Kamis, 30 Oktober 2014

Belajar dari Mengajar

Belajar dari Mengajar
Sampai hari ini, ketertarikan terbesar saya masih pada bidang filsafat. Filsafat adalah hal yang tidak saya pelajari secara resmi -jika definisi resmi adalah jurusan di masa kuliah-. Akibat tidak belajar di universitas mengenai hal tersebut secara spesifik, terang saja butuh tenaga lebih untuk comot ilmu sana-sini demi meredakan dahaga yang tidak pernah habis-habis. 

Sumber pertama, saya mencomot ilmu filsafat dari buku-buku filsafat, tentu saja. Dengan tertatih-tatih, saya mencoba mencerna buku-buku semacam Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dan Petualangan Filsafat: Dari Sokrates ke Sartre karya T.Z. Lavine. Kedua, saya ikut kursus filsafat di Unpar dengan nama Extension Course Filsafat (ECF). Di sana, saya mengalami banyak pencerahan terutama dari paparan orang-orang yang mempunyai ethos tinggi seperti Bambang Sugiharto, Franz Magnis Suseno, dan Goenawan Mohamad. 

Ketiga, ini juga tidak kalah penting, adalah berbincang dengan bapak saya. Ia sepertinya senang dengan kegiatan filsafat yang saya lakoni sehingga mau meluangkan waktu berbincang panjang lebar segera setelah saya mulai mengungkapkan apa-apa yang baru diterima dari buku maupun kursus. Bapak berfungsi untuk menetralisir sehingga cara berpikir saya tidak menjadi terlalu ekstrim dan senantiasa berada di jalur tengah. Keempat, adalah aktivitas saya di Tobucil bersama Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil. Komunitas tersebut membuat saya mendapatkan perspektif baru karena filsafat ternyata menjadi hal yang lain sekali ketika didiskusikan secara melingkar. Ada dorongan untuk tidak lagi berkutat pada filsafat sebagai sebuah idealisme rasio, melainkan menjadikannya sebagai falsafah atau panduan menuju hidup yang baik dan benar. 

Tanpa meremehkan keempat sumber belajar saya yang lain, saya akan menceritakan lebih tentang sumber nomor lima. Sumber ini berasal dari pertemuan dengan Rosihan Fahmi di suatu malam. Menurutnya, ia ingin mengajak saya untuk membuka kelas filsafat untuk umum -berbeda dengan Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil yang berbentuk melingkar, kelas filsafat berarti ada pemisahan antara guru dan murid yang tegas-. Tidak lupa ia mengatakan bahwa ada nama Bambang Q-Anees (nama yang sering saya dengar) juga turut serta dalam kelas ini. Saya mengiyakan saja karena sepertinya saya hanya menjadi guru cadangan (tentu saja nomor tiga setelah Kang B-Q dan Kang Ami -demikian saya memanggilnya-) sehingga beban akan lebih banyak diserahkan pada dua orang tersebut. 

Namun ketika kelas berjalan, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pada delapan pertemuan yang bertemakan tentang filsafat Yunani, baik Kang B-Q maupun Kang Ami, keduanya hanya hadir di pertemuan pertama dan terakhir. Enam pertemuan di tengahnya, mereka tak pernah menunjukkan batang hidung, bahkan tidak bisa dikontak sama sekali. Walhasil, saya mengajar sendiri sambil gelisah dan cemas, takut tidak mampu menaklukkan diri sendiri dan juga tidak mampu menaklukkan peserta -yang jumlahnya, kalau tidak salah, empat orang-. Entah bagaimana hasilnya, namun akhirnya saya mampu melewatinya. Kang B-Q dan Kang Ami datang di akhir kelas dengan mata seolah berkata, "Rasain kau!"

Di akhir pertemuan tersebut, saya bertanya dengan penasaran mengapa Kang B-Q tidak pernah hadir? Ia menjawab dengan cara yang aneh sekali, yaitu lewat cerita semacam ini: Suatu hari, ada seorang pemuda yang memasuki hutan sangat gelap. Di tengah hutan tersebut, ia berpapasan dengan dua orang yaitu kakek tua dan bocah cilik saling bergandengan. Pemuda tersebut membiarkan keduanya berlalu sambil bertanya pada Tuhan, "Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kedua orang tersebut saling bergandengan di tengah hutan yang berbahaya ini?" Tuhan lalu segera menyahut dengan keras, "Kan ada kamu!"

Jawaban sufistik semacam itu tentu saja tidak memuaskan saya pada mulanya. Namun lama kelamaan, saya merasa bahwa cara mereka menjerumuskan itulah yang membuat saya hingga sekarang tetap jatuh cinta secara konsisten pada filsafat. Tidak hanya itu, saya juga punya keberanian untuk berbagi tentang apa yang saya pikirkan pada orang lain baik dalam forum resmi maupun tidak resmi. Itu semua diawali dengan belajar dari mengajar. Tidak sekadar mengajar yang dipersiapkan, saya ternyata diajari tentang bagaimana mengajar yang tidak dipersiapkan. Atas semua itu, saya mengucap terima kasih pada Kang B-Q dan Kang Ami. 


Continue reading

Rabu, 22 Oktober 2014

Proporsionalisme

Proporsionalisme
Sekarang, orang yang mempunyai banyak kemampuan, berpotensi dikenai tuduhan tidak profesional. Bapak saya adalah seorang seniman, tapi juga sekaligus atlit pingpong. Oleh kawannya, ia sempat dikomentari, “Seniman kok olahraga!” Bapak saya menanggapi hal tersebut dengan tertawa. Katanya, “Mungkin teman saya itu punya stereotip bahwa seniman adalah orang yang merokok, minum kopi, dan bajunya penuh cipratan cat setelah habis berkarya. Citra olahraga tidak pernah melekat dalam diri seorang seniman.” 

Dunia modern sukses melahirkan konsep profesionalisme. Kemungkinan ia lahir dari sistem akademik yang percaya bahwa seorang individu sebaiknya hanya menjadi pakar di satu bidang. Untuk apa? Agar ia bisa fokus dan bidang yang ia tekuni dapat berkembang. Tapi kita bisa tengok Aristoteles, filsuf Yunani dari sekitar empat ratus tahun sebelum masehi. Oleh dunia kita hari ini, ia disebut sebagai seorang polymath atau seorang serba bisa. Kita tidak bisa mencap Aristoteles dengan satu sebutan saja antara filsuf, saintis, ahli retorika, seniman, atau guru. Aristoteles mencakup keseluruhan sebutan-sebutan tersebut karena memang ia mendalami semuanya. 

Dunia hari ini mungkin semakin langka melahirkan orang-orang semacam itu. Label-label buruk sudah disiapkan untuk orang-orang yang serba bisa, seperti “orang tidak profesional” atau “intelektual selebriti”. Agaknya menjadi tabu jika orang mampu membicarakan atau mengerjakan sesuatu lebih dari satu bidang saja. Padahal selain Aristoteles, dunia Timur pun mengenal istilah “orang pintar” untuk orang-orang yang memang pandai secara rasional, tapi juga pandai secara “irasional” –tabib di Cina, bhiksu dalam tradisi Buddhisme, dan sebagainya-. Bahkan Nabi Muhammad pun pada dasarnya adalah seorang polymath. Selain ia ahli dalam soal ekonomi, ia juga piawai soal politik dan juga strategi perang. 

Kita tidak usah terlalu menengok orang-orang besar yang sudah kuat terpatri dalam sejarah. Kita bisa membayangkan secara sederhana fenomena orang-orang di desa, di sekitar kita. Sangat mungkin mereka mempunyai jadwal sebagai berikut: Bekerja di sawah, menabuh gamelan, belajar di sekolah, hingga melukis. Keseluruhannya itu tidak dalam rangka menjadi intelektual selebriti atau haus akan sebutan polymath. Kita bisa menganggap bahwa kegiatan demi kegiatan tersebut ia lakukan demi kepenuhan dirinya sebagai manusia. Agar kehidupan ini lengkap dan juga kemanusiaan ini lengkap, seseorang semestinya tidak hanya berkutat di satu hal sepanjang hidupnya. 

Musashi adalah contoh yang baik tentang apa yang kita akan sama-sama sebut sebagai “proporsionalisme”. Ia pada dasarnya adalah seorang samurai yang sudah sepantasnya menenteng pedang, bertarung, dan membela tuannya. Tapi Musashi sadar bahwa hidup tidak hanya sekadar profesionalisme kaku semacam itu. Ia juga sekaligus melukis, merangkai bunga, serta membantu pembangunan sebuah desa dari mulai mengangkut kayu hingga menanam benih pohon. Musashi melakukan semua itu karena tujuan hidupnya bukan menjadi samurai yang baik, melainkan manusia yang baik. Bapak saya, di waktu yang lain, mengatakan hal yang serupa, “Jadi seniman itu mudah, yang sulit adalah menjadi manusia.”
Continue reading

Selasa, 07 Oktober 2014

Kebahagiaan dan Alam "Sana"

Kebahagiaan dan Alam "Sana"
Kata Mohammad Hatta dalam bukunya yang berjudul Alam Pikiran Yunani, orang yang belajar filsafat adalah orang yang bahagia karena ia hidup di alam lain. Apa maksud perkataan itu tidaklah jelas. Juga diantara kita, yang tidak menyukai filsafat, tentu saja juga mempunyai kebahagiaannya sendiri. Mungkin malah sebaliknya. Mereka yang belajar filsafat tampak seperti orang-orang yang bingung, gelisah, dan murung. Jadi, apa maksud kata-kata Mohammad Hatta tersebut?

Belakangan ini saya kerap menemukan cerita-cerita dari sekitar. Isinya seputar konflik dan kesedihan. Mulai dari rumah tangga yang kurang harmonis, lingkungan kerja yang menyebalkan, hingga pencapaian dan target hidup yang tak terpenuhi. Keseluruhan cerita tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah kebahagiaan itu sebenarnya? Apakah jika hal-hal diatas teratasi, kita bisa menjadi bahagia? Pertanyaan yang mengerikan adalah: Apakah saya bahagia? 

Pertanyaan yang terakhir adalah yang paling menggelitik. Juga untuk menjawabnya, tidak terlalu mudah. Kehidupan saya tidak selamanya mulus. Sebagaimana halnya manusia pada umumnya, saya kadang mengalami kegembiraan, kadang mengalami kesedihan. Kadang mengalami komedi, kadang mengalami tragedi. Namun jika kembali pada pertanyaan, apakah dengan keseluruhan dinamika tersebut, saya bahagia? Saya akan menjawab: Iya, saya bahagia. Saya sebahagia Diogenes, seorang filsuf sinisme, yang hidup di dalam tong dan menjalani kehidupan tanpa keinginan macam-macam.

Untuk menjawab mengapa saya bahagia, adalah hal yang juga tidak sederhana. Namun kata-kata Bung Hatta di atas membantu banyak. Iya betul. Saya bahagia karena hidup di alam lain. Saya bahagia karena sanggup melarikan diri dari realitas dan berkubang dalam alam imajinasi. Saya, sebagai penyuka filsafat, menemukan hal yang kurang lebih mirip pada mereka yang menyukai seni, sains, dan juga agama. Namun kebahagiaan versi sains misalnya, bukan kebahagiaan ketika mereka membeli gadget atau laptop. Kebahagiaan yang ada mungkin timbul ketika membayangkan alam semesta dan segala misteri yang melingkupinya, serta cita-cita untuk memecahkan teka teki maha besar tersebut. Kebahagiaan versi agama juga, bukan kebahagiaan ketika dapat memenuhi hajat untuk membeli kue atau baju baru di saat lebaran. Kebahagiaan yang ada mungkin timbul dari keyakinan bahwa surga itu ada dan Tuhan itu ada. 

Artinya, realitas tidak memberi kita kebahagiaan. Keterikatan kita pada benda-benda yang riil tidak memberi kita kebahagiaan. Yang memberi kebahagiaan justru adalah alam yang tidak riil, alam "sana" yang diterbitkan dari pikiran kita sendiri. Mengapa begitu? Mungkin karena dengan hidup di alam "sana", kita dapat melihat kehidupan dari kejauhan dan ketinggian. Kita bisa menata hati dengan tenang sambil melihat realitas yang terus berubah. Tapi tetap ada perbedaan antara orang yang hidup di alam "sana" dan mengontrol kehidupan dari kejauhan, dengan orang yang berpikir tentang alam "sana", tapi kemudian membenturkannya kembali dengan realitas. Untuk yang nomor dua itu, bisa jadi justru ia mengalami ketidakbahagiaan. 

Kata-kata saya tersebut mungkin tidak melalui riset sungguhan. Saya hanya memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka yang sungguh-sungguh menyukai sastra, sungguh-sungguh menyukai seni, sungguh-sungguh menyukai agama (bukan fanatik, tapi memeluk seluruh agama beserta spiritualitasnya), sungguh-sungguh menyukai filsafat (bukan hapal sejarah filsafat beserta pemikirannya, tapi ia yang berfalsafah dan menerapkan suatu kebijaksanaan dalam hidupnya), tampak lebih bahagia dari yang lain. Saya dapat melihat seorang tukang sapu yang selalu bahagia karena setelah ditanya, ia tidak berpikir soal uang dapat berapa. Yang penting adalah ia terus menyapu sebagai bagian dari rasa syukurnya terhadap kehidupan. Saya juga lihat seorang ibu yang membesarkan anaknya dan tampak bahagia. Kebahagiaan itu bukan disebabkan oleh realitas seorang anak di hadapannya. Tapi karena ia juga hidup di alam "sana". Dalam dirinya terkandung suatu harapan anak ini kelak menjadi apa; juga suatu kenangan tentang masa lalu si anak dari mulai ia lahir hingga hari ini. 

Continue reading