Minggu, 24 Agustus 2014

Perkembangan Ilmu Sosial

Perkembangan Ilmu Sosial
Sebelum berbicara soal pendekatan kualitatif, terlebih dahulu kita harus bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial. Namun sebelum berbicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial, ada baiknya juga kita bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu alam. 

Sejarah Singkat Ilmu Alam: Fase Mitos 

Jika kita mencoba menalar dengan pikiran kita sendiri, mungkin manusia terlebih dahulu berkutat dengan misteri alam semesta ketimbang misteri tentang manusia. Kenapa? Karena segala kebutuhan hidupnya yang paling dasariah tentu saja ia dapatkan dari alam. Ia sangat bergantung pada sungai, tanah, hujan, pohon, tumbuhan, hingga hewan-hewan. Manusia mula-mula mencoba memecahkan bagaimana caranya agar segala sesuatu itu terkontrol dengan baik sehingga hidupnya sendiri menjadi sedikit demi sedikit lebih terprediksi. Bayangkan jika manusia hanya mengandalkan hewan buruan yang berkeliaran di hutan-hutan liar yang rimbun dan gelap, tentu saja ia tidak bisa memprediksi apakah hewan tersebut akan ada esok hari atau tidak. Bedakan jika manusia mau bersabar sedikit dengan mendirikan peternakan. Mereka bisa lebih mengontrol kapan hewan lahir, kapan hewan dapat disembelih, dan kapan hewan bertelur atau mengandung. Belum lagi jika manusia akhirnya dapat menemukan konsep bercocok tanam. Dengan kemampuan membaca musim yang baik, seseorang dapat mengetahui kapan waktunya tanam dan kapan waktunya panen. Keseluruhan hal tersebut menunjukkan bahwa pada mulanya manusia tentu saja lebih banyak berjuang menaklukkan alam semesta daripada mengurusi tindak tanduk manusia lainnya. 

Meski berusaha mengontrolnya, toh alam semesta itu sendiri tetap merupakan misteri maha besar bagi manusia. Tetap ada sejumlah hal yang tidak pasti dan tidak sanggup diprediksi karena alam bagaimanapun kerap menyuguhkan anomali. Atas dasar itu, manusia mulai membayangkan ada perwujudan yang mempengaruhi mood dari alam semesta. Manusia mulai menciptakan mitos yang mendasari gejala-gejala di balik alam semesta. Rakyat Skandinavia kuno misalnya, percaya bahwa musim kemarau disebabkan oleh dicurinya palu Dewa Thor oleh raksasa. Agar palu tersebut dapat kembali, Thor mesti memenuhi permintaan raksasa yang menginginkan pernikahan dengan seorang dewi bernama Freyja. Kemudian Thor menyamar menjadi Freyja dengan menggunakan baju pengantin dan mengambil palunya di hari pernikahan mereka. Ketika palu tersebut berhasil diambil, Thor mendapatkan kekuasaannya kembali: ia membunuh si raksasa dengan sekali hantam. Dengan kembalinya palu tersebut, Thor dapat kembali menurunkan hujan bagi rakyat Skandinavia. 

Meski sekadar mitos yang sulit dicek kebenarannya, namun manusia telah memasuki suatu fase penting dalam sejarah peradabannya sendiri. Fase tersebut menunjukkan bahwa manusia memang selalu berupaya mencari penjelasan di balik kemisteriusan alam semesta. Kepercayaan mitis tersebut juga punya upaya dalam mengontrol alam. Misalnya, jika terjadi musim kemarau di Skandinavia, rakyat kemudian mengadakan ritual yang berisi tentang para pria yang menyamar menjadi pengantin wanita. Agar apa? Agar memberi semangat bagi Thor untuk mendapatkan palunya kembali. 

Sejarah Singkat Ilmu Alam: Fase Logos 

Pada sekitar tahun 500 SM di daerah Miletos, Asia Minor, ada seorang bernama Thales yang berpendapat bahwa alam semesta ini terbuat dari air. Hal tersebut merupakan suatu pernyataan yang tidak populer karena rata-rata masyarakat di sana mengatakan bahwa alam semesta ini terbuat dari perkawinan antara Uranus (Langit) dan Gaia (Bumi). Thales dengan berani mencari asal usul alam semesta dari unsur-unsur di dalam alam semesta itu sendiri. Itulah yang oleh para pemikir Barat disebut sebagai perpindahan dari fase mitos ke logos. Sejak Thales mengatakan hal tersebut, banyak pemikir lain seperti Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, Demokritos, Heraklitus, Parmenides, Xenophanes, dan Protagoras mencoba menalar hal-ikhwal alam semesta ini dengan rasionya sendiri dan tidak bersandar pada mitos-mitos yang dogmatis. 

Meskipun pernyataan Thales sudah lebih ilmiah ketimbang mitologi Yunani, namun tetap para pemikir dari jaman itu masih melakukan spekulasi. Mereka belum menemukan cara agar pernyataan tersebut menjadi kebenaran yang sifatnya objektif dan dapat diuji berulang-ulang. Boleh dibilang, mereka belum tahu bagaimana melakukan penelitian. Cikal bakal penelitian ada di masa Francis Bacon, jauh setelah era Yunani yang disebutkan di atas. Hidup di masa Renaisans sekitar abad ke-17, ia menulis buku berjudul Novum Organum (1620) yang menjadi dasar penelitian ilmiah modern. Dalam bukunya tersebut, secara garis besar ia membahas tentang pentingnya metode induktif. Katanya, untuk mendapatkan suatu hukum alam yang sifatnya umum, maka seseorang harus melihat kejadian-kejadian partikular secara berulang-ulang. Selain itu, ia juga menulis tentang pentingnya membuang hal-hal yang membuat hasil penelitian menjadi tidak objektif seperti perasaan-perasaan afektif dan godaan norma-norma dalam masyarakat. 

Di waktu yang kurang lebih sama, Galileo Galilei melakukan sejumlah eksperimen untuk menyumbangkan berbagai hukum dalam ilmu fisika. Ia juga menyuguhkan suatu kredo yang terkenal dalam dunia sains: “Ukurlah sesuatu yang dapat diukur dan buatlah menjadi terukur sesuatu yang tidak dapat diukur.” Ia seolah mau mengatakan bahwa alam semesta ini dapat diketahui melalui rumusan-rumusan matematis. Hal tersebut diperkuat oleh penerusnya di bidang ilmu fisika yaitu Isaac Newton yang menemukan sejumlah hukum baru yang dapat memberikan kepastian demi kepastian menyoal alam semesta. Ilmu pengetahuan tentang alam berkembang sangat pesat dan mencapai puncaknya di Era Pencerahan pada sekitar abad ke-18. Pada masa itu, para ilmuwan bahkan berkata bahwa jikapun Tuhan ada dan menciptakan dunia, maka ia sudah tidak lagi ikut serta dalam berjalannya dunia tersebut. Ia bagaikan pembuat jam mekanik. Ketika jam itu sudah berjalan, maka pembuatnya tidak lagi punya pekerjaan. Tugas para saintis adalah menelaah cara kerja jam tersebut dan bukan cara kerja Tuhan yang ada di baliknya. Ada suatu keyakinan luar biasa bahwa suatu saat segala sesuatu di dunia ini dapat dijelaskan lewat pendekatan ilmiah yang matematis dan terukur. 

Awal Mula Ilmu Sosial 

Keyakinan tersebut tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu alam saja, seorang pemikir Prancis bernama Auguste Comte dari awal abad ke-19 yakin bahwa kepastian demi kepastian dapat juga ditemukan dalam fenomena sosial. Ia percaya bahwa dalam kehidupan manusia juga ada pola-pola objektif seperti yang dipunyai oleh alam semesta. Jika pola-pola itu dapat diketahui dan dipecahkan, maka manusia, sebagaimana halnya alam, juga dapat diprediksi dan dikontrol. Comte dapat dikatakan sebagai orang yang menggagas ilmu sosiologi. Ia sangat yakin bahwa dengan ilmu sosiologi, ilmu-ilmu alam mencapai puncak kejayaannya. Comte bahkan menyebut sosiologi sebagai fisika tingkat lanjut. 

Wacana yang dilemparkan oleh Conte tersebut mendapat reaksi cukup keras dari sejumlah pemikir terutama di akhir abad ke-19 seperti Wilhelm Dilthey. Ia mengatakan bahwa perlu ada perbedaan tegas antara ilmu yang mempelajari alam (Naturwissenschaften) dan ilmu yang mempelajari manusia (Geisteswissenschaften). Naturwissenschaften mencari erklaren atau penjelasan dari segala sesuatu, sedangkan Geisteswissenschaften mencari apa yang disebut oleh Max Weber sebagai verstehen atau pemahaman dari segala sesuatu. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu alam bersifat nomotetis atau mencoba mencari hukum-hukum (nomos) universal dari kejadian-kejadian alam sehingga dapat ditelusuri sebab akibatnya, sedangkan ilmu-ilmu sosial bersifat idiografis atau mencoba untuk dilukiskan keunikan demi keunikannya secara partikular. Upaya keras dari Dilthey dan Weber tersebut kemudian diperkuat oleh Karl Marx yang mengatakan bahwa teori-teori dalam ilmu sosial justru tidak boleh ahistoris, objektif, dan universal. Sifat teori-teori dalam ilmu sosial haruslah persis sebaliknya: historis, subjektif, dan kontekstual. 

Ilmu Sosial dan Penelitian Kualitatif  

Dengan pemilahan baru yang dilakukan oleh Dilthey, Weber, dan Marx tadi, ilmu sosial seolah mendapat tempatnya sendiri. Ia ada bukan untuk “dimanipulasi” secara matematis seperti yang biasa dilakukan oleh ilmu-ilmu alam. Ilmu sosial menjadi suatu disiplin ilmu yang memang bertujuan untuk memaknai secara lebih mendalam dunia kehidupan (lebenswelt) yang ditinggali oleh manusia. Ketika ilmu alam berupaya menyederhanakan dan mereduksi pengalaman manusia, ilmu sosial justru mengakui kompleksitas dan memberi penghargaan tinggi terhadap pengalaman manusia. 

Hal-hal semacam itu membuat upaya penerapan hukum-hukum alam terhadap dunia kehidupan manusia menjadi tampak seperti upaya pemiskinan semata. Metode penelitian kuantitatif yang mula-mula ada dan mewarnai dunia ilmu pengetahuan Barat lebih dari 1500 tahun tersebut mendapat perlawanan serius dari metode yang dianggap lebih relevan bagi ilmu sosial, yaitu metode penelitian kualitatif. Dalam metode penelitian kualitatif ini, para peneliti tidak perlu lagi berpegang pada kredo bebas nilai, objektif, dan rasional. Peneliti justru harus memberi makna serta nilai terhadap segala sesuatu sekaligus mengakui dengan jujur bahwa tidak mungkin seorang peneliti tidak berjarak dari apa yang ditelitinya. Bahkan seorang ilmuwan bernama Michael Polanyi mengatakan bahwa dalam ilmu seeksak apapun, kenyataannya, perasaan-perasaan pribadi seseorang juga turut serta mewarnai hasil penelitian yang katanya objektif.



Ditulis sebagai suplemen pertemuan pertama mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif semester ganjil 2014/2015 di Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Telkom University. 
Continue reading

Rabu, 20 Agustus 2014

Mengenal Fenomenologi

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan mengenalkan fenomenologi secara teoritis -seperti melibatkan nama-nama semacam Husserl, Heidegger, Marleau-Ponty, atau Schutz-. Saya akan mencoba secara perlahan berbagi tentang fenomenologi lewat contoh-contoh konkrit. Harapannya, mereka yang membaca tulisan ini dengan status awam, kemudian tertarik untuk melanjutkan bacaannya ke arah yang lebih teoritik baik soal sejarah maupun metodologinya secara lengkap.

Pertama, pernahkah kita punya suatu pengalaman yang sangat personal terhadap misalnya, suatu benda? Benda itu bisa apa saja, boleh jaket, tas, baju, mobil, parfum, hingga sepatu. Benda-benda tersebut menjadi personal oleh sebab keberadaannya di dalam keseharian kita. Jaket warna abu-abu ini tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Karena jaket ini pernah menemani saya pergi keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda. Nilai penting jaket tersebut mungkin hanya dipunyai oleh orang tersebut dan tidak bagi yang lain. 

Namun apa yang personal dan subjektif semacam itu, terang saja tidak bisa dijadikan suatu landasan ilmiah. Apa yang disebut ilmiah, dalam terminologi sains, adalah yang objektif, rasional, juga universal. Sifat air yang menjadi dingin di kala musim dingin disebut sebagai bukan sifat air karena sifat tersebut hanya berlangsung temporal. Tapi coba tengok sifat air yang berpindah dari posisi yang lebih tinggi ke lebih rendah. Itu adalah ilmiah karena dimana-mana pun begitu. Artinya, perasaan seseorang tentang jaket, tidak bisa kita samakan dengan prinsip universal dari teori-teori matematika, fisika, kimia, atau biologi yang memang punya kredo bernama "bebas nilai". Hal-hal mengenai jaket lebih baik diletakkan di luar lingkungan ilmiah dan menjadi urusan masing-masing manusia saja.

Namun awal abad ke-20 adalah penanda betapa dunia ilmiah menjadi kering kerontang oleh sebab upayanya yang tanpa henti dalam menyingkirkan sisi pengalaman manusia yang paling personal. Mestinya, dunia pengalaman manusia yang paling dasariah itulah inti dari segala kehidupan. Dunia manusia sejatinya adalah lebenswelt atau dunia yang dijalani begitu saja (mengalir dan tanpa asumsi). Dunia sejati adalah ketika bangun tidur, minum air, tidur siang, pulang ke rumah, bercanda dengan kucing, berbicara kepada burung, berbincang soal politik di warung kopi, hingga berpacaran di bioskop. Dunia pengalaman yang paling subtil dari manusia tersebut, dalam kacamata ilmiah, sudah dikotak-kotakkan agar mudah untuk diteliti, dibedah, hingga dikontrol.

Kemudian fenomenologi hadir dan memasuki lingkungan ilmiah sebagai suatu pendekatan yang terlebih dahulu mengakui pengalaman subjektif. Kata fenomenologi, justru pengalaman paling personal tersebut harus diselami terus menerus hingga inti terdalamnya, dalam rangka menyingkap tabir misteri kehidupan. Untuk mencapai inti terdalam tersebut, fenomenologi mengajarkan untuk menunda segala bentuk asumsi ke dalam tanda kurung (epoche). Misalnya, jika dalam asumsi kita berbagai dedaunan pasti hijau, maka fenomenologi mengajak untuk melihat kembali lebih dekat apakah daun itu benar-benar hijau? Mungkin ada coklatnya, ada hitamnya, juga mungkin ada kuningnya. Hanya dengan membuang asumsi kita tentang daun itu pasti hijau, maka kenyataan lain tentang daun akan kita temukan.

Maka itu dengan keberadaan fenomenologi, kemungkinan untuk meneliti segala sesuatu menjadi lebih luas. Penelitian tentang hal-hal yang sangat personal, seperti benda-benda harian kita, yang tadinya dianggap tidak ilmiah, menjadi punya tempat istimewa. Misalnya, kita bisa mengamati secara mikroskopis berbagai sendal yang dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia, arti dari hubungan asmara, atau bahkan fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Penelitian fenomenologi hampir dapat dipastikan menghasilkan sesuatu yang baru karena kenyataan bahwa pemaknaan seseorang akan sesuatu pastilah berbeda. 

Sekian dan selamat membaca lebih jauh!


Contoh tulisan (bukan penelitian) fenomenologi:


TEMPAT WUDHU




            Di rumah kami sempat ada dua kamar mandi dengan posisi bersebelahan. Meski sangat berfungsi jika ada dua orang yang sedang ingin ke toilet dalam waktu bersamaan, namun tetap kelihatan aneh dan tidak efisien -apalagi jika mengingat bahwa terdapat dua toilet lagi di ruangan yang lainnya-. Meski demikian, keanehan itu tidak terlalu mengganggu aktivitas kami sekeluarga. Kami merasa sesekali di rumah ini harus terdapat sesuatu yang ganjil sebagai bagian dari ekspresi kesenimanan Papap yang agak eksentrik.
            Namun ketika dua anak Papap, yakni Engkang dan saya, sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing, Papap berpikir keras soal keberadaan dua kamar mandi yang bersebelahan tersebut. Keberadaannya yang tidak efektif menjadi semakin tidak efektif dan bahkan akan diabaikan sama sekali jika yang tinggal di sana hanya Papap dan Mamah. Akhirnya beliau mengubah salah satu kamar mandi jadi tempat wudhu dengan satu keran. Di atas keran terdapat cermin besar seolah-olah menyuruh orang yang berwudhu untuk tetap tampil menawan ketika hendak berhadapan dengan Allah SWT di kala sembahyang. Aspek keindahan tetap harus ditonjolkan dengan cara memajang celengan ayam, cangkang kerang besar, serta kain ulos di bagian pintu masuk.
            Boleh jadi alasan utama pengalihfungsian kamar mandi menjadi tempat wudhu adalah penghuni rumah yang tidak lagi sebanyak dulu. Tapi boleh saya tafsirkan bahwa keberadaan tempat wudhu tersebut menunjukkan perasaan Papap yang semakin spiritual. Ia pernah mengatakan bahwa tidak bisa tidak, semakin orang meningkat usianya dan juga pengalamannya, pastilah orang tersebut semakin spiritual. Mungkin ucapan Papap bisa saya bantah dengan kenyataan bahwa orang-orang ateis akut semacam Nietzsche dan Sartre tetap ateis hingga wafatnya. Namun spiritualitas tidak sama dengan religiusitas. Orang bisa saja tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, tapi pastilah ia merasakan ada suatu perasaan fascinatum et tremendum (kagum sekaligus takut) akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan juga dari kehidupan ini semua.
Kenyataannya, pernyataan-pernyataan orang semacam Nietzsche dan Sartre di masa tuanya jauh lebih lunak dan sejuk untuk dibaca ketimbang apa yang mereka teriakkan di masa muda. Kata Nietzche, amor fati fatum brutum, cintailah kehidupan meski takdir itu pahit, terdengar senada dengan bagaimana seorang Muslim harus bersyukur dalam segala keadaan. Kata Sartre, manusia itu bebas, tapi ia bertanggungjawab bagi kebebasan orang lain, terdengar senada dengan bagaimana dalam Islam, kita tidak hanya diajarkan soal habluminallah, melainkan juga habluminannas. Kata Papap, kalau kita mengenal siapa diri kita, kita akan mengenal alam semesta dan penciptanya. Kenalilah ia mula-mula lewat zat yang paling banyak mengaliri tubuh kita, yaitu air. Air mana yang ia maksud? Air ada banyak dimana-mana. Tapi yang indah tentu yang mengalir di tempat wudhu.  
Continue reading