Minggu, 23 Juni 2013

Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey


Judul Buku           : Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey
Genre                  : Filsafat, Film Studies
Objek Kajian       : 2001: A Space Odyssey (1968) karya Stanley Kubrick
Penulis                 : Syarif Maulana
Penerbit               : Garasi10
Tahun Terbit        : 2013
Jumlah Halaman   : 113
Harga                  : Rp. 40.000

Ulasan

Tahun 2001 sudah lewat. Ramalan Kubrick tentang superkomputer semacam HAL 9000, perjalanan ke Yupiter, hingga tegaknya monolit di sejumlah tempat tidak sepenuhnya terbukti. Namun keakurasian ramalan Kubrick bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan. Kita tahu bahwa ada akurasi yang jauh lebih bisa diambil relevansinya, yaitu pertanyaan tentang paradoks dunia manusia kontemporer: Apakah kemungkinan terbesar yang ditawarkan oleh potensi manusia, justru adalah faktor terbesar yang membuat manusia ter-dehumanisasi –tereduksi kemanusiannya? Apakah kita melihat diri kita sebagai Moon-Watcher yang bertahan hidup dengan menggunakan alat, atau sudah menjadi Bowman dan Poole yang diperbudak oleh alat itu sendiri? Apakah kita memahami teknologi sebagai kacamata yang membuat dunia terlihat sebagai suatu tempat yang harus terus menerus dieksploitasi demi kehidupan manusia? Apakah kita melihat teknologi sebagai suatu sarana untuk mengakhiri hidup manusia lainnya –atau justru malah mengakhiri hidupnya sendiri-?

Testimoni

"Contoh kajian mendalam atas salah satu film paling filosofis dan spektakuler sepanjang jaman, 2001: A Space Odyssey. Rujukannya luas, logikanya tangkas, gaya bahasanya santai dan cerdas."  -Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat Unpar) 

 "Melalui film yang dikajinya Syarif Maulana mengajak kita berpikir sekaligus merenungi kehadiran teknologi yang ternyata merupakan pedang bermata dua: manusia mengembangkannya tanpa banyak menyadari bahwa sebenarnya ia mengancam manusia itu sendiri, baik secara fisik maupun mental. Teknologi membuat manusia percaya diri, tapi dengan itu sekaligus diri menjadi hilang di dalamnya. Demikianlah, buku ini mengirim makna, yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita duga." - Acep Iwan Saidi (Ketua Forum Studi Kebudayaan, Dosen Desain dan Media di Pascasarjana ITB)

"Perlu suatu pengetahuan khusus dalam mengapresiasi film tertentu yang secara sosio-estetika termasuk tinggi. Buku ini sangat membantu!" - Awal Uzhara (Sutradara, lulusan Institut Sinematografi Gerasimov, Moskow)



Pemesanan dapat langsung dengan menghubungi penulis via email ke syarafmaulini@gmail.com.
Continue reading

Minggu, 16 Juni 2013

Agama dan Solusi Epistemologis

Agama dan Solusi Epistemologis
Baru saja saya mendatangi rumah tetangga yang anaknya meninggal. Bukan meninggalnya anak tersebut -yang notabene adalah teman kecil yang saya sendiri lupa-lupa ingat- yang membuat saya sedih. Melainkan membayangkan perasaan orangtua yang ditinggal anaknya.

Namun dalam kekosongan pandangan sang ibu yang menyalami tamu satu per satu, terselip satu ucapan dari seorang bapak-bapak yang sepertinya ahli agama. Katanya, "Tabah ya, Bu, karena ia bukanlah punya kita." Suatu ucapan yang klise, yang dulu sering saya olok-olok sebagai "kepasrahan spiritual yang lemah", tapi sekarang saya sadari sebagai -jangan-jangan itulah- solusi satu-satunya untuk meredakan kesedihan sang ibu yang pastinya sangat mendalam. Kasus "kepasrahan spiritual yang lemah" ini pernah saya temukan juga di kelas Extension Course Filsafat UNPAR ketika Pak Bambang Sugiharto selaku pembicara tengah membahas problem lingkungan yang makin lama makin parah dan mengarah pada kehancuran secara global. Seorang bapak kemudian tunjuk jari untuk mengemukakan pendapatnya. Kalimat klise bernada religius itu lagi-lagi keluar, "Bagi orang beragama, lantas kenapa kalau dunia ini hancur? Ya sudah."

Agama, sebagai institusi yang katanya punya legitimasi terhadap spiritualitas, posisinya tergerus pelan-pelan oleh pengetahuan ilmiah. Mungkin ada masa keduanya punya posisi saling mendukung seperti misalnya pada masa Abad Pertengahan -terutama di kalangan umat Islam. Karena di Eropa, masa tersebut justru sering disindir sebagai kekalahan sains atas agama-. Namun seperti yang dicita-citakan oleh Auguste Comte, ia ingin masyarakat yang kelak secara total menanggalkan tahap teologis dan tahap metafisis dan menggantikan sepenuhnya kedua pengetahuan purba tersebut menjadi pengetahuan positif. Apa itu pengetahuan positif? Yakni pengetahuan yang mengandalkan observasi, hipotesis, dan verifikasi yang ketat sehingga tidak ada lagi celah bagi hal-hal mistis untuk tampil menyeruak menjawab misteri-misteri kehidupan. "Segalanya bisa dijelaskan, segalanya bisa dikendalikan," demikian kira-kira semboyan saintis pada umumnya yang sekaligus meruntuhkan dogma agama bahwa segala-gala ini ada yang mengatur yakni Tuhan. 

Ketika segalanya bisa dikendalikan, memang perasaan-perasaan transenden itu hilang seiring dengan kemampuan manusia dalam "menarik" alam semesta ke dalam keinginan-keinginannya. Misalnya, tak perlu kita memohon dewa hujan untuk menurunkan hujan di musim kemarau, selama untuk membeli minum kita bisa pergi ke Alfamart yang jaraknya hanya seratus meter -selama pipa-pipa masih mengalirkan air ke keran rumah kita untuk mandi-. Tak perlu juga kita memohon pada dewa badai untuk menghentikan angin ribut selama rumah kita kokoh ataupun ikan bisa kita peroleh di pasar esok pagi -sedangkan jika badai, nelayan akan menghentikan pelayarannya-. Tak perlu predikat orang sakti untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu singkat selama kita mengerti cara membeli tiket pesawat. Singkatnya, tak perlu Tuhan, tak perlu dewa-dewi selama segalanya bisa masuk dalam logika materialisme. 

Namun demikianlah, menilik pada peristiwa yang menimpa tetangga saya tersebut. Ternyata ada suatu penderitaan, suatu bencana, suatu masalah yang tak terperi besarnya, hingga pada akhirnya hanya pendapat-pendapat klise agama yang justru bisa diterima oleh akalnya. Hal-hal yang secara epistemologis tak sanggup dijangkau oleh pengetahuan ilmiah seperti kematian (bukan penyebabnya, melainkan kematian itu sendiri) dan bencana alam besar (bukan penyebabnya, melainkan bencana itu sendiri) membuat manusia seringkali lebih merasa tenang jika pertanyaan-pertanyaan eksistensialnya dijawab dengan hal-hal yang justru mistis-spiritual. 

Seorang ibu yang kehilangan anaknya tidak akan puas oleh penjelasan-penjelasan ilmiah seperti kanker otak ataupun kecelakaan tunggal -puas mungkin, pada level tertentu-. Ia akan mencari ketenangan oleh apa yang disebut Aristoteles sebagai causa prima alias sebab final, atau sebab-untuk. Kata Aristoteles, jika kita mencari sebab material dari hujan, maka kita akan menjawab air laut yang menguap. Tapi ada sebab yang lebih luhur, yakni kenapa terjadi hujan? Karena tumbuh-tumbuhan membutuhkannnya. Sama dengan menjawab mengapa anak sang ibu mengalami kematian, berdasarkan causa prima seorang bapak itu menjawab, "Karena ya, ia bukanlah milik kita." Mistis? Spiritual? Ya, tapi terkadang yang demikian bisa menjadi solusi bagi batas-batas pengetahuan kita. 

Continue reading

Minggu, 09 Juni 2013

The Act of Killing (2012): Rekonstruksi Sejarah oleh Para Eksekutor

The Act of Killing (2012): Rekonstruksi Sejarah oleh Para Eksekutor


Sebenarnya saya bukanlah orang yang menaruh perhatian serius pada sejarah negeri sendiri -sangat menyedihkan!-. Setidaknya belum, sampai saya menonton film dokumenter berjudul Jagal yang judul aslinya adalah The Act of Killing. Film yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer ini bercerita tentang Anwar Congo dan Herman Koto, dua eks preman bioskop yang direkrut oleh pemerintah untuk menumpas orang-orang yang dituding sebagai komunis. Latar belakang penumpasan ini ditengarai bernuansa politis sebagai bentuk penggulingan terhadap rezim pemerintahan sebelumnya, Soekarno, yang memang dekat dengan petinggi-petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Anwar dan Herman, kemudian diminta untuk menceritakan bagaimana pengalamannya dalam melenyapkan orang-orang yang dituduh komunis tersebut -tidak hanya diceritakan, tapi juga direkonstruksi ulang sedetail mungkin-. Yang menarik, keduanya boleh merekonstruksi ulang kejadiannya dengan caranya sendiri. Dalam arti kata lain, mereka boleh meniru adegan dari film-film favorit mereka -yang kemudian difasilitasi tentunya-. Ada film koboi, film gangster, hingga film horor mereka jadikan latar untuk meniru pembunuhan yang dilakukan oleh mereka. Anwar dan Herman, sebagaimana dituliskan dalam narasi awal film, memang terlihat sangat bangga dengan apa-apa yang sudah mereka lakukan. Dalam film ini juga dilibatkan rekan-rekan Anwar dan Herman sesama kontra revolusi seperti Ibrahim Sinik dan Safit Pardede. 

Proses rekonstruksi ini ternyata tidak memuaskan hati Anwar Congo pada akhirnya. Justru lama kelamaan ia merasa bahwa apa yang ia lakukan selama ini ternyata tidak benar. Artinya, film itu sendiri menjadi katalisator hati nurani Anwar yang sejak awal sangat bangga akan prestasinya dalam membunuhi ribuan tertuduh komunis -ia bahkan dianggap pahlawan oleh masyarakat sekitar-. Bagian ini menjadi sisi yang "melegakan" ketika sepanjang film berdurasi nyaris dua setengah jam saya dilanda perasaan campur aduk antara benci, mual, kesal, hingga bingung. Bingung karena bagaimana mungkin hal yang segamblang ini -tentang fakta bahwa perilaku mereka yang kontra-revolusi ternyata jauh lebih kejam dan melakukan kejahatan kemanusiaan yang lebih masif daripada apa yang dituduhkan terhadap PKI- tidak terpaparkan secara terbuka dalam wacana sejarah kita.

Dalam ulasan yang ditulis oleh Peter Debruge di salah satu situs, film Jagal adalah film yang esensial untuk ditonton, tapi tidak untuk ditonton kembali. Saya pribadi merasa terganggu beberapa hari setelah menyaksikannya. Memang sulit membayangkan bagaimana seorang yang begitu menikmati banyak pembunuhan hidup secara nyata dalam masyarakat kita. Ia merasa perbuatannya benar oleh sebab propaganda demi propaganda yang dilancarkan dan akhirnya tertanam dalam pikirannya. Ditambah lagi, suatu penyebab tribal menjadi dasar bagi pembantaian. Katanya, sebagai eks preman bioskop, "Karena orang-orang komunis ini menghasut rakyat agar tidak nonton film Hollywood. Padahal penghasilan kami kan dari orang-orang yang nonton film Barat." 

Sejarah, pada akhirnya selalu berupa rekonstruksi dari sejumlah interpretasi. 
Continue reading

Kamis, 06 Juni 2013

Politik dan Normalitas

Politik dan Normalitas
Ada suatu rumus yang tidak ilmiah, tapi tingkat kebenarannya bisa diuji lewat pengamatan. Kita bisa mengetahui nilai-nilai apa yang dianggap normal oleh masyarakat, berdasarkan elit-elit politik yang sedang berkuasa atau berupaya naik ke tampuk kekuasaan.

Contoh mudahnya adalah dalam artikel berjudul "Bila Prabowo Presiden 2014, Siapa Ibu Negara?" ini. Bercerainya Prabowo dengan Siti Hediati Haryadi dianggap suatu problem. Terutama kenyataan bahwa jika ia menjadi presiden, maka sungguh tidak patut jika Prabowo berstatus single. Apa artinya? Artinya, seorang elit kekuasaan dianggap normal jika ia menikah, dengan lawan jenis tentunya -kita membayangkan demonstrasi yang masif jika seorang calon presiden ternyata gay-. Lebih lengkap lagi jika ia mempunyai keluarga utuh. Punya anak hasil dari pernikahannya yang monogamistik.

Di Indonesia, nilai-nilai yang dianggap benar oleh masyarakat luas adalah agama (baca: Islam). Kita belum menemukan ada seorang non-muslim yang maju sebagai presiden di Indonesia karena tahu popularitasnya mungkin tidak akan sementereng mereka yang menyimpan gelar haji di depan namanya. Lainnya lagi adalah gelar akademik. Bukan rahasia lagi jika para pejabat berlomba-lomba untuk menambahkan gelar akademik di belakang namanya untuk menguatkan kans dalam pemilihan. Menikah, heteroseksual, monogami, punya anak, beragama Islam apalagi haji, sekolah yang tinggi, tidakkah sesuatu yang ideal bagi masyarakat Indonesia? Ah iya, satu lagi, ia tidak boleh punya keterkaitan dengan apapun yang berbau komunis. 

Di Prancis, pemimpin sekarang yakni François Hollande, ia punya partner yang tidak dinikahinya. Sekarang, partner yang sudah memberinya empat anak tersebut, namanya Ségolène Royal, di-"cerai"-kannya. Namun masyarakat Prancis sepertinya tidak fokus pada hal-hal pribadi semacam itu. Mereka hanya konsentrasi terhadap kebijakan-kebijakan apa yang dikeluarkan oleh Hollande -Tidak serta merta menulis artikel berjudul "Royal Pergi, Siapa Ibu Negara Prancis?"-

Tentu saja keterkaitan elit politik dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, tidak bisa dilepaskan. Seseorang yang ingin naik ke tampuk kekuasaan lewat jalur pemilihan umum -kecuali jika ia turun temurun seperti kerajaan- haruslah mempertimbangkan apa yang pada umumnya disukai masyarakat. Mereka bahkan perlu menarik artis-artis lokal mulai dari penyanyi dangdut dan artis sinetron karena tahu rating pemirsa di Indonesia sangat tinggi untuk dua hal tersebut. Hanya saja, ini sekadar tips, jika ingin datang ke suatu negara yang kamu pikir masih asing bagimu sendiri mengenai seluk beluk masyarakatnya, bisa dicoba dengan terlebih dahulu menelaah pencitraan elit politiknya. 


Continue reading

Bisnis dan Kepercayaan

Bisnis dan Kepercayaan
Di suatu siang, saya mendatangi satu warteg di daerah belakang Setrasari Mal untuk santap siang. Si penjaga yang sedang cuci piring hanya melihat saya sebentar untuk bertanya, "Makan di sini?" Saya menjawab iya. Lalu dia kembali untuk melanjutkan kegiatannya sambil berkata, "Ambil saja." 

Saya memang tidak heran dengan gaya warteg pada umumnya yang percaya penuh pada pengunjung untuk mengambil sendiri apa yang mereka inginkan. Setelah mengambil, mereka bisa langsung makan dan nanti membayar sambil mendeskripsikan apa-apa saja yang baru saja diambil. Apakah sangat mungkin ada orang yang darmaji alias dahar lima ngaku hiji (makan lima, mengaku satu)? Tentu saja. Secara epistemologis, pedagang warteg tidak punya pengetahuan akan apa yang diambil pengunjung dan hanya mengandalkan penuturannya saja. Mereka bukan sedang pura-pura percaya seperti supermarket yang membiarkan pengunjung berkeliaran padahal di sana sini tergantung CCTV dan berkeliaran para Fox alias petugas yang menyamar sebagai pengunjung demi mengawasi mereka yang diduga akan mengutil. 

Kepercayaan ala warteg juga tidak terjadi ketika saya berenang di sebuah komplek bernama Batununggal. Begitu rumitnya pihak kolam renang dalam memperlakukan saya selaku pengguna jasa. Pertama, mereka meminta saya untuk membayar tiket masuk. Nantinya, tiket masuk tersebut akan diberikan bersama struk pembelian. Kemudian saya akan melalui dua gerbang sekaligus. Yang pertama adalah gerbang yang dijaga oleh petugas keamanan berseragam hitam. Ia akan menempelkan tiket tersebut yang berupa kartu pada semacam sensor untuk membuka pintu besi. Setelah itu saya akan menghadapi gerbang kedua. Isinya? Beberapa orang berpakaian karyawan yang akan memberikan air minum dalam bentuk botol. Untuk mendapatkan air tersebut, saya harus menukarkan struk tanda pembayaran. Setelah melewati dua hadangan tersebut, baru saya bisa berenang. 

Tentu saja saya bukannya tidak mengerti maksud kolam renang memperlakukan saya sebegitu ketatnya. Mereka ingin agar tidak terjadi kebocoran pengunjung. Mereka ingin orang-orang yang menikmati kolam renang adalah yang membayar. Mereka ingin data-data yang lengkap sehingga tahu kas masuk secara terperinci dan sudah pasti data-data tersebut dibutuhkan untuk evaluasi bisnis ke depannya. 

Namun saya merasakan perbedaan dalam perasaan saya sendiri bagaimana ketika diperlakukan oleh warteg dan kolam renang. Oleh warteg, saya merasa keutamaan saya sebagai manusia dipertaruhkan. "Bisa saja saya mencuri dan tidak akan ketahuan, uang saya bertahan dan tidak akan siapapun yang menuntut saya. Tapi apakah perbuatan tersebut dibenarkan?" demikian nurani saya diuji. Oleh kolam renang, saya merasa bahwa uang sudah cukup untuk menunjukkan bahwa saya jujur sebagai manusia. Dengan membayar, maka jikapun pribadi saya seorang bajingan maka tidaklah menjadi penting dalam mekanisme jual beli modern. Dalam bisnis ala warteg pun, relasi manusia menjadi hal yang bisa berkembang karena basisnya adalah kepercayaan. Kita punya potensi untuk membuat teman di warteg ataupun warung kopi. Tapi jarang sekali ada yang punya teman baru didapat dari meja yang bersebelahan di KFC. Bisnis yang berbasiskan kepercayaan adalah bisnis yang rentan dengan kebocoran, tapi demikianlah ia masih mempertahankan suatu pandangan bahwa manusia sesungguhnya punya nilai kebaikan. 

Itulah sebabnya, jika berbuka puasa di siang hari pada masa Ramadhan, pilihlah restoran modern, jangan yang tradisional. Di restoran modern, selama kamu membayar, maka kualitas moral tidak menjadi sesuatu yang dipertanyakan. Kita akan bisa melenggang tanpa perasaan melanggar nilai-nilai masyarakat. Sedangkan di warteg, meskipun membayar dan dilayani, kita akan mendapat sedikitnya beberapa tatapan yang mengganggu. Suatu pertanyaan dan penilaian akan moralitas. 
Continue reading

Senin, 03 Juni 2013

Kelas Filsafat (Pertemuan 4): Sokrates

Kelas Filsafat (Pertemuan 4): Sokrates

“I know one thing: I know nothing.” 
—Part of a series on Socrates 

Tidak seperti filsuf-filsuf lain yang menunjukkan intelektualitasnya melalui pernyataan-pernyataan mereka yang kompleks dan rumit, Socrates justru “menyederhanakan” filsafat dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya tampak bodoh di hadapan orang lain. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tersebut dapat menelanjangi idealisme seseorang sehingga membuat orang itu berpikir ulang mengenai esensi dari prinsip yang ia yakini selama hidupnya. Hal ini kemudian disebut “ironi socrates” karena pada saat bertanya, ia tampak seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Bukan seperti orang yang sedang menguji kemampuan menjawab lawan bicaranya. 

Hidup di 469-399 SM, Socrates terkenal sebagai seorang pria bertubuh gemuk yang tidak tampan. Dengan berpakaian sederhana dan tanpa alas kaki ia sering berjalan-jalan di sekitar Agora (alun-alun Athena), kemudian menghampiri orang satu per satu untuk berdiskusi filsafat. Pada awalnya, ia melakukan diskusi tersebut karena ia ingin membuktikan kekeliruan dari suara gaib yang didengar temannya, Chaerephon. Suara gaib tersebut menyebutkan bahwa Socrates adalah manusia terbijak di Athena. Karena merasa tidak bijak, ia menghampiri satu per satu orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Socrates kemudian mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kebijaksanaan pada mereka. Namun, orang-orang yang ia tanyai itu gagal melahirkan definisi absolut mengenai kebijaksanaan yang ia cari. Pada akhirnya, Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasarkan sebuah pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena ia tahu bahwa ia tidak bijak, sedangkan orang-orang lain yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu bahwa mereka tidak bijak. 

Proses tanya-jawab atau diskusi yang dilakukan Socrates tersebut kemudian dikenal dengan istilah “metode socrates”. Namun, ia sendiri sering menyebutnya “metode kebidanan”. Menurut Socrates, dirinya bukanlah manusia yang luar biasa cerdas. Ia tidak pernah mengajarkan apapun pada orang lain. Ia hanyalah manusia biasa yang membantu lahirnya sebuah pemikiran melalui pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan—bak seorang bidan yang membatu proses kelahiran seorang bayi. Jika kita amati, metode diskusi tersebut memang sangat baik untuk diterapkan ketika kita mulai buntu dalam menghadapi sebuah persoalan. Melakukan dialog dengan orang lain dapat membantu kita menemukan pemikiran baru dengan perspektif yang beragam, dibandingkan dengan saat kita hanya menyaksikan seseorang berbicara satu arah. Sayangnya, politisi dan para petinggi Athena pada saat itu malah menganggap “metode socrates” ini sangat menyebalkan dan mengancam. Atas dasar tersebut, Socrates kemudian ditangkap dan diadili. Ia dianggap sudah menyebarkan paham sesat di kalangan masyarakat. Pria tersebut lalu diberi dua pilihan: mati minum racun atau mengakui kesalahannya dan keluar dari Athena. Socrates bukanlah seorang pengecut yang berminat untuk menggadaikan kebenaran demi hidup dalam kebohongan. Ia tidak mau mengingkari hati nuraninya sendiri. Maka dari itu, Socrates memilih untuk minum racun dan mati dengan terhormat. 

Menurut Kang Syarif, Socrates adalah satu-satunya filsuf yang bisa kita sebut “filsuf yang sebenarnya”. Hal tersebut dikarenakan ia masih memegang teguh makna murni filsafat sebagai “cinta terhadap kebijaksanaan”. Socrates tidak menyebarkan paham apapun. Tidak seperti Hegel dengan idealismenya, Kierkegaard dengan eksistensialismenya, atau Marx dengan sosialismenya. Tetapi, Socrates sebenarnya memiliki banyak ajaran mengenai etika. Ia menjadi musuh utama kaum sophis yang pandai merelatifkan kebenaran. Menurut kaum sophis, kebenaran itu bersifat subjektif. Namun menurut Socrates, pasti ada sesuatu yang absolut mengenai kebenaran. Bagaimana caranya agar kita bisa menemukan keabsolutan tersebut? Tentunya dengan melakukan dialektika—metode kebidanan—yang sebelumnya telah ia contohkan. Socrates percaya bahwa jika kita terus menggali suatu hal lebih dalam, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang objektif dan tidak terbantahkan. 

Socrates mengatakan bahwa pengetahuan terbaik itu berasal dari dalam. Maksudnya, sebuah pengetahuan yang bagus itu bukan muncul ketika kita “menerima suatu ajaran kemudian mematuhinya” melainkan ketika kita “menerima suatu ajaran kemudian menyadarinya”—sebagai sesuatu yang datang dari dalam diri. Hal itu biasanya terjadi pada pengetahuan-pengetahuan yang bersifat reflektif, bukan kognitif. Contohnya seperti seni. Seni bukanlah sesuatu yang harus kita pahami melalui deskripsi dan definisi. Seni adalah sebuah pengalaman yang kita dapati ketika kita merefleksikan esensi perasaan manusia yang ditangkap oleh panca indra ke dalam batin kita sendiri. Masih berkaitan dengan etika, Socrates mengatakan bahwa setiap manusia pasti memiliki kebaikan di dalam dirinya. Filsuf tersebut bahkan percaya bahwa kejahatan bukanlah suatu hal yang dipicu oleh kehendak bebas manusia. Kejahatan itu muncul karena manusia yang melakukannya belum memiliki pengetahuan mengenai kebaikan. Menurut Kang Syarif, pernyataan tersebut ada benarnya. Sebagai contoh, pada usia-usia tertentu kita dapat memaklumi tindakan anak-anak yang berusia jauh lebih muda dari kita ketika mereka berbuat “kenakalan”. Kenakalan tersebut dilakukan karena sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Jika kelak mereka mengerti, mereka tentu akan memilih untuk berbuat baik dibanding berbuat nakal. Alasan sederhananya, karena kebaikan itu membahagiakan. Melakukan kebaikan itu pasti menenangkan karena tidak menimbulkan suatu tabrakan dengan batin. Di samping itu, Socrates juga berkata bahwa untuk menemukan kebaikan tersebut setiap manusia perlu berlatih. Latihan yang dimaksud adalah dengan melakukan dialektik sesering mungkin—baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Pada intinya, Socrates ingin mengatakan bahwa kita harus sering berefleksi karena dari refleksi-refleksi diri tersebutlah kita dapat menemukan kebaikan dan kebenaran yang bersifat absolut. 

Pada dasarnya, semua filsuf memikirkan etika. Misalnya, etika Sartre. Ia menyatakan bahwa seluruh manusia itu bebas, moralitas itu tidak ada. Kita semua dapat bertindak bebas asalkan bertanggung jawab akan resiko yang ditimbulkan setelahnya. Lain halnya dengan etika Immanuel Kant. Ia menyebutkan bahwa jika kita dihadapkan pada dua pilihan, kita harus mengambil sebuah pilihan yang mendatangkan kebaikan universal bagi orang banyak. Berbeda lagi dengan etika David Hume. Ia mengatakan bahwa akal adalah budak nafsu. Jadi ketika kita bernafsu akan suatu hal, kita akan mengumpulkan pikiran-pikiran yang dapat membuat argumen kita disetujui. Namun, dari semua etika yang pernah dilontarkan para filsuf, menurut Kang Syarif etika Socrates lah yang paling relevan dan lestari hingga saat ini. Apa yang Socrates katakan? “Manusia itu harus baik. Lalu nantinya, ia akan tahu sendiri apa yang baik—untuk dilakukan”. Kalimat yang nampak sederhana padahal sangat abstrak (menurut saya, hehe). Pada akhirnya, untuk bersikap baik kita harus terlebih dahulu mempunyai pengetahuan-pengetahuan akan kebaikan. Bagi Socrates, yang terpenting dari manusia adalah ia memiliki areté. Areté itu semacam keutamaan, tanggung jawab moril, atau mungkin bisa saya katakan “panggilan jiwa”. Kita ambil saja contoh sederhananya: kelas filsafat ini. Walaupun setelah empat kali pertemuan pesertanya tidak kunjung bertambah, Kang Syarif, Manda, dan saya tetap merasa kelas filsafat ini perlu diteruskan. Entah mengapa, kami merasa harus selalu hadir dan berdiskusi bersama (hampir) setiap minggunya. Secara areté, seperti ada sebuah dorongan yang membuat kami harus percaya bahwa kelas filsafat ini baik. Tanpa disadari, hal ini membuat kami menjelma menjadi “manusia-manusia etis”—seperti yang pernah dibahas dalam kelas filsafat pertemuan ketiga. Tak heran bila Kierkegaard pun menjuluki “manusia etis” sebagai “manusia socrates” dalam teori tiga tahap eksistensi manusia yang ditulisnya. 

Di luar itu semua, sebetulnya tidak ada bukti otentik akan keberadaan Socrates. Ia tidak meninggalkan karya tulis dalam bentuk apapun. Makamnya pun tidak diketahui keberadaannya. Sejarah pemikiran Socrates hanya dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan muridnya, terutama Plato. Dalam karyanya, Plato seringkali menuliskan dialog antara dirinya dengan Socrates, atau antara Socrates dengan orang lain. Pada titik ini kita perlu mempertanyakan ulang, apa sebenarnya makna dari “otentik”? Dan apa pentingnya “otentik”? Apakah penting jika ternyata Socrates itu sebenarnya tidak ada? Sekalipun jika Socrates itu ternyata hanya karang-karangan Plato belaka, hal itu sepertinya bukanlah masalah besar. Persoalan “ada” atau “tidak ada” ini tidak lagi menjadi penting ketika karakter dan pemikiran Socrates tersebut sudah terlanjur melekat dan kita yakini dalam benak kita selama ini. 

Sekian diskusi kami dalam kelas filsafat pertemuan keempat di hari Kamis, 23 Mei 2013 yang lalu. Kemungkinan besar, dalam pertemuan berikutnya kami akan meneruskan pembahasan kepada filsuf besar Yunani di era filsafat kuno selanjutnya: Plato. Sampai jumpa! 

*** dparamithatp
Continue reading