Friday, November 17, 2017

Perkenalkan, Ini Istriku, Dega



Halo, dunia, perkenalkan ini istriku, Dega. Kami menikah sejak enam tahun silam setelah dua setengah tahun berpacaran. Kami bertemu oleh sebab jasa seorang kawan, namanya Johan. Aku dan Johan sedang dalam persiapan untuk mengadakan resital gitar klasik tahun 2007 dan ketika kami sedang menyusun teks ucapan terima kasih, Johan menyisipkan satu nama: "Dega France". Aku tertarik juga dengan betapa anehnya nama tersebut. Lalu aku tanya-tanya, melihat Friendsternya, dan memutuskan untuk menghubungi. Waktu aku hubungi "Dega France" (yang orang Jakarta), dia awalnya curiga, hingga akhirnya lama kelamaan, nyaman juga kami bicara. Kami berjumpa pertama kali di Jakarta. Dia minta aku bawakan Brownies Amanda dan kaos sepakbola. Tapi aku tidak membawanya, karena alasan yang tidak jelas. 

Sejak aku pertama melihatnya langsung di Jakarta itu, aku langsung suka. Aku hendak mengejarnya sampai dapat. Tapi seperti biasa, aku, yang mudah terdistraksi perempuan ini, melanjutkan petualangan, bersama lalala, bersama lilili. Kontak aku dan Dega hanya sekali-kali karena alasan tadi itulah: aku banyak mendapat distraksi. 

Namun dalam suatu momentum yang aneh, lewat percakapan via Gmail, aku tetiba ingin mengajaknya menikah. Kadang ajakan menikah itu tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran rasional. Aku hanya yakin, perempuan ini yang akan menemaniku hingga akhir hayat. Lalu aku mengajukan proposal, diterima, dan kami melanjutkan proses hingga jenjang pernikahan. Aku pernah mendengar cerita dari Dega, bahwa suatu hari, pernah ada yang mendoakannya: "Semoga ada laki-laki yang kelak mengangkat derajatmu, Nak." Doa itu aku tahu, datang dari ibunda Muna, kawan baiknya. Aku terdorong sekali untuk menjadi laki-laki yang dimaksud itu. 

Kami menikah pada tanggal 4 Februari 2012 di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan. Pernikahan kami meriah dan penuh berkah. Prosesi kami diiringi lagu Prancis berjudul L'Hymne a l'amour yang dimainkan oleh pemain violin Ammy Kurniawan. Pernikahan kami dihadiri banyak sekali orang, baik orang Bandung maupun Jakarta. 

Di awal pernikahan, Dega langsung mengalah dengan pindah ke Bandung dan meninggalkan pekerjaannya yang cukup mapan di perusahaan asing. Ia mau hidup denganku, yang cuma guru gitar dan dosen honorer dengan gaji seadanya. Selang setahun setengah kemudian, pernikahan kami dikaruniai anak yang lucu dan hebat, yaitu Zulaikha Mawlani Sabana. Seiring dengan kehadiran putri kecil kami itu juga, aku diterima sebagai dosen tetap di Telkom University yang berarti kehidupan kami semakin mapan. 

Menjelang enam tahun pernikahan kami, jalan terjal tidak pernah berhenti kami lalui. Tuhan tidak pernah memberi kemudahan, karena Ia tahu betapa kuatnya kami menghadapi cobaan. Dega dan Ayka, panggilan untuk putriku, selalu ada untuk mendukungku dalam berbagai keadaan - termasuk ketika memutuskan berhenti dari Telkom University karena tekanan -. 

Dega bekerja di rumah, dan mungkin ia tidak percaya, betapa aku selalu bangga dengan pekerjaannya tersebut. Bekerja mencari uang di luar adalah bagus, tapi bekerja di rumah adalah membangun peradaban, membangun sebuah fondasi kuat bagi kehidupan. Seorang seniman rupa Malaysia pernah berkata padaku, "Institusi pendidikan terbaik, adalah rumahmu sendiri." Ayka tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas. Di sisi lain, aku pun tidak butuh waktu lama untuk kembali dari keterpurukanku pasca mundurnya aku dari Telkom University. Ini semua berkat "tangan tak terlihat" yang disentuhkan Tuhan melalui istriku. 

Seperti semua manusia di dunia, istriku juga punya kelemahan. Kelemahannya adalah karena ia tidak seperti teman-temanku yang berpikiran tentang feminisme, ateisme, sosialisme, atau apalah isme-isme-isme itu. Kelemahan istriku adalah ia berpikir sangat sederhana: bahwa yang terpenting baginya, adalah hidup untuk keluarga. Pengabdian totalnya itu tampak menjadi sebuah kedangkalan pemikiran di tengah arus zaman yang serba kompleks dan pragmatis ini. 

Namun itu dulu. Sekarang, aku menyadari dengan sepenuh hati: Pengabdian adalah hal terpenting dalam hidup ini. Kumbakarna berharga hidupnya karena mengabdi pada negara. Yudhistira berharga hidupnya karena mengabdi pada anjingnya. Iblis dinilai suci akidahnya oleh sufi bernama Al Hallaj karena ketika ia diminta menyembah Adam oleh Tuhan, iblis enggan. Ia tetap mengumumkan pengabdiannya pada Tuhan. Pengabdian adalah hal terpenting dalam hidup ini. Karena demikianlah setinggi-tingginya suatu lompatan iman. 

Terima kasih istriku, atas seluruh pengabdianmu. Sekarang tiba saatnya, aku mengabdikan sisa hidupku, kepadamu. 


Continue reading

Thursday, October 12, 2017

Kontemplasi Warung Bubur bersama Ismet Ruchimat

Kontemplasi Warung Bubur bersama Ismet Ruchimat
Sudah lama tidak menulis untuk blog pribadi. Dalam nyaris setahun belakangan ini, saya sedang aktif dan terlibat dengan proyek Pemerintah Kota Bandung yang bernama SeniBandung #1. Acara yang melibatkan ribuan seniman dan berlangsung selama satu bulan di berbagai titik tersebut, membuat saya menjadi kenal lebih banyak orang. Salah satunya adalah rekan di tim kurator musik, Kang Ismet Ruchimat, seorang komposer dan multi-instrumentalis bagi kelompok yang sudah sangat dikenal baik secara nasional maupun internasional, Sambasunda. Kami sering bercakap-cakap tentang banyak hal, namun seringnya via Whatsapp - begitupun ketika merumuskan sejumlah hasil kurasi dan program bagi SeniBandung, umumnya juga, lewat Whatsapp -. 

Barulah kemarin saya mendapat kesempatan untuk ngobrol panjang lebar dengan Kang Ismet, di suatu malam pasca menyaksikan resital karawitan sebagai tugas akhir dari para mahasiswa di ISBI Bandung. Kang Ismet, yang merupakan penguji bagi resital tersebut, tidak langsung pulang setelah kegiatan. Kami nongkrong dulu di warung bubur di pinggir jalan, tepatnya di trotoar depan kampus ISBI. Ngobrol selama kurang lebih satu jam tersebut menghasilkan sejumlah pencerahan penting bagi saya. Kang Ismet, komposer yang sudah mendunia, yang secara reguler memberi kuliah di Amerika Serikat, memberi sejumlah asupan, yang jika disarikan barangkali hematnya adalah sebagai berikut:

1. Industri dan segala upayanya dalam mencari keuntungan (baca: kapitalisme) sering dituduh sebagai biang kerok dalam perkembangan musik - terutama karena kapitalisme ini nampak seperti mengangkat serta menguntungkan musik-musik tertentu saja -. Kang Ismet melihatnya bahwa itu hanya salah satu pikiran saja. Ada pikiran lain yang lebih berimbang: Kapitalisme adalah bagian dari medan sosial yang justru bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi musik tertentu, terutama yang dianggap marjinal. Bagaimana caranya? Tentu saja, kemasan musik itu sendiri, harus sedikit berdamai dengan kecenderungan pasar - tanpa juga harus menghilangkan identitas yang hendak ditonjolkan -. Contohnya musik Sambasunda, pendengar yang paham musik tradisi akan bisa menyerap musiknya, pun bagi mereka yang selama ini cenderung mendengarkan musik-musik populer. Artinya, kapitalisme, kata Kang Ismet, tidak perlu serta merta dimusuhi. Kenyataannya, jika berhasil dirangkul, maka kapitalisme akan menjadi elemen penting bagi kemunculan musik-musik tertentu. Misalnya, harus diakui, musik-musik seperti jazz, country, hingga metal, mungkin kita sekarang mengenalnya, suka tidak suka, adalah pengaruh dari beberapa kelompok yang sukses menembus industri. Dimulai dari mendengarkannya dalam konteks populer itulah, kemudian berikutnya kita jadi tertarik untuk mendalaminya. 

2. Dalam musik ataupun seni pada umumnya, sikap kebaruan merupakan hal yang penting. Istilah-istilah seperti kontemporer (membaca kekinian) atau avant garde digadang-gadang sebagai bentuk acuan dalam berkarya. Intinya, berkarya itu, harus mengacu pada pembacaan yang sekarang, atau bergerak ke depan - yang dalam arti kata lain, berupaya meninggalkan apapun yang dianggap lampau -. Kang Ismet punya pemikiran lain. Bahwa istilah waktu tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, harus disikapi dalam kacamata yang holistik. Menggali "masa lalu" (baca: tradisi), pada kacamata tertentu, bisa dipandang sebagai sikap yang justru paling avant garde. Misalnya, contoh sederhana: konsep mikrotonal (interval yang lebih kecil dari semitone), yang digadang-gadang sebagai salah satu ciri penting dalam sikap kontemporer atau avant-garde, sebenarnya sudah begitu purba dalam khazanah musik tradisi, contohnya, musik gamelan. Penalaan yang "tidak persis sama" satu sama lain merupakan ciri yang sudah lama dipertahankan pada musik-musik tradisi, demi menghasilkan suatu luaran bunyi yang khas. 

Begitulah, sekilas. Bubur ayam ini sangat enak. Ditambah juga, si penjual, menyediakan bala-bala dan juga susu jahe. Tidakkah warung tersebut, begitu avant garde?

Continue reading

Sunday, August 27, 2017

Jantan: Antara Adu Domba, Maskulinitas, dan Manifestasi Digital

(Ditulis sebagai pengantar kuratorial untuk pameran Aci Andryana di Sekolah Tinggi Desain Indonesia, 29 Agustus 2017)

Dalam esai berjudul Cock Fight and The Balinese Male Psyche yang ditulis oleh Arthur Asa Berger pada tahun 2007, disebutkan bahwa aktivitas adu ayam di Bali tidak hanya mempunyai aspek hiburan saja. Bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pertunjukkan tersebut, terdapat dimensi lain seperti sosial, religius, hingga seksualitas yang juga turut berperan. Terkait dengan yang disebutkan terakhir, dalam penelitian Berger, secara spesifik disebutkan bahwa adu ayam secara tersirat mengandung glorifikasi atas maskulinitas. Ada kebanggaan yang besar bagi pemilik ayam, ketika ayamnya dielu-elukan oleh para penonton. Pun ketika darah mulai bermuncratan dalam pertarungan, ada semacam kepuasan yang disebut Berger sebagai “orgasme psikologis”. 

Adu ayam dengan adu domba tentu tidak sedemikian jauh berbeda. Pada dasarnya, keduanya punya fungsi yang sama dalam menyalurkan hasrat dan memupuk ego laki-laki. Aci Andryana, yang punya ketertarikan khusus terhadap pertunjukkan adu domba, kemudian mencoba menangkap dan memanifestasikan segala emosi yang timbul lewat sejumlah karya rupa dengan teknik digital. Aci memberi judul pamerannya dalam sebuah kata yang kuat – mencerminkan psyche pria yang paling dasar dan gelap -: Jantan

Meski hasil akhir karya ini berupa digital, namun sebenarnya terdapat proses analog yang panjang di baliknya. Misalnya, Aci melibatkan teknik sapuan tinta cina dan juga cukil kering (drypoint) dalam beberapa tahapan. Memang kemudian, di tengah-tengah tahapan tersebut, aspek digital selalu disisipkan. Misalnya, dalam hal penggabungan hasil fotografi yang berisi peristiwa adu domba dengan sapuan tinta cina untuk kemudian dipindai agar menjadi suatu komposisi yang unik. 

Namun ada proses yang mesti dititikberatkan sebagai sintesa yang penting antara konsep psyche pria yang ada dalam adu domba dengan hasil akhir karya Aci: Kenyataan bahwa Aci, sang seniman, mengerjakan bagian drypoint dengan suatu totalitas emosi yang ditumpahkan – seolah-olah ia ada di dalam peristiwa adu domba: menghayati, menjadi, dan melebur dengan segala dinamikanya-. 

Dengan segala proses yang penuh lapis tersebut, mengapresiasi karya-karya digital Aci Andryana dalam pameran Jantan ini ibarat menyaksikan pertunjukkan adu domba dengan segala kenikmatannya. Dalam tataran permukaan tampak sebagai sebuah sajian yang nyaman dan aman, namun di baliknya, ada gejolak yang gelap dan dalam: Manifestasi hasrat laki-laki yang oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, digambarkan sebagai penyuka sejati segala bentuk permainan dan bahaya. 


Continue reading

Thursday, August 10, 2017

Museum, Komunitas, dan Ranah Publik

*) Dipresentasikan di acara "Seminar 128: Bersama Museum Rekatkan Kebhinekaan", Museum Geologi Bandung, 12 Agustus 2017. 



Mari memulai tulisan ini dengan sesuatu yang jauh dari perbincangan tentang museum. Para penggemar sepakbola tentu tahu Arsene Wenger, pelatih tim sepakbola Liga Inggris, Arsenal. Di masa mudanya, ia adalah orang yang kerap menyempatkan diri untuk pergi ke bar dan menonton sepakbola di sana bersama banyak orang (istilah zaman sekarang mungkin “nobar”). Seperti biasa kita dapati ketika nobar Persib misalnya, masing-masing bobotoh tentu berkomentar, meski hanya berupa celetukan, tentang bagaimana harusnya tim kesayangannya bermain. “Harusnya dia bermain di sayap!”, “Harusnya penyerang itu diganti!”, “Harusnya pemain lawan itu dijaga lebih ketat!” begitu mungkin ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar ketika nobar. Lalu Wenger mengatakan dengan jujur, “Saya belajar dari celetukan-celetukan orang di bar tentang taktik sepakbola.” 

Pengakuan tersebut bisa jadi cukup mengejutkan. Barangkali diantara kita membayangkan -dengan taktiknya yang sedemikian canggih dan mengubah banyak perwajahan sepakbola Liga Inggris-: Wenger mempelajari itu semua lewat buku ataupun video berkualitas yang ia pelajari setiap hari di kamarnya. Namun ternyata sebaliknya, taktik brilian yang sering kita saksikan lewat permainan indah tim Arsenal, ternyata muncul dari “ocehan orang mabuk”. 

Ranah Publik 

Cerita tentang Wenger di atas menjadi jalan masuk tentang bagaimana kita memahami ranah publik (public sphere). Ranah publik, menurut pemikiran Jurgen Habermas (lahir tahun 1929), adalah area tempat orang dapat berkumpul dan membicarakan banyak hal. Namun yang dibicarakan ini, secara spesifik, bertalian dengan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya - yang intinya, bisa mengarah pada suatu pikiran bersama yang kuat tentang fenomena yang sedang terjadi-. Mana saja ranah publik itu? Tentu ada macam-macam area yang bisa ditunjuk. Habermas menyebut beberapa contoh dari sekitar abad ke-18 dan abad ke-19, seperti coffee houses di Inggris, salon di Prancis, ataupun tischgesselschaften di Jerman. 

Tempat-tempat nongkrong itu, meski awalnya didominasi oleh kaum borjuis, kemudian menjadi elemen penting bagi perkembangan opini publik. “Demokrasi yang sehat,” kata Habermas, “adalah demokrasi yang mau mendengarkan pendapat-pendapat dari ranah publik.” Pada titik tertentu, jika kita kembali ke Wenger, ternyata pelatih asal Prancis tersebut tidak salah sama sekali ketika mendengarkan “ocehan orang mabuk” di bar. Ia memang sedang mengikuti perkembangan opini publik yang paling demokratis dan mengelaborasi itu semua ke dalam suatu “kebijakan taktik” yang kuat. 

Habermas menyoroti ranah publik itu, secara evolutif, memang berkembang dari kaum borjuis. Pada abad ke-18, terdapat dorongan dari kalangan mereka sendiri untuk membuka akses bagi lebih banyak orang agar dapat mendengarkan perkembangan isu politik dan ekonomi terbaru. Kaum borjuis itu membuka macam-macam tempat untuk berkumpul, seperti misalnya kafe ataupun kedai kopi (sambil tetap berdagang tentunya). Intinya, sambil berwirausaha, mereka dapat lebih banyak mendengar gosip atau rumor, sambil sesekali tentu juga mengadakan pertemuan serius. 

Namun setidaknya, menurut Habermas, ada sebuah “revolusi” di Eropa: Ruang-ruang diskusi yang di luar kontrol pemerintah menjadi berkembang. Di ranah publik tersebut, orang bebas membicarakan apa saja, dari mulai ngalor ngidul hingga akhirnya membentuk sikap politik tertentu. Revolusi Prancis yang mengubah perwajahan Eropa pada abad ke-18, disebut-sebut dimulai dari ranah publik bernama salon. 

Museum: Transformasi Ruang Publik Menjadi Ranah Publik 

Museum, dalam kategorisasi pakar tata ruang, Matthew Carmona, bisa dimasukkan ke dalam ruang publik internal atau juga bisa ke dalam ruang publik kuasi. Ruang publik internal artinya fasilitas umum yang dikelola pemerintah tapi dapat diakses oleh warga secara bebas. Misalnya, kantor pos, kantor polisi, rumah sakit, atau pusat pelayanan warga lainnya. Sedangkan ruang publik kuasi artinya sektor privat yang dibolehkan diakses publik selama taat pada aturan yang cukup ketat seperti mal, diskotik, ataupun restoran. Namun yang pasti, agak sulit menggolongkan museum ke dalam ruang publik eksternal yang sangat terbuka dan bebas seperti taman kota atau alun-alun. 

Dengan menyetujui bahwa museum merupakan ruang publik, maka definisi “publik’ itu sendiri mulai di-re-definisi. “Publik” tidak lagi terkait dengan pengunjung museum yang ingin melihat koleksi-koleksi yang dipajang. “Publik” juga bergerak ke arah komunitas. Melibatkan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang punya kesamaan cara pandang, semangat, dan visi misi, untuk membuat kesan bahwa museum juga bergerak turun ke masyarakat untuk mengedukasi – tidak hanya secara pasif menunggu masyarakat datang ke museum-. Contoh keterlibatan komunitas di museum bisa dilihat di Museum Geologi yang mempunyai Museum Care atau Museum Konperensi Asia Afrika yang mempunyai SMKAA (Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika). 

Kondisi-kondisi ini sebenarnya sudah sangat memungkinkan untuk mencipta sebuah ranah publik yang kondusif. Sekurang-kurangnya, Habermas mensyaratkan adanya tiga hal: (1) status yang tidak dikukuhkan (museum jangan menyebut diri sebagai semata-mata tempat masa lalu atau peradaban), (2) ada kegelisahan bersama tentang suatu keadaan (seperti halnya diskusi museum 128 yang mengangkat kebhinekaan di Museum Geologi atau Asian African Reading Club di Museum Konperensi Asia Afrika yang mengangkat pemikiran-pemikiran Bapak Bangsa) serta (3) bersifat inklusif (dengan mengajak komunitas, artinya, sudah ada upaya keluar dari cangkang eklusivitas). 

Berdasarkan prakondisi menurut Habermas tersebut, agaknya museum memang harus mulai bertransformasi dari ruang publik (public space) ke ranah publik (public sphere). Museum, lewat komunitas yang bermukim di dalamnya, harus “menggigit” lewat pemikiran-pemikiran yang ambil bagian dalam demokrasi. Bukan artinya museum harus berpolitik, tapi sekurang-kurangnya, museum punya keberpihakan pada suatu keadaan. 

Misalnya, secara filosofis, isu waktu senggang yang habis dikomodifikasi oleh kafe (dalam terminologi masa kini tentunya, bukan terminologi abad ke-18) sehingga tempat nongkrong tidak produktif menghasilkan suatu pemikiran yang penting, harus menjadi bahan pikiran museum untuk lebih mendekatkan dirinya pada generasi hari ini (baca: milenial). Isu lain seperti kebhinekaan, kepedulian sosial, pendidikan, kebudayaan digital, dan sebagainya, juga harus dibaca oleh museum dengan kemasan yang khas lewat keterlibatan publik yang intensif. Museum sudah saatnya tidak berkubang dalam imej cerita tentang masa lalu. Sekarang ini, museum segera dibutuhkan untuk memberi perubahan pada masa depan. 

Museum harus sampai pada titik: “Ocehan orang mabuk” yang didengar oleh Wenger (baca: pemerintah dan masyarakat). 



Daftar Pustaka  

  • Carmona, Matthew. (2003). Public Places, Urban Places: The Dimensions of Urban Design. New York: Architectural Press. 
  • Habermas, Jurgen. (1991). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry Into a Category Into a Borgeuis Society. Massachusetts: MIT Press. 
  • Hardiman, Budi. (2010). Ruang Publik: Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius.
Continue reading

Friday, August 4, 2017

Masa Depan dan "L'Avenir"


Gambar diambil dari sini.

Dalam film dokumenter tentang Jacques Derrida, pemikir kontemporer Prancis tersebut mengungkapkan pikirannya mengenai masa depan di bagian pembuka film: 

In general, I try and distinguish between what one calls the Future and “l’avenir” [the ‘to come]. The future is that which – tomorrow, later, next century – will be. There is a future which is predictable, programmed, scheduled, foreseeable. But there is a future, l’avenir (to come) which refers to someone who comes whose arrival is totally unexpected. For me, that is the real future. That which is totally unpredictable. The Other who comes without my being able to anticipate their arrival. So if there is a real future, beyond the other known future, it is l’avenir in that it is the coming of the Other when I am completely unable to foresee their arrival.

Saya tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan Derrida, hingga sejak tiga bulan terakhir ini mulai menjalani hidup serabutan. Pada sekitar bulan Mei kemarin, saya mengajukan surat pengunduran diri ke institusi yang sudah menghidupi saya selama lebih dari tiga tahun. Dengan demikian, sambil mencari-cari pelabuhan baru, saya mencoba macam-macam cara untuk mendapatkan uang seperti banyak memperbaharui blog agar traffic-nya meningkat (sehingga bisa punya pemasukan dari AdSense), menjadi kontributor untuk situs olahraga dan gaya hidup, membuka kursus gitar di rumah sendiri, hingga mendaftarkan diri jadi pengemudi taksi online. Keseluruhan upaya tersebut saya lakukan sambil tetap mencari kemungkinan untuk menjadi dosen lagi di institusi yang baru.

Pada perjalanan itulah, saya menemukan banyak orang yang tidak terduga. Orang-orang yang seperti kata Derrida, kedatangannya tidak bisa saya antisipasi. Misalnya, tiba-tiba hadir seseorang yang meminta saya untuk menjadi penulis di situsnya. Meski bayarannya relatif kecil, tapi kehadiran orang ini tiba-tiba datang begitu saja. Menyeruak di tengah hari yang bolong. Lalu di hari lain datang SMS dari perusahaan taksi online, yang meminta saya datang di suatu hari dengan menggunakan baju rapi dan membawa persyaratan. Lalu ada juga tawaran mengajar di kafe, hingga bermain gitar di depan Presiden Jokowi. Sampai akhirnya bertemu Romo Fabianus Heatubun, yang dengan senang hati menerima jika saya mau mengajar di almamater, Universitas Katolik Parahyangan. Sampai akhirnya bertemu Pak Dicky Rezadi Munaf, yang hanya meminta waktu dua menit presentasi, untuk kemudian bertanya, "Maukah mengajar di sini, di ITB?"

Orang-orang itulah yang mungkin menurut Derrida digolongkan sebagai bagian dari "l'avenir". Berbeda dengan situasi ketika saya masih bekerja tetap. Segalanya terlalu terprediksi: Saya tahu kira-kira akan dapat berapa setiap bulan, ada tambahan berapa di musim tertentu, hingga dana kesehatan dan pensiun pun sudah disiapkan. Menyenangkankah hidup berbasis "futur" yang semacam itu? Tentu saja. Umumnya dari kita memang mengincar hidup yang ajeg dan pasti bahkan hingga mati nanti. Alangkah rumitnya jika kita terus berharap bagaimana hidup hari ini dengan menunggu siapa yang hadir secara tiba-tiba dalam konsep "l'avenir" yang disebutkan oleh Derrida.

Tapi bagi saya pribadi, ada perasaan spiritual yang berbeda ketika hidup dalam dua konsep masa depan yang berbeda itu -"futur" dan "l'avenir"-. Pada hidup yang bersandar pada kepastian, saya kadang merasa ada sisi keimanan yang kurang. Begitu tidak yakinnya saya pada kehidupan, sehingga harus menggantungkan diri pada hitung-hitungan manusia. Sedangkan pada hidup yang tidak jelas dan serabutan, ada suatu keyakinan yang harus dibawa penuh setiap hari: Bahwa kehidupan akan memberkati saya hari ini. Kehidupan akan mempertemukan saya dengan orang tak terduga yang akan membawa saya ke tempat-tempat yang juga tak terduga. Hanya dengan melepaskan seluruh kepastian itulah, kehidupan akan mendorong kita pada konsep "l'avenir". Masa depan yang sebenarnya.



Continue reading

Saturday, July 1, 2017

Buku dan Dunia Akademik (Tertentu)

Untuk Menyindir

Dalam suatu pertemuan santai, saya mengajukan pertanyaan pada Pak Yasraf (Amir Piliang), "Pak, bagaimana menghadapi pelabelan dari orang lain terhadap kita? Misalnya, pelabelan komunis ataupun liberal." Dengan gaya yang santai, beliau menjawab singkat, "Biar saja, karena mereka yang melabeli itu, tidak menakar kita dalam konteks akademik." Lalu dialog pun berlanjut ke sesi imajiner, dengan saya mengajukan pertanyaan tambahan, "Tapi bagaimana jika yang melabeli itu adalah orang-orang yang setiap harinya ada di wilayah akademik?" Saya bisa membayangkan Pak Yasraf tersenyum kecut, geleng-geleng kepala, sambil berkata, "Eta mah lieur atuh!"

Label-label tersebut kadang datang entah dari mana. Bisa jadi, hanya dari aktivitas-aktivitas yang kelihatannya parsial saja: membaca buku, menulis status di media sosial, ataupun terlibat dalam sejumlah kegiatan. Memang, aktivitas-aktivitas tersebut bisa jadi dasar penilaian orang lain terhadap kita. Tapi tidak bisa hanya berlandaskan pada pengetahuan yang dangkal dan kira-kira, lalu masuk begitu saja ke pelabelan-pelabelan serampangan.  

Salah satu yang paling sering menjadi dasar pelabelan adalah membaca buku. Misalnya, dia membaca buku tentang ateisme, berarti dia ateis; dia membaca buku tentang komunisme, berarti dia komunis; dia membaca buku tentang Wahabi, berarti dia seorang Wahabi, dan seterusnya. Buku sering dianggap sebagai pencuci pikiran paling utama. Buku sering dituduh biang keladi mengapa seseorang berubah dan mengapa seseorang menjadi punya ideologi ini dan bukan itu. Walhasil, pada kesempatan tertentu, membaca buku menjadi dianggap aktivitas (paling) berbahaya. 

Namun, seperti halnya dialog imajiner di atas, memang kenyataannya, dunia akademik (tertentu), yang harusnya lekat dengan buku dan dinamika pemikiran, ironisnya, juga punya sisi yang lain. Mereka justru yang paling punya kemampuan (dan otoritas) untuk melabeli seseorang atas buku yang dibacanya. Padahal, kita semua tahu, alih-alih melakukan pengambilan kesimpulan secara serampangan, dunia akademik juga mengenal yang namanya keraguan, kehati-hatian, pengumpulan data dan informasi, hingga membuat konklusi dengan rendah hati (karena sadar nantipun akan dikritisi). 

Padahal, buku kadang "gak segitunya". Saya baca riwayat Genghis Khan dari SD, tapi tidak menjadi agresor; saya baca biografi Einstein dari SMP, tapi tidak menjadi ilmuwan fisika; saya baca Karl Marx di masa kuliah - memang sempat bertengkar dengan guru ngaji- tapi toh hingga hari ini saya belum melakukan revolusi proletariat apapun. Bahkan, saya membaca Robert T. Kyosaki, tapi tidak kunjung menjadi kaya raya. Artinya, buku tak perlu ditakuti. Ada perangkat dalam diri kita yang tidak sedemikian kosong melompongnya (baca: bodohnya) sehingga apa yang kita baca pasti akan difotokopi secara sempurna. Manusia punya akal budi, pengalaman, insting, wawasan-wawasan sebelumnya, lingkungan yang semuanya mampu menerjemahkan pikiran-pikiran orang lain dengan suatu tafsir yang baru dan menarik -tidakkah begitu cara ilmu pengetahuan berkembang?-

Apakah dunia akademik (tertentu) harusnya tahu hal tersebut? Tentu saja, bahkan harusnya tak perlu lagi dituliskan di sini, karena ini sama halnya mengajari kucing untuk menjilati kukunya sendiri. Dunia akademik harusnya menjadi dunia yang paling terbuka dalam aktivitas membaca buku. Mereka harusnya gembira jika civitas academica-nya terdiri dari insan-insan pembaca buku. Magna Charta Universitatum yang ditandatangani oleh 430 rektor dari universitas-universitas di seluruh dunia tahun 1988 adalah berisi tentang kebebasan akademik - yang seyogianya, tentu, mengarah pada kebebasan membaca-. 

"Tapi Pak, mereka kan belum mengerti yang begituan. Baiknya, jangan disuruh baca-baca yang beginian dulu. Nanti tafsirnya jadi salah, mereka jadi begituan, lalu beginian." Begitulah kira-kira larangan yang mungkin muncul dari insan akademik yang sedemikian mencederai prinsip-prinsip keilmuan, sehingga hanya mampu menyebut suatu konsep hanya dengan "beginian" dan "begituan" - menunjukkan bahwa ia tak sedemikian paham konsep tersebut-. 

Di wilayah akademik (tertentu) hari ini, aktivitas membaca menjadi demikian menakutkan sehingga marwah universitas yang harusnya merupakan kawah candradimuka bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, sekarang berubah menjadi aparat yang represif. Pelabelan-pelabelan disematkan, untuk seolah-olah menciptakan musuh akademik dan malah musuh masyarakat. Buku-buku yang tadinya gudang ilmu pengetahuan, kemudian bisa menjadi sekumpulan alat bukti untuk memperkuat tuduhan.

Dari saya, yang pernah (atau masih) kalian tuduh. 


Continue reading

Sunday, June 25, 2017

Masih Adakah Nuansa Personal Dalam Pusaran Digitalisasi Maaf-Maafan?

Lebaran tahun 1438 Hijriah ini, dunia digital masih dan semakin berkuasa. Nyaris setiap menit (atau bahkan detik), pesan demi pesan masuk ke Whatsapp saya, yang kadang saya baca, tapi umumnya tidak. Kenapa tidak dibaca? Tentu saja, karena pesan itu semua terlihat sama saja. Mungkin ada beberapa yang kreatif - yang menimbulkan senyum kecil, yang membuat saya ingin meneruskan pesan itu - tapi sayang sekali, tidak orisinil. Ia yang saya pikir kreatif itu, juga meniru dari yang lain. 

Tapi dalam dunia kontemporer ini, mungkin orisinalitas adalah isu yang ketinggalan. Semua memproduksi, semua mengonsumsi. Di masa lebaran, kita berada dalam pusaran "digitalisasi maaf-maafan" yang sangat masif, sehingga semua bisa kreatif, semua bisa inovatif, semua bisa merajut kata-kata indah, semua bisa menyuguhkan ragam visual yang estetis, tapi sekaligus: semua menjadi tidak bermakna.

Pada titik ini, kita sudah sulit berbicara "medium is the message"-nya Marshall McLuhan yang mungkin menjadi terlampau romantis. Kemarin-kemarin ini memang ada yang kirimi saya kartu lebaran dan rasanya sangat indah dan personal - meski pesannya sederhana, tidak dirangkai kata-kata manis-: hanya tulisan "Selamat Idul Fitri" dengan tertanda dari si pengirim dengan tulisan tangan. Tapi hampir tidak mungkin kita membudayakan kembali (atau menyuguhkan solusi berupa) kartu lebaran atas nama personalisasi maaf-maafan. Jika sudah ada yang praktis, tentu orang sudah tidak mau lagi kembali ke yang rumit (proses membeli kartu, menuliskan pesan, dan mengirimkan via pos atau gojek). 

Sisa-sisa makna yang masih tinggal di pusaran digital ini barangkali pesan-pesan sederhana yang masuk ke gawai saya, dengan bunyi-bunyi seperti:

"Rip, maaf lahir batinnya, urang rea salah."
"My bro, selamat hari raya Idul Fitri ya."
"Selamat idul fitri untuk Mr. Syarif, mami Aika, Aika dan family. Mohon maaf lahir dan batin."

Dan sebagainya yang punya nuansa personal yang kuat. Mungkin memang diantaranya hanya mengganti subjek yang disapa saja (sedangkan kata-kata berikutnya tinggal copy-paste saja), tapi toh, seperti kata pemikir Neo-Marxisme, Louis Althusser, perbuatan itu sedikitnya telah menciptakan suatu nilai interpelatif atau "keterpanggilan". Artinya, jangan dulu berpikir apakah ketika kita mengirimkan pesan lebaran, orang yang menerima akan memaafkan kita atau tidak. Jauh lebih dasariah daripada itu, patut kita pertanyakan terlebih dahulu: Apakah yang menerima pesan, merasa terpanggil (untuk membaca dan meresapinya) atau tidak.



Continue reading

Tuesday, June 13, 2017

Menunda Asumsi, Melesapi Peristiwa: Selayang Pandang Konsep Fenomenologi dalam Pandangan Husserl dan Caputo



Pada awal abad ke-20, muncul benih-benih perlawanan terhadap paradigma positivisme dalam ilmu pengetahuan. Cara pandang yang sudah sedemikian lekat sejak era Francis Bacon di abad akhir ke-16 tersebut dianggap tidak mampu menjawab sejumlah permasalahan. Protes mulai bermunculan ketika Auguste Comte, seorang sosiolog Prancis di abad ke-19, menyerukan dengan sangat yakin, bahwa sebagaimana halnya alam yang bisa diprediksi dan dikontrol, manusia pun akan sampai pada tahap yang demikian. Majunya ilmu pengetahuan, bagi Comte, akan membawa manusia keluar dari fase teologis dan metafisik, sehingga masuk ke suatu era yang paling cerah: era positif. Pada titik ini, sederhananya, segalanya menjadi jelas dan bisa dijelaskan, baik fenomena alam maupun fenomena manusia. 

Protes tersebut datang dari beberapa kubu. Wilhelm Dilthey misalnya (1833 – 1911), membedakan tegas antara ilmu-ilmu alam (naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu manusia (geisteswissenschahften). Ilmu-ilmu alam, menurut Dilthey, dipahami melalui penjelasan (erklären) sedangkan ilmu-ilmu sosial dipahami melalui pemahaman (verstehen). Artinya, pola penafsiran ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial mesti dibedakan dan tidak bisa dipukul rata seperti positivisme Conte. 

Edmund Husserl (1859 – 1938), di wilayah lain, mengajukan konsep fenomenologi untuk menambal lubang-lubang yang tidak bisa ditutup oleh positivisme. Menurut matematikawan Jerman tersebut, dunia pengalaman keseharian manusia yang muncul di dalam dunia-yang-ditinggalinya (lebenswelt) tidak bisa dijelaskan begitu saja oleh positivisme. Harus ada pendekatan baru yang sarat nilai (bukan bebas nilai), (inter) subyektif (bukan obyektif), dan penuh empati (bukan berdiri di luar). Konsep sentral dalam fenomenologi adalah epoché atau tanda kurung. Husserl selalu mengingatkan pentingnya memasukkan segala asumsi-asumsi ke dalam tanda kurung sebagai bentuk penundaan kesimpulan. Makna terdalam, kata Husserl, hanya akan timbul jika kita tidak melihat lewat kacamata yang sudah kita pakai sebelumnya. 

Fenomenologi Agama 

Pada ranah teologi, kemudian muncul juga istilah fenomenologi agama. Kata “fenomenologi” ini sebenarnya tidak mengacu pada Husserl, tapi pada G.W.F. Hegel yang sudah menggunakannya terlebih dahulu di periode Romantik Eropa. Fenomenologi agama dikembangkan awal mulanya oleh Pierre Daniël Chantepie de la Saussaye (1848-1920), William Brede Kristensen (1867-1953) dan Gerardus van der Leeuw (1890-1950). Inti fenomenologi agama adalah memahami keberbedaan dalam beragama berdasarkan pengalaman-pengalaman personal individu ataupun kelompok yang memeluknya. Meski tidak dilahirkan dari rahim yang sama, namun prinsip epoché tetap ada dalam fenomenologi agama: harus ada proses menunda asumsi dan meletakannya dalam tanda kurung, sehingga fenomena keberagamaan dapat dipahami secara empatik dan inter-subyektik. 

Ketimbang dua nama lain, Van Der Leeuw dapat dikatakan sebagai peletak dasar fenomenologi agama yang lebih sistematis – dicurigai karena ia sudah kena terpaan dari Husserl -. Dalam bukunya yang berjudul Religion in Essence and Manifestation: A Study in Phenomenology of Religion, ia menyebutkan langkah-langkah penggalian makna keagamaan, dengan prinsip epoché sebagai sentral. Langkah-langkah itu antara lain: (1) Pengklasifikasian. Termasuk ke dalam apakah fenomena keagamaan yang hendak diketahui, apakah kurban, tempat suci, waktu suci, teks suci, festival, mitos, dan sebagainya. (2) Keterlibatan. Makna hanya bisa dikuak jika kita masuk ke dalam fenomena itu sendiri – menjadi bagian darinya –. (3) Epoché. Menahan asumsi dan menunda kesimpulan tentang fenomena tersebut jangan sampai kita terburu-buru – biarkan fenomena yang “berbicara” tentang dirinya sendiri -. (4) Mencari hubungan fenomena dengan struktur yang lebih besar agar pemahaman kita dapat lebih holistik. Misal: puasa adalah bentuk asketisme yang ada hampir di semua agama besar. (5) Melakukan pendekatan interdisiplin dengan melibatkan tradisi pemikiran lain seperti filsafat, psikologi, antropologi, hingga linguistik agar kompleksitas fenomena dapat diurai dengan jernih. 

Fenomenologi Agama John D. Caputo: Tuhan sebagai Yang Lemah dan “Membelum” 

John D. Caputo (lahir tahun 1940) adalah filsuf asal Amerika Serikat yang menggeluti teologi dari kacamata posmodernisme. Ia begitu dekat dengan pemikiran filsuf Prancis, Jacques Derrida, terutama mengenai dekonstruksi – beberapa kali juga mereka pernah tampil satu forum -. Pendekatan Caputo sangat erat dengan teologi negatif (apofatik) yang kuat kaitannya dengan prinsip epoché. Teologi negatif, pada dasarnya, merupakan teologi yang mendekati konsep Tuhan dengan “yang bukan” (lawannya adalah teologi positif atau teologi katafatik yang mendekati konsep Tuhan dengan “adalah”). 

Ini mungkin bisa kita bayangkan dengan bagaimana seorang peneliti fenomenologi, jika ia sedang berhadapan dengan fenomena, ia harus senantiasa menempatkan asumsi-asumsi ke dalam epoché sambil terus menegasi dengan berkata “yang bukan”. Misalnya, jika menjadikan sendal sebagai objek penelitian fenomenologi, maka peneliti tersebut harus senantiasa membuang asumsi, dan terus menegasi dengan mengatakan bahwa sendal adalah “bukan (semata-mata) alas kaki” dan “bukan (semata-mata) komoditi”. Sendal mungkin punya makna yang lebih daripada itu, jika diselami secara total, misal: ekspresi ritual shalat di Indonesia. 

Caputo menawarkan konsep weak theology sebagai implementasi dekonstruksi, teologi apofatik, sekaligus fenomenologi yang menjadi dasar pemikirannya. Ia ingin melihat Tuhan bukan lagi yang Maha Kuat, Maha Absolut, dan Maha Segalanya. Pandangan-pandangan tentang Tuhan harus didekonstruksi menjadi yang lemah, terbatas, dan hanya timbul dari pengalaman-pengalaman partikular – pada titik ini, Caputo mulai masuk pada fenomenologi -. Hanya konsep Tuhan dalam weak theology ini, menurut Caputo, yang bisa relevan dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara. Kita akan melihat Tuhan selalu dalam proses “menjadi” dan “membelum” dan seolah-olah kian terdewasakan bersama peristiwa-peristiwa. 

Daftar Referensi 

Connolly, Peter. 1999. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKIS
Heltzel, Peter Goodwin. 2006. The Weakness of God: A Review of John D. Caputo, Weakness of God: A Theology of The Event. http://www.jcrt.org/archives/07.2/heltzel.pdf
Media Stanford Encyclopedia of Philosophy. Phenomenology. https://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/
Van Der Leeuw, Gerardus. 2014. Religion in Essence and Manifestation. New Jersey: Princeton University Press
Continue reading

Sunday, June 11, 2017

Manusia di Hadapan Teknologi: Tuan atau Budak?

Kita sering menyebut abad ini sebagai abad teknologi. Nyaris tidak ada satu hal pun yang kita lakukan tanpa melibatkan bantuan teknologi. Teknologi juga telah membawa kita pada hal-hal yang sulit terbayangkan sebelumnya: Mengetahui berita lintas benua secara langsung, mempublikasikan sebuah pesan serentak ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari sedetik, berkendara melampaui samudera, hingga menembus atmosfer dan melayang-layang di ruang hampa udara. Ketika Era Renaisans bermula pada sekitar tahun 1500-an, masyarakat Eropa mulai mempertimbangkan rasionalitas sebagai pusat dari kehidupan manusia dan mengembangkannya tanpa henti. Hingga abad-abad ke depannya, kredo “manusia mengendalikan alam” terus menjadi sandaran bagi setiap perkembangan teknologi. Umat manusia serta merta ada pada ledakan kegembiraan setiap ada penemuan baru. Mereka percaya bahwa kita semua, seperti kata Friedrich Hegel, berada pada suatu perjalanan menuju pencerahan. 

Namun menjelang abad ke-21, ketika teknologi menjadi semakin canggih, para pemikir tidak lagi fokus pada bagaimana teknologi dapat menaklukkan alam serta menunjukkan kedigjayaan manusia. Neil Postman, Martin Heidegger, Jurgen Habermas, Herbert Marcuse, John Zerzan, hingga Don Ihde, mulai merenungkan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang hilang akibat kemajuan teknologi ini. Pada tulisan ini, hanya akan dibahas sari-sari dari dua pemikir saja, yaitu Postman dan Heidegger. Dari pemikiran dua orang itu, mungkin kita bisa ikut merenungkan pertanyaan yang diajukan dalam judul esai ini, apakah manusia, jika berhadapan dengan teknologi, menjadi tuan atau malah menjadi budak?  

Mendefinisikan Teknologi 

Teknologi tidak selalu terkait dengan hal-ikhwal penemuan abad modern. Pada dasarnya, segala benda yang membantu manusia dalam kehidupan, dapat dikatakan sebagai teknologi –atas dasar itu, teknologi juga dapat dikatakan sebagai “extension of men”-. Kata dasar dari teknologi itu sendiri adalah techne, yaitu istilah dalam bahasa Yunani yang berarti seni, keterampilan, atau kerajinan tangan –jika tangan kita sebut juga sebagai teknologi, apakah kita bisa katakan teknologi sebagai “extension of mind”?-. Atas dasar itu, maka sudah sejak zaman prasejarah, manusia menggunakan teknologi seperti batu, kayu, atau logam. Bahkan sebelum manusia prasejarah berkembang menuju spesies homo erectus (manusia yang berdiri tegak, seperti manusia hari ini), terlebih dahulu mereka mengalami fase homo habilis. Homo habilis diartikan sebagai manusia yang menggunakan alat. Artinya, teknologi, pada dasarnya, mendahului segala peradaban, bahkan kebudayaan.  

Kemudian bagaimana hubungan antara sains dan teknologi? Secara umum mungkin kita dapat menyebutkan bahwa sains ada terlebih dahulu, untuk kemudian lahir darinya sebuah teknologi. Namun tidak selalu seperti itu. Jika direnungkan lebih lanjut, maka sebenarnya teknologi itu sendiri mendorong sains. Kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan mengenai mikroba misalnya, hanya dimungkinkan jika sudah ditemukan teknologi mikroskop. Juga sulit untuk dibuktikan apakah manusia, pada awalnya, menemukan sains atau teknologi terlebih dahulu? Bisa saja ketika manusia prasejarah memburu binatang dengan menggunakan teknologi tombak, ia tidak dalam “kesadaran saintifik”, melainkan semata-mata berlandaskan insting untuk bertahan hidup saja. 

Neil Postman: “Pertukaran Faustian” 

Neil Postman (1931-2003) adalah pemikir yang cukup kritis dalam mengomentari keberadaan teknologi. Ia kerap berpikir bahwa teknologi baru tidak pernah mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah buku mengenai televisi berjudul Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business (1985). Dalam buku tersebut, ia mengatakan bahwa kehidupan masyarakat kontemporer adalah refleksi dari novel karya Aldous Huxley yang berjudul Brave New World (1931). Dalam novel tersebut, digambarkan bahwa kelak, masyarakat akan tertekan bukan oleh kontrol pemerintah – seperti yang dituliskan oleh George Orwell dalam 1984-, melainkan oleh kecanduan akan hiburan. Postman lantas menunjuk sumber candu akan hiburan itu adalah televisi. Meski demikian, yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah bukunya mengenai televisi, melainkan esainya yang berjudul Five Things We Need to Know About Technological Change. Dalam esai tersebut, Postman melontarkan lima hal yang mungkin bermanfaat bagi para audiens: –ia membacakan esai tersebut dalam sebuah konferensi mengenai teknologi-.  


  • Pertama, keberadaan teknologi baru, oleh Postman, dikatakan sebagai “pertukaran Faustian”. Ketika teknologi baru datang, maka ada yang sekaligus dicerabut dari kehidupan manusia. Misalnya, kehadiran teknologi kendaraan bermotor, membawa dampak serius pada pencemaran udara dan keindahan kota; Teknologi medis memang menyembuhkan banyak orang, tapi juga sekaligus berdampak pada jenis penyakit yang juga bertambah; Keberadaan mesin cetak berpengaruh luar biasa. Ia bisa menyebarkan ide-ide seperti misalnya nasionalisme, secara serentak, pada masyarakat. Namun ingat bagaimana nasionalisme di era Romantik berkembang menjadi patriotisme yang merusak. Intinya, ada yang direnggut dari kehidupan kita, ketika teknologi baru hadir.  
  • Kedua, keuntungan yang didapat dari teknologi baru, tidak pernah merata untuk seluruh populasi. Selalu ada yang diuntungkan, ada yang dirugikan, bahkan tidak merasakan apapun. Postman kemudian memberi contoh dengan keberadaan televisi. Menurutnya, televisi tentu mendatangkan keuntungan dengan membuka lapangan kerja baru semisal teknisi, pembawa acara, penyiar berita, hingga para penghibur. Namun di sisi lain, keberadaan televisi menyebabkan, misalnya, –dalam jangka panjang- karir guru sekolah pelan-pelan berakhir. Keberadaan karir guru sekolah, tidak bisa tidak, merupakan efek dari kehadiran teknologi mesin cetak. Namun seiring dengan informasi yang ditebar melalui televisi (yang ia sekaligus juga perlahan menggantikan peran mesin cetak), peran guru sekolah menjadi minim dan informasi-informasi yang ia berikan menjadi kalah intensitas dengan yang diberikan oleh televisi.  
  • Ketiga, teknologi mengubah cara berpikir kita akan dunia. Misalnya, dulu, Raja Solomon disebut sebagai yang paling bijaksana karena mampu mengingat tiga ribu kalimat bijak. Kemudian muncul budaya tulis menulis yang membuat peran ingatan menjadi tidak sepenting sebelumnya. Orang yang suka menulis, ia lebih erat dengan logika dan analisis; orang yang terbiasa dengan telegraf, ia lebih erat dengan kecepatan; orang yang terbiasa dengan televisi, ia lebih erat dengan kesegeraan; orang yang terbiasa dengan komputer, ia lebih erat dengan informasi. Artinya, teknologi mengubah cara kita dalam menggunakan pikiran. Kemana perginya konsep kebijaksanaan Raja Solomon? Mungkin semakin kemari, hal semacam itu semakin mustahil.  
  • Keempat, perubahan yang disebabkan oleh teknologi, adalah perubahan yang bersifat ekologis. Sebagai analogi, apa yang terjadi jika air sebelanga ditetesi tinta merah? Apakah yang terjadi adalah air sebelanga plus tinta merah semata-mata? Tidak, yang terjadi adalah air dalam belanga tersebut keseluruhannya berubah menjadi merah. Artinya –jika dikembalikan pada konteks teknologi-, perubahan yang disebabkan oleh teknologi selalu mengubah lingkungan secara keseluruhan. Ketika mesin cetak ditemukan pada sekitar tahun 1500-an, maka yang terjadi bukanlah wajah Eropa plus mesin cetak, melainkan mesin cetak yang merubah wajah Eropa secara keseluruhan. Ketika Amerika menemukan televisi, maka yang terjadi bukanlah wajah Amerika plus mesin cetak, melainkan seluruh Amerika yang berubah dari berbagai aspek.  
  • Kelima, teknologi dapat berkembang menjadi mitos tersendiri. Tidak semua orang dapat menerima bahwa, misalnya, alfabet, adalah sesuatu yang ditemukan. Mereka menganggap bahwa alfabet memang ada dengan sendirinya. Lebih gawat lagi, kemudian orang juga mulai berpikiran bahwa hal-hal seperti mobil, pesawat, televisi, film, dan koran, adalah hal-hal yang ahistoris dan ada begitu saja. Mereka lupa bahwa keberadaan teknologi, tidak bisa lepas sedikitpun dari konteks politik, ekonomi, budaya, dan sejarah. Selain itu, jika tiba-tiba terdapat usul bahwa sebaiknya televisi tidak perlu lagi ada iklan, maka serta merta orang akan protes. Mengapa? Karena sudah seperti mitos bahwa keberadaan televisi pasti juga sepaket dengan keberadaan iklan.  


Martin Heidegger: “Menjauhkan dari Poiesis” 

Martin Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf Jerman yang banyak membicarakan tentang fenomenologi dan eksistensialisme. Meski demikian, terdapat salah satu karyanya berjudul The Question Concerning Technology (1954) yang membahas mengenai esensi dari teknologi. Menurut Heidegger, teknologi, pada dasarnya melakukan pembingkaian (enframing; gestell) terhadap pandangan kita akan dunia. Melalui teknologi, kita serta merta melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai dan dimanipulasi. Heidegger mengakui, dengan keberadaan teknologi, manusia berhasil menyibak sesuatu dari yang tadinya gelap menjadi terang. Namun harus diakui, lanjutnya, ketersibakan ini adalah sekaligus juga ketertutupan di sisi yang lain. Dalam bukunya tersebut, Heidegger memberi contoh bagaimana keberadaan pembangkit listrik di Sungai Rhine telah mengubah fungsi dari sungai tersebut menjadi sebuah energi untuk kehidupan manusia. Namun di sisi lain, sungai sebagai sebuah penampakkan alam yang utuh, menjadi tersembunyi di waktu yang sama. 

Pada mulanya, lanjut Heidegger, teknologi bersifat erat dengan alam. Penciptaan teknologi baru tidak bersinggungan dengan alam. Para pengrajin di Yunani Kuno misalnya, dianggap sebagai orang-orang yang mampu merepresentasikan keindahan alam lewat karya-karyanya seperti kursi, patung, lukisan, dan lain-lain. Namun semakin modern, teknologi menghilangkan kemungkinan alam untuk menampilkan pesona dirinya (bringing forth; poiesis). Dalam arti kata lain, teknologi semakin melepaskan diri dari hakikat ke-alamiah-an. Kita akan selalu melihat teknologi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan alam. 

Komentar 

Pemikiran-pemikiran mengenai teknologi tersebut sangat mungkin tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap kemajuan teknologi itu sendiri. Kita bisa melontarkan tuduhan bahwa renungan-renungan yang disampaikan oleh Postman dan Heidegger, adalah sebuah aktivitas tidak populer ketika dunia sains semakin maju dengan penemuan demi penemuan yang membantu kehidupan manusia. Namun tanpa perlu membaca pemikiran para filsuf tersebut, pada dasarnya kita mulai sadar bahwa teknologi itu mempunyai dampak negatif bagi nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, kita sering sekali menemukan orang-orang yang duduk semeja tapi tidak berbincang satu sama lain karena sibuk dengan gadget-nya –ada istilah bagus untuk fenomena ini, yaitu “end of conversation”-; ada orang-orang yang pandai bergaul di media sosial, namun ternyata pendiam di dunia nyata; ada orang-orang yang merasa sudah pandai dengan berdebat menggunakan link-link dunia maya, ketimbang referensi dari buku, guru, atau dosen mereka; ada anak-anak yang tumbuh berkembang dengan ucapan dan tindakan yang berada di luar kontrol orangtua, akibat akses terhadap internet yang terlalu terbuka; dan sebagainya. Hal yang dipaparkan di atas masih berupa problem kemanusiaan, belum masuk pada problem ekologis seperti kerusakan lingkungan.  

Satu-satunya jalan terkait teknologi ini barangkali adalah “hubungan bebas”. Hubungan bebas merupakan suatu sikap menjaga jarak dengan teknologi agar tidak terjadi suatu ketergantungan yang akut. Keberadaan teknologi, secanggih apapun, mesti tetap disikapi dengan kesadaran penuh sehingga jika teknologi itu mengalami kerusakan –seperti yang diramalkan oleh Heidegger bahwa teknologi, ketika rusak, maka ia tergeletak tidak berdaya dan kita baru sadar bahwa teknologi hanyalah benda, bukan “extension of man” apalagi “extension of mind”-, maka kehidupan kita tetap baik-baik saja. 

Juga harus disadari bahwa ada hal-hal tertentu yang memang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun. Seperti kata Heidegger, kita tetap harus membiarkan poiesis melingkupi hidup kita, seperti misalnya: Senyum yang mengembang, bunga yang mekar di pekarangan, buku tua dengan segala wewangiannya yang khas, serta kicau burung dari atas pohon. Hal-hal semacam itu adalah bentuk ketersingkapan alam yang paling sejati. Kita tidak bisa mencerap sepenuhnya melalui teknologi, secanggih apapun.  

Daftar Referensi  

  • Haviland, William A. 2004. Cultural Anthropology: The Human Challenge. The Thomson Corporation.   
  • Heidegger, Martin. 1982. The Question Concerning Technology. HarperCollins.  
  • Huxley, Aldous. 2010. Brave New World. Rosetta Books.  
  • Postman, Neil. 1986. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business. Penguin Books.  
  • Postman, Neil. 1998. Five Things We Need to Know About Technological Change.

Continue reading

Friday, June 9, 2017

Menahan Diri dari Berbelanja, Bisakah?

Bulan Ramadhan telah datang, dan umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpuasa – atau setidaknya, begitulah kelihatannya-. Seperti kita ketahui secara umum, puasa berarti menahan diri dari segala kenikmatan badani seperti makan, minum, dan seks. Tidak hanya itu, puasa juga menekan nafsu-nafsu negatif lainnya seperti membicarakan kejelekan orang lain, menghina, melihat hal-hal tidak senonoh, atau mungkin juga, menyebarkan hoax (untuk yang terakhir ini, belum kelihatan buktinya). 

Namun ada hal yang tidak pernah dibahas sebagai bagian dari nafsu “negatif” yang faktanya terjadi saat bulan puasa hingga nanti lebaran, yaitu nafsu berbelanja. Menjadi konsumtif adalah salah satu tren yang umum terjadi di Indonesia pada periode ini. Misalnya, yang biasanya makan di rumah, karena sekarang makan menjadi momen istimewa, maka lebih indah jika makan itu beli jadi, atau sekalian di restoran, sambil reuni. Menjelang lebaran nanti, apalagi. Baju baru menjadi tujuan hidup yang utama, karena seolah menjadi simbol bagi sebuah hidup baru yang penuh kesucian. Kadang tidak hanya baju baru, tapi bisa juga mobil baru atau bahkan rumah baru. 

Berbelanja memang bukan suatu “dosa”. Malah perniagaan itu sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad. Menjadi konsumtif berarti juga menggerakkan roda ekonomi dan menjadikan pihak-pihak tertentu merasa diuntungkan. Namun mari berpikir sejenak dan menjauhkan diri dari keriuhan: Apakah berbelanja sekarang ini lebih sentral dan lebih esensial dari ibadah puasa itu sendiri? Mari juga merenungkan: Sebenarnya, puasa itu, untuk apa, sih

Puasa tidak hanya milik umat Muslim. Tradisi-tradisi keagamaan lain juga punya puasanya sendiri. Misalnya, kepercayaan Baha’i punya periode puasa sembilan belas hari di bulan Maret yang disebut sebagai bulan ‘Ala’; Buddhisme pun demikian adanya. Puasa dijadikan bagian dari meditasi demi mencapai kesehatan jasmani dan rohani; Belum lagi kaum Nasrani punya versi puasanya yang lain -yang berbeda juga dengan Yudaisme, Jainisme, Sikhisme, dan sebagainya-. 

Puasa, walaupun berbeda-beda asupannya, atau juga waktunya, tapi intinya tetap satu: Menahan diri. Puasa mungkin semacam latihan agar tubuh ini tidak “nakal” dan malah menjadi terlatih senantiasa -tidak sedikit-sedikit tunduk pada hawa nafsu-. Asumsinya, jika tubuh ini berhasil dijinakkan, maka jiwa manusia akan lebih sampai untuk memahami sang khalik. Seperti kata Plato: Tubuh adalah penjara jiwa. 

Maka itulah, jika puasa adalah latihan, maka mungkin tujuannya kira-kira: mengerem segala sesuatu agar nafsu dan tindakan tidak selalu bertalian. Belanja, harus diakui, adalah sebuah kegiatan yang tidak jarang, didasari juga oleh nafsu. Misalnya, nafsu ingin memiliki, nafsu mendapat pengakuan, ataupun nafsu untuk menjustifikasi bahwa kita harus membeli ini karena kita sudah “menderita” sepanjang hari. “Saya kan, sudah menahan lapar dan haus selama satu bulan. Apa salahnya, sih, setelah itu, makan bermewah-mewah dengan baju-baju indah,” ujar seseorang, mungkin. 

Jadi, apakah kita masih ingat dengan tujuan berpuasa? Atau jangan-jangan, puasa telah dikomodifikasi secara sistematis sehingga orang-orang menjadi lupa akan tujuan utamanya? Belum apa-apa, di televisi, sudah muncul iklan sirup yang menyatakan bahwa berbuka puasa bagusnya dengan sirup tersebut; belum apa-apa, sudah muncul iklan baju koko dan sarung apa yang tepat untuk kita nanti solat Idul Fitri; belum apa-apa, lagu-lagu Islami sudah diputar di berbagai toko ataupun restoran sehingga kita merasa berpahala ketika tengah mengonsumsi; belum apa-apa, tiket kereta sudah diborong karena keharusan untuk mudik; belum apa-apa, sudah memilih barang mana yang harus digadaikan agar bisa pulang kampung nanti. 

Dunia yang kian kapitalistik memang telah mengaburkan batas antara yang profan dan yang sakral. Misalnya, ketika natal di Prancis, orang tidak lagi saling menyapa dengan “Selamat Natal!” tapi “Bonne fĕte!” yang jika diartikan kurang lebih: “Selamat berpesta!”. Tapi hal yang semacam itu tidak terlalu salah juga. Agama dan kapitalisme memang punya hubungan mesra sudah sejak lama. Orang tidak akan merasa keberatan keluar uang banyak asalkan itu punya motif agama – sama halnya dengan hubungan kapitalisme dengan anak-anak, yang orangtua manapun kelihatannya susah menolak jika harus membeli sesuatu untuk kepentingan anaknya-. 

Suka tidak suka, fenomena di Indonesia juga sudah mulai seperti itu, meski orang masih malu-malu. Inginnya, sih, saling menyapa seperti ini, “Selamat menunaikan ibadah berbelanja. Mohon maaf lahir dan batin, karena saya, tahun ini, akan mengonsumsi lebih banyak dari tahun kemarin.”

Sumber gambar: http://www.zerohedge.com/news/2014-05-27/religion-cosnumerism

Continue reading

Kelas Logika: Berpikir Induktif

Berpikir induktif berarti berpikir dari kejadian khusus ke kesimpulan yang bersifat umum. Pada dasarnya, cara berpikir kita memang demikian adanya, termasuk pada saat berpikir deduktif sekalipun. Misalnya, pada silogisme yang paling umum seperti: 

Semua manusia akan mati 
Sokrates adalah manusia 
Sokrates akan mati

Premis “semua manusia akan mati” sebenarnya hanya abstraksi dari pengalaman-pengalaman kita akan matinya beberapa manusia. Pada dasarnya, secara epistemologi, kita tidak bisa mengetahui apakah semua manusia itu mati atau tidak. 

1. Argumen Kausal Mill 

Pada abad ke-19, seorang pemikir Inggris, John Stuart Mill merumuskan lima argumen kausal. Argumen kausal dengan berpikir induktif adalah saling bertalian. Hal tersebut sesuai dengan definisi Aristoteles tentang sains, yaitu, “Penjelasan atas segala sesuatu dengan menelusuri sebab-sebabnya.” Penelusuran sebab-sebab tersebut oleh Mill dibagi ke dalam lima bagian. 

1.1. Metode Kesamaan 

Metode kesamaan dapat ditunjukkan lewat sebuah contoh penemuan fluoride dan hubungannya dengan penurunan tingkat kerusakan pada gigi di pertengahan abad ke-20. Daerah yang orang-orangnya mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, setelah diteliti, adalah daerah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya. Setelah membandingkan ke beberapa wilayah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya dan ternyata benar orang-orang di tempat tersebut mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, maka disimpulkan berdasarkan metode kesamaan bahwa fluoride adalah zat yang mampu menurunkan tingkat kerusakan gigi. Contoh lainnya, seorang guru hendak mengetahui mengapa empat siswanya mengalami keracunan. Setelah diselidiki, siswa 1 memakan sup, roti, salad, dan apel kalengan; siswa 2 memakan sup, roti, sayur, dan apel kalengan; siswa 3 memakan roti, sayur, salad, dan apel kalengan; siswa 4 memakan sup, salad, sayur, dan apel kalengan. Berdasarkan data tersebut maka dapat diperoleh hasil bahwa keempat siswa tersebut sama-sama memakan apel kalengan. Maka itu dapat disimpulkan bahwa apel kalengan adalah penyebab para siswa keracunan. 

1.2. Metode Perbedaan 

Metode perbedaan dapat ditunjukkan lewat contoh tentang separuh penumpang pesawat yang mendadak sakit perut. Maskapai penerbangan menawarkan dua jenis makanan pada penumpang, yaitu ayam atau lasagna untuk makan malam. Mereka yang sakit perut adalah yang memilih ayam untuk makan malam sedangkan mereka yang tidak sakit perut adalah yang memilih lasagna untuk makan malam. Maka itu dapat disimpulkan bahwa ayam adalah penyebab sakit perut tersebut. Contoh lainnya, misalnya, dalam sebuah lomba gitar klasik, juri memutuskan bahwa juaranya adalah bernama Asep. Ketika Asep menaiki podium, ia mengatakan bahwa kuncinya mendapatkan gelar juara adalah latihan delapan jam sehari. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan peserta lain yang latihan kurang dari lima jam per hari. Maka itu, kesimpulannya, berdasarkan metode perbedaan, latihan delapan jam sehari adalah penyebab mengapa Asep menjadi juara. 

1.3. Metode Perbedaan dan Kesamaan 

Antara metode perbedaan dan kesamaan, keduanya bisa digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan induktif yang lebih meyakinkan. Misalnya, seorang analis sepakbola ingin mengetahui mengapa Real Madrid dapat menang melawan Juventus di final Liga Champions musim kompetisi 2016 / 2017. Pertama-tama, ia menggunakan metode kesamaan dengan melihat musim sebelumnya ketika Real Madrid menang melawan Atletico Madrid di final Liga Champions. Dua musim berturut-turut, Real Madrid selalu menggunakan formasi lini depan Cristiano Ronaldo – Gareth Bale – Gonzalo Higuain, sehingga analis sepakbola tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan trisula itulah yang membuat Real Madrid selalu juara Liga Champions. Kemudian analis sepakbola melihat faktor lain yang berbeda dari Real Madrid, yaitu kekalahan Juventus itu sendiri. Juventus kalah, kata analis, karena mereka tidak menguasai lini tengah dan kalah cepat di sektor sayap. Artinya, dapat disimpulkan, kemenangan Real Madrid melawan Juventus yang membuat mereka berturut-turut menjuarai Liga Champions adalah tetap menggunakan trisula Ronaldo – Bale – Higuain (metode kesamaan dengan formasi di musim sebelumnya) serta penguasaan lini tengah dan sayap yang cepat (metode perbedaan dengan strategi Juventus). 

1.4. Metode Residu 

Metode residu artinya mencari penyebab bukan berangkat dari konsekuennya, melainkan antesedennya (lihat bagian proposisi majemuk sub bagian hipotetikal). Perlu diketahui bahwa metode residu ini agak berbau deduktif karena diturunkan dari sebuah asumsi umum. Misalnya, seorang guru fisika mendapati dirinya mengidap hipertensi setelah melakukan pengecekan tekanan darah. Menurut dokter, setelah dicek, ia tidak menemukan kesalahan pada gejala-gejala yang memungkinkan terjadinya tekanan darah: ginjal bagus, asam urat bagus, kolesterol bagus, dan trigliserida bagus. Akhirnya dokter tersebut mengasumsikan bahwa hipertensi yang diidap guru fisika tersebut berasal dari faktor genetis (turunan). Dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa metode residu adalah metode induksi yang bergerak dengan mengeliminasi berbagai sebab-sebab yang mungkin lewat keadaan anteseden yang akibat-akibatnya sudah ditegakkan (dibuktikan) oleh induksi-induksi terdahulu. 

1.5. Metode Variasi Keseiringan 

Metode variasi keseiringan merupakan metode yang digunakan secara cukup luas. Kita bisa memahaminya lewat contoh-contoh berikut ini: Seorang petani membuktikan bahwa terdapat hubungan kausal antara penggunaan rabuk (fertilizer) dengan hasil panen. Ia mencatat bahwa bagian-bagian yang terhadapnya digunakan lebih banyak rabuk akan menghasilkan panen yang lebih melimpah. Kemudian di contoh lain, seorang pengusaha membuktikan bahwa semakin sering produknya diiklankan, maka semakin laku usahanya. Artinya, gejala-gejala itu berubah (bervariasi) secara langsung antara yang satu dengan yang lainnya, yakni, jika yang satu meningkat, yang lainnya juga meningkat. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu itu harus berbanding lurus. Metode variasi keseiringan juga menerima hubungan kausal antara gejala-gejala yang berubah secara berbanding terbalik, yakni, antara gejala-gejala yang sedemikian rupa hingga jika yang satu meningkat, maka yang lainnya menurun. 

2. Argumen Analogikal 

Sebagian besar penalaran dalam kehidupan kita sehari-hari berlangsung berdasarkan analogi. Misalnya, saya berpendapat bahwa sepasang sepatu baru akan mempunyai daya tahan lama berdasarkan pengalaman saya bahwa sepatu terdahulu yang dibeli dari toko yang sama mempunyai daya tahan yang sama; dosen itu akan terlambat datang lagi karena minggu lalu pun ia datang terlambat. Secara sederhana, dapat diartikan bahwa analogi adalah landasan dari semua penalaran sehari-hari kita dari pengalaman di masa lampau ke yang akan terjadi di kemudian hari. Argumen analogikal tidak dimaksudkan untuk memberikan kepastian. Argumen analogikal tidak dapat dinilai dan diklasifikasikan sebagai valid atau tidak valid. Argumen analogikal hanya dapat dinilai atau dikualifikasikan berdasarkan tingkat dan derajat probabilitasnya. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama berpendapat bahwa makanan di Bandung adalah enak. Orang pertama, yang tinggal di Bandung baru satu bulan, tentu pernyataannya tersebut lebih tidak kuat dibanding orang kedua, yang tinggal di Bandung selama satu tahun. 

Daftar Pustaka  

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Causal Reasoning. http://www.philosophypages.com/lg/e14.htm


Continue reading

Monday, June 5, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Membahanakan Ide dari Ruang Kecil (5 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Komunitas kebangsaan yang menjadi fenomena belakangan ini seperti Asian African Reading Club (AARC) dan Api Bandung, sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, para Bapak Bangsa sudah mendirikan komunitas kebangsaan. Sejarah Republik kita mengenal Budi Utomo, suatu organisasi pemuda yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia. Pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski dianggap sebagai tonggak kebangkitan –salah satunya melahirkan Indische Partij, organisasi politik yang cukup vokal menuntut kemerdekaan Indonesia-, keberadaan Budi Utomo tidak lepas dari tudingan-tudingan miring. 

Misalnya, Pramoedya Ananta Toer berkata bahwa Budi Utomo sebenarnya tidak lebih daripada organisasi elitis yang ditujukan untuk orang-orang bersuku Jawa saja. Versi yang lain mengatakan bahwa sejarah pergerakan nasional lebih tepat jika dimulai dari Sarekat Islam –didirikan tahun 1912 oleh H.O.S Tjokroaminoto- daripada Budi Utomo. 

Namun agaknya tidak akan banyak terjadi perdebatan, jika dikatakan bahwa Indonesia adalah buah perjuangan dari orang yang kemudian menjadi presiden kita yang pertama, Soekarno. Soekarno adalah orang yang beririsan baik dengan Indische Partij maupun Sarekat Islam. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengakui bahwa Ernst Douwes Dekker (Indische Partij) dan H.O.S. Tjokroaminoto (Sarekat Islam) adalah dua guru politik yang termasuk paling banyak memengaruhi pola pikir dan arah perjuangannya. Lalu, jalan apa yang ditempuh Soekarno untuk mencapai kemerdekaan? Tentu kita sama-sama tahu bahwa ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang amat berperan dalam perjuangan. 

Namun sebelum PNI, ada embrio yang kerap dilupakan orang, namanya Algemene Studie Club. Kelompok belajar yang didirikan oleh Soekarno semasa ia belajar di Technische Hoogeschool (sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1925 ini, lebih bisa disamakan dengan spirit yang diusung oleh komunitas kebangsaan yang kita kenal sekarang. Melalui kegiatan diskusi dan belajar bersama yang terbuka untuk umum, Algemene Studie Club berperan besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. 

Teori Ruang Publik Habermas 

Dalam bukunya yang berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere (1962), pemikir Jerman, Jurgen Habermas, menulis tentang perubahan-perubahan besar dalam sejarah yang dimulai dari ruang publik. Pertama-tama, Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai tempat bertemunya orang-orang dari berbagai golongan untuk berdiskusi dan berdebat secara egaliter. Habermas mencontohkan fenomena salon di Prancis -ruang publik yang muncul sejak awal abad ke-16 dan dijadikan tempat diskusi intelektual-. Terjadinya Revolusi Prancis di abad ke-18 –yang menggulingkan kekuasaan monarki absolut dan menggantinya dengan republik- sedikit banyak dipengaruhi oleh pertemuan-pertemuan di salon. Menurut Habermas, situasi santai, non-formal, dan egaliter, justru lebih bisa melahirkan ide-ide besar, ketimbang situasi yang sebaliknya. Sama dengan salon di Prancis, Habermas juga mencontohkan coffeehouses serta tischgesellschaften di Jerman pada abad ke-17 dan abad ke-18 sebagai tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang merubah situasi di Eropa secara keseluruhan. 

Pemikiran Habermas tersebut barangkali bisa dikaitkan tentang kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas kebangsaan yang sifatnya santai, non-formal, dan egaliter. Sebelum Algemene Studie Club, di Surabaya terlebih dahulu berdiri Indonesische Studie Club pada tahun 1924 oleh Dr. Sutomo. Meski kemudian muncul komunitas yang serupa di berbagai kota di Indonesia (seperti Solo, Yogya, Semarang, dan Bogor), namun Algemene Studie Club tetap merupakan komunitas yang terdepan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia –terutama karena keberadaan Soekarno di dalamnya-. 

Algemene Studie Club 

Kegiatan yang dilakukan oleh Algemene Studie Club mungkin dapat sama-sama kita bayangkan. Menurut buku berjudul Ir. Martinus Putuhena (Martinus Putuhena adalah Menteri Pekerjaan Umum di Masa Revolusi yang pernah mengikuti kegiatan diskusi di sana) yang ditulis oleh Putuwati, Algemene Studie Club adalah komunitas yang berisikan para intelektual, yang tidak hanya membicarakan kegiatan akademik secara umum, tapi juga hal-ikhwal politik dan kebangsaan. Martinus menyebutkan bahwa meski berisikan orang-orang berkedudukan cukup baik dan terpelajar –yang seharusnya tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial masa itu-, Algemene Studie Club tidak lepas dari pengawasan mata-mata. Maklum, selain belajar bersama di lingkungan tertutup, Algemene Studie Club tersebut juga perlahan-lahan mulai membangkitkan kesadaran orang-orang di luar komunitas lewat majalah bulanan Suluh Indonesia Muda. 

Lewat majalah tersebut, Soekarno menyuarakan pemikiran-pemikirannya yang paling dalam tentang negara dan bangsa. Dalam satu artikelnya yang berjudul Nasionalisme, Islam, dan Marxisme yang terbit di Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Soekarno mengatakan, “Masa dimana kita harus puas dengan keadaan kita sendiri telah lewat. Era baru, era para pemuda, kita songsong bagai fajar yang merekah. Teori konservatif yang mengatakan bahwa ‘Orang kecil harus puas dengan keadaannya. Harus senang berada di balik tirai sejarah dan menawarkan bantuan untuk keagungan mereka yang berada di panggung depan’ tidak boleh lagi diterima oleh orang-orang Asia.” Dengan pergerakan intelektual yang dimulai dari komunitas kecil-kecilan dan majalah yang bersifat indie, Algemene Studie Club bertransformasi menjadi PNI –ketika situasi sudah semakin memungkinkan untuk total di jalur politik-. Cerita setelah itu, kita semua tahu: Indonesia lambat laun mencapai kemerdekaannya. Komunitas kebangsaan dulu dengan sekarang tentu ada perbedaan. Sudah jelas bahwa Algemene Studie Club berada di masa penjajahan sedangkan komunitas kebangsaan yang tumbuh di periode ini sudah menikmati alam kemerdekaan. Namun seperti yang Soekarno katakan, perjuangan kita, para penerus, akan lebih sulit karena berhadapan dengan bangsa sendiri. Tujuan komunitas kebangsaan hari ini tidak lagi melawan belenggu penjajahan yang mengambil tanah dan hak-hak politik, tapi melawan belenggu penjajahan yang menyerang kesadaran.


Continue reading

Saturday, June 3, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Jalan Sunyi Para Penjual Buku (4 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Jika ada beberapa dari kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh hal-ikhwal pemikiran dari para Bapak Bangsa maupun pergerakan nasional Indonesia, tentu di zaman sekarang ini, internet menyediakan semuanya. Ketersediaan yang cukup lengkap di internet tersebut bisa jadi menyurutkan semangat sebagian orang untuk mencari sumber dari buku. Alasannya, tentu saja, selain lebih membutuhkan tempat untuk menyimpannya, buku-buku juga harus dibeli (bandingkan dengan informasi dari internet yang bisa didapat secara gratis). 

Maka itu, jika melihat ada sebagian kecil lapak yang masih mau berjualan buku-buku tua bertema kebangsaan, tentu kita bisa menyebut bahwa jalan yang mereka tempuh, adalah jalan yang sunyi. Salah satu penempuh jalan sunyi itu adalah Lawangbuku yang bertempat di Balubur Town Square. Lapak berukuran sekitar dua kali tiga meter milik Deni Rachman tersebut memang menitikberatkan penjualan buku-bukunya sebagian besar di wilayah sejarah Indonesia. Buku-buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi dan Sarinah karya Soekarno; Dari Penjara ke Penjara dan Madilog karya Tan Malaka, Kumpulan Karangan karya Moh. Hatta, buku seputar Konperensi Asia Afrika 1955, sejarah Bandung, dan lain-lain, tampak mendominasi, disamping buku-buku bertemakan lain seperti sastra dan filsafat (contohnya karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Hamka, dan Alan Paton). Sekali lagi muncul pertanyaan, di tengah-tengah kecenderungan masyarakat kontemporer yang lebih senang mencari informasi lewat internet, tidakkah menjual buku –terutama buku-buku tua seperti yang dijajakannya-, membuat LawangBuku menjadi terasing? 

Semangat Mendidik Masyarakat 

Menurut Deni, keputusannya menjual buku-buku bertema tidak populer tersebut, bukan hanya sekadar ingin terlihat unik atau berbeda. Ada alasan yang lebih bersifat edukatif. “Saya tidak yakin bahwa segala yang dicantumkan di internet, diambil dari sumber-sumber primer. Artinya, bisa saja hoax. Untuk mengimbangi informasi, saya mencoba untuk konsisten berjualan buku yang banyak diantaranya ditulis langsung oleh Bapak Bangsa itu sendiri,” ujar Deni. Harapannya, semakin banyak orang membaca dari sumber primer, semakin sedikit peredaran informasi yang bersifat palsu dan menyesatkan. 

Keberadaan toko buku yang menjual literatur bertema kebangsaan, lambat laun dapat membuat publik menjadi lebih dekat dengan tema-tema tersebut. Maklum, sebelumnya, buku-buku semacam itu mungkin hanya bisa ditemui di perpustakaan kota ataupun museum –yang secara umum lebih berjarak dengan publik, ketimbang toko buku umum-. Deni sendiri secara konkrit melakukan upaya “jemput bola” agar literatur kebangsaan ini semakin diminati. Misalnya, lewat aktivitasnya di Museum Konperensi Asia Afrika. Selain turut ambil bagian dalam pendirian kelompok diskusi Asian African Reading Club (AARC) di museum tersebut, Deni juga turut memasok buku-buku yang digunakan untuk diskusi. Misalnya, buku Renungan Indonesia (1946) karya Syahrazad (nama pena Sutan Syahrir) merupakan literatur yang pernah ambil bagian dalam komunitas AARC yang keanggotaannya terbuka untuk umum itu. Dengan berkontribusi secara maksimal sejak awal berdirinya AARC (tahun 2009) dan konsisten berjualan buku di lapak yang berlokasi cukup strategis di tengah Kota Bandung, Deni merasa optimis bahwa buku-buku bertema kebangsaan akan kian terjangkau oleh masyarakat secara luas. 

Populer lewat Jalur Online 

Mungkin tidak banyak juga diantara kita yang mengira, bahwa apa yang dilakukan Deni, di sisi lain, ternyata merupakan hal yang semakin hari, semakin digandrungi. Sebagai contoh, di media sosial seperti Facebook, bertebaran puluhan akun yang menjual buku-buku tua bertema kebangsaan secara online. Akun-akun tersebut menjanjikan proses transaksi yang cepat dan mudah. Setelah pembayaran melalui transfer ke nomor rekening tertentu, beberapa hari kemudian, buku yang kita pesan sudah sampai di rumah. Artinya, kita bisa mendapatkan buku tanpa mesti repot meluangkan waktu dan tenaga untuk pergi ke toko buku. 

Namun tidak semua hal harus berubah seiring waktu. Ada sikap-sikap dasariah, yang barangkali terlihat konvensional, tapi sebenarnya masih penting. Deni misalnya, meski ikut menjajakan buku via online, ia merasa tetap penting untuk berjualan buku-buku tua di lapak offline. Mengapa? “Mereka yang mencari buku-buku tua, biasanya merupakan pembaca kritis dan serius. Mereka bukan hanya mau mencari dan membeli, tapi ingin juga mendapatkan informasi tambahan mengenai buku yang akan dibaca,” kata Deni. Itu sebabnya, lapak offline tetap diperlukan. Pertama, untuk mereka yang ingin memastikan bahwa toko buku tersebut benar-benar ada –karena mungkin saja, penjajaan yang dilakukan oleh akun- di media sosial malah berujung pada penipuan akibat tidak adanya pertemuan tatap muka yang lebih membangun sisi trust-. Kedua, lapak offline memberikan kesempatan bagi pembeli, untuk berbincang langsung dengan penjual, demi memperoleh informasi tambahan mengenai buku yang dijajakan. 

Tentunya, pengalaman Deni dalam berkomunitas bersama AARC membuat ia punya pengetahuan tambahan mengenai buku-buku yang dijajakannya. Katanya, selalu ada poin plus bagi penjual buku yang juga merupakan seorang pembaca buku. Kenyataannya, untuk memaksa orang-orang agar membaca, kadang tidak bisa hanya dengan berjualan dan berpromosi saja. Harus ada semacam perjuangan untuk menyadarkan pentingnya literasi bagi masyarakat. Perjuangan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Deni, bisa melalui pendirian komunitas baca yang secara rutin menjalankan agenda diskusi buku. Kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah kerja untuk keabadian. Tapi bagi para pejuang literasi, mungkin mereka berpikir, bahwa menyadarkan orang untuk tetap membaca, adalah juga kerja untuk keabadian.

Continue reading

Kelas Logika: Silogisme




Silogisme merupakan bentuk kegiatan akal budi tingkat ketiga yang dinamakan juga dengan argumentasi. Diklasifikasikan sebagai cara berpikir yang bersifat deduktif, silogisme sering juga disebut sebagai “jantung”-nya ilmu logika.

1. Unsur-Unsur Silogisme 

Kita bisa mulai pelajaran tentang silogisme ini dari contoh paling klasik yaitu sebagai berikut:

Semua manusia akan mati
Sokrates adalah manusia
Sokrates akan mati

Jika kita perhatikan silogisme, maka ada unsur-unsur sebagai berikut:

1.1. Terdapat tiga proposisi yang terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan.
Dua premis: “Semua manusia akan mati” dan “Sokrates adalah manusia”; Satu kesimpulan: “Sokrates akan mati”.
1.2. Terdapat tiga term, yang mana setiap term digunakan dua kali.
Ada tiga term yaitu “manusia”, “mati”, dan “Sokrates”.
1.3. Subjek dari kesimpulan disebut juga dengan term minor.
Subjek dari kesimpulan: “Sokrates”.
1.4. Predikat dari kesimpulan disebut juga dengan term mayor.
Predikat dari kesimpulan: “mati”.
1.5. Term yang muncul di kedua premis tapi tidak muncul di kesimpulan disebut dengan term tengah.
Term tengah: “manusia” karena ada premis mayor dan premis minor, tapi tidak ada di kesimpulan.
1.6. Premis yang mengandung term mayor disebut dengan premis mayor.
Premis mayor: Premis yang mengandung kata “mati” yaitu “Semua manusia akan mati”.
1.7. Premis yang mengandung term minor disebut dengan premis minor.
Premis minor: Premis yang mengandung kata “Sokrates” yaitu “Sokrates akan mati”.

Hal penting yang harus diingat adalah kita tidak bisa identifikasi mana premis mayor dan mana premis minor sebelum melihat kesimpulan. Maka itu untuk mengetahui premis mayor dan premis minor, mesti diikuti tahapan-tahapan berikut:

1.8. Pertama-tama, kenali dulu kesimpulannya.
1.9. Setelah itu, kenali mana term minor dan term mayornya (yang bisa dilihat dari posisi subjek dan predikatnya).
1.10. Lalu kita bisa mengetahui mana premis mayor dan premis minornya.



2. Entimeme 

Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, jarang sekali kita secara sadar berpikir dengan tiga proposisi. Seringkali, kita hanya menggunakan dua proposisi dimana satunya tersembunyi. Ini disebut dengan entimeme (bahasa Yunani: entymeme yang artinya “disimpan dalam pikiran”). Misalnya: “Orang itu makan daging, berarti dia itu pemarah.” Jika kita bedah dalam suatu silogisme, maka ada satu proposisi yang hilang yaitu “Semua yang makan daging adalah pemarah.” Begini kira-kira lengkapnya:

Semua yang makan daging adalah pemarah
Orang itu makan daging
Orang itu pemarah

Sebenarnya kita bisa mencoba menyusun silogisme hanya dari kesimpulannya saja. Hal yang menjadi tantangan adalah mencari term tengahnya. Misalnya: Kalimat “Kucing adalah mamalia” bisa kita susun menjadi silogisme, dengan terlebih dahulu menempatkan subjek dari kesimpulan (kucing) yang berarti term minor ke posisi premis minor, dan menempatkan predikat dari kesimpulan (mamalia) yang berarti term mayor ke posisi premis mayor. Tantangan berikutnya adalah mencari term tengah. 

………. adalah mamalia
 Kucing adalah ……..
 Kucing adalah mamalia

Term tengah yang mungkin adalah “Hewan yang menyusui”. Sehingga silogisme lengkapnya adalah sebagai berikut:

Hewan yang menyusui adalah mamalia
Kucing adalah hewan yang menyusui
Kucing adalah mamalia

3. Bentuk Silogisme

Berdasarkan posisi term tengah, silogisme mempunyai empat bentuk. Empat bentuk silogisme tersebut adalah sebagai berikut:


Seperti yang dapat dilihat di gambar, bentuk I adalah bentuk silogisme yang term tengahnya di dalam premis mayor berkedudukan sebagai subjek, dan di dalam premis minor berkedudukan sebagai predikat.
Bentuk II adalah bentuk silogisme yang term tengahnya baik di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor berkedudukan sebagai predikat.
Bentuk III adalah bentuk silogisme yang term tengahnya baik di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor berkedudukan sebagai subjek.
Bentuk IV adalah bentuk silogisme yang term tengahnya di dalam premis mayor berkedudukan sebagai predikat, dan di dalam premis minor berkedudukan sebagai subjek.

4. Corak Silogisme 

Berdasarkan bentuk silogisme di atas, maka corak yang valid (ingat pelajaran tentang proposisi di bab sebelumnya) adalah sebagai berikut (yang diberi kurung adalah cara mudah untuk menghapalkannya):
Bentuk I: AAA (Barbara), AII (Darii), EAE (Celarent), EIO (Ferio)
Bentuk II: AEE (Camestres), EAE (Cecare), EIO (Festino), AOO
Bentuk III: AAI (Darapti), AII (Datisi), IAI (Disamis), EAO (Felapton), EIO (Ferison), OAO (Bocardo)
Bentuk IV: AAI (Bramantip), Camenes (AEE), EAO (Fesapo), EIO (Fresison), IAI (Dimaris)

5. Validitas Silogisme 

Untuk memeriksa validitas silogisme, maka harus melewati aturan dasar dan juga aksioma. Aturan dasar silogisme adalah sebagai berikut:
5.1. Silogisme terdiri atas hanya tiga proposisi.
5.2. Tiap proposisi dirumuskan dalam salah satu bentuk dari proposisi tradisional, yakni proposisi A, E, I, dan O.
5.3. Tiap silogisme memuat hanya tiga term.

Setelah melalui tiga aturan dasar tersebut, kemudian ada aksioma yang harus dilewati agar silogisme menjadi valid. Aksioma tersebut ada lima, yaitu sebagai berikut:
5.4. Sekurang-kurangnya satu term tengah harus didistribusi.
5.5. Term yang di dalam kesimpulannya didistribusi, harus didistribusi juga di dalam premisnya.
5.6. Sekurang-kurangnya satu premis harus afirmatif.
5.7. Jika salah satu premisnya negatif, maka kesimpulannya juga harus negatif.
5.8. Jika premis dua-duanya afirmatif, maka kesimpulan juga harus afirmatif.


6. Distribusi term 

Pada aksioma silogisme, disebutkan tentang distribusi term. Pembahasan ini sebenarnya agak mundur ke belakang (di bagian proposisi), namun tidak ada salahnya dijelaskan setelah aksioma silogisme. Distribusi term adalah penentuan apakah sebuah term dalam sebuah proposisi ditujukan kepada semua atau hanya ditujukan kepada sebagian saja dari anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. Sebuah term dikatakan terdistribusi, jika term itu ditujukan kepada semua anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. Sebuah term dikatakan tidak didistribusi, jika term itu ditujukan kepada sebagian saja dari anggota kelas yang berkedudukan sebagai term tersebut di dalam proposisi yang bersangkutan. 

Pada proposisi A (Universal Afirmatif), term subjeknya didistribusi, sedangkan term predikatnya tidak didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Semua kuda adalah binatang”, term “kuda” dalam konteks proposisi itu mencakup semua anggota kelas “kuda” (jadi didistribusi), sedangkan term “binatang” mencakup hanya beberapa anggota kelas “binatang” (jadi tidak didistribusi). 

Pada proposisi E (Universal Negatif), baik term subjek maupun predikatnya didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Semua mahasiswa adalah bukan penyontek”, term “mahasiswa” dalam konteks proposisi tadi ditujukan kepada semua anggota kelas “mahasiswa”, dan term “penyontek” dalam konteks proposisi tersebut juga ditujukan kepada semua anggota kelas “penyontek”. 

Pada proposisi I (Partikular Afirmatif), baik term subjek maupun term predikatnya dua-duanya tidak didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Beberapa mahasiswi adalah peragawati”, term “mahasiswi” dalam konteks proposisi tadi ditujukan pada sebagian dari anggota kelas “mahasiswi” dan term “peragawati” dalam konteks proposisi tersebut juga ditujukan hanya kepada bagian anggota kelas “peragawati”. 

Pada proposisi O (Partikular Negatif), term subjeknya tidak didistribusi, tetapi term predikatnya didistribusi. Misalnya, pada proposisi “Beberapa mahasiswi adalah bukan peragawati”, term “mahasiswi” dalam konteks proposisi tadi hanya mencakup beberapa anggota kelas “mahasiswi”, tetapi term “peragawati” dalam konteks proposisi tersebut ditujukan pada semua anggota kelas “peragawati”. 

Namun pada intinya, jika ingin disederhanakan (terutama untuk bagian predikat yang sedikit membingungkan), predikat dari proposisi afirmatif selalu tidak didistribusi, dan predikat dari proposisi negatif selalu didistribusi.




Daftar Pustaka:

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.
Continue reading