemikiran Comte tersebut juga memberikan landasan bahwa seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh diiringi dengan kemajuan sikap terhadap yang non-material. Artinya, jika sains dan teknologi semakin maju, maka orang harus pelan-pelan meninggalkan Tuhan, agama, dan kepercayaan-kepercayaan lama. 

b. Berkurangnya Reputasi Agama-Agama Besar 
Periode Abad Pertengahan agaknya menimbulkan trauma serius bagi perkembangan sikap keagamaan orang-orang Eropa. Pada periode tersebut, ke-Kristen-an memegang peran utama dalam segala aspek kehidupan -posisinya berada di atas seni, filsafat, maupun sains-. Meski posisinya sangat sentral, namun banyak pihak menganggap bahwa justru periode tersebut lebih cocok disebut dengan Abad Kegelapan karena dominasi gereja yang amat memberangus kebebasan berpikir. Perbedaan sikap dalam hal sains misalnya (seperti mengatakan bahwa bumi ini bulat atau bumi ini bergerak mengelilingi matahari), akan berujung pada hukuman mati. Selain itu, kenyataan bahwa sikap para pengikut keagamaan yang tidak mencerminkan suatu moralitas yang luhur pun membuat banyak orang merasa tidak lagi simpatik terhadap agama. Misalnya, kenyataan bahwa gereja pada masa itu menjual surat pengakuan dosa dengan harga tinggi menjadi alasan yang dianggap cukup untuk menyuarakan ateisme di kemudian hari. 
Di samping ke-Kristen-an, secara umum konsep agama tampak tidak menjelma menjadi suatu contoh tentang perdamaian bagi umat manusia. Slogan agama sebagai penunjuk jalan, pencari solusi, atau pemberi rahmat, justru menjadi kontradiktif ketika mereka malah menjadi sumber problematika seperti perang dan terorisme. Hal tersebut semakin menjadi-jadi ketika disandingkan dengan perkembangan sains dan teknologi yang semakin maju. Agama seolah berbicara tentang hal-hal yang lampau dan terlalu teknis seperti tata cara peribadatan, ketimbang berbuat sesuatu untuk kepentingan umum. Secara umum, Tuhan yang diagungkan oleh agama-agama pun dianggap sudah ketinggalan dan tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut membuat orang merasa tidak perlu lagi untuk beragama atau bahkan ber-Tuhan, jika segala persoalan bisa diselesaikan tanpa hal-hal tersebut. 

2. Para Pendekar Ateisme 
Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat sejumlah filsuf yang lantang menyuarakan ateisme. Para filsuf tersebut rata-rata meniadakan Tuhan tidak melulu secara rasional. Mereka merasa konsep Tuhan harus tidak ada demi kebaikan umat manusia. Itu sebabnya kita dapat menyebut ateisme sebagai sikap kemanusiaan baru. Berikut akan dipaparkan lima orang diantaranya, beserta pemikiran masing-masing mengenai Tuhan. 

a. Ludwig Feuerbach 
Ludwig Feuerbach dianggap sebagai filsuf paling mula-mula yang menyuarakan ateisme secara lantang. Ia terkenal dengan pernyataan bahwa Tuhan adalah proyeksi. Proyeksi dari apa? Proyeksi dari ketidakmampuan manusia untuk menjadi maha. Kata Feuerbach, manusia mempunyai sifat baik dan ingin menjadi mahabaik. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa, maka diciptakanlah Tuhan yang mahabaik. Manusia mempunyai sifat adil dan ingin menjadi mahaadil. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa, maka diciptakanlah Tuhan yang mahaadil. Artinya, Tuhan tidak lebih daripada proyeksi dari keinginan-keinginan manusia saja. Sifat-sifat Tuhan adalah sekaligus sifat-sifat manusia. Maka itu, menurut Feuerbach, jika Tuhan tidak ada, maka akan lebih baik bagi manusia. Mengapa? Karena dengan demikian, manusia dapat merealisasikan kemampuannya secara total tanpa memproyeksikannya pada sesuatu yang ia ciptakan sendiri. 

b. Karl Marx 
Karl Marx dikenal sebagai nabi kaum komunis. Ia adalah orang yang dengan sungguh-sungguh memberikan landasan filosofis bagi para buruh untuk merubah nasibnya dengan cara menggulingkan kaum borjuis. Tidak hanya itu, setelah menggulingkan, kata Marx, kaum buruh tersebut harus mampu mengatur sumber daya secara merata sehingga kesejahteraan menjadi milik bersama. Lantas, apa hubungan pemikiran Marx, yang lebih condong pada ekonomi, terhadap ateisme? 
Pertama, Marx mengatakan bahwa agama adalah candu rakyat. Ia menyebut agama adalah semacam ilusi yang memabukkan, yang membuat para buruh yang harusnya memberontak, menjadi tenggelam dalam sikap pasrah dan fatalis. Kata Marx, agama sebaiknya tidak usah ada agar buruh dapat berkonsentrasi terhadap revolusi. 
Kedua, pemikiran Marx khas disebut dengan materialisme dialektik. Ia memikirkan sesuatu yang persis kebalikan dari apa yang dipikirkan oleh Hegel. Kata Hegel, alam semesta ini adalah eksternalisasi dari roh absolut. Artinya, segala fenomena-fenomena material hanyalah turunan dari roh absolut yang sifatnya melingkupi dan mendasari segala sesuatu (agar mudah, kita bisa ibaratkan roh absolut sebagai Tuhan). Sebaliknya, Marx berpikir bahwa justru fenomena-fenomena material adalah hal yang lebih utama dan melihat roh absolut sebagai turunannya. Artinya, bagi Marx, dunia ini justru merupakan pertarungan dari hal-hal material, yang ia sebut secara spesifik sebagai pertarungan antar kelas -antara yang borjuis dan yang proletar-. 
Dari pemaparan panjang di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pemikiran Marx tidak berpihak sama sekali pada hal-hal non-material (yang sangat mungkin Tuhan termasuk di dalam kategori tersebut). Ia menganggap bahwa kepercayaan terhadap dunia material secara utuh adalah kunci kesejahteraan masyarakat. Pada titik ini kita dapat memahami bahwa Marx meniadakan Tuhan maupun agama demi sebuah kebaikan ekonomi. 

c. Friedrich Nietzsche 
Friedrich Nietzsche adalah orang yang amat tegas dalam menolak Tuhan. Dalam bukunya yang berjudul Also Sprach Zarathustra, Nietzsche mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”. Kematian Tuhan itu ia deklarasikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap manusia yang semakin hari semakin mempunyai mentalitas seperti budak. Budak yang ia maksud adalah budak dari agama, budak dari Tuhan, dan budak dari peradaban modern secara keseluruhan. Nietzsche mengatakan bahwa manusia harus bermental tuan, yaitu mental sebagai seorang yang ia sebut sebagai “manusia atas” atau uebermensch
Lebih rumit lagi, untuk menjadi uebermensch tersebut, Nietzsche mengajukan syarat yaitu membunuh Tuhan terlebih dahulu. Mengapa Tuhan harus dibunuh? Kata Nietzsche, jika tidak ada Tuhan, memang pada mulanya akan terjadi semacam kekosongan besar yang terbentang selama dua ribu tahun. Tapi setelah itu, manusia menjadi leluasa sekaligus berdikari. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang berani merumuskan nilai-nilai secara mandiri tanpa harus tergantung dari keberadaan Tuhan yang sudah sejak lama membayangi. Kata Nietzsche, hanya dengan menyingkirkan Tuhan, umat manusia menjadi gembira sepenuhnya sekaligus berkembang melampaui dirinya sendiri. 

d. Sigmund Freud 
Sigmund Freud dikenal sebagai bapak psikoanalisis. Ia mengatakan bahwa segala tindak-tanduk manusia tidak bisa dilepaskan dari alam bawah sadarnya. Kesadaran manusia, kata Freud, adalah seperti gunung es: Bagian puncaknya memang kelihatan, tapi sedikit sekali. Yang tidak kelihatan itulah bagian yang lebih besar, gelap, dan dalam. Sebagai seorang ahli kejiwaan, Freud menyebut bahwa agama adalah semacam neurosis kolektif, atau dalam bahasa yang lebih lepas dapat diartikan sebagai kegilaan massal. Menurut Freud, tidak ada perbedaan antara orang yang mengalami gangguan kejiwaan dengan orang yang beragama. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa konsep Tuhan adalah sebentuk ilusi infantil. Jika seorang anak merasa ketakutan, maka wajar jika ia mengadu pada ayahnya. Namun seorang dewasa tidak pantas jika ia ketakutan, mengadu pada apa yang ia anggap sebagai ayah, yaitu Tuhan. Seorang dewasa sudah sepantasnya untuk menghadapi setiap persoalan sendirian tanpa mengadu. Ia yang masih mengadu, berarti masih kekanak-kanakkan. 

e. Jean Paul Sartre 
Jean Paul Sartre adalah filsuf Prancis beraliran eksistensialisme. Secara umum, eksistensialisme mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Apa arti pernyataan tersebut? Artinya, manusia eksis terlebih dahulu, baru ia merumuskan apa makna dari kehidupannya. Apa yang unik dari pemikiran semacam itu? Tentu saja unik jika dibandingkan dengan konsep manusia menurut agama pada umumnya. Dalam perspektif agama, esensi manusia sudah dirumuskan sebelum kelahirannya. Misalnya, dalam Islam, tujuan manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Para filsus eksistensialis menolak dengan keras konsep semacam itu. Sartre misalnya, mengatakan bahwa manusia ada sebagai causa prima. Ia hadir begitu saja tanpa tedeng aling-aling. Ia muncul seperti sebuah keterlemparan. Perjalanan hidupnya ke depan kemudian menentukan siapa dirinya, apa makna kelahirannya, dan apa sesungguhnya kehidupan ini. Sartre menyuarakan kebebasan manusia dalam segala aspek. Saking bebasnya, Sartre menyebut manusia sebagai makhluk yang dikutuk untuk bebas. Atas dasar itu, Sartre berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin ada dan tidak boleh ada. Tidak mungkin ada karena kata Sartre, jika Tuhan ada, maka manusia pasti tidak bebas. Tapi kenyataannya, lanjutnya, manusia adalah makhluk yang bebas, maka itu dengan sendirinya Tuhan tidak mungkin ada. Lantas, Tuhan pun tidak boleh ada. Karena kalau dia ada, kata Sartre, maka manusia akan kehilangan kebebasannya. 

3. Menjadi Ateis = Menjadi Humanis?
Kita bisa saja setuju bahwa soal ada atau tidaknya Tuhan adalah di luar batas epistemologi manusia. Ia bisa saja diadakan untuk mempermudah manusia menjelaskan berbagai hal terkait causa prima, atau ia bisa saja ditiadakan dan hidup ini akan terasa baik-baik saja. Namun sudah jelas bagi para filsuf yang pemikirannya sudah dijelaskan di atas, meniadakan Tuhan harus didasari oleh kebaikan bagi umat manusia. Menjadi seorang ateis adalah pilihan yang tidak mudah. Kita harus menyingkirkan dengan tegas sebuah konsep yang barangkali tertanam secara a priori dalam diri manusia. Upaya penyingkiran tersebut adalah sulit, bahkan bagi seorang Sartre sekalipun. Ia mengumpamakan bahwa menjadi ateis adalah seperti menaiki kereta tanpa karcis. “Saya berupaya menghindar dari kondektur sebisa mungkin, tapi sebenarnya di ujung perjalanan tidak ada seorangpun yang menanti saya di stasiun,” ujarnya. 
Menjadi ateis berarti menolak segala moralitas yang sudah dibebankan padanya melalui ajaran agama-agama. Seorang ateis harus merumuskan sendiri kebaikan demi kebaikan berdasarkan pengalaman, kenyataan masyarakat, hingga suara hati. Selain itu, bagi seorang ateis, ketiadaan Tuhan menjadikan hidup ini absurd dan bergerak menuju kekosongan belaka. Bisa jadi untuk menutupi perasaan gelisah akan kematian tersebut, seorang ateis tidak menggantungkan hidup pada kehidupan nanti, melainkan berusaha berbuat sebaik-baiknya di kehidupan sekarang. Ateisme, dengan segala konsekuensi kekosongan batin yang dihasilkannya, tetap berfungsi melahirkan suatu sikap moral yang matang dan penuh kesadaran. 
Selain itu, ateisme tidak berarti menolak segala bentuk spiritualitas. Ateisme bisa jadi hanya sebatas mengritik konsep religiusitas serta Tuhan yang bersifat personal. Tapi tidak bisa tidak bahwa seseorang bisa mempunyai perasaan akan sesuatu yang agung, yang lebih besar dari dirinya -meski para ateis tidak menamai sesuatu itu dengan konsep-konsep yang sudah ada sebelumnya-. Sikap penerimaan akan sesuatu yang spiritual tersebut justru menciptakan renungan-renungan pribadi yang amat reflektif. Kita harus ingat bagaimana orang-orang besar yang identik dengan bidang keagamaan seperti Muhammad, Yesus, Buddha, ataupun Konfusius, pada mulanya adalah orang yang jarang sekali membicarakan Tuhan. Mereka mendapat sejumlah pencerahan setelah mula-mula mempertahankan sikap keragu-raguan akan sesuatu. Barangkali sebelum pemikiran-pemikiran segar dan progresif mereka diinstitusikan menjadi agama, orang-orang tersebut berjuang mencari kebenaran dalam kondisi gelisah dan penuh kekosongan batin. Pada titik ini, ateisme bisa menjadi suatu fondasi terkuat untuk menemukan spiritualitas yang sejati.
Continue reading

Wednesday, May 17, 2017

LayarKita: Berlayar Mencerdaskan Masyarakat

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Meski ada beberapa komunitas dan tempat yang menggelar bioskop alternatif, namun nama LayarKita termasuk yang paling konsisten di Bandung. Sejak tahun 2011, komunitas yang dikoordinatori oleh Tobing Jr. tersebut rutin menggelar bioskop alternatif dengan cara gerilya. Maksudnya, mereka aktif mendatangi tempat-tempat untuk diajak kerjasama dalam hal pemutaran film. Contohnya, saat ini LayarKita aktif bergerilya di Pusat Kebudayaan Prancis (IFI – Bandung) setiap hari Senin dan Museum Asia Afrika setiap hari Selasa. Film-film yang diputar oleh LayarKita sangatlah beragam, dari mulai Africa United (2010), Crimes and Misdemeanors (1989), High Noon (1952), Julius Caesar (1953), hingga yang sudah sangat lama seperti Battleship Potemkin (1925) dan A Man with a Movie Camera (1928). Meski demikian, film yang diputar sebenarnya tidak selalu punya karakter “anti-umum”. Ada juga film-film yang mungkin juga pernah populer dan diputar di gedung bioskop, seperti 127 Days (2010) atau Lars and The Real Girl (2007). Namun tetap, film-film tersebut, meski populer, di akhir pemutaran selalu diadakan diskusi. Sehingga bisa jadi meski di permukaannya tampak seperti film hiburan, namun ternyata ada aspek filosofis yang bisa diperoleh oleh penonton ketika menyaksikannya di LayarKita (berbeda jika menyaksikannya di gedung bioskop). 

Awal mula didirikannya LayarKita, adalah rasa marah. “Kami marah pada gedung bioskop dan televisi, yang sudah kian mengurangi tayangan berkualitas demi kepentingan pasar,” kata Tobing Jr. Tapi ia sadar, bahwa tidak mungkin menyuruh gedung bioskop dan stasiun televisi untuk menghentikan tayangan-tayangan yang tidak bermutu. Atas dasar itulah, Tobing Jr. mendirikan komunitas LayarKita sebagai bentuk tayangan alternatif bagi penyuka film di Bandung. Jika menyoal koleksi film dan bobot diskusi, agaknya LayarKita tidak seberapa berbeda juga dengan komunitas penyelenggara bioskop alternatif lain di Bandung. Namun yang menjadi nilai lebih bagi mereka adalah konsistensinya. “Jika ibarat pelari, kami bukanlah seorang sprinter atau pelari cepat. Kami lebih senang dikatakan pelari marathon. Lebih baik jika kami lari pelan tapi bertahan lama, daripada lari cepat tapi setelah itu kehabisan energi,” ujar Tobing Jr. menganalogikan pergerakan LayarKita di dunia bioskop alternatif. 

Dalam pengamatan penulis, memang jumlah penonton yang hadir untuk menonton film di LayarKita tidak stabil. Umumnya malah yang hadir hanya puluhan atau bahkan belasan –pernah hingga ratusan, untuk film tertentu-. Padahal, untuk menonton bioskop alternatif ini, LayarKita sama sekali tidak memungut bayaran alias gratis. Apakah hal demikian menyurutkan semangat LayarKita untuk berhenti memutar film? Tobing Jr. mengakui, bahwa pada periode awal-awal LayarKita berkegiatan, selalu ada rasa pesimis tentang apakah kegiatan ini betul-betul punya dampak atau tidak. Namun lama kelamaan, ia mengibaratkan gerakan ini harus seperti rutinitas kantoran, yang suka tidak suka, harus dijalani. “Pada akhirnya,” kata Tobing, “Kuantitas tidak selalu menjadi hal yang utama. Yang terpenting adalah kualitas penonton yang hadir, yang betul-betul ingin menonton dan berdiskusi.”

Dengan keyakinan yang sedemikian rupa, LayarKita masih tegak berdiri hingga tahunnya yang keenam. Dapat dikatakan, jarang sekali mendengar mereka absen pemutaran film setiap minggunya, kecuali jika hari Senin atau Selasa jatuh di hari libur nasional. Hampir setiap edisinya juga, mereka berusaha menghadirkan narasumber untuk memberi pandangannya dalam diskusi, seperti Ronny P. Tjandra, Ismail Reza, Zaky Yamani, hingga Dien Fakhri Iqbal Marpaung. Di edisi tertentu, ketika pemutaran film Sound of Music (1965), LayarKita juga menghadirkan violinis Ammy Kurniawan untuk memainkan beberapa soundtrack dari film musikal legendaris tersebut. Pernah juga, jika memungkinkan untuk mengundang sutradaranya, maka LayarKita akan mengundangnya, seperti misalnya film Sunya (2016) yang diputar perdana di IFI – Bandung dengan menghadirkan sutradaranya, Harry Dagoe. 

Memang keberadaan LayarKita belum tentu akan bisa menggoyang eksistensi tayangan di televisi ataupun di gedung bioskop umum –setidaknya dalam waktu dekat-. Namun perannya sebagai bioskop alternatif harus senantiasa juga dikawal oleh masyarakat kita, agar kota selalu mempunyai opsi bagi masyarakat yang ingin memenuhi “gizi” batinnya. Biarlah mereka yang ingin hiburan bisa menonton televisi atau pergi ke gedung bioskop, tapi bagi mereka yang menginginkan film yang menantang imajinasi dan nalarnya, pergilah ke bioskop alternatif. Mungkin suatu hari nanti, ketika masyarakat sudah kian teredukasi oleh film-film dari bioskop alternatif, gedung bioskop umum tidak akan lagi alergi dengan film-film yang punya nilai edukasi, refleksi, dan perubahan sosial. Film yang diputar tidak lagi yang selalu menghamba pada pasar, melainkan juga menghamba pada nilai-nilai kemanusiaan. Mendiskusikan film tidak lagi sesuatu yang dianggap tabu dan serius, tapi menjadi budaya keseharian setiap kita selesai mengapresiasinya. Dengan demikian, berangkat dari sebidang layar, lambat laun mungkin akan tercipta masyarakat yang lebih cerdas.


Continue reading

Tuesday, May 16, 2017

Sinerupa Pirous: Pelopor Bioskop Alternatif di Bandung

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Sejumlah penggemar film tentu tahu nama Joko Anwar. Ia adalah sutradara yang dikenal dengan beberapa filmnya seperti Janji Joni (2005), Kala (2007), dan Pintu Terlarang (2009). Siapa yang sangka, bahwa di masa mudanya, sebelum ia mulai terjun ke dunia film, ia adalah cinephile yang rajin menghadiri bioskop alternatif. Bioskop alternatif yang dihadirinya adalah ruang yang mungkin menjadi pelopor bioskop alternatif di Bandung, yaitu Sinerupa Pirous. 

Pertemuan antara Seniman Rupa dengan Kolektor Film 
Keberadaan bioskop alternatif di Bandung tidak bisa lepas dari nama Ronny P. Tjandra. Ia adalah aktor sekaligus kolektor film yang bertanggungjawab pada berdirinya sejumlah komunitas penyelenggara bioskop alternatif di Kota Bandung. Ronny tertarik membuat komunitas penyelenggara bioskop alternatif setelah menyaksikan film berjudul Farewell My Concubine (1993) di Jepang pada awal tahun 1994. Film yang disutradarai oleh Chen Kaige dan memenangkan penghargaan Ballon D’Or di Cannes Film Festival tersebut membuka pandangan Ronny tentang dunia film yang selama ini tidak diketahuinya. “Bahwa film,” kata Ronny, “Tidak semata-mata mengandung aspek hiburan. Ada juga film yang punya aspek artistik yang kuat serta sisi filosofis yang mendalam.” Sejak menyaksikan film tersebut, Ronny “banting setir” dalam hal mengoleksi film. Ia ingin agar film-film yang menghiasi raknya, adalah film-film setipe dengan Farewell My Concubine tersebut: artistik dan filosofis –tapi intinya, tidak “mainstream”-. Di Bandung, ia berburu film ke banyak tempat dan akhirnya mempunyai sejumlah koleksi yang barangkali tidak umum dipunyai cinephile pada masa itu. Namun Ronny tidak puas jika hanya mengoleksinya secara pribadi. Ia juga berkeinginan agar ada orang-orang yang bisa punya akses terhadap film tesebut. Jadilah di Fakultas Arsitektur UNPAR, Ronny mendirikan satu komunitas penyelenggara bioskop alternatif bernama Sinemars; di Fakultas Filsafat UNPAR dengan nama Sinesofia, dan di rumah kediaman seniman rupa A.D. Pirous bernama Sinerupa Pirous. 

A.D. Pirous, seniman rupa yang lekat dengan seni kaligrafi kontemporer tersebut, pada saat pertemuannya dengan Ronny, baru saja selesai menjalani operasi. Atas saran dokter, A.D. Pirous tidak diperkenankan untuk terlalu banyak beraktivitas ke luar rumah. Meski demikian, energi kreatifnya tidak memadam oleh saran tersebut. Ia memutuskan untuk lebih banyak berkegiatan di rumah. Sangat beruntung, A.D. Pirous bertemu dengan Ronny yang juga sedang mencari tempat pemutaran baru untuk koleksi-koleksi filmnya –setelah lebh dulu aktif di Sinemars, Fakultas Arsitektur UNPAR-. Pada masa itu, penggunaan rumah pribadi untuk pemutaran film masih sangat langka. Bagaimana teknis pemutaran filmnya? Waktu itu, film belum mudah didapat seperti sekarang: tinggal mengunduh dari internet atau membeli bajakan di toko DVD. Jikapun ingin film bagus sekaligus langka, maka harus dalam format laser disc. Selain itu, proyektor dan screen masih belum merupakan barang yang terjangkau seperti sekarang ini, sehingga pemutaran dilakukan dengan pemutar laser disc dan tentu saja, televisi –hal yang hampir pasti tidak populer dilakukan sekarang ini-. 

“A.D. Pirous,” kata Ronny, mengenang, “sejak tahun 1994 memang membuka studio galeri pribadinya untuk publik dengan nama Serambi Pirous. Orang bisa datang untuk melihat karya-karyanya.” Pemilihan Serambi Pirous untuk menjadi tempat pemutaran film, menurut Ronny, didasari oleh sejumlah pertimbangan tertentu. “Pertama, karena itu di rumah pribadi sehingga publik lebih luas bisa hadir (tanpa ada afiliasi tertentu). Kedua, A.D. Pirous setuju jika pemutaran film dilakukan secara rutin (tidak insidental sesekali saja),” ujar Ronny. Ada sejumlah cerita menarik yang dikenang Ronny terkait Sinerupa Pirous ini. Misalnya, A.D. Pirous kerap memberi sentuhan seni rupa pada sampul laser disc yang sudah cacat, “Jadinya kita bisa lihat karya kecil A.D. Pirous di beberapa sampul laser disc.” Selain itu, ia mendengar pengakuan dari A.D. Pirous bahwa sejak menggelar kegiatan pemutaran film di rumahnya, ia menjadi rajin untuk pergi berburu film ke tempat-tempat yang jarang dikunjunginya di Bandung, seperti ke Bandung bagian Barat, Timur, atau Selatan –selama ini, diakuinya, bahwa wilayah aktivitasnya terutama dominan di wilayah Utara-. 

Pada saat pemutaran, yang hadir sangat beragam, mulai dari sutradara muda, orang-orang seni rupa, penikmat film, hingga orang awam yang tadinya tidak tahu menahu tentang film-film “aneh”. Setelah sama-sama menonton, di Sinerupa Pirous diadakan diskusi kecil. Ronny dan A.D. Pirous biasanya menjadi moderator dan memancing para audiens untuk menyampaikan pandangan-pandangannya tentang film. “Karena yang datang berasal dari berbagai disiplin dan latar belakang, suasana diskusi menjadi hidup dan menarik. Itulah mengapa sebaiknya dalam sebuah penyelenggaraan bioskop alternatif, berdiskusi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang wajib dilakukan,” ujar Ronny. Salah satu orang yang merasakan manfaat dari pemutaran dan diskusi dari Sinerupa Pirous adalah Joko Anwar, yang kemudian ia berkembang menjadi salah satu sutradara terdepan di Tanah Air. 

Barangkali Sinerupa Pirous adalah pelopor konsep pemutaran film di Bandung yang ibarat pelari marathon: Diputar setiap minggu, ada atau tidak ada penonton, harus tetap jalan –semangat tersebut diadopsi beberapa komunitas penggiat bioskop alternatif di kemudian hari-. Konsepnya yang seperti pelari marathon memang tidak bisa tidak, membutuhkan stamina yang tinggi. Stamina tersebut semakin lama semakin berkurang hingga akhirnya Sinerupa Pirous tidak aktif lagi sekitar tahun 2002. Meski usianya relatif singkat (sekitar empat tahun), namun peran forum tersebut sangat penting bagi perkembangan bioskop alternatif di Bandung. Format pemutaran film dengan gaya marathon dan dilanjutkan dengan diskusi pasca pemutaran, menjadi format “standar” bagi sejumlah komunitas penggiat bioskop alternatif di Bandung. Ronny sendiri tidak berhenti hingga disitu, ia kemudian juga menggelar kegiatan yang sama di Fakultas Filsafat UNPAR dengan nama Sinesofia. Ia juga yang berkontribusi pada komunitas LayarKita dengan berbagi sejumlah film koleksinya untuk diputar.



Continue reading

Monday, May 15, 2017

Intelektual Muda Prancis Membuat Bioskop Alternatif Jadi Eksis

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Meski sulit untuk melacak kapan dan dimana awal mula bioskop alternatif diadakan, namun agaknya satu masa di Prancis pasca Perang Dunia tidak bisa begitu saja dikesampingkan. Pada periode sekitar tahun 1950-an tersebut, Prancis, yang baru saja lepas dari berbagai pendudukan, mendapat limpahan film dari negara-negara yang pernah berdiam di negeri mereka (seperti Italia dan Jerman). Ditambah lagi, gairah intelektual muda Prancis untuk berbicara tentang film, saat itu, begitu menggebu-gebu. Tercatat ada dua komunitas penyelenggara bioskop alternatif yang eksis pada masa itu, yaitu Objectif 49 dan Cine-Club du Quartier Latin. Mereka memutar film-film dari sutradara Sergei Eisenstein, Anthony Mann, D.W. Griffith, Orson Welles, Lumiere Bersaudara, hingga Alfred Hitchcock. Sudah sejak masa itu pula, bioskop alternatif lekat dengan diskusi pasca pemutaran. Mereka yang hadir ke dua komunitas itu adalah orang-orang cinephile (penggila film) yang identik dengan wawasan luas di wilayah sastra dan filsafat, sehingga baik Objectif 49 maupun Cine-Club du Quartier Latin, keduanya dikenal sebagai tempat lahirnya pikiran-pikiran yang pada perjalanannya mampu mengubah peta perfilman dunia. 

Berangkat dari pemutaran film-film berkualitas dan diskusi yang intensif, kedua komunitas tersebut kemudian bersinergi menghasilkan satu majalah kritik film yang berjudul Revue de Cinema –yang kemudian bermetamorfosis menjadi majalah Cahiers du Cinema yang masih eksis hingga hari ini-. Setiap tahunnya dari sejak tahun 1950 hingga sekarang, Cahiers du Cinema rutin mengeluarkan daftar sepuluh film terbaik berdasarkan penilaian para kritikus. Majalah tersebut tidak hanya diisi oleh review film, melainkan juga hasil pemikiran mendalam para penulis seperti Alexandre Astruc dan Andre Bazin tentang dunia sinema. Selain itu lagi, komunitas bioskop alternatif di Prancis tersebut juga melahirkan sutradara dan kritikus film legendaris seperti Jean Luc Godard, Francis Truffaut, Jacques Rivette, dan Claude Chabrol. 

French New Wave 
Sejauh mana bioskop alternatif di Prancis pada masa itu dapat merubah peta perfilman dunia? Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi sumbangsihnya yang tak bisa diabaikan, yaitu lahirnya gerakan French new wave. French new wave berangkat dari tesis bahwa posisi film seharusnya tidak berada di bawah seni-seni yang lain seperti sastra ataupun rupa. Sutradara seharusnya diberi semacam kewenangan penuh untuk melakukan eksperimentasi pada filmnya, sebagaimana seorang sastrawan pada karya tulisnya, dan pelukis pada kanvasnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, para sutradara seperti Godard, Truffaut, Rivette, dan Chabrol, membuat filmnya dengan gaya yang sangat eksperimental, seperti teknik sinematografi yang tidak lazim, jalan cerita yang cenderung absurd, dan peran aktor yang berubah-ubah di dalam satu film –contoh filmnya misalnya Breathless (1960), Shoot The Piano Player (1960), Le Mépris (1963), atau Céline and Julie Go Boating (1974). Film dengan gaya french new wave tentu saja tidak mudah dimengerti untuk penonton yang terbiasa menyaksikan film dengan narasi yang umum. Tapi jangan abaikan peran gaya tersebut bagi dunia sinema. Gaya-gayanya kemudian diadopsi oleh banyak sutradara besar yang kita mungkin bisa kenali sekarang ini, seperti Stanley Kubrick dan David Lynch. Sekali lagi, berawal dari semangat independen bioskop alternatif, dapat lahir berbagai pemikiran-pemikiran penting yang mungkin saja menjadi dasar dari berbagai film umum yang sekarang kita lihat di gedung bioskop. 

Perkembangan Berikutnya 
Keberhasilan French new wave mendorong perkembangan bioskop alternatif di seluruh dunia seperti Amerika Serikat, Jerman, dan wilayah-wilayah Eropa Timur. Selain itu pula, kemudian lahir sutradara-sutradara hebat yang dihasilkan dari bioskop alternatif. Mereka adalah sutradara yang sekaligus juga seorang cinephile –faktanya, tidak semua sutradara ternyata adalah juga cinephile- seperti Quentin Tarantino, Jim Jarmusch, Wes Anderson, hingga Aki Kaurismaki. Tanpa pernah benar-benar belajar ilmu perfilman pada pendidikan formal, mereka bisa menjadi sutradara karena banyak menonton film-film lain. Mereka diuntungkan oleh berbagai forum yang pernah didatanginya ketika memutar pelbagai film non-umum. Artinya, bukan tidak mungkin –dan sudah ada buktinya-, bahwa bioskop alternatif tidak hanya melahirkan penonton-penonton yang cerdas, tapi juga berpotensi menjadi kawah candradimuka bagi kritikus film yang bagus, dan sutradara yang berkualitas. Pada titik itu pula, para penggiat komunitas bioskop alternatif tak perlu patah arang jika apa yang dilakukannya tidak menemui hasil instan. Sejarah sudah membuktikan: Bermula dari perkumpulan kecil di Prancis, wajah dunia sinema berubah, pun wajah peradaban ikut berubah. 

Sumber Pustaka:
Marie, Michel. The French New Wave : An Artistic School. Trans. Richard Neupert. New York: John Wiley & Sons, Incorporated, 2002.
Thompson, Kristin. Bordwell, David. Film History: An Introduction. McGraw Hill. 2010





Continue reading

Sunday, May 14, 2017

Bioskop Alternatif Berkembang Sebagai Ruang Diskusi

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Dari sekian banyak jenis hiburan yang khas di perkotaan, tentu gedung bioskop menjadi salah satu pilihan yang tidak lekang oleh waktu. Di gedung bioskop, kita bisa menyaksikan film dengan suasana yang dibuat sedemikian rupa sehingga apa yang ditayangkan menjadi terasa lebih megah dan kadang terasa lebih nyata –layar besar, lampu digelapkan, tempat duduk nyaman, dan sound system yang mumpuni-. Hal tersebut tentu menjadi sensasi tersendiri, dibanding jika kita menonton film melalui televisi. Selain itu juga, hal yang menjadi pembeda antara menonton film lewat televisi dan di gedung bioskop, adalah ini: Film yang diputar di bioskop, adalah film-film yang relatif baru dirilis; sedangkan televisi, biasanya lama kemudian setelah film tersebut diputar di bioskop. 

Namun tidak sedikit masyarakat awam yang menganggap bahwa film yang diputar di gedung bioskop adalah film-film “terbaik” pada masanya. Memang pendapat tersebut tidak keliru, tapi bisa sedikit diperdebatkan. Kenyataannya, banyak film-film berkualitas yang tidak diputar di gedung bioskop, karena berbagai pertimbangan, misalnya: durasi terlalu panjang, berasal dari negara yang tidak terlalu populer dengan filmnya (misalnya, negara-negara di Afrika atau Skandinavia), atau topiknya terlalu “berat” sehingga khawatir tidak laku dijual. Artinya, pertimbangan pasar tentu menjadi hal yang utama bagi gedung bioskop yang notabene didirikan untuk meraup keuntungan. 

Lantas, apakah fungsi film adalah melulu harus memenuhi fungsi hiburan? Tentu saja, sebagaimana umumnya sebuah seni, unsur rekreasi tentu harus menjadi salah satu bagiannya. Tapi film, pada dasarnya, juga ada fungsi lain seperti edukasi, refleksi, hingga ke perubahan sosial. Adakah kita dapat temui film-film seperti itu? Ada, jika kita bicara bioskop yang melepaskan dirinya dari definisi-definisi umum tentang gedung bioskop yang dibuat semata-mata untuk kepentingan bisnis. Kita sebut saja bioskop tersebut dengan sebutan: bioskop alternatif. 

Geliat Bioskop Alternatif 
Contoh komunitas yang rajin mengelola bioskop alternatif di Bandung adalah Layarkita. Berdiri sejak tahun 2011, komunitas tersebut aktif mengadakan pemutaran film setiap hari Senin di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (IFI – Bandung). Film-film yang diputar sangat beragam dan tidak akan bisa kita temukan di gedung bioskop umum seperti Blitz Megaplex atau Cinema 21. Misalnya, ada film-film yang berasal dari Afrika, Eropa, hingga Timur Tengah –yang umumnya sulit untuk kita temukan di gedung bioskop yang umum-. Tidak hanya itu, film-film yang diputar juga ada yang berasal dari tahun-tahun yang sudah lampau, seperti Battleship Potemkin (1925), Seven Samurai (1954), Twelve Angry Men (1957), Bande a Part (1964), hingga 2001: A Space Odyssey (1968).

Penyelenggara bioskop alternatif di Bandung tidak hanya LayarKita. Ada juga Sinesofia, Kineruku, Selasar Sunaryo, Klab Jazz Sinematheque, Garasi10, hingga yang pernah aktif di masa-masa awal, yaitu Sinerupa Pirous (sekitar tahun 1998 hingga 2002). Selain itu, ada juga Warung Film (yang merupakan divisi di bawah komunitas Ruang Film Bandung), yang berkegiatan di Bale Motekar dan bekerjasama dengan UNPAD serta Digital Innovation Lounge (DILo). Mereka mengurus satu ruang yang memang dibuat sedemikian rupa agar seperti ruang bioskop (meski berukuran lebih kecil). Warung Film menawarkan pemutaran film secara reguler hampir setiap hari (kecuali hari Senin) dengan film-film yang utamanya mempunyai semangat indie. Artinya, film-film yang diputar, adalah film yang belum menembus layar lebar, atau sudah turun layar tapi belum sempat diapresiasi oleh orang banyak. Intinya, ada semangat untuk mendukung karya-karya sutradara lokal terutama mereka yang termasuk ke dalam generasi muda. Di sisi lain, pemerintah pun turut memberi perhatian bagi keberadaan bioskop alternatif di Kota Bandung. Misalnya, dengan memberikan fasilitas berupa Taman Film di wilayah Balubur. Meski demikian, Taman Film ini sepertinya masih belum dapat menjadi tempat pemutaran film yang menjadi pilihan utama para cinephile. Selain karena belum adanya jadwal pemutaran film secara reguler, juga secara pengelolaan masih belum jelas. Untuk hal-hal terkait penyelenggaraan screening film yang sifatnya insidentil saja, dibutuhkan birokrasi yang agak berbelit-belit. Meski demikian, Taman Film tetap dapat menjadi harapan para cinephile untuk ke depannya menjadi bioskop alternatif yang berkualitas, terutama dari segi tata suara dan sensasi menonton film di ruang publik yang relatif luas. 

Namun terlepas dari keberadaan Bale Motekar dan Taman Film yang cenderung sudah terfasilitasi secara baik, pada dasarnya bioskop alternatif dapat terselenggara selama ada proyektor, layar (tidak harus, bisa ditembakkan ke tembok), speaker aktif, pemutar (di zaman sekarang, bisa menggunakan laptop), dan tentu saja, material filmnya. Selain itu, ada hal yang patut dipandang sebagai sebuah kelebihan dari bioskop alternatif -selain film-filmnya yang “aneh” dan indie- yaitu kenyataan bahwa bioskop alternatif sering berkembang menjadi sebuah forum diskusi. Hal tersebut tentu didorong oleh beberapa faktor, misalnya: Jumlah orang yang tidak sebanyak bioskop umum, sehingga secara kuantitas menjadi cukup kondusif untuk melakukan diskusi dan dengar pendapat; tempat pemutaran biasanya merupakan tempat yang juga sering digunakan untuk aktivitas lain, seperti rumah tinggal, kafe, ataupun perpustakaan, sehingga suasananya lebih cair daripada gedung bioskop yang fungsinya relatif tunggal hanya untuk menonton film; serta material filmnya memang menarik untuk menjadi bahan diskusi, karena umumnya bisa ditafsirkan dalam berbagai sudut pandang –tidak seperti film yang punya fungsi hiburan semata, yang memang dibuat agar mudah dimengerti-. Intinya, di bioskop alternatif, kebutuhan para cinephile (penggila film) mungkin malah lebih terpuaskan daripada di gedung bioskop umum. 

Bioskop alternatif bisa jadi semacam ikhtiar jangka panjang. Di tengah terpaan media dewasa ini yang kadang sudah tidak peduli lagi aspek edukasi, refleksi, dan gerakan sosial (karena sudah terlalu menghamba pada pasar), bioskop alternatif terus berjuang menghadirkan tontonan yang meski jauh dari kepentingan pasar, tapi punya nilai-nilai yang bisa mencerdaskan penonton kita. Bioskop alternatif ingin pelan-pelan membentuk satu kesadaran dalam masyarakat, bahwa film tidak hanya seperti petasan: Seru sesaat setelah itu hampa. Film tertentu bisa dibahas dengan sangat tidak terbatas, seperti contohnya: gaya sinematografinya (Truffaut dan Godard dengan French New Wave-nya atau Fellini dan De Sica dengan Neo-Realisme Italia-nya), aspek historis dan sosial politik ketika film itu dibuat (film Birth of A Nation dan perang sipil di Amerika, atau The Godfather dan perubahan kepemimpinan di Kuba), psikologi sang sutradara (Alfred Hitchcock yang film-filmnya selalu kental dengan nuansa psikoanalisis) dan masih banyak hal lainnya. 

Memang, sekilas, seolah-olah film menjadi hal yang kemudian dibahas secara bertele-tele dan bisa jadi berlebihan. Namun setidaknya, dengan hadir ke bioskop alternatif, artinya ada bagian dari masyarakat kita yang mau mencoba untuk duduk-untuk-mengerti, berdiskusi, dan tidak begitu saja terbawa oleh arus pasar yang belum tentu benar. Jangan sampai kita menjadi seperti yang dikatakan sutradara Garin Nugroho, yang ucapan tersebut penulis dengarkan dalam sebuah forum filsafat pada sekitar tahun 2012, bahwa, “Kelemahan masyarakat kita adalah selalu ingin menonton film yang langsung bisa dimengerti. Jika ia tidak mengerti, maka ia akan menyimpulkan bahwa filmnya tidak bagus.”


Continue reading

Saturday, May 13, 2017

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya. 
Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri. 

1. Kerancuan dalam Berbahasa 

1.1. Ekuivokasi (Equivocation) 
Ekuivokasi adalah jenis kerancuan dari sebuah kata yang bersifat ambigu, terutama ketika ditempatkan dalam konteks yang “tidak seharusnya”. Misalnya: 
1.1.1. “Apakah bentuk tertinggi dari kehidupan binatang?” “Jerapah.” 
1.1.2. “Kata ustad, saya harus punya keyakinan agar bisa bahagia. Memang iya, saya punya keyakinan bahwa putri saya akan masuk sekolah favorit tahun ini.” 
1.1.3. “Saya makan hati karena kasus ini.” “Oh, lebih enak mana dengan makan ampela?” 

1.2. Amfiboli (Amphiboly
Amfiboli adalah jenis kerancuan yang bukan disebabkan oleh kata atau kalimat, melainkan karena konstruksi gramatikal. Misalnya: 
1.2.1. Raja Croesus dari kerajaan Lydia bermaksud hendak menyerang kerajaan Persia. Sebagai orang bijak, ia tidak akan memulai berperang kecuali jika ia yakin akan menang. Karena itu ia berkonsultasi ke Delphi. Para pendeta Delphi menjawab dengan pernyataan: “Jika Croesus berperang dengan Persia maka ia akan menyebabkan hancurnya sebuah kerajaan.” Dengan jawaban itu ia menyerang Persia, dan dalam waktu singkat ia dikalahkan oleh Persia. Setelah itu, menulis ke Delphi bahwa ia telah mengikuti nasihat yang salah. Para pendeta Delphi menjawab: “Ramalan kami tepat. Anda telah menyebabkan sebuah kerajaan hancur, yaitu kerajaan Anda.” 
1.2.2. “Aristotle taught his students walking.” (Kalimat ini harus dalam Bahasa Inggris agar relevan. Pernyataan di atas membuat orang berpikir apakah artinya Aristoteles mengajar sambil berjalan, atau mengajari murid-muridnya berjalan?) 
1.2.3. Tanya (teka-teki): “Kunaon tukang baso nakolan mangkok?” Jawaban: “Ku sendok” (Kalimat ini harus dalam Bahasa Sunda agar relevan. Kalimat “kunaon” berarti “mengapa”, tapi ada juga “ku naon” yang artinya “dengan apa”. Jawaban “ku sendok” atau “dengan sendok” menjawab “ku naon” dan bukan “kunaon”. Jadi, kalimat tanya alternatif yang lengkap untuk teka-teki di atas adalah, “Dengan apa tukang baso memukul mangkok?” Jawabannya tepat, “Dengan sendok.”) 

1.3. Aksentuasi (Accent) 
Aksentuasi adalah kerancuan yang terjadi karena perbedaan penekanan pada bagian tertentu dalam sebuah kalimat. Penekanan ini dapat berupa tanda baca, dapat juga berupa nada bicara (dalam konteks percakapan langsung). Misalnya: 
1.3.1. “Aristoteles bicara fisika? Dia kan ahli logika yang bagus.” (Penekanan di kata “ahli logika”, menunjukkan bahwa Aristoteles tidak bisa bicara fisika) 
1.3.2. “Kita tidak harus memberitahu kebenaran secara menyeluruh, kan?” (Berarti boleh kebenaran secara parsial) 
1.3.3. “Kita tidak harus memberitahu kebenaran secara menyeluruh, kan?” (Berarti boleh juga memberitahu mitos dan dongeng-dongeng yang tidak benar) 

1.4. Hiperbola (Hyperbole
Hiperbola adalah kerancuan yang terjadi karena melebih-lebihkan kesimpulan daripada premisnya. Misalnya: 
1.4.1. “Kamu ingin aku membersihkan kamar? Jadi kamu ingin aku jadi budakmu?” 
1.4.2. “Kamu tidak suka pornografi? Jadi kamu sedang melawan kebebasan berekspresi?” 
1.4.3. “Kamu tidak bisa keluar rumah semalaman. Kamu baru enam belas tahun!” “Oh, hidupku hancur berantakan. Aku adalah tahanan di rumahku sendiri!” 

1.5. “Straw Man 
Straw Man Fallacy adalah kerancuan yang terjadi ketika kita melakukan counter terhadap argumen seseorang, tanpa kita sendiri paham apa yang diargumenkan (bisa jadi kita memahaminya secara setengah-setengah). Dalam tradisi Abad Pertengahan, Straw Man Fallacy dapat dihindari dengan mula-mula mengulangi argumen lawan, untuk memastikan bahwa kita benar-benar mengerti. Contoh Straw Man Fallacy
1.5.1. “Baik, jika menurut Darwin bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera, maka coba tengok di kebun binatang yang terdapat kera itu: Apakah mereka akan jadi manusia?” 
1.5.2. “Nietzsche dengan sombongnya selalu berkoar-koar tentang Tuhan telah mati. Sekarang saya tanya pada Nietzsche, kalau dia mati, dengan siapa ia akan berjumpa?” 
1.5.3. “Orang yang mengatakan bahwa bumi bulat lupa melihat fakta bahwa ia berjalan selalu lurus, tidak menggelinding.” 

2. Kerancuan Relevansi 

2.1. Argumentum ad Baculum 
Pernyataan yang rancu karena mendasarkan diri pada kekuatan atau ancaman penggunaan kekuatan sehingga sebuah kesimpulan menjadi disetujui (lebih karena didorong oleh rasa takut). Misalnya: 2.1.1. “Sebelum kamu menjawab menjawab pertanyaan saya, ingat dulu, siapa yang membayar gajimu.” 
2.1.2. “Alangkah lebih baiknya jika kita beribadah lebih banyak. Ingat, siksa neraka sangatlah pedih.” 2.1.3. “Pak satpam, tolong buka pintunya.” “Tapi, Pak, ini sudah lewat jam yang seharusnya. Gerbang ditutup jam dua belas malam.” “Hei, Pak, kamu tidak tahu saya ini siapa? Saya ini presiden!” 

2.2. Argumentum ad Hominem 
Pernyataan yang rancu karena lebih diarahkan pada pribadi orangnya daripada argumen yang dikemukakannya. Misalnya: 
2.2.1. “Jangan percaya kata-kata Ahok, karena dia pernah dipenjara.” 
2.2.2. “Psikolog itu tak sepantasnya menceramahi pasangan yang bermasalah. Punya pacar pun dia tidak.” 
2.2.3. “Kamu tahu darimana? Kamu kan cuma anak remaja.” 

2.3. Argumentum ad Ignorantiam 
Pernyataan yang rancu karena muncul dari ketidaktahuan atau sesuatu yang tidak terbukti benar. Misalnya: 
2.3.1. “Dia tidak bisa membuktikan bagaimana dia mendapatkan uang itu. Jadi sudah pasti dia itu mencurinya.” 
2.3.2. Seseorang yakin bahwa Tuhan itu ada, karena tidak ada yang pernah membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. 
2.3.3. “Aristoteles itu siapa? Saya tidak tahu, berarti dia itu tidak penting.” 

2.4. Argumentum ad Misericordiam 
Pernyataan yang rancu karena mengandung belas kasihan yang digugah sedemikian rupa agar sebuah kesimpulan menjadi disetujui. Artinya, seseorang setuju bukan karena logis, tapi lebih ke arah psikologis. Misalnya: 
2.4.1. “Pak, Bu, kiranya berkenan memberi produk ini, karena saya sedang terlilit hutang.” 
2.4.2. Seorang mahasiswa memohon pada dosennya untuk diberi nilai A karena ia sudah belajar dengan serius sepanjang malam sampai tidak tidur. 
2.4.3. “Pak Polisi, jangan tangkap saya: Anjing saya baru meninggal, ibu mertua saya baru datang, dan gaji saya bulan ini datang terlambat!” 

2.5. Argumentum ad Populum 
Pernyataan yang rancu karena kebenarannya didasari oleh pendapat orang banyak dan bukan karena argumen tersebut benar. Misalnya: 
2.5.1. Hakim akhirnya memutuskan bahwa Ahok bersalah oleh sebab tekanan umat muslim. 
2.5.2. “Tujuh puluh persen orang setuju bahwa sebaiknya hukuman mati diadakan. Berarti hukuman mati adalah sebenar-benarnya hukuman!” 
2.5.3. “Di Bandung ini, hampir semua orang suka dengan kepemimpinan Ridwan Kamil.” 

2.6. Argumentum ad Verecundiam 
Pernyataan yang rancu karena mendasarkan pembenaran dari dukungan atau pendapat pada kewibawaan orang terkenal yang sebenarnya tidak mempunyai kompetensi untuk menyatakan hal tersebut (tidak relevan). Argumentum ad Verecundiam juga seringkali mengarah pada pernyataan-pernyataan yang bersifat dogmatis sehingga tidak dapat dicek benar atau salahnya. Misalnya: 
2.6.1. “Menurut Raffi Ahmad, Karl Marx bukanlah seorang komunis.” 
2.6.2. “Tuhan benci para pembohong.” “Bagaimana kamu tahu apa yang Tuhan benci?” “Kitab suci mengatakan demikian.” 
2.6.3. “Menurut Carl Sagan, terdapat milyaran kehidupan ekstraterestrial di luar sana.” 

2.7. Argumentum ad Ignominiam 
Pernyataan yang rancu karena mendasarkan pembenaran dengan cara membuat lawan bicara merasa malu. Pernyataan diterima bukan karena masuk akal, tapi karena rasa malu itu tadi. Misalnya: 
2.7.1. “Kamu ingin jadi pengacara? Apa tidak takut disebut sebagai ‘pengangguran banyak acara’?” 2.7.2. “Masih percaya pada pahlawan? Di zaman sekarang? Kamu benar-benar kekanak-kanakan!” 2.7.3. “Mau jadi filsuf? Nanti mau hidup darimana?” 

3. Kerancuan Oversimplifikasi 

3.1. Dicto Simpliciter 
Dicto simpliciter berarti terlalu menganggap sesuatu itu mudah, sederhana, dan tak perlu dipikirkan matang-matang. Misalnya: 
3.1.1. Manusia adalah makhluk yang berpikir. Tentunya, seorang idiot pun dapat lulus pelajaran logika. 
3.1.2. “Saya tidak akan mengatakan musik grunge sebagai musik yang berkualitas. Karena bagaimana bisa, kebagusan diukur dari vokalis yang berteriak-teriak saja tanpa menyampaikan pesan yang jelas?” 
3.1.3. Kita bisa lihat, banyak rakyat sengsara oleh sebab sistem demokrasi. 

3.2. Komposisi (Composition
Komposisi berarti menyimpulkan apa yang berlaku bagi bagian-bagian, ternyata juga berlaku bagi keseluruhan. Misalnya: 
3.2.1. Tiap-tiap bagian dari sebuah mobil adalah ringan; karena itu mobil adalah benda ringan. 3.2.2. Jakarta punya banyak orang kaya dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Itu artinya, Jakarta adalah kota terkaya di Indonesia. 
3.2.3. Aktor-aktor dalam film ini adalah aktor hebat. Maka itu pastilah film ini adalah film yang hebat. 

3.3. Divisi (Division
Divisi berarti menyimpulkan bahwa apa yang bagi berlaku bagi keseluruhan ditarik kesimpulan bahwa hal yang sama juga berlaku bagi bagian-bagian (kebalikan dari komposisi). Contoh: 
3.3.1. Kalau minum sepuluh gelas anggur setiap selesai makan akan berbahaya bagi kesehatan, maka minum satu gelas anggur juga akan berbahaya bagi kesehatan. 
3.3.2. Sebuah mobil adalah berat; maka itu tiap bagian dari mobil adalah berat. 
3.3.3. Para muslim bermigrasi ke Prancis. Ahmed adalah muslim, berarti dia juga semestinya migrasi ke Prancis. 

3.4. Kerancuan Hitam Putih (The Black and White Fallacy) 
Kerancuan hitam putih merupakan pernyataan yang bersifat simplifikatif dengan menunjukkan, “Jika hal tersebut bukan ekstrem A, maka itu adalah non-ekstrem A.” Misalnya: 
3.4.1. “Kamu benci saya?” “Tidak.” “Wah, bagus, berarti kamu cinta sama saya!” 
3.4.2. “Mengapa kamu tidak sembahyang?” “Hari ini waktu saya agak sempit.” “Wah, kamu itu kafir!” 
3.4.3. “Mengapa kamu tidak suka musik metal?” “Entah, saya hanya tidak bisa menikmatinya.” “Wah, berarti kamu ini sukanya musik yang lembut-lembut, kan?” 

3.5. Mengutip Keluar Konteks (Quoting Out of Context) 
Mengutip keluar konteks biasanya menyebutkan satu kutipan yang sangat umum, yang menjadi justifikasi untuk berbagai pernyataan. Bisa juga, mengutip keluar konteks berarti mengambil suatu pernyataan yang kemudian digeneralisasi secara tidak akurat, seperti yang umumnya terjadi di berita-berita. Berbagai contoh mengutip keluar konteks: 
3.5.1. Menurut kitab suci, Tuhan adalah Maha Indah. Maka itu, kita harus menggusur pemukiman kumuh karena bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan. 
3.5.2. Ahok ceramah di Pulau Seribu dan mengatakan sesuatu tentang surat Al Maidah ayat 51. Esoknya, di media online tertentu muncul headline: “Ahok menistakan agama”. 
3.5.3. Menurut John F. Kennedy, “Jangan tanya apa yang negara sudah berikan kepadamu, tapi tanya apa yang sudah kamu berikan untuk negara.” Berdasarkan kutipan tersebut, maka kelas logika ini harus dibubarkan karena tidak memberikan kontribusi apapun untuk negara. 

3.6. Stereotyping 
Stereotyping adalah menyimpulkan sesuatu atau seseorang berdasarkan konstruksi sosial yang palsu dan rentan. Misalnya: 
3.6.1. “Wah, badanmu tinggi ya, berarti kamu itu pandai main basket!” 
3.6.2. “Orang Amerika? Banyak uang nih!” 
3.6.3. “Orang Padang ya? Pasti suka dagang!” 

4. Kerancuan Argumentasi 

4.1. Non Sequitur 
Non Sequitur artinya “tidak mengikuti” yang merujuk pada kesimpulan yang terlalu melompat dari premisnya. Misalnya: 
4.1.1. “Dia adalah murid Bambang Sugiharto. Pasti ia pintar.” 
4.1.2. “Jangan pindah ke Jakarta, ya. Di sana banyak kejahatan. Kamu akan mati jika ke sana.” 
4.1.3. “Setiap saya pakai ponsel merk Samsung, pasti pekerjaan saya menjadi lancar!” 

4.2. Konklusi Tidak Relevan (Irrelevant Conclusion / Ignoratio Elenchi) Pernyataan yang rancu karena yang seharusnya dimaksudkan untuk mendukung sebuah kesimpulan tertentu, tapi kemudian malah diarahkan untuk membenarkan sebuah kesimpulan yang lain. Kerancuan ini sering disebut dengan istilah “missing the point”. Sebagai contoh: 
4.2.1. Dalam sebuah perkara pidana, seorang jaksa dalam usahanya untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah hanya berupaya membuktikan secara meyakinkan bahwa perkara pembunuhan yang bersangkutan adalah sangat kejam dan biadab. 
4.2.2. “Banyak orang yang tidak bisa sekolah karena kenyataan bahwa sekolah saat ini sering digunakan untuk tempat kampanye partai politik tertentu.” 
4.2.3. “Bencana kelaparan yang terjadi di Korea Utara jelas disebabkan oleh ideologi totalitarian yang mereka anut!” 

4.3. Begging The Question 
Pernyataan yang rancu karena kesimpulan yang disampaikan adalah sama dengan atau terimplisitkan dalam premisnya (sehingga dapat dikatakan juga bahwa si pemberi pernyataan sudah mengasumsikan premisnya sebagai kebenaran), meski kadang dengan kata-kata yang lain. Misalnya: 
4.3.1. Manusia pada dasarnya suka makan karena secara biologis mereka memang suka makan. 
4.3.2. “Membolehkan tiap orang menyatakan pendapat tanpa batas, secara umum, akan selalu menguntungkan baik bagi negara; sebab ikhwalnya akan sangat kondusif bagi kepentingan masyarakat bahwa setiap individu seyogianya menikmati kebebasan, secara sempurna tanpa batas, untuk menyatakan perasaan-perasaannya!” 
4.3.3. “Kita akan menggelar pengadilan yang adil sebelum ia digantung.” 

4.4. Complex Question 
Kerancuan yang terjadi ketika mengajukan pertanyaan yang “menjebak” karena jawaban apapun menimbulkan suatu pengertian tunggal. Artinya, si penanya tidak sedang benar-benar bertanya, melainkan berupaya mengungkap sesuatu. Misalnya: 
4.4.1. “Sudahkah kamu berhenti memukuli istrimu?” (Jawaban apapun hanya akan menunjukkan bahwa si penjawab memang memukuli istrinya) 
4.4.2. “Siapa yang membuat Tuhan?” (Apapun jawabannya, mengasumsikan bahwa Tuhan memang ada pembuatnya) 
4.4.3. “Apakah uang hasil korupsi itu kamu pakai untuk membangun tempat peribadatan?” (Apapun jawabannya, berarti ia memang korupsi) 

4.5. Arguing in a Circle 
Arguing in a Circle berarti menggunakan kesimpulan untuk membenarkan sebuah premis, dimana premis tersebut juga digunakan untuk membenarkan kesimpulan. Misalnya: 
4.5.1. “Semua kata-kata dalam Al-Qur’an adalah benar adanya.” 
“Kenapa?” 
“Karena itu adalah kata-kata dari Allah.” 
“Bagaimana kamu tahu itu adalah kata-kata dari Allah?” 
“Menurut Nabi Muhammad.” 
“Bagaimana kamu tahu Nabi Muhammad mengatakan hal yang benar?” 
“Karena dia adalah Nabi-nya Allah, dan Nabi-nya Allah tidak mungkin berkata bohong.” “Bagaimana kamu tahu Nabi Muhammad adalah Nabi-nya Allah?” 
“Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” 
4.5.2. “Mengapa kamu belajar dengan keras?” 
“Untuk melewati tes.” 
“Mengapa kamu ingin melewati tes?” 
“Untuk lulus kuliah.” 
“Mengapa kamu ingin lulus kuliah?” 
“Agar dapat pekerjaan.” 
“Mengapa kamu ingin dapat pekerjaan?” 
“Untuk menghasilkan uang.” 
“Mengapa kamu ingin menghasilkan uang?” 
“Untuk membesarkan keluarga.” 
“Mengapa kamu ingin membesarkan keluarga?” 
“Agar mereka kelak bisa pergi kuliah dan sukses.” 
“Apa yang membuat mereka bisa pergi kuliah dan sukses?” 
“Belajar dengan keras ketika akan ujian.” 

5. Kerancuan Induktif 

5.1. Hasty Generalization 
Kerancuan yang terjadi karena generalisasi yang terburu-buru. Misal: 
5.1.1. “Para filsuf adalah orang-orang ateis. Coba lihat Marx, Satre, Feuerbach, Freud, dan Nietzsche.” 
5.1.2. “Saya kira makanan di Bandung enak-enak walau saya baru cicip satu warung nasi goreng di dekat kost-kostan.” 
5.1.3. “Baru saja musim ini dimulai, Persib sudah kalah dua kali. Mereka tidak punya peluang juara.”  

5.2. Post Hoc Ergo Propter Hoc 
Kerancuan yang terjadi karena menyimpulkan sesuatu dari hal-hal yang terjadi karena urutan waktu. Misal: 
5.2.1. Ketika gerhana matahari, orang-orang sibuk memukuli kentongan karena percaya sedang terjadi pertarungan antara dewa yang baik dan dewa yang jahat. Ketika gerhana matahari selesai, orang-orang bersorak karena dewa yang baik yang menang akibat disemangati oleh kentongan tersebut. 
5.2.2. Perdana Menteri Inggris datang ke Indonesia dan esoknya di Padang terjadi gempa. Kesimpulannya, Perdana Menteri Inggris adalah penyebab gempa. 
5.2.3. Seorang remaja bertengkar dengan ibunya dan esoknya ia tertabrak becak. Kata ibunya, “Nah, kan, itulah hukuman bagi anak durhaka.” 

5.3. Argumen dari Keheningan (The Argument from Silence
Kerancuan yang terjadi karena menyimpulkan sesuatu hal dari diamnya seseorang atau tidak adanya penjelasan apapun dari suatu kejadian. Artinya, kerancuan ini terjadi karena menarik kesimpulan dari premis-premis yang tidak ada. Misal: 
5.3.1. “Oh, dia diam saja, berarti dia ketakutan!” 
5.3.2. Tidak ada bukti bahwa Andi, semasa hidupnya, pernah menikah. Itu artinya, memang dia tidak menikah. 
 5.3.3. “Nietzsche, semasa hidupnya, tidak pernah melayangkan kritik apapun tentang Islam. Apakah itu berarti dia adalah seorang muslim?” 

5.4. Selective Evidence 
Kerancuan yang terjadi karena seseorang memilih bukti yang mendukung pernyataannya dan menolak bukti yang tidak mendukung pernyataannya. Artinya, membiarkan hipotesis yang mengontrol data, dan bukan data yang mengontrol hipotesis. Misal: 
5.4.1. “Berdasarkan data-data tentang banyaknya kejahatan di Indonesia di tahun 2017, maka sudah jelas bahwa negara ini dalam bahaya.” (Tanpa mempertimbangkan data-data tentang keberhasilan jajaran kepolisian mengamankan negara dari kejahatan) 
5.4.2. “Berdasarkan fakta sejarah, jelas bahwa orang-orang Islam adalah orang-orang yang meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan.” (Dengan mengutip sumber literatur yang hanya memuat tentang para pemikir Islam) 
5.4.3. “Teori evolusi jelas salah, menurut kitab suci.” 

Material Fallacies memang sebentuk kerancuan yang mesti dihindari. Meski demikian, bukan berarti hal semacam ini harus menjadi rambu-rambu ketat dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, banyak sekali ungkapan, percakapan, tulisan di media massa, ucapan politisi, sampai humor dari seorang stand-up comedian, yang mengandalkan kerancuan. Maka dari itu, material fallacies juga harus ditakar konteksnya, jangan sampai menghambat pergaulan sehari-hari dan juga upaya kita dalam menikmati hidup ini. 

Daftar Pustaka 

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press 
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama. 
  • http://examples.yourdictionary.com/non-sequitur-examples.html 
  • https://www.thoughtco.com/dicto-simpliciter-logical-fallacy-1690451
  • http://www.txstate.edu/philosophy/resources/fallacy-definitions.html

Continue reading