Thursday, July 3, 2014

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi

Untuk menuliskan ini, sangat tidak sederhana. Pertama, saya mesti melontarkan kritik pada ilmu yang sudah membesarkan dan juga memberi nafkah bagi saya. Ilmu komunikasi, bagaimanapun, telah menjadikan saya bergelar magister dan berperan membuat saya diterima menjadi dosen di sebuah kampus dengan gaji lumayan. Kedua, ilmu komunikasi tengah populer dan menjadi semacam kebutuhan jaman. Indikasinya barangkali terlihat dari bagaimana banyak kampus mulai membuka jurusan maupun fakultas ilmu komunikasi yang mana peminatnya jarang sekali sepi. 

Namun sudah sejak kuliah S2 sekitar enam tahun silam, saya sudah merasakan semacam kegelisahan tentang ilmu komunikasi. Saya merasa ada lubang yang jujur saja, belum mampu saya ejawantahkan secara jernih. Ketika saya menuliskan ini pun, bukan berarti saya sudah mengerti betul apa yang saya kritik  Barangkali saya menulis ini hanya dalam rangka membuka wacana kritis terhadap ilmu komunikasi, dengan harapan ada gayung bersambut agar si ilmu itu sendiri menjadi berkembang dan konstruktif. 

Sebagai contoh, ilmu psikologi sekarang sudah cukup kokoh sebagai sebuah ilmu. Namun proses untuk mencapai kekokohan itu tidak sederhana dan telah melalui pergulatan pemikiran yang panjang. Ia tampil terlebih dahulu sebagai behaviorisme yang hanya menyoroti persoalan perilaku dan tidak lebih daripada itu. Sigmund Freud kemudian mengritik behaviorisme sebagai "ilmu jiwa tanpa jiwa". Ia menawarkan psikoanalisis sebagai "ilmu jiwa yang sejati" karena berupaya lebih banyak mendeteksi alam bawah sadar manusia. Begitu seterusnya mereka saling bergulat hingga masuk masa psikologi humanistik, neurosains, dan seterusnya sampai mencapai sebuah bangunan besar yang makin lama makin menjulang. Kekokohan itu hanya mungkin terjadi jika ada upaya saling mengkritik yang konstruktif. Jika tidak ada upaya itu, ilmu lama kelamaan bisa rapuh dan melemah bagai berjalan di atas lapisan es yang tipis. 

Atas dasar itu, apa yang saya ungkapkan dalam tulisan ini, adalah juga dengan harapan bahwa akan ada semacam dialog yang membangun sehingga ilmu komunikasi itu sendiri menjadi kokoh. Saya akan mencoba memaparkan masalah-masalah dalam ilmu komunikasi lewat paparan poin per poin:

1. Kata "komunikasi" sekarang merambah berbagai bidang seperti "komunikasi politik", "komunikasi bisnis", "komunikasi antar budaya" hingga "komunikasi pemasaran". Dewasa ini pertautan semacam itu sudah lumrah karena memang bidang-bidang ilmu menjadi semakin lintas disiplin. Tapi coba bandingkan posisi semacam itu dengan misalnya kata "seni", "filsafat", atau "sejarah". "Politik" dengan "seni politik" jelas berbeda. Jika kita berbicara politik saja, maka itu terkait dengan urusan-urusan teknis dan praktis. Namun "seni politik" artinya melihat politik sebagai suatu hal yang juga mempunyai estetika tersendiri. Misalnya, jika kita membaca bagaimana Toyotomi Hideyoshi mencapai kekuasaan, kita bisa sebut bahwa ia tidak hanya sekadar mempraktikkan sebuah taktik politik, melainkan juga seni berpolitik. Selain itu, "bisnis" dan "filsafat bisnis" juga jelas mempunyai perbedaan. Jika sudah menyematkan kata "filsafat" di depan sebuah bidang keilmuan, maka ia lebih menitikberatkan kajiannya pada hal-hal yang lebih hakiki, yang oleh ilmu filsafat itu sendiri dikatakan sebagai ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Juga jelas dengan penyematan kata "sejarah", artinya kita mengaitkan sebuah bidang keilmuan dengan perjalanan historis keilmuan itu sendiri. 

Pertanyaan berikutnya, apa efek dari penyematan kata "komunikasi" di depan bidang keilmuan? Agaknya, bisa dibilang tidak berpengaruh apa pun. Kalau kita bicara "komunikasi pemasaran" misalnya, maka topik-topik yang dibahas sesungguhnya adalah pemasaran itu sendiri. Kalau kita bicara "komunikasi politik" misalnya, maka tidak ada ubahnya dengan membahas politik itu sendiri. Barangkali para akademisi komunikasi politik bisa membela diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih memfokuskan diri pada strategi kampanye, pencitraan, dan efektifitas program-program. Tapi coba renungkan baik-baik: Sebelum ilmu komunikasi ada, politik memang sudah demikian adanya. Saya yakin bahwa sebelum bermunculan sarjana komunikasi seperti sekarang ini, para politisi sudah sudah memikirkan bagaimana berkampanye dan mencitrakan dirinya. Misalnya Darius dari Persia, ia mempertahankan kekuasaan dengan cara menempatkan wajah dirinya dalam mata uang sah di negara tersebut. Hal tersebut sudah dilakukan manusia dari ribuan tahun silam dengan semata-mata pertimbangan politis yang tidak dibarengi oleh ilmu yang sekarang ini kita sebut sebagai ilmu komunikasi.

2. Kemarin saya membeli sejumlah buku yang terkait dengan etika dan juga terkait dengan filsafat komunikasi. Mengapa? Karena di semester ini, saya mengajar sebuah mata kuliah yang saya pun masih mengernyitkan dahi membaca judulnya. Nama mata kuliahnya: Etika dan Filsafat Komunikasi. Tapi atas nama profesionalisme, saya tetap bergerilya membeli delapan buah buku untuk menunjang perkuliahan. Saya tidak meragukan buku-buku etika yang ditulis oleh Romo Franz Magnis Suseno karena memang itulah bidang yang ia tekuni. Pun saya pernah mengikuti beberapa kali kuliahnya sehingga tak perlu ragu lagi akan kualitas Romo. Namun buku-buku filsafat komunikasi -yang agaknya tak perlu saya sebutkan judul resmi maupun pengarangnya- sungguh tidak memuaskan keingintahuan saya. Misalnya, ada buku filsafat komunikasi yang melulu membahas filsafat mulai dari pengertian, sejarah, filsafat timur, aliran-aliran, posmodernisme, teori kritis, positivisme, hingga bahasa. Pertanyaannya: Lantas apa bedanya buku tersebut dengan buku filsafat? Lucunya, letak buku itu ada di rak "komunikasi" dan bukan di rak "filsafat". Ada juga buku filsafat komunikasi yang menitikberatkan isinya pada ragam dan sejarah fenomenologi mulai dari Husserl, Schutz, Heidegger hingga nama-nama yang bagi saya tidak harusnya terkait dengan fenomenologi seperti Hegel (walaupun ia menulis tentang Fenomenologi Roh, tapi bukan berarti ia bicara fenomenologi sebagai sebuah metodologi layaknya Husserl), Kierkegaard, Sartre, Levinas dan Beauvoir -Kecuali Levinas, nama-nama terakhir ini adalah gerombolan eksistensialisme akut-. 

Apa arti dari cerita saya di atas? Artinya, secara filosofis, komunikasi tidak mempunyai sebuah bangunan hakikat yang meyakinkan. Dengan pisau bedah filsafat apapun kita memasuki ilmu tersebut, kita hanya akan memasuki sebuah labirin dari ilmu filsafat itu sendiri. Secara epistemologis misalnya, sesungguhnya komunikasi adalah sesuatu yang secara objek, adalah asing dan tidak kelihatan -Kant menyebutnya sebagai noumena-. Ia ada di luar batas pengetahuan kita dan barangkali nyaris hampir sekontroversial Freud ketika menyatakan bahwa alam bawah sadar itu ada dan nyata. Yang kita bisa telaah dari komunikasi barangkali adalah penyampai pesan, medium, penerima pesan, dan efek yang diterimanya. Keseluruhannya itu, jika tidak hati-hati, maka akan dengan mudah melompat masuk pada ilmu psikologi. Hal yang tidak tersentuh oleh ilmu psikologi barangkali hanyalah soal medium saja. Mungkin soal medium itu seharusnya yang ditekuni sungguh-sungguh oleh ilmu komunikasi. 

3. Istilah komunikasi sebagai sebuah keilmuan yang mandiri belakangan ini, agaknya telah bergerak secara serampangan. Ia tiba-tiba menjadi sebuah ember besar dimana ilmu-ilmu sebelumnya yang telah mapan dapat mencemplungkan diri ke wadah tersebut. Fenomena semacam itu juga tengah menjadi tren menarik seperti yang terjadi dalam cultural studies. Cultural studies -dengan semangat membongkar modus-modus kebudayaan urban sebagai sebuah perpanjangan kekuasaan- mempersenjatai diri dengan teori-teori seperti feminisme, psikoanalisis, strukturalisme, dan neo-marxisme. Cultural studies menjadi semacam ember untuk menampung teori-teori tersebut. Ilmu komunikasi adalah ember yang maha besar. Ia memasukkan cultural studies ke dalam embernya -tentu saja beserta teori-teorinya pula-, juga hubungan masyarakat, penyiaran, pemasaran, bisnis, politik, hingga masuk ke ranah-ranah seperti film dan juga performing art. Alasannya apa sehingga ilmu komunikasi berhak menjadi ember raksasa? Karena katanya, "We cannot not communicate," dalam segala aspek pasti terdapat unsur komunikasinya. Fakta itu tidak bisa saya bantah bahwa memang dalam setiap aspek terdapat unsur komunikasi. Maka itu seharusnya cepat atau lambat, segala bidang seperti olahraga, percintaan, percetakan, penjara, rumah sakit jawa, kelak semuanya akan berada di dalam ember ilmu komunikasi karena semuanya juga mengandung fenomena komunikasi. 

Tapi apa yang menjadi kekhawatiran saya jika komunikasi menjadi ember raksasa bagi segala sesuatu? Saya akan mengambil contoh pada bidang film yang dua kubu sedang mengklaim memiliki ranah ini, yakni seni dan juga komunikasi. Apa perbedaan film jika dipegang oleh seni dan apa bedanya jika dipegang oleh ilmu komunikasi? Saya hanya menebak-nebak, dan ini tidak ilmiah sama sekali: Jika dipegang oleh seni, film menjadi urusan estetika; jika dipegang oleh ilmu komunikasi, film menjadi urusan pasar karena terkait melulu dengan bagaimana film itu dapat berkomunikasi dengan publik sebanyak-banyaknya (kamu boleh baca kalimat ini sebagai laku di pasaran). Orang seni mungkin akan menciptakan film dengan landasan teori seperti neo-realisme Italia, french new wave, atau realisme sosialis sehingga hasilnya secara estetis dapat dipertanggungjawabkan. Orang komunikasi barangkali tak perlu yang demikian karena film adalah bagus selama dia dapat dimengerti dengan mudah. Mungkin kita tahu bahwa dalam kacamata seni, "dimengerti" bukan terminologi yang tepat untuk mengejawantahkan sebuah karya. Lebih tepat kalau kita katakan bahwa sebuah karya itu "terasa" dan "bermakna" tapi bukan dalam nilai-nilai yang mudah untuk diverbalkan. Secara sederhana, dalam konteks film tadi, boleh saya katakan bahwa ilmu komunikasi amat tergiur untuk mengemas film menjadi pro-pasar dan barangkali tidak lagi memikirkan idealisme tertentu. Ilmu komunikasi adalah kata lain dari ilmu pemasaran yang intelek. Ilmu tentang bagaimana sebuah seni adiluhung menjadi seni yang praktis dan kebernilaiannya hanya diukur dari laku atau tidaknya. 

Sementara ini dulu yang dapat saya tuliskan meskipun ada beberapa diantaranya yang belum tertuangkan. Semoga dapat menjadi diskusi yang membangun dan konstruktif. 

Previous Post
Next Post

4 comments:

  1. Wah! Bapak Dosen Ilmu Komunikasi ternyata, kebetulan saya juga tengah menempuh prodi Ilmu Komunikasi. Dan memang saya merasa Ilmu komunikasi ini cakupannya luas juga ya ternyata. Postingan ini begitu menarik dan informatif. :D
    Saya jadi ikut membayangkan kegelisahan yang tengah bapak rasakan. Saya tunggu postingan selanjutnya, Pak.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah membaca ya. Iya, tetaplah gelisah dan berlaku kritislah. Jangan cepat terbuai dengan lapangan kerja hehe.

    ReplyDelete
  3. Komentar saya yang pertama masuk ga ya? Maaf kalau double posting hehe..

    Saya dari fikom unpad mas, kalo di kampus sih memang selalu ada perdebatan antara komunikasi sebagai 'keilmuan' dan 'ilmu praktis', tapi saya sekarang ngeliat (lagi-lagi) yang laku dijual itu yang praktis, makanya ada komunikasi pemasaran, komunikasi organisasi, dll.. tapi saya setuju ttg komunikasi akan bergerak ke arah media.. :)

    ReplyDelete
  4. wah maaf baru saya baca komennya. Iya betul, komunikasi sebaiknya bicara media saja. Hal lain-lain tak perlu ikut campur hehe. Mungkin para akademisi komunikasi ingin terlihat sebagai orang yang "paham semua" ya hehe..

    ReplyDelete