Sabtu, 25 Januari 2014

Kita dan Ivan Dmitrich

Kita dan Ivan Dmitrich
Ivan Dmitrich Gromov adalah salah satu tokoh dalam cerpen Ruang Inap no. 6 yang ditulis oleh Anton Chekhov. Ia adalah orang yang menjadi gila oleh sebab rasa takutnya pada sekeliling. Ivan Dmitrich sesungguhnya mahasiswa yang cerdas dan rajin membaca. Namun sejak keluarganya mengalami keruntuhan ekonomi, kejiwaannya mengalami degradasi sedikit demi sedikit. Ia menjadi takut dijebloskan ke penjara. Ia merasa orang-orang tengah berkomplot untuk menjebloskannya ke penjara. Ketika terjadi peristiwa pembunuhan di kotanya, ia merasa bahwa orang-orang menuduh ia yang menjadi pembunuhnya. Bunyi dering atau denting pintu gerbang membuatnya terperanjat dan berkeringat dingin. Tukang tungku yang rutin memindahkan tungku di dapur ia curigai sebagai polisi yang menyamar sebagai tukang tungku. Ivan Dmitrich tak terhindarkan lagi untuk dijebloskan, bukan ke penjara, melainkan ke tempat perawatan orang-orang sakit jiwa yang dinamakan dengan Ruang Inap no. 6.

Sekilas mungkin kamu setuju bahwa Ivan Dmitrich cocok dimasukkan ke Ruang Inap no. 6 karena ia memang gila. Tapi ada persamaan antara Ivan Dmitrich dengan perilaku kita semua, orang-orang modern. Mungkin kita bisa mengambil contoh dari Pak Awal Uzhara yang ia mengaku sendiri bahwa ia punya perilaku mirip dengan Ivan Dmitrich. Bedanya, Pak Awal, sebagai orang yang baru pulang ke Indonesia setelah tinggal berpuluh tahun di Rusia, merasa bahwa setiap orang adalah intel yang menyamar sebagai orang biasa, dan ingin mendeportasinya kembali ke Rusia. Adakah sifat semacam ini pada diri kita semua?

Dunia modern adalah dunia yang dipenuhi kepastian tapi juga sekaligus sikap-sikap paranoid. Padahal, sikap paranoid normalnya datang dari dunia yang masih diliputi kemistisan dan apa-apa tindakan tergantung dari kemauan alam. Kita pantas untuk takut oleh dunia seperti itu karena apa yang terjadi ke depan begitu sulit diprediksi. Namun anehnya, dunia modern yang lebih presisi justru lebih mampu menciptakan individu-individu semacam Ivan Dmitrich. Kita melihat sedemikian terancamnya kita oleh sebab lampu jalan raya yang durasi warna merahnya terlalu lama, uang gaji yang kurang seribu, persiapan pernikahan, asuransi yang terlambat dibayar, anak yang lahir, hingga orang-orang yang lalu lalang di depan rumah. Kita sering merasa bahwa situasi demikian adalah bagaikan "polisi yang menyamar sebagai tukang tungku".

Kapitalisme, lagi-lagi kapitalisme, dengan cerdik memanfaatkan kecenderungan kita yang seperti Ivan Dmitrich itu. Mereka sadar betul bahwa sikap paranoid ini sedemikian menawan untuk dieksploitasi. Tembok-tembok besar dibangun untuk menjadi pembatas antara manusia satu dengan manusia lainnya sehingga masing-masing individu merasa nyaman dan tidak bertemu "polisi yang menyamar sebagai tukang tungku". Itu mengapa rumah mewah berdinding tinggi yang berada di kompleks dengan penjagaan sana sini lebih mahal harganya daripada rumah di gang-gang yang aksesnya begitu mudah dimasuki dari mana-mana. Itu mengapa mobil travel dengan kursi sedikit mempunyai harga lebih mahal daripada mobil travel yang berjejal-jejalan. Dunia modern tidak melulu soal rasionalitas dan kemajuan teknologi. Kita juga berhadapan dengan situasi dimana orang begitu ketakutan bertemu dengan orang lain. Kita semua sesungguhnya adalah seperti Ivan Dmitrich. Hanya saja kita tidak dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Hanya dibiarkan berkeliaran agar segala ketakutan itu menjadi biasa.
Continue reading

Sabtu, 11 Januari 2014

Terima Kasih, Ruang Kecil!

Terima Kasih, Ruang Kecil!
Orang dulu bilang, banyak anak banyak rejeki. Anak saya tidak banyak, cuma satu, tapi rejekinya ada. Rejeki terbaiknya tentu saja rasa bahagia. Rejeki lainnya, misal soal pekerjaan. Tiba-tiba saja saya diterima sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta setelah beberapa tahun mengajar kesana kemari dengan status honorer. Tapi agaknya terlalu naif jika saya dengan terburu-buru mengaitkan rejeki ini dengan suatu kepercayaan metafisik "banyak anak, banyak rejeki" -meskipun secara kausal, ada benarnya juga-. 

Saya merasa bahwa segala proses menuju dosen tetap yang boleh dikata tidak mudah tersebut, terbantu banyak sekali dari bagaimana saya pernah bergaul di komunitas-komunitas yang ada di ruang kecil seperti Tobucil, Garasi10, KlabKlassik, Madrasah Falsafah, Klab Filsafat Tobucil, ataupun Layarkita. Tidak hanya sebatas itu bantuan mereka. Saya juga merasa sudah dibekali secara cukup oleh komunitas-komunitas tersebut sebelum memulai menjajaki karir dan pergaulan akademik dalam waktu dekat. Mungkin harus saya rinci bagaimana kontribusi mereka. Ini penting terutama bagi orang-orang yang merasa bahwa bergaul di ruang kecil sama sekali tidak keren dan sebaiknya waktu jangan disia-siakan untuk langsung saja berkiprah di gedung-gedung megah dengan pencitraan yang gemerlap.

1. Ruang kecil mengajarkan bagaimana menghargai orang secara personal
Meski sekilas tampak umum, namun sebenarnya tidak semua orang -menurut pengalaman saya- bisa menghargai orang lain berdasarkan eksistensinya secara an sich. Faktanya, kita terbiasa menilai orang berdasarkan institusi, jabatan, latar belakang keluarga, hingga ke penampilan. Di ruang-ruang kecil yang saya maksud di atas, kategori semacam itu agaknya tidak menjadi pertimbangan sama sekali. Misalnya, di Madrasah Falsafah Sophia atau Klab Filsafat Tobucil, posisi kita semua egaliter dalam memperbincangkan segala sesuatu secara filosofis. Jikapun ada yang harus dinilai, betul-betul soal apa yang dikatakannya dan bukan siapa yang mengatakannya. Dalam pergaulan akademik, beberapa orang yang saya temui senang sekali menilai orang lain berdasarkan gelar, pangkat, ataupun jabatan akademik. Kita tidak menyalahkan orang yang berpikir semacam itu. Tapi dari pengalaman di ruang kecil, saya belajar sesuatu: Buang jauh-jauh citra apapun yang melekat pada dirinya, bicara dulu dengan orangnya, ketahui seluk beluk pemikirannya, dan ketika itu mungkin kamu bisa menilai keunikannya. Ingat bahwa hal ini juga sangat bermanfaat bagi saya dalam menjalin hubungan dengan mahasiswa. 

2. Ruang kecil mengajarkan bagaimana berbuat demi apresiasi yang dalam, bukan yang luas
Dari pengalaman bersama KlabKlassik, saya belajar untuk berbuat sesuatu setidaknya agar dikenang oleh yang terdekat saja. Jikapun nanti apa yang saya lakukan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas, itu sifatnya hanya bonus. Misalnya, saya ingat bagaimana seorang kawan bernama Sutrisna yang hadir untuk pertama kalinya dalam pertemuan KlabKlassik, ia duduk di pojok tanpa bicara dan wajahnya merengut seperti minder. Setelah diajak ngobrol dan terlibat dalam berbagai acara konser baik sebagai panitia maupun pemain, ia berubah menjadi terbuka. Bicaranya tidak lagi terbata-bata dan Sutrisna sudah tidak malu-malu lagi dalam mengungkap pendapat. Dalam pergaulan akademik, ada indikasi bahwa beberapa orang lebih senang untuk mencitrakan diri di kalangan yang jauh dari dirinya terlebih dahulu. Tanpa sadar, ia tidak sedikitpun berkesan bagi yang dekat. Ingat juga, seperti poin nomor pertama, ini penting buat saya dalam menjalin hubungan dengan mahasiswa. Diapresiasi mahasiswa, meskipun kadang tidak ada poin formalnya untuk kenaikan pangkat dalam karir akademik, tetap membahagiakan buat saya. Membuat mahasiswa yang tadinya tidak mau bicara menjadi mau bicara, bukankah itu menjadi salah satu indikator baiknya sebuah pendidikan menurut ukuran kemanusiaan?

3. Ruang kecil mengajarkan bagaimana mengatasi tatapan
Oleh sebab ruangnya yang kecil, kita akan menghadapi situasi dimana saling menatap dalam jarak dekat adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Tatapan semacam itu pada mulanya menciptakan rasa gugup dan salah tingkah. Jika tampil di panggung ataupun bicara di sebuah forum besar, tatapan-tatapan memang pasti ada, namun mereka punya jarak yang cukup jauh dan kadang bisa diabaikan. Apa artinya sebuah tatapan? Tatapan artinya juga penilaian. Ketika kita terbiasa menguasai diri di bawah tatapan jarak dekat, maka apa artinya sebuah tatapan dari jarak yang jauh? Tanpa bermetafor, saya akan katakan dengan jelas, bahwa mampu mengatasi tatapan, artinya juga mampu mengendalikan diri di bawah penilaian-penilaian orang lain yang seringkali rancu dan juga tak berdasar. Bekerjalah seolah-olah memang kamu mau memberi untuk seluruh kehidupan, bukan karena kamu tengah berada dalam penguasaan sebuah tatapan. Jika totalitas itu bisa dilaksanakan, maka tatapan demi tatapan itu bisa tunduk dengan sendirinya. 

Tentu saja itu bukan keseluruhan dari kontribusi yang diberikan dari ruang-ruang kecil tersebut. Kenyataannya masih banyak sekali dan agaknya beberapa diantaranya sudah menubuh dalam tindak tanduk saya sehingga saya tidak punya lagi jarak untuk menuliskannya. Misalnya, ruang kecil mengajarkan untuk tidak berpikir soal materi dan hanya fokus saja pada hal-hal immateri. Selain itu, ruang kecil juga mengajarkan saya untuk tidak menguasai satu hal saja -tidak seperti di kampus dimana orang-orang biasanya terspesialisasi pada satu bidang-. Untuk bisa berbincang dengan orang per orang secara mendalam, kita barangkali perlu wawasan yang luas, dan itu terasa "dituntut" di ruang kecil. Memang ketika sudah masuk dalam pergaulan akademik, mau tidak mau kita harus punya spesialisasi tertentu. Tapi jangan menutup diri untuk menerima wawasan yang lebih luas agar cara kita bicara dan berbuat, entah kenapa, tentunya berbeda dengan dengan mereka yang berwawasan itu-itu saja (dosen komunikasi yang mengajar dengan modal buku teori komunikasi saja tentu berbeda dengan mereka yang dalam keseharian sering membaca novel di sela-sela waktu luangnya).

Akhirul kata, saya berterima kasih pada seluruh komunitas di ruang kecil yang sudah membekali saya banyak dalam awal mula menapaki karir akademik ini. Meski sekarang saya sedang memulai hidup di gedung besar dan megah, tapi saya selalu berdoa dan berusaha agar tindak tanduk saya masih seperti ketika duduk di ruang kecil. 

Continue reading

Jumat, 10 Januari 2014

Ruang Inap no. 6: Kegilaan dan Moralitas

Ruang Inap no. 6: Kegilaan dan Moralitas
"Ya, saya sakit. Tapi kan berpuluh, beratus, orang gila berlalu-lalang dengan bebas, karena kepicikan Anda tidak mampu membedakan mereka dari orang sehat. Kenapa saya dan orang-orang malang ini mesti duduk di sini menggantikan semuanya, sebagai kambing hitam. Anda, Pembantu Dokter, pengawas, dan semua babi rumahsakit, dalam hubungan susila lebih rendah tak terkira daripada masing-masing kami, tapi kenapa kami yang duduk di sini, dan kalian tidak? Di mana logikanya?" - Ivan Dmitrich Gromov dalam Ruang Inap no. 6


Setiap saya berkesempatan berjumpa dengan Pak Awal Uzhara, ia tidak henti-hentinya membicarakan cerpen Ruang Inap no. 6. Katanya, "Ini jenis karya naturalisme tinggi yang bagus sekali." Rekomendasi Pak Awal tentu saja tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ia mengaku "mengenal" Anton Chekhov mulai dari rentetan karya hingga riwayat hidupnya. Ketika akan memulai membaca cerpen tersebut, saya tidak mempersiapkan apa-apa. Maksudnya, saya melakukan kegiatan membaca dengan tidur-tiduran saja meskipun katanya saya tengah berhadapan dengan salah satu karya literatur terbaik sepanjang masa. Apalagi saya ingat betul kata Ibu Molly, guru Bahasa Indonesia waktu saya SMA, bahwa ciri-ciri cerpen adalah ia dapat dibaca dalam seminuman kopi. Artinya, ia dapat dibaca dalam waktu relatif singkat dan sambil santai-santai.

Namun kamu salah jika memperlakukan cerpen Rusia dengan cara saya memperlakukannya. Pertama, cerpen Rusia tidaklah sependek yang kamu bayangkan. Ia tidak bisa dihabiskan dalam seminuman kopi. Saya menghabiskan berteko-teko teh tawar dalam beberapa hari untuk menyelesaikan karya sepanjang 83 halaman tersebut (Itu hak Chekhov untuk tetap menyebutnya cerpen. Saya menganggap bahwa di Rusia, udara luar terlalu dingin sehingga lebih baik jika tetap diam di rumah dan menulis segala sesuatu panjang-panjang). Kedua, tema yang diusung Chekhov dalam Ruang Inap no. 6 sama sekali bukan hal yang pantas dibaca sambil tidur-tiduran. Bobot filosofi yang dikandungnya sungguh luar biasa. Kamu akan menemukan pemikiran Diogenes, Stoisisme, Nietzsche, Camus, Foucault, hingga Siddharta Gautama di dalamnya. 

Seperti guru dan murid, Ivan Dmitrich Gromov dan Andrei Yefimich Ragin saling berbincang di balik salah satu jeruji di Ruang Inap Nomor Enam. Siapa mereka? Pertama-tama kamu harus tahu dulu bahwa Ruang Inap Nomor Inap adalah tempat menampung orang-orang gila alias rumahsakit jiwa. Ivan Dmitrich adalah salah satu diantara mereka sedangkan Andrei Yefimich adalah dokter yang mengurusinya. 

Andrei Yefimich tengah berada dalam banyak pertanyaan eksistensial terkait dengan profesinya yang menjemukan. Katanya. "Untuk apa menghalangi orang-orang itu mati, bila kematian memang akhir yang normal dan sah bagi setiap orang? apa untungnya seorang pedagang atau pegawai hidup lima tahun atau sepuluh tahun lebih lama? Bila dilihat bahwa tujuan kedokteran adalah memberikan obat yang meringankan penderitaan, maka mau-tidak mau timbul pertanyaan: untuk apa meringankan penderitaan itu?" Mendengar keluhan Andrei Yefimich, kita tentu saja seperti membaca absurditas Camus dalam versi yang lebih gelap dan sama sekali tidak punya jalan keluar seperti "kegembiraan Sisifus". Ivan Dmitrich, meski ia gila, tapi ia mengajarkan sesuatu pada dokternya. Katanya, seperti tertulis di atas, bahwa tiada beda antara yang gila dan tidak. Kita, lanjut Ivan Dmitrich, semua akan mampus pada akhirnya.

Soal rumahsakit jiwa, kita tidak bisa mengenyahkan begitu saja pemikiran Foucault yang bicara tentang orang gila dan kaitannya dengan moralitas masyarakat. Seperti kata Andrei Yefimich, "Sekali sudah ada penjara dan rumahgila, kan harus ada orang di dalamnya. Bila bukan Anda, ya saya. Bila bukan saya, ya siapa lagi kek orang ketiga..." Foucault mengatakan bahwa rumahsakit jiwa ada, bukan semata-mata untuk membuat orang gila menjadi orang normal. Rumahsakit jiwa diadakan agar orang gila dan orang tidak gila mempunyai garis pemisah yang tegas. Tentu saja, ujar Foucault, rumahsakit jiwa didirikan oleh orang-orang "normal" yang berkuasa. Padahal dari Ruang Inap no. 6 kita belajar, bahwa Ivan Dmitrich dan Andrei Yefimich tiada beda ketika mereka bicara bertatap-tatapan. 

Ruang Inap no. 6 bukan cuma tentang Ivan Dmitrich dan Andrei Yefimich. Di dalam cerita ini juga terkandung tokoh-tokoh yang memperkuat apa yang disebut Pak Awal sebagai karya "naturalisme tinggi". Naturalisme adalah aliran yang mengedepankan kenyataan sosial yang tidak dibuat-buat biasanya disertai juga dengan kenyataan nasib manusia yang menyedihkan. Ada tokoh Nikita, Moiseka, Mikhail Averyanich dan Khobotov yang semuanya menampilkan sisi muram -yang sebetulnya jujur- dari kehidupan manusia. Kita akan merasakan jijik sekaligus juga mengangguk malu mengiyakan setiap kejadian di Ruang Inap Nomor Enam, seolah-olah itu adalah kita sendiri juga yang menjadi orang-orang gila itu. 

Cara bercerita Chekhov ditambah lagi dengan penerjemahan apik dari Koesalah Toer membuat Ruang Inap no. 6 menjadi karya yang sungguh kaya. Saya tidak setuju sama sekali dengan pengulas bernama Ferdy Syarlin di blog lain yang berkata bahwa kata-kata "Alhamdulillah" dan "Insya Allah" yang disisipkan Koesalah adalah sebentuk keputusan yang dapat menimbulkan banyak pertanyaan. Menurut saya tidak, justru itu adalah pertimbangan Koesalah dalam menerjemahkan kata-kata dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia yang tidak kaku dan lebih mempertimbangkan aspek kulturalnya daripada religiusnya. Mungkin ekspresi "Alhamdulillah" dan "Insya Allah" tidak terlalu cocok jika diganti dengan "Puji Tuhan" dan "Bagaimana nanti". Juga perhatikan bagaimana Koesalah sungguh hati-hati dalam berbahasa sehingga tidak mungkin ia sesembrono itu memasukkan istilah berbau islami. Tengok bagaimana ia membiarkan istilah-istilah Rusia tampil sebagaimana aslinya dan ia kemudian memilih untuk mendefinisikan kata-kata tersebut lewat catatan kaki. Juga saya tidak mungkin melepaskan "doktrinasi" Pak Awal yang mengatakan, "Koesalah Toer adalah satu sedikit orang yang bisa menerjemahkan sastra Rusia dengan baik. Jika orang lain yang menerjemahkannya, kamu harus hati-hati. Belum tentu mereka benar." 

Continue reading