Minggu, 29 Desember 2013

Guru Kecil

Guru Kecil
Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa hidup ini jauh lebih membahagiakan 
Jika kamu tak punya apa-apa
Atau setidaknya hanya punya keinginan-keinginan sederhana saja

Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa kata-kata cinta tidak punya arti sama sekali
Cinta adalah tentang merawat dan membesarkan
Lewat tindakan sekaligus lewat diam

Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa eksistensi manusia itu sungguh menyedihkan
Lahir dan mati keduanya ditopang air mata
Tapi kamu bisa menemukan kebahagiaan kecil yang sanggup menghapus segala duka
Seperti menyaksikan sang bayi belajar mengisap puting ibunda untuk kali pertama
 
Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa ada perbedaan tipis
Antara menyelamatkan seluruh umat manusia
Dengan mengganti popok ketika dia pipis
Continue reading

Kamis, 12 Desember 2013

Setengah Kata, Setengah Makna

Setengah Kata, Setengah Makna
Tadi pagi saya iseng membongkar rak buku untuk menemukan bacaan-bacaan yang sekiranya menyejukkan. Kemudian saya menemukan koleksi buku-buku Gibran yang lama, yang salah satunya berjudul Pasir dan Buih. Buku itu tipis sekali hanya 85 halaman dan ukurannya kecil. Isinya adalah semacam aforisme dari Gibran, seorang penyair asal Lebanon kelahiran 1883, tentang segala renungan mengenai kehidupan. Saya membaca kembali satu per satu dengan teliti setelah lama tidak menyentuh buku tersebut. Ternyata iya, ada beberapa aforisme yang dulu tidak saya mengerti sekarang jadi mengerti (tapi yang dimaksud dengan "mengerti" tentu saja dalam batas pemahaman saya hari ini, sepuluh tahun lagi saya baca aforisme tersebut mungkin akan sadar bahwa dahulu itu saya sebenarnya belum mengerti). Saya tuliskan disini contoh salah satunya:

Setengah tuturku tanpa makna;
namun kuucapkan jua, agar setengahnya lagi mencapai dirimu

Untuk mengetahui bagaimana saya bisa "mengerti" aforisme tersebut, pada akhirnya, saya akan kembali ke masa-masa kemarin ketika saya tengah giat menggumuli hakikat bahasa. Saya menggilai bagaimana Nietzsche berkata tentang "penjara bahasa" dalam aforismenya yang terkenal, "Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama namun apa daya terpenjara bahasa." Pada titik itu saya menganggap bahasa adalah problem dalam hubungan antar manusia. Kita dilingkupi oleh kenyataan bahwa bahasa tidak mungkin sanggup merepresentasikan realitas dengan sebenar-benarnya. Ketika segala sesuatu diucap dalam kata, maka segala sesuatu menjadi tidak persis seperti kenyataannya. Untungnya, kehidupan mengijinkan manusia untuk merepresentasikan kenyataan tidak hanya melalui bahasa, tapi juga seni. Seni, dalam pemahaman saya waktu itu, adalah jalan keluar bagi keterbatasan bahasa. Seni adalah penelikungan terhadap rasionalitas yang kaku, sempit, dan kadang arogan.

Namun suatu hari dalam sebuah chatting dengan seorang dosen bernama Bambang Q-Anees, ia menegur ke-euforia-an saya terhadap "matinya bahasa".  Ia bertanya, "Tapi bisakah kita lepas dari bahasa?" Saya lupa apa jawaban saya waktu itu, tapi agaknya saya mengabaikan pertanyaan beliau karena dianggap kurang penting. Pertanyaan yang serupa dengan apa yang dilontarkan oleh Bambang Q-Anees tersebut muncul lagi kemarin-kemarin, di kelas ketika saya mengajar tentang hakikat bahasa di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ada seorang mahasiswa bertanya, "Lantas, kalau tanpa bahasa, dengan apa kita menyampaikan gagasan?" Pada titik itu saya tidak gamblang seperti sebelum-sebelumnya dengan langsung menjawab, "Dengan seni!". Saya sekali lagi tidak menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut secara memuaskan.

Sekarang, setelah membaca aforisme Gibran tersebut, saya sadar akan sesuatu. Bahwa bahasa tetap penting untuk dikemukakan karena pertama, kita tidak punya pilihan. Bahasa adalah satu-satunya jalan sebagaimana saya menyampaikan gagasan tentang "matinya bahasa" juga lewat bahasa. Kedua, Gibran benar, bahwa biarkan bahasa menjadi setengah dari kebenaran, dan setengahnya lagi adalah makna yang kita harus susah payah untuk menemukannya. Seperti halnya kitab suci yang kita kaji, novel yang kita baca, puisi yang kita nikmati, celakalah jika kita menerima kata demi kata yang ditulisnya sebagai representasi dari kebenaran. Kebenaran yang sejati, sebagian lagi, ada pada dirimu. 

Continue reading

Kamis, 05 Desember 2013

Mencari Mandela di Tengah Dunia yang Reaksioner

Mencari Mandela di Tengah Dunia yang Reaksioner
Di jagad Twitter, ada seseorang dengan nama akun @hafidz_ary yang barangkali bisa menjadi representasi xenophobia kontemporer. Ia menganggap orang di luar dirinya semisal orang non-muslim, orang Barat, orang sekuler, orang liberal, hingga orang yang bukan dari partai PKS, sebagai “orang asing”. Sebagaimana modus seorang xenophobic sejak ribuan tahun silam, ia berusaha rasional dalam melandasi setiap kebenciannya pada yang liyan. Namun dalam diri seorang xenophobic terang saja kerap ada cara berpikir yang sesungguhnya “melompat terlalu jauh”. Misalnya, sebuah kasus korupsi yang melanda partai non-PKS ia anggap sebagai “kegagalan kaum sekuler dalam mengurus negeri”, runtuhnya Presiden Mursi di Mesir ia anggap sebagai “Perang Agama”, dan perjuangan pahlawan Nusantara dalam melawan Belanda ia sebut sebagai “Islam vs Kristen”.

Rasisme sering dianggap sebagai bagian dari xenophobia tapi dalam konteks yang lebih spesifik yakni ras. Namun apa yang dimaksud sebagai “ras” ini juga pada akhirnya tidak terlalu jelas. Ras tidak bisa hanya kita identikkan dengan ciri-ciri fisik, melainkan juga teritori kebudayaan, bahasa, agama, geografis, serta afiliasi sosial. Dikotomi ras ini tidak selalu terberi melainkan ada juga yang dikelompokkan oleh kekuasaan. Berdasarkan definisi yang sedemikian luas cakupannya tersebut, barangkali dalam diri kita juga terdapat potensi rasisme, potensi xenophobic, dan potensi menjadi seorang @hafidz_ary. Sebagai contoh, dalam institusi yang dianggap rasional semisal kampus, tidak jarang mereka ingin mengidentifikasi sebagai yang superior dengan cara membedakan dirinya dengan orang di luar kampus. Caranya misal dengan melakukan dikotomi bahasa. Bahasa kampus selalu berbeda, eksklusif, dan menegaskan ada suatu perbedaan dengan yang liyan

Rasisme bisa jadi merupakan potensi alamiah setiap manusia, tapi juga potensi tersebut dibesar-besarkan oleh argumen rasional yang secara paradoks malah menunjukkan suatu kemalasan berfikir. Dalam buku berjudul Rasisme: Sejarah Singkat karya George M. Frederickson, sejarah rasisme dapat ditarik mula-mula ke antisemitisme di Abad Pertengahan. Pada masa wabah penyakit besar di Eropa, ribuan orang Yahudi dibantai oleh penguasa Kristen karena ada isu yang menghembus bahwa wabah terjadi karena mereka telah meracuni mata air. Diperkuat dengan dimensi keriligiusan bahwa orang-orang Yahudi ini menolak status Yesus sebagai raja mereka, maka rasisme seolah menjadi hal yang dibenarkan. Kemalasan berfikir terletak pada kenyataan bahwa pembantaian tersebut tidak berdasarkan suatu bukti sahih kecuali lewat desas desus belaka dan fakta sosial bahwa orang-orang Kristen memang tidak suka pada orang-orang Yahudi karena profesi mereka yang sebagian besar adalah tengkulak. 

Rasisme terhadap orang kulit hitam seringkali dikategorikan sebagai “rasisme modern” karena legitimasinya dimulai sejak para ilmuwan Abad Pertengahan mulai melakukan klasifikasi terhadap manusia. Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-16 menyebutkan bahwa ras Kaukasoid adalah ras manusia pertama yang darinya ras-ras lain mengalami penyimpangan atau kemerosotan –yang lain ini adalah Mongolia, Etiopia, Amerika dan Melayu-. Georges-Louis de Buffon beranggapan bahwa orang-orang Eropa secara intelektual lebih unggul daripada orang-orang Afrika. Ia mengasalkan kecerdikan orang-orang Eropa dari kenyataan bahwa mereka berhasil bertahan hidup di lahan yang tandus. Sedangkan orang Afrika, yang dipermudah oleh lingkungan, malah tumbuh menjadi ras yang sederhana dan bodoh. 

Berawal dari prasangka-prasangka masyarakat, rasisme kemudian bergerak menjadi legal dan terinstitusionalisasi. Di Amerika Serikat bagian Selatan, ada kebijakan Jim Crow yang terbentang antara tahun 1876 hingga 1965. Isinya adalah pemisahan tegas fasilitas publik untuk kulit putih dan kulit hitam mulai dari sekolah, transportasi, kamar ganti, restoran, hingga air minum. Hal serupa juga terjadi di Afrika Selatan yang belum genap dua puluh tahun lepas dari politik apartheid

Sebelum masuk membicarakan Nelson Mandela, menarik untuk terlebih dahulu melihat perjuangan Malcolm X di Amerika Serikat. Malcolm X menolak diskriminasi justru dengan mempertegas perbedaan. Meski kita tidak bisa mengabaikan kontribusi Malcolm X dalam penghapusan segregasi rasial di AS, tapi ada kesamaan sikap antara Malcolm X dan @hafidz_ary dalam menghadapi ketertindasan kaumnya. Mereka memilih sikap untuk berperang dengan terlebih dahulu membangkitkan superioritas kaumnya sendiri. Malcolm X dengan meneriakkan kredo bahwa “God is Black” dan “White people are devils”, sedangkan @hafidz_ary dengan “Islam itu sendirian benar, yang lain salah” dan “Orang-orang kafir dan salibis adalah penyebab perang-perang besar di dunia”. Dengan demikian, kaumnya merasakan satu posisi yang eksklusif dan berbeda dari yang lain. Malcolm X mengatakan bahwa jika orang kulit putih boleh merasa eksklusif, kenapa kulit hitam tidak boleh? @hafidz_ary mengatakan bahwa jika orang sekuler selalu diberi panggung dalam sejarah, kenapa muslim tidak boleh? 

Nelson Mandela tidak pernah bicara tentang supremasi ras. Perjuangannya untuk rakyat murni datang dari kenyataan bahwa kebijakan politik dari National Party (NP) sebagai kaum minoritas, tidak mencerminkan keinginan dari rakyat Afrika Selatan yang didominasi oleh orang-orang kulit hitam. Berbekal literatur mengenai komunisme, Mandela mempunyai kesamaan spirit dengan Marx meski berbeda konteks. Marx melawan kapitalisme yang biasanya dikuasai oleh sedikit orang yang berstatus sebagai pemilik modal. Marx mengatakan bahwa kapitalisme bisa digulingkan oleh kaum buruh yang secara jumlah lebih banyak. Mandela melawan kebijakan politik kaum Afrikaner yang jumlahnya justru minor di Afrika Selatan. Mandela juga percaya orang kulit hitam bisa menang karena jumlahnya yang lebih banyak. Mandela juga tidak tergerak oleh perasaan xenophobic ataupun rasis seperti yang dilakukan oleh Malcolm X dan @hafidz_ary. Ia tidak perlu melawan rasisme dengan rasisme. Mandela hanya ingin hidup berdampingan dengan hak-hak yang sejalan. 

Mari berbicara sedikit tentang filsafat. Hegel pernah berkata bahwa sejarah menyeimbangkan dirinya lewat dialektika tesis-antitesis-sintesis. Kekuasaan NP dengan politik apartheid-nya di Afrika Selatan sebagai tesis pada masa itu, mendapat antitesis dari Mandela dengan African National Congress (ANC)-nya. Mandela dengan ANC-nya, meski sudah dibungkam dengan berbagai cara, tetap mampu bersuara dalam sejarah karena demikian menurut Hegel, “fitrah”-nya sejarah. Pembungkaman, pemenjaraan, siksaan, pengasingan, tidak akan pernah mampu mencerabut suara-suara antitesis. Pembungkaman oleh tesis-tesis besar seperti Stalin, Mao, Pinochet, ataupun Suharto akan menciptakan bara dalam kekuasaannya sendiri. Kelak akan terjadi keseimbangan, bagaimanapun dihabisinya berbagai macam oposisi. 

Kembali lagi, Mandela adalah contoh perjuangan yang revolusioner, konsisten, dan tidak gegabah. Kata Acep Iwan Saidi, dunia hari ini sudah sulit sekali mencipta revolusionaris tulen. Yang ada hari ini adalah sikap-sikap reaksioner semata seperti Koin Prita, Angkot Day, Vickyisme, atau tagar twitter seperti #IndonesiaTanpaJIL, #SaveKPK, #SaveRI atau #EgyptMassacre. Celakanya, para reaksionaris itu sudah merasa menjadi seorang revolusionaris. Tidak ada satu keistiqamahan untuk berjuang demi sebuah ideologi yang dianggap benar. Sulit mencari figur seperti Che, Gandhi, atau Mandela yang tidak ingin terbuai dengan rayuan-rayuan gombal yang meruntuhkan perjuangan seperti hari ini orang tunduk pada tabungan, asuransi, iklan hape, dan segala tetek bengek simbol kemapanan.
Continue reading