Friday, April 5, 2013

Kelas Filsafat Ilegal (Pertemuan 1): Eksistensialisme Jean Paul Sartre


Setelah melalui beragam kompromi sejak beberapa minggu ke belakang, akhirnya pada 4 April 2013 kami berhasil merealisasikan wacana “kelas filsafat ilegal” bersama salah seorang intelektual muda Bandung yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Padjadjaran, Kang Syarif Maulana. Mengapa dikatakan “ilegal”? Karena kelas filsafat ini kami lakukan secara gerilya di luar jam perkuliahan, tanpa berbayar, dan hanya didasari oleh “panggilan jiwa” yang begitu kuat. Oh betapa mulia!

Pertemuan pertama “kelas filsafat ilegal” yang berlangsung di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya ini dihadiri oleh tiga orang saja yakni Kang Syarif, Manda, dan saya. Meskipun hanya bertiga, kami tetap menjalankan diskusi dengan bersemangat dan penuh atensi. Atmosfir perpustakaan FIB yang begitu tenang sangat mendukung kondusifitas pertemuan kami. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah eksistensialisme yang secara spesifik dicetuskan oleh seorang filsuf besar Prancis di abad 20, Jean-Paul Sartre.

Eksistensialisme ialah sebuah paham yang menyebutkan bahwa “eksistensi mendahului esensi”. Esensi yang dimaksud di sini adalah hakikat, definisi, ide, fungsi, atau sifat dasar dari suatu hal yang telah dilekatkan, bahkan jauh sebelum hal tersebut ada di dunia. Sedangkan eksistensi merupakan suatu hal yang terlepas dari segala macam determinasi, hakikat maupun definisi, dan hanya terbatas pada ruang lingkup “kesadaran akan keberadaan” hal itu sendiri. Sebagai contohnya, manusia dari sudut pandang agama. Dalam pandangan Islam, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, atau dalam pandangan Kristen, manusia hadir di bumi sebagai dosa turunan dari Adam. Para eksistensialis menganggap “manusia sebagai khalifah” atau “manusia sebagai dosa” ini sebagai hakikat pemberian Tuhan yang akan menghalangi setiap orang untuk menjadi “manusia yang seutuhnya” saat mereka lahir ke dunia.

Di awal diskusi, Kang Syarif menjelaskan bahwa Jean-Paul Sartre adalah seorang eksistensialis yang memiliki ke-khas-an tersendiri karena ia berbicara mengenai kebebasan. Ketika Friedrich Nietzsche mengumumkan bahwa “Tuhan telah mati”, Sartre menerimanya sebagai kabar baik karena dengan begitu tidak akan ada lagi ide dalam pemikiran Tuhan yang menjadi patokan kesesuaian bagi manusia. Kini manusia menjadi makhluk yang bebas menentukan hakikat-hakikatnya sendiri. Bebas menentukan jalan hidupnya. Bebas sebebas-bebasnya! Namun, di sisi lain hal tersebut justru menjadi suatu kenyataan yang mengerikan. Ketika dihadapkan pada pilihan, manusia sesungguhnya benar-benar dihadapkan pada kebebasannya sendiri. Manusia benar-benar sendirian. Dan dengan kebebasannya tersebut manusia dapat mengambil tindakan apapun karena tidak ada lagi etika yang mendasarinya. Oleh karena itu, Sartre mengatakan, “l’homme est condamné à être libre” atau “manusia dikutuk untuk bebas”. Dalam diskusi, Manda kemudian menanggapi bahwa kebebasan tersebut sebenarnya malah menjerumuskan manusia ke dalam kondisi yang membingungkan. Manusia justru menjadi tidak bebas karena mereka kehilangan arah, tujuan, dan pedoman untuk menjalani hidup.

Sartre menyatakan bahwa manusia itu bebas selama ia tidak mengganggu kebebasan orang lain. Jika dikritisi lebih dalam, sebenarnya terdapat sebuah paradoks dalam pernyataan tersebut. Jika kebebasan manusia memiliki batasan maka sesungguhnya manusia tidak benar-benar bebas, bukan? Selain itu, Sartre berkata bahwa manusia harus senantiasa bertanggung jawab akan tindakan dan pilihan yang telah diambilnya dengan penuh kesadaran. Itu artinya manusia tidak boleh menyesal ataupun mengeluh atas konsekuensi yang mereka peroleh kemudian. Inilah yang disebut la mauvaise foi atau bad faith oleh Sartre. La mauvaise foi dapat terjadi pada orang-orang yang “menempelkan” dirinya pada suatu hal yang lebih “besar” darinya hingga ia melupakan kesadarannya sendiri. Contohnya, ketika ada seseorang yang begitu bangga karena ia bekerja di perusahaan besar dan ternama, orang-orang menjadi terkesan padanya hanya karena ia menyandang nama besar perusahaan tempatnya bekerja tersebut. Alangkah malang orang itu sesungguhnya, karena eksistensinya sendiri ditenggelamkan oleh esensi lain dari luar dirinya. La mauvaise foi tersebut menjadi alasan dari munculnya kecemasan dalam jiwa manusia. Menurut Sartre, satu-satunya cara seseorang dapat menemukan eksistensinya adalah dengan menghadapi kecemasan atau krisis. Krisis merupakan suatu kejadian secara tiba-tiba yang menghentikan seseorang dari respon sehari-harinya. Cara efektif untuk memunculkan krisis tersebut adalah dengan merenungkan tema-tema berbau pesimisme seperti kemuakan, kehampaan, kegelisahan, keterasingan, kematian, dan semacamnya. Oleh karena itu, eksistensialisme Sartre ini menjadi paham eksistensi yang paling kelam, gelap, dan depresif, bahkan jika dibandingkan dengan eksistensialisme Nietzsche sekalipun.

 “Kira-kira, apa yang mendasari Sartre mencetuskan ide eksistensialisme?” tanya Kang Syarif. “Perang”, jawab saya. Ya. Perang Dunia I menjadi hantaman besar yang menyisakan kenangan traumatis bagi umat manusia di kala itu. Kebengisan yang terjadi ketika manusia saling bunuh, saling tindas, dan saling berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, meninggalkan kesengsaraan, kesedihan, dan rasa kehilangan yang begitu besar dalam jiwa setiap orang. Manusia kemudian menjadi begitu skeptis dan sensitif. Kepercayaan mereka akan keberadaan Tuhan lenyap sudah. Manusia hanya bisa bergantung pada eksistensi dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Di samping itu, masa-masa perang memunculkan terminologi baru seperti batalyon, koloni, resimen, dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut menghilangkan eksistensi manusia secara individual karena manusia hanya dianggap sebagai kumpulan entitas-entitas besar yang merupakan “peralatan perang”.

Filsafat eksistensialisme ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh, Kang Syarif lalu menceritakan pengalamannya ketika sedang naik taksi. Di dalam taksi tersebut, ia berbincang-bincang dengan sang supir. Di luar dugaan, ternyata bapak supir tersebut banyak bercerita mengenai pengalamannya ketika berada di zaman perang dulu. Perbincangan kian menarik karena bapak tersebut dapat pula berfilsafat sekaligus memberi pelajaran berharga bagi lawan bicaranya saat itu. Seketika itu juga, esensi bapak itu sebagai “supir taksi” lenyap dan Kang Syarif menemukannya sebagai “manusia otentik”. Eksistensi bapak tersebut sebagai “seorang manusia yang utuh” muncul ke permukaan dan diterima secara sadar oleh Kang Syarif. Yang dapat dipetik dari pengalaman itu adalah bahwa pendapat umum orang kebanyakan akan suatu hal merupakan esensi yang secara telak menghilangkan eksistensi hal tersebut—pendapat umum orang-orang akan esensi bapak tadi sebagai “supir taksi” menghilangkan eksistensinya sebagai “manusia otentik”—dan untuk menemukan eksistensi dari suatu hal itu, kita harus melakukan pendekatan secara personal dengan pikiran dan hati yang jernih—don’t judge!

Selanjutnya, Kang Syarif menjelaskan teori lubang kunci yang terkenal dari Sartre. Menurut Sartre, manusia dapat menemukan kebebasannya ketika ia berada seorang diri di dalam kamar. Ia bebas melakukan apapun, menjadi dirinya sendiri. Namun, ketika ia menyadari ada orang lain yang mengintipnya dari balik lubang kunci di pintu kamarnya, dalam sekejap manusia tersebut akan berubah dan membuat dirinya menjadi “sesuai dengan apa yang ingin dilihat si pengintip”. Maksudnya, pada dasarnya setiap orang selalu ingin melihat sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya. Setiap orang ingin melihat orang lain bertindak sesuai dengan asumsi pribadinya (dan begitu pula sebaliknya), padahal asumsi-asumsi tersebut hanya akan menghilangkan kebebasan dari dalam diri masing-masing individu manusia itu sendiri. Akibatnya, Sartre beranggapan bahwa “neraka adalah orang lain”. Dan bagi Sartre, Tuhan termasuk dalam kategori “si pengintip”. Manusia tidak akan bebas selama Tuhan mengawasi gerak-gerik mereka. Oleh sebab itu, menurutnya seorang eksistensialis sebaiknya adalah seorang atheis. Bagi para eksistensialis, manusia adalah “apa yang mereka lakukan”. Manusia terbentuk dari tindakan-tindakan yang mereka ambil ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan menjadi seorang atheis merupakan sebuah aksi konkrit dari menjadi seorang eksistensialis. Fyodor Dostoyevsky mengatakan, “Jika Tuhan tidak ada, semuanya akan boleh”, namun Sartre membalik pernyataan tersebut menjadi, “Semuanya boleh maka PASTI Tuhan tidak ada”.

Di sisi lain, ternyata Sartre mengakui bahwa keatheisan tersebut membuat dirinya sendiri hidup dalam ketidakbahagiaan. Sebagai perumpamaan, Sartre menyebut dirinya sebagai seorang penumpang gelap yang sedang menaiki kereta tanpa memiliki karcis. Selama perjalanannya dari stasiun awal ke stasiun akhir, ia terus berjalan mondar-mandir, berputar kesana-kemari di dalam kereta, hanya untuk menghindari sang kondektur. Dari tempat berangkat hingga tempat tujuan, ia tidak menemukan ketenangan dalam perjalanannya. Dan yang lebih menyedihkan, ketika akhirnya ia sampai di stasiun akhir, ia tidak menemukan seorangpun yang menunggunya di sana. Maka dari itu, Sartre menyebutkan bahwa hidup hanyalah gairah-gairah tanpa makna. Dan kematian hanyalah saksi lain atas ketidak-masuk-akalan eksistensi manusia, sama konyolnya dengan kelahiran.

Pertemuan kami ini kemudian ditutup dengan bincang singkat di luar ide eksistensialisme. Manda bercerita mengenai novel seminarnya yang bertema psikoanalisis. Sepertinya tema menarik ini akan kami bahas lebih lanjut di pertemuan minggu depan. “Kelas filsafat ilegal” pertama kami pun usai dengan kegamangan yang menggelantung di benak masing-masing peserta diskusi—Manda dan saya khususnya. 

 ***

dparamithatp
Previous Post
Next Post

1 comment:

  1. apa boleh Ikutan kelas filsafat ilegalnya mas ? Hhe

    ReplyDelete