Minggu, 19 Juli 2015

Kafe dan Perangkap Eksterior

"I look at the world and I see absurdity all around me. People do strange things constantly, to the point that, for the most part, we manage not to see it. That's why I love coffee shops and public places – I mean, they're all out there." - David Lynch

Ketika berlebaran di Jakarta kemarin, saya mencuri dua hari (dari total enam) untuk nongkrong di dua kafe di dua mal yang berbeda. Alasannya, pertama, saya harus menyelesaikan sejumlah deadline ketikan, dan menganggap bahwa kafe adalah tempat yang cocok -terutama karena ada wi-fi-. Kedua, sudah lama saya tidak ngafe. Sekalian bersantai, saya juga ingin melebur dengan aktivitas masyarakat urban (yang konsumtif). Setelah mengantri dua puluh menit di Starbucks, saya memesan Frappuccino -yang setelah melalui sedikit googling, ternyata adalah minuman khas milik Starbucks yang membuat mereka menjadi terkenal ke seluruh dunia-. "Ukuran apa?" tanya kasir. Saya jawab mantap, "Venti." Saya memang tidak mau tanggung dalam melebur bersama budaya populer. Sekalian saya beli produk paling terkenal dengan ukuran yang paling besar. Meski sudah diatur sedemikian rupa oleh Starbucks setempat sehingga saya tidak bisa browsing banyak situs (termasuk gmail!), saya berhasil mengatasi deadline dalam waktu kurang dari sejam. Dalam keadaan Frappuccino besar yang habis, baterai ponsel dan laptop yang penuh (karena di-charge selama ngafe), saya pun keluar mal dalam keadaan gembira.

Hari kedua, saya mengunjungi Coffee Bean (nama resminya: The Coffee Bean and Tea Leaf) di mal yang berbeda. Alasannya, selain ingin mencoba suasana lain, saya juga sedikit dikecewakan dengan pembatasan situs browsing yang dilakukan oleh Starbucks (saya tahu, alasannya adalah agar pengunjung tidak berlama-lama menumpang wi-fi). Pengalaman pertama saya dengan Coffee Bean ternyata menyenangkan. Meski harga minumannya sedikit di atas Starbucks, tapi mereka tidak melakukan pembatasan terhadap wi-fi. Tidak ada password, tidak ada pembatasan soal situs yang dibuka. Kebetulan juga, karena pengunjung agak padat, saya diberi kursi VIP -mungkin penyaji tahu bahwa tamu-tamu VIP tidak akan datang, sehingga mereka memilih untuk memberikannya pada saya, ketimbang saya tidak dapat duduk-. Minuman yang saya pesan? Judulnya Ice Blended Vanila. Sekali lagi, deadline ketikan (yang lain) berhasil saya selesaikan di tempat tersebut dalam durasi kurang dari dua jam. Sama seperti sebelumnya, saya keluar mal dalam keadaan bahagia oleh sebab ponsel dan laptop yang baterainya penuh.

Lantas, apa hubungannya dua paragraf pengalaman saya di atas, dengan tulisan David Lynch di paragraf pembuka? Pertama, ternyata saya adalah bagian dari apa yang Lynch katakan sebagai "absurdity" dan "strange things" itu sendiri. Ada semacam mitos dalam diri saya bahwa rasa tenang untuk berpikir dan menulis haruslah berasal dari kafe. Belum lagi suatu kenyataan bahwa keberadaan saya di sebuah kafe ternama, akan membuat saya tidak hanya berpikir dan menulis dengan jernih, tapi juga meningkatkan status sosial di mata masyarakat (sepaket dengan pemberitahuan di media sosial tentunya, seperti yang saya lakukan sekarang ini). Sedangkan kalau mau dilihat secara lebih terang, kafe itu sendiri begitu ramai dengan orang (sama sekali tidak menimbulkan ketenangan) dan kopi yang disuguhkan memang enak, tapi pasti harusnya tidak semahal itu (karena dimasukkan ke dalamnya harga pencitraan yang bisa lebih dari dua kali lipat harga kopinya saja).  


Namun bukan itu renungan paling mendasar dari semua ini. Saya berpikir bahwa kapitalisme sudah bergerak lebih jauh dari para pemikir paling kritis sekalipun. Kita tahu bahwa waktu luang adalah syarat yang nyaris wajib bagi para pemikir untuk melahirkan pikiran-pikiran besarnya -itu sebabnya mengapa Yunani Kuno banyak melahirkan pemikir besar, salah satunya karena pekerjaan kasar sudah dilakukan oleh para budak-. Sokrates melakukan nyaris seluruh dialognya di alun-alun bernama agora, Revolusi Prancis konon bermula dari obrolan-obrolan di salon, dan para pemikir eksistensialis Prancis di awal abad ke-20, rajin nongkrong di Café de Flore. Kapitalisme tidak membiarkan waktu luang tersebut berlalu begitu saja tanpa menjadi uang.

Kemarin saya merampungkan sejumlah tulisan yang dapat dikatakan filosofis dan juga ilmiah, dengan modal sekitar seratus ribu ditambah beberapa liter bensin. Bahkan bisa dikatakan beberapa tulisan yang saya lahirkan dari Starbucks atau Coffee Bean tersebut, membicarakan hal-hal terkait marxisme -yang tentu saja sedikit kontradiktif dari ngafe yang saya lakukan-. Dengan ngafe, saya merasa sudah keluar dari perangkap keseharian dan lepas ke ruang dimana saya boleh berfilsafat dan berdiskusi, meski dengan diri sendiri. Berfilsafat boleh saja, berdiskusi silakan saja, tapi jangan melahirkan pemikiran besar tanpa menyumbang sedikit saja bagi roda kapital. Mungkin inilah yang disebut dengan perangkap eksterior. 

Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. Senang dulu baru bisa mikir, dalam bahasa kapitalis, senang berbanding lurus dengan kesejahteraan. Kesejahteraan berbanding lurus juga dgn kemampuan finansial.

    Simpulan maksa, pak syarif orang yg sejahtera...

    BalasHapus
  2. Senang dulu baru bisa mikir, dalam bahasa kapitalis, senang berbanding lurus dengan kesejahteraan. Kesejahteraan berbanding lurus juga dgn kemampuan finansial.

    Simpulan maksa, pak syarif orang yg sejahtera...

    BalasHapus