Wednesday, March 19, 2014

Norwegian Wood: Absurd, Erotis, dan Eksistensial

Norwegian Wood: Absurd, Erotis, dan Eksistensial


Pertama kali saya mendengar nama Haruki Murakami adalah dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Tidak banyak yang diceritakan Mas Heru soal siapa Murakami ini. Ia cuma bilang bahwa Murakami adalah seorang penulis yang juga rajin mengikuti kompetisi maraton. Pernah Mas Heru mengirimi beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Murakami tapi saya mengabaikannya. Namun entah kenapa, di suatu Sabtu ketika saya sedang berjalan-jalan di toko buku, ada buku Norwegian Wood terpajang di jajaran buku unggulan. Ada energi aneh yang menarik saya untuk membelinya. 

Buku ini memang mempunyai energi yang aneh sekali. Jika kamu ingin tahu apa yang diceritakan dalam Norwegian Wood, maka saya akan mengatakan bahwa buku ini tidak lebih dari sekadar percintaan remaja usia 20-an. Dua orang saling mencintai, lalu terdapat orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sehingga suasana menjadi repot. Namun yang menjadi titik berat Murakami adalah bagaimana ia menceritakan kisah cinta itu. Meski ceritanya sederhana, namun ia fokus pada apa yang bergulat dalam batin tokoh per tokoh mulai dari Watanabe, Naoko, Midori, Nagasawa, Reiko, hingga Hatsumi. Kita akan menemukan bahwa setiap tokoh ternyata merupakan pribadi kompleks yang untuk menjelaskannya dibutuhkan penelusuran historis secara teliti agar tahu bagaimana pemikirannya dapat terbentuk.

Murakami jelas bukan penulis sembarangan. Ia tampak jelas sebagai orang yang berwawasan luas dan membaca banyak hal. Dalam bukunya tersempil nama-nama beken seperti Jim Morrison, Miles Davis, The Beatles, Burt Bacharach, Scott Fitzgerald, Hermann Hesse, Yukio Mishima hingga yang klasik-klasik seperti Sophocles, Euripides, Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Maurice Ravel. Tema ceritanya yang absurd dan eksistensialitik juga menunjukkan bahwa ia sangat mungkin membaca filsafat eksistensialisme dari tokoh-tokoh Barat. Keterasingan, keterlemparan dan pertanyaan akan makna hidup, rajin diletupkan dalam Norwegian Wood agar perasaan kelam ketika membacanya tetap terjaga.

Teknik menulis dari Murakami juga tidak boleh luput dari pujian. Ia menulis dengan gaya yang aneh sekali. Kadang terasa realistis, kadang terasa surealistis dan keduanya tidak bisa dipisahkan secara tegas. Kadang terasa sangat serius hingga membuat kening mengkerut, kadang terasa amat jenaka hingga membuat saya tertawa berderai air mata. Ia juga pandai membuat distraksi-distraksi yang aneh sehingga pembaca merasa terganggu tapi juga terjaga untuk tetap berkonsentrasi. Seperti misalnya ketika Naoko dan Watanabe tengah berbincang mengenai kakak dari Naoko yang meninggal oleh sebab bunuh diri, tiba-tiba Watanabe mengatakan bahwa penisnya tengah mengeras. Naoko dengan seketika membantu Watanabe agar orgasme dengan tangannya dan setelah itu mereka berdua kembali berbincang meneruskan apa yang tertunda.

Apakah dengan demikian Norwegian Wood adalah novel erotis? Jika dikatakan demikian, ada benarnya juga. Murakami dalam novel ini memang rajin sekali menyelipkan cerita-cerita yang membangkitkan imajinasi seks yang liar. Namun sekali lagi, ia membungkusnya dengan gaya penceritaan yang manis dan tidak membawa pada kevulgaran yang berlebihan. Murakami pandai sekali memainkan komposisi sehingga meski ceritanya sederhana, namun tetap terjaga tempo maupun kedalamannya. Jangan lupakan juga kerja dari penerjemah Jonjon Johana yang pastinya turut berandil menjaga kebaikan bahasa dari Murakami. Ini adalah buku yang wajib dibaca di segala jaman. Saya merasa bahwa novel ini salah satu yang terbaik yang pernah saya baca. Hidup saya murung untuk beberapa waktu dan mungkin juga untuk waktu yang lama setelah membacanya.

Continue reading

Saturday, March 8, 2014

Gadis Kretek: Antara Kretek, Sejarah, dan Stereotip (Saya) yang Terselamatkan


Harus diakui bahwa saya bukanlah penikmat karya sastra lokal, kecuali jika itu menyoal karya-karya dari angkatan lama. Skeptisitas saya sebenarnya boleh dibilang tidak beralasan. Mungkin lebih tepatnya disebabkan karena trauma setelah membaca Dwilogi Padang Bulan, Sembilan Matahari, dan Negeri Lima Menara yang banyak berkelit dengan kemahatahuan si penulis padahal ujung-ujungnya menyisipkan pesan yang pasti laku di negeri kita: Tentang sikap pantang menyerah agar cita-cita kita, setinggi apapun, dapat tercapai. 

Ketika saya disodori Gadis Kretek oleh rekan kerja untuk dibaca, saya tidak langsung mengiyakan. Saya bertanya ini-itu terlebih dahulu sekadar memastikan bahwa buku karya Ratih Kumala ini bukanlah buku motivasi. Katanya, baca saja, akan menegangkan terus sampai halaman terakhir. Ternyata memang iya, novel Gadis Kretek setebal 274 halaman tersebut memang pandai sekali menciptakan kepenasaranan bagi pembacanya. Dari awal hingga akhir sulit sekali untuk menebak jalan cerita mau ke arah mana. 

Gadis Kretek ini ditulis secara bergantian dari sudut pandang orang pertama dan orang ketiga dengan latar kekinian dan masa lalu -menunjukkan kemampuan teknis penulis yang lumayan-. Pertama, "aku" adalah Lebas, putra ketiga dari juragan rokok kretek bernama Soeraja. Meski Lebas dijadikan sudut pandang orang pertama, namun ia tidak sentral. Mungkin Lebas dijadikan "aku" hanya semata-mata karena ia adalah seorang remaja nanggung yang sering melontarkan celetukan-celetukan tak jelas. -Lebas barangkali adalah jalan masuk bagi penulis untuk lebih sering mencairkan suasana sekaligus menjaga tempo pembacanya-. 

Sentral cerita adalah nama "Jeng Yah" yang dilontarkan oleh Soeraja di ranjang kematiannya. Penasaran dengan siapa itu yang disebut dengan Jeng Yah, ketiga anak laki-laki dari Soeraja mencoba menelusurinya sampai dapat. Penelusuran itu membawa cerita ke masa lalu (sekitar tahun 1942 hingga 1965) yang penulis sengaja membuatnya agak rumit. Kisah mengenai Idroes Moeria, Roemaisah, Soedjagad, Lilis, Dasiyah, dan sebagainya, diceritakan dengan jalinan yang baik sehingga pembaca terus menerus menebak dari orang yang manakah Jeng Yah dimunculkan.

Bagian flashback inilah yang sebenarnya menonjolkan kemampuan si penulis. Meskipun saya setuju dengan beberapa reviewer lainnya yang menyebutkan ia sering salah ketik, salah nama, dan salah penempatan logika cerita, tapi kesalahan-kesalahan tersebut sama sekali tidak mengendurkan penilaian saya akan riset yang dilakukannya. Ia tidak hanya sungguh-sungguh menelusuri sejarah industri kretek di Indonesia, tapi juga mengaitkan secara manis dengan situasi historis di sekitarnya. Meskipun akurasinya tentu saja baur dengan pengaruh cerita fiksi, namun tetap muatan pengetahuan plus nuansa perubahan dari jaman ke jaman cukup terasa setidaknya bagi saya pribadi. Hal inilah yang membuat saya cukup nyaman membaca Gadis Kretek tanpa sedikitpun rasa sebal seperti ketika membaca Dwilogi Padang Bulan, Sembilan Matahari ataupun Negeri Lima Menara.

Di sela-sela kesibukan, saya sukses menamatkan Gadis Kretek ini dalam dua minggu. Ketika menutup karya sastra tersebut, saya memejamkan mata, mencoba merasa, hingga akhirnya mendapat kesimpulan: Buku ini menarik, menghibur, punya muatan pengetahuan, tapi kurang menimbulkan kesan mendalam. Mengapa kurang? Saya tidak bisa sebutkan karena perasaan kurang itu muncul berdasarkan pengalaman estetis saya yang pastilah subjektif dan berbeda dengan apa yang kalian semua alami. Meski demikian, saya tetap senang karena akhirnya stereotip buruk saya tentang novel lokal terselamatkan sedikit. Tak semua dari para penulis kita punya tendensi untuk memanfaatkan formula kesukaan pasar yang harus bermuatan motivasi. 
Continue reading