Monday, June 3, 2013

Kelas Filsafat (Pertemuan 4): Sokrates


“I know one thing: I know nothing.” 
—Part of a series on Socrates 

Tidak seperti filsuf-filsuf lain yang menunjukkan intelektualitasnya melalui pernyataan-pernyataan mereka yang kompleks dan rumit, Socrates justru “menyederhanakan” filsafat dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya tampak bodoh di hadapan orang lain. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tersebut dapat menelanjangi idealisme seseorang sehingga membuat orang itu berpikir ulang mengenai esensi dari prinsip yang ia yakini selama hidupnya. Hal ini kemudian disebut “ironi socrates” karena pada saat bertanya, ia tampak seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Bukan seperti orang yang sedang menguji kemampuan menjawab lawan bicaranya. 

Hidup di 469-399 SM, Socrates terkenal sebagai seorang pria bertubuh gemuk yang tidak tampan. Dengan berpakaian sederhana dan tanpa alas kaki ia sering berjalan-jalan di sekitar Agora (alun-alun Athena), kemudian menghampiri orang satu per satu untuk berdiskusi filsafat. Pada awalnya, ia melakukan diskusi tersebut karena ia ingin membuktikan kekeliruan dari suara gaib yang didengar temannya, Chaerephon. Suara gaib tersebut menyebutkan bahwa Socrates adalah manusia terbijak di Athena. Karena merasa tidak bijak, ia menghampiri satu per satu orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Socrates kemudian mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kebijaksanaan pada mereka. Namun, orang-orang yang ia tanyai itu gagal melahirkan definisi absolut mengenai kebijaksanaan yang ia cari. Pada akhirnya, Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasarkan sebuah pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena ia tahu bahwa ia tidak bijak, sedangkan orang-orang lain yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu bahwa mereka tidak bijak. 

Proses tanya-jawab atau diskusi yang dilakukan Socrates tersebut kemudian dikenal dengan istilah “metode socrates”. Namun, ia sendiri sering menyebutnya “metode kebidanan”. Menurut Socrates, dirinya bukanlah manusia yang luar biasa cerdas. Ia tidak pernah mengajarkan apapun pada orang lain. Ia hanyalah manusia biasa yang membantu lahirnya sebuah pemikiran melalui pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan—bak seorang bidan yang membatu proses kelahiran seorang bayi. Jika kita amati, metode diskusi tersebut memang sangat baik untuk diterapkan ketika kita mulai buntu dalam menghadapi sebuah persoalan. Melakukan dialog dengan orang lain dapat membantu kita menemukan pemikiran baru dengan perspektif yang beragam, dibandingkan dengan saat kita hanya menyaksikan seseorang berbicara satu arah. Sayangnya, politisi dan para petinggi Athena pada saat itu malah menganggap “metode socrates” ini sangat menyebalkan dan mengancam. Atas dasar tersebut, Socrates kemudian ditangkap dan diadili. Ia dianggap sudah menyebarkan paham sesat di kalangan masyarakat. Pria tersebut lalu diberi dua pilihan: mati minum racun atau mengakui kesalahannya dan keluar dari Athena. Socrates bukanlah seorang pengecut yang berminat untuk menggadaikan kebenaran demi hidup dalam kebohongan. Ia tidak mau mengingkari hati nuraninya sendiri. Maka dari itu, Socrates memilih untuk minum racun dan mati dengan terhormat. 

Menurut Kang Syarif, Socrates adalah satu-satunya filsuf yang bisa kita sebut “filsuf yang sebenarnya”. Hal tersebut dikarenakan ia masih memegang teguh makna murni filsafat sebagai “cinta terhadap kebijaksanaan”. Socrates tidak menyebarkan paham apapun. Tidak seperti Hegel dengan idealismenya, Kierkegaard dengan eksistensialismenya, atau Marx dengan sosialismenya. Tetapi, Socrates sebenarnya memiliki banyak ajaran mengenai etika. Ia menjadi musuh utama kaum sophis yang pandai merelatifkan kebenaran. Menurut kaum sophis, kebenaran itu bersifat subjektif. Namun menurut Socrates, pasti ada sesuatu yang absolut mengenai kebenaran. Bagaimana caranya agar kita bisa menemukan keabsolutan tersebut? Tentunya dengan melakukan dialektika—metode kebidanan—yang sebelumnya telah ia contohkan. Socrates percaya bahwa jika kita terus menggali suatu hal lebih dalam, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang objektif dan tidak terbantahkan. 

Socrates mengatakan bahwa pengetahuan terbaik itu berasal dari dalam. Maksudnya, sebuah pengetahuan yang bagus itu bukan muncul ketika kita “menerima suatu ajaran kemudian mematuhinya” melainkan ketika kita “menerima suatu ajaran kemudian menyadarinya”—sebagai sesuatu yang datang dari dalam diri. Hal itu biasanya terjadi pada pengetahuan-pengetahuan yang bersifat reflektif, bukan kognitif. Contohnya seperti seni. Seni bukanlah sesuatu yang harus kita pahami melalui deskripsi dan definisi. Seni adalah sebuah pengalaman yang kita dapati ketika kita merefleksikan esensi perasaan manusia yang ditangkap oleh panca indra ke dalam batin kita sendiri. Masih berkaitan dengan etika, Socrates mengatakan bahwa setiap manusia pasti memiliki kebaikan di dalam dirinya. Filsuf tersebut bahkan percaya bahwa kejahatan bukanlah suatu hal yang dipicu oleh kehendak bebas manusia. Kejahatan itu muncul karena manusia yang melakukannya belum memiliki pengetahuan mengenai kebaikan. Menurut Kang Syarif, pernyataan tersebut ada benarnya. Sebagai contoh, pada usia-usia tertentu kita dapat memaklumi tindakan anak-anak yang berusia jauh lebih muda dari kita ketika mereka berbuat “kenakalan”. Kenakalan tersebut dilakukan karena sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Jika kelak mereka mengerti, mereka tentu akan memilih untuk berbuat baik dibanding berbuat nakal. Alasan sederhananya, karena kebaikan itu membahagiakan. Melakukan kebaikan itu pasti menenangkan karena tidak menimbulkan suatu tabrakan dengan batin. Di samping itu, Socrates juga berkata bahwa untuk menemukan kebaikan tersebut setiap manusia perlu berlatih. Latihan yang dimaksud adalah dengan melakukan dialektik sesering mungkin—baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Pada intinya, Socrates ingin mengatakan bahwa kita harus sering berefleksi karena dari refleksi-refleksi diri tersebutlah kita dapat menemukan kebaikan dan kebenaran yang bersifat absolut. 

Pada dasarnya, semua filsuf memikirkan etika. Misalnya, etika Sartre. Ia menyatakan bahwa seluruh manusia itu bebas, moralitas itu tidak ada. Kita semua dapat bertindak bebas asalkan bertanggung jawab akan resiko yang ditimbulkan setelahnya. Lain halnya dengan etika Immanuel Kant. Ia menyebutkan bahwa jika kita dihadapkan pada dua pilihan, kita harus mengambil sebuah pilihan yang mendatangkan kebaikan universal bagi orang banyak. Berbeda lagi dengan etika David Hume. Ia mengatakan bahwa akal adalah budak nafsu. Jadi ketika kita bernafsu akan suatu hal, kita akan mengumpulkan pikiran-pikiran yang dapat membuat argumen kita disetujui. Namun, dari semua etika yang pernah dilontarkan para filsuf, menurut Kang Syarif etika Socrates lah yang paling relevan dan lestari hingga saat ini. Apa yang Socrates katakan? “Manusia itu harus baik. Lalu nantinya, ia akan tahu sendiri apa yang baik—untuk dilakukan”. Kalimat yang nampak sederhana padahal sangat abstrak (menurut saya, hehe). Pada akhirnya, untuk bersikap baik kita harus terlebih dahulu mempunyai pengetahuan-pengetahuan akan kebaikan. Bagi Socrates, yang terpenting dari manusia adalah ia memiliki areté. Areté itu semacam keutamaan, tanggung jawab moril, atau mungkin bisa saya katakan “panggilan jiwa”. Kita ambil saja contoh sederhananya: kelas filsafat ini. Walaupun setelah empat kali pertemuan pesertanya tidak kunjung bertambah, Kang Syarif, Manda, dan saya tetap merasa kelas filsafat ini perlu diteruskan. Entah mengapa, kami merasa harus selalu hadir dan berdiskusi bersama (hampir) setiap minggunya. Secara areté, seperti ada sebuah dorongan yang membuat kami harus percaya bahwa kelas filsafat ini baik. Tanpa disadari, hal ini membuat kami menjelma menjadi “manusia-manusia etis”—seperti yang pernah dibahas dalam kelas filsafat pertemuan ketiga. Tak heran bila Kierkegaard pun menjuluki “manusia etis” sebagai “manusia socrates” dalam teori tiga tahap eksistensi manusia yang ditulisnya. 

Di luar itu semua, sebetulnya tidak ada bukti otentik akan keberadaan Socrates. Ia tidak meninggalkan karya tulis dalam bentuk apapun. Makamnya pun tidak diketahui keberadaannya. Sejarah pemikiran Socrates hanya dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan muridnya, terutama Plato. Dalam karyanya, Plato seringkali menuliskan dialog antara dirinya dengan Socrates, atau antara Socrates dengan orang lain. Pada titik ini kita perlu mempertanyakan ulang, apa sebenarnya makna dari “otentik”? Dan apa pentingnya “otentik”? Apakah penting jika ternyata Socrates itu sebenarnya tidak ada? Sekalipun jika Socrates itu ternyata hanya karang-karangan Plato belaka, hal itu sepertinya bukanlah masalah besar. Persoalan “ada” atau “tidak ada” ini tidak lagi menjadi penting ketika karakter dan pemikiran Socrates tersebut sudah terlanjur melekat dan kita yakini dalam benak kita selama ini. 

Sekian diskusi kami dalam kelas filsafat pertemuan keempat di hari Kamis, 23 Mei 2013 yang lalu. Kemungkinan besar, dalam pertemuan berikutnya kami akan meneruskan pembahasan kepada filsuf besar Yunani di era filsafat kuno selanjutnya: Plato. Sampai jumpa! 

*** dparamithatp
Previous Post
Next Post

1 comment: