Rabu, 31 Juli 2013

30hari30film: Brazil (1985)

20 Ramadhan 1434 H


Terry Gilliam, sutradara film Brazil (1985), adalah anggota grup komedi terkenal asal Inggris bernama Monty Python. Kegilaannya tersebut tidak hanya disalurkan lewat Monty Python, melainkan juga melalui film-film yang ia sutradarai sejak tahun 1975. Hampir keseluruhan filmnya mengambil tema fantasi, futuristik, psikedelik, dan surealistik -tentu saja termasuk Brazil, filmnya yang keempat-. Film yang dibintangi oleh Jonathan Pryce, Robert de Niro, Kim Greist, dan Michael Palin ini mengambil tema masa depan yang distopis.

Film Brazil berpusat pada Sam Lowry (Jonathan Price) yang berupaya mencari perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya. Mimpinya tersebut menjadi semacam pelarian dari hidupnya yang berat: Bekerja di pangkat rendah, keadaan rumah yang mengkhawatirkan, dan situasi kota yang kompleks. Lowry punya peluang untuk menemukan perempuan dalam mimpinya yang diketahui bernama Jill Layton (Kim Greist), dengan bekerja pada kantor informasi. Lowry, di tengah-tengah geliat perkotaan yang absurd, kemudian mengejar Jill hingga ke ke dunia nyata.

Brazil, meski terdengar sederhana ceritanya, namun sebenarnya tidak terlalu mudah dimengerti. Gilliam agaknya lebih banyak bermain dengan visualisasi yang sureal sambil memberikan tekanan pada dunia masa depan yang jauh dari kegemerlapan dan harapan. Meski punya unsur komedi, namun sebagaimana Monty Python, candaannya lebih bernuansa gelap dan satir. Kita tahu seorang Gilliam, seperti dalam film lainnya macam The Adventures of Baron Munchausen, Fear and Loathing in Las Vegas, atau The Imaginarium of Doctor Parnassus, punya gaya mise-en-scene yang unik sehingga apa yang ditampilkannya punya kesan halusinatif dan dream-like. Film ini istimewa karena gaya Gilliam yang spesial dan rasa humornya yang kelam.

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Senin, 29 Juli 2013

30hari30film: For a Few Dollars More (1965)

19 Ramadhan 1434 H


For a Few Dollars More (1965) adalah film yang disutradarai oleh Sergio Leone dan merupakan bagian kedua dari trilogi yang disebut sebagai Dollars Trillogy - yang pertama berjudul A Fistful of Dollars, yang ketiga berjudul The Good, The Bad, and The Ugly-. Trilogi yang ketiganya menampilkan Clint Eastwood sebagai Koboi Tanpa Nama tersebut sering disemati label genre bernama spaghetti western. Spaghetti western berarti film "koboi rasa Italia" -merujuk pada kualitas film koboi yang mumpuni seringkali justru ada di tangan sutradara Italia daripada Amerika!-. Ketiga film tersebut selain dikenal karena akting Eastwood yang epik, juga disebabkan oleh musik garapan Ennio Morricone yang untuk ukuran masa itu terbilang mutakhir.

For a Few Dollars More, sebagaimana film koboi pada umumnya, tidak punya cerita yang istimewa. Isinya seputar uang, bandit, perempuan, sheriff, pembunuh bayaran, serta adegan tembak-tembakan. Ceritanya adalah tentang dua orang koboi, Monco (Clint Eastwood) dan Kolonel Douglas Mortimer (Lee Van Cleef) yang bekerjasama untuk menangkap penjahat bernama El Indio dengan iming-iming hadiah $ 10.000. Mereka berdua berpikir, bahwa untuk mengalahkan El Indio dan empat belas anak buahnya, harus ada yang menyusup dari dalam dan menjadi bagian dari geng bandit tersebut. Akhirnya Monco yang diputuskan untuk menjadi penyusup di geng El Indio dan berpura-pura untuk ikut serta membobol bank di El Paso. 

Spaghetti western barangkali tidak mempunyai titik berat pada cerita. Para sutradara Italia ini semisal Sergio Leone dan Sergio Corbucci (Django) sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis dan heroik. Cara Leone dalam membangun suspens sebelum gun fight digelar adalah ciri khas yang barangkali hanya terjadi di film-film "koboi rasa Italia". Kita tahu Leone sangat terinspirasi oleh bagaimana Akira Kurosawa menyutradarai sekumpulan film samurai yang adegan demi adegannya tersajikan dengan amat puitik. For A Few Dollars More sekilas seperti film murahan yang tidak punya tempat di sinema hari ini yang penuh dengan kompleksitas cerita dan permainan visual yang ruwet. Tapi sebenarnya karya Leone tersebut punya karakteristik yang tak tergantikan.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Project X (2012)

30hari30film: Project X (2012)
18 Ramadhan 1434 H


Project X (2012) adalah film komedi yang disutradarai oleh Nima Nourizadeh. Film tersebut bercerita tentang tiga orang bernama Thomas (Thomas Mann), Costa (Oliver Cooper), dan J.B. (Jonathan Daniel Brown) yang mengadakan pesta dalam rangka ulang tahun Thomas, namun kemudian berujung pada kerusuhan massal yang melibatkan media, polisi, hingga tim taktis (SWAT). Project X menarik karena menggunakan first person view. Kita, para penonton, menyaksikan pesta ulang tahun Thomas lewat kamera dari Dax yang juga terlibat dalam pesta. Memang jadinya Project X terasa seperti film yang dibuat secara sederhana, namun justru hal tersebut memberikan efek realistis, seolah-olah pesta ulang tahun Thomas tersebut benar-benar terjadi dan direkam oleh handycam.

Namun mungkin efek kamera itu adalah satu-satunya yang menjadi kelebihan Project X. Sisanya, film tersebut tidak punya sesuatu yang dapat disebut sebagai istimewa. Ceritanya standar, tentang kegilaan anak muda yang mengadakan pesta di luar kendali. Kita bisa bayangkan: ada banyak perempuan seksi, ada adegan seksual, ada banyak orang mabuk, ada kehancuran disana dan disini. Konfliknya pun tidak istimewa: Kenyataan bahwa rumah yang digunakan untuk pesta adalah rumah orangtuanya yang sedang tidak ada di tempat, lalu ketidaksetujuan para tetangga yang rumahnya terkena bising, serta sedikit bumbu-bumbu romansa yang tidak berkualitas. Film ini sama sekali tidak direkomendasikan kecuali sedang ingin tertawa sejenak dan sudah itu dilupakan selamanya.

Rekomendasi: Bintang Satu

Continue reading

Jumat, 26 Juli 2013

30hari30film: Ben-Hur (1959)

30hari30film: Ben-Hur (1959)
17 Ramadhan 1434 H


Ben-Hur (1959) adalah film tentang seorang Yahudi bernama Judah Ben-Hur (Charlton Heston). Petualangan Ben-Hur tersebut bermula dari ia menjadi budak di kapal perang Romawi hingga kemudian ia sanggup bangkit menantang Messala, seorang Roma, untuk bertarung di arena balapan kereta perang (chariot). Petualangan tersebut digambarkan oleh sutradara William Wyler dalam durasi 3 jam 31 menit. Tak hanya mengenai Judah Ben-Hur dan aksi-aksinya, film Ben-Hur juga mengandung pesan religius yang kuat berkaitan dengan Kristianitas (Ben-Hur hidup di masa Yesus Kristus hidup dan ia menyaksikan sendiri penyaliban Sang Mesias).

Ben-Hur meraih 11 Piala Oscar dan hanya bisa ditandingi puluhan tahun kemudian oleh Titanic (1997) dan The Lord of The Rings: The Return of The King (2003). Film yang dibuat berdasarkan novel berjudul Ben-Hur: A Tale of The Christ karangan Lew Wallace tersebut merupakan film dengan biaya produksi termahal pada jamannya. Komposisi musik dari Miklós Rózsa ikut melengkapi film Ben-Hur yang konon dibuat sebagai bentuk jawaban atas tuduhan terhadap film-film Hollywood yang pada masa itu dianggap tidak mendidik.

Ben-Hur -meski barangkali sulit untuk dikonsumsi oleh generasi penikmat film hari ini oleh sebab durasinya yang amat panjang- merupakan salah satu film terpenting dalam sejarah sinema Hollywood. Adegan pertarungan chariot antara Ben-Hur dan Messala ditampilkan dengan spektakuler dan memikat tidak hanya bagi jamannya saja, tapi mungkin juga oleh kita yang menyaksikannya sekarang. Tema biblikal yang diusungnya pun dibuat sedemikian rupa agar muncul sedikit saja dalam film tapi mengena. Film ini mungkin terlalu naif bagi mereka yang tidak berminat dengan tema-tema religius. Tapi lepas daripada dogma yang ditawarkannya, secara estetika, Ben-Hur masuk kategori film yang harus ditonton.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

Kamis, 25 Juli 2013

30hari30film: Spiklenci Slasti (1996)

30hari30film: Spiklenci Slasti (1996)
16 Ramadhan 1434 H


Spiklenci Slasti (1996) atau Conspirators of Pleasure adalah film tanpa dialog yang disutradarai oleh seorang Ceko bernama Jan Švankmajer. Film ini bercerita tentang beberapa orang yang mempunyai kebiasaan ganjil dalam memenuhi hasrat seksualnya. Meski demikian, Švankmajer tidak sedang menampilkan pornografi. Tanpa pemandangan penis atau vagina, film Spiklenci Slasti sanggup menampilkan bagaimana orang-orang tersebut dipuaskan dengan benda-benda yang dikonstruksinya sendiri.

Pivonka, ia menikmati menjadi seseorang yang berkuasa di hadapan gadis yang disandera. Berkebalikan dengannya, Loubalová senang menjadi bos akan laki-laki yang tak berdaya di hadapan pecutnya. Sementara seorang detektif bernama Beltinsky punya cara tersendiri untuk memuaskannya, yakni dengan bulu dan benda-benda tajam. Malková, si perempuan tukang pos, senang memasukkan roti yang sudah ia comoti dan dibentuk menjadi bulatan kecil, ke telinga dan hidungnya. Penjual majalah bernama Kula diam-diam ia menyimpan hasrat pada pembaca berita bernama Beltinska. Setiap ia sedang membacakan majalah, Kula melakukan zoom-in agar wajahnya lebih jelas. Sementara Beltinska, si pembaca berita, mendapatkan kepuasan lewat ikan-ikan yang dibiarkan mengisap jari-jari kakinya. Keseluruhan tokoh dalam cerita ini punya keterkaitan satu sama lain.

Spiklenci Slasti adalah film yang cukup menarik karena sorotan yang cukup detail ketika orang-orang tersebut sedang membangun alat pemuat hasratnya. Švankmajer tampak sepaham dengan Freud tentang bagaimana sesungguhnya alam bawah sadar manusia adalah semata-mata tentang hasrat. Bedanya, terdapat orang-orang tertentu yang begitu menikmati rangsangan-rangsangan seksual yang oleh orang kebanyakan dianggap menyakitkan -seringkali disebut dengan BDSM atau Bondage, Discipline, Sadism, Masochism-. Spiklenci Slasti mengajak kita untuk lebih dekat dan lebih ekstrim melihat bagaimana perilaku BDSM tersebut dengan gaya yang artistik dan jauh dari kesan menjijikkan.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

Rabu, 24 Juli 2013

30hari30film: Memento (2000)

30hari30film: Memento (2000)
15 Ramadhan 1434 H


Christopher Nolan adalah sutradara yang sukses membuat tiga film Batman terakhir (Batman Begins, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises) menjadi lebih psikologis ketimbang laga-sentris. Yang demikian ternyata memang merupakan ciri khas Nolan dari sejak sebelum menggarap Batman. Dari sejak tiga film pertamanya yakni Following, Memento, dan Insomnia, Nolan memang akrab dengan gaya psychological thriller yang membuat penonton lebih tertarik pada apa yang ada di dalam alam pikiran para pemain ketimbang apa yang dilakukannya.

Memento (2000) adalah film yang berpusat pada Leonard Shelby (Guy Pearce), seorang pria yang bermasalah dengan memorinya -kerap mengalami kelupaan akan apa-apa yang sudah ia lakukan di hari sebelumnya-. Leonard, dengan keterbatasan ingatannya, berupaya membalas dendam pada orang yang membunuh istrinya. Untuk mengatasi penyakitnya tersebut, Leonard mencatat segala hal yang perlu ia ingat dari mulai dengan foto, nota, hingga tato di tubuhnya. 

Dengan gaya penceritaan yang melompat-lompat, Nolan menciptakan suatu efek psikologis yang serius tentang memory loss. Ia ingin agar tidak hanya Leonard yang mengalami keterbatasan ingatan tersebut, melainkan penonton juga ikut diajaknya. Di film Memento, kita akan menyaksikan betapa cepatnya Nolan mengalihkan satu adegan ke adegan lain di ruang dan waktu yang berbeda. Lompatan demi lompatan ini sama sekali tidak menimbulkan efek gembira. Justru kita diajak menyelami palung kejiwaan yang terdalam dari sang protagonis. Film-film Nolan mungkin tidak akan mudah dipahami kebanyakan orang, tapi -sebagaimana sutradara berkarakter lainnya- jelas ia mempunyai penggemar fanatiknya sendiri.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading

30hari30film: Coffee and Cigarettes (2003)

30hari30film: Coffee and Cigarettes (2003)
14 Ramadhan 1434 H


Coffee and Cigarettes (2003) adalah film garapan sutradara Jim Jarmusch yang isinya terdiri dari sebelas film pendek dengan warna hitam putih. Kesebelas film yang masing-masing berjudul Strange to Meet You, Twins, Somewhere in California, Those Thing's Kill Ya, Renée, No Problem, Cousins, Jack Shows Meg His Tesla Coil, Cousins?, Delirium, dan Champagne sama-sama menjadikan kopi dan rokok sebagai latar percakapannya. Nama-nama terkenal semisal Roberto Benigni, Bill Murray, Tom Waits, Iggy Pop, Cate Blanchett, Jack White, Alfred Molina dan Steve Coogan ikut ambil bagian dalam Coffee and Cigarettes yang isinya lebih didominasi dialog yang absurd dan nihilistik a la Jarmusch.

Tidak ada yang kelihatan istimewa dalam film Coffee and Cigarettes. Isinya hanya tentang orang-orang yang duduk berbincang ditemani kopi dan rokok. Topik-topik yang dibicarakan mereka adalah hal yang remeh temeh dan tidak serius sama sekali. Misalnya, tentang dua orang kawan yang berjumpa tapi tidak ada yang mau dibicarakan dan hanya rindu saja; tentang dua orang tua yang satu mengingatkan bahaya rokok sedangkan satu lagi enggan mendengarkan; tentang dua orang yang merayakan berhentinya mereka dari rokok dan kopi dengan cara merokok dan meminum kopi; tentang pelayan yang terus menerus ingin mengisi kopi seorang perempuan yang duduk sendiri di kafé dalam rangka menarik perhatiannya, dan sebagainya.

Jarmusch, seperti biasa, punya kesenangan untuk menampilkan keseharian dengan segala absurditasnya. Ia tidak sedang menggurui kita mengenai suatu filsafat mendalam yang terkandung dalam kopi dan rokok. Coffee and Cigarettes menampilkan kopi dan rokok apa adanya ia dalam keseharian kita -yang justru menimbulkan renungan bagaimana sebenarnya kedua benda tersebut berkontribusi untuk mengisi jeda diantara dua orang yang berjumpa-.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

Selasa, 23 Juli 2013

30hari30film: The Doors (1991)

30hari30film: The Doors (1991)
13 Ramadhan 1434 H



Jim Morrison adalah ikon musik rock yang masuk dalam jajaran Klub 27 -adalah mereka yang meninggal di usia 27 tahun semacam Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Kurt Cobain-. Tidak hanya kematiannya di usia muda dan masa jaya yang membuat ia dikenang, melainkan juga karya-karya puitiknya yang diekspresikan melalui kelompok musik The Doors. Morrison adalah seseorang yang dipuja sekaligus dibenci. Ia dipuja karena kejeniusan dalam merangkai kata plus aksi panggung yang memikat, tapi ia juga dibenci karena ketidakmampuannya mengontrol diri akibat ketergantungan pada alkohol maupun obat-obatan. Hal yang terakhir ini yang menjadi titik berat film The Doors yang disutradari oleh Oliver Stone. Ia ingin menunjukkan sisi kehidupan Morrison yang menjadi pesakitan -yang membuat film tersebut justru kurang disukai oleh para personil The Doors seperti Manzarek, Krieger, dan Densmore-.

Film The Doors berpusat pada kehidupan Morrison (Val Kilmer) dari mulai ia mendirikan band The Doors hingga kematiannya. Dalam film berdurasi 2 jam 20 menit tersebut, yang dominan disorot adalah bagaimana ketergantungan Morrison pada alkohol dan obat-obatan membuat reputasi ia dan bandnya merosot perlahan-lahan. Morrison lebih banyak digambarkan sebagai pembuat onar -seperti misalnya kala di atas panggung, beberapa kali penampilan bandnya harus diakhiri sebelum waktunya karena sang vokalis terlalu mabuk-. Hubungannya dengan pacarnya, Pamela Courson (Meg Ryan), rekan-rekan satu band, produser rekaman, hingga polisi menjadi runyam akibat ketidakmampuan Morrison dalam mengendalikan diri.

Meski seperti lebih banyak menyoroti citra negatif dari Morrison -fakta yang ditolak oleh rekan-rekan bandnya-, namun film The Doors tetap merupakan karya Stone yang menarik. Pertama, akting dari Kilmer sangat baik dalam mengimitasi sang bintang. Kedua, adalah bagaimana Stone tampak asyik bermain dengan sorotan kamera yang goyang dan tidak stabil. Agaknya hal tersebut ditujukan untuk memberikan efek psikedelik agar sesuai dengan musik The Doors dan juga perasaan Morrison yang selalu berada di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan. Namun bagi mereka yang tidak mengenal Morrison dan The Doors, mungkin film ini akan kurang berkesan.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading

Minggu, 21 Juli 2013

30hari30film: Rear Window (1954)

30hari30film: Rear Window (1954)
12 Ramadhan 1434 H


Bukan Alfred Hitchcock namanya, jika film garapannya tidak membuat penonton tertegun lama pasca layar ditutup. Rear Window (1954), sebagaimana umumnya karya-karya Hitchcock, film yang diperkuat oleh akting James Stewart dan Grace Kelly ini memberi siksaan ketegangan maupun kepenasaranan nyaris di sepanjang filmnya yang berdurasi satu jam 49 menit. Ending dari film kemudian tidak memberikan suatu kesempatan bagi audiens untuk menghela napas. Ada perasaan sesak karena jawaban yang sama sekali tidak memuaskan.

Rear Window bercerita tentang seorang fotografer bernama L.B. "Jeff" Jefferies (James Stewart) yang mengalami kecelakaan ketika ia memotret balapan mobil. Akibat kecelakaan tersebut, satu kakinya harus digips dan ia tidak bisa banyak beraktifitas. Satu-satunya hal yang menghibur ia setiap hari adalah memandangi aktivitas tetangga-tetangganya di seberang yang banyak diantaranya membiarkan kaca depannya terbuka sehingga mudah untuk diamati. Jeff kemudian menemukan kejanggalan pada tetangganya yang bernama Lars Thorwald. Jeff dan kekasihnya, Lisa Fremont (Grace Kelly), memutuskan untuk mengikuti kecurigaan mereka dengan lebih intensif mengamati Thorwald yang mereka duga telah menghilangkan nyawa istrinya sendiri. 

Rear Window, meski secara permukaan tampak sederhana, namun ternyata mengundang sejumlah analisis termasuk dari sutradara pelopor gaya French New Wave, François Truffaut yang melihat film tersebut sebagai simbol antara audiens dan layar sinema. Ada pula yang menginterpretasikan bahwa tetangga-tetangga yang dilihat oleh Jeff adalah representasi bawah sadarnya -Para analis Hitchcock kerap mengaitkan film-filmnya dengan psikoanalisis termasuk di antaranya Psycho dan The Birds-. Rear Window adalah film yang bisa dinikmati oleh publik luas dari mulai yang awam film hingga yang senang berkerut kening. 

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Jumat, 19 Juli 2013

30hari30film: The Intouchables (2011)

30hari30film: The Intouchables (2011)
11 Ramadhan 1434 H


Ketika memasuki adegan pembuka, saya mengira ini film serius atau bahkan absurd -sebagaimana umumnya sutradara Prancis yang cukup berani mengumbar absurditas-. Namun ketika film memasuki satu jam dan tidak ada satupun tendensi ke arah kerutan kening dan justru malah lebih banyak menggelitik perut, barulah saya sadar bahwa ini sebenarnya masuk kategori komedi. The Intouchables (2011) merupakan film ringan yang membuat kita mudah sekali untuk merasa durasi filmnya yang dua jam menjadi tak terasa. Meski ringan, film garapan sutradara Olivier Nakache dan Éric Toledano itu termasuk film yang cerdas dan sarat nilai kemanusiaan

Film The Intouchables bercerita tentang persahabatan antara Philippe Maserati (François Cluzet) dan Driss (Omar Sy). Hubungan keduanya, pada mulanya adalah Philippe sebagai tuan dan Driss adalah pembantu pribadi. Philippe membutuhkan asisten karena dari leher hingga ke kaki ia mengalami lumpuh. Driss, orang yang santai dan humoris, berhasil membuat hidup Philippe menjadi lebih menggairahkan -Philippe sebelumnya merupakan orang yang sangat serius, tercermin dari seleranya terhadap seni rupa, puisi  opera, dan musik klasik-. Tidak hanya Philippe berubah menjadi perokok (bahkan terkadang ia menghisap ganja) oleh sebab pergaulannya dengan Driss, tapi juga ia menemukan gairah cintanya yang sebelumnya sudah padam sejak istrinya meninggal dan dirinya divonis berbagai penyakit.

Sepanjang film, The Intouchables banyak diwarnai oleh bagaimana menariknya kedua sifat yang kontras antara Philippe dan Driss. Kedua sifat yang bertolak belakang itu tidak menjadikan mereka tak cocok, melainkan malah saling melengkapi. The Intouchables, yang termasuk ke dalam salah satu film paling laku dalam sejarah sinema Prancis, adalah film yang tidak hanya menghibur, tapi juga mencerdaskan.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

Rabu, 17 Juli 2013

30hari30film: A Separation (2011)

30hari30film: A Separation (2011)
10 Ramadhan 1434 H


A Separation adalah film tentang seorang istri yang bernama Simin (Leila Hatami) yang menggugat cerai suaminya, Nader (Peyman Mooadi). Cerita berkembang menjadi bagaimana pembantu rumah tangga yang direkrut oleh Nader -untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga pasca istrinya tak lagi tinggal disitu- ternyata memicu masalah yang menjadi sangat kompleks. Nader menuduh pembantu bernama Razieh tersebut meninggalkan ayah Nader yang terkena penyakit alzheimer sendirian di rumah dan mengikatnya di tempat tidur. Nader yang kesal kemudian memecat Razieh hari itu juga. Razieh sebaliknya, telah menuduh Nader sebagai penyebab keguguran anak yang dikandungnya (Di hari ketika Nader memecatnya, ia mendorong Nader dan diduga itulah penyebab gugurnya janin).

Kemudian menarik bagaimana sutradara sekaligus penulis skenario Ashgar Farhadi menjadikan konflik demi konflik untuk mengajak kita mempertanyakan suatu sikap hidup yang barangkali terdengar klise namun sebenarnya masih penting: kejujuran. Tentang jujur ini, A Separation tidak menerangkannya dengan cara menggurui. Dengan cerdik ia menunjukkan betapa masih pentingnya jujur itu, dengan cara memperlihatkan kebohongan-kebohongan berlapis yang justru berakibat buruk pada situasi secara keseluruhan.

A Separation merupakan film Iran pertama yang memenangkan Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 2012. Film ini memang memenuhi segala syarat untuk dikatakan sebagai film berkualitas. Akting, dialog, cerita, musik, dan ending-nya digarap dengan sangat baik sehingga penonton manapun agaknya akan terpaku di tempat duduknya sepanjang film dengan napas tertahan. Bahkan hingga beberapa saat setelah film selesai, napas itu tidak akan segera dihelakan.

Rekomendasi: Bintang Lima  
Continue reading

Selasa, 16 Juli 2013

30hari30film: Rope (1948)

30hari30film: Rope (1948)
9 Ramadhan 1434 H


Alfred Hitchcock adalah sutradara yang senang sekali menyiksa penontonnya. Menyiksa dalam arti membuat tegang sekaligus penasaran -dan yang terpenting, tetap merengut di tempat duduknya-. Rope (1948) yang merupakan film pertama Hitchcok yang dibuat berwarna, adalah salah satu filmnya yang paling mencekam. 

Cerita dalam film Rope sesungguhnya sederhana saja. Ini adalah tentang pembunuhan terhadap David Kentley (Dick Hogan) yang dilakukan oleh kedua temannya, Brandon Shaw (John Dall) dan Philip Morgan (Farley Granger). Motif pembunuhannya adalah semata-mata karena Shaw dan Morgan ingin mempraktikkan apa yang disebutnya sebagai "perfect murder". Maksudnya, mereka ingin menciptakan kejahatan yang sempurna, yang tidak sanggup dilacak oleh siapapun juga. Yang menarik, Shaw dan Morgan seolah menantang diri mereka dengan cara menjadi tuan rumah untuk sebuah pesta yang diadakan dengan beberapa kolega. Tepat di tengah-tengah pesta tersebut, disembunyikan mayat David Kentley secara rapi.

Film Rope terinspirasi oleh kisah nyata pembunuhan Bobby Franks oleh Nathan Leopold dan Richard Loeb pada tahun 1924. Motifnya sama, Leopold dan Loeb ingin mempraktikkan kejeniusan mereka lewat pembunuhan. Sebelum diangkat ke layar sinema oleh Hitchcock, terlebih dahulu kisah pembunuhan Franks tersebut diadaptasi ke dalam bentuk teater oleh Patrick Hamilton dengan judul Rope juga. Hitchcock kelihatannya terpesona dengan Rope dalam versi teater sehingga ia memutuskan untuk mempertahankan gaya teater tersebut ke dalam filmnya. Ia hanya menggunakan satu setting saja dan kamera jarang sekali melakukan pemotongan gambar (cut). Tercatat Hitchcock hanya sepuluh kali melakukan cut dalam film berdurasi 70 menit tersebut. Meski tanpa akrobat montage, Hitchcock tetap sanggup menciptakan thriller lewat akting dan dialog yang kuat. Film ini adalah peragaan kejeniusan sang maestro.

Rekomendasi: Bintang Empat

Continue reading

Senin, 15 Juli 2013

30hari30film: God Bless Ozzy Osbourne (2011)

30hari30film: God Bless Ozzy Osbourne (2011)
8 Ramadhan 1434 H


Penggemar heavy metal manapun tentu saja tidak ada yang tidak kenal dengan Ozzy Osbourne. Bersama dengan band yang ia bentuk di akhir tahun 60an, Black Sabbath, ia menjelma menjadi Godfather of Heavy Metal. Tidak hanya disebabkan oleh suaranya yang khas dan aksi panggungnya yang spektakuler, Osbourne juga terkenal karena kehidupan di luar panggungnya yang kontroversial. Ia dikenal sebagai bintang rock yang akrab dengan alkohol, obat-obatan, dan perempuan. Osbourne, dalam film dokumenter tentangnya yang berjudul God Bless Ozzy Osbourne (2011) mengatakan bahwa ia sering sekali lupa akan apa yang sudah ia lakukan di panggung akibat konsumsi obat yang berlebihan. Osbourne baru mengetahuinya setelah ia melihat rekaman dirinya sendiri pasca naik pentas.   

Namun God Bless Ozzy Osbourne yang disutradarai oleh Mike Fleiss dan Mike Piscitelli -yang disebut tinggal bersama Osbourne selama dua tahun demi merampungkan filmnya- ini bukan hendak semata-mata menampilkan sisi kontroversial ataupun kedigjayaan sang superstar. Film ini justru hendak menampilkan sisi manusiawi si "pemakan kelelawar" dengan menempatkan segala perilakunya di tengah-tengah pandangan rekan-rekan dan keluarganya. Osbourne, yang mengaku berada di "top of the world" sejak usia 23, ternyata dipandang sebagai orangtua yang gagal oleh kedua anak dari istri pertamanya. Osbourne juga, di mata beberapa rekannya, dianggap sebagai orang yang berkali-kali lolos dari kematian meskipun nyawanya ada di ujung tanduk oleh sebab dosis obat-obatan yang ia konsumsi.  

Ozzy Osbourne, yang berusia 63 tahun ketika film dokumenter tersebut dirilis, masih tetap aktif di atas panggung tanpa mengurangi citranya sebagai seorang bintang rock yang identik dengan "sisi gelap kehidupan" Namun lewat God Bless Ozzy Osbourne, kita diajak untuk mengetahui bahwa di balik kultus individu akan dirinya, Osbourne adalah manusia biasa yang juga memiliki banyak ketakutan dalam hidupnya. Film dokumenter ini penting ditonton tidak hanya untuk mengetahui apa siapa Ozzy Osbourne, tapi secara umum dapat digunakan untuk memahami bahwa secara eksistensial, manusia seringkali lebih rumit dari apa yang kelihatan di permukaan.

Rekomendasi: Bintang Empat

Continue reading

Minggu, 14 Juli 2013

30hari30film: Sad Movie (2005)

30hari30film: Sad Movie (2005)
7 Ramadhan 1434 H


Ketika seorang sutradara memutuskan untuk memberi judul film semacam "Sad Movie", "Scary Movie", atau "Funny Movie" ia pasti akan berhadapan dengan ekspektasi dari penonton. Misalnya, jika judulnya Funny Movie, tentu film itu mutlak harus lucu -kecuali jika mau diparodikan seperti satu film judulnya Scary Movie yang justru tidak menyeramkan sama sekali-. Maka itu pertama-tama pemberian judul Sad Movie pada film Korea (Selatan) tahun 2005 yang disutradarai Kwon Jong-kwan harus diberi acungan jempol. Artinya, ia harus siap menerima konsekuensi penonton yang kecewa jika film tersebut ternyata tidak menyedihkan.

Terdapat beberapa cerita dalam Sad Movie -meski sifatnya bukan potongan-potongan seperti gaya Alejandro González Iñárritu-. Pertama adalah kisah remaja laki-laki yang diputus cintanya oleh pasangannya karena ia tak kunjung mendapat pekerjaan. Kedua adalah kisah perempuan tuna wicara yang bekerja sebagai orang di balik boneka Snow White, yang ia mengalami jatuh cinta pada laki-laki di taman yang senang menggambar. Ketiga adalah cerita ibu dan anak yang hubungan keduanya tidak terlalu akrab. Sang ibu tidak menaruh perhatian besar pada anaknya, sampai kemudian sakit yang mendera sang ibu merubah cara pandangnya. Terakhir adalah kisah asmara yang barangkali terlihat paling tidak ada masalah, yakni pasangan sejoli yang mana pihak laki-laki tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melamar si perempuan.

Akibat dari judulnya, maka ada ekspektasi tentang kapan segala peristiwa di atas akan membawa pada kesedihan. Bagi saya pribadi, sutradara Jong-kwan kemudian berhasil membuat ujung dari empat kehidupan manusia tersebut menjadi tragis -Sebagaimana film Love Actually yang hendak menunjukkan bahwa cinta ada dimana-mana tanpa kenal ruang dan waktu, maka film Sad Movie juga hendak menunjukkan bahwa ketragisan ada dimana-mana tanpa kenal ruang dan waktu-. Bagi yang hendak melengkapi warna dalam hidupnya agar lebih melodramatis, film ini boleh saja jadi rujukan. Tapi jika hendak mencari film yang memberikan pelbagai sensasi rasa, film ini terlalu monotoni.

Rekomendasi: Bintang Dua

Continue reading

Sabtu, 13 Juli 2013

30hari30film: The Italian Job (1969)

30hari30film: The Italian Job (1969)
6 Ramadhan 1434 H


Saya baru mengetahui bahwa film semacam ini punya genre-nya sendiri. The Italian Job (1969) digolongkan sebagai heist film karena berisikan sebuah rencana kejahatan yang melibatkan grup. Film yang disutradarai oleh Peter Collinson ini bercerita tentang gerombolan mafia dari Inggris yang berencana mencuri uang empat juta dollar dari perusahaan FIAT di Italia. Seperti pada umumnya heist film, The Italian Job yang berdurasi sembilan puluh menit ini menghabiskan hampir separuh awal filmnya untuk menceritakan bagaimana rencana canggih mereka dalam membobol pertahanan berlapis dari pihak sekuriti FIAT yang membawa uangnya via mobil.

Selain disebut sebagai heist film, The Italian Job juga -atas dasar sejumlah aksinya yang komikal dan bernuansa humor- disebut sebagai caper story. Caper story membuat The Italian Job berbeda dengan film bertemakan kejahatan lain yang serius semisal Dog Day Afternoon atau Scarface. Meski mengundang tawa, namun The Italian Job tetap mengandung aksi-aksi memikat seperti misalnya adegan kejar-kejaran mobil, penyelinapan kelompok pencuri ke ruang data, serta bagaimana kemacetan luar biasa tercipta di tengah kota Turin. Collinson sepertinya cukup total dalam menggarap film ini -setidaknya terlihat dari bagaimana ia rela menghancurkan mobil-mobil mewah di banyak adegan-. Selain itu, ia juga melibatkan musisi jazz Quincy Jones untuk menggarap soundtrack dalam film ini sehingga memang musik-musiknya menjadi cukup memikat dan sanggup menopang berbagai adegan.

The Italian Job dibintangi oleh Michael Caine yang berperan sebagai Charlie Croker, si pemimpin gerombolan Inggris. Untuk melancarkan aksinya, ia dibantu oleh Mr. Bridger (Noel Coward) yang sanggup menjalankan kehidupan mafia dari balik penjara. Film yang masuk urutan ke-27 film terbaik Inggris sepanjang masa ini menarik tidak hanya bagi mereka penggemar film aksi, tapi mungkin juga bagi penggemar film pada umumnya. Ketegangan yang dibangunnya cukup tinggi, tapi tetap menyelipkan humor sebagai pengimbang.

Rekomendasi: Bintang Tiga


Continue reading

Jumat, 12 Juli 2013

30hari30film: Annie Hall (1977)

30hari30film: Annie Hall (1977)
5 Ramadhan 1434 H



Setelah Midnight in Paris (2011), ini adalah film kedua Woody Allen yang saya tonton. Film berjudul Annie Hall (1977) ini barangkali adalah salah satu yang paling terkenal yang pernah disutradarai Allen. Dibintangi oleh dirinya sendiri dan Diane Keaton, Annie Hall bercerita tentang kisah cinta Alvy Singers dan Annie Hall dengan latar kota New York. Dari dua film yang sudah saya tonton tersebut, ada satu kesamaan yang mungkin bisa jadi itulah salah satu karakteristik dari film-film Allen: Percakapan yang berbobot dan komedi yang cerdas. 

Dalam film Annie Hall misalnya, meski ceritanya sederhana tentang jalinan asmara biasa-biasa, namun dalam sejumlah percakapan, dilibatkan nama-nama pemikir dan seniman mulai dari Marshall McLuhan, Henry Kissinger, Franz Kafka, Federico Fellini, Ingmar Bergmann, Groucho Marx, hingga Sigmund Freud. Ini membuat Annie Hall, meski kita bisa golongkan ia sebagai romantic comedy, namun tidak bisa dikatakan sebagai sebuah film yang mudah untuk diserap. Misalnya, ketika Alvy merasa kesal dengan seorang penonton bioskop yang terus menerus membicarakan tentang pemikiran McLuhan, Alvy berkelakar dengan menanyai pada McLuhan yang sebenarnya (betul-betul McLuhan yang sebenarnya!) tentang apakah penonton tersebut berkata benar soal pemikirannya? McLuhan menjawab, "Tidak, dia tidak tahu apa-apa tentang pemikiranku." Bisakah kita tertawa oleh komedi yang amat kontekstual semacam ini?

Selain oleh kecerdasan percakapannya, Annie Hall juga menarik karena Woody Allen disini melakukan apa yang disebut dengan breaking the fourth wall. Ia, sebagai sekaligus pemeran Alvy Singers, sering sekali bertindak sebagai narator yang berbicara pada penonton. Tidak hanya di awal penampilannya ketika ia membuka film, melainkan ketika di tengah percakapan dengan siapapun, Alvy kerap berbicara pada penonton sehingga Annie Hall terkesan agak sureal. Annie Hall sungguh sebuah karya yang menarik dari Allen. Ia tidak takut sama sekali untuk mempertahankan percakapan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh sebagian penonton saja. Dialog terlampau cerdas itu ia kebumikan dengan akting-akting memikat dari para aktornya. Buktinya, Allen mendapatkan penghargaan Oscar tahun 1978 untuk sutradara terbaik dan Keaton untuk artis terbaik. 

Rekomendasi: Bintang Empat 
Continue reading

Kamis, 11 Juli 2013

30hari30film: United (2011)

30hari30film: United (2011)
4 Ramadhan 1434 H


Sebagai bukan penggemar klub sepakbola Manchester United, saya memutuskan untuk menonton film ini dengan perasaan datar-datar saja. Namun ternyata film yang tadinya ditayangkan untuk kepentingan televisi ini (bukan layar lebar) tidak sedang punya kepentingan menunjukkan kejayaan sepakbola Manchester United di masa kepelatihan Sir Matt Busby. Yang disoroti justru adalah tragedi kemanusiaannya yakni ketika pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan menewaskan sebagian besar pemain inti.

Bagi para penggemar Manchester United, tentu saja film United (2011) akan semakin menebalkan kecintaan mereka pada klub. Film semacam ini akan menyadarkan mereka bahwa Manchester United, salah satu klub terbesar di dunia, ternyata dibangun di atas puing-puing tragedi yang nyaris memporakporandakan eksistensinya. Bagi yang non-penggemar, menyaksikan film ini juga bukan sebuah pengkhianatan terhadap keyakinannya akan klub lain. Karena United bercerita tentang sesuatu yang sifatnya lebih universal daripada sekadar fanatisme klub: Tentang bagaimana mereka jaya, lantas jatuh luluh lantak, dan merangkak untuk mengembalikan kejayaannya.

Film United yang disutradarai oleh James Strong ini memusatkan ceritanya pada pemain muda Bobby Charlton (Jack O'Connell) dan asisten pelatih Jimmy Murphy (David Tennant). Keduanya menjadi bagian penting dalam membangun kembali skuad Manchester United pasca mengalami kecelakaan pesawat tahun 1958 di bandara Munich. Tragedi tersebut barangkali merupakan yang terbesar dalam sejarah sepakbola. Tercatat 23 orang meninggal termasuk para pemain terbaik Manchester United saat itu yakni Duncan Edwards, Geoff Bent, David Pegg, dan Billy Whelan. Manajer mereka, Sir Matt Busby, sempat mengalami cedera namun akhirnya selamat dan sanggup melatih kembali. Film United lebih banyak fokus pada emosi yang menggelayuti Charlton maupun Murphy pasca kecelakaan.

Meski ditujukan pada mulanya sebagai film televisi, namun sebenarnya United ini kualitasnya cukup baik untuk diangkat ke layar lebar sekalipun. Tampak sekali film tersebut pandai memilih tone sehingga terasa gambar-gambarnya sebagai sebuah nostalgia dari awal hingga akhir. Penampilan O'Connell dan Tennant sebagai Charlton dan Murphy -dan satu lagi yang patut dicatat adalah bagaimana Dougray Scott sanggup menularkan kharisma Sir Matt Busby- adalah surplus tersendiri bagi film ini. Untuk sebuah hiburan yang merangsang kesedihan kita untuk sesaat, film ini cukup layak dijadikan tontonan. 

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading

Rabu, 10 Juli 2013

30hari30film: Stranger than Paradise (1984)

30hari30film: Stranger than Paradise (1984)
3 Ramadhan 1434 H


Stranger than Paradise berpusat pada tiga orang yakni Willie (John Lurie), Eva (Eszter Balint) dan Eddie (Richard Edson). Ketiganya bermain dalam adegan demi adegan yang minimalis. Ceritanya sederhana saja, tentang Eva yang tinggal di tempat Willy selama sepuluh hari (hubungan keduanya adalah sepupu). Lama kelamaan Willy -yang tadinya merasa terganggu dengan kehadiran Eva- menjadi sayang pada saudaranya tersebut. Ketika sepuluh hari telah lewat dan Eva pergi ke Cleveland, Willy dan Eddie, kawannya, memutuskan untuk menyusul si sepupu. Di Cleveland, Eva dijemput untuk diajak bersama-sama ke Florida. 

Bagaimana mungkin cerita sederhana semacam itu bisa membuat film ini berdurasi sembilan puluh menit? Inilah yang menjadi kelebihan Jim Jarmusch, sang sutradara yang terkenal dengan indepensi gayanya. Jim Jarmusch menciptakan apa yang disebutnya dengan "pengalaman real-time". Ketika para pemain berdialog satu sama lain, ia tidak sedikitpun melakukan montase agar dialog menjadi lebih cepat dan padat. Jarmusch sangat suka membiarkan dialog terlihat alamiah -ketika para pemain tidak saling bicara, ia pun dengan tenang memperlihatkannya-. Ia juga sama sekali tidak melakukan close-up pada wajah si pemain. Biasanya dalam satu adegan, ia hanya mempertahankan satu sorotan saja. Meski tanpa suatu penggambaran mimik yang kuat, Jarmusch tetap sanggup menyampaikan perasaan-perasaan yang terjadi dalam film seperti misalnya proses ketertarikan Willy pada Eva, hingga kegundahan Willy dan Eddie ketika mereka kalah taruhan di ajang balapan anjing.

Meski dibuat pada tahun 1984, film Stranger than Paradise ini bisa dicurigai sebagai film yang estetikanya sudah berada di garda depan tidak hanya di masa itu, melainkan juga bagi yang melihatnya di masa sekarang. Bahkan untuk sutradara hari ini, barangkali tidak banyak yang berani melakukan eksperimentasi minimalis semacam yang dilakukan Jarmusch (minimalisnya Jarmusch tidak seperti "minimalis"-nya Sydney Lumet [12 Angry Men (1957), Dog Day Afternoon (1975)] yang meski latar filmnya kerap di satu tempat, tapi permainan kameranya tetap "mewah"). Ia sepertinya mendobrak estetika Hollywood yang akrab dengan kedinamisan dan kepadatan. Menariknya, Jarmusch tetap jempolan untuk menjaga para penonton untuk tetap di tempat duduknya. Agaknya film Stranger than Paradise, meski lambat dan absurd, tidak membuat penonton menguap seperti bagi mereka yang mungkin belum terbiasa dengan -misalnya- film-filmnya Ingmar Bergman yang juga sama-sama lambat dan absurd. 

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Yojimbo (1961)

30hari30film: Yojimbo (1961)
2 Ramadhan 1434 H


Pernah menyaksikan aksi Clint Eastwood sebagai Koboi Tanpa Nama yang sangat dingin menghadapi musuh-musuhnya dalam film A Fistful of Dollars (1964)? Ketika menonton film Yojimbo (1961) karya Akira Kurosawa, maka sangat jelas bahwa film tersebut adalah inspirasi bagi A Fistful of Dollars-nya Sergio Leone. Saking miripnya, film garapan Sergio Leone itu sempat ditahan selama tiga tahun untuk tidak rilis di Amerika atas tuduhan penjiplakan. 

Yojimbo menceritakan tentang seorang Samurai Tanpa Nama (diperankan oleh aktor langganan Kurosawa, Toshiro Mifune) yang datang ke sebuah kota yang tengah berada dalam ketegangan oleh sebab perang antara dua penguasa yakni Seibei dan Ushitora (di A Fistful of Dollars, perang geng ini berlangsung antara Bersaudara Rojo dan keluarga sheriff John Baxter). Samurai Tanpa Nama ini kemudian menawarkan dirinya ke kedua penguasa tersebut siapa yang mau merekrutnya sebagai yojimbo alias pengawal. Samurai Tanpa Nama yang sangat kuat tersebut tentu saja diperebutkan baik oleh Seibei dan Ushitora. Mereka berpendapat bahwa siapapun yang sanggup merekrutnya, maka bisa memenangkan pertarungan melawan penguasa lainnya. Meski demikian, sang samurai adalah orang yang tidak hanya pintar berkelahi, tapi juga cerdik. Ia berkelindan dari satu penguasa ke penguasa lainnya untuk kemudian menjalankan rencananya sendiri.

Agaknya memang mustahil bagi sutradara manapun untuk tidak terinspirasi teknik-teknik brilian dari Kurosawa. Tidak hanya teknik montage dan mise-en-scène-nya yang sempurna dan menciptakan sejumlah adegan yang bisa dikatakan puitik, melainkan juga bagaimana Kurosawa sanggup mendorong aktor-aktornya untuk beraksi lebih teatrikal -Kita bisa bayangkan jika film-film Kurosawa dihadirkan dalam panggung teater, maka tidak sulit untuk mengadaptasinya-. Film-film Kurosawa barangkali tidak ada yang bisa dikatakan gagal secara estetik. Dalam kesederhanaan teknologi pada masa itu, ia tetap sanggup menjadi pelopor sejumlah teknik yang lumrah digunakan hingga saat ini. Yojimbo hanyalah salah satu dari sekian banyak mahakarya sang maestro.

Rekomendasi: Bintang Lima


Continue reading

Selasa, 09 Juli 2013

30hari30film: Searching for Sugar Man (2012)

30hari30film: Searching for Sugar Man (2012)
1 Ramadhan 1434 H



Bayangkan apa perasaan seorang musisi yang albumnya hanya terjual enam kopi saja? Bayangkan ketika dia sudah yakin betul bahwa karirnya sudah mati dan akhirnya menjalani masa tua dengan bekerja apa saja demi menghidupi ketiga anaknya, ternyata ada seseorang yang menghubungi untuk memberitahu bahwa dalam puluhan tahun belakangan, sesungguhnya albumnya laku keras di Afrika Selatan -melebihi popularitas Elvis Presley dan The Rolling Stones-?

Meski sekilas terdengar seperti dongeng, namun film dokumenter Searching for Sugar Man benar-benar menemukan musisi bernama Sixto Rodriguez tersebut. Film yang disutradarai oleh Malik Bendjelloul ini berpusat pada dua orang penggemar berat Rodriguez di Afrika Selatan yakni Stephen "Sugar" Segerman dan Craig Bartholomew Strydom. Mereka berdua menceritakan pengaruh musik-musik Rodriguez di Afrika Selatan. Dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) benar-benar merasuki seluruh negeri hingga pemerintah sempat melarang lagunya yang berjudul Sugar Man karena dianggap punya pengaruh terhadap konsumsi obat-obatan di kalangan anak muda. Lagu-lagu Rodriguez juga, menurut Segerman, punya pengaruh kuat dalam gerakan revolusi anti-apartheid di negaranya. 

Rodriguez kemudian tidak diketahui rimbanya. Kabar terakhir tentangnya hanyalah sebuah mitos yang mengerikan, yakni tentang kematiannya di atas panggung dengan cara membakar diri. Jika bertanya pada orang-orang di Amerika Serikat pun -tempatnya tinggal dan membuat album- ternyata tak ada yang pernah mendengar namanya. Namun Segerman dan Strydom tak lantas begitu saja menyerah. Mereka melakukan segala cara untuk menemukan sang legenda. Mereka mengumumkan sayembara di internet hingga menelusuri label-label yang pernah memproduksi albumnya. 

Searching for Sugar Man adalah film dokumenter yang amat penting dan tidak terbatas bagi mereka pecinta musik saja. Film tersebut menunjukkan bahwa musik berkualitas tetap akan hidup meski ia tidak dikatrol oleh industri. Posmodernisme telah menciptakan mitos bahwa sesungguhnya kebenaran hanyalah tergantung siapa yang berkuasa. Namun ternyata hal tersebut tidak selamanya benar. Kebenaran masih ada yang absolut selama memang kebenaran tersebut jujur tanpa pretensi. Rodriguez mencipta musiknya dari hati, sehingga sampai pada pendengarnya meski jauh di ujung sana. 

Rekomendasi: Bintang Lima


Continue reading

Minggu, 07 Juli 2013

Objek Wisata

Objek Wisata
Dalam beberapa kali kesempatan ke luar kota atau luar negeri, tentu saja ada hari dimana saya mengunjungi objek wisata yang terkenal menurut masyarakat setempat. Mengunjungi objek wisata tentu saja bukan hal yang janggal untuk mengenal keunikan suatu tempat. Objek wisata biasanya punya relasi kuat entah dengan namanya keindahan alam atau peristiwa yang menarik secara historis. Misalnya, kemarin di Yogyakarta saya berkunjung ke lingkungan Keraton yang tinggal di dalamnya Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ada berbagai cerita tentang Sultan terdahulu melempar kembang ke puluhan selir yang sedang mandi di kolam di Komplek Tamansari. Barangsiapa yang beruntung mendapatkan bunga, maka ia akan diajak mandi berdua saja dengan Sultan di kolam belakang. Lalu pernah, jauh sebelumnya, saya mengunjungi Kota Makkah di Saudi Arabia. Penuh cerita juga tentang bagaimana nabi memohon petunjuk Allah di Gua Hira. Gua Hira kemudian ditampakkan senyatanya pada kami, peserta umrah, yang membuat kami takjub meski sudah jelas gua tersebut kini hanya gua biasa tak punya daya magi apa-apa. 

Segala sesuatu yang sudah dilabeli objek wisata, pastilah kita akan memperoleh semacam conditioning. Maksudnya, ada pemandu wisata, ada orang berdagang, ada penjelasan sejarah, ada larangan ini itu demi kepentingan perlindungan ekologis ataupun fisik si artefak itu sendiri. Objek wisata, bagaimanapun, sudah dibangun sedemikian rupa agar menguntungkan juga bagi orang-orang di sekitar tempat tersebut. Lebih jauh lagi, objek wisata harus menguntungkan bagi pemerintah daerah, pemerintah kota, bahkan pemerintah negeri.  Segala apapun yang ada di dalam objek wisata sudah bercampur baur dengan aspek ekonomi sehingga tentu saja ada kepentingan-kepentingan disana. Objek wisata, dalam hal ini, sudah merupakan fenomena yang tereduksi. 

Ketika kemarin di Yogyakarta, saya memutuskan untuk berhenti jalan-jalan bersama rombongan di dua hari terakhir dan memutuskan untuk tinggal di hotel atau keliling seorang diri saja. Atas keputusan tersebut, saya dapat celotehan yang sudah umum dari seorang kawan, "Kalau cuma tiduran di hotel sih, mending di Bandung aja!". Teguran semacam itu sudah tidak lagi membuat kuping saya berdengung. Karena prinsip bepergian saya sudah jelas: Istirahat dan menggauli keseharian.

Ketika ditanya, bagaimana Kota Bandung itu sebenarnya? Saya agak risih jika harus menjawab, Bandung adalah sebagaimana Tangkuban Parahu, Bandung adalah sebagaimana Factory Outlet di Jalan Riau, Bandung adalah sebagaimana Brownies Amanda atau Bandung adalah sebagaimana Museum Geologi. Mungkin saya akan katakan dengan jujur bahwa itu semua bukanlah Bandung. Lantas yang mana Bandung itu? Susah menyebutkannya, tentu saja, jika bicara sebuah tempat dengan unsur-unsur yang kompleks di dalamnya. Namun Bandung dalam versi saya adalah denyut keseharian di dalamnya: Semua unsur-unsur yang tampil alamiah tanpa conditioning. Yogyakarta bukan Keraton, bukan Candi Borobudur, bukan Pemandian Tamansari, melainkan ketika saya duduk di warung burjo dan menghabiskan uang tujuh ribu rupiah untuk makan siang berbarengan dengan orang-orang yang bicara bahasa Jawa dan duduk merenung disana sambil merokok. 

Inilah jalan-jalan versi saya. Tak perlu memaksakan ke tempat-tempat wisata untuk mengenal tempatnya. Cukup tiduran saja sambil menyerap udara kotanya dalam-dalam. Ketika engkau bangun dan melihat di dompetmu ada mata uang yang berbeda dari biasanya, turunlah ke pasar-pasar dan temukan suasana yang otentik tanpa adanya reduksi kepentingan-kepentingan. Mereka bicara apa adanya, berdagang apa adanya, dan melihatmu hanya sebagai manusia biasa. Pulang-pulang kamu akan semakin kaya, bukan oleh pengalaman-pengalaman dangkal yang sifatnya histeria saja, melainkan oleh pengalaman bersentuhan dengan manusia. 
Continue reading