Sunday, April 28, 2013

Latihan

Latihan
Belakangan ini saya sedang sering berinteraksi dengan pemain biola bernama Ammy Kurniawan dan guru gitar jazz yang bernama Venche Manuhutu. Kang Ammy maupun Pak Venche, keduanya sudah dapat dikatakan senior dan mungkin keaktifannya untuk tampil di atas panggung sedikit demi sedikit mulai dikurangi. Keduanya sekarang lebih banyak mengajar di tempatnya masing-masing dan berupaya melahirkan musisi-musisi baru. Namun ada kesibukan yang sama-sama dijalani keduanya, yang barangkali lebih rutin dari mengajar itu sendiri, yakni: Latihan.

Kita punya suatu logika sederhana disini, tujuan dari latihan adalah untuk tampil, adalah untuk manggung. Terus, jika sudah jarang manggung, untuk apa latihan? Latihan yang dilakukan oleh Kang Ammy dan Pak Venche, setahu saya, juga tidak sebentar. Mereka rata-rata menghabiskan minimal dua hingga empat jam per hari untuk melenturkan jari-jari. Tapi otak dangkal saya bertanya: Tapi jika tidak untuk main, lantas untuk apa latihan? Pak Venche bahkan berkata seperti ini, "Kalaupun ada hal yang bisa saya lakukan sebelum saya meninggal, saya akan memilih latihan!" 

Artinya, latihan itu tidak melulu merupakan jembatan menuju manggung. Latihan berujung main mungkin konsekuensi logis yang ditawarkan pada kita di masa awal-awal belajar musik agar nanti terasa bahwa latihan kita punya hasil yang nyata. Namun telah sampai suatu kesadaran pada orang-orang tertentu bahwa latihan adalah sebuah kebutuhan jiwa yang tidak membutuhkan iming-iming "untuk apa", apalagi hanya sekedar demi manggung. Latihan itu barangkali bisa disamakan dengan belajar dalam konteks umum. Belajar adalah selalu penting agar kita, sebagai manusia, kerap menyadari kekurangannnya. Barangkali orang mudah sekali tergelincir untuk menjadi pongah ketika latihan-latihan yang pernah dilakukannya kemudian sudah mengkristal menjadi konsekuensi material yang mudah. Bahasa gampangnya, kalau sudah dapat uang dari musik, orang merasa tidak perlu lagi latihan. Kan, tinggal memetik hasil kerja keras saja! Begitu pikirnya, barangkali. 

Sekarang, berhentilah menuliskan ini. Kembali ke gitar, berlatih. Berlatih tidak untuk menjadi pemusik semata, tapi juga menjadi manusia.
Continue reading

Friday, April 19, 2013

Catatan-Catatan tentang Musik

Catatan-Catatan tentang Musik
Pertama-tama harus ditekankan bahwa membicarakan musik adalah suatu paradoks. Paradoks dalam arti, saya percaya bahwa musik adalah suatu entitas yang berada di luar bahasa. Ketika kita berupaya membicarakan musik, maka sesungguhnya hal tersebut tidak bisa betul-betul menyentuh si musik. Bahasa hanya bisa menyentuh luaran-luarannya saja. Musik adalah sesuatu yang hanya bisa kita setubuhi langsung saja untuk memahaminya. Namun juga saya percaya bahwa manusia kerap rindu untuk menangkap segala fenomena agar dapat dikurungnya dalam bahasa - meski mereka paham bahwa bahasa hanya untuk mendekati realitas saja dan bukan merepresentasikannya secara utuh -. Jadi mari kita nikmati paradoks tersebut secara asyik saja. 

1. Musik dan Definisi

Bukan tanpa dasar jika mereka, para penggelut di bidang musik, entah itu komposer atau musisi, punya definisi sendiri-sendiri tentang musik. Meski mereka menyetubuhi langsung musik dalam pengalamannya, namun tetap saja ada kerinduan untuk -itu tadi- mengurung kompleksitas musik dalam bahasa. Misalnya Mazzini mengatakan tentang, "Musik adalah gema dari dunia yang tidak terlihat." Nietzsche mendefinisikannya dengan cara sesuatu yang dalam ilmu logika disebut dengan definisi tujuan, "Musik adalah sesuatu yang jika tidak ada ia, maka hidup menjadi semacam kesalahan." Guru musik saya, Venche, juga mencoba mendefinisikan, "Musik adalah anugerah Tuhan yang paling emosional." Bernstein punya definisi yang lebih puitik, "Musik dapat menamai sesuatu yang tak bernama, dan mengomunikasikan sesuatu yang sebelumnya tak dapat diketahui." Dari segelintir definisi tersebut saja setidaknya sudah dapat diketahui bahwa musik hanya bisa didekati lewat "bahasa batin". Kita tidak akan sanggup secara utuh memahami maksud Mazzini, Nietzsche, Venche ataupun Bernstein jika tidak punya pengalaman langsung bersentuhan dengan musik. 

Upaya untuk memasukkan musik dalam term-term yang objektif barangkali malah mempermiskin musik itu sendiri. Misalnya, saya akan kutip definisi musik menurut suatu sumber yang saya agak lupa -tapi semacam panduan musik untuk pemula-, "Musik adalah gabungan dari melodi, ritmik, dan harmoni yang bergabung secara utuh." Definisi yang terakhir ini agaknya lebih mudah untuk dipahami, tapi tentu saja mengesampingkan banyak sekali musik-musik yang berbasiskan melodi saja ataupun ritmik saja. Bahkan pada tingkat filosofis, kita bisa menemukan bahwa segala bebunyian pun pada dasarnya adalah musik. Pada kesimpulannya, musik barangkali bisa didekati oleh istilah-istilah yang "melampaui" realitas, atau sederhananya, bahasa puisi. Itu pula yang dilakukan Reza, seorang penikmat musik yang cukup akut, jika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya mengenai musik ini dan itu. Ia pada akhirnya lebih suka untuk mengatakan, "Dengerin aja deh." Mungkin ini mengandung maksud: Tangkaplah dengan batinmu, bahasakan dengan telingamu, karena yang semacam ini tak mungkin diucap.

2. Musik dan Realitas

Kita bisa memahami bahwa karya rupa pada level tertentu bisa dinilai bagus tidaknya dari apakah dia sanggup mengimitasi realitas atau tidak. Tapi musik agaknya, pada level apapun, ia susah sekali untuk kita nilai kemiripannya dengan realitas. Artinya, secara ekstrim, musik tidak meniru sesuatu apapun dari dunia ini (yang terlihat mata). Kendatipun demikian, kita juga barangkali setuju jika musik tertentu ternyata bisa merepresentasikan sesuatu secara baik. Misalnya, dari pengalaman estetis pribadi, saya menemukan suatu kemiripan semangat antara karya sastra Also Sprach Zarathustra-nya Nietzsche dengan karya musik dengan judul yang sama oleh Richard Strauss. Musik Strauss yang diinspirasi oleh bukunya Nietzsche ini, punya representasi yang "mirip" -Tapi sekali lagi, kemiripan ini hanya bisa diwakilkan oleh bahasa batin dan bukan objektif-. Contoh lainnya adalah musik-musik dengan tempo di marchia mungkin bisa dianggap punya kemiripan semangat dengan orang-orang yang sedang memuja nasionalismenya. Contoh paling mudah untuk memahami hal ini adalah dengan melihat film. Kita bisa dengan sangat gamblang mengatakan music scoring yang baik adalah jika dia ada kesesuaian dengan adegan-adegannya dan malah memperkuat adegan itu sehingga lebih terpatri dalam ingatan (Misal: Susah sekali untuk melepaskan dari ingatan bagaimana suara terompet dalam karya Nino Rota tergabung dalam adegan pembuka ketika Don Vito Corleone duduk di kursi kekuasaannya dalam film The Godfather).

Namun asumsi ini juga bisa dibantah dengan cara: Bisakah representasi itu dikonstruksi saja? Misalnya, apakah bisa jika adegan dalam film The Godfather itu kita ganti dengan musiknya Charlie Parker, ia tetap merepresentasikan? Atau sesungguhnya representasi itu hanya ada dalam kepala kita saja? Contoh menarik lainnya ada pada bagaimana saya mendengarkan musik-musik dari Joe Satriani yang tidak berlirik dan hanya mengandalkan kekuatan melodi gitarnya saja. Kalimat-kalimat melodis ini kemudian ia beri judul macam-macam mulai dari The Extremist, Crystal Planet, Surfing with The Alien, ataupun Crushing Day. Awal mulanya saya memuja Satriani karena ada kecocokan antara melodi gitar, judul, dengan fenomena asalinya. Tapi lama-lama saya menyadari bahwa judul-judul itu bisa saja diganti oleh apapun dan kita tetap merasa cocok oleh sebab representasi barangkali hanya terjadi dalam kepala kita. 

Namun jika musik kemudian tidak merepresentasikan apapun, tentu saja musik menjadi tidak seperti apa yang Bernstein katakan sebagai "mengomunikasikan apa yang tidak diketahui". Agaknya representasi lewat musik ini memasuki pengalaman kita tidak lewat perangkat-perangkat yang sifatnya kognitif, melainkan langsung mengomunikasikan diri ke "ketergugahan perasaan". Artinya -saya harus menggunakan bahasa batin disini- barangkali segala realitas di dunia ini pada level sekecil apapun, punya "aspek musikal"-nya sendiri yang kemudian diterjemahkan menjadi musik. Ini persis kasusnya seperti bagaimana orang kulit hitam menciptakan blues dalam suasana ketertindasan. Perasaan-perasaan kesenduan itu juga muncul ketika kita juga mendengarkan musik blues (meski belakangan muncul blues muncul dalam versi yang lebih cepat dan riang, tapi kita tidak bisa menampik bahwa blue note yang muncul dari melodi blues punya efek murung yang kuat). Musik pop yang pro-pasar rata-rata menggunakan teknik representasi ini dengan menipu lewat penggunaan lirik. Lirik bagaimanapun merepresentasikan realitas lewat jalur kognitif - bukan dengan cara musik "berbicara"- Kita tidak tahu apakah lagu Makhluk Tuhan Paling Seksi itu mampu merepresentasikan realitas secara musikal atau lirikal? Tapi sebaliknya, Humoresque-nya Dvorak, meski tanpa lirik, apakah bisa kita merasakan ada komedi dalam unsur-unsur musiknya?

3. Musik dan Spiritualitas

Berikutnya adalah pertanyaan: Apakah musik bisa mengangkat kesadaran seseorang hingga pada level yang transenden? Jawabannya tentu saja bisa. Meski demikian, ada fakta bahwa dalam aliran-aliran keagamaan tertentu, penggunaan musik ini menjadi pro dan kontra. Ada yang menggunakannya sebagai alat bantu dalam beribadah, ada juga yang melarangnya sama sekali (Saya bahkan pernah didemonstrasi oleh anak-anak pesantren karena membiarkan perempuan menyanyi di kelas). Ada yang mengatakan bahwa musik memang transenden, tapi jenis transendensinya adalah palsu (Transendensi via musik adalah sesuatu yang tidak mengarah pada Tuhan). Namun ini adalah perdebatan panjang dan tidak pernah selesai terutama jika dikaitkan dengan definisi Tuhan itu sendiri. Agaknya Tuhan dalam agama-agama tertentu tidak mencitrakan dirinya sebagai "entitas yang musikal" sehingga mereka lebih baik didekati secara kognitif (hitung-hitungan ibadah) dan bukan oleh perasaan-perasaan yang emosional. Maka itu bisa dimengerti kekecewaan Nietzsche pada Tuhan-Tuhan Semit lewat ungkapannya, "Aku hanya akan percaya Tuhan yang bisa menari."  Inilah kerinduan Nietzsche pada "Tuhan musikal".

Agaknya dari perdebatan tersebut musik justru menunjukkan keunggulannya: Ia menangkap spirit transendensi Tuhan; Ia menangkap "esensi musikal" dari Tuhan. Maksudnya, musik tertentu semacam yang digarap Alice Coltrane, John Mclaughlin atau Nusrat Fateh Ali Khan misalnya, punya tendensi untuk menangkap monad-monad Ketuhanan. Tidak usah jauh-jauh sebenarnya, musik yang kita curigai "sekuler" seperti dari The Beatles ataupun Bob Dylan, punya nilai spiritualitas yang hanya bisa dihasilkan secara khas oleh musik. Singkat kalimat, musik memberikan suatu kesadaran transenden yang lain sama sekali dengan apa yang dimaksudkan oleh agama-agama. Namun ia tetap mewakili suatu perasaan emosional seperti halnya pengalaman religius seseorang yang begitu dalam dan pribadi. Kesamaan-kesamaan ini seharusnya disyukuri oleh agama-agama dan bukannya dijauhi sebagai bentuk kekufuran.

Continue reading

Saturday, April 13, 2013

Kelas Filsafat (Pertemuan 2): Eksistensialisme Friedrich Nietzsche

Kelas Filsafat (Pertemuan 2): Eksistensialisme Friedrich Nietzsche

Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com

Kelas filsafat kami ini tidak lagi saya sebut “ilegal”. Karena dengan menyematkan “ilegal”, berarti saya mengakui eksistensi sistem yang “legal”. Padahal sebenarnya kami tidak butuh mengakui apapun untuk menyelenggarakan kelas filsafat ini. Hajar we, bebaskeun! (Terima kasih pada Kimung yang sudah menyadarkan saya akan hal ini, hehe).

Pertemuan kedua kami dalam kelas filsafat berlangsung pada 11 April 2013. Lagi-lagi di hari Kamis, pukul 10.45 WIB, di perpustakaan FIB yang begitu tenang. Bedanya, kali ini kami tidak hanya bertiga—Kang Syarif, Manda, dan saya. Ada tambahan empat orang personil yaitu Ibu Susi (dosen Sastra Rusia yang juga mengepalai perpustakaan FIB) dan tiga orang murid Kang Syarif dari Sastra Inggris. Pokok bahasan kami masih dalam tema eksistensialisme namun kali ini kami membahas tokoh yang berbeda yaitu Friedrich Nietzsche.

Nietzsche dilahirkan di akhir abad 19, dalam keluarga dengan latar belakang Kristen Lutheran yang kuat di Jerman. Ia tumbuh besar di bawah dominasi perempuan—ibu, adik, nenek, dan dua orang tantenya—karena ayahnya sudah lebih dulu meninggal ketika ia masih kecil. Ketiadaan figur ayah dalam hidup membuat Nietzsche menganggap dirinya sama dengan Tuhan—Yesus, yang juga lahir dan besar tanpa ayah.

Nietzsche adalah anak yang religius dan luar biasa cerdas. Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di sekolah pendeta agar kelak dapat mengikuti jejak ayah dan kedua kakeknya untuk menjadi seorang pendeta. Namun, karena ia menunjukkan bakat khusus di bidang musik dan bahasa, Nietzsche memperoleh beasiswa penuh di sekolah elit Pforta. Di sana, ia bertemu dengan penyair eksentrik, Ernst Ortlepp. Ortlepp lah yang memperkenalkan Nietzsche pada tulisan dan musik hasil karya Richard Wagner.

Setelah lulus dari Pforta, Nietzsche melanjutkan studinya ke Universitas Bonn dengan mengambil dua major yaitu teologi dan filologi. Namun, setelah satu semester berlalu ia menghentikan studi teologinya dan mengalami sebuah kondisi “hilangnya kepercayaan”. Nietzsche memasuki fase “pencarian jati diri”. Baginya, iman adalah suatu hal yang bisa diajarkan namun tidak bisa diturunkan. Ia memberontak dari “kerohanian” yang diwariskan keluarganya karena hatinya dipenuhi hasrat besar untuk mencari “kebenaran”—walaupun ia menyadari hal itu mungkin menakutkan, mendatangkan keburukan, dan menyeretnya dari kedamaian jiwa.

Nietzsche kemudian memfokuskan dirinya pada studi filologi. Ia banyak mempelajari teks-teks kuno di bawah bimbingan Profesor Ritschl. Ia pun memutuskan pindah ke Universitas Leipzig untuk mengikuti Ritschl. Di Leipzig, untuk pertama kalinya Nietzsche bertemu Wagner yang sebelumnya telah ia kenal melalui hasil-hasil karyanya.

Kemudian, atas rekomendasi Ritschl, Nietzsche mendapat tawaran untuk menjadi profesor filologi klasik di Universitas Basel, Swiss. Saat itu Nietzsche baru berusia 24 tahun. Ia bahkan belum menamatkan studi filologinya. Tetapi, berkat kejeniusannya, pihak universitas langsung meluluskannya tanpa perlu membuat thesis akhir dan memperoleh sertifikat mengajar terlebih dahulu. Nietzsche pun menerima tawaran tersebut dan pindah ke Swiss. Ia tercatat sebagai profesor filologi termuda yang pernah ada sampai saat ini.

Di samping itu, pertemanan yang terjalin antara Nietzsche dan Wagner memberi pengaruh luar biasa besar terhadap pemikiran-pemikiran Nietzsche sendiri. Ia sangat mengagumi komponis tersebut. Setelah datang ke salah satu konser Wagner dan mendengar lagu hasil karyanya yang berjudul Tristan und Isolde, Nietzsche seperti menemukan spirit of music. Ia sangat terinspirasi sehingga ia lalu menuliskan sebuah karya yang begitu fenomenal, Also Sprach Zarathustra.

Dalam diskusi kami, Kang Syarif kemudian menjelaskan pemikiran-pemikiran prinsipal dari Nietzsche. Menurut Kang Syarif, Nietzsche tidak seatheis dan sedepresif Sartre namun pemikirannya bisa dikatakan lebih “berbahaya”. Walau berasal dari keluarga Kristen yang amat kuat, Nietzsche kemudian menjadi anti-Kristen dan mengritik agama habis-habisan. Menurutnya, agama hanya membuat manusia memiliki mental budak. Nietzsche menentang pemikiran Kierkegaard yang menyebutkan bahwa hanya keyakinan pada Tuhan lah yang bisa menghapuskan ketidakberartian eksistensi manusia. Baginya, solusi yang dilontarkan Kierkegaard ini menelanjangi kekuatan manusia. Kembalinya manusia pada agama membuat setiap individu menjadi lemah, tak berdaya, bahkan tak lebih dari seorang pengecut.

Nietzsche terkenal dengan pernyataan yang ia tulis dalam Also Sprach Zarathustra, “Tuhan telah mati—kita semua lah yang membunuh-Nya”. Dalam hal ini, Nietzsche bukan bermaksud mengatakan bahwa Tuhan bisa mati seperti layaknya manusia, melainkan keyakinan manusia modern akan Tuhan lah yang telah mati. Dan menurutnya, umat beragama memiliki andil paling besar dalam “kematian Tuhan” ini. Salah satu contohnya, umat beragama sering menyebutkan Tuhannya dengan “nama panggilan” masing-masing seperti Allah, Roh Kudus, Yahweh, dan sebagainya. Dengan penamaan tersebut, para umat beragama justru seperti “memanusiakan Tuhan”. Hal-hal seperti ini lah yang membuat Tuhan menjadi “mati”, menurut Nietzsche.

Nietzsche berkata bahwa setelah “kematian Tuhan” ini manusia akan mengalami “krisis” atau “kekosongan” selama dua ribu tahun. Namun, krisis ini justru akan melepaskan manusia dari ketergantungan akan Tuhan yang ia nilai terlalu kekanak-kanakan. Manusia kini harus memiliki keberanian untuk mencari Tuhan dalam sebuah dunia tanpa Tuhan. Oleh karena itu, Nietzsche berpendapat bahwa yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan dunia modern saat ini adalah manusia-manusia unggul yang mandiri, tangguh, kuat, pemberani, kreatif, dan bebas. Dari sana lah konsep übermensch muncul.

Nietzsche membagi manusia ke dalam dua golongan yaitu übermensch (manusia unggul) dan kawanan (manusia kebanyakan). Übermensch adalah manusia-manusia yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Berbeda dengan kawanan yang bermental budak seperti binatang dan bisa digiring kesana kemari. Bagi Nietzsche, untuk menghadapi dunia tanpa Tuhan ini, seseorang harus menjadi übermensch. Dan untuk menjadi übermensch, ada tiga “syarat” yang perlu dipenuhi. Yang pertama, ia harus mengakui konsep “kematian Tuhan”. Itu artinya, manusia harus siap melepaskan segala kebergantungan dan berjalan dengan mandiri. Yang kedua, ia harus menerapkan konsep amor fati atau love of fate. Maksud dari amor fati adalah manusia harus senantiasa mencintai kehidupan. Manusia harus menerima segala kondisi yang terjadi dalam hidupnya, termasuk penderitaan dan kehilangan—atau dalam Islam, konsep ini dikenal sebagai “bersyukur”. Dan yang ketiga, Nietzsche memiliki konsep Apollonian dan Dionisian. Berdasarkan mitologi yunani, Apollo adalah dewa matahari dan Dionysus adalah dewa anggur. Dalam pandangan Nietzsche, Apollo melambangkan pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan sedangkan Dionysus melambangkan prinsip estetika yang mendasar, kesenangan, dan kebebasan. Kehidupan yang sebaiknya dijalani menurut Nietzsche adalah kehidupan dengan prinsip-prinsip Dionysus. Manusia perlu bersenang-senang dengan menikmati hidup apa adanya, melepaskan diri dari ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh paradigmanya sendiri. Menurut Nietzsche, permasalahan orang modern adalah mereka terlalu rasional dan dipenuhi oleh paranoid. Oleh sebab itu, Nietzsche berkata, “Aku hanya percaya pada Tuhan yang bisa menari”. Maksudnya adalah, dalam hal ini Nietzsche menyatakan bahwa ia lebih memilih kehidupan yang “asyik” dengan Tuhan yang “fleksibel dan menyenangkan”, dibandingkan hidup penuh ketakutan dengan Tuhan yang “perhitungan dan suka menghukum”.

Lalu, Nietzsche juga menyatakan bahwa kondisi manusia di zaman modern itu seperti berada pada sebuah tali. Jika tali itu sedikit tertarik ke bawah, ia akan menjadi binatang, dan jika tali itu sedikit tertarik ke atas, ia akan menjadi übermensch. Jadi, dalam diri manusia terdapat sebuah tegangan antara binatang (kawanan) dan übermensch. Seorang übermensch harus bisa menentukan nilai-nilainya sendiri dan mendobrak ketetapan yang sudah mapan. Oleh karena itu, Nietzsche selalu berkata, “Hiduplah dalam bahaya. Jika sudah berlayar, bakarlah dermaga di belakangmu”. Baginya, hidup di lautan tanpa kemudi itu lebih baik daripada kehidupan yang statis dan nyaman. Hidup dengan gelisah adalah satu-satunya cara mencintai kehidupan karena hidup yang sudah direncanakan secara terstruktur itu sesungguhnya tidak layak untuk dihidupi lagi.

Dalam diskusi, Ibu Susi menanggapi dan mengamini pernyataan Nietzsche tersebut. Beliau kemudian menceritakan pengalamannya ketika hendak mengambil sebuah keputusan besar yang kelak mengubah hidupnya. Berbekal seluruh tabungannya yang saat itu berjumlah 50 juta, ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke Moscow dan tinggal di sana selama satu tahun. Kepergiannya itu ditentang keras oleh seluruh keluarga juga tunangannya. Tetapi, Ibu Susi bersikukuh untuk keluar dari “zona nyaman”nya dan memulai sebuah petualangan besar. Ternyata, segala hal yang diharapkan Ibu Susi benar-benar dapat ia peroleh di sana. Walaupun setiap harinya merupakan tantangan dan kegelisahan, ia jadi berjuang dan tertempa semakin kuat. Ketika akhirnya pulang ke Indonesia, tabungannya tinggal bersisa 200 ribu. Namun, ilmu, teman, dan pengalaman yang ia dapat selama di Moscow jauh lebih berharga dari sekedar uang. Ia bahkan memperoleh kesempatan bersekolah hingga S3 berkat hubungan baik yang ia bangun saat di Moscow. Ibu Susi membuktikan bahwa hidup dalam kegelisahan berhasil membuatnya mengeluarkan segala potensi diri yang kemudian memberikan kepuasan tak ternilai, khususnya bagi dirinya pribadi.

Kang Syarif lalu berpendapat bahwa salah satu contoh übermensch dalam Islam menurutnya adalah Muhammad. Walaupun Muhammad adalah seorang agamawan, ia mau hidup dalam bahaya dan berpikir lebih jauh dari orang-orang di zamannya, dengan resiko kematian yang selalu mengancam. Begitu pula dengan Yesus. Dari sisi ini, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya para Nabi adalah seorang übermensch pada zamannya karena mereka mau memecahkan problematika dari nilai-nilai yang ada sebelumnya, dengan merumuskan nilai-nilai baru untuk kemaslahatan manusia di masa itu. Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya teks-teks agama itu dibuat lebih lentur dibandingkan dengan teks-teks hukum. Teks hukum lebih pasti ketika mencoba menangkap sebuah peristiwa sedangkan teks agama tidak—ia dapat mendatangkan beragam tafsir. Menurut Kang Syarif, teks agama dibuat lentur agar ia terus menerus hidup. Dengan begitu, manusia memiliki kesempatan untuk berkembang dan terus memperbaiki “nilai”. Oleh sebab itu, bagaimanapun kerasnya para filsuf meniadakan agama, sesungguhnya agama akan tetap lestari. Dan pada titik inilah agama dapat “berdamai” dengan konsep Nietzsche.

Setelah itu, Kang Syarif menjelaskan konsep penting lain dari Nietzsche yaitu metamorfosis ruh. Nietzsche berkata bahwa manusia akan mengalami mengalami tiga tahap dalam hidupnya. Yang pertama, ia menjadi unta. Dalam tahap ini, manusia diibaratkan seperti unta karena ia menanggung beban dari nilai-nilai yang ditanamkan pada dirinya sejak lahir, dan ia menjadi individu yang patuh terhadap nilai-nilai tersebut. Yang kedua, ia menjadi singa. Pada tahap ini, manusia harus mau memberontak dan bertarung melawan nilai-nilai yang ada. Karena, pada dasarnya, dunia ini dapat terus maju berkat adanya “pemberontak” atau orang-orang yang terus “berinovasi”. Selanjutnya, tahapan ketiga bagi manusia yang menurut Nietzsche paling ultimate adalah menjadi anak. Mengapa anak dianggap sebagai metamorfosis final yang paling tinggi? Karena anak-anak selalu melihat dunia dengan perspektif yang baru. Berbeda dengan orang dewasa yang selalu berpikir serius dan kompleks, anak kecil melihat dunia ini sebagai tempat untuk bermain dan bersenang-senang. Ketika orang dewasa kehilangan gairah dan ketertarikan terhadap keseharian, anak kecil justru dapat selalu merumuskan nilai-nilai baru dari keseharian di sekelilingnya. Hilangnya kekaguman orang dewasa pada dunia tersebut sesungguhnya menjadi indikasi bahwa ia tidak lagi mencintai hidupnya. Menurut 

Kang Syarif, pada titik inilah seni memegang peranan penting bagi umat manusia. Seni dapat menangkap keseharian dan mengubahnya menjadi suatu karya yang dapat dinikmati setiap orang. Dalam hal ini, seni bermanfaat untuk mengembalikan kesadaran bahwa sebenarnya “manusia itu hidup pada lingkungan yang berbicara padanya”.

Diskusi ini kemudian ditutup dengan sebuah pertanyaan dari Kang Syarif, “Apakah kita memang membutuhkan figur Tuhan—dalam bentuk apapun, walaupun kita menciptakan-Nya sendiri?” Manda menanggapi bahwa walaupun ia sendiri masih gamang akan pengaplikasian konsep Tuhan dalam keseluruhan hidup, ia merasa Tuhan berfungsi sebagai “pengisi lubang kosong” ketika ia merasakan sebuah kehampaan dalam dirinya. Jawaban tersebut diamini oleh Kang Syarif juga seluruh peserta diskusi.

Pertemuan kedua kelas filsafat kami pun usai. Di minggu depan, kami sepakat untuk mengupas habis tema eksistensialisme ini dengan membahas tokoh lainnya, Søren Kierkegaard.
Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!

***
dparamithatp
Continue reading

Friday, April 5, 2013

Kelas Filsafat Ilegal (Pertemuan 1): Eksistensialisme Jean Paul Sartre

Kelas Filsafat Ilegal (Pertemuan 1): Eksistensialisme Jean Paul Sartre

Setelah melalui beragam kompromi sejak beberapa minggu ke belakang, akhirnya pada 4 April 2013 kami berhasil merealisasikan wacana “kelas filsafat ilegal” bersama salah seorang intelektual muda Bandung yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Padjadjaran, Kang Syarif Maulana. Mengapa dikatakan “ilegal”? Karena kelas filsafat ini kami lakukan secara gerilya di luar jam perkuliahan, tanpa berbayar, dan hanya didasari oleh “panggilan jiwa” yang begitu kuat. Oh betapa mulia!

Pertemuan pertama “kelas filsafat ilegal” yang berlangsung di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya ini dihadiri oleh tiga orang saja yakni Kang Syarif, Manda, dan saya. Meskipun hanya bertiga, kami tetap menjalankan diskusi dengan bersemangat dan penuh atensi. Atmosfir perpustakaan FIB yang begitu tenang sangat mendukung kondusifitas pertemuan kami. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah eksistensialisme yang secara spesifik dicetuskan oleh seorang filsuf besar Prancis di abad 20, Jean-Paul Sartre.

Eksistensialisme ialah sebuah paham yang menyebutkan bahwa “eksistensi mendahului esensi”. Esensi yang dimaksud di sini adalah hakikat, definisi, ide, fungsi, atau sifat dasar dari suatu hal yang telah dilekatkan, bahkan jauh sebelum hal tersebut ada di dunia. Sedangkan eksistensi merupakan suatu hal yang terlepas dari segala macam determinasi, hakikat maupun definisi, dan hanya terbatas pada ruang lingkup “kesadaran akan keberadaan” hal itu sendiri. Sebagai contohnya, manusia dari sudut pandang agama. Dalam pandangan Islam, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, atau dalam pandangan Kristen, manusia hadir di bumi sebagai dosa turunan dari Adam. Para eksistensialis menganggap “manusia sebagai khalifah” atau “manusia sebagai dosa” ini sebagai hakikat pemberian Tuhan yang akan menghalangi setiap orang untuk menjadi “manusia yang seutuhnya” saat mereka lahir ke dunia.

Di awal diskusi, Kang Syarif menjelaskan bahwa Jean-Paul Sartre adalah seorang eksistensialis yang memiliki ke-khas-an tersendiri karena ia berbicara mengenai kebebasan. Ketika Friedrich Nietzsche mengumumkan bahwa “Tuhan telah mati”, Sartre menerimanya sebagai kabar baik karena dengan begitu tidak akan ada lagi ide dalam pemikiran Tuhan yang menjadi patokan kesesuaian bagi manusia. Kini manusia menjadi makhluk yang bebas menentukan hakikat-hakikatnya sendiri. Bebas menentukan jalan hidupnya. Bebas sebebas-bebasnya! Namun, di sisi lain hal tersebut justru menjadi suatu kenyataan yang mengerikan. Ketika dihadapkan pada pilihan, manusia sesungguhnya benar-benar dihadapkan pada kebebasannya sendiri. Manusia benar-benar sendirian. Dan dengan kebebasannya tersebut manusia dapat mengambil tindakan apapun karena tidak ada lagi etika yang mendasarinya. Oleh karena itu, Sartre mengatakan, “l’homme est condamné à être libre” atau “manusia dikutuk untuk bebas”. Dalam diskusi, Manda kemudian menanggapi bahwa kebebasan tersebut sebenarnya malah menjerumuskan manusia ke dalam kondisi yang membingungkan. Manusia justru menjadi tidak bebas karena mereka kehilangan arah, tujuan, dan pedoman untuk menjalani hidup.

Sartre menyatakan bahwa manusia itu bebas selama ia tidak mengganggu kebebasan orang lain. Jika dikritisi lebih dalam, sebenarnya terdapat sebuah paradoks dalam pernyataan tersebut. Jika kebebasan manusia memiliki batasan maka sesungguhnya manusia tidak benar-benar bebas, bukan? Selain itu, Sartre berkata bahwa manusia harus senantiasa bertanggung jawab akan tindakan dan pilihan yang telah diambilnya dengan penuh kesadaran. Itu artinya manusia tidak boleh menyesal ataupun mengeluh atas konsekuensi yang mereka peroleh kemudian. Inilah yang disebut la mauvaise foi atau bad faith oleh Sartre. La mauvaise foi dapat terjadi pada orang-orang yang “menempelkan” dirinya pada suatu hal yang lebih “besar” darinya hingga ia melupakan kesadarannya sendiri. Contohnya, ketika ada seseorang yang begitu bangga karena ia bekerja di perusahaan besar dan ternama, orang-orang menjadi terkesan padanya hanya karena ia menyandang nama besar perusahaan tempatnya bekerja tersebut. Alangkah malang orang itu sesungguhnya, karena eksistensinya sendiri ditenggelamkan oleh esensi lain dari luar dirinya. La mauvaise foi tersebut menjadi alasan dari munculnya kecemasan dalam jiwa manusia. Menurut Sartre, satu-satunya cara seseorang dapat menemukan eksistensinya adalah dengan menghadapi kecemasan atau krisis. Krisis merupakan suatu kejadian secara tiba-tiba yang menghentikan seseorang dari respon sehari-harinya. Cara efektif untuk memunculkan krisis tersebut adalah dengan merenungkan tema-tema berbau pesimisme seperti kemuakan, kehampaan, kegelisahan, keterasingan, kematian, dan semacamnya. Oleh karena itu, eksistensialisme Sartre ini menjadi paham eksistensi yang paling kelam, gelap, dan depresif, bahkan jika dibandingkan dengan eksistensialisme Nietzsche sekalipun.

 “Kira-kira, apa yang mendasari Sartre mencetuskan ide eksistensialisme?” tanya Kang Syarif. “Perang”, jawab saya. Ya. Perang Dunia I menjadi hantaman besar yang menyisakan kenangan traumatis bagi umat manusia di kala itu. Kebengisan yang terjadi ketika manusia saling bunuh, saling tindas, dan saling berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, meninggalkan kesengsaraan, kesedihan, dan rasa kehilangan yang begitu besar dalam jiwa setiap orang. Manusia kemudian menjadi begitu skeptis dan sensitif. Kepercayaan mereka akan keberadaan Tuhan lenyap sudah. Manusia hanya bisa bergantung pada eksistensi dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Di samping itu, masa-masa perang memunculkan terminologi baru seperti batalyon, koloni, resimen, dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut menghilangkan eksistensi manusia secara individual karena manusia hanya dianggap sebagai kumpulan entitas-entitas besar yang merupakan “peralatan perang”.

Filsafat eksistensialisme ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh, Kang Syarif lalu menceritakan pengalamannya ketika sedang naik taksi. Di dalam taksi tersebut, ia berbincang-bincang dengan sang supir. Di luar dugaan, ternyata bapak supir tersebut banyak bercerita mengenai pengalamannya ketika berada di zaman perang dulu. Perbincangan kian menarik karena bapak tersebut dapat pula berfilsafat sekaligus memberi pelajaran berharga bagi lawan bicaranya saat itu. Seketika itu juga, esensi bapak itu sebagai “supir taksi” lenyap dan Kang Syarif menemukannya sebagai “manusia otentik”. Eksistensi bapak tersebut sebagai “seorang manusia yang utuh” muncul ke permukaan dan diterima secara sadar oleh Kang Syarif. Yang dapat dipetik dari pengalaman itu adalah bahwa pendapat umum orang kebanyakan akan suatu hal merupakan esensi yang secara telak menghilangkan eksistensi hal tersebut—pendapat umum orang-orang akan esensi bapak tadi sebagai “supir taksi” menghilangkan eksistensinya sebagai “manusia otentik”—dan untuk menemukan eksistensi dari suatu hal itu, kita harus melakukan pendekatan secara personal dengan pikiran dan hati yang jernih—don’t judge!

Selanjutnya, Kang Syarif menjelaskan teori lubang kunci yang terkenal dari Sartre. Menurut Sartre, manusia dapat menemukan kebebasannya ketika ia berada seorang diri di dalam kamar. Ia bebas melakukan apapun, menjadi dirinya sendiri. Namun, ketika ia menyadari ada orang lain yang mengintipnya dari balik lubang kunci di pintu kamarnya, dalam sekejap manusia tersebut akan berubah dan membuat dirinya menjadi “sesuai dengan apa yang ingin dilihat si pengintip”. Maksudnya, pada dasarnya setiap orang selalu ingin melihat sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya. Setiap orang ingin melihat orang lain bertindak sesuai dengan asumsi pribadinya (dan begitu pula sebaliknya), padahal asumsi-asumsi tersebut hanya akan menghilangkan kebebasan dari dalam diri masing-masing individu manusia itu sendiri. Akibatnya, Sartre beranggapan bahwa “neraka adalah orang lain”. Dan bagi Sartre, Tuhan termasuk dalam kategori “si pengintip”. Manusia tidak akan bebas selama Tuhan mengawasi gerak-gerik mereka. Oleh sebab itu, menurutnya seorang eksistensialis sebaiknya adalah seorang atheis. Bagi para eksistensialis, manusia adalah “apa yang mereka lakukan”. Manusia terbentuk dari tindakan-tindakan yang mereka ambil ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan menjadi seorang atheis merupakan sebuah aksi konkrit dari menjadi seorang eksistensialis. Fyodor Dostoyevsky mengatakan, “Jika Tuhan tidak ada, semuanya akan boleh”, namun Sartre membalik pernyataan tersebut menjadi, “Semuanya boleh maka PASTI Tuhan tidak ada”.

Di sisi lain, ternyata Sartre mengakui bahwa keatheisan tersebut membuat dirinya sendiri hidup dalam ketidakbahagiaan. Sebagai perumpamaan, Sartre menyebut dirinya sebagai seorang penumpang gelap yang sedang menaiki kereta tanpa memiliki karcis. Selama perjalanannya dari stasiun awal ke stasiun akhir, ia terus berjalan mondar-mandir, berputar kesana-kemari di dalam kereta, hanya untuk menghindari sang kondektur. Dari tempat berangkat hingga tempat tujuan, ia tidak menemukan ketenangan dalam perjalanannya. Dan yang lebih menyedihkan, ketika akhirnya ia sampai di stasiun akhir, ia tidak menemukan seorangpun yang menunggunya di sana. Maka dari itu, Sartre menyebutkan bahwa hidup hanyalah gairah-gairah tanpa makna. Dan kematian hanyalah saksi lain atas ketidak-masuk-akalan eksistensi manusia, sama konyolnya dengan kelahiran.

Pertemuan kami ini kemudian ditutup dengan bincang singkat di luar ide eksistensialisme. Manda bercerita mengenai novel seminarnya yang bertema psikoanalisis. Sepertinya tema menarik ini akan kami bahas lebih lanjut di pertemuan minggu depan. “Kelas filsafat ilegal” pertama kami pun usai dengan kegamangan yang menggelantung di benak masing-masing peserta diskusi—Manda dan saya khususnya. 

 ***

dparamithatp
Continue reading