Jumat, 24 Mei 2013

Purifikasi

Purifikasi
Manusia pada dasarnya punya sifat malas. Itu sebabnya dianugerahi kita cara berpikir generalisasi. Kant mengatakan sudah fitrahnya manusia berpikir secara generalisasi. "Jika batu dijatuhkan dua kali dan ia memang jatuh ke bumi, maka sudah pasti manusia akan berpikir bahwa demikian halnya yang ketiga kalinya," begitu kira-kira ujarnya. Cara berpikir semacam ini berlanjut pula ke bagaimana ia memahami lingkungan sosialnya. Tidak banyak manusia yang mau dengan sungguh-sungguh menelaah individu per individu untuk mengetahui kedalamannya. Rata-rata mereka mengambil satu dua sampel saja untuk dijadikan apa yang disebut: stereotip. Ketika misalnya saya pernah mendapati orang Arab yang ramah, saya akan katakan: orang Arab ramah-ramah. Sebaliknya ketika ada orang Arab yang jahil, saya akan bilang: orang Arab jahil-jahil. Begitu pemalasnya saya untuk mengatakan: Ada orang Arab yang jahil, ada orang Arab yang ramah. Rupanya kalimat semacam itu terlalu abu-abu untuk diceritakan pada orang lain -kurang bombastis, kurang bernilai pengetahuan-.

Kita akan mengetahui bahwa kemalasan memahami lingkungan sosial tersebut -jika kebetulan lingkungan sosialnya ditinggali berbagai macam ras- membawa kepada rasisme. Rasisme jelas merupakan suatu kemalasan berpikir seperti Atticus Finch dalam novel To Kill a Mockingbird, "Kita tidak akan pernah paham seseorang sebelum kamu berdiri dari sudut pandangnya." Malcolm X misalnya, pejuang kulit hitam di Amerika Serikat, pernah punya masa dalam hidupnya ketika ia begitu rasis -membalas perlakuan orang kulit putih yang rasis kepada mereka-. Ia memperjuangkan black supremacy dan melakukan stereotip bahwa semua orang kulit putih, dimanapun, adalah iblis. "Pernahkah kalian lihat orang kulit putih yang baik?" begitu tanyanya pada setiap wartawan yang ditemuinya. Ia kemudian bersikap purifikatif secara politis: Malcolm X ingin pemisahan total antara kulit hitam dan kulit putih. Ia justru berkebalikan dengan rata-rata aktivis kulit hitam yang ingin memperjuangkan kesamaan hak-hak dengan orang kulit putih.

Upaya purifikasi seringkali terbentur suatu dilema. Misalnya begini, apakah betul kita bisa melepaskan diri dari pengaruh ras yang kita lawan? Apakah misalnya, perlawanan itu sendiri, seringkali menggunakan elemen-elemen dari ras yang berseberangan sebagai senjatanya? Misalnya di twitter ada akun yang cukup terkenal dengan purifikasi islam (islam bukan sejenis ras tentunya, tapi kita bisa ambil ini sebagai analogi dari purifikasi) bernama @hafidz_ary. Ia terus-terusan berkata Islam adalah eksklusif, Islam adalah agama yang paling benar dan silakan komparasikan kebenarannya dengan agama lain. Ia persis seperti Malcolm X ketika masih aktif di Nation of Islam membela guru spiritualnya, Elijah Muhammad. @hafidz_ary dan Malcolm X sama-sama disayang oleh sebangsanya tapi dianggap oleh di luarnya sebagai sumber hate speech. Mereka disayang oleh sebangsanya karena menawarkan purifikasi. Namun upaya purifikasi itu "ditertawakan" karena menggunakan medium-medium dari lawan-lawannya. @hafidz_ary menggunakan twitter yang notabene merupakan produk dari Barat yang ia jelek-jelekkan peradabannya. Malcolm X? Pertama, secara personal, ia berpakaian seperti orang kulit putih. Lalu ia juga menggunakan media cetak orang-orang kulit putih untuk memperkuat corong aspirasinya. 

Artinya, isu purifikasi adalah juga isu kekuasaan. Kita sering mendapat mereka-mereka yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan sebelumnya, terbentur pada dilema ideologis apakah mereka harus "berdamai" dengan lawan untuk mencapai tujuannya, atau berseberangan sepenuhnya dengan lawan tersebut dalam segala hal? Apakah orang-orang muslim yang ingin membangun negara Khilafah sebagai upaya purifikasi agama, harus melalui jalur demokrasi yang ia benci, atau justru melawan dengan sistemnya sendiri? Maka itu isu purifikasi juga adalah isu utopis. Kita selalu membayangkan apa yang pure itu sebagai hal yang ilusif saja. Misalnya, "Islam murni" adalah sekumpulan orang-orang muslim yang berkumpul mengenakan pakaian Arab dan berbicara bahasa Arab dan shalat bersama-sama sehari lima kali ke masjid. Apakah betul itu yang murni? Bahkan kita bisa curigai orang-orang muslim di Arab sana pun berkutat dengan apa yang dimaksudkan dengan kemurnian. 

Apa yang murni selalu punya masalah: Apakah murni secara esensi dikatakan sebagai murni seutuhnya, atau murni harus pula secara eksistensi? Apakah seseorang yang berjanggut sudah dikatakan murni mengacu pada syari'at Islam karena secara eksistensi fisik ia menyerupai, atau sesungguhnya janggut itu adalah simbol dari kebijaksanaan maka itu tidak perlu dipahami secara literal? Apakah seorang yang anti-kulit putih itu lebih bagus jika ia anti semuanya yang berbau kulit putih, atau ia boleh berdamai dengan kulit putih selama itu demi kesejahteraan kulit hitam sendiri? Sejarah peradaban, kata Marx, adalah selalu tentang perjuangan kelas. Namun mari menambahkan bahwa sejarah peradaban adalah juga tentang perjuangan mencari kemurnian.

Continue reading

Kamis, 16 Mei 2013

Blade Runner (1982): Distopia yang Masokistik

Blade Runner (1982): Distopia yang Masokistik

Meskipun reputasinya sudah beberapa kali saya dengar, namun baru semalam saya kesampaian nonton film Blade Runner. Ekspektasi ketika memutar film ini cukup tinggi. Saya sedang enggan berpikir yang berat-berat sehingga berharap bahwa film ini akan berisi aksi-aksi menawan sehubungan dengan yang main adalah Harrison Ford. Namun lama kelamaan disaksikan, 10 menit; 20 menit; 30 menit; hingga satu jam; saya mulai merasakan bahwa film ini tidak ada tendensi ke arah laga. Film ini punya bau-bau filosofis yang membuat saya paham mengapa Mas Ismail Reza beberapa kali mengangkat wacana untuk mendiskusikan film ini. Jika hanya sekadar film laga, untuk apa kita berdiskusi, kan?

Blade Runner mengambil tempat di tahun 2019. Sebuah situasi distopia masa-depan yang ditandai salah satunya oleh terciptanya kloning manusia bernama replicant. Replicant versi terbaru, yakni Nexus 6, adalah replicant yang paling menyerupai manusia dari segi baik emosi maupun intelegensia. Untuk apa replicant ini diciptakan? Tadinya hanya sebatas sebagai budak untuk mengerjakan koloni manusia di luar sana, bernama Off-World Colonies. Tapi akhirnya beberapa replicant sukses kabur dari pekerjaannya dan berkeliaran di bumi. Berkeliarannya replicant ini tidak hendak dibiarkan begitu saja. Diutus polisi rahasia untuk memburu dan "mempensiunkan" para replicant yang kabur tersebut. Polisi rahasia itu disebut dengan Blade Runner. Salah satu yang paling aktif dan diandarlkan adalah Rick Deckard yang diperankan oleh Harrison Ford.

Mendengar kilas ceritanya, kita seperti akan digiring ke film semacam Terminator. Yang terbayangkan adalah Deckard memburu satu demi satu para replicant dan membunuhnya dengan keji. Namun kemudian, berbagai visualisasi yang ditampilkan, pertama, membuat film ini terasa punya nuansa seperti film science-fiction milik David Lynch yakni Dune. Baik Dune maupun Blade Runner keduanya punya tone color film yang khas, yang terihat riang gembira di permukaan namun kita susah sekali untuk tertawa karena sadar bahwa ke-distopia-annya dipenuhi hal-hal yang satir. Kedua, Blade Runner pada akhirnya lebih fokus pada urusan psikologis ketimbang hendak pamer pandangan-pandangan futuristik sang sutradara, Ridley Scott (meski ia menampilkan dengan sukses benda-benda futuristiknya seperti Spinner alias mobil terbang). Blade Runner banyak berkutat dengan kegalauan Deckard sebagai seorang pemburu replicant, yang disebabkan oleh indikasi implisit bahwa ia pun adalah seorang replicant, serta rasa kekagumannya yang aneh pada replicant bernama Rachael, sekaligus juga pada yang antagonis bernama Roy Batty, yang punya sisi jahat sekaligus baik. 

Walhasil, Blade Runner, dengan tempo film yang sangat lambat, mungkin akan mengecewakan bagi mereka yang sudah kadung berharap film Ridley Scott ini akan seatraktif film ia yang sukses sebelumnya, Alien (1979). Namun simak bagaimana Scott sesungguhnya cukup puas dengan Blade Runner. Ia merasa berhasil menyuguhkan "pengalaman akan rasa sakit" lewat situasi distopia yang membingungkan plus keterpukulan psikologis seorang Deckart. Blade Runner memang menjadi satu diantara sedikit film-film Hollywood yang tidak terlalu pro-pasar. Reputasinya baru belakangan saja dipulihkan, ketika pada masanya lebih banyak dicibir karena membosankan dan tidak jelas. 

Jauh setelah masa pemutarannya, Blade Runner direhabilitasi dengan sentuhan-sentuhan interpretasi filosofis. Ada yang mengatakan bahwa Roy Batty adalah sosok superman seperti yang digadang-gadang oleh filsuf Friedrich Nietzsche. Batty diciptakan sebagai budak namun akhirnya maju tampil melampaui dirinya dan akhirnya membunuh kreatornya sendiri, Dr. Tyler. Inilah sosok superman yang diidamkan Nietzsche, yang bisa menjadikan dirinya dari sosok bermental budak menjadi sosok bermental tuan. Ada juga yang mengatakan bahwa Blade Runner dipenuhi oleh simbolisasi mata (Freemason [lagi]??). Namun apapun interpretasi yang dikembangkan tentang film ini, Scott sepenuhnya benar bahwa Blade Runner punya nuansa "masokistik" yang amat kental. Kita merasakan suatu sakit yang nikmat ketika menikmati adegan demi adegan yang seringkali tak punya penjelasan.  

Continue reading

Rabu, 08 Mei 2013

Dunia

Dunia
Waktu kecil, saya sering meyakini bahwa apa yang saya pikir bagus, berarti itu juga bagus di mata dunia. Seperti misalnya, Indonesia yang sering dipuja-puji sebagai negara kepulauan besar dengan beragam kekayaan alamnya, bagi saya itu merupakan negara terbaik di dunia dan bahkan secara ukuran adalah yang paling besar. Lantas saya pernah mengagumi seorang pemain sepakbola di masa SMP namanya Decky. Saya pikir dia bisa disejajarkan kehebatannya dengan pemain kelas dunia Alessandro Del Piero. 

Lantas ada masa ketika saya ingin mendunia seperti apa yang selama ini saya idolakan. Ingin menjadi pemain catur terhebat di dunia, pemain sepakbola terhebat di dunia, gitaris terhebat di dunia, dan seterusnya dan seterusnya. Saya berlatih keras, mengejar mimpi-mimpi itu sampai tiba pada satu pertanyaan: Apakah yang dimaksud "dunia" itu sebenarnya? Apakah "dunia" itu berarti kita dikenal di setiap orang di seluruh dunia? Misalnya saya jalan-jalan ke Finlandia atau ke Guyana Prancis itu artinya mereka akan menyapa dan tersenyum pada saya? Atau yang dimaksud dunia itu masuk dalam buku-buku sejarah, masuk koran, masuk internet, sehingga dibaca oleh seluruh masyarakat di dunia?

Pada perkembangan usia, saya merasa bahwa sesungguhnya dunia yang saya bayangkan dulu adalah semata-mata hanyalah dunia imajiner saja. Dunia yang sebenarnya adalah dunia yang saya kenal sekarang, yang saya tinggali, yang saya gauli, yang saya percayai sebagai ada dan nyata -istri, orangtua, kampus, sekolah musik, Tobucil, Garasi10, dst-. Bagi saya, ternyata, istilah orientasi ke-dunia-an makin lama makin sempit (dari ingin menjadi terbaik senegara, menjadi ingin terbaik se-RT/RW saja) ini kurang begitu tepat. Yang lebih sreg bagi saya adalah makin lama, dunia itu tidak lagi dalam imajinasi, melainkan semakin nyata, semakin dekat, dan barangkali semakin dalam. Menjadi tidak penting lagi untuk dikenal seorang remaja di Madagaskar. Sekarang mungkin jauh lebih berarti jika kita dikenal oleh hansip yang setiap malam menjagai rumah kita. Masih lebih penting dan "mendunia" jika saya berhasil membuat satu orang murid menemukan bakat terpendamnya ketimbang bercita-cita seperti Martin Luther yang melakukan reformasi religi. 

What can you do to promote world peace? Go home and love your family.” -Bunda Teresa
Continue reading

Senin, 06 Mei 2013

Kelas Filsafat (Pertemuan 3): Eksistensialisme Soren Kierkegaard

Kelas Filsafat (Pertemuan 3): Eksistensialisme Soren Kierkegaard

Setelah diliburkan selama dua minggu akibat berlangsungnya ujian tengah semester juga adanya kesibukan sang pengajar sebagai musisi bandung masa kini (iya, musisi bandung yang sedang sibuk manggung sana-sini katanya), kelas filsafat telah kami laksanakan kembali pada Kamis, 2 Mei 2013 yang lalu. Pertemuan ketiga ini dilakukan setengah jam lebih lambat dari biasanya, sekitar pukul 11.15, akibat Manda dan saya sendiri yang bangun dan datang ke kampus dengan terlambat (pengakuan dosa). Kelas yang biasanya kami selenggarakan di perpustakaan FIB kali ini terpaksa harus direlokasi karena entah kenapa pada Kamis yang lalu perpustakaan begitu penuh dengan para mahasiswa yang sepertinya sedang mengerjakan tugas. Agar mendapatkan suasana baru yang lebih tenang, kami memutuskan untuk berdiskusi outdoor, di bangku-bangku biru samping pakilun, persis di depan kansas. Peserta kelas filsafat kali ini kembali ke formasi awal—Kang Syarif, Manda, dan saya. 

Seperti yang telah disepakati dua minggu lalu, pada pertemuan ketiga ini kami akan membahas eksistensialisme dari seorang filsuf asal Denmark yang hidup di pertengahan abad 19, Søren Kierkegaard. Sebetulnya, pokok bahasan eksistensialisme yang kami bahas selama ini cukup unik karena berjalan mundur: dari Sartre, ke Nietzsche, lalu ke Kierkegaard. Padahal urutan pencetus eksistensialisme sebenarnya dimulai dari Kierkegaard, dilanjut oleh Nietzsche, dan diakhiri oleh Sartre. Perjalanan mundur ini mungkin bisa diambil hikmahnya, karena setelah ditampar oleh ide atheisme tulen dan pernyataan tentang kematian Tuhan, kami seperti diingatkan oleh Kierkegaard untuk kembali pada keimanan. Ya, tanpa sengaja, bahasan eksistensialisme kami dapat berakhir dengan “happy ending”, tidak begitu depresif. Haha. 

Sebelum masuk ke dalam pemikiran Kierkegaard, Kang Syarif bilang ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui teori apa yang ditentang oleh filsuf tersebut karena sebuah pemikiran tidak mungkin lahir dari nol. Sebuah pemikiran atau teori pasti muncul akibat adanya sebuah pemicu. Dalam hal ini, teori yang ditentang Kierkegaard adalah idealisme yang datang dari seorang filsuf besar dan termasuk krusial dalam sejarah pemikiran barat yaitu Hegel. 

Sebelumnya, saya pernah bertanya pada Kang Syarif, “Walaupun traumatis, pikiran manusia justru berkembang setelah terjadinya perang. Lalu haruskah kita bersyukur dengan adanya perang? Akan seperti apa peradaban manusia saat ini jika perang dunia tidak pernah ada?” Kang Syarif menjawab bahwa dalam kaca mata Hegel, perang adalah bagian dari dialektika sejarah. Perang harus ada sebagai syarat perdamaian. Hegel berkata bahwa dunia ini sebenarnya sudah memiliki caranya sendiri untuk membentuk sejarah. Sejarah itu seperti bentuk dialog alam semesta dengan dirinya, yang kemudian membentuk kesadarannya sendiri. Menurut Hegel, perjalanan hidup manusia merupakan perjalanan roh alam semesta untuk menemukan kesadaran. Dengan kata lain, manusia adalah alat bagi alam semesta untuk mengoreksi dirinya sendiri. Namun Hegel percaya bahwa semakin lama, manusia pun akan berada pada tingkat kesadaran yang semakin tinggi. Oleh karena itu, Hegel melahirkan sebuah optimisme. Dengan mempelajari Hegel, kita tidak akan mudah menyalahkan sejarah. Kita justru akan berterima kasih pada perang, pada penjajah Belanda, pada Hitler, bahkan pada kaum Quraisy. Menurut Kang Syarif, jika kaum Quraisy tidak ada, Muhammad tidak akan menjadi antithesis yang kemudian melahirkan Islam sebagai sinthesis. 

Seperti apa yang dikatakan Hegel mengenai dialektika, sebuah thesis yang hebat pasti akan melahirkan banyak penentangan. Penentangan tersebut adalah antithesis yang sama hebatnya, dan dapat melahirkan banyak diskusi. Dari diskusi-diskusi tersebut lah sinthesis lahir sebagai hasil perkawinan antara thesis dan antithesis. Sinthesis tersebut nantinya akan menjadi thesis baru yang kemudian memicu munculnya antithesis dan kelak melahirkan kembali sinthesis yang baru. Begitu lah siklus yang akan seterusnya berulang dalam sejarah dunia. 

Dampak pemikiran Hegel terhadap sejarah dunia ini sudah cukup hebat. Hanya saja, Hegel mengeluarkan sebuah kesimpulan yang terlalu buru-buru. Ia berkata bahwa ujung dari dialektik—ujung dari pencerahan dan kesadaran—itu ada di negaranya, Prusia (saat ini Jerman). Dalam hal ini, rasionalitas seorang Hegel terpeleset oleh kenarsisan manusia era romantik yang terlalu mengagung-agungkan negaranya sendiri. 

Ada banyak filsuf yang menentang Hegel, salah satunya Marx. Marx berkata bahwa pernyataan Hegel itu terbalik, bukan manusia yang menjadi alat kesadaran melainkan manusia adalah pusat kesadaran itu sendiri. Menurutnya, roh alam semesta justru akan berubah mengikuti tindakan-tindakan yang dilakukan manusia. Bagi Marx, pemikiran Hegel malah membuat manusia tampak tidak berguna karena manusia hanya bisa menunggu tanpa daya untuk dirubah oleh sejarah. Penentangan Marx itu kemudian disebut materialisme dialektik. 

Lalu, apa yang ditentang Kierkegaard dari Hegel? Yang pertama, idealisme Hegel tersebut menyatakan dengan telak bahwa esensi lah yang menentukan eksistensi manusia. Hal itu mematikan kehendak bebas yang harusnya dimiliki oleh seorang manusia otentik. Yang kedua, menurut Kierkegaard, Hegel membicarakan sesuatu yang tidak konkrit. Apa yang seharusnya dipikirkan manusia bukan lah sejarah atau hal besar yang terlalu jauh mengawang-awang. Sebaliknya, manusia justru perlu membahas hal-hal kecil yang sangat dekat dengannya seperti kesedihan, kemurungan, kehampaan, atau keberadaan dirinya sendiri. Dari sana lah cikal bakal eksistensialisme muncul. Ia hadir sebagai antithesis dari idealisme. 

Dalam kelompok para pemikir barat, Kierkegaard dianggap sebagai orang pertama yang mencetuskan ide eksistensialisme. Namun, jika kita menarik jauh ke belakang, sebelumnya pernah ada salah seorang Yunani bernama Protagoras yang mengeluarkan pernyataan bahwa manusia adalah ukuran bagi segala sesuatu. Itu merupakan pernyataan eksistensialis yang lebih lampau dari antithesis Kierkegaard terhadap Hegel. 

“Kierkegaard adalah filsuf paling galau yang pernah saya tahu,” ujar Kang Syarif. Berbeda dengan tipe pemikiran Sartre yang runut dan bisa dibilang “ilmiah”, Kierkegaard memaparkan eksistensialisme melalui buku dan sejumlah catatan berisi kegelisahan dan keputusasaannya. “Aku menempelkan jariku pada eksistensiku—tidak ada baunya. Di manakah aku? Benda apa yang dinamakan dunia ini? Siapa yang memancingku pada benda ini, dan kini meninggalkan aku di sini? Siapakah aku? Bagaimana aku bisa berada di dunia? Mengapa tidak dibicarakan denganku dulu?” tulisnya. 

Bagi Kierkegaard, kegelisahan adalah pusat dari kehidupan manusia modern. Setahun sebelum kematiannya, Kierkegaard merangkum seluruh penderitaan dari awal hingga akhir kehidupan, “Dengarkan teriakan ibu pada saat melahirkan, lihat perjuangan ambang ajal pada akhir waktu: lalu katakan mana yang bisa dijadikan kesenangan.” Menurut Kierkegaard, kehidupan ini sama sekali tidak memiliki sisi nyaman dan menyenangkan. Kalaupun ada, kenyamanan dan kesenangan tersebut hanyalah kepura-puraan yang dibuat manusia untuk menutupi penderitaannya. Pada akhirnya, manusia tetap akan kembali ke dalam keputusasaan akibat realitas yang tidak bisa terelakkan. Dalam perspektifnya, kegelisahan dan keputusasaan merupakan kondisi universal manusia. Kita menderita baik ketika kita menghadapi sebuah masalah maupun ketika kita tidak memiliki objek kegelisahan. Kierkegaard mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kegelisahan yang sama sekali tidak objektif. Di dalam hati kecil kita, kegelisahan itu bersifat subjektif. 

Kierkegaard kemudian merenungkan tiga tahap eksistensi manusia yaitu manusia estetis, etis, dan religius. Manusia estetis adalah manusia “paling rendah” yang memahami eksistensinya dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan melakukan kesenang-senangan yang bersifat badani. Contoh sempurna manusia estetis adalah Don Juan yang hidup dengan berganti-ganti wanita untuk sekedar memuaskan hasratnya. Menurut Kierkegaard, mungkin begitulah cara manusia estetis melupakan eksistensinya yang menyedihkan—dengan bersenang-senang, meluapkan kebutuhan-kebutuhan badani seperti seks, makan, minum, dan tenggelam dalam hedonisme kehidupan. Menurut Kang Syarif, level manusia paling rendah dalam agama-agama pun diduduki oleh manusia estetis. Oleh sebab itu, agama memiliki “latihan-latihan” tersendiri untuk mengendalikan hawa nafsu, misalnya dengan menjalani puasa. Namun begitu, walaupun sudah seharian menjalani puasa tetapi ketika datang waktu berbuka kita makan dengan nafsu yang berapi-api, sesungguhnya pada saat itu kita kembali lagi menjadi manusia estetis. 

Tahap selanjutnya adalah manusia etis. Contoh dari manusia etis adalah Socrates. Pada 399 SM Socrates didakwa “memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda”, serta tidak memercayai dewa-dewa yang telah diterima. Para juri menyatakan bahwa Socrates bersalah. Ia pun diberi dua pilihan oleh pengadilan: minum racun lalu mati atau mengakui kesalahannya karena telah menyebarkan paham sesat lalu keluar dari Yunani. Socrates kemudian memilih untuk minum racun karena ia pikir jika ia menghindar untuk menyelamatkan dirinya dan badannya, berarti ia mengingkari hati nuraninya sendiri. Socrates termasuk ke dalam contoh manusia etis karena ia mau “menunda kesenangan—badani—nya untuk sebuah kebahagiaan yang lebih besar”. Menurut Kang Syarif, pada umumnya manusia itu bergerak dari estetis ke etis seiring dengan pertambahan usianya. Semakin ia bertambah dewasa, manusia semakin merasa harus melakukan hal-hal yang sebenarnya “tidak ia sukai”, semata-mata untuk menunaikan tanggung jawabnya. 

Tahap yang terakhir adalah manusia religius. Bagi Kierkegaard, eksistensi yang paling tinggi itu dipahami ketika ia melompat pada keimanan. Iman merupakan sesuatu yang tidak berdasar, seperti lubang gelap. Karena tidak berdasar itulah, kita hanya bisa percaya, mengandalkan keimanan. Semakin orang menggantungkan kepercayaannya pada suatu hal yang abstrak dan absurd, semakin ia patut dipuji, menurut Kierkegaard. Karena sesungguhnya, antara rasionalitas dan iman terdapat sebuah jurang pemisah. Kita hanya bisa menjembataninya dengan melakukan sebuah “lompatan”. Jadi, ketika keputusasaan seseorang membawanya kembali pada Tuhan, sesungguhnya di sana terdapat lompatan terhadap level eksistensi yang paling tinggi. Mungkin itulah sumbangsih terbesar Kierkegaard: ia mencoba menguraikan makna keimanan. Kebanyakan orang mengatakan, “Tuhan ada dulu, baru kita percaya” namun Kierkegaard membalik premis tersebut. Ia bilang, “Kita percaya dulu, baru Tuhan ada”. Menurut Kang Syarif, Tuhan itu dapat kita percayai karena kita tidak bisa tahu apapun tentangNya. Saya pun menanggapi bahwa menurut saya Tuhan itu sangat tidak masuk akal. Namun, ketidakmasuk-akalan itu lah yang justru membuatNya menjadi masuk akal. 

Di akhir diskusi, Kang Syarif menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya semua filsuf eksistensialis memiliki garis pemikiran yang sama. Hanya saja, mereka memiliki solusi yang berbeda-beda. Kierkegaard memilih untuk melemparkan dirinya kepada Tuhan, pada akhirnya. Nietzsche memilih untuk berdiri di atas kakinya sendiri karena hal yang paling nyata dalam hidup menurutnya adalah manusia, Tuhan telah mati. Sedangkan Sartre berkata bahwa faktanya manusia itu bebas, dan kita tidak bisa melemparkan diri kemana-mana, kecuali pada kebebasan itu sendiri. Kelas filsafat kami mengenai filsuf-filsuf eksistensialis berakhir sampai di sini. Minggu depan kami akan masuk ke dalam pokok bahasan dengan tema yang baru. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya! 

 *** dparamithatp
Continue reading