Friday, November 29, 2013

Tukang Gorengan

Selepas membeli kelapa muda, saya mendadak ingin sejenak menepi di tukang gorengan itu. Tukang gorengan yang pernah berbincang dengan saya setahun lalu tentang apa-apa yang tidak saya mengerti. Sekarang saya memutuskan untuk duduk di tempat itu lagi dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa saya akan membeli gorengannya sebanyak lima buah untuk dimakan di tempat. 

Saya mengatakan sesuatu untuk memancing dirinya bicara, yaitu kabar tentang anaknya. Dia bilang anaknya sekarang sudah ada dua yang hampir bekerja, satu hampir lulus STM, satu lagi sedang magang menjadi akuntan di satu kantor. Oh, memang anak bapak berapa? Dia jawab lima dan semuanya bersekolah. Lalu saya bertanya dengan sebuah keimplisitan a la orang modern yang selalu ingin tahu tentang "Dari mana kamu dapat uang untuk semua itu?" dengan dibungkus pertanyaan, "Oh, istri kerja, Pak?" Tukang gorengan itu menjawab, "Tidak, kalau istri bekerja, bagaimana bisa mengurus anak yang jumlahnya lima?"

Tapi tukang gorengan itu seolah tahu bahwa saya hendak bertanya soal darimana dirinya dapat biaya untuk itu semua. Ia berbicara panjang lebar tentang kenyataan bahwa meskipun ia berprofesi sebagai pedagang gorengan, ia tetap memprioritaskan anak-anaknya untuk sekolah. "Saya pernah ditawari berkali-kali untuk menyicil motor, tapi saya selalu mengutamakan sekolah anak-anak. Sampai sekarang saya tidak pernah punya motor. Mau mudik? Tinggal pinjam sama tukang ojek." Ia juga berbicara tentang zakat mal yang rajin ditunaikannya setiap tiga bulan yang entah kenapa ia percayai memberi keselamatan bagi hidupnya hingga hari ini. 

Kemudian dia juga berbicara tentang ketenangannya dalam menjalani hidup dan juga menjalani mati, "Ah, untuk apa berpusing-ria. Hidup ya begini, jalani saja. Ujung-ujungnya kita akan telanjang, tak punya apa-apa, dan kembali ke tanah." Perkataan semacam itu tentu saja meruntuhkan prinsip kemodernan saya yang apa-apa harus terencana. Segala sesuatu bisa dihitung dan matematika adalah suatu kepastian yang harus dilibatkan dalam setiap gerak-gerik kehidupan. Namun matematika tercanggih sekalipun agaknya sulit untuk menghitung bagaimana seorang tukang gorengan bisa menghidupi lima orang anak dan menyekolahkannya secara layak. 

Hal-hal semacam ini tentu saja bukan sesuatu yang baru saya dengar untuk pertama kali: Cerita tentang perjuangan dalam keluarga, tentang hitung-hitungan magis dalam kehidupan, serta bagaimana agama dan kepercayaan -meskipun jika dinalar seringkali absurd- mampu memberi kekuatan bagi orang untuk hidup dan juga untuk mati. Seiring dengan nalar yang semakin rumit dan kedewasaan yang membawa pada kompleksitas, maka cerita-cerita semacam itu makin seperti dongeng ataupun mitos. Seolah itu adalah cerita dari orang-orang jaman dulu yang tidak punya relevansi dengan dunia hari ini yang kapitalistik. 

Saya bukan hendak menghimbau orang-orang untuk beranak banyak dalam rangka memenuhi kepercayaan tentang "banyak anak, banyak rejeki". Tapi saya sedang merenungkan dalam-dalam tentang bagaimana seorang tukang gorengan sedang bertindak seperti Sisifus yang tengah dikutuk untuk mendorong batu sepanjang hidupnya. Meski hidupnya berat, ia tetap menjalaninya dengan santai, gembira, dan sadar bahwa yang absolut akan menghadangnya hanyalah kematian. Saya menemukan pemikiran semacam ini hanya pada literatur Albert Camus dan menganggap bahwa yang mungkin mencapainya hanyalah kaum yang membaca bacaan-bacaan filosofis yang sejenis. Tapi anggapan itu runtuh ketika saya berjumpa dengan si tukang gorengan. Ia berlaku bak Sisifus meski mungkin tak pernah tahu siapa Sisifus itu. Hidupnya penuh keberanian, penuh heroisme, sekaligus juga penuh oleh kepasrahan. Ia sudah tahu siapa Sang Maha Absurd itu dan mengklaim diri sebagai kekasihnya yang sejati. 

Saya malu. Karena saya takut untuk hidup, juga takut untuk mati. 


Previous Post
Next Post

0 comments: