Wednesday, April 13, 2016

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti "sorrow", "lie", "enemy", "weak", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me-review album berjudul The Journey ini.


Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me-review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan live-nya. Mungkin iya bahwa saya pernah mengidolakan Dave Mustaine dan menjadikan nama tersebut nickname ketika bermain gim Counter Strike. Mungkin iya bahwa saya berteman baik dengan gitaris Burgerkill, Agung, dan gitaris Beside dan Nectura, Hin-Hin "Akew". Mungkin iya bahwa saya pernah jadi moderator diskusi Norwegian Black Metal. Tapi sisanya ya hanya sedikit ini dan sedikit itu. Saya merasa tidak patut untuk me-review sebuah album metal, apalagi kenyataan bahwa pengamat musik metal biasanya "gahar-gahar" (setidaknya dari beberapa yang saya kenal). Tapi ya sudahlah, akhirnya saya beranikan diri saja, dengan pengetahuan seadanya ini. 


Cara untuk mengapresiasi album ini saya lakukan dengan dua metode. Pertama adalah berhubungan langsung dengan musiknya, tanpa melibatkan asumsi apa-apa. Kedua adalah berhubungan dengan konteksnya, dengan cara melacak apa dan siapa tentang band ini via internet, plus bertanya ini itu pada sejumlah personelnya (yang kebetulan ada di daftar pertemanan Facebook saya). Lewat cara pertama, saya menemukan hal menarik: Symphonic metal! Dicirikan oleh nuansa orkestra, paduan suara, dan juga organ, serta suara vokalis perempuan yang terdengar sangat "teredukasi" oleh tradisi musik klasik. Tentu saja elemen metal tetap ada: raungan gitar berdistorsi, drum dengan double pedal, bas yang dibunyikan dengan plektrum, dan vokalis pria yang berkarakter growl. Untuk sebuah band lokal yang katanya baru, pilihan genre ini tentu saja menarik (mulai bicara konteks) -apalagi jika mengingat rata-rata band lokal indie belakangan ini langsung menjatuhkan pilihannya pada musik folk-. 

Sekarang bicara konteks, ternyata perjalanan band Victorian ini cukup menarik. Salah seorang personelnya mengakui bahwa band ini berisi personel-personel yang punya latar belakang musik berbeda-beda. Secara garis besar ada dua kutub yang mewarnai Victorian, yaitu kutub musik klasik dan kutub musik metal. Meski demikian, kutub-kutub tersebut jika dilacak mundur ke awal mulanya, tidak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang berlawanan -karena imej yang tercipta seolah-olah musik klasik itu akademis, borjuis, rasional, sedang musik metal itu lebih ke perlawanan, proletar, intuitif-. Orang-orang seperti Niccolo Paganini atau Ludwig van Beethoven mungkin bisa disebut sebagai musisi metal di zamannya. Mengapa? Nada-nada yang mereka perkenalkan, revolusi harmoni yang mereka bawakan, serta unsur-unsur stage act yang mereka tampilkan, pada zamannya adalah sesuatu yang "menggugah" dan pada termin tertentu juga mungkin mendorong gejolak perasaan yang agak-agak devilish dan satanic seperti halnya musik metal (genre tertentu) di zaman sekarang. Maka itu boleh saya sedikit simpulkan bahwa disiplin musik klasik justru lebih dekat dengan disiplin musik metal, daripada misalnya musik jazz (yang selama ini dipercayai banyak orang sebagai garis linier setelah musik klasik). 

Selain itu pula, disebutkan bahwa musik-musik yang ada dalam album ini, merupakan hasil kontemplasi dari masing-masing personelnya -mungkin itu sebabnya dinamai dengan The Journey, karena sumber inspirasinya adalah "perjalanan"-. Oleh sebab "kejujuran" itulah, kita bisa menikmati sesuatu dari Victorian. Misalnya, kenyataan bahwa lagu tertentu mengandung nuansa religius, seperti Guide Us to The Straight Way, yang berlirik I'm just a weak human/ I'm nothing without Your blessing/ We're longing for Your love and Your guidance/ Meski tidak bicara langsung soal ketuhanan, tapi jelas bahwa liriknya tidak mengandung unsur satanis. Yang lebih jelas ada di lagu berikutnya, berjudul Mercy to The Universe yang berlirik He is the teacher/ who devotes in humanity / He is the Apostle of mercy. Intinya, Victorian menawarkan tema-tema yang tidak biasa ada dalam sebuah band metal. Mereka tampak tidak peduli dengan "apa yang biasa ditampilkan dalam sebuah band metal". Mereka "lempeng" saja, yang penting jujur menyuarakan isi hati dari setiap orangnya.

Soal kualitas, tentu saja kita tidak bisa samakan Victorian dengan band-band luar yang mentereng seperti Nightwish, Epica, atau Dimmu Borgir. Victorian ini sedikit terlalu "akademis" dan hati-hati, sehingga kesan "kotor" dan "sampah" dari musik metal itu sendiri tidak terasa -Metallica, bahkan, yang terbilang agak "akademis", masih juga terdengar "kotor" ketika digabungkan dengan orkestra dalam satu pertunjukkan berjudul S & M-. Saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa musik, pada dasarnya, sudah mati. Dalam arti kata lain, tidak ada lagi hal yang baru yang bisa diproduksi oleh musik -musik senyap sudah dibuat oleh John Cage, minimalism sudah dibuat oleh Philip Glass, hingga musik yang kontemporer tapi diterima industri sekaligus juga sudah habis dibabat oleh Frank Zappa-. Sekarang ini mungkin hanya "repetisi dinamis" saja yang bisa diproduksi oleh para insan musik. Meski demikian, Victorian tetap harus diberi aplaus oleh sebab pilihan musiknya yang begitu berani. Mereka tahu dengan memilih genre ini, mereka harus tetap dengan suatu tradisi yang besar dan harus dikawal: memproduksi album CD yang menarik -ya, genre metal memang erat dengan visual-. Mereka tahu itu adalah hal yang tidak populer ketika segala-galanya di jaman sekarang sudah dimampatkan dalam bit-bit yang tidak teraba. Maka itu Victorian, sekali lagi, harus diyakini sebagai suatu kelompok baru yang mampu "meresahkan" anak-anak sebayanya. Untuk berkarya sesuai hati nurani, bukan sesuai kemana arus besar menghanyutkan diri.

Previous Post
Next Post

0 comments: