Monday, May 26, 2014

1Q84 Jilid Satu: Akrobat Murakami di Dunia Paralel



Setelah Norwegian Wood, saya langsung ketagihan membaca karya Haruki Murakami yang lain. 1Q84 pun menjadi destinasi saya berikutnya. Novel ini diselesaikan dengan susah payah dalam kurun waktu nyaris tiga bulan. Bukan karena Murakami bercerita dengan gaya yang lambat dan membosankan -sebaliknya, ia menulis dengan lincah dan atraktif seperti biasanya-, melainkan disebabkan oleh kesibukan saya yang sedang padat-padatnya -ah, soal kesibukan harusnya tak perlu diceritakan-. 

1Q84 sedikit lebih tebal dari Norwegian Wood. Dirilis pada tahun 2009 dan 2010, 1Q84 yang mempunyai tebal 500-an halaman ini dibagi ke dalam tiga edisi. Kebetulan yang saya baca barulah edisi pertamanya. Ceritanya, seperti biasa seorang Murakami mengambil sebuah tema, adalah soal absurditas, nihilisme, dan eksistensialisme. Tidak ada suatu kejelasan arah, pun tidak ada suatu makna yang dapat dikatakan mencerahkan. Ini adalah kisah yang berpusat pada dua orang yakni Aomame dan Tengo. Keduanya menjalani kehidupan masing-masing yang boleh dikatakan cukup kompleks -atau itu disebabkan oleh kemampuan Murakami dalam menjelaskan setiap detail sehingga kehidupan siapapun menjadi tampak kompleks-. 

Saya mencoba berhati-hati agar tulisan ini tidak menjadi spoiler karena memang novel ini meskipun lincah dan atraktif, namun agak sulit untuk akhirnya bisa mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Murakami tampak keasyikan untuk melakukan akrobat metafor dan pengetahuan umum sehingga lupa untuk mengembalikan cerita pada jalur yang lebih dimengerti oleh pembaca. Sekilas memang cara bercerita 1Q84 sedikit lebih ringan daripada Norwegian Wood yang relatif lebih berat dan lebih dalam. 1Q84 secara permukaan tampak seperti novel pop yang rasa-rasanya akan mudah dimengerti siapa saja. Tapi ketika halaman sudah memasuki nomor 400-an, baru saya merasakan sesuatu: Tidak mungkin seorang Murakami membuat segalanya menjadi mudah untuk dipahami; tidak mungkin seorang Murakami menulis novel yang lebih dangkal daripada Norwegian Wood yang terbentang nyaris dua puluh tahun sebelumnya. 

1Q84 adalah tentang eksistensi manusia yang paradoks: ia ada sekaligus tiada, ia berada di sini sekaligus di sana. Boleh dikata ia adalah tentang dunia paralel yang aneh baik bagi Aomame maupun Tengo. Mereka berdua mengalami keanehan-keanehan paralel lewat berbagai saluran cerdas khas Murakami seperti musik Sinfonietta karya Leoš Janáček, novel Kepompong Udara yang ditulis oleh seorang anak bernama Fuka-Eri, sekte keagamaan Sakigake, serta -seperti biasa- petualangan seksual yang bisa dikata ganjil. 1Q84 bisa dikata sebagai novel filosofis, tentu saja, tapi jangan khawatir bagi mereka yang tidak menemukan makna-makna semacam itu. 1Q84 tetap sebuah karya sastra tinggi yang memuat teknik bercerita Murakami yang mahacanggih. Kita tetap akan terhibur oleh bagaimana ia mendeskripsikan sesuatu, memilih kata yang tepat untuk mewakili fenomena yang aneh sekalipun, hingga menciptakan suatu perasaan yang asing antara surealitas dan realitas. Meski saya secara pribadi tetap lebih menyukai Norwegian Wood, namun 1Q84 ini tentu saja tetap merupakan karya Murakami yang wajib dibaca.

Previous Post
Next Post

0 comments: