Sunday, September 21, 2014

Ketidakmungkinan Identitas

Ketidakmungkinan Identitas
Kemarin saya berbincang dengan seorang penulis dan budayawan bernama Ahda Imran. Kami berbincang di Taman Cibeunying soal seni tradisi, kebudayaan, dan identitas. Katanya, kaum puritan, yang menginginkan segala seni mesti mengacu pada akarnya (pure, murni), sering lupa bahwa sebenarnya akar itu sendiri tidak pernah ada yang murni. "Ada yang memainkan lagu ciptaan Mang Koko dengan cara yang lain sekali dan kemudian dikritik sebagai re-interpretasi yang keliru. Mungkin sang pengritik lupa bahwa jikapun Mang Koko masih hidup, ia juga pasti mengaku bahwa inspirasinya berasal dari sesuatu di luar," ungkap Kang Ahda.

"Identitas itu hanya ada bagi orang mati," kata Rocky Gerung di suatu forum dua tahun silam, dalam rangka menjawab pertanyaan saya mengenai: Kenapa posmodernisme itu bukannya dijadikan peluang untuk menumbuhkan identitas kita? Kenapa ketika kita bicara tentang posmodernisme, kita malah kembali menoleh pada pemikiran-pemikiran Barat seperti Lyotard, Foucault, atau Derrida? Maka dengan ketus, Rocky menjawab demikian. Ia seolah hendak mengatakan bahwa selama kita masih hidup, identitas itu terus bergerak secara dinamis dan tidak pernah tidak tercampur dengan pengaruh luar. Memang iya juga, batin saya, bisakah saya mengaku bahwa saya orang Sunda asli, jika saya masih menggunakan t-shirt dan celana jeans, pun mengatakan hal tersebut ketika sedang makan sushi di restoran?

Kegelisahan ini menjadi semakin besar ketika mengetahui bahwa di Jakarta kemarin, terselenggara sebuah acara besar berjudul Simposium Internasional Filsafat Indonesia dengan tema kira-kira tentang mencari perwujudan filsafat Indonesia melalui sosok-sosok pemikirnya. Meski tidak mengikuti secara penuh acaranya, namun kegalauan langsung mengemuka: Apakah mungkin kita menemukan identitas filsafat Indonesia? Jika mungkin, lantas, untuk apa? Tidakkah kita lupa bahwa para pemikir yang dikemukakan di forum tersebut macam Ronggowarsito, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, hingga para pendiri bangsa macam Soekarno dan Hatta, juga mendapatkan pemikirannya dari luar? Apakah tidak sebaiknya kita memulai memikirkan tentang filsafat Indonesia, setelah mendefinisikan terlebih dahulu apa itu entitas bernama Indonesia itu sendiri? Benar kata Ahda Imran, mencari sesuatu yang ke-Indonesia-an, artinya mencampuradukkan antara konsep geopolitik dengan geokultural. 

Tapi sekali lagi, manusia memang menyukai segala yang paradoks dan barangkali sikap yang terbaik adalah meniti di atas tambang yang meregang di antara keduanya. Di satu sisi ia sadar bahwa identitas terus berubah dan tak pernah final, di sisi lain ia juga terus mengklaim kepastian. Di satu sisi ia sadar bahwa kehidupan ini dinamis, di sisi lain ia juga mencari suatu bentuk statis sebagai pegangan. Di satu sisi ia sadar bahwa kebudayaan itu seperti makanan -tak masalah yang kita makan berasal dari peradaban mana, yang penting mengenyangkan-, di sisi lain ia sadar bahwa kebudayaan itu seperti candi-candi dan tarian -harus dipermasalahkan datang dari peradaban mana, agar punya nilai bagi ke-diri-an kita-. 

Continue reading

Saturday, September 6, 2014

Sekilas Filsafat Ilmu

Sekilas Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu penting untuk dipelajari sebelum memasuki dunia penelitian. Dalam filsafat ilmu, kita membedakan terlebih dahulu dengan jernih perihal, misalnya, peristilahan ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains. Dalam filsafat ilmu juga kita belajar tentang arti dari teori, paradigma, metode, dan metodologi –hal-hal yang akan sering kita dengarkan pada pelajaran mengenai kualitatif nantinya-. Namun sebelum memasuki semua bangunan tersebut, ada fundamen yang harus terlebih dahulu dipahami, yaitu epistemologi. 

Epistemologi 

Bidang kajian filsafat konon ada tiga, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi yaitu belajar tentang hakikat, esensi, abstraksi, dan tentang “ada” dari sesuatu. Misalnya, bagaimana memandang manusia secara ontologis? Kita bisa memandang manusia sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai sebuah keterlemparan. “Ada”-nya manusia terlempar begitu saja tanpa sebuah rencana dan tanpa sebuah makna. Kita bisa juga pandang manusia secara ontologis dari terminologi agama, bahwa “ada”-nya manusia itu adalah sebagai khalifah di muka bumi. Jadi berbicara ontologi artinya bicara soal inti dari segala sesuatu. Dari inti itulah, kita bisa menjelaskan apa yang permukaan. 

Sebelum berpanjang lebar bicara tentang epistemologi, kita akan mula-mula bicara tentang aksiologi. Aksiologi artinya membahas tentang nilai dan kegunaan dari segala sesuatu. Misalnya, adakah sisi aksiologis dari berdebat akademis? Apakah ada nilainya bagi masyarakat secara umum, atau hanya untuk memuaskan hasrat dari para intelektual secara pribadi? Atau jika berbicara lebih jauh, adakah sisi aksiologis dari kehidupan ini secara keseluruhan? Kaum eksistensialis seperti Albert Camus dan Jean Paul Sartre mengatakan tidak. Hidup ini adalah kesia-siaan belaka. Tidak ada nilainya, tidak ada kegunaannya. Agama tentu menilai lain tentang hidup. Secara aksiologis, hidup ini berguna sebagai kendaraan untuk memasuki dunia nanti yang lebih paripurna. 

Akhirnya kita sampai pada epistemologi. Apakah epistemologi itu? Epistemologi artinya batas pengetahuan. Sejauh mana kita bisa mengetahui sesuatu dan dari mana kita tahu bahwa kita tahu. Seperti misalnya begini, apakah secara epistemologi, kita dapat mengetahui tentang Tuhan? Jika iya, lantas apa bedanya dengan iman? Apakah iman dan tahu itu berbeda atau bahkan bertolak belakang? Kata filsuf bernama Soren Kierkegaard, kita beriman justru karena kita tidak tahu. Apa yang sudah kita ketahui, tak perlu lagi diimani. Atas dasar itu, bisa saja sebenarnya Tuhan ada di luar epistemologi kita, begitupun hal-hal seperti jiwa, ruh, malaikat, hingga setan. Hal-hal yang demikian mungkin saja ada, tapi kalaupun memang ada, kita tidak dapat mengetahuinya dengan menggunakan fakultas yang ada dalam tubuh kita. 

Sumber pengetahuan 

Pertanyaan lanjutan dari epistemologi adalah dari mana kita mendapatkan pengetahuan? Rene Descartes, seorang matematikawan asal Prancis dari abad ke-17, mengatakan bahwa sumber pengetahuan kita yang utama adalah rasio. Bukti mengenai hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari fenomena keseharian: Gajah tampak kecil jika dilihat dari kejauhan, ternyata tampak besar jika didekati, juga sedotan yang dimasukkan ke dalam air akan tampak bengkok. Artinya, indra kita bisa menipu. Apa yang membuat kita yakin bahwa gajah dan sedotan punya bentuk objektif, kata Descartes, adalah semata-mata rasio kita. 

Rasio menghasilkan suatu ketetapan mutlak dan ia hadir sebagai innate (ide bawaan) sejak kita lahir. “Sebagaimanapun diriku mengalami sakit perut yang hebat,” kata Descartes, “Segitiga tetaplah bersisi tiga.” Ia bahkan maju lebih jauh dengan mencoba membuktikan keberadaan dirinya sendiri melalui rasio. Karena menurutnya, bisa saja keberadaan dirinya itu merupakan mimpi dan tipuan dari iblis belaka. Descartes memulai pembuktiannya dengan meragukan segala sesuatu di sekitarnya. Aku ragukan lantai ini ada, aku ragukan meja ini ada, aku ragukan tungku pembakaran ini ada, aku ragukan dirimu ada, dan seterusnya hingga sampai pada satu kepastian yang tak terbantahkan, bahwa: aku ragu-ragu. Menurut Descartes, aku ragu-ragu merupakan suatu bukti bahwa ia sedang berpikir (tidak mungkin seseorang berpikir ketika bermimpi atau ditipu iblis). Atas dasar itu, cogito ergo sum: aku berpikir, maka aku ada. 

Jika Descartes dan kaum rasionalis lain semacam Leibniz dan Spinoza mengandaikan seluruh pengetahuan kita berasal dari rasio, maka lain halnya dengan kaum empirisis yang mengatakan bahwa kita tidak dapat tahu apapun kecuali dari pengalaman kita sendiri. Kita hanya akan membahas seorang empirisis paling ekstrim asal Skotlandia dari abad ke-18 yaitu David Hume. Asumsi pertama, menurut Hume, manusia lahir kosong seperti kertas putih, dan tidak mungkin ia mempunyai innate seperti yang dicetuskan oleh Descartes. Asumsi kedua, hidup manusia adalah hanya berupa kumpulan kesan-kesan yang kemudian melahirkan gagasan. 

Kesan, menurut Hume, adalah berbagai ciri-ciri yang dicerap oleh indra secara langsung. Ketika kita melihat sebuah dompet, maka kita akan menangkap kesan tentang dompet. Gagasan adalah fotokopi dari kesan. Ketika suatu hari kita ditanyai tentang ciri-ciri sebuah dompet, maka kita akan memunculkan kembali kesan tentang dompet tersebut. Artinya, menurut Hume, tanpa kesan, gagasan adalah omong kosong. Hal-hal seperti Tuhan, jiwa, malaikat, ruh, bahkan hari esok dan sebab akibat, dianggapnya sebagai kumpulan gagasan tanpa kesan. Kalaupun aku menjatuhkan batu ini ke lantai selama sepuluh kali dan hasilnya bahwa batu ini jatuh, aku tetap tidak tahu apakah yang kesebelas kali batu ini tetap jatuh atau tidak, begitu ungkapnya. 

Immanuel Kant adalah seorang pemikir asal Jerman yang pernah membaca karya Hume berjudul An Enquiry Concerning Human Understanding. Kant mengatakan bahwa ia terbangun dari “tidur dogmatis” setelah membacanya. Menurut Kant, pendapat Hume benar, tapi terlalu ekstrim. Ia percaya bahwa pengalaman manusia memang mendasari seluruh pengetahuannya, namun sekaligus dipercayainya bahwa manusia tidak lahir dengan putih polos seperti kata para empirisis. Kant percaya bahwa manusia lahir dengan suatu template bawaan. Sebagai contoh, jika tiba-tiba ada bola memasuki kamar kita, seekor kucing akan langsung mengejarnya. Namun seorang manusia akan secara otomatis mencari dari mana asal muasal bola itu. Contoh lain, seekor kucing akan langsung menyantap makanan di hadapannya. Seorang manusia akan memastikan dulu dari mana asal makanan yang ada di hadapannya. Jika ia merasa aman, barulah mulai menyantapnya. Artinya, upaya mencari sebab akan segala sesuatu, sudah menjadi hal yang alamiah dari seorang manusia. 

Kant juga berkontribusi bagi pemisahan antara fenomena dan nomena. Menurutnya, apa yang dapat kita ketahui dengan fakultas pengetahuan kita hanyalah fenomena (yang tampak). Sedangkan hal-hal yang bersifat nomena seperti Tuhan, jiwa, ruh, malaikat, setan, dan sebagainya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui (ia tidak menyebutnya dengan tidak ada. Menurutnya, kalaupun memang hal-hal itu ada, kita tidak mempunyai pengetahuan apapun tentangnya. Keberadaan hal-hal semacam itu hanyalah demi kebaikan moral semata). Atas dasar itu, Kant memberi kita suatu landasan penting tentang apa yang bisa kita teliti: Secara epistemologi, ia harus terjangkau oleh indrawi; secara epistemologi, ia harus tentang apa yang tampak pada kita. 

Paradigma 

Mari membahas sesuatu yang jauh secara historis dari Kant. Di abad ke-20, seorang ilmuwan bernama Thomas Kuhn menulis buku menggemparkan yang berjudul Structure of Scientific Revolution (1962). Dalam tulisannya tersebut, Kuhn menyebutkan bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan terdapat apa yang dinamakan dengan paradigma atau cara pandang ilmuwan terhadap dunia. Paradigma, kata Kuhn, jauh lebih mendasar daripada sekadar teori –paradigma justru merupakan landasan dari teori-. Ketika seorang saintis memunculkan teori demi teori, gagasan demi gagasan, dalam paradigma yang ia yakini sudah mapan, maka Kuhn menyebut hal tersebut sebagai normal science. Namun menurut Kuhn, selalu ada orang yang kemudian menelurkan suatu gagasan anomali dan membuat gempar komunitas dari paradigma yang sudah mapan. Ia menyebut yang terakhir itu sebagai revolutionary science

Ketika revolutionary science muncul, maka paradigma sebelumnya, kata Kuhn, akan melakukan resistensi. Resistensi itu dapat dilakukan dengan cara menjadikan revolutionary science tersebut menjadi bagian dari paradigmanya, atau jika sudah sangat bertolak belakang dan mengancam kemapanan, maka dipersilakan agar sains yang anomali itu membangun paradigmanya sendiri. Namun inti dari pemikiran Kuhn ini adalah bahwa sains juga dibentuk melalui kepercayaan demi kepercayaan dari penganutnya (nyaris seperti agama). Sebuah komunitas sains dapat dengan keras membela positivisme dan menolak ide-ide dan pandangan dunia khas konstruktivisme. Keduanya tampak tidak bisa didamaikan dan lebih baik hidup sendiri-sendiri. Pada perkembangannya, para pemikir mencoba menyusun kembali sejarah ilmu-ilmu dan merumuskan soal jumlah paradigma yang muncul hingga hari ini. Pemikiran yang umum berkembang adalah paradigma yang empat yaitu: 

  • Paradigma positivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas dapat diketahui secara objektif, pasti, ilmiah. Segala teori dan gagasan yang ditemukan adalah dalam rangka puzzle solving dari misteri semesta. Suatu saat nanti puzzle tersebut akan terkumpul seluruhnya dan kita bisa mengetahui segala seluk beluk dari alam semesta.
  • Paradigma pos-positivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas memang dapat diketahui, tapi tidak sempurna dan selalu dapat direvisi. Kebenaran hanya bisa didekati dan tidak dapat diungkap sepenuhnya. Jika positivisme menggunakan prinsip verifikasi, pos-positivisme menggunakan prinsip falsifikasi.
  • Paradigma konstruktivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas tidak mungkin dapat diketahui tanpa campur tangan subjek yang melihat. Artinya, kebenaran adalah yang dikonstruksi dalam kepala kita sendiri. Tidak mungkin ada puzzle besar yang dapat disusun jika kemudian kebenaran selalu berubah. Yang bisa dilakukan hanyalah memahami dan menerima keunikan demi keunikan. 
  • Paradigma kritis: Mereka yang berpandangan bahwa realitas adalah bentukan kekuasaan dan yang harus kita lakukan adalah mengritisinya terus menerus agar tidak terjebak dalam kesadaran palsu. Paradigma kritis dilandasi oleh teori kelas Karl Marx yang kemudian dikembangkan oleh kaum Neo-Marxis yang sebagian besar berasal dari sekolah Frankfurt.
Continue reading