Kamis, 06 Juni 2013

Bisnis dan Kepercayaan

Di suatu siang, saya mendatangi satu warteg di daerah belakang Setrasari Mal untuk santap siang. Si penjaga yang sedang cuci piring hanya melihat saya sebentar untuk bertanya, "Makan di sini?" Saya menjawab iya. Lalu dia kembali untuk melanjutkan kegiatannya sambil berkata, "Ambil saja." 

Saya memang tidak heran dengan gaya warteg pada umumnya yang percaya penuh pada pengunjung untuk mengambil sendiri apa yang mereka inginkan. Setelah mengambil, mereka bisa langsung makan dan nanti membayar sambil mendeskripsikan apa-apa saja yang baru saja diambil. Apakah sangat mungkin ada orang yang darmaji alias dahar lima ngaku hiji (makan lima, mengaku satu)? Tentu saja. Secara epistemologis, pedagang warteg tidak punya pengetahuan akan apa yang diambil pengunjung dan hanya mengandalkan penuturannya saja. Mereka bukan sedang pura-pura percaya seperti supermarket yang membiarkan pengunjung berkeliaran padahal di sana sini tergantung CCTV dan berkeliaran para Fox alias petugas yang menyamar sebagai pengunjung demi mengawasi mereka yang diduga akan mengutil. 

Kepercayaan ala warteg juga tidak terjadi ketika saya berenang di sebuah komplek bernama Batununggal. Begitu rumitnya pihak kolam renang dalam memperlakukan saya selaku pengguna jasa. Pertama, mereka meminta saya untuk membayar tiket masuk. Nantinya, tiket masuk tersebut akan diberikan bersama struk pembelian. Kemudian saya akan melalui dua gerbang sekaligus. Yang pertama adalah gerbang yang dijaga oleh petugas keamanan berseragam hitam. Ia akan menempelkan tiket tersebut yang berupa kartu pada semacam sensor untuk membuka pintu besi. Setelah itu saya akan menghadapi gerbang kedua. Isinya? Beberapa orang berpakaian karyawan yang akan memberikan air minum dalam bentuk botol. Untuk mendapatkan air tersebut, saya harus menukarkan struk tanda pembayaran. Setelah melewati dua hadangan tersebut, baru saya bisa berenang. 

Tentu saja saya bukannya tidak mengerti maksud kolam renang memperlakukan saya sebegitu ketatnya. Mereka ingin agar tidak terjadi kebocoran pengunjung. Mereka ingin orang-orang yang menikmati kolam renang adalah yang membayar. Mereka ingin data-data yang lengkap sehingga tahu kas masuk secara terperinci dan sudah pasti data-data tersebut dibutuhkan untuk evaluasi bisnis ke depannya. 

Namun saya merasakan perbedaan dalam perasaan saya sendiri bagaimana ketika diperlakukan oleh warteg dan kolam renang. Oleh warteg, saya merasa keutamaan saya sebagai manusia dipertaruhkan. "Bisa saja saya mencuri dan tidak akan ketahuan, uang saya bertahan dan tidak akan siapapun yang menuntut saya. Tapi apakah perbuatan tersebut dibenarkan?" demikian nurani saya diuji. Oleh kolam renang, saya merasa bahwa uang sudah cukup untuk menunjukkan bahwa saya jujur sebagai manusia. Dengan membayar, maka jikapun pribadi saya seorang bajingan maka tidaklah menjadi penting dalam mekanisme jual beli modern. Dalam bisnis ala warteg pun, relasi manusia menjadi hal yang bisa berkembang karena basisnya adalah kepercayaan. Kita punya potensi untuk membuat teman di warteg ataupun warung kopi. Tapi jarang sekali ada yang punya teman baru didapat dari meja yang bersebelahan di KFC. Bisnis yang berbasiskan kepercayaan adalah bisnis yang rentan dengan kebocoran, tapi demikianlah ia masih mempertahankan suatu pandangan bahwa manusia sesungguhnya punya nilai kebaikan. 

Itulah sebabnya, jika berbuka puasa di siang hari pada masa Ramadhan, pilihlah restoran modern, jangan yang tradisional. Di restoran modern, selama kamu membayar, maka kualitas moral tidak menjadi sesuatu yang dipertanyakan. Kita akan bisa melenggang tanpa perasaan melanggar nilai-nilai masyarakat. Sedangkan di warteg, meskipun membayar dan dilayani, kita akan mendapat sedikitnya beberapa tatapan yang mengganggu. Suatu pertanyaan dan penilaian akan moralitas. 
Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. hmm... jadi kepikiran juga...

    BalasHapus
  2. Tidak setuju.

    Makan siang, entah buka puasa, entah tidak puasa, tidak ada kaitannya dengan moralitas, dan tidak seharusnya menjadi bagian dari penilaian akan moralitas.

    Ini yang menyebabkan warteg tidak senyaman restoran modern. Karena makan masih dikaitkan dengan moralitas secara salah.

    Moralitas tidak ada kaitannya dengan agama. "Kepercayaan" atau "keakraban" yang menurut penulis terbangun di sebuah warung yang guyub dan akrab, menurut saya, justru menjadi runtuh, ketika para pengunjung dan pemiliknya memandang dan menghakimi seseorang konsumen sebagai pendosa.

    "Kepercayaan" kepada sosok manusia, bahwa dia bisa baik walaupun tak menjalani ritual agama, atau tak beragama sekalipun, tiba-tiba saja runtuh.

    Makan siang dengan dipandangi secara tajam oleh orang-orang yang mempertanyakan moralitas, seperti seolah urusan begini ada kaitannya dengan moralitas/baik-buruk, rasanya seperti bicara keutamaan kebajikan pada gerombolan FPI.

    Warung yang memperlakukan konsumennya sebagai pendosa, lebih baik tutup saja siang hari di bulan Ramadhan, turut kata FPI. Memangnya dikira enak makan siang sambil dihakimi? Memangnya enak makan sambil was-was, digrebek nggak nih. Dan sialnya, dihakimi dengan standar yang salah. Yang makan siang tak bermoral? Huh! Hari itu ribuan koruptor yang menyengsarakan jutaan masyarakat dengan menaikkan harga daging sedang khusuk berpuasa.

    Makan tuh puasa dan moralitasmu!

    BalasHapus