Thursday, April 28, 2016

Antara Performing Art, Ilmu Komunikasi, dan Pertunjukkan yang "Cutting Edge" (Sebuah Catatan untuk Mahasiswa)

Antara Performing Art, Ilmu Komunikasi, dan Pertunjukkan yang "Cutting Edge" (Sebuah Catatan untuk Mahasiswa)
Harus diakui, ilmu komunikasi merupakan semacam ilmu yang tidak mempunyai kejelasan akar dan buah (filsafat ilmu menyebutnya dengan ketidakjelasan epistemologi). Atas dasar itulah, ilmu komunikasi dapat dijejali oleh bidang-bidang mulai dari filsafat, politik, ekonomi, budaya, teknologi, hingga seni.  Begitupun dengan program studi ilmu komunikasi di kampus saya, ada mata kuliah yang dinamai dengan performing art. Tentu saja, awalnya saya skeptis dengan mata kuliah ini. Seni, yang bagi saya merupakan sesuatu yang adiluhung, mengapa harus tunduk pada ilmu yang menurut hemat saya, amat pragmatis?

Singkat cerita, sebagai dosen yang mengampu mata kuliah tersebut, saya jalani saja sambil meraba-raba dalam kegelapan. Silabus ada, tapi masih terlalu umum. Sepertinya performing art di program studi kami lebih diarahkan pada bagaimana menjadi seorang penghibur (entertainer) handal, karena terdapat juga pelajaran seperti pengelolaan kesan, hubungan dengan media, dan manajemen even. Meski demikian, kenakalan saya membuat saya merasa perlu untuk menyisipkan satu dua teori yang saya pahami tentang seni pertunjukkan. Awalnya, saya jelaskan (karena saya tidak terlalu mampu mempraktikkan) tentang teori akting dari Constantin Stanislavsky. Saya tunjukkan mereka contoh aplikasi metode Stanislavskian lewat akting-akting menawan dari Marlon Brando atau Peter Sellers. Lalu saya ketagihan untuk menjelaskan tentang pikiran-pikiran dari Bertolt Brecht dan Peter Brook. Di waktu senggang, saya perlihatkan pada mereka rekaman pertunjukkan dari seniman pantomim Marcel Marceau, pertunjukkan dari kelompok perkusi The Stomp, dan pertunjukkan teater absurd dari Samuel Beckett yang amat terkenal: Menanti Godot. Di waktu yang lain, saya juga coba tambahkan pengetahuan sastra mereka, seperti membaca cerpen dari Aleksander Pushkin atau Anton Chekhov. Pengalaman teater saya memang tidak banyak. Meski demikian, saya bagikan semua tanpa kecuali pada mereka, terutama ketika saya menjadi penata musik teater di beberapa pertunjukkan yang umumnya disutradarai oleh seorang kawan, Sophan Ajie.

Walhasil, setelah melalui proses raba meraba yang cukup melelahkan, diputuskan bahwa tugas akhir dari mata kuliah ini adalah mempersiapkan semacam pertunjukkan teater. Pada tahun pertama dan kedua, kelas yang saya ampu menampilkan pertunjukkan yang diambil dari cerpen Aleksander Pushkin berjudul Tembakan. Saya tidak bisa mengatakan apa yang mereka tampilkan itu sudah sempurna, karena pertama, mereka bukanlah berasal dari program studi teater atau dari fakultas seni pertunjukkan. Beberapa diantaranya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang teater dan beberapa diantaranya pernah bermain teater di masa SMA. Namun secara umum, mereka dapat dikatakan sebagai pelajar ilmu komunikasi yang tengah belajar mendalami sebuah teater. Jadi ya, jangan berharap bisa sejajar dengan pelajar di sekolah seni. Kedua, tentu saja, waktu yang dipakai untuk persiapan adalah kurang dari empat bulan (itupun tidak langsung pada persiapan teater, melainkan terlebih dahulu memberikan materi kuliah lewat ceramah). Sambil mencoba, saya sambil mencari makna atas kuliah ini (walau skeptis, saya diam-diam menikmati).

Lalu sampailah saya di tahun ketiga mengajar performing art. Apa yang saya berikan tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, di tahun ini, saya agak terpecah pikirannya oleh sebab menjadi panitia inti di sebuah konferensi internasional. Maka dari itu, saya lebih banyak memberikan ruang bagi mahasiswa di kelas untuk berkreasi sendiri. Sebelum-sebelumnya, saya sering ikut campur mulai dari skenario, akting, hingga musik. Sesekali saya tengok persiapan mereka. Awalnya, jujur saja, saya agak skeptis dengan cerita yang mereka tampilkan - pembunuhan, anak SMA, pergaulan remaja, bunuh diri-. Saya menginginkan sebuah pertunjukkan yang lebih "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge. Keinginan itu saya ungkapkan berulang-ulang secara egois, tanpa saya bisa turut ambil bagian secara penuh untuk mengarahkan mereka. Sehingga ada titik dimana saya merasa bahwa saya sudah tidak didengarkan lagi oleh mahasiswa-mahasiswa ini. Mereka menyelenggarakan pertunjukkan dengan judul Topeng Berdarah dengan kreasi yang mereka rapatkan sendiri, tanpa harus menyisipkan omong kosong saya tentang apalah itu: "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge.

Ketika pertunjukkan itu datang pada tanggal 27 April 2016 di sebuah kegiatan besar berjudul Broadcast Art Festival, ternyata di luar dugaan, Topeng Berdarah, bagi saya, sangatlah mengagumkan. Mahasiswa-mahasiswi ini bisa memanfaatkan lebar ruangan dengan maksimal (panggung tidak hanya sebatas panggung, melainkan seluruh ruangan) misalnya kehadiran pembunuh yang tiba-tiba muncul dari bagian atas ruangan; penerapan teori breaking the fourth wall dengan sangat pas (tiba-tiba menyapa pada penonton, seperti yang selalu diusulkan oleh Brecht), gestur pembunuh yang amat mengganggu (dengan topeng dari karakter dalam komik V for Vendetta, ia bisa mendadahi penonton setelah membunuh korbannya dengan keji); penggunaan musik yang variatif dari mulai dangdut, rock, pop, hingga eksperimental; serta banyak hal lainnya yang membuat saya berkesimpulan: Untuk ukuran seorang mahasiswa ilmu komunikasi yang mungkin tidak pernah secara khusus belajar seni, apalagi seni teater dan segala tetek bengeknya, mereka telah menampilkan apa yang disebut dengan "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge! Saking senangnya, semalaman itu saya sampai tidak bisa tidur. Sejak itu pula, saya melihat mahasiswa-mahasiswi saya dengan cara yang lain dari sebelumnya.

Tentang Topeng Berdarah, tentu saja kalian, pembaca, bisa menyangka bahwa saya sedang mengada-ada. Toh saya tidak punya bukti video, pun saya tidak punya bukti foto. Keseluruhan isi pertunjukkan tersebut saya hargai dengan tidak merekamnya, dan membiarkan seluruh kesan terpatri dalam benak saya pribadi. Yang pasti, saya tidak pernah lagi berasumsi bahwa mahasiswa dan mahasiswi ini tidak mengerti hanya karena mereka tampak abai, atau hanya karena mereka jauh lebih muda dari usia saya. Saya tidak boleh melupakan kata-kata Bambang Q-Anees ketika saya awal mula menjadi dosen sekitar enam tahun silam. Katanya, "Mengajarlah seperti hujan. Sirami semua tanpa kecuali. Biarkan setiap insan menyerap air hujan itu sesuai kebutuhannya." Kesenduan saya bertambah, ketika tahu bahwa tahun depan kelas performing art akan ditiadakan. Alasannya kenapa, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi kadang ada saatnya, jatuh cinta datang ketika segalanya sudah pergi.

Terima kasih, mahasiswa kelas Broadcast 2, karena sudah memberi saya harapan, bahwa generasi mendatang masihlah ada yang mau menerima: tentang jiwa yang menggelegak, tentang citarasa seni yang agung, dan tentang tertawa sepuasnya atas penderitaan manusia. Kita harus sadar, hidup tidak hanya sekadar lulus kumlaut, jadi budak kapital, dan mati bergelimang uang pesangon. 

Continue reading

Wednesday, April 13, 2016

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti "sorrow", "lie", "enemy", "weak", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me-review album berjudul The Journey ini.


Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me-review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan live-nya. Mungkin iya bahwa saya pernah mengidolakan Dave Mustaine dan menjadikan nama tersebut nickname ketika bermain gim Counter Strike. Mungkin iya bahwa saya berteman baik dengan gitaris Burgerkill, Agung, dan gitaris Beside dan Nectura, Hin-Hin "Akew". Mungkin iya bahwa saya pernah jadi moderator diskusi Norwegian Black Metal. Tapi sisanya ya hanya sedikit ini dan sedikit itu. Saya merasa tidak patut untuk me-review sebuah album metal, apalagi kenyataan bahwa pengamat musik metal biasanya "gahar-gahar" (setidaknya dari beberapa yang saya kenal). Tapi ya sudahlah, akhirnya saya beranikan diri saja, dengan pengetahuan seadanya ini. 


Cara untuk mengapresiasi album ini saya lakukan dengan dua metode. Pertama adalah berhubungan langsung dengan musiknya, tanpa melibatkan asumsi apa-apa. Kedua adalah berhubungan dengan konteksnya, dengan cara melacak apa dan siapa tentang band ini via internet, plus bertanya ini itu pada sejumlah personelnya (yang kebetulan ada di daftar pertemanan Facebook saya). Lewat cara pertama, saya menemukan hal menarik: Symphonic metal! Dicirikan oleh nuansa orkestra, paduan suara, dan juga organ, serta suara vokalis perempuan yang terdengar sangat "teredukasi" oleh tradisi musik klasik. Tentu saja elemen metal tetap ada: raungan gitar berdistorsi, drum dengan double pedal, bas yang dibunyikan dengan plektrum, dan vokalis pria yang berkarakter growl. Untuk sebuah band lokal yang katanya baru, pilihan genre ini tentu saja menarik (mulai bicara konteks) -apalagi jika mengingat rata-rata band lokal indie belakangan ini langsung menjatuhkan pilihannya pada musik folk-. 

Sekarang bicara konteks, ternyata perjalanan band Victorian ini cukup menarik. Salah seorang personelnya mengakui bahwa band ini berisi personel-personel yang punya latar belakang musik berbeda-beda. Secara garis besar ada dua kutub yang mewarnai Victorian, yaitu kutub musik klasik dan kutub musik metal. Meski demikian, kutub-kutub tersebut jika dilacak mundur ke awal mulanya, tidak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang berlawanan -karena imej yang tercipta seolah-olah musik klasik itu akademis, borjuis, rasional, sedang musik metal itu lebih ke perlawanan, proletar, intuitif-. Orang-orang seperti Niccolo Paganini atau Ludwig van Beethoven mungkin bisa disebut sebagai musisi metal di zamannya. Mengapa? Nada-nada yang mereka perkenalkan, revolusi harmoni yang mereka bawakan, serta unsur-unsur stage act yang mereka tampilkan, pada zamannya adalah sesuatu yang "menggugah" dan pada termin tertentu juga mungkin mendorong gejolak perasaan yang agak-agak devilish dan satanic seperti halnya musik metal (genre tertentu) di zaman sekarang. Maka itu boleh saya sedikit simpulkan bahwa disiplin musik klasik justru lebih dekat dengan disiplin musik metal, daripada misalnya musik jazz (yang selama ini dipercayai banyak orang sebagai garis linier setelah musik klasik). 

Selain itu pula, disebutkan bahwa musik-musik yang ada dalam album ini, merupakan hasil kontemplasi dari masing-masing personelnya -mungkin itu sebabnya dinamai dengan The Journey, karena sumber inspirasinya adalah "perjalanan"-. Oleh sebab "kejujuran" itulah, kita bisa menikmati sesuatu dari Victorian. Misalnya, kenyataan bahwa lagu tertentu mengandung nuansa religius, seperti Guide Us to The Straight Way, yang berlirik I'm just a weak human/ I'm nothing without Your blessing/ We're longing for Your love and Your guidance/ Meski tidak bicara langsung soal ketuhanan, tapi jelas bahwa liriknya tidak mengandung unsur satanis. Yang lebih jelas ada di lagu berikutnya, berjudul Mercy to The Universe yang berlirik He is the teacher/ who devotes in humanity / He is the Apostle of mercy. Intinya, Victorian menawarkan tema-tema yang tidak biasa ada dalam sebuah band metal. Mereka tampak tidak peduli dengan "apa yang biasa ditampilkan dalam sebuah band metal". Mereka "lempeng" saja, yang penting jujur menyuarakan isi hati dari setiap orangnya.

Soal kualitas, tentu saja kita tidak bisa samakan Victorian dengan band-band luar yang mentereng seperti Nightwish, Epica, atau Dimmu Borgir. Victorian ini sedikit terlalu "akademis" dan hati-hati, sehingga kesan "kotor" dan "sampah" dari musik metal itu sendiri tidak terasa -Metallica, bahkan, yang terbilang agak "akademis", masih juga terdengar "kotor" ketika digabungkan dengan orkestra dalam satu pertunjukkan berjudul S & M-. Saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa musik, pada dasarnya, sudah mati. Dalam arti kata lain, tidak ada lagi hal yang baru yang bisa diproduksi oleh musik -musik senyap sudah dibuat oleh John Cage, minimalism sudah dibuat oleh Philip Glass, hingga musik yang kontemporer tapi diterima industri sekaligus juga sudah habis dibabat oleh Frank Zappa-. Sekarang ini mungkin hanya "repetisi dinamis" saja yang bisa diproduksi oleh para insan musik. Meski demikian, Victorian tetap harus diberi aplaus oleh sebab pilihan musiknya yang begitu berani. Mereka tahu dengan memilih genre ini, mereka harus tetap dengan suatu tradisi yang besar dan harus dikawal: memproduksi album CD yang menarik -ya, genre metal memang erat dengan visual-. Mereka tahu itu adalah hal yang tidak populer ketika segala-galanya di jaman sekarang sudah dimampatkan dalam bit-bit yang tidak teraba. Maka itu Victorian, sekali lagi, harus diyakini sebagai suatu kelompok baru yang mampu "meresahkan" anak-anak sebayanya. Untuk berkarya sesuai hati nurani, bukan sesuai kemana arus besar menghanyutkan diri.

Continue reading