Minggu, 25 Agustus 2013

Metallica dan Saya

Metallica dan Saya
Pertama kali saya mendengar nama "Metallica" adalah ketika SD. Waktu itu, kakak saya mewartakan kegembiraannya setelah membeli Black Album dengan harga Rp. 3.000. Katanya, "Album Metallica ini keren sekali. Coba lihat sampulnya. Seperti yang hitam pekat kan? Padahal ada gambar ularnya!" Setelah itu saya lupa sama sekali tentang Metallica hingga akhirnya pada masa SMP, saya menemukan majalah HAI edisi khusus membahas Metallica. Jadi, pertemuan pertama saya dengan Metallica tidak lewat musiknya terlebih dahulu, melainkan dengan mula-mula ikut-ikutan kakak saya dan membaca sejarahnya. 

Kaset Metallica yang saya beli pertama kali adalah Ride The Lightning. Album tersebut dibeli di Yogya ketika study tour bersama teman-teman satu angkatan. Saya, yang waktu itu kelas 2 SMP, sangat terkejut dengan kecepatan band ini sejak dari track pertamanya yang berjudul Fight Fire with Fire. Padahal dalam lagu tersebut, saya dibuai dengan petikan gitar akustik yang lembut sebagai intro. Dengan medium walkman, saya konsumsi Ride The Lightning berulang-ulang selama di Yogya. Pada masa itu juga saya merasa terpikat dengan permainan solo gitar Kirk Hammett yang sangat cepat.

Setelah Ride The Lightning, berturut-turut saya membeli kaset Master of Puppets, Kill 'Em All, And Justice for All dan Black Album. Tidak semua lagu dalam album-album tersebut langsung bisa saya cerna sejak pendengaran pertama. Namun setelah berkali-kali dengar, saya bisa memutuskan bahwa tidak ada satupun lagu Metallica yang tidak bagus. Semuanya menakjubkan dan semuanya dibuat oleh kemampuan yang tinggi dan atas niat yang tulus. Lagu-lagu semisal Master of Puppets, Battery, Orion, Hit The Lights, Seek and Destroy, Metal Militia, Harvester of Sorrow, Enter Sandman, Wherever I May Roam, dan sebagainya, menjadi hal yang wajib saya putar di saat bangun tidur dan pulang sekolah sebelum ganti baju. Saya pajang poster Metallica di kamar lengkap dengan para personilnya: Hetfield, Hammett, Newsted, dan Ulrich. Saya membeli gitar elektrik dengan distorsi dan berusaha bermain gitar dengan melodi cepat seperti yang biasa dilakukan oleh Hammett. Saya menawari teman-teman sebaya untuk kapan-kapan ayo kita mainkan lagu-lagu Metallica. Jawabannya? Negatif. 

Lama kelamaan, saya merasa tidak menemukan situasi yang tepat untuk mendukung cita-cita saya tersebut. Akhirnya saya mulai menyerah. Tidak ada lagi keinginan untuk bermain gitar seperti Hammett dan tidak ada lagi keinginan tampil di atas panggung sambil melakukan headbang. Saya konsentrasi pada gitar klasik untuk waktu yang lumayan lama -sesuatu yang pastinya sangat berbeda, tapi belakangan saya temukan bahwa antara Metallica dan musik klasik tertentu punya banyak kesamaan yang fantastis-. Kegagalan menjadi musisi rock tidak membuat saya kehilangan perasaan dengan cinta pertama saya, Metallica. Saya tetap menyimpan asa untuk suatu saat setidaknya bisa menyaksikan penampilan mereka secara live. Kemungkinan untuk itu katanya kecil sekali karena mereka pernah datang di tahun 1993 dan konsernya sendiri disebut Ulrich seperti "demonstrasi massal" karena terjadi kerusuhan di luar stadion Lebak Bulus.

Harapan tersebut tetap tersimpan meski saya sudah menjalani kehidupan yang non-metal selama lebih dari sepuluh tahun. Sampai akhirnya kemarin saya mendengar kabar bahwa mereka main di Singapura. Keadaan finansial yang pas-pasan pada waktu itu membuat saya berpikir untuk tidak pergi saja dengan sebuah pembenaran, "Ah, tidak semua mimpi kita harus diraih kan?" Tapi istri saya memberi kekuatan. Katanya, "Kejarlah. Kalau saya jadi kamu, akan saya kejar!" Akhirnya saya bertekad untuk mencari uang agar bisa membeli tiket konser sekaligus tiket pesawat. Dengan konspirasi rumit antara kawan saya yang tinggal di Singapura, Yos, dengan kawan istri saya yang juga tinggal di Singapura, Dinda dan Sufi, akhirnya tiket konser Metallica seharga 151 $ itu terbeli juga. Untuk tiket pesawat, saya mendapatkan tiket Air Asia yang relatif murah dengan dibantu oleh Ibu Shinta yang memang bekerja di travel biro. Sementara itu Iqbal, sahabat saya sejak SMA dan Oji, adiknya, yang kebetulan satu band dengan saya, turut serta menonton konser yang diadakan di Changi Exhibition Centre tersebut. Tak lama kemudian, sekitar seminggu setelahnya, ada kabar bahwa Metallica juga tampil di Jakarta. Meski saya diejek oleh teman-teman karena dianggap tidak sabaran, tapi saya tidak peduli -toh, saya juga memang belum pernah ke Singapura. Jadi sekalian berkunjung saja-. 

Singkat cerita kami bertiga berangkat subuh-subuh tanggal 24 Agustus dan mendarat di Bandara Changi pagi sekitar pukul delapan waktu setempat. Karena hanya membawa uang secukupnya, kami memutuskan untuk datang di hari-H dan pulang keesokan paginya dengan tidur di bandara saja. Setelah sempat jalan-jalan sebentar, kami tiba di Changi Exhibition Centre pukul lima. Di sana sudah banyak orang berbaju hitam-hitam yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari anak muda hingga kakek-kakek. Panggungnya terletak di lapangan besar dengan udara terbuka. Kami menanti cukup lama dengan ditemani dua band pembuka (satu dari Singapura, satu lagi dari Kanada namanya Anvil). Mereka tidak cukup keren sehingga saya bisa tidur nyenyak di pinggir Section B.

Masuk pukul delapan, penonton yang tadinya di pinggir mulai merangsek ke tengah. Mereka mulai riuh meski cuma mendengar checksound dari kru panggung. Setelah lima belas menit lewat dari jadwal yang seharusnya, tiba-tiba kami dikejutkan oleh adegan film The Good, The Bad, and The Ugly yang dilatari oleh musik Ecstasy of Gold karya Ennio Morricone. Setelah lagu tersebut, penonton diberi hening sejenak sebelum layar raksasa di belakang panggung menampilkan wajah Lars Ulrich yang langsung menggebuk drum sebagai intro lagu Hit The Lights. Hetfield, Hammett, dan Trujillo kemudian bergabung dan menghentak para penonton yang histeris dengan lagu dari album Kill 'Em All tersebut. 

Soal kualitas penampilan Metallica, tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang bagaimana stamina dan kecepatan mereka masih prima meski rata-rata usia sudah hampir lima puluh. Lagu-lagunya pun tiada yang asing dan tentang bagaimana cara mereka memainkannya secara live, sudah lumayan saya hafal dari beberapa kali lihat via DVD atau Youtube. Sebenarnya ada yang lebih penting bagi saya secara personal dari konser Metallica kemarin, yaitu kenyataan bahwa saya tiba di suatu situasi yang saya idam-idamkan sejak kecil -Berada pada jarak beberapa ratus meter saja dari grup yang sudah memberi kekuatan bagi saya untuk menjalani hidup-. Saya berada pada sebuah fase usia dimana teman-teman sebaya sudah mulai menanggalkan mimpi-mimpinya yang terdalam -dan menggantinya dengan kalimat klise, "Kita udah seumur begini, kita harus realistis."-. Tapi saya belum menyerah. Saya masih mengagumi band yang sama dan tidak kehilangan sedikitpun kekuatan untuk mengejarnya. Mungkin suatu hari nanti semangat masa kecil saya akan luntur dan semakin bergerak ke arah kedewasaan yang membosankan. Tapi setidaknya saya tidak membebani anak saya kelak dengan ambisi orangtuanya yang tidak selesai. Saya mempersilakan mereka untuk menjadi apapun yang mereka mau, karena saya sudah mencapai apa yang saya mau. Terima kasih, Metallica!   

Continue reading

Rabu, 07 Agustus 2013

30hari30film: Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984)

30hari30film: Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984)
30 Ramadhan 1434 H


Barangkali film Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984) adalah film lokal yang paling banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia. Dari sejak kemunculannya di tahun 1984 hingga berakhirnya rezim pemerintahan Orde Baru di tahun 1998, film tersebut tidak pernah absen diputar setiap tanggal 30 September. Bahkan anak-anak sekolah di masa pemerintahan Soeharto diwajibkan menonton film yang disutradarai Arifin C. Noor tersebut. Sebagai film yang belakangan diganti statusnya menjadi film propaganda -alih-alih film sejarah-, pengaruhnya pun terbilang cukup sukses. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Tempo pada September tahun 2000, didapatkan data bahwa 1.110 pelajar SMA di tiga kota (Surabaya, Medan, dan Jakarta) menganggap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ajaran komunisme adalah hal yang sangat berbahaya.

Film Pengkhianatan G 30 S / PKI yang berdurasi hampir empat jam ini, bercerita tentang detail penculikan dan penyiksaan para Jenderal Angkatan Darat. Tidak hanya itu, diperlihatkan pula tetek bengek persiapan para anggota PKI beberapa hari menjelang tanggal 30 September 1965. Film ini menampilkan PKI sebagai partai yang bengis dan keji, baik secara personal orang per orang, maupun secara ideologis -Contohnya ketika mereka menyiksa para Jenderal disertai sorak sorai orang-orang berpesta sambil menyanyikan lagu Genjer-Genjer-. Kontras dengan kebiadaban PKI, sosok Pak Harto ditampilkan amat heroik dan tanpa cela. Ia bahkan dipamerkan sebagai pahlawan yang mengatasi kekisruhan nasional.

Meski berbau propaganda, film Pengkhianatan G 30 S / PKI adalah film yang berkualitas secara teknis. Arifin sangat pandai menciptakan ketegangan dan kegetiran yang timbul dari visualisasi berteknik tinggi. Contohnya, ketika para petinggi PKI melakukan rapat, Arifin hanya menyoroti gelas kopi yang saling dioper diantara mereka. Ini adalah suatu keputusan pengambilan gambar yang menarik agar penonton merasakan tensi tinggi dalam rapat revolusi tersebut. Jangan lupakan juga bagaimana anak dari Brigjen D.I. Pandjaitan yang mengusapi wajahnya sendiri dengan darah ayahnya yang baru saja ditembak. Adegan tersebut termasuk fenomenal dan konon gaya pengambilan gambar semacam itu belum pernah dilakukan oleh film manapun di Indonesia. Film Pengkhianatan G 30 S / PKI adalah film dengan dana besar dan dibuat untuk tujuan besar. Arifin berhasil mengejewantahkan keinginan pemerintah untuk menciptakan trauma serius pada masyarakat Indonesia akan komunisme, yang membekas bahkan hingga hari ini.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Barry Lyndon (1975)

30hari30film: Barry Lyndon (1975)
29 Ramadhan 1434 H


Barry Lyndon (1975) adalah film yang disutradarai oleh Stanley Kubrick, yang mengadaptasi novel berjudul The Luck of Barry Lyndon tahun 1844 dan ditulis oleh William Makepeace Thackeray. Barry Lyndon adalah filmnya yang kesepuluh dari total tiga belas film yang ia sutradarai sepanjang hidupnya. Berdurasi 184 menit, Barry Lyndon dibintangi oleh Ryan O'Neal, Marisa Berenson, dan Patrick Magee. Salah satu yang terkenal dari Barry Lyndon adalah visualisasi memukau yang ditampilkan oleh Kubrick. Pencahayaan alami, pemilihan kostum, interior ruangan, hingga pemajangan lukisan, membuat film yang mengambil latar di abad ke-18 ini tampak sangat artistik. 

Barry Lyndon bercerita tentang seorang pria bernama Redmond Barry (Ryan O'Neal) yang melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan status sosialnya. Perbuatannya ini bukannya tanpa dasar. Sedari kecil, ia sudah ditinggal ayahnya yang meninggal akibat duel pistol. Pada masa remaja, ia menyukai saudara sepupunya sendiri namun ditinggalkan begitu saja karena Barry dianggap tidak punya uang. Akhirnya Barry menikahi seorang kaya bernama Countess of Lyndon (Marisa Berenson). Pernikahannya ini, meski memberinya status sosial dan kemakmuran, mendapat tentangan dari Lord Bullingdon, anak dari Countess of Lyndon hasil pernikahan sebelumnya. Seiring dengan Lord Bullingdon yang bertambah dewasa, Barry semakin menyadari bahwa Lord Bullingdon dapat mengancam keberadaannya.

Mungkin saja kita bisa merasa bosan menyaksikan film panjang dan bertempo lambat ini. Namun hal itu dapat ditepis jika kita sungguh-sungguh memperhatikan kemampuan Kubrick dalam meramu estetika Barry Lyndon. Salah satu contohnya adalah ketika adegan di malam hari, Kubrick membiarkan penerangan dilakukan oleh lilin saja sehingga suasana remang-remang menjadi amat terasa. Di adegan lain, Kubrick juga membiarkan pencahayaan datang dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela, disertai latar belakang lukisan besar yang menakjubkan. Jangan lupa, seperti dalam film-film Kubrick pada umumnya, ia juga pandai memainkan musik klasik sebagai penguat impresi. Kali ini musik dari Bach, Vivaldi, Mozart, dan Schubert ikut menopang adegan demi adegan sehingga terasosiasikan demikian kuat dalam ingatan kita. Barry Lyndon ini adalah film yang amat artistik.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Pather Panchali (1955)

30hari30film: Pather Panchali (1955)
28 Ramadhan 1434 H



Pather Panchali dibuat dengan dana yang relatih rendah yakni US $ 3000. Tapi di tangan sutradara Satyajit Ray yang banyak terpengaruh oleh Neorealisme Italia, film yang berpusat pada seorang anak bernama Apu tersebut menjadi film yang berkualitas. Meski film tersebut adalah film pertamanya dan diperankan oleh aktor-aktor non-profesional, Pather Panchali -yang merupakan bagian pertama dari trilogi yang biasa disebut dengan Apu Trilogy-, meraup respon positif dan diakui oleh sutradara ternama Hollywood, Martin Scorsese, sebagai film favoritnya. Pather Panchali sering disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. 

Dengan kualitas visual yang seadanya, Pather Panchali bercerita tentang kehidupan Apu (Subir Banerjee) dan keluarganya yang miskin. Apu, bungsu dari dua bersaudara (kakaknya bernama Durga), dibesarkan oleh ayah yang bekerja sebagai pendeta tapi juga masih menyimpan harapan untuk menjadi pujangga. Meski pendapatan ayahnya tersebut kecil untuk menghidupi keluarga, namun Apu dan Durga tetap menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama. Film ini lambat laun menampakkan tragedinya ketika satu per satu anggota keluarga Apu meninggal. Apu dipaksa untuk mandiri menghadapi kenyataan demi kenyataan tersebut.

Pather Panchali adalah film dengan cerita yang relatif sederhana. Namun bagaimana Satyajit Ray menampilkan kesederhanaan tersebut, menjadi hal yang menarik untuk kita cermati. Gambar-gambar yang disajikan oleh Ray, meski hitam putih, dihadirkan sedemikian rupa sehingga tampak anggun dan puitik -Mengingatkan kita pada bagaimana teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh Akira Kurosawa-. Caranya melakukan montage, caranya melakukan mise en scène, menunjukkan bahwa Ray tidak terhambat oleh dana dan keamatiran pemainnya. Tidak dapat dipungkiri, film ini sangat penting untuk ditonton, terutama bagi mereka yang kadung mempunyai stereotip bahwa film India harus berisi tarian dan nyanyian.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Malcolm X (1992)

30hari30film: Malcolm X (1992)
27 Ramadhan 1434 H


Malcolm X (1992) adalah film yang menceritakan tentang biografi pejuang orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bernama Malcolm X. Film yang disutradarai oleh Spike Lee tersebut menampilkan akting Denzel Washington yang sangat baik dalam memerankan tokoh yang lahir di tahun 1925 ini. Film Malcolm X, yang berdurasi lebih dari tiga jam, cukup lengkap dalam menceritakan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan orang yang bernama asli Malcolm Little tersebut. 

Film dimulai dari bagaimana Malcolm Little digambarkan mempunyai masa kecil yang traumatik karena keluarganya yang berkulit hitam kerapkali diteror oleh kelompok rasialis bernama Ku Klux Klan. Ayah Malcolm digambarkan sebagai pendeta yang mengajak jemaatnya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Afrika. Katanya, Amerika Serikat bukanlah tempat yang aman bagi kita semua. Rupanya rasialisme yang diterima Malcolm sejak kecil ini membentuk kepribadiannya ketika beranjak dewasa. Ia berkarir di Nation of Islam dan bersama Elijah Muhammad, ia menjadi orator ulung dalam menyebarkan keyakinan bahwa seyogianya orang kulit hitam dipisahkan dari orang kulit putih -alih-alih dileburkan-. Malcolm Little kemudian mengganti namanya menjadi Malcolm X. Katanya, "X" menggantikan nama budak kami sebelumnya. Nanti suatu saat ketika kami sudah merdeka dan hidup di tanah Afrika, "X" akan kami ganti dengan nama baru yang menunjukkan kemerdekaan kami. 

Rupanya tidak mudah untuk menggambarkan potret seorang Malcolm X di tengah kehidupannya yang cukup kontroversial. Ketika dirilis filmnya, Spike dan Denzel konon sudah mengantongi paspor untuk bersiap jika suatu hari mereka harus keluar dari Amerika Serikat karena mendapat tekanan dari film tersebut. Film Malcolm X tentu saja harus dilengkapi pengetahuan sejarah yang lebih komprehensif agar bisa dinikmati secara menyeluruh. Namun kita bisa melupakan itu semua ketika melihat bagaimana akting Denzel yang sempurna, seolah-olah menjadi Malcolm yang sebenarnya. 

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Superman: The Movie (1978)

26 Ramadhan 1434 H


Superman: The Movie (1978) adalah film tentang Superman, tokoh ciptaan Jerry Siegel dan Joe Shuster yang terlebih dahulu terkenal lewat komik. Tokoh Superman sudah malang melintang sejak tahun 1938. Meski demikian, ia baru mampu diwujudkan di layar kaca lima puluh tahun kemudian dengan Christopher Reeves berperan sebagai Superman -tentunya penantian lima puluh tahun ini terkait dengan pertimbangan teknologi-. Superman: The Movie disutradarai oleh Richard Donner dan skenarionya ditulis oleh Mario Puzo, David dan Leslie Newman, Robert Beriton, dan Tom Mankiewicz. Selain Christopher Reeve, Marlon Brando dan Gene Hackman ikut berperan sebagai Jor-El dan Lex Luthor.

Superman: The Movie diawali dari keadaan Planet Krypton yang berada di ujung kehancuran. Salah seorang penghuninya, Jor El (Marlon Brando), sempat menyelamatkan anaknya yang masih kecil, Kal El, dengan mengirimkannya ke Planet Bumi sebelum Planet Krypton akhirnya musnah. Di Bumi, Kal El mempunyai nama Clark Kent dan dibesarkan oleh pasangan yang kebetulan menemukannya, Jonathan dan Martha Kent. Karena mempunyai kekuatan super melebihi manusia lainnya, ia menjadi penyelamat bagi segala persoalan besar yang menimpa kota tempat tinggalnya, Metropolis. Meski mempunyai kekuatan amat kuat, Superman mendapat kesulitan ketika harus berhadapan dengan seorang ilmuwan bernama Lex Luthor (Gene Hackman).

Superman: The Movie adalah film dengan efek visual yang canggih -tidak hanya untuk jamannya, tapi juga dalam kacamata hari ini-. Adegan Superman terbang bersama dengan Lois Lane, wanita yang disukainya, di atas Kota Metropolis, masih adegan yang spektakuler. Hanya saja film ini terlalu sempurna untuk Superman. Ia begitu berkuasa penuh dan segalanya mudah di tangannya. Hal ini mungkin tidak masalah bagi mereka yang datang menyaksikan Superman: The Movie untuk menemukan hal-hal yang menyenangkan dari awal hingga akhir. Tapi bagi mereka yang ingin sedikit bumbu konflik dan teka-teki, Superman: The Movie tidak sanggup menyuguhkan itu. 

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Senin, 05 Agustus 2013

30hari30film: The Beach (2000)

30hari30film: The Beach (2000)
25 Ramadhan 1434 H


The Beach (2000) adalah film yang disutradarai oleh Danny Boyle dan bercerita tentang kehidupan di sebuah pantai "rahasia". Di pantai tersebut, sebuah komunitas kecil hidup sebagai bentuk pelarian dari kehidupan perkotaan yang menjemukan. Film yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio, Virginie Ledoyen dan Guillaime Canet ini mengambil latar di Pulau Phi-Phi di wilayah Phuket, Thailand. 

Motivasi Richard (Leonardo di Caprio) menyeberang ke pantai rahasia tersebut diawali dari keinginannya untuk bertualang di Thailand. Ia menginginkan sebuah petualangan yang benar-benar menantang dan tidak ditopang oleh rasa aman. Keinginannya ini terjawab lewat peta yang diberikan oleh Daffy (Robert Carlyle). Setelah memberikan peta, Daffy bunuh diri dan meninggalkan rasa penasaran dalam diri Richard untuk benar-benar menemukan pulau yang tertera dalam peta tersebut. Ia mengajak kedua turis lainnya, Françoise (Virginie Ledoyen) dan Étienne (Guillaime Canet) untuk ikut menyeberang bersamanya. Ternyata pantai yang diidam-idamkan tidak sesepi yang mereka kira. Ada komunitas yang sudah terlebih dahulu bermukim. Mereka bertiga kemudian mencoba tinggal, beradaptasi, hingga akhirnya merasakan sejumlah keganjilan.

Film ini adalah film yang cukup bermuatan filosofis. Kita diajak untuk merenungkan apa sesungguhnya hakikat dari berkumpul bersama sesama manusia. Komunitas yang tinggal di pantai tersebut pada mulanya bertujuan untuk lepas dari kejenuhan hidup di perkotaan. Namun pelarian tersebut ternyata menciptakan suatu kecenderungan-kecenderungan sosial yang tidak baru sama sekali. Mereka, sebagaimana orang modern di perkotaan pada umumnya, pada akhirnya tetap tumbuh menjadi pribadi yang individualistik dan seperti kata Hobbes, menjadi homo homini lupus (manusia sebagai serigala bagi yang lainnya). Meski punya bahan untuk direnungkan, The Beach bukanlah film yang spesial.

Rekomendasi: Bintang Dua
Continue reading

30hari30film: Metal: A Headbanger's Journey (2005)

24 Ramadhan 1434 H



Metal: A Headbanger's Journey adalah film dokumenter yang bercerita tentang musik metal. Segala tetek bengek tentang musik yang konon dipelopori oleh Black Sabbath tersebut, dibahas oleh Sam Dunn dari aspek keilmuannya sebagai seorang antropolog. Sam, yang menyukai musik metal sejak usia dua belas tahun, mengajak penonton untuk mengenali bahwa metal adalah sebentuk identitas kultural -yang dalam konteks urban bisa dianggap sebagai sebuah kebudayaan tersendiri-. 

Dalam Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."

Sesuai apa yang diutarakan oleh Sam, film tersebut memang berhasil memberikan berbagai sudut pandang tentang musik metal. Antropolog tersebut berupaya menjawab stereotip-stereotip yang kadung melekat pada musik metal mulai dari tentang kultur, sensor lirik, isu-isu kematian, hingga pemujaan terhadap setan. Meski beberapa stereotip yang melekat tersebut memang ada benarnya setelah dikonfirmasi via wawancara (seperti Gaahl dari band Gorgoroth yang ia mengaku terinspirasi oleh setan), tapi juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa citra seram yang ditampilkan sesungguhnya tidak lebh dari aksi panggung dan luapan sensasi semata. Film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey adalah film yang cukup penting bukan saja bagi mereka penggemar musik metal, tapi juga bagi mereka yang hendak bersentuhan untuk pertama kalinya sehingga tidak mispersepsi terhadap kondisi sosio-kulturalnya yang cukup kompleks. 

Rekomendasi: Bintang Empat


Continue reading

Jumat, 02 Agustus 2013

30hari30film: Wedding Dress (2009)

30hari30film: Wedding Dress (2009)
23 Ramadhan 1434 H


Wedding Dress (2009) adalah film Korea (Selatan) lainnya yang bertema tragedi. Disutradarai oleh Kwon Hyeong-Jin, film ini bercerita tentang seorang anak bernama So-ra (Kim Hyang Gi) yang menghabiskan waktu bersama ibunya, Go-eun (Song Yun Ah), di hari-hari terakhir hidupnya. Sejak sang ibu divonis kanker rahim, hubungan keduanya berubah menjadi jauh lebih erat. Tadinya, Go-eun lebih banyak menghabiskan waktu di pekerjaannya sebagai perancang gaun sedangkan So-ra lebih sering diurus oleh bibinya. 

Wedding Dress adalah film yang menarik karena kita dimanjakan oleh akting Kim Hyang Gi yang sanggup menampilkan sisi jenaka dan memilukan sekaligus. Meski pemicu konflik sebenarnya terletak pada penyakit yang diderita oleh sang ibu, namun yang menjadi sentral film adalah bagaimana dinamika perasaan So-ra ditampilkan. Kita bisa jadi merasa sedih bukan disebabkan oleh kepergian Go-eun, melainkan bagaimana seorang So-ra, yang lugu, menyikapi tragedi ini dengan ketegaran. 

Film ini sedikit banyak mengingatkan pada Life is Beautiful karya sutradara Roberto Benigni. Keduanya punya kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai tema "ketegangan" antara bagaimana seorang dewasa mengatasi ketragisan hidupnya, dengan kenyataan bahwa dalam waktu bersamaan ia harus menjelaskan problem tersebut pada anaknya dengan bahasa yang bijaksana. Ketegangan semacam ini bisa jadi merupakan "formula kesedihan" yang laku dijual. 

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah
Continue reading

Kamis, 01 Agustus 2013

30hari30film: Death Proof (2007)

30hari30film: Death Proof (2007)
22 Ramadhan 1434 H


Death Proof adalah film yang disutradari oleh Quentin Tarantino dan ambil bagian dalam paket bernama Grindhouse. Dalam paket Grindhouse tersebut, selain Death Proof, terdapat film lain yakni Planet Terror yang disutradarai oleh Robert Roriguez -agaknya Tarantino dan Rodriguez meniru gaya pemutaran jaman dahulu yang sering memaketkan dua film dalam satu pertunjukkan-. Keduanya sama-sama film yang tidak mementingkan isi cerita. Mereka berdua sebagai sutradara "spesialis B-movie" sedang ingin bermain-main dengan segala aspek yang biasa ada di film-film kelas dua seperti titik berat pada seks dan kekerasan. Hal tersebut kemudian ditunjang dengan visualisasi yang sengaja dibuat buruk seolah-olah film berkualitas rendah.

Death Proof bisa saja dikategorikan sebagai slasher film karena berkaitan dengan pembunuhan demi pembunuhan saja. Tapi kejeniusan Tarantino terlihat dari bagaimana ia menciptakan figur pembunuh berantai yang tidak umum. Alih-alih dengan senjata seperti pisau atau kail, pembunuh dalam film Death Proof yakni Stuntman Mike (Kurt Russell) menggunakan mobil Chevy Nova SS 396 tahun 1971 sebagai alat penjagalnya. Seperti pada umumnya slasher film, sasaran Stuntman Mike juga perempuan-perempuan muda dan cantik yang sedang bersenang-senang.

Barangkali bagi mereka yang tidak tahu karakteristik film-film Tarantino, Death Proof akan benar-benar dianggap sebagai film berkualitas rendah. Namun bagi mereka yang sudah kenyang bagaimana Tarantino berkreasi di film-filmnya seperti Reservoir Dogs, Pulp Fiction, Jackie Brown dan Kill Bill, pasti tahu bahwa segala "kejelekan" yang dibuat dalam Death Proof dilakukan dengan penuh kesengajaan. Tarantino sukses menjadi sutradara yang seolah-olah anti-art karena menyuguhkan estetika yang jauh dari arus besar film-film Hollywood. 

Rekomendasi: Bintang Dua


Continue reading

30hari30film: Jackie Brown (1997)

30hari30film: Jackie Brown (1997)
21 Ramadhan 1434 H


Jackie Brown adalah film ketiga yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Tarantino, seperti biasa, menyukai tema kriminal dan kekerasan yang ditampilkan dengan visualisasi a la film "kelas B". Meski terkesan murahan, film-film Tarantino tidak lantas kehilangan pengakuan baik dari penggemar maupun kritikus. Terbukti Jackie Brown meraih keuntungan besar secara finansial dan salah satu aktornya, Robert Forster, dinominasikan meraih Piala Oscar tahun 1998 untuk Aktor Pendukung Terbaik.

Jackie Brown bercerita tentang Jackie Brown (Pam Grier), perempuan yang berupaya untuk menyelundupkan uang pada pedagang senjata bernama Ordell Robbie (Samuel L. Jackson). Kemudian situasi menjadi pelik ketika Jackie tertangkap oleh detektif bernama Ray Nicolet (Michael Keaton) dan Mark Dargus (Michael Bowen). Ia menjadi bagian dari permainan besar antara Ordell, Ray dan Mark sendiri, plus Max Cherry (Robert Forster) dan Louis Gara (Robert de Niro). Upaya transaksi antara Jackie dan Ordell yang harusnya sederhana dan cepat, menjadi rumit dan berdarah.

Jackie Brown, sebagaimana film Tarantino, punya kekuatan salah satunya pada dialog. Dialog yang dimaksud bukan dialog yang penuh makna, melainkan justru dialog yang seolah-olah spontan dan terjadi dalam keseharian -istilah gampangnya, Tarantino lancar sekali menampilkan bagaimana orang saling mengobrol itu apa adanya-. Jackie Brown juga merupakan bukti kelihaian Tarantino tidak hanya dalam urusan penyutradaraan tapi juga penulisan skenario. Melihat estetikanya di awal film yang terkesan murahan, kita mungkin akan mengira Jackie Brown adalah film simpel yang tidak jauh dari urusan kriminal dan kekerasan. Mungkin sisi itu ada benarnya, tapi nilai seni yang ditawarkan Tarantino pun tidak kalah tingginya -secara visual, akting, dan pengembangan cerita yang menjadi rumit-.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading