Kamis, 24 Juli 2014

Nasib Manusia




Judul Buku : Nasib Manusia
Genre : Biografi
Objek Kajian : Kisah hidup Awal Uzhara
Penulis : Syarif Maulana
Penerbit : Publika Edu Media
ISBN : 978 - 602 - 14138 - 6 - 9
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 120
Harga :  Rp. 40.000

Ulasan
Awal Uzhara adalah orang besar sekaligus bukan siapa-siapa. Orang besar karena ia adalah satu dari sedikit penerima beasiswa untuk bersekolah di VGIK, Moskow yang merupakan institut sinematografi tertua di dunia. Selain aktivitasnya di dunia akting dan penyutradaraan, Awal Uzhara juga turut berjasa menyebarkan kebudayaan Indonesia di Rusia lewat kegiatan mengajarnya di Universitas Negeri Moskow. Awal Uzhara adalah juga sekaligus bukan siapa-siapa oleh sebab nasibnya yang terkatung-katung di negeri orang. Kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Indonesia sehingga lebih dari lima puluh tahun tidak bisa pulang ke Indonesia.

Buku ini memuat seluruh kisah hidupnya yang penuh paradoks. Ia adalah orang yang diingat sekaligus dilupakan. Dihormati sekaligus dinistakan. Dicintai sekaligus dibenci. Buku ini bukan semata-mata tentang sinematografi, akting, film, kebudayaan, ataupun nasionalisme. Kita sedang membaca sesuatu yang lebih hakiki daripada itu semua. Kita sedang membaca sebuah kehidupan. Kita sedang membaca nasib manusia. 

Testimoni
Awal Uzhara sudah cukup lama tinggal di Rusia. Dia tahu betul tentang Rusia termasuk juga segala kekurangannya. Walaupun demikian, mencintai Rusia dengan sepenuh hati sudah menjadi hal yang biasa baginya. Disini, di Indonesia, Awal Uzhara tidak henti-hentinya membagikan pengetahuan tentang sastra dan sinematografi Rusia, serta kecintaannya terhadap Rusia kepada generasi muda Indonesia. 
- Vyacheslav Tuchnin (Direktur Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Rusia Jakarta) 

Seandainya Awal Uzhara adalah sebuah peribahasa, kita akan menemukan to live to the absolute fullest. Beliau adalah sosok yang sangat luar biasa dan menginspirasi kami. Usia dan kondisi fisiknya tak menghalanginya untuk terus mendedikasikan diri dan memberikan ilmu untuk kami. Berkah luar biasa bagi kami bisa mendapat pengajar seperti Bapak. Beliau tidak hanya mengajarkan kami bahasa dan budaya Rusia tetapi juga mengajarkan banyak pelajaran hidup. - Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Angkatan 2012 

Penggambaran yang luas, komprehensif, dan juga mendalam tentang salah satu tokoh perfilman Indonesia yang mendalami sejarah, budaya, dan perfilman Rusia selama lima puluh tahun. Beliau merupakan tokoh yang sangat langka dan seorang legenda hidup. - Tobing Jr. (Penggiat Komunitas LayarKita)

Pemesanan dapat langsung dengan menghubungi penulis via email ke syarafmaulini@gmail.com.
Continue reading

Senin, 21 Juli 2014

Fatimah Chen Chen: Pesan Tersirat dalam Nama-Nama


Jadi ceritanya begini: Istri saya punya teman semasa kuliah. Temannya semasa kuliah tersebut mengirimkan novel yang katanya "buku yang ditulis oleh ayahnya". Sebelumnya, saya tidak menduga novel apa gerangan dan siapa penulisnya. Ketika buku tersebut sampai, saya membaca judulnya terlebih dahulu yang tentu saja terpampang lebih besar dari nama sang penulis. Judul novel adalah Fatimah Chen Chen. Penulisnya? Motinggo Busye.

Fatimah Chen Chen berkisah tentang seorang perempuan Taiwan bernama Chen Chen yang menjadi muallaf setelah melalui berbagai kejadian. Tidak hanya dirinya sendiri, Chen Chen juga sanggup membuat seisi keluarganya tertarik pada Islam. Novel ini tampak sederhana, meskipun sebenarnya tidak. Sederhana karena pembaca manapun akan dengan mudah mengikuti alur ceritanya dan mungkin tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya -saya perlu tiga hari dan itu masih terlalu lama-. Gaya bahasa Motinggo sungguh lincah dan lugas. Ia memadatkan perubahan demi perubahan psikologis -terutama dari segi keimanan- yang dialami tokoh-tokohnya secara cepat tanpa transisi yang bertele-tele. Tidak sederhana karena Motinggo samar-samar membawa pesan. Nama-nama tokoh di dalam novel semisal Fatimah, Ja'far, Ali, dan Husein menunjukkan bahwa Fatimah Chen Chen mengusung ide keislaman yang masih dianggap minoritas dalam masyarakat kita.   

Meski demikian, ide tersebut tampak tidak dogmatis karena penulis menyisipkannya secara berhati-hati bahkan terkesan terlalu berhati-hati. Ia juga masih memasukkan berbagai adegan vulgar dalam Fatimah Chen Chen seolah mau menunjukkan bahwa pesan keislaman yang hadir jangan sampai terlalu tebal dan malah menjadi berlebihan. Kenyataan bahwa Chen Chen adalah orang Taiwan yang berasal dari keluarga berlatarbelakang tradisi Tionghoa yang cukup kental membawa para pembacanya menikmati juga kebijaksanaan dari negeri Tirai Bambu -Motinggo menghubungkannya lewat hadits Nabi yang isinya adalah himbauan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri Cina-. Untuk saya pribadi, novel ini sangat indah dan pada titik tertentu berhasil merangsang sisi spiritual saya. Jika ada kesan terburu-buru dalam penulisannya -tampak dari bagaimana seisi keluarga menjadi Islam tanpa sebuah transisi maupun kegamangan batin yang serius-, saya bisa mengabaikannya. 

Terima kasih untuk Regina Fatimah Az-Zahra.

Continue reading

Minggu, 13 Juli 2014

Sepakbola dan Kehidupan

Sepakbola dan Kehidupan
Sejak Brasil mengalami kekalahan mencengangkan 1-7 dari Jerman, entah kenapa, saya tidak henti-hentinya membuka berita dari internet untuk hanya sekedar mengetahui seberapa mendalam efek kekalahan tersebut bagi penduduknya. Sebuah koran terkenal di Brasil menyebutkan bahwa tragedi kekalahan tersebut lebih dahsyat dari tragedi kekalahan dari Uruguay pada tahun 1950 yang disebut dengan Maracanazo; Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengatakan, "Bahkan mimpi buruk saya pun tidak pernah sepahit ini."; Eks striker Brasil, Romario, bahkan menganggap bahwa para petinggi sepakbola Brasil sudah sepantasnya dijebloskan ke penjara; Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari menanggapi kekalahan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling pahit dalam karir kepelatihannya. Keseluruhan respon tersebut membuat saya bertanya: Lebih besar mana, sepakbola atau kehidupan?

Mudah sekali bagi kita untuk menjawab bahwa tentu saja sepakbola hanyalah olahraga dan kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar. Tapi pemandangan pasca pembantaian di Belo Horizonte kemarin menunjukkan bahwa sepakbola, bagi orang Brasil, lebih besar dari kehidupan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu David Luiz dan Luis Gustavo berlutut dan berdoa setelah peluit panjang dibunyikan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu pendukung Brasil sampai histeris setiap gawangnya dijebol. Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sepakbola juga terkandung harapan, harga diri, martabat bangsa, hingga religiusitas. Itu sebabnya mengapa para pemain Brasil tidak bisa dengan enteng mengatakan bahwa, "Ya, kami kalah. Tapi hidup jalan terus." Bagi mereka, kekalahan tersebut agaknya membuat kehidupan berhenti berjalan -setidaknya untuk sementara waktu-.

Saya kerap berpikir apa yang bisa membuat sepakbola punya dampak begitu besar bagi sebuah bangsa. Olahraga lain, nyatanya, tidak mempunyai efek semasif itu. Kekalahan Roger Federer dari Novak Djokovic di Wimbledon kemarin tidak menyebabkan kesedihan nasional bagi bangsa Swiss; Kegagalan banyak pemain Indonesia untuk meraih gelar di turnamen bulutangkis Indonesia Open kemarin memang menimbulkan kekecewaan, tapi tidak mendalam. Sepakbola, faktanya, selalu menyedot perhatian lebih banyak daripada olahraga lain. Dulu saya punya anggapan bahwa kemanusiawian sepakbola adalah faktor utamanya. Sepakbola membiarkan keputusan tertinggi ada di tangan wasit yang merupakan manusia dengan segala kealpaannya. Ini membuat sepakbola jauh lebih menarik daripada tenis atau badminton misalnya yang mana keputusan pemberian poin begitu cermat, terukur, dan nyaris tidak ada peluang bagi subjektivitas. 

Sekarang ini alasan saya agak berkembang. Sepakbola menarik karena ia mengekpresikan suatu perasaan purba tentang kehendak untuk berkuasa, keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan itu sendiri, hingga kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan. Kehendak untuk berkuasa adalah hal yang menurut Nietzsche amat niscaya dipunyai oleh setiap manusia. Sekarang ini peperangan menjadi hal yang sebisa mungkin dihindari, terutama sejak dunia mengalami trauma serius pasca Perang Dunia II. Namun ketiadaan perang yang seterbuka dulu, tidak berarti nafsu manusia untuk saling membunuh menjadi hilang. Ada olahraga, ada sepakbola, yang sama-sama mengartikulasikan keinginan manusia yang demikian. Ketika Jerman mengalahkan Brasil 7-1 kemarin, niscaya bangsa Jerman dimanapun akan secara otomatis punya sisi superior ketika bertemu orang Brasil. Itu sebabnya status juara Piala Dunia adalah sebentuk gelar yang sangat memuaskan dan nyaris setara dengan bagaimana menaklukkan dunia secara riil. Hanya saja kemasannya berbeda. Dahulu melalui peperangan yang melibatkan senjata, sekarang melalui sepakbola.

Keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan tergambar dari bagaimana pertandingan sepakbola itu sendiri berjalan. Kita melihat keindahan dari bagaimana formasi sepakbola disusun dan bagaimana peraturan demi peraturan ditaati oleh para pemain sehingga permainan berjalan secara kosmos dan bukan khaos. Tapi inilah indahnya sepakbola: Selalu ada ruang untuk kekacauan agar kita mengalami pergulatan batin yang tidak enteng. Selalu ada ruang untuk misalnya, tangan Tuhan dari Diego Maradona di tahun 1986 yang dibiarkan begitu saja agar menjadi perbincangan sepanjang zaman. Selalu ada ruang untuk misalnya, kartu merah untuk Claudio Marchisio yang membuat Italia -di Piala Dunia kali ini- yang tadinya berada di atas angin melawan Uruguay, menjadi berantakan formasinya dan malah takluk di tangan sang lawan. Sepakbola benar-benar sanggup merusak seluruh anggapan apriori kita dengan sekali kibas. Memang demikian sepakbola, sebagaimana juga kehidupan.

Kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan barangkali adalah alasan yang paling kuat mengapa sepakbola sekaligus juga bernuansa religius dan bahkan spiritual bagi publik tertentu. Kita ingat bagaimana publik Napoli mengagungkan Maradona dengan sebutan il nostro Dio atau Dewa kami. Kita juga tahu bagaimana suasana jalanan di Italia setiap akhir pekan yang menjadi lengang karena orang-orang tengah melaksanakan ibadah nonton sepakbola. Sesembahan semacam ini jangan dianggap remeh sama sekali. Sama seperti agama-agama besar, sepakbola juga menampilkan altar, ritual, dan juga nabinya sendiri. Baik agama-agama besar maupun sepakbola punya satu konsep yang sama-sama menjual, yaitu harapan akan sebuah kebahagiaan. Maka itu jangan heran bagi mereka orang-orang Brasil yang barangkali menganggap sepakbola sebagai sebuah agama, kekalahan kemarin sungguh sebuah penistaan mahadahsyat terhadap keyakinan hidupnya. 

Sekarang ini Julio Cesar dan kawan-kawan mungkin sedang meratapi nasibnya. Mereka sedang bertanya-tanya tentang bagaimana posisinya dalam sejarah oleh sebab kekalahan yang memalukan ini. Mereka harus siap ditanyai oleh anak cucunya karena pembantaian tersebut pasti dimuat dalam buku sejarah sepakbola Brasil. Nasib mereka akan sama seperti Moacir Barbosa, kiper Brasil di tahun 1950 ketika mereka mengalami Maracanazo. Kata Moacir, "Hukuman di Brasil paling lama adalah tiga puluh tahun penjara. Tapi saya mengalami hukuman sosial dari masyarakat selama lebih dari lima puluh tahun." Para pemain dari skuad Brasil di Piala Dunia 2014 tentu saja akan tetap bermain sepakbola seperti biasanya pasca perhelatan tersebut. Namun kehidupan barangkali tidak akan sama lagi bagi mereka. Bisa untuk sementara, bisa untuk selamanya. 
Continue reading

Kamis, 03 Juli 2014

Angkot

Angkot
Aki mobil hari ini habis dan tidak ada peluang bagi dirinya untuk di-starter. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat kerja dengan menggunakan angkutan kota (angkot). Meski sehari-hari saya menggunakan kendaraan pribadi, tapi penggunaan angkot sama sekali bukan hal baru -dari SMP hingga selepas sarjana, kemana-mana saya menggunakan angkot-. Tapi memang keanehan selalu ada. Ketika tadi naik angkot, saya merasa bahwa memang sudah lama sekali saya tidak menaikinya oleh sebab termanjakan keberadaan mobil pribadi. 

Saya sadar bahwa penggunaan mobil pribadi adalah suatu jenis pengalienasian tersendiri. Kita duduk di satu ruang kendali tertutup -saking tertutupnya, suara dari luar nyaris tak terdengar- dengan udara dingin yang keluar dari mesin pendingin, serta musik yang bertujuan membawa setengah kesadaran kita ke wilayah sureal. Seluruh kaki tangan bergerak mengendalikan kendaraan dan saya adalah tuan dari apa yang saya tunggangi. Intinya, mobil pribadi adalah suatu perasaan ketuanan dahsyat dengan nilai-nilai empati yang tergerus oleh ketertutupan dari si ruang kendali.

Perasaan itu berubah drastis ketika menggunakan angkot. Pertama, tak ada satupun suara yang bisa direduksi kecuali kita menutup telinga dan menjadikan segala sesuatunya menjadi hening. Kedua, kita tak kuasa mengendalikan udara apalagi cuaca yang menerpa kita. Apa yang terjadi di sekitar, itu pula yang terjadi pada kita. Ketiga, tak ada musik. Kita tak punya daya upaya untuk lepas ke wilayah sureal dan melarikan diri dari keseharian. Kita ditawan oleh realitas dan mau tidak mau harus menghadapinya. Artinya, kita bukan tuan. Satu-satunya kuasa kita hanyalah atas kaki-kaki kita sendiri yang bisa capek dan pegal jika sudah diseret terlalu jauh. 

Namun saya bersyukur atas kematian sang aki hari ini. Ternyata ada hal-hal yang biasanya dalam keseharian dilewatkan begitu saja oleh sebab keadaan ruang kendali yang kedap realitas, menjadi terang dan jelas karena saya hadapi tanpa pembatas apa-apa. Misalnya, sudah puluhan kali saya melewati kebun kangkung di dekat rumah. Dari mobil pribadi, saya tahu itu kebun kangkung dan memang demikianlah kebun kangkung sejak dahulu kala hingga sekarang. Tadi saya sadari bahwa kebun kangkung itu terjadi karena ada orang-orang yang menanam. Mereka terjun ke kebun dan bergerak telaten di panas terik seolah untuk menyadarkan saya bahwa dunia keseharian itu menarik hanya jika kita tidak bergerak secara instan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya lagi, saya bisa mendengarkan berbagai jenis percakapan di dalam angkot yang begitu beragam mulai dari tentang kondisi anak, situasi ramadhan, hingga sindiran para pengamen yang urung diberi koin oleh para penumpang. 

Ini semua adalah apa yang disebut oleh Edmund Husserl sebagai lebenswelt. Dunia kehidupan apa adanya tanpa asumsi, pretensi, dan presuposisi. Ia hadir begitu saja, tampak ke hadapan kita tanpa tedeng aling-aling. Kita terkesiap dan tidak punya waktu untuk menyiapkan senjata apriori dan mau tidak mau yang bisa kita lakukan adalah mencandrainya secara utuh. Manusia modern mengalami suatu percepatan dalam hidupnya sehingga yang dipikirkannya hanyalah mencapai target dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Kita luput untuk menggumuli apa yang tidak termasuk dalam tujuan hidup kita yang seringkali artifisial. Kita luput untuk menerima bumi sebagaimana adanya ia. Terpujilah mereka yang naik angkot, karena seketika aki mobil saya terisi kembali, saya sudah melupakan tulisan ini dan sekaligus juga melupakan sang hidup itu sendiri.

Continue reading

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi
Untuk menuliskan ini, sangat tidak sederhana. Pertama, saya mesti melontarkan kritik pada ilmu yang sudah membesarkan dan juga memberi nafkah bagi saya. Ilmu komunikasi, bagaimanapun, telah menjadikan saya bergelar magister dan berperan membuat saya diterima menjadi dosen di sebuah kampus dengan gaji lumayan. Kedua, ilmu komunikasi tengah populer dan menjadi semacam kebutuhan jaman. Indikasinya barangkali terlihat dari bagaimana banyak kampus mulai membuka jurusan maupun fakultas ilmu komunikasi yang mana peminatnya jarang sekali sepi. 

Namun sudah sejak kuliah S2 sekitar enam tahun silam, saya sudah merasakan semacam kegelisahan tentang ilmu komunikasi. Saya merasa ada lubang yang jujur saja, belum mampu saya ejawantahkan secara jernih. Ketika saya menuliskan ini pun, bukan berarti saya sudah mengerti betul apa yang saya kritik  Barangkali saya menulis ini hanya dalam rangka membuka wacana kritis terhadap ilmu komunikasi, dengan harapan ada gayung bersambut agar si ilmu itu sendiri menjadi berkembang dan konstruktif. 

Sebagai contoh, ilmu psikologi sekarang sudah cukup kokoh sebagai sebuah ilmu. Namun proses untuk mencapai kekokohan itu tidak sederhana dan telah melalui pergulatan pemikiran yang panjang. Ia tampil terlebih dahulu sebagai behaviorisme yang hanya menyoroti persoalan perilaku dan tidak lebih daripada itu. Sigmund Freud kemudian mengritik behaviorisme sebagai "ilmu jiwa tanpa jiwa". Ia menawarkan psikoanalisis sebagai "ilmu jiwa yang sejati" karena berupaya lebih banyak mendeteksi alam bawah sadar manusia. Begitu seterusnya mereka saling bergulat hingga masuk masa psikologi humanistik, neurosains, dan seterusnya sampai mencapai sebuah bangunan besar yang makin lama makin menjulang. Kekokohan itu hanya mungkin terjadi jika ada upaya saling mengkritik yang konstruktif. Jika tidak ada upaya itu, ilmu lama kelamaan bisa rapuh dan melemah bagai berjalan di atas lapisan es yang tipis. 

Atas dasar itu, apa yang saya ungkapkan dalam tulisan ini, adalah juga dengan harapan bahwa akan ada semacam dialog yang membangun sehingga ilmu komunikasi itu sendiri menjadi kokoh. Saya akan mencoba memaparkan masalah-masalah dalam ilmu komunikasi lewat paparan poin per poin:

1. Kata "komunikasi" sekarang merambah berbagai bidang seperti "komunikasi politik", "komunikasi bisnis", "komunikasi antar budaya" hingga "komunikasi pemasaran". Dewasa ini pertautan semacam itu sudah lumrah karena memang bidang-bidang ilmu menjadi semakin lintas disiplin. Tapi coba bandingkan posisi semacam itu dengan misalnya kata "seni", "filsafat", atau "sejarah". "Politik" dengan "seni politik" jelas berbeda. Jika kita berbicara politik saja, maka itu terkait dengan urusan-urusan teknis dan praktis. Namun "seni politik" artinya melihat politik sebagai suatu hal yang juga mempunyai estetika tersendiri. Misalnya, jika kita membaca bagaimana Toyotomi Hideyoshi mencapai kekuasaan, kita bisa sebut bahwa ia tidak hanya sekadar mempraktikkan sebuah taktik politik, melainkan juga seni berpolitik. Selain itu, "bisnis" dan "filsafat bisnis" juga jelas mempunyai perbedaan. Jika sudah menyematkan kata "filsafat" di depan sebuah bidang keilmuan, maka ia lebih menitikberatkan kajiannya pada hal-hal yang lebih hakiki, yang oleh ilmu filsafat itu sendiri dikatakan sebagai ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Juga jelas dengan penyematan kata "sejarah", artinya kita mengaitkan sebuah bidang keilmuan dengan perjalanan historis keilmuan itu sendiri. 

Pertanyaan berikutnya, apa efek dari penyematan kata "komunikasi" di depan bidang keilmuan? Agaknya, bisa dibilang tidak berpengaruh apa pun. Kalau kita bicara "komunikasi pemasaran" misalnya, maka topik-topik yang dibahas sesungguhnya adalah pemasaran itu sendiri. Kalau kita bicara "komunikasi politik" misalnya, maka tidak ada ubahnya dengan membahas politik itu sendiri. Barangkali para akademisi komunikasi politik bisa membela diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih memfokuskan diri pada strategi kampanye, pencitraan, dan efektifitas program-program. Tapi coba renungkan baik-baik: Sebelum ilmu komunikasi ada, politik memang sudah demikian adanya. Saya yakin bahwa sebelum bermunculan sarjana komunikasi seperti sekarang ini, para politisi sudah sudah memikirkan bagaimana berkampanye dan mencitrakan dirinya. Misalnya Darius dari Persia, ia mempertahankan kekuasaan dengan cara menempatkan wajah dirinya dalam mata uang sah di negara tersebut. Hal tersebut sudah dilakukan manusia dari ribuan tahun silam dengan semata-mata pertimbangan politis yang tidak dibarengi oleh ilmu yang sekarang ini kita sebut sebagai ilmu komunikasi.

2. Kemarin saya membeli sejumlah buku yang terkait dengan etika dan juga terkait dengan filsafat komunikasi. Mengapa? Karena di semester ini, saya mengajar sebuah mata kuliah yang saya pun masih mengernyitkan dahi membaca judulnya. Nama mata kuliahnya: Etika dan Filsafat Komunikasi. Tapi atas nama profesionalisme, saya tetap bergerilya membeli delapan buah buku untuk menunjang perkuliahan. Saya tidak meragukan buku-buku etika yang ditulis oleh Romo Franz Magnis Suseno karena memang itulah bidang yang ia tekuni. Pun saya pernah mengikuti beberapa kali kuliahnya sehingga tak perlu ragu lagi akan kualitas Romo. Namun buku-buku filsafat komunikasi -yang agaknya tak perlu saya sebutkan judul resmi maupun pengarangnya- sungguh tidak memuaskan keingintahuan saya. Misalnya, ada buku filsafat komunikasi yang melulu membahas filsafat mulai dari pengertian, sejarah, filsafat timur, aliran-aliran, posmodernisme, teori kritis, positivisme, hingga bahasa. Pertanyaannya: Lantas apa bedanya buku tersebut dengan buku filsafat? Lucunya, letak buku itu ada di rak "komunikasi" dan bukan di rak "filsafat". Ada juga buku filsafat komunikasi yang menitikberatkan isinya pada ragam dan sejarah fenomenologi mulai dari Husserl, Schutz, Heidegger hingga nama-nama yang bagi saya tidak harusnya terkait dengan fenomenologi seperti Hegel (walaupun ia menulis tentang Fenomenologi Roh, tapi bukan berarti ia bicara fenomenologi sebagai sebuah metodologi layaknya Husserl), Kierkegaard, Sartre, Levinas dan Beauvoir -Kecuali Levinas, nama-nama terakhir ini adalah gerombolan eksistensialisme akut-. 

Apa arti dari cerita saya di atas? Artinya, secara filosofis, komunikasi tidak mempunyai sebuah bangunan hakikat yang meyakinkan. Dengan pisau bedah filsafat apapun kita memasuki ilmu tersebut, kita hanya akan memasuki sebuah labirin dari ilmu filsafat itu sendiri. Secara epistemologis misalnya, sesungguhnya komunikasi adalah sesuatu yang secara objek, adalah asing dan tidak kelihatan -Kant menyebutnya sebagai noumena-. Ia ada di luar batas pengetahuan kita dan barangkali nyaris hampir sekontroversial Freud ketika menyatakan bahwa alam bawah sadar itu ada dan nyata. Yang kita bisa telaah dari komunikasi barangkali adalah penyampai pesan, medium, penerima pesan, dan efek yang diterimanya. Keseluruhannya itu, jika tidak hati-hati, maka akan dengan mudah melompat masuk pada ilmu psikologi. Hal yang tidak tersentuh oleh ilmu psikologi barangkali hanyalah soal medium saja. Mungkin soal medium itu seharusnya yang ditekuni sungguh-sungguh oleh ilmu komunikasi. 

3. Istilah komunikasi sebagai sebuah keilmuan yang mandiri belakangan ini, agaknya telah bergerak secara serampangan. Ia tiba-tiba menjadi sebuah ember besar dimana ilmu-ilmu sebelumnya yang telah mapan dapat mencemplungkan diri ke wadah tersebut. Fenomena semacam itu juga tengah menjadi tren menarik seperti yang terjadi dalam cultural studies. Cultural studies -dengan semangat membongkar modus-modus kebudayaan urban sebagai sebuah perpanjangan kekuasaan- mempersenjatai diri dengan teori-teori seperti feminisme, psikoanalisis, strukturalisme, dan neo-marxisme. Cultural studies menjadi semacam ember untuk menampung teori-teori tersebut. Ilmu komunikasi adalah ember yang maha besar. Ia memasukkan cultural studies ke dalam embernya -tentu saja beserta teori-teorinya pula-, juga hubungan masyarakat, penyiaran, pemasaran, bisnis, politik, hingga masuk ke ranah-ranah seperti film dan juga performing art. Alasannya apa sehingga ilmu komunikasi berhak menjadi ember raksasa? Karena katanya, "We cannot not communicate," dalam segala aspek pasti terdapat unsur komunikasinya. Fakta itu tidak bisa saya bantah bahwa memang dalam setiap aspek terdapat unsur komunikasi. Maka itu seharusnya cepat atau lambat, segala bidang seperti olahraga, percintaan, percetakan, penjara, rumah sakit jawa, kelak semuanya akan berada di dalam ember ilmu komunikasi karena semuanya juga mengandung fenomena komunikasi. 

Tapi apa yang menjadi kekhawatiran saya jika komunikasi menjadi ember raksasa bagi segala sesuatu? Saya akan mengambil contoh pada bidang film yang dua kubu sedang mengklaim memiliki ranah ini, yakni seni dan juga komunikasi. Apa perbedaan film jika dipegang oleh seni dan apa bedanya jika dipegang oleh ilmu komunikasi? Saya hanya menebak-nebak, dan ini tidak ilmiah sama sekali: Jika dipegang oleh seni, film menjadi urusan estetika; jika dipegang oleh ilmu komunikasi, film menjadi urusan pasar karena terkait melulu dengan bagaimana film itu dapat berkomunikasi dengan publik sebanyak-banyaknya (kamu boleh baca kalimat ini sebagai laku di pasaran). Orang seni mungkin akan menciptakan film dengan landasan teori seperti neo-realisme Italia, french new wave, atau realisme sosialis sehingga hasilnya secara estetis dapat dipertanggungjawabkan. Orang komunikasi barangkali tak perlu yang demikian karena film adalah bagus selama dia dapat dimengerti dengan mudah. Mungkin kita tahu bahwa dalam kacamata seni, "dimengerti" bukan terminologi yang tepat untuk mengejawantahkan sebuah karya. Lebih tepat kalau kita katakan bahwa sebuah karya itu "terasa" dan "bermakna" tapi bukan dalam nilai-nilai yang mudah untuk diverbalkan. Secara sederhana, dalam konteks film tadi, boleh saya katakan bahwa ilmu komunikasi amat tergiur untuk mengemas film menjadi pro-pasar dan barangkali tidak lagi memikirkan idealisme tertentu. Ilmu komunikasi adalah kata lain dari ilmu pemasaran yang intelek. Ilmu tentang bagaimana sebuah seni adiluhung menjadi seni yang praktis dan kebernilaiannya hanya diukur dari laku atau tidaknya. 

Sementara ini dulu yang dapat saya tuliskan meskipun ada beberapa diantaranya yang belum tertuangkan. Semoga dapat menjadi diskusi yang membangun dan konstruktif. 

Continue reading