Wednesday, January 14, 2015

Hidup yang Biasa

Minimal seminggu sekali, saya selalu menyempatkan diri untuk datang ke Pasar Ciwastra. Apa yang saya lakukan bermacam-macam, apakah sekadar minum kopi, makan bubur ayam, mengunjungi pedagang ikan, atau tiada alasan tertentu: Hanya duduk dan memandangi orang lalu-lalang. Mungkin saya terinspirasi Sokrates, yang selalu berjalan-jalan ke agora (semacam alun-alun di jaman Yunani Kuno) untuk mencari kebenaran dengan cara menanyai orang-orang yang ditemui. Saya tidak punya keberanian seperti Sokrates, juga sepertinya tidak sopan, dalam kebudayaan kita, tiba-tiba menyapa orang dan bertanya macam-macam. Kalau cuma harga bawang atau dimana lokasi pedagang ayam, boleh saja. Tapi jika bertanya tentang prinsip-prinsip mengapa mereka berdagang, apa filosofi yang mendasarinya, serta bagaimana menjadi pedagang yang baik, tentu saya akan dianggap tidak sopan.

Apa yang saya lakukan cukup memperhatikan, dan sedikit mendengarkan obrolan. Saya merasa bahwa kehidupan orang-orang di pasar adalah kehidupan yang biasa. Dalam arti, mereka menjalaninya tanpa berpikir berat seperti apa yang saya lakukan hampir setiap hari di kampus (berat dalam artian membaca novel Rusia, menulis jurnal ilmiah, mengajar filsafat, diskusi persoalan komunikasi, mengejar jabatan fungsional dan sebagainya). Tapi apakah dengan demikian, hidup yang saya jalani adalah hidup yang luar biasa? Dalam stereotip orang kebanyakan, mungkin iya. Tapi pandangan saya, lama kelamaan, mengatakan hal yang sebaliknya. Kehidupan yang biasa adalah hidup yang sejati. Seperti kata Husserl, orang selalu melihat dunia lewat apa yang terpatri dalam kepalanya, padahal yang sebenarnya, adalah lebenswelt: Dunia apa adanya, yang dirasakan, yang dijalani tanpa adanya asumsi-asumsi.

Lantas, apa guna intelektual, jika kehidupan sejati sudah ada di pasar-pasar? Saya sendiri bingung. Sempat kehilangan harapan karena kenyataan bahwa apa yang saya kerjakan di kampus, tidak punya hubungan langsung dengan dunia kehidupan yang biasa dan malah memperkuat posisi dalam menara gading -yang sering dicibir Gramsci sebagai "intelektual tradisional yang berbahaya"-. Dilematisnya, sebagaimanapun saya menjalani kehidupan di Pasar Ciwastra, intelektualitas akan selalu menciptakan jarak. Maksudnya, saya mendengarkan orang pasar berbicara, dan langsung mengaitkan dengan konsep parole yang dihasilkan dari teori linguistik; saya melihat yang laku menjajakan dagangan, lantas bertanya-tanya, konsep marketing apa yang ia jalankan, apakah juga terkait dengan warna-warni gerobaknya yang mengundang selera? Atau ia pernah memberikan promo memikat? Saya melihat pengemis yang terlunta-lunta meminta belas kasih dan bertanya dalam diri, haruskah saya memberikan padanya pengetahuan tentang Marxisme agar ia mau lepas dari keterpurukan diri dan bersatu melawan penindasan?

Thomas Grey pernah menulis sebuah baris dalam puisinya yang berjudul Ode on Distant Prospect of Eton College, "-where ignorance is bliss, 'tis folly to be wise". Ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Tidak perlu memberitahu orang-orang di pasar bagaimana cara untuk menjadi bahagia. Hidup yang biasa adalah berkah yang luar biasa. Mungkin kaum intelektual, yang mengaku tahu segala, berada dalam neraka -akibat seluruh ke-tahu-an dan wawasannya-. 

Previous Post
Next Post

3 comments:

  1. setuju sama kata ini " Hidup yang biasa adalah berkah yang luar biasa "

    ReplyDelete
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete
  3. memang sebenarnya hidup itu harus biasa-biasa saja karena kebahagiaan tidak harus bermewah-mewahan.
    mampir ya Penyebab Penyakit Scabies

    ReplyDelete