Wednesday, August 20, 2014

Mengenal Fenomenologi

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan mengenalkan fenomenologi secara teoritis -seperti melibatkan nama-nama semacam Husserl, Heidegger, Marleau-Ponty, atau Schutz-. Saya akan mencoba secara perlahan berbagi tentang fenomenologi lewat contoh-contoh konkrit. Harapannya, mereka yang membaca tulisan ini dengan status awam, kemudian tertarik untuk melanjutkan bacaannya ke arah yang lebih teoritik baik soal sejarah maupun metodologinya secara lengkap.

Pertama, pernahkah kita punya suatu pengalaman yang sangat personal terhadap misalnya, suatu benda? Benda itu bisa apa saja, boleh jaket, tas, baju, mobil, parfum, hingga sepatu. Benda-benda tersebut menjadi personal oleh sebab keberadaannya di dalam keseharian kita. Jaket warna abu-abu ini tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Karena jaket ini pernah menemani saya pergi keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda. Nilai penting jaket tersebut mungkin hanya dipunyai oleh orang tersebut dan tidak bagi yang lain. 

Namun apa yang personal dan subjektif semacam itu, terang saja tidak bisa dijadikan suatu landasan ilmiah. Apa yang disebut ilmiah, dalam terminologi sains, adalah yang objektif, rasional, juga universal. Sifat air yang menjadi dingin di kala musim dingin disebut sebagai bukan sifat air karena sifat tersebut hanya berlangsung temporal. Tapi coba tengok sifat air yang berpindah dari posisi yang lebih tinggi ke lebih rendah. Itu adalah ilmiah karena dimana-mana pun begitu. Artinya, perasaan seseorang tentang jaket, tidak bisa kita samakan dengan prinsip universal dari teori-teori matematika, fisika, kimia, atau biologi yang memang punya kredo bernama "bebas nilai". Hal-hal mengenai jaket lebih baik diletakkan di luar lingkungan ilmiah dan menjadi urusan masing-masing manusia saja.

Namun awal abad ke-20 adalah penanda betapa dunia ilmiah menjadi kering kerontang oleh sebab upayanya yang tanpa henti dalam menyingkirkan sisi pengalaman manusia yang paling personal. Mestinya, dunia pengalaman manusia yang paling dasariah itulah inti dari segala kehidupan. Dunia manusia sejatinya adalah lebenswelt atau dunia yang dijalani begitu saja (mengalir dan tanpa asumsi). Dunia sejati adalah ketika bangun tidur, minum air, tidur siang, pulang ke rumah, bercanda dengan kucing, berbicara kepada burung, berbincang soal politik di warung kopi, hingga berpacaran di bioskop. Dunia pengalaman yang paling subtil dari manusia tersebut, dalam kacamata ilmiah, sudah dikotak-kotakkan agar mudah untuk diteliti, dibedah, hingga dikontrol.

Kemudian fenomenologi hadir dan memasuki lingkungan ilmiah sebagai suatu pendekatan yang terlebih dahulu mengakui pengalaman subjektif. Kata fenomenologi, justru pengalaman paling personal tersebut harus diselami terus menerus hingga inti terdalamnya, dalam rangka menyingkap tabir misteri kehidupan. Untuk mencapai inti terdalam tersebut, fenomenologi mengajarkan untuk menunda segala bentuk asumsi ke dalam tanda kurung (epoche). Misalnya, jika dalam asumsi kita berbagai dedaunan pasti hijau, maka fenomenologi mengajak untuk melihat kembali lebih dekat apakah daun itu benar-benar hijau? Mungkin ada coklatnya, ada hitamnya, juga mungkin ada kuningnya. Hanya dengan membuang asumsi kita tentang daun itu pasti hijau, maka kenyataan lain tentang daun akan kita temukan.

Maka itu dengan keberadaan fenomenologi, kemungkinan untuk meneliti segala sesuatu menjadi lebih luas. Penelitian tentang hal-hal yang sangat personal, seperti benda-benda harian kita, yang tadinya dianggap tidak ilmiah, menjadi punya tempat istimewa. Misalnya, kita bisa mengamati secara mikroskopis berbagai sendal yang dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia, arti dari hubungan asmara, atau bahkan fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Penelitian fenomenologi hampir dapat dipastikan menghasilkan sesuatu yang baru karena kenyataan bahwa pemaknaan seseorang akan sesuatu pastilah berbeda. 

Sekian dan selamat membaca lebih jauh!


Contoh tulisan (bukan penelitian) fenomenologi:


TEMPAT WUDHU




            Di rumah kami sempat ada dua kamar mandi dengan posisi bersebelahan. Meski sangat berfungsi jika ada dua orang yang sedang ingin ke toilet dalam waktu bersamaan, namun tetap kelihatan aneh dan tidak efisien -apalagi jika mengingat bahwa terdapat dua toilet lagi di ruangan yang lainnya-. Meski demikian, keanehan itu tidak terlalu mengganggu aktivitas kami sekeluarga. Kami merasa sesekali di rumah ini harus terdapat sesuatu yang ganjil sebagai bagian dari ekspresi kesenimanan Papap yang agak eksentrik.
            Namun ketika dua anak Papap, yakni Engkang dan saya, sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing, Papap berpikir keras soal keberadaan dua kamar mandi yang bersebelahan tersebut. Keberadaannya yang tidak efektif menjadi semakin tidak efektif dan bahkan akan diabaikan sama sekali jika yang tinggal di sana hanya Papap dan Mamah. Akhirnya beliau mengubah salah satu kamar mandi jadi tempat wudhu dengan satu keran. Di atas keran terdapat cermin besar seolah-olah menyuruh orang yang berwudhu untuk tetap tampil menawan ketika hendak berhadapan dengan Allah SWT di kala sembahyang. Aspek keindahan tetap harus ditonjolkan dengan cara memajang celengan ayam, cangkang kerang besar, serta kain ulos di bagian pintu masuk.
            Boleh jadi alasan utama pengalihfungsian kamar mandi menjadi tempat wudhu adalah penghuni rumah yang tidak lagi sebanyak dulu. Tapi boleh saya tafsirkan bahwa keberadaan tempat wudhu tersebut menunjukkan perasaan Papap yang semakin spiritual. Ia pernah mengatakan bahwa tidak bisa tidak, semakin orang meningkat usianya dan juga pengalamannya, pastilah orang tersebut semakin spiritual. Mungkin ucapan Papap bisa saya bantah dengan kenyataan bahwa orang-orang ateis akut semacam Nietzsche dan Sartre tetap ateis hingga wafatnya. Namun spiritualitas tidak sama dengan religiusitas. Orang bisa saja tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, tapi pastilah ia merasakan ada suatu perasaan fascinatum et tremendum (kagum sekaligus takut) akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan juga dari kehidupan ini semua.
Kenyataannya, pernyataan-pernyataan orang semacam Nietzsche dan Sartre di masa tuanya jauh lebih lunak dan sejuk untuk dibaca ketimbang apa yang mereka teriakkan di masa muda. Kata Nietzche, amor fati fatum brutum, cintailah kehidupan meski takdir itu pahit, terdengar senada dengan bagaimana seorang Muslim harus bersyukur dalam segala keadaan. Kata Sartre, manusia itu bebas, tapi ia bertanggungjawab bagi kebebasan orang lain, terdengar senada dengan bagaimana dalam Islam, kita tidak hanya diajarkan soal habluminallah, melainkan juga habluminannas. Kata Papap, kalau kita mengenal siapa diri kita, kita akan mengenal alam semesta dan penciptanya. Kenalilah ia mula-mula lewat zat yang paling banyak mengaliri tubuh kita, yaitu air. Air mana yang ia maksud? Air ada banyak dimana-mana. Tapi yang indah tentu yang mengalir di tempat wudhu.  
Previous Post
Next Post

0 comments: