Saturday, April 13, 2013

Kelas Filsafat (Pertemuan 2): Eksistensialisme Friedrich Nietzsche

Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com

Kelas filsafat kami ini tidak lagi saya sebut “ilegal”. Karena dengan menyematkan “ilegal”, berarti saya mengakui eksistensi sistem yang “legal”. Padahal sebenarnya kami tidak butuh mengakui apapun untuk menyelenggarakan kelas filsafat ini. Hajar we, bebaskeun! (Terima kasih pada Kimung yang sudah menyadarkan saya akan hal ini, hehe).

Pertemuan kedua kami dalam kelas filsafat berlangsung pada 11 April 2013. Lagi-lagi di hari Kamis, pukul 10.45 WIB, di perpustakaan FIB yang begitu tenang. Bedanya, kali ini kami tidak hanya bertiga—Kang Syarif, Manda, dan saya. Ada tambahan empat orang personil yaitu Ibu Susi (dosen Sastra Rusia yang juga mengepalai perpustakaan FIB) dan tiga orang murid Kang Syarif dari Sastra Inggris. Pokok bahasan kami masih dalam tema eksistensialisme namun kali ini kami membahas tokoh yang berbeda yaitu Friedrich Nietzsche.

Nietzsche dilahirkan di akhir abad 19, dalam keluarga dengan latar belakang Kristen Lutheran yang kuat di Jerman. Ia tumbuh besar di bawah dominasi perempuan—ibu, adik, nenek, dan dua orang tantenya—karena ayahnya sudah lebih dulu meninggal ketika ia masih kecil. Ketiadaan figur ayah dalam hidup membuat Nietzsche menganggap dirinya sama dengan Tuhan—Yesus, yang juga lahir dan besar tanpa ayah.

Nietzsche adalah anak yang religius dan luar biasa cerdas. Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di sekolah pendeta agar kelak dapat mengikuti jejak ayah dan kedua kakeknya untuk menjadi seorang pendeta. Namun, karena ia menunjukkan bakat khusus di bidang musik dan bahasa, Nietzsche memperoleh beasiswa penuh di sekolah elit Pforta. Di sana, ia bertemu dengan penyair eksentrik, Ernst Ortlepp. Ortlepp lah yang memperkenalkan Nietzsche pada tulisan dan musik hasil karya Richard Wagner.

Setelah lulus dari Pforta, Nietzsche melanjutkan studinya ke Universitas Bonn dengan mengambil dua major yaitu teologi dan filologi. Namun, setelah satu semester berlalu ia menghentikan studi teologinya dan mengalami sebuah kondisi “hilangnya kepercayaan”. Nietzsche memasuki fase “pencarian jati diri”. Baginya, iman adalah suatu hal yang bisa diajarkan namun tidak bisa diturunkan. Ia memberontak dari “kerohanian” yang diwariskan keluarganya karena hatinya dipenuhi hasrat besar untuk mencari “kebenaran”—walaupun ia menyadari hal itu mungkin menakutkan, mendatangkan keburukan, dan menyeretnya dari kedamaian jiwa.

Nietzsche kemudian memfokuskan dirinya pada studi filologi. Ia banyak mempelajari teks-teks kuno di bawah bimbingan Profesor Ritschl. Ia pun memutuskan pindah ke Universitas Leipzig untuk mengikuti Ritschl. Di Leipzig, untuk pertama kalinya Nietzsche bertemu Wagner yang sebelumnya telah ia kenal melalui hasil-hasil karyanya.

Kemudian, atas rekomendasi Ritschl, Nietzsche mendapat tawaran untuk menjadi profesor filologi klasik di Universitas Basel, Swiss. Saat itu Nietzsche baru berusia 24 tahun. Ia bahkan belum menamatkan studi filologinya. Tetapi, berkat kejeniusannya, pihak universitas langsung meluluskannya tanpa perlu membuat thesis akhir dan memperoleh sertifikat mengajar terlebih dahulu. Nietzsche pun menerima tawaran tersebut dan pindah ke Swiss. Ia tercatat sebagai profesor filologi termuda yang pernah ada sampai saat ini.

Di samping itu, pertemanan yang terjalin antara Nietzsche dan Wagner memberi pengaruh luar biasa besar terhadap pemikiran-pemikiran Nietzsche sendiri. Ia sangat mengagumi komponis tersebut. Setelah datang ke salah satu konser Wagner dan mendengar lagu hasil karyanya yang berjudul Tristan und Isolde, Nietzsche seperti menemukan spirit of music. Ia sangat terinspirasi sehingga ia lalu menuliskan sebuah karya yang begitu fenomenal, Also Sprach Zarathustra.

Dalam diskusi kami, Kang Syarif kemudian menjelaskan pemikiran-pemikiran prinsipal dari Nietzsche. Menurut Kang Syarif, Nietzsche tidak seatheis dan sedepresif Sartre namun pemikirannya bisa dikatakan lebih “berbahaya”. Walau berasal dari keluarga Kristen yang amat kuat, Nietzsche kemudian menjadi anti-Kristen dan mengritik agama habis-habisan. Menurutnya, agama hanya membuat manusia memiliki mental budak. Nietzsche menentang pemikiran Kierkegaard yang menyebutkan bahwa hanya keyakinan pada Tuhan lah yang bisa menghapuskan ketidakberartian eksistensi manusia. Baginya, solusi yang dilontarkan Kierkegaard ini menelanjangi kekuatan manusia. Kembalinya manusia pada agama membuat setiap individu menjadi lemah, tak berdaya, bahkan tak lebih dari seorang pengecut.

Nietzsche terkenal dengan pernyataan yang ia tulis dalam Also Sprach Zarathustra, “Tuhan telah mati—kita semua lah yang membunuh-Nya”. Dalam hal ini, Nietzsche bukan bermaksud mengatakan bahwa Tuhan bisa mati seperti layaknya manusia, melainkan keyakinan manusia modern akan Tuhan lah yang telah mati. Dan menurutnya, umat beragama memiliki andil paling besar dalam “kematian Tuhan” ini. Salah satu contohnya, umat beragama sering menyebutkan Tuhannya dengan “nama panggilan” masing-masing seperti Allah, Roh Kudus, Yahweh, dan sebagainya. Dengan penamaan tersebut, para umat beragama justru seperti “memanusiakan Tuhan”. Hal-hal seperti ini lah yang membuat Tuhan menjadi “mati”, menurut Nietzsche.

Nietzsche berkata bahwa setelah “kematian Tuhan” ini manusia akan mengalami “krisis” atau “kekosongan” selama dua ribu tahun. Namun, krisis ini justru akan melepaskan manusia dari ketergantungan akan Tuhan yang ia nilai terlalu kekanak-kanakan. Manusia kini harus memiliki keberanian untuk mencari Tuhan dalam sebuah dunia tanpa Tuhan. Oleh karena itu, Nietzsche berpendapat bahwa yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan dunia modern saat ini adalah manusia-manusia unggul yang mandiri, tangguh, kuat, pemberani, kreatif, dan bebas. Dari sana lah konsep übermensch muncul.

Nietzsche membagi manusia ke dalam dua golongan yaitu übermensch (manusia unggul) dan kawanan (manusia kebanyakan). Übermensch adalah manusia-manusia yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Berbeda dengan kawanan yang bermental budak seperti binatang dan bisa digiring kesana kemari. Bagi Nietzsche, untuk menghadapi dunia tanpa Tuhan ini, seseorang harus menjadi übermensch. Dan untuk menjadi übermensch, ada tiga “syarat” yang perlu dipenuhi. Yang pertama, ia harus mengakui konsep “kematian Tuhan”. Itu artinya, manusia harus siap melepaskan segala kebergantungan dan berjalan dengan mandiri. Yang kedua, ia harus menerapkan konsep amor fati atau love of fate. Maksud dari amor fati adalah manusia harus senantiasa mencintai kehidupan. Manusia harus menerima segala kondisi yang terjadi dalam hidupnya, termasuk penderitaan dan kehilangan—atau dalam Islam, konsep ini dikenal sebagai “bersyukur”. Dan yang ketiga, Nietzsche memiliki konsep Apollonian dan Dionisian. Berdasarkan mitologi yunani, Apollo adalah dewa matahari dan Dionysus adalah dewa anggur. Dalam pandangan Nietzsche, Apollo melambangkan pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan sedangkan Dionysus melambangkan prinsip estetika yang mendasar, kesenangan, dan kebebasan. Kehidupan yang sebaiknya dijalani menurut Nietzsche adalah kehidupan dengan prinsip-prinsip Dionysus. Manusia perlu bersenang-senang dengan menikmati hidup apa adanya, melepaskan diri dari ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh paradigmanya sendiri. Menurut Nietzsche, permasalahan orang modern adalah mereka terlalu rasional dan dipenuhi oleh paranoid. Oleh sebab itu, Nietzsche berkata, “Aku hanya percaya pada Tuhan yang bisa menari”. Maksudnya adalah, dalam hal ini Nietzsche menyatakan bahwa ia lebih memilih kehidupan yang “asyik” dengan Tuhan yang “fleksibel dan menyenangkan”, dibandingkan hidup penuh ketakutan dengan Tuhan yang “perhitungan dan suka menghukum”.

Lalu, Nietzsche juga menyatakan bahwa kondisi manusia di zaman modern itu seperti berada pada sebuah tali. Jika tali itu sedikit tertarik ke bawah, ia akan menjadi binatang, dan jika tali itu sedikit tertarik ke atas, ia akan menjadi übermensch. Jadi, dalam diri manusia terdapat sebuah tegangan antara binatang (kawanan) dan übermensch. Seorang übermensch harus bisa menentukan nilai-nilainya sendiri dan mendobrak ketetapan yang sudah mapan. Oleh karena itu, Nietzsche selalu berkata, “Hiduplah dalam bahaya. Jika sudah berlayar, bakarlah dermaga di belakangmu”. Baginya, hidup di lautan tanpa kemudi itu lebih baik daripada kehidupan yang statis dan nyaman. Hidup dengan gelisah adalah satu-satunya cara mencintai kehidupan karena hidup yang sudah direncanakan secara terstruktur itu sesungguhnya tidak layak untuk dihidupi lagi.

Dalam diskusi, Ibu Susi menanggapi dan mengamini pernyataan Nietzsche tersebut. Beliau kemudian menceritakan pengalamannya ketika hendak mengambil sebuah keputusan besar yang kelak mengubah hidupnya. Berbekal seluruh tabungannya yang saat itu berjumlah 50 juta, ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke Moscow dan tinggal di sana selama satu tahun. Kepergiannya itu ditentang keras oleh seluruh keluarga juga tunangannya. Tetapi, Ibu Susi bersikukuh untuk keluar dari “zona nyaman”nya dan memulai sebuah petualangan besar. Ternyata, segala hal yang diharapkan Ibu Susi benar-benar dapat ia peroleh di sana. Walaupun setiap harinya merupakan tantangan dan kegelisahan, ia jadi berjuang dan tertempa semakin kuat. Ketika akhirnya pulang ke Indonesia, tabungannya tinggal bersisa 200 ribu. Namun, ilmu, teman, dan pengalaman yang ia dapat selama di Moscow jauh lebih berharga dari sekedar uang. Ia bahkan memperoleh kesempatan bersekolah hingga S3 berkat hubungan baik yang ia bangun saat di Moscow. Ibu Susi membuktikan bahwa hidup dalam kegelisahan berhasil membuatnya mengeluarkan segala potensi diri yang kemudian memberikan kepuasan tak ternilai, khususnya bagi dirinya pribadi.

Kang Syarif lalu berpendapat bahwa salah satu contoh übermensch dalam Islam menurutnya adalah Muhammad. Walaupun Muhammad adalah seorang agamawan, ia mau hidup dalam bahaya dan berpikir lebih jauh dari orang-orang di zamannya, dengan resiko kematian yang selalu mengancam. Begitu pula dengan Yesus. Dari sisi ini, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya para Nabi adalah seorang übermensch pada zamannya karena mereka mau memecahkan problematika dari nilai-nilai yang ada sebelumnya, dengan merumuskan nilai-nilai baru untuk kemaslahatan manusia di masa itu. Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya teks-teks agama itu dibuat lebih lentur dibandingkan dengan teks-teks hukum. Teks hukum lebih pasti ketika mencoba menangkap sebuah peristiwa sedangkan teks agama tidak—ia dapat mendatangkan beragam tafsir. Menurut Kang Syarif, teks agama dibuat lentur agar ia terus menerus hidup. Dengan begitu, manusia memiliki kesempatan untuk berkembang dan terus memperbaiki “nilai”. Oleh sebab itu, bagaimanapun kerasnya para filsuf meniadakan agama, sesungguhnya agama akan tetap lestari. Dan pada titik inilah agama dapat “berdamai” dengan konsep Nietzsche.

Setelah itu, Kang Syarif menjelaskan konsep penting lain dari Nietzsche yaitu metamorfosis ruh. Nietzsche berkata bahwa manusia akan mengalami mengalami tiga tahap dalam hidupnya. Yang pertama, ia menjadi unta. Dalam tahap ini, manusia diibaratkan seperti unta karena ia menanggung beban dari nilai-nilai yang ditanamkan pada dirinya sejak lahir, dan ia menjadi individu yang patuh terhadap nilai-nilai tersebut. Yang kedua, ia menjadi singa. Pada tahap ini, manusia harus mau memberontak dan bertarung melawan nilai-nilai yang ada. Karena, pada dasarnya, dunia ini dapat terus maju berkat adanya “pemberontak” atau orang-orang yang terus “berinovasi”. Selanjutnya, tahapan ketiga bagi manusia yang menurut Nietzsche paling ultimate adalah menjadi anak. Mengapa anak dianggap sebagai metamorfosis final yang paling tinggi? Karena anak-anak selalu melihat dunia dengan perspektif yang baru. Berbeda dengan orang dewasa yang selalu berpikir serius dan kompleks, anak kecil melihat dunia ini sebagai tempat untuk bermain dan bersenang-senang. Ketika orang dewasa kehilangan gairah dan ketertarikan terhadap keseharian, anak kecil justru dapat selalu merumuskan nilai-nilai baru dari keseharian di sekelilingnya. Hilangnya kekaguman orang dewasa pada dunia tersebut sesungguhnya menjadi indikasi bahwa ia tidak lagi mencintai hidupnya. Menurut 

Kang Syarif, pada titik inilah seni memegang peranan penting bagi umat manusia. Seni dapat menangkap keseharian dan mengubahnya menjadi suatu karya yang dapat dinikmati setiap orang. Dalam hal ini, seni bermanfaat untuk mengembalikan kesadaran bahwa sebenarnya “manusia itu hidup pada lingkungan yang berbicara padanya”.

Diskusi ini kemudian ditutup dengan sebuah pertanyaan dari Kang Syarif, “Apakah kita memang membutuhkan figur Tuhan—dalam bentuk apapun, walaupun kita menciptakan-Nya sendiri?” Manda menanggapi bahwa walaupun ia sendiri masih gamang akan pengaplikasian konsep Tuhan dalam keseluruhan hidup, ia merasa Tuhan berfungsi sebagai “pengisi lubang kosong” ketika ia merasakan sebuah kehampaan dalam dirinya. Jawaban tersebut diamini oleh Kang Syarif juga seluruh peserta diskusi.

Pertemuan kedua kelas filsafat kami pun usai. Di minggu depan, kami sepakat untuk mengupas habis tema eksistensialisme ini dengan membahas tokoh lainnya, Søren Kierkegaard.
Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!

***
dparamithatp
Previous Post
Next Post

0 comments: