Thursday, May 16, 2013

Blade Runner (1982): Distopia yang Masokistik


Meskipun reputasinya sudah beberapa kali saya dengar, namun baru semalam saya kesampaian nonton film Blade Runner. Ekspektasi ketika memutar film ini cukup tinggi. Saya sedang enggan berpikir yang berat-berat sehingga berharap bahwa film ini akan berisi aksi-aksi menawan sehubungan dengan yang main adalah Harrison Ford. Namun lama kelamaan disaksikan, 10 menit; 20 menit; 30 menit; hingga satu jam; saya mulai merasakan bahwa film ini tidak ada tendensi ke arah laga. Film ini punya bau-bau filosofis yang membuat saya paham mengapa Mas Ismail Reza beberapa kali mengangkat wacana untuk mendiskusikan film ini. Jika hanya sekadar film laga, untuk apa kita berdiskusi, kan?

Blade Runner mengambil tempat di tahun 2019. Sebuah situasi distopia masa-depan yang ditandai salah satunya oleh terciptanya kloning manusia bernama replicant. Replicant versi terbaru, yakni Nexus 6, adalah replicant yang paling menyerupai manusia dari segi baik emosi maupun intelegensia. Untuk apa replicant ini diciptakan? Tadinya hanya sebatas sebagai budak untuk mengerjakan koloni manusia di luar sana, bernama Off-World Colonies. Tapi akhirnya beberapa replicant sukses kabur dari pekerjaannya dan berkeliaran di bumi. Berkeliarannya replicant ini tidak hendak dibiarkan begitu saja. Diutus polisi rahasia untuk memburu dan "mempensiunkan" para replicant yang kabur tersebut. Polisi rahasia itu disebut dengan Blade Runner. Salah satu yang paling aktif dan diandarlkan adalah Rick Deckard yang diperankan oleh Harrison Ford.

Mendengar kilas ceritanya, kita seperti akan digiring ke film semacam Terminator. Yang terbayangkan adalah Deckard memburu satu demi satu para replicant dan membunuhnya dengan keji. Namun kemudian, berbagai visualisasi yang ditampilkan, pertama, membuat film ini terasa punya nuansa seperti film science-fiction milik David Lynch yakni Dune. Baik Dune maupun Blade Runner keduanya punya tone color film yang khas, yang terihat riang gembira di permukaan namun kita susah sekali untuk tertawa karena sadar bahwa ke-distopia-annya dipenuhi hal-hal yang satir. Kedua, Blade Runner pada akhirnya lebih fokus pada urusan psikologis ketimbang hendak pamer pandangan-pandangan futuristik sang sutradara, Ridley Scott (meski ia menampilkan dengan sukses benda-benda futuristiknya seperti Spinner alias mobil terbang). Blade Runner banyak berkutat dengan kegalauan Deckard sebagai seorang pemburu replicant, yang disebabkan oleh indikasi implisit bahwa ia pun adalah seorang replicant, serta rasa kekagumannya yang aneh pada replicant bernama Rachael, sekaligus juga pada yang antagonis bernama Roy Batty, yang punya sisi jahat sekaligus baik. 

Walhasil, Blade Runner, dengan tempo film yang sangat lambat, mungkin akan mengecewakan bagi mereka yang sudah kadung berharap film Ridley Scott ini akan seatraktif film ia yang sukses sebelumnya, Alien (1979). Namun simak bagaimana Scott sesungguhnya cukup puas dengan Blade Runner. Ia merasa berhasil menyuguhkan "pengalaman akan rasa sakit" lewat situasi distopia yang membingungkan plus keterpukulan psikologis seorang Deckart. Blade Runner memang menjadi satu diantara sedikit film-film Hollywood yang tidak terlalu pro-pasar. Reputasinya baru belakangan saja dipulihkan, ketika pada masanya lebih banyak dicibir karena membosankan dan tidak jelas. 

Jauh setelah masa pemutarannya, Blade Runner direhabilitasi dengan sentuhan-sentuhan interpretasi filosofis. Ada yang mengatakan bahwa Roy Batty adalah sosok superman seperti yang digadang-gadang oleh filsuf Friedrich Nietzsche. Batty diciptakan sebagai budak namun akhirnya maju tampil melampaui dirinya dan akhirnya membunuh kreatornya sendiri, Dr. Tyler. Inilah sosok superman yang diidamkan Nietzsche, yang bisa menjadikan dirinya dari sosok bermental budak menjadi sosok bermental tuan. Ada juga yang mengatakan bahwa Blade Runner dipenuhi oleh simbolisasi mata (Freemason [lagi]??). Namun apapun interpretasi yang dikembangkan tentang film ini, Scott sepenuhnya benar bahwa Blade Runner punya nuansa "masokistik" yang amat kental. Kita merasakan suatu sakit yang nikmat ketika menikmati adegan demi adegan yang seringkali tak punya penjelasan.  

Previous Post
Next Post

0 comments: