Selasa, 28 Februari 2017

Musik Klasik Bandung Pasca Mutia Dharma

Tanggal 27 Februari kemarin, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, di ruang ICU RS Santo Yusuf, seorang aktivis musik klasik berjuang meregang nyawa melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dalam setahun terakhir. Tubuh sang aktivis tersebut akhirnya menyerah dan memilih untuk melepas jiwa pada Sang Khalik. Mutia Dharma adalah aktivis musik klasik yang bisa dikatakan tidak tertandingi di Bandung. Entah berapa banyak konser dan workshop yang sudah ia adakan, baik level lokal maupun internasional. Jika berusaha dikira-kira, pada masa jayanya (sebelum beliau mulai sakit), konser yang diadakan Mutia -dengan Classicorp Indonesia sebagai benderanya- bisa sampai paling sedikit dua bulan sekali diadakan -frekuensi lebih dari cukup untuk musik yang tidak terlalu banyak penggemarnya-. Artinya, wafatnya Mutia bisa menjadi dampak serius. Jika tidak ada regenerasi yang kuat, maka ini sama juga dengan kematian penyelenggaraan musik klasik di Kota Bandung.

Mari mengulas sedikit saja apa yang sudah dilakukan oleh Mutia semasa hidupnya untuk musik klasik -disamping ia juga aktif sebagai guru piano dan pianis konser- dari sekian banyak kontribusinya. Dari sepuluh tahun pengabdiannya, saya akan coba memaparkan program-programnya dalam tiga atau empat tahun terakhir saja: Resital Piano Danang Dirhamsyah (2013), Resital Biola Tomislav Dimov (2013), Masterclass oleh Tomislav Dimov dan Sam Haywood (2013), French Piano Competition (2013), Piano Pedagogy Workshop (2013), Kuliah dan Masterclass oleh Toru Oyama (2013), Bandung Piano Festival (2013), Klasikfest (2013), Masterclass Piano oleh Patrick Zygmanowski (2013), Konser Love and Misadventure (2014), Wind Festival (2014), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2014), Resital Piano Elvira Kartikasari Budiman (2014), Frauenliebe (2014), Cello Class oleh Leslie Tan (2014), A Day at The Piano (2014), Resital Piano Leandro Christian (2014), Resital Vokal Catrina Poor (2014), Konser Ragazze Quartet (2014), Seminar Sehari Pedagogi Piano oleh Iswargia R. Sudarno (2014), Resital Biola dan Piano Finna Kurniawati dan Glenn Bagus (2014), Konser dan Festival Camp oleh Toru Oyama dan Dody Soetanto (2015), Resital Flute dan Piano oleh Marini Widyastari dan Harimada Kusuma (2015), Resital Piano Empat Tangan oleh Dr. Hyeesok Kim dan Dr. Mary Scanlan (2015), Resital Duo Victoria Audrey Saraswati dan Dainis Medjaniks (2015), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2015), Bandung String Camp (2015), Ensemble Doulce Memoire (2015), Workshop "Basso Continuo" oleh Adhi Jacinth (2015), Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung (2015), Le Carnaval Des Animaux (2015), Chamber Concert (2015), dan Mozartfest (2015). Lalu sepertinya ketika mulai sakit, frekuensi konsernya menjadi turun drastis di tahun 2016 yaitu: Konser Domus String Quartet, Resital Duo Ardelia Padma Sawitri dan Felix Justin, dan terakhir Bandung String Camp.

Dengan produktifitas setinggi itu, rasanya mustahil bagi penyelenggara manapun untuk mampu menyaingi. Sebagai contoh, komunitas yang saya koordinir, KlabKlassik, meski usianya tidak jauh berbeda (sekitar sepuluh tahun), bisa menyelenggarakan lima atau enam konser setahun saja sudah bagus. Memang, fokus kami sedikit berbeda. Jika Classicorp memang mengabdikan diri pada konser-konser dan masterclass, KlabKlassik lebih pada pemberdayaan apresiator melalui komunitas (temu rutin mingguan). Namun poinnya adalah: Tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan peran Mutia, setidaknya dalam waktu dekat ini. Celakanya lagi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa Mutia adalah seorang petarung: Ia hampir mengerjakan semua konser itu seorang diri. Memang kemudian di hari-H, ia akan merekrut sejumlah orang untuk memberi bantuan, tapi sekali lagi, secara konseptual dan bahkan sejumlah teknis persiapan (seperti desain poster, tiket, booklet, hingga kontak musisi) dilakukannya secara solo. Artinya, bisa jadi, tidak ada suksesor, -yang bahkan dari Classicorp itu sendiri- yang berpotensi melanjutkan jalan pikiran beliau. 

Pasca era Mutia, mungkin penyelenggaraan musik klasik untuk sementara waktu akan jalan sendiri-sendiri. Dalam arti kata, setiap komunitas, setiap musisi, setiap sekolah musik, akan membuat konser dengan kelompoknya sendiri sebagai penyelenggara. Ini tentu saja tidak terlalu menjadi persoalan karena saya yakin setiap kelompok pasti ingin menonjolkan dirinya masing-masing. Hanya saja, dari kacamata publik, kerapatan penyelenggaraan mungkin tampak kurang jelas. Jika di masa Classicorp berjaya, kita bisa dengan mudah menemukan konser hampir sebulan sekali, maka mungkin nantinya -sebagai dampak dari penyelenggaraan masing-masing tersebut- frekuensi konser bisa menjadi tidak jelas: Bisa sebulan ada dua atau tiga konser, atau tidak ada konser sama sekali dalam periode yang lama. Pun hal tersebut bisa juga berdampak pada harga tiket. Setiap kelompok tentu punya persepsinya sendiri mengenai harga tiket, sehingga akhirnya tidak ada standar atau minimal range yang umum (bisa sangat mahal atau bisa juga tidak bayar sama sekali). Pada akhirnya, apresiator menjadi kian tersegmentasi (karena tidak sedikit penonton dari suatu kelompok tidak mau menonton pertunjukkan dari kelompok lain oleh sebab mulai dari harga tiket atau hal macam-macam lainnya). Dampak lebih jauhnya, nasib musisi muda bisa menjadi kurang berkembang karena tidak dihadapkan pada publik yang "sebenarnya" (karena itu tadi, yang menonton mungkin sebagian besar hanya dari kelompoknya sendiri).

Classicorp bukannya murni netral. Ia juga punya medan sosialnya sendiri: tempat penyelenggaraan yang itu-itu juga, sekolah musik yang diajak yang kurang lebih itu-itu juga, sampai musisi yang kurang lebih itu-itu lagi (terutama yang lokal). Tapi jangan lupa, Classicorp punya jejaring internasional yang luas sehingga ketika musisi-musisi luar negeri sukses didatangkan, dampaknya sangat baik bagi bersatunya seluruh apresiator dan musisi tanpa memandang sekat-sekat kelompok. Pertanyaannya: Siapa yang bisa melanjutkan jejaring internasional Mutia? KlabKlassik pernah beberapa kali mengadakan konser dengan penampil asing (Moritz Ernst, Bruno Procoppio, Urs Bruegger, Alessio Nebiolo, dan sebagainya). Tapi tetap, urusan frekuensi, masih jauh tertinggal dari Classicorp. Sekali lagi, jejaring internasional yang luas dan rapat tetap menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun penerus Mutia nantinya.

Terakhir, penting untuk diingat, bahwa sebagaimanapun ramainya konser sepeninggal Mutia, tetap beliau selalu menguatkan rantai agar tidak terputus: aspek edukasi dan pembinaan generasi muda. Harus diakui, Mutia berhasil pelan-pelan membangun ekosistem musik klasik yang bagus dengan terus menyediakan panggung bagi musisi muda -yang dalam beberapa programnya, musisi muda tersebut terlebih dahulu diedukasi ilmu dan pengalaman dari musisi yang sudah malang melintang (misal: program string camp atau masterclass)-. Lewat program ini juga, Mutia berhasil menyatukan banyak orang dalam sebuah energi yang positif -karena demikianlah sifat edukasi jika dijalankan secara tulus-. 

Hanya saja, kalaupun Mutia bersikap seperti seorang petarung solo dalam menghadapi itu semua, pada akhirnya saya bisa mengerti juga. Di Indonesia dan khususnya di Bandung, untuk menjadi penyelenggara musik klasik dibutuhkan keimanan yang tidak main-main. Meski sudah menghadirkan musisi internasional ternama, kehadiran penonton tetap sulit untuk diprediksi -bisa ramai, bisa sedikit sekali-. Pun sponsor dengan dana besar atau media massa belum sepenuhnya menganggap penyelenggaraan musik klasik sebagai hal yang menarik. Penyelenggaraan musik klasik di Bandung, secara umum, masih mengandalkan dana dari tiket atau bahkan patungan dari para pemusik yang akan tampil. Itu sebabnya, mungkin, saya mencoba menebak pikiran Mutia: Daripada ia repot-repot mengajak orang yang belum punya level keimanan yang sama, lebih baik kerja sendiri saja. Hanya saja, ke depannya, meski sikap idealis tersebut terbukti tetap membuat program-program berjalan lancar, namun tetap mempunyai dampak kurang baik bagi regenerasi dan suksesi. Maka, siapapun penerus Mutia, bekerja dalam organisasi, meski kadang harus berbenturan dengan idealisme individu, pada akhirnya, tetap penting. Selain memudahkan kerja lapangan, juga untuk meneruskan tongkat kepemimpinan.

Mutia Dharma (tengah) bersama saya ketika siaran di 100.4 KLCBS dalam rangka konser Ragazze Quartet (2014)
      
Continue reading

Senin, 20 Februari 2017

Penonton NBA dan Eurobasket

Sejak langganan TV Kabel, saya jadi rajin nonton saluran NBATV. Karena ya, kita tahu, sudah sejak lama saluran televisi lokal tidak lagi menayangkan pertandingan basket NBA. Saya memang bukan penggemar basket sejati, tapi keberadaan NBATV ini lumayan menghibur (ketika saluran lain sedang tidak seru). Berbeda dengan NBA yang pertandingannya umumnya dilakukan di pagi hari waktu Indonesia, ada juga Eurobasket yang ditayangkan pada saat dini hari (biasanya di saluran Eurosports). Jika bicara kualitas permainan, tentu saja NBA lebih menyenangkan untuk ditonton. Selain karena pemainnya lebih berkualitas (tanpa merendahkan kualitas pemain Eropa), NBA juga sukses mengemas kompetisinya menjadi panggung hiburan besar -alih-alih tayangan olahraga biasa-.

Meski demikian, ada hal menarik yang dapat diperhatikan dari perbedaan antara dua kompetisi ini, yaitu sikap penonton dalam mendukung tim kesayangannya. Penonton NBA tentu saja ramai. Mereka kompak meneriakkan "Defense! Defense!" setiap timnya dalam posisi bertahan; mereka rajin mengganggu lawan yang tengah melakukan free throw dengan beragam cara yang kreatif (termasuk foto Eva Longoria untuk mengganggu Tony Parker); mereka juga kompak berdiri jika pertandingan sedang dalam situasi yang menegangkan; hal tersebut belum termasuk atribut dalam bentuk kaos, syal, topi, dan sebagainya. Penonton Eurobasket juga ramai, tapi dengan cara yang berbeda. Mereka biasanya memasang bendera besar yang tidak cukup dipegang satu orang dan meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan. Berbeda dengan para penonton NBA yang meski ramai, tapi tetap menganggap bahwa tontonan di depannya adalah tontonan (sehingga meski menegangkan, mereka tetap tak lupa melahap popcorn dan memeluk kekasihnya di sampingnya), penonton Eurobasket lebih tampak menghayati dan melihat bahwa lapangan pertandingan adalah penentu segala nasib dalam kehidupannya.

Bertolt Brecht (1896 - 1956), seorang pemain, penulis skenario, dan sutradara teater asal Jerman, mengatakan bahwa teater dramatis -yang dibesarkan oleh Constantin Stanislavsky- bisa jadi terlalu membawa penonton pada sikap-sikap ilusif dan tidak realistis. Harusnya, penonton tak perlu hanyut ke dalam pertunjukkan. Mereka seyogianya bersikap bebas dan mampu mengambil jarak dari apa yang ditampilkan, sehingga menonton teater dapat menjadi sangat santai sebagaimana halnya menonton pertandingan tinju. Itulah mungkin yang dilakukan penonton NBA, yang menyaksikan pertandingan dengan santai, tanpa perlu mengagung-agungkan panggung sebagai sesuatu yang mesti dihayati: "Bolehlah tim kita kalah hari ini, tapi toh esok dunia tidak serta merta runtuh. Ini semua hanyalah hiburan belaka, tidak punya koneksi langsung terhadap kehidupan kita."

Apakah dengan demikian, serta merta pertunjukkan fanatisme dari para penonton Eurobasket adalah keliru? Tidak juga. Memang ada orang yang senang melihat panggung dan segala latarnya, sebagai sesuatu yang menentukan hidup-matinya. Ia dengan sangat bersemangat meneriakkan yel-yel tanpa henti karena panggung tersebut tidak lain adalah juga proyeksi dari kehidupannya (Jika tim basket Barcelona kalah, maka ia merasa bahwa harga diri Catalunya-nya juga turut dinistakan). Pada akhirnya, kita bebas memilih: Mau menjalani hidup seperti penonton NBA, atau penonton Eurobasket?  




Continue reading