Jumat, 20 Juni 2014

Akhir Sejarah

Akhir Sejarah
Francis Fukuyama menulis buku berjudul The End of History and The Last Man (1952) yang berisi ramalan bahwa bahwa perkembangan sosio-kultural manusia sudah selesai ketika seluruh negara sudah menganut sistem politik demokrasi liberal dan sistem ekonomi kapitalisme pasar bebas. Fukuyama menyebutnya dengan istilah menarik: Akhir sejarah. 

Untuk membedah ramalan Fukuyama tersebut, pertama-tama yang kita lakukan adalah memetakan terlebih dahulu bagaimana sejarah berjalan. Ada yang melihat sejarah sebagai lingkaran sehingga segala sesuatu terus berulang (Pemikiran Buddhisme menganut hal tersebut dan juga Nietzsche). Ada juga yang melihat sejarah sebagai suatu gerak lurus yang berakhir pada sesuatu (Seperti halnya agama Abrahamistik dan juga konsep sejarah ala Hegelian). Ramalan Fukuyama dapat dilihat sebagai suatu gerak lurus (karena mengarah pada sesuatu yang final), tapi juga sebagai gabungan keduanya. Artinya, ada suatu gerak lurus sejarah yang mengarah pada pembentukan demokrasi liberal dan pasar bebas sebagai suatu akhir, tapi ketika berada di ujung, kondisi itu berputar seperti lingkaran. 

Posmodernisme adalah pemikiran yang amat menggadang-gadangkan akhir dari segala sesuatu mulai dari akhir sejarah, akhir seni, hingga akhir filsafat. Meski awalnya saya merasa pernyataan tersebut terlalu berlebihan, namun belakangan, setelah direnungkan, mungkin saja benar. Memang terlalu prematur jika saya mengatakan bahwa jaman ini -yang sedang saya hidupi ini- mempunyai keistimewaan dibanding jaman-jaman sebelumnya. Namun bolehlah saya mengatakan bahwa mungkin ini satu-satunya jaman ketika segalanya serba terbuka. Belahan dunia satu saling tahu tentang apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Pengetahuan tersebut tidak sampai dalam hitungan bulan, hari, atau jam, melainkan detik, sekon, bahkan milisekon. Keterbukaan ini membuat pengaruh demokrasi liberal menjadi tidak terhindarkan. Sebagai contoh, negara-negara penganut komunisme sepertinya sangat membatasi keterbukaan ini karena tahu bahwa sekali negara mendapat banyak pengaruh dari luar atau bebas dalam berekspresi, maka pemerataan baik secara ideologi maupun ekonomi, menjadi sulit tercapai. 

Fakta tentang "bahaya" keterbukaan ini bagi ideologi yang berseberangan dengan demokrasi liberal dan kapitalisme terjadi di Uni Soviet tahun 1980-an. Sebagai negara berideologi komunisme sejak tahun 1922, Uni Soviet dikenal dengan negara yang sangat kuat dalam mempropagandakan sendi-sendi komunis pada masyarakat. Hal tersebut agak berubah ketika Uni Soviet dipimpin oleh Mikhail Gorbachev pada tahun 1985. Ia menerapkan kebijakan bernama glasnost yang artinya keterbukaan. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa glasnost berarti membolehkan negara-negara yang tergabung dalam Uni Soviet, untuk menyuarakan kehendaknya. Tak lama kemudian sejak glasnost diterapkan, Uni Soviet runtuh pada tahun 1991. 

Apa arti dari fakta sejarah tersebut? Artinya, keterbukaan dengan sendirinya akan membentuk demokrasi liberal dan otomatis juga, pasar bebas. Jika memang hari ini dunia sudah sangat terbuka -dan rasanya tidak mungkin untuk dikembalikan menjadi tertutup-, maka ramalan Fukuyama ada benarnya. Kita ada dalam situasi dimana kita tidak bisa bergerak menuju sesuatu lagi. Ibarat musik yang sudah selesai dengan segala kemungkinannya mulai dari kerumitan Bach, kecentilan Mozart, kebergejolakan Beethoven, kecanggihan Stravinsky, keminimalan Glass, ke-diam-an-nya Cage, hingga kepopuleran The Beatles. Pertanyaannya: Kita bisa membuat apa lagi sekarang? Kebaruan apa lagi yang mungkin kita lahirkan? Sama halnya dengan dunia ekonomi dan politik yang agaknya tidak bisa lagi kita lihat apa yang lebih baru dari hari ini. Hidup ada pada titik final dan kita berada pada akhir sejarah. 
Continue reading

Jumat, 13 Juni 2014

Alex Ferguson - Biografi Saya: Lebih dari Sekadar Manajer Sepakbola



Saya bukan orang yang silau dengan buku-buku yang dipajang di bagian khusus di sebuah toko buku. Malah saya selalu berusaha mencari sudut-sudut gelap dengan harapan dapat menemukan buku yang aneh. Atas alasan itu pula -selain karena memang bukan penggemar tim sepakbola Manchester United- , saya tidak terlalu tertarik dengan buku Alex Ferguson - Biografi Saya yang kerap ditempatkan di bagian depan Gramedia. Ternyata tanpa harus membelinya, buku tersebut sampai ke tangan saya sebagai tanda kasih setelah menjadi narasumber di komunitas film Layarkita. Batin saya mengatakan begini ketika menerimanya, "Oh, ternyata saya tidak alergi buku best-seller, asal gratis."

Buku tersebut, tanpa diduga, ternyata menarik. Sering sekali saya berniat membaca satu paragraf, jadinya sebab; membaca sebab, jadinya tiga bab. Untuk buku setebal 397 halaman, saya termasuk cukup cepat menyelesaikannya -jika ditotal, mungkin perlu 24 jam saja-. Alasan buku tersebut menarik mungkin saja sangat subjektif:

  • Buku ini menarik karena menyuguhkan pendapat-pendapat Sir Alex tentang berbagai hal mulai dari David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ruud van Nistelrooij, Roy Keane, hingga rivalitasnya dengan Wenger, Mourinho, serta klub Liverpool. Cara penuturan Sir Alex sangat melompat-lompat dan tidak bisa fokus membahas satu hal saja. Misalnya, ketika dia sedang membahas suatu pertandingan, ia menyebut nama satu pemain bernama Denis Irwin. Kemudian pembahasan berlanjut menjadi tentang Denis Irwin dan cerita mengenai pertandingan tadi tidak dilanjutkannya. Artinya apa? Lompatan-lompatan kisah tersebut hanya menarik bagi penggila bola. Jika tidak, akan sangat kebingungan. Bagi saya, makin sering Sir Alex berpendapat, makin bagus -dan itu tidak masalah jika dia harus berlompatan-.
  • Sebagai orang yang sedang menulis sebuah biografi seorang tua, saya sadar bahwa sudah banyak hal yang dialami oleh mereka. Wajar jika pikirannya tidak selalu sistematis dan memori demi memori muncul secara samar untuk kemudian ia berkata, "ah, sebentar, saya ingat bagian ini!" Atas dasar itu pula, menjadi mudah bagi saya untuk menikmati biografi sang manajer.
  • Menurut saya alasan ini sangat berpengaruh: Saya pernah secara serius bermain game Championship Manager musim 96/97 dan itu sangat membantu dalam memahami perkataan-perkataan Sir Alex. Dia banyak bicara tentang Class of '92 yang berisi pemain-pemain binaan Manchester United seperti Nicky Butt, Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs, dan lain lain, yang kemudian menjadi fondasi tim tersebut hingga beberapa tahun ke depan. Artinya, biografi ini menarik bagi mereka yang mengikuti liga Inggris dan perjalanan Manchester United dari rentang waktu yang cukup panjang. Mungkin akan membosankan bagi mereka pendukung bola yang baru saja bergabung sejak tahun 2008-an.
Selain alasan-alasan subjektif tersebut, tentu saja kenyataan bahwa buku ini diceritakan dalam bahasa yang enak, sama sekali tidak bisa diabaikan. Tidak lupa juga disisipkan sejumlah foto berwarna agar lebih terasa momentum demi momentum yang pernah dialami Sir Alex bersama Manchester United maupun klub sebelumnya, Aberdeen. Ada satu kalimat dalam buku tersebut, yang dikatakan oleh Sir Alex, yang berbunyi seperti ini, "Jangan pernah lupa, bahwa kehidupan itu sendiri lebih besar dari sepakbola." Kalimat tersebut menjadi kunci kebagusan buku ini secara (mendekati) objektif: Sebagaimanapun kita pendukung City, Liverpool, Arsenal, atau Spurs, seorang Sir Alex tetap merupakan manusia inspiratif. Ia adalah seorang loyalis dan pekerja keras yang selalu bergairah hingga usia senjanya. Ia bukan sekadar manajer sepakbola. Sir Alex adalah penikmat hidup sejati.

Continue reading

Selasa, 10 Juni 2014

Lukisan Neraka: Menyelami Paradoks Hidup Seorang Seniman


Suatu hari, ketika saya sedang hanyut dengan akrobat bahasa dari Haruki Murakami dalam Norwegian Wood, tidak lupa saya menyempatkan diri untuk memberi apresiasi pada sang penerjemah yang bernama Jonjon Johana. Kebetulan, Pak Jonjon adalah kolega ibu saya di Sastra Jepang Universitas Padjadjaran sehingga saya pun dengan mudah mendapatkan nomor telepon beliau. Setelah mengirim pesan singkat menyampaikan apresiasi sejujurnya bahwa kebagusan Norwegian Wood tentu saja tidak lepas dari peran penerjemah, esoknya datang kiriman buku kumpulan cerpen Lukisan Neraka yang juga terjemahan Pak Jonjon. Katanya, kalau memang saya suka dengan terjemahannya, ini saya kirim terjemahan saya yang lain.

Jika sudah pernah membaca cerpen Rusia seperti Ruang Inap no. 6 dari Anton Chekhov, tentu saja cerpen dari Ryunosuke Akutagawa ini tidak terasa panjang meskipun juga jumlah halamannya termasuk di atas rata-rata yakni 62. Meski di dalamnya terdapat sejumlah cerpen, namun saya hanya membaca yang utama, yang paling depan, yang berjudul Lukisan Neraka itu. Saya menghabiskan waktu sekitar sejam untuk membereskannya sambil duduk di kereta dalam perjalanan menuju Surabaya. Kesimpulannya, Akutagawa benar-benar penulis yang mengagumkan dan menambah satu lagi daftar penulis Jepang dalam khazanah pengetahuan saya yang tampaknya "sakit jiwa" selain dari Yukio Mishima. 

Lukisan Neraka bercerita tentang pelukis bernama Yoshihide. Pelukis tersebut digambarkan tidak seperti seniman Timur yang biasa dicitrakan tidak egosentrik dan lebih mau untuk tidak dicantumkan namanya (anonim). Yoshihide adalah pelukis dengan tingkat keegoisan yang tinggi dan mau berjuang demi keluhuran estetika. Ketika ditugaskan untuk melukis neraka di sebuah dinding penyekat, ia bersikap total dengan mengurung diri, merenung, dan bersikap terlalu serius - ia menyiksa para muridnya agar tergambar jelas bagi Yoshihide bagaimana siksaan di neraka nantinya-. Yoshihide digambarkan sebagai seorang seniman sejati yang sering mengalami paradoks dalam hidupnya: Di satu sisi, ia mengedepankan estetika untuk ketenangan hatinya, namun di sisi lain, ternyata karena ia terlalu mengedepankan estetika, tubuhnya menjadi rusak, dan tidak jarang jiwa pun ikut rusak. 

Meski kelam dan mencekam, Lukisan Neraka diceritakan dengan cara yang ringan sekali. Akutagawa, penulis berjulukan "Bapak Cerpen Jepang" yang meninggal karena bunuh diri di usia 35 tahun tersebut, mengambil sudut pandang penceritaan dari seorang pesuruh istana yang sama sekali tidak terlibat dalam cerita. Hal tersebut menyebabkan segala gejolak Yoshihide dalam melukis neraka di sebuah dinding penyekat, tidak terasa sebagai sesuatu yang terlalu muram. Pesuruh istana yang digambarkan bodoh dan lugu tersebut, hanya menceritakan apa adanya dan tidak berusaha terlalu dalam memasuki psikologi Yoshihide. Meski demikian, kita tidak bisa menampik bahwa Lukisan Neraka ditulis oleh seorang yang "sakit jiwa". Dalam biografinya, Akutagawa, yang menulis cerita terkenal berjudul Rashomon -diangkat ke layar lebar oleh Akira Kurosawa pada tahun 1950-, memang dikenal mengalami semacam skizofrenia di akhir hidupnya, sebelum memutuskan bunuh diri dengan meminum obat tidur dosis tinggi.

Continue reading