Sunday, July 14, 2013

30hari30film: Sad Movie (2005)

7 Ramadhan 1434 H


Ketika seorang sutradara memutuskan untuk memberi judul film semacam "Sad Movie", "Scary Movie", atau "Funny Movie" ia pasti akan berhadapan dengan ekspektasi dari penonton. Misalnya, jika judulnya Funny Movie, tentu film itu mutlak harus lucu -kecuali jika mau diparodikan seperti satu film judulnya Scary Movie yang justru tidak menyeramkan sama sekali-. Maka itu pertama-tama pemberian judul Sad Movie pada film Korea (Selatan) tahun 2005 yang disutradarai Kwon Jong-kwan harus diberi acungan jempol. Artinya, ia harus siap menerima konsekuensi penonton yang kecewa jika film tersebut ternyata tidak menyedihkan.

Terdapat beberapa cerita dalam Sad Movie -meski sifatnya bukan potongan-potongan seperti gaya Alejandro González Iñárritu-. Pertama adalah kisah remaja laki-laki yang diputus cintanya oleh pasangannya karena ia tak kunjung mendapat pekerjaan. Kedua adalah kisah perempuan tuna wicara yang bekerja sebagai orang di balik boneka Snow White, yang ia mengalami jatuh cinta pada laki-laki di taman yang senang menggambar. Ketiga adalah cerita ibu dan anak yang hubungan keduanya tidak terlalu akrab. Sang ibu tidak menaruh perhatian besar pada anaknya, sampai kemudian sakit yang mendera sang ibu merubah cara pandangnya. Terakhir adalah kisah asmara yang barangkali terlihat paling tidak ada masalah, yakni pasangan sejoli yang mana pihak laki-laki tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melamar si perempuan.

Akibat dari judulnya, maka ada ekspektasi tentang kapan segala peristiwa di atas akan membawa pada kesedihan. Bagi saya pribadi, sutradara Jong-kwan kemudian berhasil membuat ujung dari empat kehidupan manusia tersebut menjadi tragis -Sebagaimana film Love Actually yang hendak menunjukkan bahwa cinta ada dimana-mana tanpa kenal ruang dan waktu, maka film Sad Movie juga hendak menunjukkan bahwa ketragisan ada dimana-mana tanpa kenal ruang dan waktu-. Bagi yang hendak melengkapi warna dalam hidupnya agar lebih melodramatis, film ini boleh saja jadi rujukan. Tapi jika hendak mencari film yang memberikan pelbagai sensasi rasa, film ini terlalu monotoni.

Rekomendasi: Bintang Dua

Previous Post
Next Post

0 comments: