Sunday, July 13, 2014

Sepakbola dan Kehidupan

Sejak Brasil mengalami kekalahan mencengangkan 1-7 dari Jerman, entah kenapa, saya tidak henti-hentinya membuka berita dari internet untuk hanya sekedar mengetahui seberapa mendalam efek kekalahan tersebut bagi penduduknya. Sebuah koran terkenal di Brasil menyebutkan bahwa tragedi kekalahan tersebut lebih dahsyat dari tragedi kekalahan dari Uruguay pada tahun 1950 yang disebut dengan Maracanazo; Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengatakan, "Bahkan mimpi buruk saya pun tidak pernah sepahit ini."; Eks striker Brasil, Romario, bahkan menganggap bahwa para petinggi sepakbola Brasil sudah sepantasnya dijebloskan ke penjara; Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari menanggapi kekalahan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling pahit dalam karir kepelatihannya. Keseluruhan respon tersebut membuat saya bertanya: Lebih besar mana, sepakbola atau kehidupan?

Mudah sekali bagi kita untuk menjawab bahwa tentu saja sepakbola hanyalah olahraga dan kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar. Tapi pemandangan pasca pembantaian di Belo Horizonte kemarin menunjukkan bahwa sepakbola, bagi orang Brasil, lebih besar dari kehidupan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu David Luiz dan Luis Gustavo berlutut dan berdoa setelah peluit panjang dibunyikan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu pendukung Brasil sampai histeris setiap gawangnya dijebol. Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sepakbola juga terkandung harapan, harga diri, martabat bangsa, hingga religiusitas. Itu sebabnya mengapa para pemain Brasil tidak bisa dengan enteng mengatakan bahwa, "Ya, kami kalah. Tapi hidup jalan terus." Bagi mereka, kekalahan tersebut agaknya membuat kehidupan berhenti berjalan -setidaknya untuk sementara waktu-.

Saya kerap berpikir apa yang bisa membuat sepakbola punya dampak begitu besar bagi sebuah bangsa. Olahraga lain, nyatanya, tidak mempunyai efek semasif itu. Kekalahan Roger Federer dari Novak Djokovic di Wimbledon kemarin tidak menyebabkan kesedihan nasional bagi bangsa Swiss; Kegagalan banyak pemain Indonesia untuk meraih gelar di turnamen bulutangkis Indonesia Open kemarin memang menimbulkan kekecewaan, tapi tidak mendalam. Sepakbola, faktanya, selalu menyedot perhatian lebih banyak daripada olahraga lain. Dulu saya punya anggapan bahwa kemanusiawian sepakbola adalah faktor utamanya. Sepakbola membiarkan keputusan tertinggi ada di tangan wasit yang merupakan manusia dengan segala kealpaannya. Ini membuat sepakbola jauh lebih menarik daripada tenis atau badminton misalnya yang mana keputusan pemberian poin begitu cermat, terukur, dan nyaris tidak ada peluang bagi subjektivitas. 

Sekarang ini alasan saya agak berkembang. Sepakbola menarik karena ia mengekpresikan suatu perasaan purba tentang kehendak untuk berkuasa, keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan itu sendiri, hingga kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan. Kehendak untuk berkuasa adalah hal yang menurut Nietzsche amat niscaya dipunyai oleh setiap manusia. Sekarang ini peperangan menjadi hal yang sebisa mungkin dihindari, terutama sejak dunia mengalami trauma serius pasca Perang Dunia II. Namun ketiadaan perang yang seterbuka dulu, tidak berarti nafsu manusia untuk saling membunuh menjadi hilang. Ada olahraga, ada sepakbola, yang sama-sama mengartikulasikan keinginan manusia yang demikian. Ketika Jerman mengalahkan Brasil 7-1 kemarin, niscaya bangsa Jerman dimanapun akan secara otomatis punya sisi superior ketika bertemu orang Brasil. Itu sebabnya status juara Piala Dunia adalah sebentuk gelar yang sangat memuaskan dan nyaris setara dengan bagaimana menaklukkan dunia secara riil. Hanya saja kemasannya berbeda. Dahulu melalui peperangan yang melibatkan senjata, sekarang melalui sepakbola.

Keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan tergambar dari bagaimana pertandingan sepakbola itu sendiri berjalan. Kita melihat keindahan dari bagaimana formasi sepakbola disusun dan bagaimana peraturan demi peraturan ditaati oleh para pemain sehingga permainan berjalan secara kosmos dan bukan khaos. Tapi inilah indahnya sepakbola: Selalu ada ruang untuk kekacauan agar kita mengalami pergulatan batin yang tidak enteng. Selalu ada ruang untuk misalnya, tangan Tuhan dari Diego Maradona di tahun 1986 yang dibiarkan begitu saja agar menjadi perbincangan sepanjang zaman. Selalu ada ruang untuk misalnya, kartu merah untuk Claudio Marchisio yang membuat Italia -di Piala Dunia kali ini- yang tadinya berada di atas angin melawan Uruguay, menjadi berantakan formasinya dan malah takluk di tangan sang lawan. Sepakbola benar-benar sanggup merusak seluruh anggapan apriori kita dengan sekali kibas. Memang demikian sepakbola, sebagaimana juga kehidupan.

Kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan barangkali adalah alasan yang paling kuat mengapa sepakbola sekaligus juga bernuansa religius dan bahkan spiritual bagi publik tertentu. Kita ingat bagaimana publik Napoli mengagungkan Maradona dengan sebutan il nostro Dio atau Dewa kami. Kita juga tahu bagaimana suasana jalanan di Italia setiap akhir pekan yang menjadi lengang karena orang-orang tengah melaksanakan ibadah nonton sepakbola. Sesembahan semacam ini jangan dianggap remeh sama sekali. Sama seperti agama-agama besar, sepakbola juga menampilkan altar, ritual, dan juga nabinya sendiri. Baik agama-agama besar maupun sepakbola punya satu konsep yang sama-sama menjual, yaitu harapan akan sebuah kebahagiaan. Maka itu jangan heran bagi mereka orang-orang Brasil yang barangkali menganggap sepakbola sebagai sebuah agama, kekalahan kemarin sungguh sebuah penistaan mahadahsyat terhadap keyakinan hidupnya. 

Sekarang ini Julio Cesar dan kawan-kawan mungkin sedang meratapi nasibnya. Mereka sedang bertanya-tanya tentang bagaimana posisinya dalam sejarah oleh sebab kekalahan yang memalukan ini. Mereka harus siap ditanyai oleh anak cucunya karena pembantaian tersebut pasti dimuat dalam buku sejarah sepakbola Brasil. Nasib mereka akan sama seperti Moacir Barbosa, kiper Brasil di tahun 1950 ketika mereka mengalami Maracanazo. Kata Moacir, "Hukuman di Brasil paling lama adalah tiga puluh tahun penjara. Tapi saya mengalami hukuman sosial dari masyarakat selama lebih dari lima puluh tahun." Para pemain dari skuad Brasil di Piala Dunia 2014 tentu saja akan tetap bermain sepakbola seperti biasanya pasca perhelatan tersebut. Namun kehidupan barangkali tidak akan sama lagi bagi mereka. Bisa untuk sementara, bisa untuk selamanya. 
Previous Post
Next Post

0 comments: