Sunday, April 30, 2017

Kelas Logika: Ilmu Logika: Suatu Pengantar

Dalam keseharian kita, sering ada ungkapan-ungkapan seperti misalnya, “Lu mikir pake logika dong!” atau “Wah, kalau gitu sih, gak logis.” Kata-kata tersebut kita ucapkan sepertinya dalam konteks: Logika, logis, dan sebagainya, adalah segala ekpresi untuk menunjukkan bahwa manusia mempunyai nalar dan ia tidak bisa sepenuhnya menggantungkan pada perasaan ataupun instingnya. Kata “logos” dalam Bahasa Yunani sangat luas artinya (bukan sebatas “ilmu” seperti yang kita sering temukan dalam kata seperti “biologi” atau “mitologi”). “Logos” bisa berarti “opini”, “kata”, “bicara”, “alasan”, “proporsi”, hingga “diskursus”. Tapi kita bisa menemukan kesamaan dari kata-kata tersebut, yaitu segala sesuatu yang punya kaitan –langsung atau tidak langsung- dengan kegiatan berpikir yang tersusun atau sistematis (bicara, misalnya, setidaknya orang yang bicara, meski kadang-kadang “ngawur”, tapi setidaknya ia harus mengenal struktur kalimat untuk kemudian terekspresikan menjadi kegiatan bicara). 

1. Posisi Logika dalam Filsafat 
Filsafat sebagai “ibu dari segala ilmu pengetahuan” mempunyai sejumlah cabang yang dibagi berdasarkan wilayah kajiannya, misalnya: 
1.1. Estetika. Mempertanyakan hakikat keindahan atau kesenian dengan jenis-jenis pertanyaan semacam, “Apa itu keindahan?” “Bagaimana sesuatu itu dapat dikatakan indah?” “Apakah keindahan seni itu tergantung ruang dan waktu atau terlepas daripadanya?” 
1.2. Etika. Mempertanyakan hakikat moral, nilai, dan baik buruk dengan pertanyaan semacam, “Apa itu kebaikan?” “Apakah kebaikan itu bersifat universal?” “Bagaimana posisi keburukan? Apakah keburukan itu seimbang saling mengadakan dengan kebaikan, atau keburukan itu sebentuk cacat dari baik?” 
1.3. Filsafat Manusia. Mempertanyakan hakikat manusia dan posisi filosofisnya dengan pertanyaan semacam, “Manusia itu, mau ke mana?” “Apakah manusia adalah produk Tuhan, atau Tuhan justru merupakan produk (pikiran) manusia?” “Apakah manusia ini bebas menentukan nasibnya sendiri, atau segala sesuatunya sudah diatur?” 
1.4. Metafisika. Mempertanyakan hakikat “ada” dan segala sesuatu yang berada di luar atau di belakang dunia fisik dengan pertanyaan semacam, “Apakah dunia ini disusun dari sesuatu yang tunggal, dual, atau banyak?” “Apakah setiap benda adalah ada pada dirinya sendiri, atau tidak lebih dari proyeksi pikiran kita saja?” “Apakah dunia ini pada dasarnya bergerak, atau tetap?” 
Masih banyak cabang-cabang filsafat lain seperti filsafat politik, filsafat bahasa, filsafat ilmu, dan seterusnya. Logika merupakan cabang filsafat juga yang fokus mempertanyakan tentang hakikat pikiran dan berpikir. Jenis-jenis pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut, “Apakah itu berpikir?” “Apakah berpikir bisa membawa kita menemukan kebenaran?” “Adakah pikiran tersebut mempunyai kesesatan?”


2. Logika sebagai Kegiatan Berpikir 
Manusia konon merupakan makhluk yang berpikir. Namun jika diperhatikan, binatang pada titik tertentu mungkin saja berpikir. Lantas, apakah yang membedakan berpikirnya manusia dengan binatang? Lewat ilmu logika ini kita bisa menyadari, bahwa manusia ternyata bisa berpikir tentang pikirannya sendiri dan manusia bisa berpikir tentang berpikir. Pertanyaan berikutnya, kapan manusia itu berpikir? Dalam buku Pengantar Logika yang ditulis oleh Arief Sidharta (salah satu sosok penting yang mengenalkan ilmu logika secara luas ke pendidikan di Indonesia), disebutkan bahwa ada sejumlah faktor yang membuat orang “terpaksa” harus berpikir. Faktor-faktor tersebut antara lain: 
2.1. Jika pernyataan atau pendiriannya dibantah oleh orang lain (atau dirinya sendiri); 
2.2. Jika dalam lingkungannya terjadi perubahan secara mendadak, atau terjadi peristiwa yang tidak diharapkan; 
2.3. Jika ia ditanya; 
2.4. Dorongan rasa ingin tahu. 
Namun kemudian, dalam berpikir terdapat hukum-hukum yang sudah ditegaskan (maka itu, logika sering disebut sebagai cabang filsafat yang ketat). Hukum-hukum tersebut, misalnya, sebagai berikut: 2.5. Asas Identitas (Principle of Identity; Principium Identitatis) yang rumusnya adalah A adalah A (A = A); setiap hal adalah apa dia itu adanya; setiap hal adalah sama (identik) dengan dirinya sendiri. 
2.6. Asas Kontradiksi (Principle of Contradiction; Principium Contradictionis) yang dapat dirumuskan: A adalah tidak sama dengan bukan A (non-A) atau A adalah bukan non A (A tidak sama dengan – A); keputusan-keputusan yang saling berkontradiksi tidak dapat dua-duanya benar, dan sebaliknya tidak dapat dua-duanya salah. 
2.7. Asas Pengecualian Kemungkinan Ketiga (Principle of Excluded Middle; Principium Exclusi Tertii) dapat dirumuskan: Setiap hal adalah A atau bukan – A; keputusan-keputusan yang saling berkontradiksi tidak dapat dua-duanya salah. Juga keputusan-keputusan itu tidak dapat menerima kebenaran dari sebuah keputusan ketiga atau di antara keduanya; salah satu dari dua keputusan tersebut harus benar, dan kebenaran yang satu bersumber pada kesalahan yang lain. 
2.8. Asas Alasan yang Cukup (Principle of Sufficient Reason; Principium Rationis Sufficientis) dapat dirumuskan: tiap kejadian harus mempunyai alasan yang cukup. 
2.9. Asas bahwa kesimpulan tidak boleh melampaui daya dukung dari premis-premisnya atau pembuktiannya (Do not go beyond the evidence). 

3. Hubungan Logika dengan Kebenaran 

Sebuah kalimat yang dihasilkan oleh pikiran, sedikitnya punya tendensi untuk bersinggungan dengan kebenaran. Pun secara lebih jauh jika ditilik-tilik, ketika kita belajar logika, tentu saja punya keinginan untuk mengetahui kebenaran. Logika, dengan hukum-hukum berpikir yang sedemikian ketat, seharusnya membawa kita pada sesuatu yang dinamakan kebenaran tersebut. Persoalannya, kebenaran ada bermacam-macam versinya, misalnya: 
3.1. Teori Korespondensi yang menyatakan bahwa pernyataan adalah benar jika isinya sesuai dengan atau mencerminkan kenyataannya sebagaimana adanya. Contoh aliran dengan gaya berpikir semacam itu: Empirisme 
3.2. Teori Koherensi yang menyatakan bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara sebuah pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah diterima sebagai benar. Contoh: Rasionalisme 
3.3. Teori Pragmatik yang menyatakan bahwa yang benar adalah yang efektif atau yang berguna. Contoh: Pragmatisme 
3.4. Teori Intersubjektivitas yang menyatakan bahwa kebenaran adalah kesepakatan atau konsensus yang dapat dicapai atau diterima oleh orang, terutama di kalangan para pakar keseahlian. Contoh: Posmodernisme, Pos-strukturalisme 
3.5. Teori Dialektika yang menyatakan bahwa kebenaran adalah sintesis yang dihasilkan dari perkawinan tesis dan antithesis. Contoh: Romantisme Hegelian 

4. Pertanyaan-Pertanyaan 

Berikut sejumlah pertanyaan yang mungkin bisa mengasah dan mempertajam pemahaman kita akan logika pertemuan pertama ini: 
4.1. Apa yang menjadi pembeda dalam hal kajian jika sebuah konsep disematkan kata filsafat di depannya? Misalnya: Filsafat cinta, filsafat kuliner, filsafat sepakbola, dan seterusnya. 
4.2. Hal apalagi yang membedakan antara manusia dengan binatang –yang terkait dengan pikiran- selain bahwa manusia bisa “berpikir tentang berpikir”? 
4.3. Dapatkah kita melakukan kritisi terhadap hukum-hukum berpikir yang telah dipaparkan di atas (poin 2.5. hingga 2.9.) jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari? Misalnya, apakah benar bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita bisa lepas dari kontradiksi (2.6) dan pengecualian kemungkinan ketiga (2.7)? 
4.4. Bagaimana dengan pernyataan yang bersifat keagamaan, seperti misalnya, “Membunuh itu dosa” atau “Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna”, dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran yang mana?


Continue reading

Saturday, April 22, 2017

Pedagogi Literasi di Era Posmodernisme

PEDAGOGI LITERASI DI ERA POSMODERNISME 1) 
Syarif Maulana 2)

Pada tahun 1996, seorang profesor matematika bernama Alan Sokal dari New York University memublikasikan artikel berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” di jurnal ilmiah bernama Social Text yang fokus pada hal-hal terkait kajian budaya (cultural studies) dan posmodernisme. Setelah dipublikasikan, Sokal kemudian mengakui, “Artikel tersebut adalah mélange (percampuradukan) dari kebenaran, semi-kebenaran, seperempat-kebenaran, kebohongan, pernyataan-pernyataan tidak relevan, dan kalimat-kalimat tidak bermakna.” 3) Apa tujuan sang profesor melakukan hal tersebut? Katanya, kira-kira, sekadar menunjukkan bahwa posmodernisme menjadi istilah yang kerap menunjuk pada segala sesuatu yang tampak keren, tampak berbudaya, tampak ilmiah, padahal tidak ada maknanya sama sekali. Ia juga sekaligus menyerang para pemikir posmodern seperti Jacques Derrida, Jean-François Lyotard, Jean Baudrillard, atau Julia Kristeva, yang sering meminjam-minjam istilah sains tanpa bertanggungjawab dan bahkan menuduh sains itu sendiri sebagai konstruksi sosial belaka.4)  Intinya, Sokal hendak mengatakan bahwa posmodernisme adalah omong kosong. 

Selayang Pandang Posmodernisme

Sebelum membahas mengenai “pedagogi literasi di era posmodernisme”, terlebih dahulu kiranya penting untuk membahas apa itu era posmodernisme. Jean-François Lyotard (1924 – 1988) dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1979) – yang ia sebut sebagai salah satu bukunya yang kurang bagus-, menyebutkan bahwa ciri-ciri posmodernisme adalah matinya metanarasi. Metanarasi yang dimaksud adalah narasi besar yang mencakup diantaranya ide-ide tentang kemajuan, pencerahan, kebenaran universal, emansipasi, termasuk diantaranya –isme –isme unggulan seperti halnya marxisme ataupun eksistensialisme. Keseluruhan narasi besar tersebut, bagi Lyotard, adalah anasir utama pembentuk modernisme. Metanarasi runtuh karena faktor utamanya adalah perkembangan teknologi, terutama di bidang komunikasi, media massa, dan ilmu komputer. Metanarasi yang runtuh kemudian menjadi serpihan-serpihan narasi kecil, narasi lokal, ataupun narasi kontekstual. 

Pemikiran Lyotard tersebut barangkali bisa memberikan sedikit gambaran tentang situasi posmodernisme, terutama jika kita turut menyertakan beberapa pemikiran kaum posmodernis yang lain seperti Michel Foucault yang percaya bahwa segala bentuk kebenaran sangat bertalian dengan kekuasaan –meski ungkapan ini ia pinjam dari filsuf “modernisme”, Friedrich Nietzsche-. Hal tersebut termasuk diantaranya kegilaan, seksualitas, hingga ilmu pengetahuan. Foucault melacak, bahwa misalnya, kegilaan bukanlah satu bentuk gejala medis tertentu yang terkait dengan psikologis seseorang. Foucault lebih setuju bahwa kegilaan adalah sebentuk konstruksi sosial yang dibentuk sedemikian rupa untuk menciptakan zona nyaman tertentu bagi kekuasaan. Contohnya adalah penyakit lepra yang menurut Foucault, meski sudah hilang di akhir Abad Pertengahan, tapi kekuasaan untuk meminggirkan orang-orang dengan dalih penyakit lepra masih saja hidup hingga abad-abad berikutnya 6)  (mungkin seperti halnya tuduhan “komunis” di masa sekarang). Kemudian di bidang lain, seperti seni, ada Marcel Duchamp (seni rupa), kelompok Fluxus (seni rupa/ intermedia), John Cage (musik), Pierre Boulez (musik), Frank Gehry (arsitektur) dan sebagainya. Lalu di bidang sains, ada Paul Feyerabend dengan pemikiran anarki epistemologisnya yang menyatakan bahwa segalanya boleh dalam mengetahui kebenaran alias “anything goes”. Artinya, jika hendak dibuat penyederhanaan atas sejumlah pemikiran yang timbul dari para posmodernis, maka dapat ditarik intisari dari posmodernisme sebagai berikut: 
  • Klaim universal kebenaran sebenarnya tidak lain merupakan perpanjangan tangan kekuasaan sehingga sudah selayaknya kita menoleh ke klaim kebenaran yang lain yang selama ini terpinggirkan karena tak sanggup berkuasa. 
  • Subjek sebagai sesuatu yang sangat diagungkan pada masa modernisme, diinjak-injak oleh posmodernisme karena subjek tidak lain adalah konstruksi kekuasaan tertentu. 
  • Karena pijakan-pijakan sudah hancur diluluhlantakkan, maka kematian dari segala sesuatu pun digemakan dengan gembira, misalnya “end of history”, “end of art”, “end of science”, “end of philosophy” dan sebagainya. 
  • Kematian segala sesuatu itu, adalah perayaan bagi kemajemukan, perayaan bagi dibolehkannya segala sesuatu, perayaan bagi kehirukpikukan atau sekaligus perayaan bagi kekacauan. 


Pedagogi Literasi di Era Posmodernisme

Maka itu, atas dasar kecarutmarutan yang sudah diciptakan oleh posmodernisme, kita dihadapkan pada pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan di atas puing-puing ini? Bisa saja, kita turut merayakannya dengan gembira: Seorang pembuat meme bisa lebih terkenal daripada seniman yang sekolah lima tahun untuk memeroleh gelar sarjana seni; seorang Awkarin atau Young Lex punya video yang ditonton lebih banyak orang daripada pianis jazz legendaris Chick Corea; orang ramai-ramai berdebat dengan pengetahuan berbasiskan data-data hoax (seperti Alan Sokal) dan tak peduli lagi referensi ilmiah –karena definisi “ilmiah” sudah hancur lebur oleh posmodernisme-; dan seterusnya dan seterusnya. Atau, kita bisa berpegang pada dahan yang kuat, sehingga tak mudah terombang-ambing oleh era yang begitu gamang ini. Dahan macam apa yang kita bisa pegang? 

Literasi didefinisikan secara sederhana sebagai “bisa membaca dan menulis”. Yang dibaca dan ditulis tentu saja bisa teks secara harafiah, ataupun teks dalam kehidupan ini secara umum (beserta simbol-simbolnya). Hanya saja intertekstualitas yang digadang-gadang oleh posmodernisme bisa menjebak aktivitas literasi. Intertekstualitas berarti apa yang kita baca, sesungguhnya tidak terhubung dengan dunia realitas. Apa yang kita baca, pada dasarnya, hanya berhubungan dengan teks lainnya saja. Namun jika posmodernisme sudah sedemikian destruktifnya sehingga literasi saja tak punya peluang untuk membangun di atas puing-puing, maka apa lagi dahan yang bisa kita pegang? Tentu saja, kita di sini, sebagai para pegiat literasi, tak boleh begitu saja menyerah pada posmodernisme (yang sudah diolok-olok habis oleh Alan Sokal). Kita bisa menyelamatkannya dengan menebalkan kembali pesona literasi lewat, mungkin saja, sejumlah anasir modernisme yang sudah usang. Amunisi tersebut sah-sah saja kita pakai, terutama jika posmodernisme sudah kian kebablasan: menciptakan metanarasi baru yang membuat ia tiada beda dari konsep modernisme yang ia kritisi. Anasir-anasir tersebut antara lain: 

  • Marxisme 

Mengapa marxisme tetap berharga untuk menghadapi kecarutmarutan posmodernisme? Kita lihat bagaimana marxisme selalu mampu menjadi musuh besar bagi kekuasaan –yang dalam terminologi marxisme sering disebut sebagai “kaum kapitalis”-. Bagi seorang marxis, titik berdiri harus jelas dan kuat. Posisi kritis, praksis, pro ke kaum yang termarjinalkan, anti hegemoni, progresif dan seringkali revolusioner merupakan sikap-sikap yang tidak bisa ditawar. Pada titik ini posmodernisme yang kerap bicara kekuasaan tanpa memberikan solusi, dapat dilawan dengan perangkat marxisme –setidaknya untuk mencapai emansipasi kesadaran-. Literatur-literatur bernuansa marxis ataupun neo-marxis penting untuk selalu dibaca dan diajarkan, demi menanamkan kesadaran kritis dan meneguhkan posisi di tengah puing-puing yang sudah dihancurkan posmodernisme. 


  • “Yang Lama Tetap Berharga” 

Kata Haruki Murakami, “Aku hanya membaca buku dari pengarang yang sudah meninggal lebih dari tiga puluh tahun. Aku hanya membaca buku yang sudah dibaptis oleh waktu.” Dengan berkembangnya literatur kontemporer yang demikian liar –yang mampu melambungkan “penulis” tertentu hanya dengan kemasan pemasaran yang baik alih-alih kualitas tulisan yang layak-, maka hanya pada literatur klasik saja kita bisa menyandarkan diri perkara formalisme estetika. Misalnya, -meski bukan berarti bisa lepas dari kritik- tapi kita harus mengakui literatur-literatur yang dituliskan oleh penulis semisal Anton Chekhov, Leo Tolstoy, Friedrich Nietzsche, Ernest Hemingway, hingga Pramoedya Ananta Toer sebagai literatur yang “sudah dibaptis oleh waktu”. Mereka yang membaca literatur “yang benar” dapat diasumsikan punya pandangan yang lebih bijak dalam melihat kecarutmarutan teks yang bertebaran di misalnya, media sosial –yang masing-masingnya punya klaim tentang kebenaran-. Dalam konteks yang lain, mereka yang rajin menulis esai atau puisi, misalnya, tentu punya ketebalan yang berbeda ketika menulis status di twitter atau di instagram, ketimbang mereka yang memang sudah terlalu terbiasa mengabdikan diri menulis pada koridor 140 karakter. Intinya, yang lama tetap berharga. Meski berbau romantisme akut, tapi hal-hal yang klasik tidak selalu kuno untuk ditinggalkan. 


  • Kemampuan dialektika 

Romantisme memang penting, tapi jangan berlama-lama atau bahkan berkubang di dalamnya. Bagaimanapun juga, zaman terus bergerak dan pada setiap pergerakan yang kian cepat itu, alangkah tidak bijaksananya jika terus menerus berpegang pada dahan literasi klasik. Perlu juga memahami zaman posmodernisme yang carut marut ini dan berdialog dengannya agar mencapai satu kesepahaman yang menyenangkan. Misalnya, dalam konteks seni, tidak ada salahnya melakukan eksperimentasi, meleburkan yang tradisi dan yang kontemporer; dalam konteks literasi, tidak ada salahnya menulis dengan gaya klasik namun dengan strategi promosi masa kini, dan sebagainya. Intinya, penyebaran literasi harus secara radikal, konvensional, tapi sekaligus juga mengadopsi nilai-nilai kekontemporeran. Seorang Awkarin dan Young Lex, yang sering dihina-hina para formalis estetika, bagaimanapun telah menyuarakan spirit zamannya secara keras, tentang bagaimana bersikap “kumaha aing, nu penting beunghar” sebagai bentuk ekspresi perayaan kemajemukan sekaligus pragmatisme ekonomi. 

Demikian. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka 
Foucault, Michel. 1988. Madness and Civilization: History of Insanity in The Age of Reason. Vintage. Lezard, Nicolas. 2010. Beyond the Hoax by Alan Sokal. https://www.theguardian.com/books/2010/feb/27/beyond-hoax-alan-sokal.
Lyotard, Jean-François. 1979. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Manchester University Press.
Sim, Stuart & Van Loon, Borin. 2012. Critical Theory: A Graphic Guide. London: Icon Books Ltd.


1) Ditulis sebagai suplemen untuk sharing session di acara Pesta Literasi 2017 di Sunken Court ITB hari Minggu, 23 April 2017. 
2) Pegiat forum filsafat Café Philosophique dan pegiat ruang alternatif Garasi10. 
3) "My article," Sokal explained in an Afterword (which was rejected by ST "on the grounds that it did not meet their intellectual standards"), "is a mélange of truths, half-truths, quarter-truths, falsehoods, non sequiturs, and syntactically correct sentences that have no meaning whatsoever." - Nicolas Lezard, Beyond the Hoax by Alan Sokal https://www.theguardian.com/books/2010/feb/27/beyond-hoax-alan-sokal. 
4) “The hoax served to expose the pretentious and amateurish misuse of recent physics by leading French theorist, Derrida, Lyotard, Baudrillard and Kristeva. Sokal provided deadly ammunition to the fundamentalist of ‘Big Science’ who reject any hint that science might be ‘socially constructed’.” - Stuart Sim & Borin Van Loon, Critical Theory: A Graphic Guide 
5) “Simplifying to the extreme, I define postmodern as incredulity toward metanarratives[. ..] The narrative function is losing its functors, its great hero, its great dangers, its great voyages, its great goal. It is being dispersed in clouds of narrative language[...] Where, after the metanarratives, can legitimacy reside?” - Jean-François Lyotard,, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge 
6) “Once leprosy had gone, and the figure of the leper was no more than a distant memory, these structures still remained. The game of exclusion would be played again, often in these same places, in an oddly similar fashion two or three centuries later. The role of the leper was to be played by the poor and by the vagrant, by prisoners and by the 'alienated', and the sort of salvation at stake for both parties in this game of exclusion is the matter of this study.”― Michel Foucault, History of Madness


Continue reading