Wednesday, December 17, 2014

Mimpi yang Aneh

Mimpi yang Aneh
Mungkin ini adalah periode terlama saya tidak menulis blog. Sepanjang bulan November, saya sama sekali tidak punya waktu (atau tidak punya ide) untuk menerbitkan posting-posting baru. Padahal, sejak punya blog lima tahun silam, saya selalu bisa mengisi minimal dua kali dalam sebulan. Jujur memang ketiadaan posting tersebut adalah karena sesuatu yang sedang saya kerjakan, dan barangkali dapat dikatakan sebagai "mimpi yang aneh". Mengapa? Begini ceritanya:

Selesai menggarap buku Nasib Manusia, saya tiba-tiba bersemangat untuk menulis buku yang lain, berjudul Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates Hingga Buddhisme Zen. Karena memang suka dan mendalami filsafat sudah sejak lama, maka bagi saya sendiri, tidak susah untuk menuliskannya. Dalam waktu hampir sebulan setengah, saya sudah merampungkan enam dari sepuluh bab yang direncanakan. Proses menulis saya tersebut ternyata tercium oleh kawan saya, seorang direktur penerbitan yang bernaung di bawah sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Tanah Air. Ia senang dengan rencana saya, dan berniat untuk membuatkan satu peluncuran buku besar-besaran. Bukan hanya terkait buku Filsafat Komunikasi, melainkan juga buku sebelumnya, Nasib Manusia -yang memang belum pernah resmi diluncurkan-. Kawan saya yang bernama Syahriar itu tidak sendirian merencanakan hal tersebut. Ada juga Pak Sufyan, direktur setingkat di atasnya, yang turut antusias dengan gelaran ini.

Jadilah, lewat suatu rapat yang digelar secara singkat di Starbucks Coffee di Paris van Java (tanggal rapat adalah 28 November), diputuskan bahwa acara peluncuran buku akan dilaksanakan pada tanggal 12 Desember -atau dalam waktu dua minggu saja!-. Tadi sudah diceritakan bahwa saya masih menyisakan empat bab lagi agar Filsafat Komunikasi dapat rampung seluruhnya. Artinya, selain menyiapkan acara yang kata Syahriar dan Pak Sufyan adalah acara peluncuran yang sangat besar, saya juga mesti menyelesaikan sisa bab dalam waktu kurang dari empat belas hari (tentu karena ada periode waktu cetak mencetak yang pasti memakan waktu minimal tiga hari). Sebagai rincian, yang harus saya siapkan adalah: Menulis naskah karena Pak Sufyan menginginkan adanya semacam monolog yang agak teatrikal, menyiapkan bumper acara berupa tayangan multimedia yang gegap gempita, menyiapkan film yang berisi kisah hidup Pak Awal Uzhara beserta subtitle dalam bahasa Indonesia (ini agak sulit karena film itu sendiri disajikan dalam bahasa Rusia), menyusun daftar undangan untuk siapa saja yang kira-kira mesti menghadiri acara ini dari pihak saya, serta menyiapkan orasi kebudayaan yang akan dibawakan oleh saya sendiri sebagai penampilan pamungkas.

Dua minggu persiapan merupakan salah satu pengalaman paling menegangkan sekaligus paling buruk dalam hidup saya (kedua setelah resital pertama saya tahun 2006). Tidur tidak enak, makan tidak enak, juga gerak-gerik menjadi teramat gelisah dan susah sekali untuk fokus berbicara pada siapapun juga. Mengapa? Karena ini adalah peluncuran buku atas nama saya sendiri. Tidak hanya satu, tapi dua buku sekaligus. Pak Sufyan mengatakan bahwa yang hadir adalah pucuk tertinggi pimpinan yakni ketua yayasan, rektor, dekan dari seluruh fakultas, dan perwakilan dari kedutaan besar Rusia. Mungkin enak jika saya hanya tinggal duduk dan mengikuti seluruh acara dengan memasang wajah sumringah. Namun sialnya, Syahriar dan Pak Sufyan meminta saya untuk turut mengonsep acara, juga bermain di dalamnya. Ini adalah pertaruhan besar.

Sebelum lupa, saya beritahukan bahwa judul acara ini adalah Manusia, Mau Ke Mana? Peluncuran dan Interpretasi Seni Buku Nasib Manusia dan Filsafat Komunikasi. H-3 jelang acara, umbul-umbulnya sudah terpasang dari mulai jalan masuk kampus, hingga ke area fakultas tempat saya mengajar. Acaranya sendiri dilaksanakan di aula lantai empat Fakultas Komunikasi dan Bisnis, tempat yang cukup besar dan mungkin sanggup menampung tiga ratus hingga empat ratus orang. Sejak umbul-umbul itu terpasang, saya seperti dibangunkan dari tidur panjang untuk masuk pada mimpi yang lain. Saya dipaksa sadar bahwa ini adalah acara besar dan jangan sekali-kali menganggapnya mainan. Namun kenyataan bahwa acara tersebut adalah acara besar, merupakan sesuatu yang saya katakan di awal: Mimpi yang aneh.

Singkat cerita, acara itu berjalan juga. Segalanya berlangsung lancar: Bumper, film, teater yang dimainkan oleh Sophan Ajie (monolog), Ammy Kurniawan (musik), dan Gaby (ballerina); sambutan demi sambutan mulai dari dekan, wakil rektor, hingga ketua yayasan; ulasan singkat dari pakar semiotika Pak Yasraf Amir Piliang, dan orasi kebudayaan dari saya sendiri yang termasuk di dalamnya adalah permainan gitar klasik solo, sekaligus gitar jazz manouche duet bersama violinis Ammy Kurniawan. Kemudian tanpa terasa, acara selama 120 menit itu berakhir dan yang tersisa tinggal ucapan selamat demi ucapan selamat. Saya tertegun oleh mimpi yang aneh. Ternyata segala yang saya pelajari dan jalani secara konsisten selama ini (gitar klasik, gitar jazz, menulis, bicara, mengurus acara, hingga mengapresiasi seni), semuanya termanifestasikan dalam satu acara besar. Saya selalu menganggap bahwa apa-apa yang saya lakukan tersebut, merupakan suatu perjalanan di "jalan yang sunyi", yang tidak mungkin dihargai orang lain secara meriah dan penuh hingar bingar. 

Di tengah ketertegunan, di bawah kesadaran yang tipis akibat mimpi yang aneh tersebut, tiba-tiba saya ingat kata-kata Kahlil Gibran yang tertulis dalam Pasir dan Buih, "Jika kamu menyanyikan sesuatu dengan sepenuh hati, di Gurun Sahara yang paling sunyi sekalipun, ada, ada yang mendengarkanmu." Saya berdoa agar tidak lama-lama berada dalam euforia. Saya tidak ingin hati saya tercederai oleh balutan lampu-lampu dan pujian yang berderai bagai mata orang yang tengah mengiris bawang. Saya segera pergi ke Gurun Sahara untuk menyanyi seorang diri. Biar saja mimpi yang aneh sesekali datang, ketika saya tengah berteduh di oase kesementaraan. 

Continue reading

Thursday, October 30, 2014

Belajar dari Mengajar

Belajar dari Mengajar
Sampai hari ini, ketertarikan terbesar saya masih pada bidang filsafat. Filsafat adalah hal yang tidak saya pelajari secara resmi -jika definisi resmi adalah jurusan di masa kuliah-. Akibat tidak belajar di universitas mengenai hal tersebut secara spesifik, terang saja butuh tenaga lebih untuk comot ilmu sana-sini demi meredakan dahaga yang tidak pernah habis-habis. 

Sumber pertama, saya mencomot ilmu filsafat dari buku-buku filsafat, tentu saja. Dengan tertatih-tatih, saya mencoba mencerna buku-buku semacam Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dan Petualangan Filsafat: Dari Sokrates ke Sartre karya T.Z. Lavine. Kedua, saya ikut kursus filsafat di Unpar dengan nama Extension Course Filsafat (ECF). Di sana, saya mengalami banyak pencerahan terutama dari paparan orang-orang yang mempunyai ethos tinggi seperti Bambang Sugiharto, Franz Magnis Suseno, dan Goenawan Mohamad. 

Ketiga, ini juga tidak kalah penting, adalah berbincang dengan bapak saya. Ia sepertinya senang dengan kegiatan filsafat yang saya lakoni sehingga mau meluangkan waktu berbincang panjang lebar segera setelah saya mulai mengungkapkan apa-apa yang baru diterima dari buku maupun kursus. Bapak berfungsi untuk menetralisir sehingga cara berpikir saya tidak menjadi terlalu ekstrim dan senantiasa berada di jalur tengah. Keempat, adalah aktivitas saya di Tobucil bersama Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil. Komunitas tersebut membuat saya mendapatkan perspektif baru karena filsafat ternyata menjadi hal yang lain sekali ketika didiskusikan secara melingkar. Ada dorongan untuk tidak lagi berkutat pada filsafat sebagai sebuah idealisme rasio, melainkan menjadikannya sebagai falsafah atau panduan menuju hidup yang baik dan benar. 

Tanpa meremehkan keempat sumber belajar saya yang lain, saya akan menceritakan lebih tentang sumber nomor lima. Sumber ini berasal dari pertemuan dengan Rosihan Fahmi di suatu malam. Menurutnya, ia ingin mengajak saya untuk membuka kelas filsafat untuk umum -berbeda dengan Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil yang berbentuk melingkar, kelas filsafat berarti ada pemisahan antara guru dan murid yang tegas-. Tidak lupa ia mengatakan bahwa ada nama Bambang Q-Anees (nama yang sering saya dengar) juga turut serta dalam kelas ini. Saya mengiyakan saja karena sepertinya saya hanya menjadi guru cadangan (tentu saja nomor tiga setelah Kang B-Q dan Kang Ami -demikian saya memanggilnya-) sehingga beban akan lebih banyak diserahkan pada dua orang tersebut. 

Namun ketika kelas berjalan, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pada delapan pertemuan yang bertemakan tentang filsafat Yunani, baik Kang B-Q maupun Kang Ami, keduanya hanya hadir di pertemuan pertama dan terakhir. Enam pertemuan di tengahnya, mereka tak pernah menunjukkan batang hidung, bahkan tidak bisa dikontak sama sekali. Walhasil, saya mengajar sendiri sambil gelisah dan cemas, takut tidak mampu menaklukkan diri sendiri dan juga tidak mampu menaklukkan peserta -yang jumlahnya, kalau tidak salah, empat orang-. Entah bagaimana hasilnya, namun akhirnya saya mampu melewatinya. Kang B-Q dan Kang Ami datang di akhir kelas dengan mata seolah berkata, "Rasain kau!"

Di akhir pertemuan tersebut, saya bertanya dengan penasaran mengapa Kang B-Q tidak pernah hadir? Ia menjawab dengan cara yang aneh sekali, yaitu lewat cerita semacam ini: Suatu hari, ada seorang pemuda yang memasuki hutan sangat gelap. Di tengah hutan tersebut, ia berpapasan dengan dua orang yaitu kakek tua dan bocah cilik saling bergandengan. Pemuda tersebut membiarkan keduanya berlalu sambil bertanya pada Tuhan, "Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kedua orang tersebut saling bergandengan di tengah hutan yang berbahaya ini?" Tuhan lalu segera menyahut dengan keras, "Kan ada kamu!"

Jawaban sufistik semacam itu tentu saja tidak memuaskan saya pada mulanya. Namun lama kelamaan, saya merasa bahwa cara mereka menjerumuskan itulah yang membuat saya hingga sekarang tetap jatuh cinta secara konsisten pada filsafat. Tidak hanya itu, saya juga punya keberanian untuk berbagi tentang apa yang saya pikirkan pada orang lain baik dalam forum resmi maupun tidak resmi. Itu semua diawali dengan belajar dari mengajar. Tidak sekadar mengajar yang dipersiapkan, saya ternyata diajari tentang bagaimana mengajar yang tidak dipersiapkan. Atas semua itu, saya mengucap terima kasih pada Kang B-Q dan Kang Ami. 


Continue reading

Wednesday, October 22, 2014

Proporsionalisme

Proporsionalisme
Sekarang, orang yang mempunyai banyak kemampuan, berpotensi dikenai tuduhan tidak profesional. Bapak saya adalah seorang seniman, tapi juga sekaligus atlit pingpong. Oleh kawannya, ia sempat dikomentari, “Seniman kok olahraga!” Bapak saya menanggapi hal tersebut dengan tertawa. Katanya, “Mungkin teman saya itu punya stereotip bahwa seniman adalah orang yang merokok, minum kopi, dan bajunya penuh cipratan cat setelah habis berkarya. Citra olahraga tidak pernah melekat dalam diri seorang seniman.” 

Dunia modern sukses melahirkan konsep profesionalisme. Kemungkinan ia lahir dari sistem akademik yang percaya bahwa seorang individu sebaiknya hanya menjadi pakar di satu bidang. Untuk apa? Agar ia bisa fokus dan bidang yang ia tekuni dapat berkembang. Tapi kita bisa tengok Aristoteles, filsuf Yunani dari sekitar empat ratus tahun sebelum masehi. Oleh dunia kita hari ini, ia disebut sebagai seorang polymath atau seorang serba bisa. Kita tidak bisa mencap Aristoteles dengan satu sebutan saja antara filsuf, saintis, ahli retorika, seniman, atau guru. Aristoteles mencakup keseluruhan sebutan-sebutan tersebut karena memang ia mendalami semuanya. 

Dunia hari ini mungkin semakin langka melahirkan orang-orang semacam itu. Label-label buruk sudah disiapkan untuk orang-orang yang serba bisa, seperti “orang tidak profesional” atau “intelektual selebriti”. Agaknya menjadi tabu jika orang mampu membicarakan atau mengerjakan sesuatu lebih dari satu bidang saja. Padahal selain Aristoteles, dunia Timur pun mengenal istilah “orang pintar” untuk orang-orang yang memang pandai secara rasional, tapi juga pandai secara “irasional” –tabib di Cina, bhiksu dalam tradisi Buddhisme, dan sebagainya-. Bahkan Nabi Muhammad pun pada dasarnya adalah seorang polymath. Selain ia ahli dalam soal ekonomi, ia juga piawai soal politik dan juga strategi perang. 

Kita tidak usah terlalu menengok orang-orang besar yang sudah kuat terpatri dalam sejarah. Kita bisa membayangkan secara sederhana fenomena orang-orang di desa, di sekitar kita. Sangat mungkin mereka mempunyai jadwal sebagai berikut: Bekerja di sawah, menabuh gamelan, belajar di sekolah, hingga melukis. Keseluruhannya itu tidak dalam rangka menjadi intelektual selebriti atau haus akan sebutan polymath. Kita bisa menganggap bahwa kegiatan demi kegiatan tersebut ia lakukan demi kepenuhan dirinya sebagai manusia. Agar kehidupan ini lengkap dan juga kemanusiaan ini lengkap, seseorang semestinya tidak hanya berkutat di satu hal sepanjang hidupnya. 

Musashi adalah contoh yang baik tentang apa yang kita akan sama-sama sebut sebagai “proporsionalisme”. Ia pada dasarnya adalah seorang samurai yang sudah sepantasnya menenteng pedang, bertarung, dan membela tuannya. Tapi Musashi sadar bahwa hidup tidak hanya sekadar profesionalisme kaku semacam itu. Ia juga sekaligus melukis, merangkai bunga, serta membantu pembangunan sebuah desa dari mulai mengangkut kayu hingga menanam benih pohon. Musashi melakukan semua itu karena tujuan hidupnya bukan menjadi samurai yang baik, melainkan manusia yang baik. Bapak saya, di waktu yang lain, mengatakan hal yang serupa, “Jadi seniman itu mudah, yang sulit adalah menjadi manusia.”
Continue reading

Tuesday, October 7, 2014

Kebahagiaan dan Alam "Sana"

Kebahagiaan dan Alam "Sana"
Kata Mohammad Hatta dalam bukunya yang berjudul Alam Pikiran Yunani, orang yang belajar filsafat adalah orang yang bahagia karena ia hidup di alam lain. Apa maksud perkataan itu tidaklah jelas. Juga diantara kita, yang tidak menyukai filsafat, tentu saja juga mempunyai kebahagiaannya sendiri. Mungkin malah sebaliknya. Mereka yang belajar filsafat tampak seperti orang-orang yang bingung, gelisah, dan murung. Jadi, apa maksud kata-kata Mohammad Hatta tersebut?

Belakangan ini saya kerap menemukan cerita-cerita dari sekitar. Isinya seputar konflik dan kesedihan. Mulai dari rumah tangga yang kurang harmonis, lingkungan kerja yang menyebalkan, hingga pencapaian dan target hidup yang tak terpenuhi. Keseluruhan cerita tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah kebahagiaan itu sebenarnya? Apakah jika hal-hal diatas teratasi, kita bisa menjadi bahagia? Pertanyaan yang mengerikan adalah: Apakah saya bahagia? 

Pertanyaan yang terakhir adalah yang paling menggelitik. Juga untuk menjawabnya, tidak terlalu mudah. Kehidupan saya tidak selamanya mulus. Sebagaimana halnya manusia pada umumnya, saya kadang mengalami kegembiraan, kadang mengalami kesedihan. Kadang mengalami komedi, kadang mengalami tragedi. Namun jika kembali pada pertanyaan, apakah dengan keseluruhan dinamika tersebut, saya bahagia? Saya akan menjawab: Iya, saya bahagia. Saya sebahagia Diogenes, seorang filsuf sinisme, yang hidup di dalam tong dan menjalani kehidupan tanpa keinginan macam-macam.

Untuk menjawab mengapa saya bahagia, adalah hal yang juga tidak sederhana. Namun kata-kata Bung Hatta di atas membantu banyak. Iya betul. Saya bahagia karena hidup di alam lain. Saya bahagia karena sanggup melarikan diri dari realitas dan berkubang dalam alam imajinasi. Saya, sebagai penyuka filsafat, menemukan hal yang kurang lebih mirip pada mereka yang menyukai seni, sains, dan juga agama. Namun kebahagiaan versi sains misalnya, bukan kebahagiaan ketika mereka membeli gadget atau laptop. Kebahagiaan yang ada mungkin timbul ketika membayangkan alam semesta dan segala misteri yang melingkupinya, serta cita-cita untuk memecahkan teka teki maha besar tersebut. Kebahagiaan versi agama juga, bukan kebahagiaan ketika dapat memenuhi hajat untuk membeli kue atau baju baru di saat lebaran. Kebahagiaan yang ada mungkin timbul dari keyakinan bahwa surga itu ada dan Tuhan itu ada. 

Artinya, realitas tidak memberi kita kebahagiaan. Keterikatan kita pada benda-benda yang riil tidak memberi kita kebahagiaan. Yang memberi kebahagiaan justru adalah alam yang tidak riil, alam "sana" yang diterbitkan dari pikiran kita sendiri. Mengapa begitu? Mungkin karena dengan hidup di alam "sana", kita dapat melihat kehidupan dari kejauhan dan ketinggian. Kita bisa menata hati dengan tenang sambil melihat realitas yang terus berubah. Tapi tetap ada perbedaan antara orang yang hidup di alam "sana" dan mengontrol kehidupan dari kejauhan, dengan orang yang berpikir tentang alam "sana", tapi kemudian membenturkannya kembali dengan realitas. Untuk yang nomor dua itu, bisa jadi justru ia mengalami ketidakbahagiaan. 

Kata-kata saya tersebut mungkin tidak melalui riset sungguhan. Saya hanya memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka yang sungguh-sungguh menyukai sastra, sungguh-sungguh menyukai seni, sungguh-sungguh menyukai agama (bukan fanatik, tapi memeluk seluruh agama beserta spiritualitasnya), sungguh-sungguh menyukai filsafat (bukan hapal sejarah filsafat beserta pemikirannya, tapi ia yang berfalsafah dan menerapkan suatu kebijaksanaan dalam hidupnya), tampak lebih bahagia dari yang lain. Saya dapat melihat seorang tukang sapu yang selalu bahagia karena setelah ditanya, ia tidak berpikir soal uang dapat berapa. Yang penting adalah ia terus menyapu sebagai bagian dari rasa syukurnya terhadap kehidupan. Saya juga lihat seorang ibu yang membesarkan anaknya dan tampak bahagia. Kebahagiaan itu bukan disebabkan oleh realitas seorang anak di hadapannya. Tapi karena ia juga hidup di alam "sana". Dalam dirinya terkandung suatu harapan anak ini kelak menjadi apa; juga suatu kenangan tentang masa lalu si anak dari mulai ia lahir hingga hari ini. 

Continue reading

Sunday, September 21, 2014

Ketidakmungkinan Identitas

Ketidakmungkinan Identitas
Kemarin saya berbincang dengan seorang penulis dan budayawan bernama Ahda Imran. Kami berbincang di Taman Cibeunying soal seni tradisi, kebudayaan, dan identitas. Katanya, kaum puritan, yang menginginkan segala seni mesti mengacu pada akarnya (pure, murni), sering lupa bahwa sebenarnya akar itu sendiri tidak pernah ada yang murni. "Ada yang memainkan lagu ciptaan Mang Koko dengan cara yang lain sekali dan kemudian dikritik sebagai re-interpretasi yang keliru. Mungkin sang pengritik lupa bahwa jikapun Mang Koko masih hidup, ia juga pasti mengaku bahwa inspirasinya berasal dari sesuatu di luar," ungkap Kang Ahda.

"Identitas itu hanya ada bagi orang mati," kata Rocky Gerung di suatu forum dua tahun silam, dalam rangka menjawab pertanyaan saya mengenai: Kenapa posmodernisme itu bukannya dijadikan peluang untuk menumbuhkan identitas kita? Kenapa ketika kita bicara tentang posmodernisme, kita malah kembali menoleh pada pemikiran-pemikiran Barat seperti Lyotard, Foucault, atau Derrida? Maka dengan ketus, Rocky menjawab demikian. Ia seolah hendak mengatakan bahwa selama kita masih hidup, identitas itu terus bergerak secara dinamis dan tidak pernah tidak tercampur dengan pengaruh luar. Memang iya juga, batin saya, bisakah saya mengaku bahwa saya orang Sunda asli, jika saya masih menggunakan t-shirt dan celana jeans, pun mengatakan hal tersebut ketika sedang makan sushi di restoran?

Kegelisahan ini menjadi semakin besar ketika mengetahui bahwa di Jakarta kemarin, terselenggara sebuah acara besar berjudul Simposium Internasional Filsafat Indonesia dengan tema kira-kira tentang mencari perwujudan filsafat Indonesia melalui sosok-sosok pemikirnya. Meski tidak mengikuti secara penuh acaranya, namun kegalauan langsung mengemuka: Apakah mungkin kita menemukan identitas filsafat Indonesia? Jika mungkin, lantas, untuk apa? Tidakkah kita lupa bahwa para pemikir yang dikemukakan di forum tersebut macam Ronggowarsito, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, hingga para pendiri bangsa macam Soekarno dan Hatta, juga mendapatkan pemikirannya dari luar? Apakah tidak sebaiknya kita memulai memikirkan tentang filsafat Indonesia, setelah mendefinisikan terlebih dahulu apa itu entitas bernama Indonesia itu sendiri? Benar kata Ahda Imran, mencari sesuatu yang ke-Indonesia-an, artinya mencampuradukkan antara konsep geopolitik dengan geokultural. 

Tapi sekali lagi, manusia memang menyukai segala yang paradoks dan barangkali sikap yang terbaik adalah meniti di atas tambang yang meregang di antara keduanya. Di satu sisi ia sadar bahwa identitas terus berubah dan tak pernah final, di sisi lain ia juga terus mengklaim kepastian. Di satu sisi ia sadar bahwa kehidupan ini dinamis, di sisi lain ia juga mencari suatu bentuk statis sebagai pegangan. Di satu sisi ia sadar bahwa kebudayaan itu seperti makanan -tak masalah yang kita makan berasal dari peradaban mana, yang penting mengenyangkan-, di sisi lain ia sadar bahwa kebudayaan itu seperti candi-candi dan tarian -harus dipermasalahkan datang dari peradaban mana, agar punya nilai bagi ke-diri-an kita-. 

Continue reading

Saturday, September 6, 2014

Sekilas Filsafat Ilmu

Sekilas Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu penting untuk dipelajari sebelum memasuki dunia penelitian. Dalam filsafat ilmu, kita membedakan terlebih dahulu dengan jernih perihal, misalnya, peristilahan ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains. Dalam filsafat ilmu juga kita belajar tentang arti dari teori, paradigma, metode, dan metodologi –hal-hal yang akan sering kita dengarkan pada pelajaran mengenai kualitatif nantinya-. Namun sebelum memasuki semua bangunan tersebut, ada fundamen yang harus terlebih dahulu dipahami, yaitu epistemologi. 

Epistemologi 

Bidang kajian filsafat konon ada tiga, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi yaitu belajar tentang hakikat, esensi, abstraksi, dan tentang “ada” dari sesuatu. Misalnya, bagaimana memandang manusia secara ontologis? Kita bisa memandang manusia sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai sebuah keterlemparan. “Ada”-nya manusia terlempar begitu saja tanpa sebuah rencana dan tanpa sebuah makna. Kita bisa juga pandang manusia secara ontologis dari terminologi agama, bahwa “ada”-nya manusia itu adalah sebagai khalifah di muka bumi. Jadi berbicara ontologi artinya bicara soal inti dari segala sesuatu. Dari inti itulah, kita bisa menjelaskan apa yang permukaan. 

Sebelum berpanjang lebar bicara tentang epistemologi, kita akan mula-mula bicara tentang aksiologi. Aksiologi artinya membahas tentang nilai dan kegunaan dari segala sesuatu. Misalnya, adakah sisi aksiologis dari berdebat akademis? Apakah ada nilainya bagi masyarakat secara umum, atau hanya untuk memuaskan hasrat dari para intelektual secara pribadi? Atau jika berbicara lebih jauh, adakah sisi aksiologis dari kehidupan ini secara keseluruhan? Kaum eksistensialis seperti Albert Camus dan Jean Paul Sartre mengatakan tidak. Hidup ini adalah kesia-siaan belaka. Tidak ada nilainya, tidak ada kegunaannya. Agama tentu menilai lain tentang hidup. Secara aksiologis, hidup ini berguna sebagai kendaraan untuk memasuki dunia nanti yang lebih paripurna. 

Akhirnya kita sampai pada epistemologi. Apakah epistemologi itu? Epistemologi artinya batas pengetahuan. Sejauh mana kita bisa mengetahui sesuatu dan dari mana kita tahu bahwa kita tahu. Seperti misalnya begini, apakah secara epistemologi, kita dapat mengetahui tentang Tuhan? Jika iya, lantas apa bedanya dengan iman? Apakah iman dan tahu itu berbeda atau bahkan bertolak belakang? Kata filsuf bernama Soren Kierkegaard, kita beriman justru karena kita tidak tahu. Apa yang sudah kita ketahui, tak perlu lagi diimani. Atas dasar itu, bisa saja sebenarnya Tuhan ada di luar epistemologi kita, begitupun hal-hal seperti jiwa, ruh, malaikat, hingga setan. Hal-hal yang demikian mungkin saja ada, tapi kalaupun memang ada, kita tidak dapat mengetahuinya dengan menggunakan fakultas yang ada dalam tubuh kita. 

Sumber pengetahuan 

Pertanyaan lanjutan dari epistemologi adalah dari mana kita mendapatkan pengetahuan? Rene Descartes, seorang matematikawan asal Prancis dari abad ke-17, mengatakan bahwa sumber pengetahuan kita yang utama adalah rasio. Bukti mengenai hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari fenomena keseharian: Gajah tampak kecil jika dilihat dari kejauhan, ternyata tampak besar jika didekati, juga sedotan yang dimasukkan ke dalam air akan tampak bengkok. Artinya, indra kita bisa menipu. Apa yang membuat kita yakin bahwa gajah dan sedotan punya bentuk objektif, kata Descartes, adalah semata-mata rasio kita. 

Rasio menghasilkan suatu ketetapan mutlak dan ia hadir sebagai innate (ide bawaan) sejak kita lahir. “Sebagaimanapun diriku mengalami sakit perut yang hebat,” kata Descartes, “Segitiga tetaplah bersisi tiga.” Ia bahkan maju lebih jauh dengan mencoba membuktikan keberadaan dirinya sendiri melalui rasio. Karena menurutnya, bisa saja keberadaan dirinya itu merupakan mimpi dan tipuan dari iblis belaka. Descartes memulai pembuktiannya dengan meragukan segala sesuatu di sekitarnya. Aku ragukan lantai ini ada, aku ragukan meja ini ada, aku ragukan tungku pembakaran ini ada, aku ragukan dirimu ada, dan seterusnya hingga sampai pada satu kepastian yang tak terbantahkan, bahwa: aku ragu-ragu. Menurut Descartes, aku ragu-ragu merupakan suatu bukti bahwa ia sedang berpikir (tidak mungkin seseorang berpikir ketika bermimpi atau ditipu iblis). Atas dasar itu, cogito ergo sum: aku berpikir, maka aku ada. 

Jika Descartes dan kaum rasionalis lain semacam Leibniz dan Spinoza mengandaikan seluruh pengetahuan kita berasal dari rasio, maka lain halnya dengan kaum empirisis yang mengatakan bahwa kita tidak dapat tahu apapun kecuali dari pengalaman kita sendiri. Kita hanya akan membahas seorang empirisis paling ekstrim asal Skotlandia dari abad ke-18 yaitu David Hume. Asumsi pertama, menurut Hume, manusia lahir kosong seperti kertas putih, dan tidak mungkin ia mempunyai innate seperti yang dicetuskan oleh Descartes. Asumsi kedua, hidup manusia adalah hanya berupa kumpulan kesan-kesan yang kemudian melahirkan gagasan. 

Kesan, menurut Hume, adalah berbagai ciri-ciri yang dicerap oleh indra secara langsung. Ketika kita melihat sebuah dompet, maka kita akan menangkap kesan tentang dompet. Gagasan adalah fotokopi dari kesan. Ketika suatu hari kita ditanyai tentang ciri-ciri sebuah dompet, maka kita akan memunculkan kembali kesan tentang dompet tersebut. Artinya, menurut Hume, tanpa kesan, gagasan adalah omong kosong. Hal-hal seperti Tuhan, jiwa, malaikat, ruh, bahkan hari esok dan sebab akibat, dianggapnya sebagai kumpulan gagasan tanpa kesan. Kalaupun aku menjatuhkan batu ini ke lantai selama sepuluh kali dan hasilnya bahwa batu ini jatuh, aku tetap tidak tahu apakah yang kesebelas kali batu ini tetap jatuh atau tidak, begitu ungkapnya. 

Immanuel Kant adalah seorang pemikir asal Jerman yang pernah membaca karya Hume berjudul An Enquiry Concerning Human Understanding. Kant mengatakan bahwa ia terbangun dari “tidur dogmatis” setelah membacanya. Menurut Kant, pendapat Hume benar, tapi terlalu ekstrim. Ia percaya bahwa pengalaman manusia memang mendasari seluruh pengetahuannya, namun sekaligus dipercayainya bahwa manusia tidak lahir dengan putih polos seperti kata para empirisis. Kant percaya bahwa manusia lahir dengan suatu template bawaan. Sebagai contoh, jika tiba-tiba ada bola memasuki kamar kita, seekor kucing akan langsung mengejarnya. Namun seorang manusia akan secara otomatis mencari dari mana asal muasal bola itu. Contoh lain, seekor kucing akan langsung menyantap makanan di hadapannya. Seorang manusia akan memastikan dulu dari mana asal makanan yang ada di hadapannya. Jika ia merasa aman, barulah mulai menyantapnya. Artinya, upaya mencari sebab akan segala sesuatu, sudah menjadi hal yang alamiah dari seorang manusia. 

Kant juga berkontribusi bagi pemisahan antara fenomena dan nomena. Menurutnya, apa yang dapat kita ketahui dengan fakultas pengetahuan kita hanyalah fenomena (yang tampak). Sedangkan hal-hal yang bersifat nomena seperti Tuhan, jiwa, ruh, malaikat, setan, dan sebagainya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui (ia tidak menyebutnya dengan tidak ada. Menurutnya, kalaupun memang hal-hal itu ada, kita tidak mempunyai pengetahuan apapun tentangnya. Keberadaan hal-hal semacam itu hanyalah demi kebaikan moral semata). Atas dasar itu, Kant memberi kita suatu landasan penting tentang apa yang bisa kita teliti: Secara epistemologi, ia harus terjangkau oleh indrawi; secara epistemologi, ia harus tentang apa yang tampak pada kita. 

Paradigma 

Mari membahas sesuatu yang jauh secara historis dari Kant. Di abad ke-20, seorang ilmuwan bernama Thomas Kuhn menulis buku menggemparkan yang berjudul Structure of Scientific Revolution (1962). Dalam tulisannya tersebut, Kuhn menyebutkan bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan terdapat apa yang dinamakan dengan paradigma atau cara pandang ilmuwan terhadap dunia. Paradigma, kata Kuhn, jauh lebih mendasar daripada sekadar teori –paradigma justru merupakan landasan dari teori-. Ketika seorang saintis memunculkan teori demi teori, gagasan demi gagasan, dalam paradigma yang ia yakini sudah mapan, maka Kuhn menyebut hal tersebut sebagai normal science. Namun menurut Kuhn, selalu ada orang yang kemudian menelurkan suatu gagasan anomali dan membuat gempar komunitas dari paradigma yang sudah mapan. Ia menyebut yang terakhir itu sebagai revolutionary science

Ketika revolutionary science muncul, maka paradigma sebelumnya, kata Kuhn, akan melakukan resistensi. Resistensi itu dapat dilakukan dengan cara menjadikan revolutionary science tersebut menjadi bagian dari paradigmanya, atau jika sudah sangat bertolak belakang dan mengancam kemapanan, maka dipersilakan agar sains yang anomali itu membangun paradigmanya sendiri. Namun inti dari pemikiran Kuhn ini adalah bahwa sains juga dibentuk melalui kepercayaan demi kepercayaan dari penganutnya (nyaris seperti agama). Sebuah komunitas sains dapat dengan keras membela positivisme dan menolak ide-ide dan pandangan dunia khas konstruktivisme. Keduanya tampak tidak bisa didamaikan dan lebih baik hidup sendiri-sendiri. Pada perkembangannya, para pemikir mencoba menyusun kembali sejarah ilmu-ilmu dan merumuskan soal jumlah paradigma yang muncul hingga hari ini. Pemikiran yang umum berkembang adalah paradigma yang empat yaitu: 

  • Paradigma positivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas dapat diketahui secara objektif, pasti, ilmiah. Segala teori dan gagasan yang ditemukan adalah dalam rangka puzzle solving dari misteri semesta. Suatu saat nanti puzzle tersebut akan terkumpul seluruhnya dan kita bisa mengetahui segala seluk beluk dari alam semesta.
  • Paradigma pos-positivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas memang dapat diketahui, tapi tidak sempurna dan selalu dapat direvisi. Kebenaran hanya bisa didekati dan tidak dapat diungkap sepenuhnya. Jika positivisme menggunakan prinsip verifikasi, pos-positivisme menggunakan prinsip falsifikasi.
  • Paradigma konstruktivisme: Mereka yang berpandangan bahwa realitas tidak mungkin dapat diketahui tanpa campur tangan subjek yang melihat. Artinya, kebenaran adalah yang dikonstruksi dalam kepala kita sendiri. Tidak mungkin ada puzzle besar yang dapat disusun jika kemudian kebenaran selalu berubah. Yang bisa dilakukan hanyalah memahami dan menerima keunikan demi keunikan. 
  • Paradigma kritis: Mereka yang berpandangan bahwa realitas adalah bentukan kekuasaan dan yang harus kita lakukan adalah mengritisinya terus menerus agar tidak terjebak dalam kesadaran palsu. Paradigma kritis dilandasi oleh teori kelas Karl Marx yang kemudian dikembangkan oleh kaum Neo-Marxis yang sebagian besar berasal dari sekolah Frankfurt.
Continue reading

Sunday, August 24, 2014

Perkembangan Ilmu Sosial

Perkembangan Ilmu Sosial
Sebelum berbicara soal pendekatan kualitatif, terlebih dahulu kita harus bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial. Namun sebelum berbicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial, ada baiknya juga kita bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu alam. 

Sejarah Singkat Ilmu Alam: Fase Mitos 

Jika kita mencoba menalar dengan pikiran kita sendiri, mungkin manusia terlebih dahulu berkutat dengan misteri alam semesta ketimbang misteri tentang manusia. Kenapa? Karena segala kebutuhan hidupnya yang paling dasariah tentu saja ia dapatkan dari alam. Ia sangat bergantung pada sungai, tanah, hujan, pohon, tumbuhan, hingga hewan-hewan. Manusia mula-mula mencoba memecahkan bagaimana caranya agar segala sesuatu itu terkontrol dengan baik sehingga hidupnya sendiri menjadi sedikit demi sedikit lebih terprediksi. Bayangkan jika manusia hanya mengandalkan hewan buruan yang berkeliaran di hutan-hutan liar yang rimbun dan gelap, tentu saja ia tidak bisa memprediksi apakah hewan tersebut akan ada esok hari atau tidak. Bedakan jika manusia mau bersabar sedikit dengan mendirikan peternakan. Mereka bisa lebih mengontrol kapan hewan lahir, kapan hewan dapat disembelih, dan kapan hewan bertelur atau mengandung. Belum lagi jika manusia akhirnya dapat menemukan konsep bercocok tanam. Dengan kemampuan membaca musim yang baik, seseorang dapat mengetahui kapan waktunya tanam dan kapan waktunya panen. Keseluruhan hal tersebut menunjukkan bahwa pada mulanya manusia tentu saja lebih banyak berjuang menaklukkan alam semesta daripada mengurusi tindak tanduk manusia lainnya. 

Meski berusaha mengontrolnya, toh alam semesta itu sendiri tetap merupakan misteri maha besar bagi manusia. Tetap ada sejumlah hal yang tidak pasti dan tidak sanggup diprediksi karena alam bagaimanapun kerap menyuguhkan anomali. Atas dasar itu, manusia mulai membayangkan ada perwujudan yang mempengaruhi mood dari alam semesta. Manusia mulai menciptakan mitos yang mendasari gejala-gejala di balik alam semesta. Rakyat Skandinavia kuno misalnya, percaya bahwa musim kemarau disebabkan oleh dicurinya palu Dewa Thor oleh raksasa. Agar palu tersebut dapat kembali, Thor mesti memenuhi permintaan raksasa yang menginginkan pernikahan dengan seorang dewi bernama Freyja. Kemudian Thor menyamar menjadi Freyja dengan menggunakan baju pengantin dan mengambil palunya di hari pernikahan mereka. Ketika palu tersebut berhasil diambil, Thor mendapatkan kekuasaannya kembali: ia membunuh si raksasa dengan sekali hantam. Dengan kembalinya palu tersebut, Thor dapat kembali menurunkan hujan bagi rakyat Skandinavia. 

Meski sekadar mitos yang sulit dicek kebenarannya, namun manusia telah memasuki suatu fase penting dalam sejarah peradabannya sendiri. Fase tersebut menunjukkan bahwa manusia memang selalu berupaya mencari penjelasan di balik kemisteriusan alam semesta. Kepercayaan mitis tersebut juga punya upaya dalam mengontrol alam. Misalnya, jika terjadi musim kemarau di Skandinavia, rakyat kemudian mengadakan ritual yang berisi tentang para pria yang menyamar menjadi pengantin wanita. Agar apa? Agar memberi semangat bagi Thor untuk mendapatkan palunya kembali. 

Sejarah Singkat Ilmu Alam: Fase Logos 

Pada sekitar tahun 500 SM di daerah Miletos, Asia Minor, ada seorang bernama Thales yang berpendapat bahwa alam semesta ini terbuat dari air. Hal tersebut merupakan suatu pernyataan yang tidak populer karena rata-rata masyarakat di sana mengatakan bahwa alam semesta ini terbuat dari perkawinan antara Uranus (Langit) dan Gaia (Bumi). Thales dengan berani mencari asal usul alam semesta dari unsur-unsur di dalam alam semesta itu sendiri. Itulah yang oleh para pemikir Barat disebut sebagai perpindahan dari fase mitos ke logos. Sejak Thales mengatakan hal tersebut, banyak pemikir lain seperti Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, Demokritos, Heraklitus, Parmenides, Xenophanes, dan Protagoras mencoba menalar hal-ikhwal alam semesta ini dengan rasionya sendiri dan tidak bersandar pada mitos-mitos yang dogmatis. 

Meskipun pernyataan Thales sudah lebih ilmiah ketimbang mitologi Yunani, namun tetap para pemikir dari jaman itu masih melakukan spekulasi. Mereka belum menemukan cara agar pernyataan tersebut menjadi kebenaran yang sifatnya objektif dan dapat diuji berulang-ulang. Boleh dibilang, mereka belum tahu bagaimana melakukan penelitian. Cikal bakal penelitian ada di masa Francis Bacon, jauh setelah era Yunani yang disebutkan di atas. Hidup di masa Renaisans sekitar abad ke-17, ia menulis buku berjudul Novum Organum (1620) yang menjadi dasar penelitian ilmiah modern. Dalam bukunya tersebut, secara garis besar ia membahas tentang pentingnya metode induktif. Katanya, untuk mendapatkan suatu hukum alam yang sifatnya umum, maka seseorang harus melihat kejadian-kejadian partikular secara berulang-ulang. Selain itu, ia juga menulis tentang pentingnya membuang hal-hal yang membuat hasil penelitian menjadi tidak objektif seperti perasaan-perasaan afektif dan godaan norma-norma dalam masyarakat. 

Di waktu yang kurang lebih sama, Galileo Galilei melakukan sejumlah eksperimen untuk menyumbangkan berbagai hukum dalam ilmu fisika. Ia juga menyuguhkan suatu kredo yang terkenal dalam dunia sains: “Ukurlah sesuatu yang dapat diukur dan buatlah menjadi terukur sesuatu yang tidak dapat diukur.” Ia seolah mau mengatakan bahwa alam semesta ini dapat diketahui melalui rumusan-rumusan matematis. Hal tersebut diperkuat oleh penerusnya di bidang ilmu fisika yaitu Isaac Newton yang menemukan sejumlah hukum baru yang dapat memberikan kepastian demi kepastian menyoal alam semesta. Ilmu pengetahuan tentang alam berkembang sangat pesat dan mencapai puncaknya di Era Pencerahan pada sekitar abad ke-18. Pada masa itu, para ilmuwan bahkan berkata bahwa jikapun Tuhan ada dan menciptakan dunia, maka ia sudah tidak lagi ikut serta dalam berjalannya dunia tersebut. Ia bagaikan pembuat jam mekanik. Ketika jam itu sudah berjalan, maka pembuatnya tidak lagi punya pekerjaan. Tugas para saintis adalah menelaah cara kerja jam tersebut dan bukan cara kerja Tuhan yang ada di baliknya. Ada suatu keyakinan luar biasa bahwa suatu saat segala sesuatu di dunia ini dapat dijelaskan lewat pendekatan ilmiah yang matematis dan terukur. 

Awal Mula Ilmu Sosial 

Keyakinan tersebut tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu alam saja, seorang pemikir Prancis bernama Auguste Comte dari awal abad ke-19 yakin bahwa kepastian demi kepastian dapat juga ditemukan dalam fenomena sosial. Ia percaya bahwa dalam kehidupan manusia juga ada pola-pola objektif seperti yang dipunyai oleh alam semesta. Jika pola-pola itu dapat diketahui dan dipecahkan, maka manusia, sebagaimana halnya alam, juga dapat diprediksi dan dikontrol. Comte dapat dikatakan sebagai orang yang menggagas ilmu sosiologi. Ia sangat yakin bahwa dengan ilmu sosiologi, ilmu-ilmu alam mencapai puncak kejayaannya. Comte bahkan menyebut sosiologi sebagai fisika tingkat lanjut. 

Wacana yang dilemparkan oleh Conte tersebut mendapat reaksi cukup keras dari sejumlah pemikir terutama di akhir abad ke-19 seperti Wilhelm Dilthey. Ia mengatakan bahwa perlu ada perbedaan tegas antara ilmu yang mempelajari alam (Naturwissenschaften) dan ilmu yang mempelajari manusia (Geisteswissenschaften). Naturwissenschaften mencari erklaren atau penjelasan dari segala sesuatu, sedangkan Geisteswissenschaften mencari apa yang disebut oleh Max Weber sebagai verstehen atau pemahaman dari segala sesuatu. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu alam bersifat nomotetis atau mencoba mencari hukum-hukum (nomos) universal dari kejadian-kejadian alam sehingga dapat ditelusuri sebab akibatnya, sedangkan ilmu-ilmu sosial bersifat idiografis atau mencoba untuk dilukiskan keunikan demi keunikannya secara partikular. Upaya keras dari Dilthey dan Weber tersebut kemudian diperkuat oleh Karl Marx yang mengatakan bahwa teori-teori dalam ilmu sosial justru tidak boleh ahistoris, objektif, dan universal. Sifat teori-teori dalam ilmu sosial haruslah persis sebaliknya: historis, subjektif, dan kontekstual. 

Ilmu Sosial dan Penelitian Kualitatif  

Dengan pemilahan baru yang dilakukan oleh Dilthey, Weber, dan Marx tadi, ilmu sosial seolah mendapat tempatnya sendiri. Ia ada bukan untuk “dimanipulasi” secara matematis seperti yang biasa dilakukan oleh ilmu-ilmu alam. Ilmu sosial menjadi suatu disiplin ilmu yang memang bertujuan untuk memaknai secara lebih mendalam dunia kehidupan (lebenswelt) yang ditinggali oleh manusia. Ketika ilmu alam berupaya menyederhanakan dan mereduksi pengalaman manusia, ilmu sosial justru mengakui kompleksitas dan memberi penghargaan tinggi terhadap pengalaman manusia. 

Hal-hal semacam itu membuat upaya penerapan hukum-hukum alam terhadap dunia kehidupan manusia menjadi tampak seperti upaya pemiskinan semata. Metode penelitian kuantitatif yang mula-mula ada dan mewarnai dunia ilmu pengetahuan Barat lebih dari 1500 tahun tersebut mendapat perlawanan serius dari metode yang dianggap lebih relevan bagi ilmu sosial, yaitu metode penelitian kualitatif. Dalam metode penelitian kualitatif ini, para peneliti tidak perlu lagi berpegang pada kredo bebas nilai, objektif, dan rasional. Peneliti justru harus memberi makna serta nilai terhadap segala sesuatu sekaligus mengakui dengan jujur bahwa tidak mungkin seorang peneliti tidak berjarak dari apa yang ditelitinya. Bahkan seorang ilmuwan bernama Michael Polanyi mengatakan bahwa dalam ilmu seeksak apapun, kenyataannya, perasaan-perasaan pribadi seseorang juga turut serta mewarnai hasil penelitian yang katanya objektif.



Ditulis sebagai suplemen pertemuan pertama mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif semester ganjil 2014/2015 di Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Telkom University. 
Continue reading

Wednesday, August 20, 2014

Mengenal Fenomenologi

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan mengenalkan fenomenologi secara teoritis -seperti melibatkan nama-nama semacam Husserl, Heidegger, Marleau-Ponty, atau Schutz-. Saya akan mencoba secara perlahan berbagi tentang fenomenologi lewat contoh-contoh konkrit. Harapannya, mereka yang membaca tulisan ini dengan status awam, kemudian tertarik untuk melanjutkan bacaannya ke arah yang lebih teoritik baik soal sejarah maupun metodologinya secara lengkap.

Pertama, pernahkah kita punya suatu pengalaman yang sangat personal terhadap misalnya, suatu benda? Benda itu bisa apa saja, boleh jaket, tas, baju, mobil, parfum, hingga sepatu. Benda-benda tersebut menjadi personal oleh sebab keberadaannya di dalam keseharian kita. Jaket warna abu-abu ini tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Karena jaket ini pernah menemani saya pergi keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda. Nilai penting jaket tersebut mungkin hanya dipunyai oleh orang tersebut dan tidak bagi yang lain. 

Namun apa yang personal dan subjektif semacam itu, terang saja tidak bisa dijadikan suatu landasan ilmiah. Apa yang disebut ilmiah, dalam terminologi sains, adalah yang objektif, rasional, juga universal. Sifat air yang menjadi dingin di kala musim dingin disebut sebagai bukan sifat air karena sifat tersebut hanya berlangsung temporal. Tapi coba tengok sifat air yang berpindah dari posisi yang lebih tinggi ke lebih rendah. Itu adalah ilmiah karena dimana-mana pun begitu. Artinya, perasaan seseorang tentang jaket, tidak bisa kita samakan dengan prinsip universal dari teori-teori matematika, fisika, kimia, atau biologi yang memang punya kredo bernama "bebas nilai". Hal-hal mengenai jaket lebih baik diletakkan di luar lingkungan ilmiah dan menjadi urusan masing-masing manusia saja.

Namun awal abad ke-20 adalah penanda betapa dunia ilmiah menjadi kering kerontang oleh sebab upayanya yang tanpa henti dalam menyingkirkan sisi pengalaman manusia yang paling personal. Mestinya, dunia pengalaman manusia yang paling dasariah itulah inti dari segala kehidupan. Dunia manusia sejatinya adalah lebenswelt atau dunia yang dijalani begitu saja (mengalir dan tanpa asumsi). Dunia sejati adalah ketika bangun tidur, minum air, tidur siang, pulang ke rumah, bercanda dengan kucing, berbicara kepada burung, berbincang soal politik di warung kopi, hingga berpacaran di bioskop. Dunia pengalaman yang paling subtil dari manusia tersebut, dalam kacamata ilmiah, sudah dikotak-kotakkan agar mudah untuk diteliti, dibedah, hingga dikontrol.

Kemudian fenomenologi hadir dan memasuki lingkungan ilmiah sebagai suatu pendekatan yang terlebih dahulu mengakui pengalaman subjektif. Kata fenomenologi, justru pengalaman paling personal tersebut harus diselami terus menerus hingga inti terdalamnya, dalam rangka menyingkap tabir misteri kehidupan. Untuk mencapai inti terdalam tersebut, fenomenologi mengajarkan untuk menunda segala bentuk asumsi ke dalam tanda kurung (epoche). Misalnya, jika dalam asumsi kita berbagai dedaunan pasti hijau, maka fenomenologi mengajak untuk melihat kembali lebih dekat apakah daun itu benar-benar hijau? Mungkin ada coklatnya, ada hitamnya, juga mungkin ada kuningnya. Hanya dengan membuang asumsi kita tentang daun itu pasti hijau, maka kenyataan lain tentang daun akan kita temukan.

Maka itu dengan keberadaan fenomenologi, kemungkinan untuk meneliti segala sesuatu menjadi lebih luas. Penelitian tentang hal-hal yang sangat personal, seperti benda-benda harian kita, yang tadinya dianggap tidak ilmiah, menjadi punya tempat istimewa. Misalnya, kita bisa mengamati secara mikroskopis berbagai sendal yang dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia, arti dari hubungan asmara, atau bahkan fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Penelitian fenomenologi hampir dapat dipastikan menghasilkan sesuatu yang baru karena kenyataan bahwa pemaknaan seseorang akan sesuatu pastilah berbeda. 

Sekian dan selamat membaca lebih jauh!


Contoh tulisan (bukan penelitian) fenomenologi:


TEMPAT WUDHU




            Di rumah kami sempat ada dua kamar mandi dengan posisi bersebelahan. Meski sangat berfungsi jika ada dua orang yang sedang ingin ke toilet dalam waktu bersamaan, namun tetap kelihatan aneh dan tidak efisien -apalagi jika mengingat bahwa terdapat dua toilet lagi di ruangan yang lainnya-. Meski demikian, keanehan itu tidak terlalu mengganggu aktivitas kami sekeluarga. Kami merasa sesekali di rumah ini harus terdapat sesuatu yang ganjil sebagai bagian dari ekspresi kesenimanan Papap yang agak eksentrik.
            Namun ketika dua anak Papap, yakni Engkang dan saya, sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing, Papap berpikir keras soal keberadaan dua kamar mandi yang bersebelahan tersebut. Keberadaannya yang tidak efektif menjadi semakin tidak efektif dan bahkan akan diabaikan sama sekali jika yang tinggal di sana hanya Papap dan Mamah. Akhirnya beliau mengubah salah satu kamar mandi jadi tempat wudhu dengan satu keran. Di atas keran terdapat cermin besar seolah-olah menyuruh orang yang berwudhu untuk tetap tampil menawan ketika hendak berhadapan dengan Allah SWT di kala sembahyang. Aspek keindahan tetap harus ditonjolkan dengan cara memajang celengan ayam, cangkang kerang besar, serta kain ulos di bagian pintu masuk.
            Boleh jadi alasan utama pengalihfungsian kamar mandi menjadi tempat wudhu adalah penghuni rumah yang tidak lagi sebanyak dulu. Tapi boleh saya tafsirkan bahwa keberadaan tempat wudhu tersebut menunjukkan perasaan Papap yang semakin spiritual. Ia pernah mengatakan bahwa tidak bisa tidak, semakin orang meningkat usianya dan juga pengalamannya, pastilah orang tersebut semakin spiritual. Mungkin ucapan Papap bisa saya bantah dengan kenyataan bahwa orang-orang ateis akut semacam Nietzsche dan Sartre tetap ateis hingga wafatnya. Namun spiritualitas tidak sama dengan religiusitas. Orang bisa saja tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, tapi pastilah ia merasakan ada suatu perasaan fascinatum et tremendum (kagum sekaligus takut) akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan juga dari kehidupan ini semua.
Kenyataannya, pernyataan-pernyataan orang semacam Nietzsche dan Sartre di masa tuanya jauh lebih lunak dan sejuk untuk dibaca ketimbang apa yang mereka teriakkan di masa muda. Kata Nietzche, amor fati fatum brutum, cintailah kehidupan meski takdir itu pahit, terdengar senada dengan bagaimana seorang Muslim harus bersyukur dalam segala keadaan. Kata Sartre, manusia itu bebas, tapi ia bertanggungjawab bagi kebebasan orang lain, terdengar senada dengan bagaimana dalam Islam, kita tidak hanya diajarkan soal habluminallah, melainkan juga habluminannas. Kata Papap, kalau kita mengenal siapa diri kita, kita akan mengenal alam semesta dan penciptanya. Kenalilah ia mula-mula lewat zat yang paling banyak mengaliri tubuh kita, yaitu air. Air mana yang ia maksud? Air ada banyak dimana-mana. Tapi yang indah tentu yang mengalir di tempat wudhu.  
Continue reading

Thursday, July 24, 2014

Nasib Manusia




Judul Buku : Nasib Manusia
Genre : Biografi
Objek Kajian : Kisah hidup Awal Uzhara
Penulis : Syarif Maulana
Penerbit : Publika Edu Media
ISBN : 978 - 602 - 14138 - 6 - 9
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 120
Harga :  Rp. 40.000

Ulasan
Awal Uzhara adalah orang besar sekaligus bukan siapa-siapa. Orang besar karena ia adalah satu dari sedikit penerima beasiswa untuk bersekolah di VGIK, Moskow yang merupakan institut sinematografi tertua di dunia. Selain aktivitasnya di dunia akting dan penyutradaraan, Awal Uzhara juga turut berjasa menyebarkan kebudayaan Indonesia di Rusia lewat kegiatan mengajarnya di Universitas Negeri Moskow. Awal Uzhara adalah juga sekaligus bukan siapa-siapa oleh sebab nasibnya yang terkatung-katung di negeri orang. Kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Indonesia sehingga lebih dari lima puluh tahun tidak bisa pulang ke Indonesia.

Buku ini memuat seluruh kisah hidupnya yang penuh paradoks. Ia adalah orang yang diingat sekaligus dilupakan. Dihormati sekaligus dinistakan. Dicintai sekaligus dibenci. Buku ini bukan semata-mata tentang sinematografi, akting, film, kebudayaan, ataupun nasionalisme. Kita sedang membaca sesuatu yang lebih hakiki daripada itu semua. Kita sedang membaca sebuah kehidupan. Kita sedang membaca nasib manusia. 

Testimoni
Awal Uzhara sudah cukup lama tinggal di Rusia. Dia tahu betul tentang Rusia termasuk juga segala kekurangannya. Walaupun demikian, mencintai Rusia dengan sepenuh hati sudah menjadi hal yang biasa baginya. Disini, di Indonesia, Awal Uzhara tidak henti-hentinya membagikan pengetahuan tentang sastra dan sinematografi Rusia, serta kecintaannya terhadap Rusia kepada generasi muda Indonesia. 
- Vyacheslav Tuchnin (Direktur Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Rusia Jakarta) 

Seandainya Awal Uzhara adalah sebuah peribahasa, kita akan menemukan to live to the absolute fullest. Beliau adalah sosok yang sangat luar biasa dan menginspirasi kami. Usia dan kondisi fisiknya tak menghalanginya untuk terus mendedikasikan diri dan memberikan ilmu untuk kami. Berkah luar biasa bagi kami bisa mendapat pengajar seperti Bapak. Beliau tidak hanya mengajarkan kami bahasa dan budaya Rusia tetapi juga mengajarkan banyak pelajaran hidup. - Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Angkatan 2012 

Penggambaran yang luas, komprehensif, dan juga mendalam tentang salah satu tokoh perfilman Indonesia yang mendalami sejarah, budaya, dan perfilman Rusia selama lima puluh tahun. Beliau merupakan tokoh yang sangat langka dan seorang legenda hidup. - Tobing Jr. (Penggiat Komunitas LayarKita)

Pemesanan dapat langsung dengan menghubungi penulis via email ke syarafmaulini@gmail.com.
Continue reading

Monday, July 21, 2014

Fatimah Chen Chen: Pesan Tersirat dalam Nama-Nama


Jadi ceritanya begini: Istri saya punya teman semasa kuliah. Temannya semasa kuliah tersebut mengirimkan novel yang katanya "buku yang ditulis oleh ayahnya". Sebelumnya, saya tidak menduga novel apa gerangan dan siapa penulisnya. Ketika buku tersebut sampai, saya membaca judulnya terlebih dahulu yang tentu saja terpampang lebih besar dari nama sang penulis. Judul novel adalah Fatimah Chen Chen. Penulisnya? Motinggo Busye.

Fatimah Chen Chen berkisah tentang seorang perempuan Taiwan bernama Chen Chen yang menjadi muallaf setelah melalui berbagai kejadian. Tidak hanya dirinya sendiri, Chen Chen juga sanggup membuat seisi keluarganya tertarik pada Islam. Novel ini tampak sederhana, meskipun sebenarnya tidak. Sederhana karena pembaca manapun akan dengan mudah mengikuti alur ceritanya dan mungkin tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya -saya perlu tiga hari dan itu masih terlalu lama-. Gaya bahasa Motinggo sungguh lincah dan lugas. Ia memadatkan perubahan demi perubahan psikologis -terutama dari segi keimanan- yang dialami tokoh-tokohnya secara cepat tanpa transisi yang bertele-tele. Tidak sederhana karena Motinggo samar-samar membawa pesan. Nama-nama tokoh di dalam novel semisal Fatimah, Ja'far, Ali, dan Husein menunjukkan bahwa Fatimah Chen Chen mengusung ide keislaman yang masih dianggap minoritas dalam masyarakat kita.   

Meski demikian, ide tersebut tampak tidak dogmatis karena penulis menyisipkannya secara berhati-hati bahkan terkesan terlalu berhati-hati. Ia juga masih memasukkan berbagai adegan vulgar dalam Fatimah Chen Chen seolah mau menunjukkan bahwa pesan keislaman yang hadir jangan sampai terlalu tebal dan malah menjadi berlebihan. Kenyataan bahwa Chen Chen adalah orang Taiwan yang berasal dari keluarga berlatarbelakang tradisi Tionghoa yang cukup kental membawa para pembacanya menikmati juga kebijaksanaan dari negeri Tirai Bambu -Motinggo menghubungkannya lewat hadits Nabi yang isinya adalah himbauan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri Cina-. Untuk saya pribadi, novel ini sangat indah dan pada titik tertentu berhasil merangsang sisi spiritual saya. Jika ada kesan terburu-buru dalam penulisannya -tampak dari bagaimana seisi keluarga menjadi Islam tanpa sebuah transisi maupun kegamangan batin yang serius-, saya bisa mengabaikannya. 

Terima kasih untuk Regina Fatimah Az-Zahra.

Continue reading

Sunday, July 13, 2014

Sepakbola dan Kehidupan

Sepakbola dan Kehidupan
Sejak Brasil mengalami kekalahan mencengangkan 1-7 dari Jerman, entah kenapa, saya tidak henti-hentinya membuka berita dari internet untuk hanya sekedar mengetahui seberapa mendalam efek kekalahan tersebut bagi penduduknya. Sebuah koran terkenal di Brasil menyebutkan bahwa tragedi kekalahan tersebut lebih dahsyat dari tragedi kekalahan dari Uruguay pada tahun 1950 yang disebut dengan Maracanazo; Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengatakan, "Bahkan mimpi buruk saya pun tidak pernah sepahit ini."; Eks striker Brasil, Romario, bahkan menganggap bahwa para petinggi sepakbola Brasil sudah sepantasnya dijebloskan ke penjara; Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari menanggapi kekalahan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling pahit dalam karir kepelatihannya. Keseluruhan respon tersebut membuat saya bertanya: Lebih besar mana, sepakbola atau kehidupan?

Mudah sekali bagi kita untuk menjawab bahwa tentu saja sepakbola hanyalah olahraga dan kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar. Tapi pemandangan pasca pembantaian di Belo Horizonte kemarin menunjukkan bahwa sepakbola, bagi orang Brasil, lebih besar dari kehidupan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu David Luiz dan Luis Gustavo berlutut dan berdoa setelah peluit panjang dibunyikan. Kalau cuma sekadar olahraga, maka tak perlu pendukung Brasil sampai histeris setiap gawangnya dijebol. Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sepakbola juga terkandung harapan, harga diri, martabat bangsa, hingga religiusitas. Itu sebabnya mengapa para pemain Brasil tidak bisa dengan enteng mengatakan bahwa, "Ya, kami kalah. Tapi hidup jalan terus." Bagi mereka, kekalahan tersebut agaknya membuat kehidupan berhenti berjalan -setidaknya untuk sementara waktu-.

Saya kerap berpikir apa yang bisa membuat sepakbola punya dampak begitu besar bagi sebuah bangsa. Olahraga lain, nyatanya, tidak mempunyai efek semasif itu. Kekalahan Roger Federer dari Novak Djokovic di Wimbledon kemarin tidak menyebabkan kesedihan nasional bagi bangsa Swiss; Kegagalan banyak pemain Indonesia untuk meraih gelar di turnamen bulutangkis Indonesia Open kemarin memang menimbulkan kekecewaan, tapi tidak mendalam. Sepakbola, faktanya, selalu menyedot perhatian lebih banyak daripada olahraga lain. Dulu saya punya anggapan bahwa kemanusiawian sepakbola adalah faktor utamanya. Sepakbola membiarkan keputusan tertinggi ada di tangan wasit yang merupakan manusia dengan segala kealpaannya. Ini membuat sepakbola jauh lebih menarik daripada tenis atau badminton misalnya yang mana keputusan pemberian poin begitu cermat, terukur, dan nyaris tidak ada peluang bagi subjektivitas. 

Sekarang ini alasan saya agak berkembang. Sepakbola menarik karena ia mengekpresikan suatu perasaan purba tentang kehendak untuk berkuasa, keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan itu sendiri, hingga kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan. Kehendak untuk berkuasa adalah hal yang menurut Nietzsche amat niscaya dipunyai oleh setiap manusia. Sekarang ini peperangan menjadi hal yang sebisa mungkin dihindari, terutama sejak dunia mengalami trauma serius pasca Perang Dunia II. Namun ketiadaan perang yang seterbuka dulu, tidak berarti nafsu manusia untuk saling membunuh menjadi hilang. Ada olahraga, ada sepakbola, yang sama-sama mengartikulasikan keinginan manusia yang demikian. Ketika Jerman mengalahkan Brasil 7-1 kemarin, niscaya bangsa Jerman dimanapun akan secara otomatis punya sisi superior ketika bertemu orang Brasil. Itu sebabnya status juara Piala Dunia adalah sebentuk gelar yang sangat memuaskan dan nyaris setara dengan bagaimana menaklukkan dunia secara riil. Hanya saja kemasannya berbeda. Dahulu melalui peperangan yang melibatkan senjata, sekarang melalui sepakbola.

Keinginan manusia untuk bertindak teratur sekaligus melanggar peraturan tergambar dari bagaimana pertandingan sepakbola itu sendiri berjalan. Kita melihat keindahan dari bagaimana formasi sepakbola disusun dan bagaimana peraturan demi peraturan ditaati oleh para pemain sehingga permainan berjalan secara kosmos dan bukan khaos. Tapi inilah indahnya sepakbola: Selalu ada ruang untuk kekacauan agar kita mengalami pergulatan batin yang tidak enteng. Selalu ada ruang untuk misalnya, tangan Tuhan dari Diego Maradona di tahun 1986 yang dibiarkan begitu saja agar menjadi perbincangan sepanjang zaman. Selalu ada ruang untuk misalnya, kartu merah untuk Claudio Marchisio yang membuat Italia -di Piala Dunia kali ini- yang tadinya berada di atas angin melawan Uruguay, menjadi berantakan formasinya dan malah takluk di tangan sang lawan. Sepakbola benar-benar sanggup merusak seluruh anggapan apriori kita dengan sekali kibas. Memang demikian sepakbola, sebagaimana juga kehidupan.

Kegemaran manusia untuk membangun altar tempat ia memberdirikan berbagai sesembahan barangkali adalah alasan yang paling kuat mengapa sepakbola sekaligus juga bernuansa religius dan bahkan spiritual bagi publik tertentu. Kita ingat bagaimana publik Napoli mengagungkan Maradona dengan sebutan il nostro Dio atau Dewa kami. Kita juga tahu bagaimana suasana jalanan di Italia setiap akhir pekan yang menjadi lengang karena orang-orang tengah melaksanakan ibadah nonton sepakbola. Sesembahan semacam ini jangan dianggap remeh sama sekali. Sama seperti agama-agama besar, sepakbola juga menampilkan altar, ritual, dan juga nabinya sendiri. Baik agama-agama besar maupun sepakbola punya satu konsep yang sama-sama menjual, yaitu harapan akan sebuah kebahagiaan. Maka itu jangan heran bagi mereka orang-orang Brasil yang barangkali menganggap sepakbola sebagai sebuah agama, kekalahan kemarin sungguh sebuah penistaan mahadahsyat terhadap keyakinan hidupnya. 

Sekarang ini Julio Cesar dan kawan-kawan mungkin sedang meratapi nasibnya. Mereka sedang bertanya-tanya tentang bagaimana posisinya dalam sejarah oleh sebab kekalahan yang memalukan ini. Mereka harus siap ditanyai oleh anak cucunya karena pembantaian tersebut pasti dimuat dalam buku sejarah sepakbola Brasil. Nasib mereka akan sama seperti Moacir Barbosa, kiper Brasil di tahun 1950 ketika mereka mengalami Maracanazo. Kata Moacir, "Hukuman di Brasil paling lama adalah tiga puluh tahun penjara. Tapi saya mengalami hukuman sosial dari masyarakat selama lebih dari lima puluh tahun." Para pemain dari skuad Brasil di Piala Dunia 2014 tentu saja akan tetap bermain sepakbola seperti biasanya pasca perhelatan tersebut. Namun kehidupan barangkali tidak akan sama lagi bagi mereka. Bisa untuk sementara, bisa untuk selamanya. 
Continue reading

Thursday, July 3, 2014

Angkot

Angkot
Aki mobil hari ini habis dan tidak ada peluang bagi dirinya untuk di-starter. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat kerja dengan menggunakan angkutan kota (angkot). Meski sehari-hari saya menggunakan kendaraan pribadi, tapi penggunaan angkot sama sekali bukan hal baru -dari SMP hingga selepas sarjana, kemana-mana saya menggunakan angkot-. Tapi memang keanehan selalu ada. Ketika tadi naik angkot, saya merasa bahwa memang sudah lama sekali saya tidak menaikinya oleh sebab termanjakan keberadaan mobil pribadi. 

Saya sadar bahwa penggunaan mobil pribadi adalah suatu jenis pengalienasian tersendiri. Kita duduk di satu ruang kendali tertutup -saking tertutupnya, suara dari luar nyaris tak terdengar- dengan udara dingin yang keluar dari mesin pendingin, serta musik yang bertujuan membawa setengah kesadaran kita ke wilayah sureal. Seluruh kaki tangan bergerak mengendalikan kendaraan dan saya adalah tuan dari apa yang saya tunggangi. Intinya, mobil pribadi adalah suatu perasaan ketuanan dahsyat dengan nilai-nilai empati yang tergerus oleh ketertutupan dari si ruang kendali.

Perasaan itu berubah drastis ketika menggunakan angkot. Pertama, tak ada satupun suara yang bisa direduksi kecuali kita menutup telinga dan menjadikan segala sesuatunya menjadi hening. Kedua, kita tak kuasa mengendalikan udara apalagi cuaca yang menerpa kita. Apa yang terjadi di sekitar, itu pula yang terjadi pada kita. Ketiga, tak ada musik. Kita tak punya daya upaya untuk lepas ke wilayah sureal dan melarikan diri dari keseharian. Kita ditawan oleh realitas dan mau tidak mau harus menghadapinya. Artinya, kita bukan tuan. Satu-satunya kuasa kita hanyalah atas kaki-kaki kita sendiri yang bisa capek dan pegal jika sudah diseret terlalu jauh. 

Namun saya bersyukur atas kematian sang aki hari ini. Ternyata ada hal-hal yang biasanya dalam keseharian dilewatkan begitu saja oleh sebab keadaan ruang kendali yang kedap realitas, menjadi terang dan jelas karena saya hadapi tanpa pembatas apa-apa. Misalnya, sudah puluhan kali saya melewati kebun kangkung di dekat rumah. Dari mobil pribadi, saya tahu itu kebun kangkung dan memang demikianlah kebun kangkung sejak dahulu kala hingga sekarang. Tadi saya sadari bahwa kebun kangkung itu terjadi karena ada orang-orang yang menanam. Mereka terjun ke kebun dan bergerak telaten di panas terik seolah untuk menyadarkan saya bahwa dunia keseharian itu menarik hanya jika kita tidak bergerak secara instan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya lagi, saya bisa mendengarkan berbagai jenis percakapan di dalam angkot yang begitu beragam mulai dari tentang kondisi anak, situasi ramadhan, hingga sindiran para pengamen yang urung diberi koin oleh para penumpang. 

Ini semua adalah apa yang disebut oleh Edmund Husserl sebagai lebenswelt. Dunia kehidupan apa adanya tanpa asumsi, pretensi, dan presuposisi. Ia hadir begitu saja, tampak ke hadapan kita tanpa tedeng aling-aling. Kita terkesiap dan tidak punya waktu untuk menyiapkan senjata apriori dan mau tidak mau yang bisa kita lakukan adalah mencandrainya secara utuh. Manusia modern mengalami suatu percepatan dalam hidupnya sehingga yang dipikirkannya hanyalah mencapai target dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Kita luput untuk menggumuli apa yang tidak termasuk dalam tujuan hidup kita yang seringkali artifisial. Kita luput untuk menerima bumi sebagaimana adanya ia. Terpujilah mereka yang naik angkot, karena seketika aki mobil saya terisi kembali, saya sudah melupakan tulisan ini dan sekaligus juga melupakan sang hidup itu sendiri.

Continue reading

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi
Untuk menuliskan ini, sangat tidak sederhana. Pertama, saya mesti melontarkan kritik pada ilmu yang sudah membesarkan dan juga memberi nafkah bagi saya. Ilmu komunikasi, bagaimanapun, telah menjadikan saya bergelar magister dan berperan membuat saya diterima menjadi dosen di sebuah kampus dengan gaji lumayan. Kedua, ilmu komunikasi tengah populer dan menjadi semacam kebutuhan jaman. Indikasinya barangkali terlihat dari bagaimana banyak kampus mulai membuka jurusan maupun fakultas ilmu komunikasi yang mana peminatnya jarang sekali sepi. 

Namun sudah sejak kuliah S2 sekitar enam tahun silam, saya sudah merasakan semacam kegelisahan tentang ilmu komunikasi. Saya merasa ada lubang yang jujur saja, belum mampu saya ejawantahkan secara jernih. Ketika saya menuliskan ini pun, bukan berarti saya sudah mengerti betul apa yang saya kritik  Barangkali saya menulis ini hanya dalam rangka membuka wacana kritis terhadap ilmu komunikasi, dengan harapan ada gayung bersambut agar si ilmu itu sendiri menjadi berkembang dan konstruktif. 

Sebagai contoh, ilmu psikologi sekarang sudah cukup kokoh sebagai sebuah ilmu. Namun proses untuk mencapai kekokohan itu tidak sederhana dan telah melalui pergulatan pemikiran yang panjang. Ia tampil terlebih dahulu sebagai behaviorisme yang hanya menyoroti persoalan perilaku dan tidak lebih daripada itu. Sigmund Freud kemudian mengritik behaviorisme sebagai "ilmu jiwa tanpa jiwa". Ia menawarkan psikoanalisis sebagai "ilmu jiwa yang sejati" karena berupaya lebih banyak mendeteksi alam bawah sadar manusia. Begitu seterusnya mereka saling bergulat hingga masuk masa psikologi humanistik, neurosains, dan seterusnya sampai mencapai sebuah bangunan besar yang makin lama makin menjulang. Kekokohan itu hanya mungkin terjadi jika ada upaya saling mengkritik yang konstruktif. Jika tidak ada upaya itu, ilmu lama kelamaan bisa rapuh dan melemah bagai berjalan di atas lapisan es yang tipis. 

Atas dasar itu, apa yang saya ungkapkan dalam tulisan ini, adalah juga dengan harapan bahwa akan ada semacam dialog yang membangun sehingga ilmu komunikasi itu sendiri menjadi kokoh. Saya akan mencoba memaparkan masalah-masalah dalam ilmu komunikasi lewat paparan poin per poin:

1. Kata "komunikasi" sekarang merambah berbagai bidang seperti "komunikasi politik", "komunikasi bisnis", "komunikasi antar budaya" hingga "komunikasi pemasaran". Dewasa ini pertautan semacam itu sudah lumrah karena memang bidang-bidang ilmu menjadi semakin lintas disiplin. Tapi coba bandingkan posisi semacam itu dengan misalnya kata "seni", "filsafat", atau "sejarah". "Politik" dengan "seni politik" jelas berbeda. Jika kita berbicara politik saja, maka itu terkait dengan urusan-urusan teknis dan praktis. Namun "seni politik" artinya melihat politik sebagai suatu hal yang juga mempunyai estetika tersendiri. Misalnya, jika kita membaca bagaimana Toyotomi Hideyoshi mencapai kekuasaan, kita bisa sebut bahwa ia tidak hanya sekadar mempraktikkan sebuah taktik politik, melainkan juga seni berpolitik. Selain itu, "bisnis" dan "filsafat bisnis" juga jelas mempunyai perbedaan. Jika sudah menyematkan kata "filsafat" di depan sebuah bidang keilmuan, maka ia lebih menitikberatkan kajiannya pada hal-hal yang lebih hakiki, yang oleh ilmu filsafat itu sendiri dikatakan sebagai ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Juga jelas dengan penyematan kata "sejarah", artinya kita mengaitkan sebuah bidang keilmuan dengan perjalanan historis keilmuan itu sendiri. 

Pertanyaan berikutnya, apa efek dari penyematan kata "komunikasi" di depan bidang keilmuan? Agaknya, bisa dibilang tidak berpengaruh apa pun. Kalau kita bicara "komunikasi pemasaran" misalnya, maka topik-topik yang dibahas sesungguhnya adalah pemasaran itu sendiri. Kalau kita bicara "komunikasi politik" misalnya, maka tidak ada ubahnya dengan membahas politik itu sendiri. Barangkali para akademisi komunikasi politik bisa membela diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih memfokuskan diri pada strategi kampanye, pencitraan, dan efektifitas program-program. Tapi coba renungkan baik-baik: Sebelum ilmu komunikasi ada, politik memang sudah demikian adanya. Saya yakin bahwa sebelum bermunculan sarjana komunikasi seperti sekarang ini, para politisi sudah sudah memikirkan bagaimana berkampanye dan mencitrakan dirinya. Misalnya Darius dari Persia, ia mempertahankan kekuasaan dengan cara menempatkan wajah dirinya dalam mata uang sah di negara tersebut. Hal tersebut sudah dilakukan manusia dari ribuan tahun silam dengan semata-mata pertimbangan politis yang tidak dibarengi oleh ilmu yang sekarang ini kita sebut sebagai ilmu komunikasi.

2. Kemarin saya membeli sejumlah buku yang terkait dengan etika dan juga terkait dengan filsafat komunikasi. Mengapa? Karena di semester ini, saya mengajar sebuah mata kuliah yang saya pun masih mengernyitkan dahi membaca judulnya. Nama mata kuliahnya: Etika dan Filsafat Komunikasi. Tapi atas nama profesionalisme, saya tetap bergerilya membeli delapan buah buku untuk menunjang perkuliahan. Saya tidak meragukan buku-buku etika yang ditulis oleh Romo Franz Magnis Suseno karena memang itulah bidang yang ia tekuni. Pun saya pernah mengikuti beberapa kali kuliahnya sehingga tak perlu ragu lagi akan kualitas Romo. Namun buku-buku filsafat komunikasi -yang agaknya tak perlu saya sebutkan judul resmi maupun pengarangnya- sungguh tidak memuaskan keingintahuan saya. Misalnya, ada buku filsafat komunikasi yang melulu membahas filsafat mulai dari pengertian, sejarah, filsafat timur, aliran-aliran, posmodernisme, teori kritis, positivisme, hingga bahasa. Pertanyaannya: Lantas apa bedanya buku tersebut dengan buku filsafat? Lucunya, letak buku itu ada di rak "komunikasi" dan bukan di rak "filsafat". Ada juga buku filsafat komunikasi yang menitikberatkan isinya pada ragam dan sejarah fenomenologi mulai dari Husserl, Schutz, Heidegger hingga nama-nama yang bagi saya tidak harusnya terkait dengan fenomenologi seperti Hegel (walaupun ia menulis tentang Fenomenologi Roh, tapi bukan berarti ia bicara fenomenologi sebagai sebuah metodologi layaknya Husserl), Kierkegaard, Sartre, Levinas dan Beauvoir -Kecuali Levinas, nama-nama terakhir ini adalah gerombolan eksistensialisme akut-. 

Apa arti dari cerita saya di atas? Artinya, secara filosofis, komunikasi tidak mempunyai sebuah bangunan hakikat yang meyakinkan. Dengan pisau bedah filsafat apapun kita memasuki ilmu tersebut, kita hanya akan memasuki sebuah labirin dari ilmu filsafat itu sendiri. Secara epistemologis misalnya, sesungguhnya komunikasi adalah sesuatu yang secara objek, adalah asing dan tidak kelihatan -Kant menyebutnya sebagai noumena-. Ia ada di luar batas pengetahuan kita dan barangkali nyaris hampir sekontroversial Freud ketika menyatakan bahwa alam bawah sadar itu ada dan nyata. Yang kita bisa telaah dari komunikasi barangkali adalah penyampai pesan, medium, penerima pesan, dan efek yang diterimanya. Keseluruhannya itu, jika tidak hati-hati, maka akan dengan mudah melompat masuk pada ilmu psikologi. Hal yang tidak tersentuh oleh ilmu psikologi barangkali hanyalah soal medium saja. Mungkin soal medium itu seharusnya yang ditekuni sungguh-sungguh oleh ilmu komunikasi. 

3. Istilah komunikasi sebagai sebuah keilmuan yang mandiri belakangan ini, agaknya telah bergerak secara serampangan. Ia tiba-tiba menjadi sebuah ember besar dimana ilmu-ilmu sebelumnya yang telah mapan dapat mencemplungkan diri ke wadah tersebut. Fenomena semacam itu juga tengah menjadi tren menarik seperti yang terjadi dalam cultural studies. Cultural studies -dengan semangat membongkar modus-modus kebudayaan urban sebagai sebuah perpanjangan kekuasaan- mempersenjatai diri dengan teori-teori seperti feminisme, psikoanalisis, strukturalisme, dan neo-marxisme. Cultural studies menjadi semacam ember untuk menampung teori-teori tersebut. Ilmu komunikasi adalah ember yang maha besar. Ia memasukkan cultural studies ke dalam embernya -tentu saja beserta teori-teorinya pula-, juga hubungan masyarakat, penyiaran, pemasaran, bisnis, politik, hingga masuk ke ranah-ranah seperti film dan juga performing art. Alasannya apa sehingga ilmu komunikasi berhak menjadi ember raksasa? Karena katanya, "We cannot not communicate," dalam segala aspek pasti terdapat unsur komunikasinya. Fakta itu tidak bisa saya bantah bahwa memang dalam setiap aspek terdapat unsur komunikasi. Maka itu seharusnya cepat atau lambat, segala bidang seperti olahraga, percintaan, percetakan, penjara, rumah sakit jawa, kelak semuanya akan berada di dalam ember ilmu komunikasi karena semuanya juga mengandung fenomena komunikasi. 

Tapi apa yang menjadi kekhawatiran saya jika komunikasi menjadi ember raksasa bagi segala sesuatu? Saya akan mengambil contoh pada bidang film yang dua kubu sedang mengklaim memiliki ranah ini, yakni seni dan juga komunikasi. Apa perbedaan film jika dipegang oleh seni dan apa bedanya jika dipegang oleh ilmu komunikasi? Saya hanya menebak-nebak, dan ini tidak ilmiah sama sekali: Jika dipegang oleh seni, film menjadi urusan estetika; jika dipegang oleh ilmu komunikasi, film menjadi urusan pasar karena terkait melulu dengan bagaimana film itu dapat berkomunikasi dengan publik sebanyak-banyaknya (kamu boleh baca kalimat ini sebagai laku di pasaran). Orang seni mungkin akan menciptakan film dengan landasan teori seperti neo-realisme Italia, french new wave, atau realisme sosialis sehingga hasilnya secara estetis dapat dipertanggungjawabkan. Orang komunikasi barangkali tak perlu yang demikian karena film adalah bagus selama dia dapat dimengerti dengan mudah. Mungkin kita tahu bahwa dalam kacamata seni, "dimengerti" bukan terminologi yang tepat untuk mengejawantahkan sebuah karya. Lebih tepat kalau kita katakan bahwa sebuah karya itu "terasa" dan "bermakna" tapi bukan dalam nilai-nilai yang mudah untuk diverbalkan. Secara sederhana, dalam konteks film tadi, boleh saya katakan bahwa ilmu komunikasi amat tergiur untuk mengemas film menjadi pro-pasar dan barangkali tidak lagi memikirkan idealisme tertentu. Ilmu komunikasi adalah kata lain dari ilmu pemasaran yang intelek. Ilmu tentang bagaimana sebuah seni adiluhung menjadi seni yang praktis dan kebernilaiannya hanya diukur dari laku atau tidaknya. 

Sementara ini dulu yang dapat saya tuliskan meskipun ada beberapa diantaranya yang belum tertuangkan. Semoga dapat menjadi diskusi yang membangun dan konstruktif. 

Continue reading

Friday, June 20, 2014

Akhir Sejarah

Akhir Sejarah
Francis Fukuyama menulis buku berjudul The End of History and The Last Man (1952) yang berisi ramalan bahwa bahwa perkembangan sosio-kultural manusia sudah selesai ketika seluruh negara sudah menganut sistem politik demokrasi liberal dan sistem ekonomi kapitalisme pasar bebas. Fukuyama menyebutnya dengan istilah menarik: Akhir sejarah. 

Untuk membedah ramalan Fukuyama tersebut, pertama-tama yang kita lakukan adalah memetakan terlebih dahulu bagaimana sejarah berjalan. Ada yang melihat sejarah sebagai lingkaran sehingga segala sesuatu terus berulang (Pemikiran Buddhisme menganut hal tersebut dan juga Nietzsche). Ada juga yang melihat sejarah sebagai suatu gerak lurus yang berakhir pada sesuatu (Seperti halnya agama Abrahamistik dan juga konsep sejarah ala Hegelian). Ramalan Fukuyama dapat dilihat sebagai suatu gerak lurus (karena mengarah pada sesuatu yang final), tapi juga sebagai gabungan keduanya. Artinya, ada suatu gerak lurus sejarah yang mengarah pada pembentukan demokrasi liberal dan pasar bebas sebagai suatu akhir, tapi ketika berada di ujung, kondisi itu berputar seperti lingkaran. 

Posmodernisme adalah pemikiran yang amat menggadang-gadangkan akhir dari segala sesuatu mulai dari akhir sejarah, akhir seni, hingga akhir filsafat. Meski awalnya saya merasa pernyataan tersebut terlalu berlebihan, namun belakangan, setelah direnungkan, mungkin saja benar. Memang terlalu prematur jika saya mengatakan bahwa jaman ini -yang sedang saya hidupi ini- mempunyai keistimewaan dibanding jaman-jaman sebelumnya. Namun bolehlah saya mengatakan bahwa mungkin ini satu-satunya jaman ketika segalanya serba terbuka. Belahan dunia satu saling tahu tentang apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Pengetahuan tersebut tidak sampai dalam hitungan bulan, hari, atau jam, melainkan detik, sekon, bahkan milisekon. Keterbukaan ini membuat pengaruh demokrasi liberal menjadi tidak terhindarkan. Sebagai contoh, negara-negara penganut komunisme sepertinya sangat membatasi keterbukaan ini karena tahu bahwa sekali negara mendapat banyak pengaruh dari luar atau bebas dalam berekspresi, maka pemerataan baik secara ideologi maupun ekonomi, menjadi sulit tercapai. 

Fakta tentang "bahaya" keterbukaan ini bagi ideologi yang berseberangan dengan demokrasi liberal dan kapitalisme terjadi di Uni Soviet tahun 1980-an. Sebagai negara berideologi komunisme sejak tahun 1922, Uni Soviet dikenal dengan negara yang sangat kuat dalam mempropagandakan sendi-sendi komunis pada masyarakat. Hal tersebut agak berubah ketika Uni Soviet dipimpin oleh Mikhail Gorbachev pada tahun 1985. Ia menerapkan kebijakan bernama glasnost yang artinya keterbukaan. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa glasnost berarti membolehkan negara-negara yang tergabung dalam Uni Soviet, untuk menyuarakan kehendaknya. Tak lama kemudian sejak glasnost diterapkan, Uni Soviet runtuh pada tahun 1991. 

Apa arti dari fakta sejarah tersebut? Artinya, keterbukaan dengan sendirinya akan membentuk demokrasi liberal dan otomatis juga, pasar bebas. Jika memang hari ini dunia sudah sangat terbuka -dan rasanya tidak mungkin untuk dikembalikan menjadi tertutup-, maka ramalan Fukuyama ada benarnya. Kita ada dalam situasi dimana kita tidak bisa bergerak menuju sesuatu lagi. Ibarat musik yang sudah selesai dengan segala kemungkinannya mulai dari kerumitan Bach, kecentilan Mozart, kebergejolakan Beethoven, kecanggihan Stravinsky, keminimalan Glass, ke-diam-an-nya Cage, hingga kepopuleran The Beatles. Pertanyaannya: Kita bisa membuat apa lagi sekarang? Kebaruan apa lagi yang mungkin kita lahirkan? Sama halnya dengan dunia ekonomi dan politik yang agaknya tidak bisa lagi kita lihat apa yang lebih baru dari hari ini. Hidup ada pada titik final dan kita berada pada akhir sejarah. 
Continue reading

Friday, June 13, 2014

Alex Ferguson - Biografi Saya: Lebih dari Sekadar Manajer Sepakbola



Saya bukan orang yang silau dengan buku-buku yang dipajang di bagian khusus di sebuah toko buku. Malah saya selalu berusaha mencari sudut-sudut gelap dengan harapan dapat menemukan buku yang aneh. Atas alasan itu pula -selain karena memang bukan penggemar tim sepakbola Manchester United- , saya tidak terlalu tertarik dengan buku Alex Ferguson - Biografi Saya yang kerap ditempatkan di bagian depan Gramedia. Ternyata tanpa harus membelinya, buku tersebut sampai ke tangan saya sebagai tanda kasih setelah menjadi narasumber di komunitas film Layarkita. Batin saya mengatakan begini ketika menerimanya, "Oh, ternyata saya tidak alergi buku best-seller, asal gratis."

Buku tersebut, tanpa diduga, ternyata menarik. Sering sekali saya berniat membaca satu paragraf, jadinya sebab; membaca sebab, jadinya tiga bab. Untuk buku setebal 397 halaman, saya termasuk cukup cepat menyelesaikannya -jika ditotal, mungkin perlu 24 jam saja-. Alasan buku tersebut menarik mungkin saja sangat subjektif:

  • Buku ini menarik karena menyuguhkan pendapat-pendapat Sir Alex tentang berbagai hal mulai dari David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ruud van Nistelrooij, Roy Keane, hingga rivalitasnya dengan Wenger, Mourinho, serta klub Liverpool. Cara penuturan Sir Alex sangat melompat-lompat dan tidak bisa fokus membahas satu hal saja. Misalnya, ketika dia sedang membahas suatu pertandingan, ia menyebut nama satu pemain bernama Denis Irwin. Kemudian pembahasan berlanjut menjadi tentang Denis Irwin dan cerita mengenai pertandingan tadi tidak dilanjutkannya. Artinya apa? Lompatan-lompatan kisah tersebut hanya menarik bagi penggila bola. Jika tidak, akan sangat kebingungan. Bagi saya, makin sering Sir Alex berpendapat, makin bagus -dan itu tidak masalah jika dia harus berlompatan-.
  • Sebagai orang yang sedang menulis sebuah biografi seorang tua, saya sadar bahwa sudah banyak hal yang dialami oleh mereka. Wajar jika pikirannya tidak selalu sistematis dan memori demi memori muncul secara samar untuk kemudian ia berkata, "ah, sebentar, saya ingat bagian ini!" Atas dasar itu pula, menjadi mudah bagi saya untuk menikmati biografi sang manajer.
  • Menurut saya alasan ini sangat berpengaruh: Saya pernah secara serius bermain game Championship Manager musim 96/97 dan itu sangat membantu dalam memahami perkataan-perkataan Sir Alex. Dia banyak bicara tentang Class of '92 yang berisi pemain-pemain binaan Manchester United seperti Nicky Butt, Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs, dan lain lain, yang kemudian menjadi fondasi tim tersebut hingga beberapa tahun ke depan. Artinya, biografi ini menarik bagi mereka yang mengikuti liga Inggris dan perjalanan Manchester United dari rentang waktu yang cukup panjang. Mungkin akan membosankan bagi mereka pendukung bola yang baru saja bergabung sejak tahun 2008-an.
Selain alasan-alasan subjektif tersebut, tentu saja kenyataan bahwa buku ini diceritakan dalam bahasa yang enak, sama sekali tidak bisa diabaikan. Tidak lupa juga disisipkan sejumlah foto berwarna agar lebih terasa momentum demi momentum yang pernah dialami Sir Alex bersama Manchester United maupun klub sebelumnya, Aberdeen. Ada satu kalimat dalam buku tersebut, yang dikatakan oleh Sir Alex, yang berbunyi seperti ini, "Jangan pernah lupa, bahwa kehidupan itu sendiri lebih besar dari sepakbola." Kalimat tersebut menjadi kunci kebagusan buku ini secara (mendekati) objektif: Sebagaimanapun kita pendukung City, Liverpool, Arsenal, atau Spurs, seorang Sir Alex tetap merupakan manusia inspiratif. Ia adalah seorang loyalis dan pekerja keras yang selalu bergairah hingga usia senjanya. Ia bukan sekadar manajer sepakbola. Sir Alex adalah penikmat hidup sejati.

Continue reading

Tuesday, June 10, 2014

Lukisan Neraka: Menyelami Paradoks Hidup Seorang Seniman


Suatu hari, ketika saya sedang hanyut dengan akrobat bahasa dari Haruki Murakami dalam Norwegian Wood, tidak lupa saya menyempatkan diri untuk memberi apresiasi pada sang penerjemah yang bernama Jonjon Johana. Kebetulan, Pak Jonjon adalah kolega ibu saya di Sastra Jepang Universitas Padjadjaran sehingga saya pun dengan mudah mendapatkan nomor telepon beliau. Setelah mengirim pesan singkat menyampaikan apresiasi sejujurnya bahwa kebagusan Norwegian Wood tentu saja tidak lepas dari peran penerjemah, esoknya datang kiriman buku kumpulan cerpen Lukisan Neraka yang juga terjemahan Pak Jonjon. Katanya, kalau memang saya suka dengan terjemahannya, ini saya kirim terjemahan saya yang lain.

Jika sudah pernah membaca cerpen Rusia seperti Ruang Inap no. 6 dari Anton Chekhov, tentu saja cerpen dari Ryunosuke Akutagawa ini tidak terasa panjang meskipun juga jumlah halamannya termasuk di atas rata-rata yakni 62. Meski di dalamnya terdapat sejumlah cerpen, namun saya hanya membaca yang utama, yang paling depan, yang berjudul Lukisan Neraka itu. Saya menghabiskan waktu sekitar sejam untuk membereskannya sambil duduk di kereta dalam perjalanan menuju Surabaya. Kesimpulannya, Akutagawa benar-benar penulis yang mengagumkan dan menambah satu lagi daftar penulis Jepang dalam khazanah pengetahuan saya yang tampaknya "sakit jiwa" selain dari Yukio Mishima. 

Lukisan Neraka bercerita tentang pelukis bernama Yoshihide. Pelukis tersebut digambarkan tidak seperti seniman Timur yang biasa dicitrakan tidak egosentrik dan lebih mau untuk tidak dicantumkan namanya (anonim). Yoshihide adalah pelukis dengan tingkat keegoisan yang tinggi dan mau berjuang demi keluhuran estetika. Ketika ditugaskan untuk melukis neraka di sebuah dinding penyekat, ia bersikap total dengan mengurung diri, merenung, dan bersikap terlalu serius - ia menyiksa para muridnya agar tergambar jelas bagi Yoshihide bagaimana siksaan di neraka nantinya-. Yoshihide digambarkan sebagai seorang seniman sejati yang sering mengalami paradoks dalam hidupnya: Di satu sisi, ia mengedepankan estetika untuk ketenangan hatinya, namun di sisi lain, ternyata karena ia terlalu mengedepankan estetika, tubuhnya menjadi rusak, dan tidak jarang jiwa pun ikut rusak. 

Meski kelam dan mencekam, Lukisan Neraka diceritakan dengan cara yang ringan sekali. Akutagawa, penulis berjulukan "Bapak Cerpen Jepang" yang meninggal karena bunuh diri di usia 35 tahun tersebut, mengambil sudut pandang penceritaan dari seorang pesuruh istana yang sama sekali tidak terlibat dalam cerita. Hal tersebut menyebabkan segala gejolak Yoshihide dalam melukis neraka di sebuah dinding penyekat, tidak terasa sebagai sesuatu yang terlalu muram. Pesuruh istana yang digambarkan bodoh dan lugu tersebut, hanya menceritakan apa adanya dan tidak berusaha terlalu dalam memasuki psikologi Yoshihide. Meski demikian, kita tidak bisa menampik bahwa Lukisan Neraka ditulis oleh seorang yang "sakit jiwa". Dalam biografinya, Akutagawa, yang menulis cerita terkenal berjudul Rashomon -diangkat ke layar lebar oleh Akira Kurosawa pada tahun 1950-, memang dikenal mengalami semacam skizofrenia di akhir hidupnya, sebelum memutuskan bunuh diri dengan meminum obat tidur dosis tinggi.

Continue reading

Monday, May 26, 2014

1Q84 Jilid Satu: Akrobat Murakami di Dunia Paralel



Setelah Norwegian Wood, saya langsung ketagihan membaca karya Haruki Murakami yang lain. 1Q84 pun menjadi destinasi saya berikutnya. Novel ini diselesaikan dengan susah payah dalam kurun waktu nyaris tiga bulan. Bukan karena Murakami bercerita dengan gaya yang lambat dan membosankan -sebaliknya, ia menulis dengan lincah dan atraktif seperti biasanya-, melainkan disebabkan oleh kesibukan saya yang sedang padat-padatnya -ah, soal kesibukan harusnya tak perlu diceritakan-. 

1Q84 sedikit lebih tebal dari Norwegian Wood. Dirilis pada tahun 2009 dan 2010, 1Q84 yang mempunyai tebal 500-an halaman ini dibagi ke dalam tiga edisi. Kebetulan yang saya baca barulah edisi pertamanya. Ceritanya, seperti biasa seorang Murakami mengambil sebuah tema, adalah soal absurditas, nihilisme, dan eksistensialisme. Tidak ada suatu kejelasan arah, pun tidak ada suatu makna yang dapat dikatakan mencerahkan. Ini adalah kisah yang berpusat pada dua orang yakni Aomame dan Tengo. Keduanya menjalani kehidupan masing-masing yang boleh dikatakan cukup kompleks -atau itu disebabkan oleh kemampuan Murakami dalam menjelaskan setiap detail sehingga kehidupan siapapun menjadi tampak kompleks-. 

Saya mencoba berhati-hati agar tulisan ini tidak menjadi spoiler karena memang novel ini meskipun lincah dan atraktif, namun agak sulit untuk akhirnya bisa mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Murakami tampak keasyikan untuk melakukan akrobat metafor dan pengetahuan umum sehingga lupa untuk mengembalikan cerita pada jalur yang lebih dimengerti oleh pembaca. Sekilas memang cara bercerita 1Q84 sedikit lebih ringan daripada Norwegian Wood yang relatif lebih berat dan lebih dalam. 1Q84 secara permukaan tampak seperti novel pop yang rasa-rasanya akan mudah dimengerti siapa saja. Tapi ketika halaman sudah memasuki nomor 400-an, baru saya merasakan sesuatu: Tidak mungkin seorang Murakami membuat segalanya menjadi mudah untuk dipahami; tidak mungkin seorang Murakami menulis novel yang lebih dangkal daripada Norwegian Wood yang terbentang nyaris dua puluh tahun sebelumnya. 

1Q84 adalah tentang eksistensi manusia yang paradoks: ia ada sekaligus tiada, ia berada di sini sekaligus di sana. Boleh dikata ia adalah tentang dunia paralel yang aneh baik bagi Aomame maupun Tengo. Mereka berdua mengalami keanehan-keanehan paralel lewat berbagai saluran cerdas khas Murakami seperti musik Sinfonietta karya Leoš Janáček, novel Kepompong Udara yang ditulis oleh seorang anak bernama Fuka-Eri, sekte keagamaan Sakigake, serta -seperti biasa- petualangan seksual yang bisa dikata ganjil. 1Q84 bisa dikata sebagai novel filosofis, tentu saja, tapi jangan khawatir bagi mereka yang tidak menemukan makna-makna semacam itu. 1Q84 tetap sebuah karya sastra tinggi yang memuat teknik bercerita Murakami yang mahacanggih. Kita tetap akan terhibur oleh bagaimana ia mendeskripsikan sesuatu, memilih kata yang tepat untuk mewakili fenomena yang aneh sekalipun, hingga menciptakan suatu perasaan yang asing antara surealitas dan realitas. Meski saya secara pribadi tetap lebih menyukai Norwegian Wood, namun 1Q84 ini tentu saja tetap merupakan karya Murakami yang wajib dibaca.

Continue reading