Monday, September 30, 2013

Imagi-Nation: Provokasi bagi Para Komposer


Ketika kawan Erie Setiawan mengirimkan buku Imagi-Nation: Membuat Musik Biasa Jadi Luar Biasa dari Yogya, saya langsung menghabiskan buku setebal kurang lebih seratus halaman itu dalam sehari. Namun bukan ketipisan buku itu yang membuat saya sanggup membaca cepat. Entah oleh sebab sang penulis, Vince McDermott, atau kelihaian sang penerjemah, yang pasti kata-kata dalam buku ini amat renyah, lincah, dan sepertinya sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak membuat pembaca ketakutan dengan topiknya.

Apa yang dibahas oleh McDermott sesungguhnya tidak semudah gaya bahasanya. Ia menyuguhkan banyak hal mendasar tentang musik yang justru merupakan topik yang tidak populer -bahkan di kalangan akademisi musik sekalipun?-. Hal yang mendasar ini bukan berarti menyoal teori atau praktik dasar dalam bermusik. McDermott memulai bukunya dengan membahas apa itu estetika, apa perbedaan estetika barat dan timur, hingga memperdebatkan apakah musik kemudian harus ditransfer kembali pada kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang awam, "Musik yang dimainkan barusan, maknanya apa ya?" Ini jelas merupakan bahasan yang tidak menyenangkan untuk praktisi bahkan teoritisi musik khususnya di Indonesia -buktinya, buku yang membahas hal semacam ini sangat jarang beredar-. Mungkin mereka bisa melemparkan tanggung jawab atas persoalan estetika pada bidang kajian filsafat saja.

McDermott kemudian dengan perlahan memberikan panduan bagi para komposer untuk pertama-tama mempertanyakan ulang maksud dari pelbagai ciptaannya, hingga akhirnya masuk pada dimensi musik yang lebih kompleks seperti dinamika, frase, energi, bentuk, ritme, repetisi, tekstur, lapisan, harmoni, tempo, transisi, warna, hingga instrumen. Dalam pemaparan demi pemaparan, McDermott sama sekali tidak bersikap menggurui atau bahkan memberikan tips-tips sederhana (seperti yang sedikit tersirat lewat judulnya). McDermott rupanya ingin lebih tepatnya memberikan panduan. Ia tidak mau "penyair bunyi" (istilah yang McDermott ambil dari sebutan Beethoven bagi para komposer) manapun mengabaikan sejumlah peraturan dalam mencipta. Hal ini tersirat dalam pemaparannya mengenai musik jazz dan hubungannya dengan improvisasi:
Bahkan, dalam gaya improvisasional seperti "free jazz" atau "musik kebetulan" (chance music) sekalipun, tetap ada pembatas. Pemusik-komponis memiliki ide-ide tertentu yang ingin mereka sajikan, dan tujuan mereka adalah ide-ide itu. Dengan demikian, mereka sengaja membatasi fokus mereka. 
Meski "keras" dalam memberikan batas-batas mencipta, McDermott tetap mengatakan bahwa yang menjadi penentu pada akhirnya adalah kreativitas, keberanian untuk berpikir maju, dan petualangan menuju "yang sublim". Seni bukan rutinitas, seni itu pencarian. Ia mengajak mereka yang sudah berpikiran ke depan agar jangan melupakan fondasi bangunan musik seni yang baik. Sebaliknya, mereka yang sudah menguasai pelbagai fundamen dasar dalam bermusik, jangan hanya membuat "musik biasa yang mengenyangkan perut" saja. Jangan takut menciptakan musik yang sanggup dijadikan santapan rohani juga.

Continue reading

Sunday, September 29, 2013

Oh

Oh
Bapak pernah berkata bahwa hidup ini adalah sekumpulan oh demi oh. Apa artinya? Katanya, nanti juga kamu mengerti. Nanti juga kamu akan mengatakan, "Oh, maksud bapak oh itu, itu toh." Karena begitulah beliau akhirnya menyadari bahwa segala ucapan kebijaksanaan akan tiada artinya jika tanpa disertai pengalaman. Ketika pengalaman tersebut pada akhirnya sejalan dengan kata-kata kebijaksanaan yang dulu pernah termentahkan oleh hatimu, ketika itu pula kamu akan mengatakan oh. "Bapak dulu pernah mengatakan jangan merokok dan minum kopi, nanti jadi bodoh," demikian bapak berujar tentang nasihat bapaknya dulu. "Kita bisa sama-sama menertawakan pendapatnya yang tidak saintifik, tapi hal tersebut di kemudian hari terbukti, setidaknya bagi saya secara personal," demikian tambah bapak. Oh.

Oh, sekarang saya juga tahu kenapa bapak dulu menyuruh untuk membaca satu artikel koran setiap hari dengan imbalan seratus rupiah. Oh, sekarang saya tahu kenapa bapak selalu memutar musik keras-keras setiap pagi dari sejak saya bahkan tidak tahu apa itu musik. Bukan musik anak-anak seperti Enno Lerian atau Bondan Prakoso, tapi sekalian The Beatles atau Michael Franks. Oh, sekarang saya tahu kenapa saya sering diajak makan berdua saja untuk kemudian bapak bercerita tentang segala hal yang saya tidak mengerti. Katanya dalam suatu malam di restoran, "Waktu itu selalu berlalu. Ketika kita mengatakan 'sekarang', di saat itu pula kata 'sekarang' itu juga berlalu." Saya terbengong-bengong karena waktu itu masih SD.

Oh, sekarang saya mengerti, bahwa ternyata kata-kata kebijaksanaan itu selalu terdengar kosong di telinga seperti kata tokoh Gotama di novel Siddharta karya Herman Hesse, "Hanya pengetahuan yang bisa dibagikan, kebijaksanaan jika dibagikan akan lebih terdengar seperti kebodohan." Oh, sekarang saya mengerti mengapa Musashi mengembara untuk mencari hakikat ilmu pedang. Pengembaraannya bukan didasari oleh kemasukakalan, melainkan oleh sebuah keyakinan bahwa suatu saat pengalamannya sendiri yang akan membentuk pemahamannya. Itu sebabnya ia punya semboyan, "Jangan pernah menyesali segala sesuatunya." Seolah-olah ia mau berkata bahwa meskipun pengembaraannya akan berujung pada kesimpulan bahwa tak sanggup sesungguhnya Musashi jadi samurai, itu tidak apa-apa. Oh, sekarang saya mengerti mengapa Nietzsche mengatakan bahwa manusia dikutuk oleh bahasa. Di satu sisi kita berupaya menerangkan dengan kata-kata tentang pengalaman kita, di sisi lain kata-kata itu sendiri sebenarnya tak pernah sanggup membuat orang "ikut mengalami".

Oh, saya mengerti sekarang bahwa hal-hal di dunia ini tidak semuanya harus langsung dapat dimengerti. Biarkan oh terucap di ujung pengalamanmu.


Continue reading

Sunday, September 8, 2013

Rasionalitas dan Teknologi

Rasionalitas dan Teknologi
Kemarin saya dikejutkan oleh berita tentang anak bungsunya musisi pop Ahmad Dhani, Abdul Qadir Jaelani alias Dul, yang membuat tewas lima orang akibat mobil yang dikendarainya di jalan tol. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Dul masih berusia tiga belas tahun atau jauh di bawah syarat untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kita tidak akan membicarakan soal bagaimana tanggungjawab Ahmad Dhani soal ini. Kita bisa lebih jauh menyalahkan teknologi yang pada perkembangannya selalu mengandung dua sisi. Di satu sisi, ia membantu kehidupan manusia karena biasanya teknologi selalu mengandaikan ke-masuk-akal-an. Dalam arti kata lain, ketika teknologi diciptakan, tentunya ia sebisa mungkin dapat diakses orang sebanyak-banyaknya dan semudah-mudahnya -Itu sebabnya mengapa gadget masa kini seolah tidak mempunyai batas usia. Karena bagi anak-anak, gadget itu masuk akal untuk mereka mainkan-. Di sisi lain, ke-masuk-akal-an itu yang justru menjadi problem ketika penilaian-penilaian metafisis seperti "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", "penemuan jatidiri", dan hal-hal lain yang tak masuk akal dan tidak punya alat ukur objektif, dibuang jauh-jauh dari prasyarat pemakaian teknologi.

Mari kita ambil contoh dari teman saya yang sedang keranjingan buku The Secret dan menyebut ajarannya, yakni Law of Attraction, sebagai sesuatu yang sangat manjur. Ajaran Law of Attraction kira-kira berisi tentang bagaimana jika kita sungguh-sungguh memikirkan sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi -baik itu positif maupun negatif-. Sayangnya, dia (dan juga banyak orang lainnya) menggunakan prinsip Law of Attraction itu dengan cara yang sama seperti Dul menyetir mobil. Mereka menggunakannya sebagai alat yang kaku dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang non-rasional. Seperti kata teman saya itu, "Kalau kamu sakit, jangan dipikirin deh. Pikirin yang bagus-bagus saja agar sembuh." Mungkin hiburan semacam itu ada benarnya, tapi kita juga harus pertanyakan: Pikiran semacam apa yang bisa memberi dampak positif? Tentu saja berbeda antara pikiran seorang anak SD dengan pikiran seseorang yang sudah menjalani hidup 80 tahun dengan pengalaman segudang, meski sama-sama positif. Tentu saja berbeda antara pikiran orang yang sudah membaca seribu buku dengan macam-macam jenis dengan pikiran orang yang baru saja membaca The Secret

Kita bisa melihat teknologi di sekeliling kita hari ini sungguh mudah untuk digunakan: Motor, mobil, kulkas, latop, ponsel, televisi, LCD, dan sebagainya. Prasyaratnya hanyalah sebatas urusan asal secara fisik bisa terjangkau atau tidak. Keseluruhan teknologi itu sudah dibuat sedemikian rupa agar secara rasional bisa diterima dan digunakan secara praktis sejak usia dini. Buku-buku petunjuk tentang usia berapa seharusnya seseorang memakai benda-benda tersebut rasanya menjadi hal yang diabaikan dewasa ini. Kemudahan-kemudahan semacam itu secara otomatis meniadakan "teknologi-teknologi" purba yang sering dianggap punya efek membantu kehidupan manusia tapi tidak rasional seperti doa, sembahyang, telepati pikiran maupun perasaan, hingga pawang hujan. Mereka dianggap usang dan harus dibuang ke tong sampah karena semata-mata, "Tidak masuk akal, tidak bisa digunakan segala usia. Mungkin mereka yang bisa pun hanya mengada-ada saja."

Doa, sembahyang, dan lain-lain tersebut mungkin saja menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan jika dilakukan dalam penghayatan dan kematangan jiwa di fase tertentu yang barangkali tidak punya barometer objektifnya. Hal yang sama juga bisa kita tudingkan pada kenapa Dul bisa celaka padahal secara teknis ia sudah memenuhi syarat untuk menyetir. Ini bukan semata-mata soal usia -sesuatu yang sebenarnya masih sangat objektif dan rasional-, melainkan persoalan-persoalan metafisis yang sudah kita buang jauh-jauh konsepnya dari dunia kehidupan modern, yakni "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", dan "penemuan jatidiri".

Keseluruhan paparan di atas mungkin bisa dirangkum menjadi: Pepatah Timur mengatakan bahwa "Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa." Barat kemudian memodifikasinya menjadi "Tapi kita bisa membuat pohon lebih cepat tumbuh dengan segala teknologi".

Continue reading

Monday, September 2, 2013

Blues Mati Rasa

Blues Mati Rasa
Aku pernah berkata pada diri
Hidup ini sederhana saja
Jalani aturan, hindari larangan
Ikuti malaikat, jauhi setan

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku bekerja sepanjang hari
Menghitung uang apakah sebanding dengan peluh yang terbuang
Kutatap masa depan dengan sinar mata cemerlang
Kehidupan jelas terbentang diterangi oleh senter tabungan

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku pernah berpikir tentang kematian
Tentang duka nestapa dan penderitaan
Tapi kubiarkan mereka terbenam
Dalam derap langkah keseharian

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku mencari Tuhan kesana kemari
Kemari kesana
Hingga berkesimpulan
Tak mungkin Tuhan ada

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues
Continue reading