Rabu, 16 April 2014

Kusir Kuda

Kusir Kuda
Ketika Siddharta Gautama pergi berjalan-jalan ke luar istana dengan kereta, ia melihat empat hal yang membuatnya memutuskan untuk hidup tanpa wisma dan menjauhi dunia. Sebelum Siddharta melihat hal yang terakhir yakni seorang biksu asketik, terlebih dahulu ia menemukan kenyataan tentang mereka yang tua, mereka yang sakit, dan mereka yang mati. Atas segala hal yang baru dilihat oleh Siddharta untuk pertama kali tersebut, sang kusir kuda hanya menjawab enteng, "Kita semua juga akan seperti itu."

Baik soal tua, sakit, dan mati, saya sendiri tidak pernah betul-betul merenungkannya. Mungkin renungan semacam itu memang terasa prematur bagi mereka yang relatif berusia muda (taruhlah saya yang sekarang dua puluh delapan ini tergolong muda :p). Berbagai ambisi, cita-cita, dan rencana ke depan yang berlimpah membuat saya dan Andrei Yefimich Ragin -tokoh dalam Ruang Inap no. 6-nya Chekhov- punya keyakinan yang sama: Bahwa iya, saya tidak akan mati.

Namun hidup selalu memberi kita tegangan. Artinya, di satu sisi memang keyakinan itu nyata, kerap ada suara-suara dari hati yang mengatakan bahwa saya tidak akan mati seiring dengan rencana-rencana yang seolah berlaku untuk ribuan tahun ke depan. Namun di sisi lain, hidup memberikan fakta-fakta yang tidak kalah meyakinkan: Penampilan fisik, daya tahan tubuh; sakit, tua, dan matinya orang-orang di sekitar kita; serta jaman yang terus mengalami perubahan. Semuanya menciptakan suatu dilema dalam perasaan tentang apakah saya akan tua, atau tidak. Akan sakit, atau tidak. Akan mati, atau tidak.

Fakta-fakta itu makin hari makin menampakkan diri. Misalnya, di suatu hari ketika mengajar di kelas, saya bercerita tentang pertandingan antara Brasil versus Italia di final Piala Dunia 1994 kepada para mahasiswa angkatan 2012. Bagi mereka yang lahir di kisaran tahun 1990-an (mungkin juga rata-rata dari mereka lahir di tahun yang sama dengan Piala Dunia), tentu saja momen tersebut belum terpatri kuat dalam memori. Itu sebabnya ketika saya bercerita dengan seru, mereka tampak adem ayem dan bahkan menganggap saya sudah terlalu tua. Mendadak saya menyadari bahwa oh, Piala Dunia 1994 ternyata bukan sepuluh tahun silam, melainkan dua puluh tahun silam.

Dulu saya begitu sensitif jika dipanggil "bapak". Saya selalu ingin dipanggil dengan nama, atau paling buruk "kakak". Tapi sekarang dimana-mana orang memanggil "bapak" dan akhirnya saya mulai terbiasa dan menerima. Dulu saya senang sekali begadang untuk menanti sepakbola dan tetap bangun pagi dengan perasaan segar bugar. Sekarang saya harus tidur dulu sebelum menyaksikan sepakbola yang ditayangkan dini hari. Itu pun masih dengan risiko kondisi badan yang tidak fit untuk berkegiatan di hari berikutnya. Dulu saya senang berjalan kaki sejauh-jauhnya. Sekarang untuk membeli kupat tahu yang terletak di mulut kompleks pun sudah terengah-engah. Saya melihat teman-teman saya sekarang sudah berubah. Kesegaran di wajah mereka sudah jauh berkurang. Mereka yang dahulu punya cita-cita macam-macam dengan pandangan mata yang terang, sekarang redup seketika seiring kehidupan dunia yang katanya harus realistis. Tapi itu bukan tentang saya yang melihat mereka saja, ternyata mereka melihat saya pun seperti itu.

Kita semua adalah Siddharta yang berjalan berkeliling bersama sang kusir kuda. Dimana-mana kita melihat fenomena yang terus berubah ke arah tua, sakit, dan mati. Kita bisa saja melihat hal-hal tersebut sebagai suatu kejadian yang berada di luar diri kita dan menganggapnya sebagai pertunjukkan belaka. Tapi selalu ada si kusir kuda dalam diri kita yang mengingatkan, "Kita semua juga akan seperti itu."

Continue reading

Sabtu, 05 April 2014

Tidak Ada Apa-Apa

Tidak Ada Apa-Apa
Mungkin tidak ada satupun dari kita yang tidak punya cita-cita untuk merubah kehidupan. Persoalannya adalah soal skala. Ada yang mau merubah kehidupan dalam skala yang besar, sebesar luas dunia itu sendiri. Ada juga yang cukup di lingkup masyarakat tempat tinggalnya, mengecil ke lingkup keluarga, hingga akhirnya cukup merubah kehidupan dengan merubah dirinya sendiri. Tapi persoalannya, apakah dunia betul-betul berubah dengan apa yang kita lakukan? Tidakkah dilihat dalam kacamata makrokosmos, sesungguhnya tidak ada signifikansi setitik pun, tentang apa yang dilakukan oleh umat manusia terhadap keseluruhan kehidupan?

Kita bisa lihat bagaimana kejahatan adalah sasaran abadi yang selalu menarik untuk dihabisi dari sejak permulaan dunia. Tapi sehebat apapun mereka para pembasmi kejahatan bekerja, kejahatan itu sendiri tetap ada seolah-olah Tuhan memang menghendakinya. Kemiskinan pun sama. Kita semua sudah mendengarkan berbagai ideologi yang terus menerus mencari model terbaik agar setiap orang sanggup memenuhi kebutuhan ekonomi dengan sebaik-baiknya mulai dari kapitalisme, komunisme, hingga ekonomi syari'ah. Tapi kemiskinan tidak terhapuskan dan mungkin tidak akan pernah. 

Di samping itu, kita lihat manusia selalu mencari model kebenaran. Katanya ada agama, filsafat, sains, dan seni sebagai empat pilar yang membangun peradaban sekaligus juga empat dimensi dalam kita mendekati yang hakiki. Keempatnya kadang saling melengkapi, tapi seringnya malah bergulat tanpa henti. Kita menemukan bahwa model kebenaran adalah sesuatu yang lentur, dinamis, dan sekaligus juga licin. Beberapa dari kita terbantu olehnya, tapi ada juga yang malah merasa kesulitan. Merasa bahwa tak ada yang dinamakan model kebenaran, apalagi kebenaran itu sendiri. 

Saya melihat sekeliling dengan lebih teliti: Pengemis, cendekiawan, seniman, pelacur, tukang kupat tahu, hingga cleaning service. Semuanya hidup dengan model kebenarannya sendiri, semua hidup dengan pandangan untuk merubah dunia dengan caranya sendiri. Adakah dari mereka yang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain? Saya tidak yakin. Mungkin juga kita dihadirkan ke dunia untuk melakukan sebuah kegiatan yang tidak merubah apapun. Tidak ada kebenaran, kata Herman Hesse, karena lawan dari benar adalah juga sama-sama benar. Saya mengajar, menulis, dan bermain musik, untuk sebuah kebaikan bagi dunia. Tapi dunia ini tidak boleh ada hanya untuk kebaikan semata. Biarkan yang tidak baik juga bertahan agar dunia ini tetap lestari dan alami. Biarkan si bodoh ada agar si pintar dapat tetap jumawa. Biarkan si keras hati ada agar para seniman bisa berbangga diri. Karena hidup ini sungguh tidak ada apa-apa di dalamnya. 


Continue reading