Tuesday, February 25, 2014

Yang Absurd dan Yang Hidup

Yang Absurd dan Yang Hidup
Modernitas adalah soal kepastian. Sains dan teknologi memberikan pelbagai jaminan bahwa jika kita menjalani A maka hasilnya pasti B. Kehidupan manusia berkaitan dengan rencana-rencana ke depan yang sudah dirancang hingga puluhan tahun. Dunia ini, kata Heidegger, oleh sebab segala kepastian tersebut, mulai kehilangan kemistisan. Seperti saya misalnya, sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen tetap. Di tempat ini, saya mendapat jaminan hingga hari tua dan jaminan kesehatan jika terjadi apa-apa. Apa yang terjadi? Perasaan yang sesungguhnya kontradiktif muncul. Di satu sisi, saya merasa hal tersebut adalah anugerah Tuhan. Di sisi lain, dengan kepastian tersebut, Tuhan justru seperti tak dibutuhkan lagi. Seperti kata Andre Yefimich Ragin dalam Ruang Inap no. 6, "Jika manusia sudah dapat sembuh oleh pil dan obat, maka kepercayaan mereka pada agama dan filsafat terang akan menurun."

Semakin dewasa juga, segala kegiatan menjadi harus punya alasan dan kegunaan. Mengapa saya datang ke kampus setiap hari? Alasannya mungkin karena uang, sedangkan kegunaannya barangkali adalah dengan demikian saya bisa mengajarkan sesuatu pada mahasiswa. Mengapa saya mengajarkan sesuatu pada mahasiswa? Mungkin alasannya juga karena uang. Atau setidaknya jika alasan itu terlalu materialistik, saya coba cari yang lebih humanistik. Misal: Karena mengajar adalah suatu kegiatan yang memanusiakan diri kita. Tapi setidaknya, dalam diri kita selalu harus punya pembenaran yang sifatnya mengarah "ke ujung". Pembenaran itu haruslah yang ultima, yang prima, dan tidak boleh sesuatu yang sifatnya "hanya untuk seru-seruan saja". Jika hanya untuk seru-seruan, maka kita akan dituding seperti bukan orang dewasa.

Tapi pernahkah menyisakan waktumu untuk misalnya, duduk di kafe tanpa sebab, mengajarkan sesuatu tanpa imbalan, atau menuliskan berbagai hal tanpa perlu tahu apa manfaatnya? Melakukan sesuatu tanpa perlu iming-iming "hal yang bermanfaat" apalagi "untuk puluhan tahun ke depan"? Manusia modern menyebut hal semacam itu dengan absurd. Tak punya alasan, tak punya tujuan. Namun alangkah beruntungnya mereka yang masih melakukan sesuatu karena sesuatu itu memang menyenangkan. Semakin tidak punya makna, justru semakin bagus. Semakin tidak punya makna, justru semakin dekat dengan sang hidup dan kehidupan itu sendiri. Seperti sepasang kekasih yang duduk berduaan tanpa perlu sedikitpun melirik jam dan mempertimbangkan rencana ke depan. Mereka sadar bahwa setelah mereka beranjak, momen tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang membawa mereka pada manfaat yang nyata. Namun yang terpenting, mereka pernah ada dalam pelukan sang bumi barang sebentar. Karena yang absurd adalah yang hidup.


Continue reading

Thursday, February 20, 2014

Untuk Masa Mudaku yang Akan Pergi

Untuk Masa Mudaku yang Akan Pergi
Minggu lalu saya datang ke sebuah pesta. Pesta yang saya sendiri heran mengapa saya bisa menghadirinya. Pesta itu adalah perayaan ulang tahun ketujuhbelas dari Vallerina. Siapa Vallerina? Dia adalah anak sulung dari murid privat gitar saya yang bernama Ibu Elly. Saya datang karena memang tidak ada acara dan juga ingin mendapatkan pengalaman menarik. Bagaimana tidak, dalam sepuluh tahun terakhir, saya sungguh tidak pernah datang lagi ke sebuah pesta sweet seventeenth. 

Pesta yang diselenggarakan di Trans Hotel tersebut berlangsung sangat meriah. Ada panggung besar, tata pencahayaan canggih, pemandu acara dan pemusik profesional, makanan berlimpah dalam buffet, hingga kue ulang tahun setinggi manusia. Meski saya merasa bahwa menghadiri acara semacam itu dapat dikatakan "sudah bukan masanya lagi", tapi saya tetap berusaha melebur dan menikmati berbagai sajian yang ada. Ada yang bersuara dalam hati saya, yang mengatakan bahwa, "Iya, kamu masih muda, kok, masih punya taji untuk menikmati acara-acara semacam ini."

Tapi ketahuilah, ada yang berubah dan ada yang tidak berubah. Yang berubah adalah kenyataan bahwa secara fisik, saya bergerak menuju situasi dimana saya tidak bisa dikatakan sama dengan anak-anak berumur tujuh belas tahun yang datang sebagai undangan di sana. Tidak bisa saya katakan lagi dengan lantang bahwa, "Hei, saya seumur kalian loh, saya bisa menari, berjingkrak, dan tertawa lepas seperti tak ada beban yang harus dipikul." Fisik saya berubah, gerak-gerik saya berubah, dan cara saya memandang dunia pun berubah. Di mata anak-anak itu, mereka mulai memanggil dengan panggilan, "Bapak." Dulu saya dongkol dengan panggilan semacam itu dan minta siapapun segera meralat, "Jangan panggil bapak, 'kang' saja." Namun sekarang saya pasrah, berusaha menerima panggilan tersebut sebagai takdir yang harus dijalani.

Yang tidak berubah adalah suatu keinginan besar untuk kembali muda. Untuk selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa iya, menjadi tua adalah suatu hal yang tidak mungkin karena saya adalah orang yang asyik dan menyukai segala kesenangan. Untuk selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak mungkin saya mati dan lenyap dari dunia yang saya selalu sanggup untuk taklukkan. Dalam jiwa saya, suara-suara tersebut datang setiap saat seperti hantu. Namun seperti hantu juga, suara-suara tersebut mendadak lenyap ketika ada anak muda yang memanggil saya, "Bapak," ketika ada yang mengomentari bagaimana saya yang terlalu maceuh dengan, "Pak, sadar umur, Pak." dan tentu saja ketika mendadak saya harus berurusan dengan tetek bengek seperti uang, pekerjaan, cicilan, bahasa-bahasa rumit, sikap yang dibuat-buat, dan segala hal yang saya dulu hanya bisa saya lihat dalam diri orang dewasa. 

Masa muda tidak akan pernah kembali. Yang ada hanya pertemuan dengan kenangan akan masa muda itu sendiri. Seperti ketika saya memandangi para remaja pria yang hadir dalam undangan Vallerina. Saya katakan pada mereka, dalam hati saya, "Nak, saya pernah sekeren kalian, sungguh."

Continue reading