Sunday, December 27, 2015

Lelaki dan Kurcaci

Lelaki dan Kurcaci
Untuk istriku, Ibu Rumah Tangga yang hebat:

LELAKI DAN KURCACI

Kurcaci kurcaci
Kemanakah kalian?
Handukku berantakan, siapa gerangan yang mau membereskan?

Kurcaci kurcaci
Piring kotor beronggokan, menimbulkan bau tidak sedap
Kemanakah kalian?
Kok setiap hari aku tunggu tak juga dicuci

Kurcaci kurcaci
Aku mencari bajuku yang hilang
Biasanya mudah ditemukan diantara tumpukan
Aku lihat seprai yang kusut
Tepiannya lepas lepas sampai tak lagi berbunyi gedebuk setiap aku lempar sisir di atasnya

Kemanakah kalian?
Apakah sudah enggan untuk membantuku lagi?

Oh iya, kurcaci, tahukah kalian, istriku kemana?
Continue reading

Monday, October 12, 2015

Mentransfer Kebijaksanaan

Mentransfer Kebijaksanaan
Semester ini dapat dikatakan sebagai semester paling ideal untuk saya. Alasannya, pertama, saya diberi kesempatan untuk fokus pada satu mata kuliah saja -dan itu mata kuliah favorit saya- yaitu filsafat komunikasi. Alasan lainnya, saya mengajar filsafat komunikasi dengan berlandaskan silabus yang saya buat sendiri dan buku ajar yang saya tulis sendiri. Dalam arti kata lain, semester ini jadi semester yang benar-benar "saya". 

Ketika menuliskan ini, semester baru saja berlalu setengahnya. Di rumah, saya mengoreksi ujian tengah semester dengan perasaan yang campur aduk. Ada perasaan senang oleh sebab jawaban-jawaban yang rumit, sistematis, dan mengutip kata-kata "filsuf langitan" seperti Nietzsche atau Heidegger; Ada perasaan sedih oleh sebab jawaban-jawaban yang datang dari pengetahuan seadanya dan menganggap bahwa "filsafat itu kebebasan" sehingga bisa dijawab dengan isian apapun; Ada perasaan galau oleh sebab pertanyaan yang terus menggelayuti saya selama membaca kalimat per kalimat yang tertulis dalam lembar jawaban. Pertanyaan itu adalah, "Adakah filsafat itu dapat diajarkan?" 

Mungkin filsafat memang benar bisa diajarkan. Tidak sulit untuk mentransfer pengetahuan tentang siapa mengatakan apa, siapa dilahirkan di zaman apa, hingga mengapa si anu melahirkan pikiran anu. Sejujurnya saya pribadi menikmati jawaban-jawaban akurat dari mahasiswa yang bisa menyebutkan kapan dan dimana Marx atau Schleiermacher dilahirkan, serta apa saja yang beliau-beliau katakan dan dijadikan tagline favorit dalam sejarah pemikiran Barat. Saya sering refleks saja memberi nilai tinggi untuk jawaban yang "benar" semacam itu. Namun sekali lagi saya harus tanyakan pada diri sendiri, "Benarkah dengan demikian, mereka dapat dikatakan paham filsafat?"

Untuk menjawab itu, saya harus mengingat sebuah kalimat yang saya baca dari novelnya Herman Hesse yang berjudul Siddharta. Di buku itu tertulis, "Pengetahuan dapat diajarkan, tapi kebijaksanaan itu tidak. Kebijaksanaan, jika diajarkan, akan terdengar seperti orang bodoh." Berdasarkan kalimat Hesse tersebut, mungkin memang benar bahwa para mahasiswa telah mendapatkan pengetahuan tentang filsafat. Tapi menjadi urusan yang sama sekali lain ketika ditanya apakah mereka betul-betul memahami filsafat atau tidak. Filsafat seharusnya lebih daripada sekadar "benar" di atas selembar kertas. Filsafat adalah kebijaksanaan. Filsafat adalah laku dan tindakan yang menubuh. Filsafat adalah world view. Filsafat adalah seperti kata Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie: Cara agar manusia tidak berjalan di atas lapisan es yang tipis. Tapi jika filsafat adalah seromantis yang saya jabarkan itu, maka masalah menjadi bertambah pelik, "Adakah keseluruhan makna filsafat yang mendalam itu bisa ditransfer dalam satu semester saja?"

Pada pertanyaan terakhir itu, saya memutuskan untuk meletakkan pena yang digunakan untuk mengoreksi jawaban. Saya mundur sejenak dari meja kerja untuk melihat segalanya lebih jernih. Saya berkaca pada diri sendiri: Saya dapat dikatakan sudah belajar filsafat dari sejak kecil, dari petuah Bapak yang tidak saya pahami; saya terbiasa dengan lingkungan pemikir, dimulai dari keluarga inti saya yang semuanya adalah dosen -asumsikan saja bahwa dosen pasti seorang pemikir, walau belum tentu juga-; saya ikut kelas publik filsafat dari tujuh tahun silam dan hingga kini tetap mengikutinya; saya melahap buku filsafat hampir setiap hari dengan rasa antusiasme yang tinggi; saya rajin menuliskan renungan saya ke dalam blog ini hampir setiap muncul perasaan galau. Artinya, jika saya ingin agar mahasiswa memahami filsafat hingga ke sumsumnya, saya tidak hanya harus mentransfer pengetahuan, tapi juga: lingkungan, kesempatan, dan antusiasme. 

Pada akhirnya, aspek-aspek itu menjadi mustahil jika harus ditransfer juga. Pada akhirnya, tidak harus apa yang ada di hati dan kepala saya, menjadi harus ada di hati dan kepala mahasiswa juga. Saya harus mengingat betul kata-kata Bambang Q-Anees yang memberi saya petuah sebelum memulai karir menjadi dosen sekitar lima tahun silam. Katanya, "Mengajarlah seperti hujan. Siramilah seluruh alam tanpa kecuali. Masing-masing dari mereka akan mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Ada tanah kering, ada tanah basah, ada petani, ada pebisnis, ada direktur, ada pepohonan, masing-masing punya kadar sendiri-sendiri dalam menerima hujan." Artinya, biarkan mahasiswa yang menerima kadar filsafat itu sesuai dengan kebutuhan hati dan kepalanya. Saya mengajar saja sepenuh hati, dengan antusiasme yang meledak-ledak seperti biasanya. Toh, tidak semua orang harus berakhir sebagai filsuf.

Continue reading

Sunday, July 19, 2015

Kafe dan Perangkap Eksterior

"I look at the world and I see absurdity all around me. People do strange things constantly, to the point that, for the most part, we manage not to see it. That's why I love coffee shops and public places – I mean, they're all out there." - David Lynch

Ketika berlebaran di Jakarta kemarin, saya mencuri dua hari (dari total enam) untuk nongkrong di dua kafe di dua mal yang berbeda. Alasannya, pertama, saya harus menyelesaikan sejumlah deadline ketikan, dan menganggap bahwa kafe adalah tempat yang cocok -terutama karena ada wi-fi-. Kedua, sudah lama saya tidak ngafe. Sekalian bersantai, saya juga ingin melebur dengan aktivitas masyarakat urban (yang konsumtif). Setelah mengantri dua puluh menit di Starbucks, saya memesan Frappuccino -yang setelah melalui sedikit googling, ternyata adalah minuman khas milik Starbucks yang membuat mereka menjadi terkenal ke seluruh dunia-. "Ukuran apa?" tanya kasir. Saya jawab mantap, "Venti." Saya memang tidak mau tanggung dalam melebur bersama budaya populer. Sekalian saya beli produk paling terkenal dengan ukuran yang paling besar. Meski sudah diatur sedemikian rupa oleh Starbucks setempat sehingga saya tidak bisa browsing banyak situs (termasuk gmail!), saya berhasil mengatasi deadline dalam waktu kurang dari sejam. Dalam keadaan Frappuccino besar yang habis, baterai ponsel dan laptop yang penuh (karena di-charge selama ngafe), saya pun keluar mal dalam keadaan gembira.

Hari kedua, saya mengunjungi Coffee Bean (nama resminya: The Coffee Bean and Tea Leaf) di mal yang berbeda. Alasannya, selain ingin mencoba suasana lain, saya juga sedikit dikecewakan dengan pembatasan situs browsing yang dilakukan oleh Starbucks (saya tahu, alasannya adalah agar pengunjung tidak berlama-lama menumpang wi-fi). Pengalaman pertama saya dengan Coffee Bean ternyata menyenangkan. Meski harga minumannya sedikit di atas Starbucks, tapi mereka tidak melakukan pembatasan terhadap wi-fi. Tidak ada password, tidak ada pembatasan soal situs yang dibuka. Kebetulan juga, karena pengunjung agak padat, saya diberi kursi VIP -mungkin penyaji tahu bahwa tamu-tamu VIP tidak akan datang, sehingga mereka memilih untuk memberikannya pada saya, ketimbang saya tidak dapat duduk-. Minuman yang saya pesan? Judulnya Ice Blended Vanila. Sekali lagi, deadline ketikan (yang lain) berhasil saya selesaikan di tempat tersebut dalam durasi kurang dari dua jam. Sama seperti sebelumnya, saya keluar mal dalam keadaan bahagia oleh sebab ponsel dan laptop yang baterainya penuh.

Lantas, apa hubungannya dua paragraf pengalaman saya di atas, dengan tulisan David Lynch di paragraf pembuka? Pertama, ternyata saya adalah bagian dari apa yang Lynch katakan sebagai "absurdity" dan "strange things" itu sendiri. Ada semacam mitos dalam diri saya bahwa rasa tenang untuk berpikir dan menulis haruslah berasal dari kafe. Belum lagi suatu kenyataan bahwa keberadaan saya di sebuah kafe ternama, akan membuat saya tidak hanya berpikir dan menulis dengan jernih, tapi juga meningkatkan status sosial di mata masyarakat (sepaket dengan pemberitahuan di media sosial tentunya, seperti yang saya lakukan sekarang ini). Sedangkan kalau mau dilihat secara lebih terang, kafe itu sendiri begitu ramai dengan orang (sama sekali tidak menimbulkan ketenangan) dan kopi yang disuguhkan memang enak, tapi pasti harusnya tidak semahal itu (karena dimasukkan ke dalamnya harga pencitraan yang bisa lebih dari dua kali lipat harga kopinya saja).  


Namun bukan itu renungan paling mendasar dari semua ini. Saya berpikir bahwa kapitalisme sudah bergerak lebih jauh dari para pemikir paling kritis sekalipun. Kita tahu bahwa waktu luang adalah syarat yang nyaris wajib bagi para pemikir untuk melahirkan pikiran-pikiran besarnya -itu sebabnya mengapa Yunani Kuno banyak melahirkan pemikir besar, salah satunya karena pekerjaan kasar sudah dilakukan oleh para budak-. Sokrates melakukan nyaris seluruh dialognya di alun-alun bernama agora, Revolusi Prancis konon bermula dari obrolan-obrolan di salon, dan para pemikir eksistensialis Prancis di awal abad ke-20, rajin nongkrong di Café de Flore. Kapitalisme tidak membiarkan waktu luang tersebut berlalu begitu saja tanpa menjadi uang.

Kemarin saya merampungkan sejumlah tulisan yang dapat dikatakan filosofis dan juga ilmiah, dengan modal sekitar seratus ribu ditambah beberapa liter bensin. Bahkan bisa dikatakan beberapa tulisan yang saya lahirkan dari Starbucks atau Coffee Bean tersebut, membicarakan hal-hal terkait marxisme -yang tentu saja sedikit kontradiktif dari ngafe yang saya lakukan-. Dengan ngafe, saya merasa sudah keluar dari perangkap keseharian dan lepas ke ruang dimana saya boleh berfilsafat dan berdiskusi, meski dengan diri sendiri. Berfilsafat boleh saja, berdiskusi silakan saja, tapi jangan melahirkan pemikiran besar tanpa menyumbang sedikit saja bagi roda kapital. Mungkin inilah yang disebut dengan perangkap eksterior. 

Continue reading

Monday, June 8, 2015

Memahami Dunia Melalui Tubuh

Memahami Dunia Melalui Tubuh
(Dimuat dalam katalog pameran tunggal Setiawan Sabana yang berjudul Lakon Tubuh)  
 
Hampir setiap tradisi pemikiran, punya pendapatnya sendiri mengenai tubuh. Dalam Buddhisme misalnya, tubuh dan jiwa adalah satu dan tidak bisa dipisahkan –sama dengan apa yang dipikirkan oleh filsuf Prancis, Maurice Marleau-Ponty yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah tubuh yang mer-ruh, dan ruh yang menubuh”-. Pemikir Yunani, Plato, mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Artinya, yang inti dari manusia, sebenarnya, adalah jiwanya –senada dengan tradisi Islam yang menyebutkan bahwa jiwa kita pernah melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan di surga sana, sebelum menjadi lupa karena pengaruh tubuh dan ketertarikannya pada dunia-. Michel Foucault, seorang pemikir posmodern asal Prancis, malah berkata sebaliknya. Katanya, justru jiwa adalah penjara bagi tubuh. Mengapa? Karena tubuh kadang tidak leluasa bergerak oleh sebab jiwa yang terus gelisah menginginkan sesuatu. 

Namun mari fokus membicarakan tubuh dan posisinya dalam agama-agama Abrahamistik. Kristianitas, misalnya, menganggap tubuh itu sebagai suci, tapi juga bergelimang dosa. Tubuh adalah bait Allah, katanya, sehingga dilarang merusaknya oleh hal-hal seperti rajah, rokok, bahkan makanan-makanan yang tidak sehat. Namun dalam tradisi Kristen yang lain, justru tubuh itu menimbulkan “nafsu kedagingan” yang mengganggu kemurnian jiwa. Itu sebabnya, terdapat upacara tertentu yang mencoba mendisiplinkan tubuh itu sendiri dengan cara-cara yang asketik. 

Soal tubuh dalam Kristianitas itu sendiri, pernah digambarkan secara kontroversial dalam film The Last Temptaton of Christ oleh sutradara Martin Scorsese. Dalam film tersebut, disebutkan bahwa Yesus, oleh sebab tubuh manusianya, menjadi punya banyak sifat-sifat manusiawi yang justru bertentangan dengan keilahiannya, seperti rasa takut, sedih, marah, cemas, hingga gairah dan hasrat. Misalnya, ketika Yesus menghidupkan kembali Lazarus yang sudah meninggal, ditampakkan wajahnya yang penuh keheranan, ketakutan, dan jauh dari kesan-kesan yang menunjukkan bahwa dia punya “kesaktian” Ilahiah. 

Dari film tersebut kita bisa mengatakan bahwa tubuh, pada dasarnya, adalah identitas kemanusiaan yang paling hakiki. Ia juga medium terpenting bagi jiwa dalam rangka memahami dunia dengan segala kebahagiaan serta praharanya. Dalam tradisi Islam, kita lihat bahwa Muhammad, dengan cahaya Ilahi yang kuat di dalam dirinya –ditambah lagi jaminan bahwa ia akan masuk surga dan segala tindak tanduknya telah diberkati (di-ma’shum)-, masih merasakan kegelisahan yang besar ketika wahyu pertama turun padanya lewat malaikat Jibril. Ia banyak menyepi di Gua Hira dan tidak menunjukkan kegembiraan sama sekali dengan statusnya yang suci tersebut. 

Artinya, dalam diri orang tersuci sekalipun, tubuh membuat mereka menyadari dunia seutuhnya. Memahami bahwa dunia, tak mungkin dipahami dengan jiwa-jiwa yang murni dan terang senantiasa. Dunia harus dipahami segala realitas, kemajemukan, serta kenisbiannya, dengan segala totalitas yang hanya dipunyai oleh tubuh dengan segenap perangkatnya. 

Tubuh dan Via Positiva 

Dengan pendapat yang begitu berseliweran tentang tubuh, mulai dari yang membahas kesuciannya hingga kehinaannya, bagaimana seharusnya kita menyikapi keberadaan tubuh? Agak sulit untuk menjawab pertanyaan yang agak berbau retoris semacam itu. Mungkin jika kita mengaitkan posisi tubuh dalam tujuannya untuk mencapai pemahaman tentang sesuatu yang luhur, transenden, dan ilahiah, kita bisa mengambil dua sikap. Pertama, adalah via negativa, yaitu melalui tubuh, menolak dunia dan seisinya, dan menjalani kehidupan yang asketik dan menjauhi “kedagingan”. Kita bisa melihat sosok semacam ini pada diri orang-orang seperti bhiksu, pertapa, bahkan pastur. Orang-orang yang melakukan via negativa percaya bahwa tubuh harus didisplinkan, dikelola, dan bahkan kalau perlu, disiksa, agar yang murni hanyalah tinggal jiwa. 

Namun kemudian tidak semua orang menganggap via negativa adalah hal yang paling benar dalam mencapai kemurnian. Ada juga mereka yang via positiva, yaitu orang-orang yang merengkuh dunia sepenuhnya. Tentu ini ada kaitan erat dengan tubuh. Tubuh adalah medium terpenting bagi seseorang untuk mencerap segala yang disenangi oleh penginderaan. Tidak ada masalah bagi penganut pemikiran via positiva ini, untuk bersikap estetik, hedonistik, dan memanjakan tubuhnya seperti kaum Epikurean di zaman Hellenistik. Mereka percaya bahwa kenikmatan-kenikmatan badaniah adalah jalur spiritual terbaik dalam mencapai keilahian. 

Kita tahu bahwa dalam setiap sikap via positiva, selalu menanti rasa sakit sebagai konsekuensi dari setiap kenikmatan badaniah (misalnya, seseorang yang sangat dimanjakan oleh memakan eskrim, tentu akan merasa sakit ketika eskrim yang ia inginkan tidak dapat dibelinya). Rasa sakit itu juga yang sepertinya dihindari oleh para biksu dan pertapa, dengan menolak segala pemanjaan raga. Namun atas segala rasa sakit yang dibawa akibat kenikmatan badaniah tersebut, justru manusia dapat menemukan kemurniannya. Ia dapat merasakan hidup sebagaimana adanya. Bahkan seorang Siddharta Gautama, yang awalnya adalah seorang via negativa sejati dengan segala kehidupan yang asketik dan menjauhi “kedagingan”, pada akhirnya merasa bahwa dunia ini harus diselami dengan segala pahit dan getirnya. Demikian tubuh harus menjadi cara kita dalam –tidak hanya memahami, tapi juga- mencintai dunia dan seisinya. 

Amor Fati, Fatum Brutum
Continue reading

Sunday, May 3, 2015

Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen


Judul Buku: Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen
Genre: Filsafat
Penulis: Syarif Maulana
Penerbit: Publika Edu Media
ISBN: 978-602-71415-2-0
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 134
Harga: Rp. 45.000

Ulasan:
Ilmu komunikasi, meski relatif baru mengemuka sebagai wacana akademik -posisinya sering tenggelam oleh reputasi ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial-, namun sebenarnya ia sudah dipelajari jauh ratusan tahun sebelum masehi. Para filsuf dari Yunani dan Romawi seperti Sokrates, Aristoteles, hingga Cicero, masing-masing mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang seputar penyampaian pesan. Dalam buku ini, kita akan berpetualang menjelajahi khazanah pemikiran mulai dari zaman kuno, modern, hingga ke Timur. Ziarah ini akan membawa kita pada suatu kesadaran bahwa komunikasi bukan sekadar suatu ilmu tempelan yang bisa dipelajari dalam hitungan bulan. Komunikasi punya filsafatnya sendiri. Tajam dan menukik hingga ke kedalaman.

Testimoni:
Buku ini cukup ringkas dan memaparkan sejarah muatan filosofis dalam komunikasi. Karena penulisannya cukup ringan dan runtut, maka buku ini cukup enak dibaca. Lagipula paparan-paparan teori filsafat komunikasi diberi komentar-komentar oleh penulis sehingga pembaca lebih memiliki "suplemen" analitik. Dalam beberapa hal buku ini membawa kita pada cakrawala besar kebudayaan manusia sebagai makhluk yang berbicara. -Yohan Slamet Purwadi (Doktor Ilmu Filsafat dari Indonesian Consortium for Religious Studies, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta)

Sangat komprehensif dalam mencakup serba-serbi filsafat komunikasi dari yang kuno sampai yang kontemporer. Buku ini saya pikir sangat baik untuk digunakan oleh para siswa-siswi Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Menengah Atas, baik sebagai bagian dari bahan ajar sosiologi mikro (interaksionisme simbolis) maupun bahan rujukan untuk menyusun karya ilmiah, presentasi, ataupun debat. -Jasiaman Christian Damanik (Guru Sosiologi di Cahaya Bangsa Classical School)

Buku Filsafat Komunikasi yang ada di tangan pembaca budiman ini memiliki posisi sangat signifikan. Buku ini mencoba melakukan semacam "revitalisasi filsafat", yaitu menghidupkan kembali komunikasi sebagai sebuah problematika filsafat, yang telah dirintis oleh para filsuf klasik -seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles- akan tetapi dibunuh oleh filsafat modern, yang merayakan cogito sebagai pusat kebenaran tentang dunia. -Yasraf Amir Piliang (Pakar Semiotika)
Continue reading

Saturday, May 2, 2015

Riwayat yang Membosankan: Intelektualisme dan Menara Gading

 
 
Awal Maret kemarin, saya membaca salah satu cerpen dari Anton Chekhov yang berjudul Riwayat yang Membosankan. Seperti halnya Ruang Inap no. 6 –cerpen Chekhov lain yang kebetulan sudah saya tamatkan-, Riwayat yang Membosankan adalah cerpen yang tidak pendek (sekitar sembilan puluh halaman). Diseling berbagai kesibukan di kampus yang membuat waktu untuk membaca menjadi sedikit, cerpen tersebut berhasil saya tamatkan dengan susah payah ketika bulan berganti menjadi Mei. 

Setelah membaca Riwayat yang Membosankan, ada perasaan hening panjang yang tidak mengenakkan. Alasannya adalah ini: Isi dari cerpen tersebut adalah tentang kisah hidup seorang profesor kedokteran bernama Nikolai Stepanich, yang amat jemu dengan hidupnya, dan memandang segala sesuatu dengan pesimistis. Apa yang membuatnya muak, salah satunya, adalah kehidupan akademik dengan segala intelektualisme (bukan intelektualitas)-nya. Ini tentu saja menjadi teguran untuk saya yang menunda-nunda membaca cerpen ini karena alasan akademik –dan juga segala intelektualismenya-. Apa yang saya lakukan setiap hari kurang lebih adalah seperti apa yang Stepanich pikirkan tentang seorang doktor yang datang ke rumahnya, “Ia menulis karya ilmiah yang tidak berguna bagi siapapun, kemudian lulus lewat perdebatan yang membosankan, untuk mendapatkan gelar sarjana yang tidak ia perlukan.” 

Stepanich sendiri merupakan akademisi yang jauh dari kata gagal. Sebaliknya, justru ia sangat gemilang. Bahkan mungkin dapat dikatakan terlalu gemilang. Kegemilangannya tersebut membawanya pada kedudukan sosial yang luar biasa. Setiap harinya, ia dikunjungi oleh banyak tamu dengan beragam keperluan. Kemanapun ia pergi, ada saja awak media yang mengikutinya. Bahkan Stepanich mengatakan bahwa kegiatan mengajar sudah tidak menarik lagi karena apapun yang ia katakan, selalu memukau bagi orang lain. Sementara di balik itu semua, Stepanich mengalami kehidupan yang ia rasakan buruk, mulai dari istrinya yang ia sebut sebagai “Varya yang membosakan dan tidak lagi secantik dulu” sampai kesehatannya yang terus menerun sehingga detik demi detik ia merasakan bahwa setengah kakinya sudah berada di kuburan. Stepanich, meski berusaha tidak peduli dengan kematiannya, tetap gelisah karena kenyataan bahwa selama ini ia terus menerus memikirkan ilmu –sampai mengatakan bahwa ia sendiri adalah milik ilmu- tanpa tahu absurditas apa yang menanti di balik kematian. 

Riwayat yang Membosankan ditulis dengan gaya yang menarik. Chekhov membuat pembacanya merasa sedang didongengi sebuah cerita sukses yang diulang-ulang sehingga akhirnya malah terasa seperti sebuah kisah yang memuakkan. Terutama bagi saya pribadi, cerpen ini menohok berulang-ulang karena kenyataan bahwa saya, meski tidak segemilang Stepanich, berkubang di lingkungan yang sama. Dunia pikir memikir kadang memang terasa absurd karena apa yang ada di pikiran –yang bersifat abstrak- tidak punya hubungan dengan kenyataan. Hal tersebut diperparah dengan legitimasi institusional dan juga sosial bahwa kaum yang bergerak di dunia abstrak ini, justru adalah kaum yang terpandang dan layak diberi kedudukan tinggi. Walhasil, para intelektual berlomba-lomba menulis karya ilmiah –seperti doktor yang disindir oleh Stepanich-, mengajarkan ilmu-ilmu yang mungkin tidak ia pahami, dan mengabdi pada masyarakat yang ia sendiri tidak tahu apakah dengan demikian, ia betul-betul akan dikenang oleh masyarakat itu atau tidak. Semua itu memperkuat apa yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai intelektual tradisional. Intelektual tradisional adalah kaum yang berkutat di menara gading dan sibuk dengan teori-teorinya sendiri tanpa peduli apakah yang dipikirkannya berkesuaian dengan kenyataan atau tidak. Menjadi intelektual tradisional mungkin adalah hidup yang aman dan nyaman –duduk di ruangan ber-AC, gaji berlimpah, untuk kemudian meneliti tentang masyarakat miskin bermodalkan browsing- karena tidak pernah bersentuhan dengan kondisi yang sebenarnya. Kemudian, ketika perjalanan hidup seorang intelektual tradisional diurai dengan kata-kata, seperti halnya seorang Stepanich, mungkin hasilnya adalah sebuah riwayat yang membosankan.
Continue reading

Sunday, March 22, 2015

Musik 15



Beberapa bulan ke belakang, Kang Ammy (Ammy Kurniawan, pemain biola), mengontak saya via Whatsapp. Katanya, “Saya ingin membuat pertunjukkan rutin di kafe, tapi hanya lima belas menit saja per penampilan.” Waktu itu, saya tidak begitu menggubris ide tersebut. Apa yang bisa diharapkan dari pertunjukkan cuma lima belas menit? Tidakkah orang-orang yang datang ke sebuah kafe, berharap ada live music yang durasinya cukup panjang untuk menemani mereka berbicang-bincang sambil bersantai? 

Lima belas menit tentu saja terlalu pendek. Lima belas menit adalah durasi yang dibutuhkan bagi orang untuk menunggu pesanannya datang. Setelah pesanan itu datang, mereka akan bersantap kurang lebih setengah jam. Kemudian, sehabisnya hidangan, orang-orang di kafe akan mengobrol hingga lama, tergantung suasana sekitar yang mendukung. Artinya, live music yang “ideal” tentu saja tidak kurang dari satu setengah jam. 

Namun, Kang Ammy tetap bersikeras akan ide pertunjukkan berdurasi lima belas menit tersebut. Ia mulai menyusun jadwal penampil yang akan mengisi panggung seminggu tiga kali. Panggung yang dipilih adalah di Java Preanger Coffee House -yang memang sudah sejak dua tahun ke belakang, menjadi “homebase” bagi Kang Ammy dan sekolah musiknya, yaitu Ammy Alternative Strings-. Penampil demi penampil menaiki panggung nyaris dua kali sehari. Diawali oleh Kang Ammy dan beberapa penampil yang rutin mengisi panggung di Java Preanger Coffee House –seperti gitaris Hilman Patria dan pemain suling, Abah Aspara-, gaung acara yang dinamakan “Musik 15” tersebut semakin besar. Satu per satu musisi profesional seperti Ray Jeffryn, Mojang String Quartet, Nissan Fortz, Tesla Manaf Effendi, Ary Juliyant, Muktimukti hingga 4 Peniti, tidak lagi ditawari, melainkan malah menawarkan diri untuk mengisi panggung. Bahkan entah dua atau tiga kali, “Musik 15” mendapat perhatian dari media massa. Para wartawan tertarik tentang mengapa, acara dengan durasi sependek ini, dapat menyedot sejumlah musisi untuk hadir dan mengisi. Padahal, tiada satupun dari mereka yang mendapat bayaran. 

Apakah yang membuat “Musik 15” menarik minat, baik dari musisi dan juga penonton? Ammy pernah mengatakan, bahwa fokus orang terhadap sesuatu, paling banter hanya lima belas menit. Selebihnya, konsentrasi itu tidak mungkin sebaik sebelumnya. Artinya, durasi lima belas menit yang terkandung dalam “Musik 15” tidak lepas dari sebuah pertimbangan ilmiah. Kemudian juga, apa kira-kira respon seorang musisi ketika dia tahu bahwa penampilannya hanya diberi waktu lima belas menit? Ada dua kemungkinan: Pertama, ia akan setengah hati bermain, karena tahu bahwa lima belas menit tidak akan cukup baginya untuk mencuri perhatian penonton manapun. Kedua, bisa saja seorang musisi akan menjadi semakin bersemangat untuk memanfaatkan waktu yang singkat tersebut, demi mencuri perhatian penonton. Untungnya, kemampuan kuratorial Kang Ammy sudah sangat baik sehingga hanya musisi yang masuk ke dalam kategori kedua saja yang naik panggung di “Musik 15”. 

Walhasil, lagu-lagu yang ditampilkan tidak ada yang basa-basi. Nyaris semuanya punya gimmick yang kuat sehingga dalam durasi lima belas menit itu, tiada penonton yang meninggalkan tempat duduknya. Tentu saja, oleh sebab kuatnya kesan yang ditinggalkan, rata-rata penonton selalu meminta musisi menampilkan encore. Atas permintaan tersebut, Kang Ammy selalu menekankan, “Musik hanya berdurasi lima belas menit saja, tidak lebih dan tidak kurang.” Mendapat jawaban seperti itu, penonton tentu saja kecewa. Tapi mereka yang penikmat sejati akan datang kembali, untuk menikmati lima belas menit berikutnya. 

“Musik 15” berakhir 17 Maret 2015 kemarin (setelah kurang lebih dua bulan berjalan) karena ada semacam perubahan manajemen di Java Preanger Coffee House. Sedihkah Kang Ammy, karena idenya tersebut mesti diakhiri? Ternyata tidak. Katanya, segala yang hidup, harus mati. Segala kematian itu pun, harus di waktu yang tepat ketika segala sesuatu tengah di puncak. Filosofi yang sama ia terapkan pada penampilan dalam “Musik 15” itu sendiri. Ketika penonton tengah terpesona dan terpukau; ketika penonton belum ingin beranjak dari tempat duduk dan masih mau memberikan decak kagumnya; hentikan. Lantas biarkan notasi demi notasi tinggal dalam hati setiap orang yang penasaran. Seperti kata pujangga Chairil Anwar, “Sekali berarti, sudah itu mati.”
Continue reading

Wednesday, January 14, 2015

Hidup yang Biasa

Hidup yang Biasa
Minimal seminggu sekali, saya selalu menyempatkan diri untuk datang ke Pasar Ciwastra. Apa yang saya lakukan bermacam-macam, apakah sekadar minum kopi, makan bubur ayam, mengunjungi pedagang ikan, atau tiada alasan tertentu: Hanya duduk dan memandangi orang lalu-lalang. Mungkin saya terinspirasi Sokrates, yang selalu berjalan-jalan ke agora (semacam alun-alun di jaman Yunani Kuno) untuk mencari kebenaran dengan cara menanyai orang-orang yang ditemui. Saya tidak punya keberanian seperti Sokrates, juga sepertinya tidak sopan, dalam kebudayaan kita, tiba-tiba menyapa orang dan bertanya macam-macam. Kalau cuma harga bawang atau dimana lokasi pedagang ayam, boleh saja. Tapi jika bertanya tentang prinsip-prinsip mengapa mereka berdagang, apa filosofi yang mendasarinya, serta bagaimana menjadi pedagang yang baik, tentu saya akan dianggap tidak sopan.

Apa yang saya lakukan cukup memperhatikan, dan sedikit mendengarkan obrolan. Saya merasa bahwa kehidupan orang-orang di pasar adalah kehidupan yang biasa. Dalam arti, mereka menjalaninya tanpa berpikir berat seperti apa yang saya lakukan hampir setiap hari di kampus (berat dalam artian membaca novel Rusia, menulis jurnal ilmiah, mengajar filsafat, diskusi persoalan komunikasi, mengejar jabatan fungsional dan sebagainya). Tapi apakah dengan demikian, hidup yang saya jalani adalah hidup yang luar biasa? Dalam stereotip orang kebanyakan, mungkin iya. Tapi pandangan saya, lama kelamaan, mengatakan hal yang sebaliknya. Kehidupan yang biasa adalah hidup yang sejati. Seperti kata Husserl, orang selalu melihat dunia lewat apa yang terpatri dalam kepalanya, padahal yang sebenarnya, adalah lebenswelt: Dunia apa adanya, yang dirasakan, yang dijalani tanpa adanya asumsi-asumsi.

Lantas, apa guna intelektual, jika kehidupan sejati sudah ada di pasar-pasar? Saya sendiri bingung. Sempat kehilangan harapan karena kenyataan bahwa apa yang saya kerjakan di kampus, tidak punya hubungan langsung dengan dunia kehidupan yang biasa dan malah memperkuat posisi dalam menara gading -yang sering dicibir Gramsci sebagai "intelektual tradisional yang berbahaya"-. Dilematisnya, sebagaimanapun saya menjalani kehidupan di Pasar Ciwastra, intelektualitas akan selalu menciptakan jarak. Maksudnya, saya mendengarkan orang pasar berbicara, dan langsung mengaitkan dengan konsep parole yang dihasilkan dari teori linguistik; saya melihat yang laku menjajakan dagangan, lantas bertanya-tanya, konsep marketing apa yang ia jalankan, apakah juga terkait dengan warna-warni gerobaknya yang mengundang selera? Atau ia pernah memberikan promo memikat? Saya melihat pengemis yang terlunta-lunta meminta belas kasih dan bertanya dalam diri, haruskah saya memberikan padanya pengetahuan tentang Marxisme agar ia mau lepas dari keterpurukan diri dan bersatu melawan penindasan?

Thomas Grey pernah menulis sebuah baris dalam puisinya yang berjudul Ode on Distant Prospect of Eton College, "-where ignorance is bliss, 'tis folly to be wise". Ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Tidak perlu memberitahu orang-orang di pasar bagaimana cara untuk menjadi bahagia. Hidup yang biasa adalah berkah yang luar biasa. Mungkin kaum intelektual, yang mengaku tahu segala, berada dalam neraka -akibat seluruh ke-tahu-an dan wawasannya-. 

Continue reading

Sunday, January 4, 2015

Puisi Kolam Ikan

Puisi Kolam Ikan
Aku punya kolam ikan
Isinya lele putih, komet, dan patin
Setiap hari aku duduk di pinggirnya
Menyapa lalu berbincang tentang situasi dunia
Kata lele putih, "Dunia ini indah, saat kamu melempar pakan"
Kata komet, "Dunia ini indah, saat air jernih senantiasa sehingga aku dapat memandangi angkasa"
Kata patin, "Dunia ini indah, jika batu kecil diperbanyak agar aku bisa bersembunyi diantaranya"
Tapi aku tidak tertarik pada ucapan mereka
Aku terus membahas harga BBM yang naik-turun dan tragedi AirAsia
Suatu hari aku tinggalkan mereka karena bosan
Aku merasa ikan-ikan itu tak paham situasi global
Aku merasa ikan-ikan itu tak punya kepedulian nasional
Keesokan harinya, setelah tak lagi kesal, aku sambangi kembali kolam ikan
Mereka semua sudah mati bahagia
Continue reading