Kamis, 28 Maret 2013

Dua Belas Jam Lebih Dekat dengan Rusia

Pertama-tama harus diberitahukan bahwa saya belum juga bosan bercerita tentang Awal Uzhara, seorang legenda hidup berusia 82 tahun yang dalam empat bulan terakhir ini sering saya jumpai. Pak Awal, seperti yang berulangkali saya ceritakan, adalah orang yang tinggal lima puluh tahun di Rusia untuk -salah satunya- kuliah di institut perfilman tertua di dunia yang bernama VGIK. VGIK adalah tempat belajar dan mengajar sutradara-sutradara besar Rusia seperti Eisenstein, Pudovkin, Batalov dan Tarkovsky.

Biasanya, saya yang mengundang Pak Awal untuk menjadi narasumber film Rusia di Garasi10. Namun hari Sabtu lalu saya mendadak ditelpon oleh beliau. Giliran Pak Awal mengundang saya ke Jakarta, tepatnya ke Pusat Kebudayaan Rusia, untuk menyaksikan pemutaran film yang berjudul Elena pada hari Rabu tanggal 27 Maret. Biasanya, Rabu adalah hari dimana saya mempunyai kewajiban mengajar di sekolah musik. Namun permintaan Pak Awal terlalu menarik untuk ditolak. Saya putuskan untuk ikut tanpa pikir panjang.


Saya tiba terlambat tiga puluh menit dari yang dijanjikan. Jam 11.30 itu tanpa basa-basi kami langsung berangkat berlima. Mengapa berlima? Selain saya dan Pak Awal, ikut serta juga dua mahasiswa Pak Awal dari jurusan Sastra Rusia UNPAD, namanya Fadil dan Steven. Sebelum memasuki tol, kami terlebih dulu mampir di rumah makan Padang di jalan Soekarno Hatta. Disitu saya kagum luar biasa pada kesehatan Pak Awal. Beliau menyantap rendang dan gulai ayam tanpa rasa khawatir sedikitpun! Maksudnya, ia tidak pantang terhadap jenis makanan yang terkenal dengan kandungan kolesterol yang tinggi meski usianya sudah bisa dibilang lanjut. Katanya, "Asalkan enak, tidak apa-apa," ujarnya sambil tertawa.

Jalan tol menjadi tidak membosankan karena Pak Awal yang senang berkelakar. Ia senang sekali mengulang-ulang tentang bagaimana lucunya karya sastra seorang Nikolai Vasilievich Gogol yang berkisah tentang "hidung yang hilang". Ternyata pengetahuan beliau tentang sepakbola pun cukup luas. Ia tahu sejumlah klub sepakbola di Rusia seperti CSKA Moscow, Lokomotiv Moscow, Spartak Moscow, dan Anzhi Makachkala -bahkan Pak Awal tahu pemain terbaru musim ini macam Samuel Eto'o- (Ungkapan kekaguman ini bukan berarti saya meragukan ke-up-to-date-an Pak Awal, melainkan biasanya pada usia tertentu orang sudah malas untuk menerima informasi-informasi yang terlampau mutakhir).

Tiba di Pusat Kebudayaan Rusia, kami langsung disambut dengan ramah oleh pasangan suami istri orang Rusia yang tidak lain adalah pihak atase kebudayaan. Setelah kami melihat-lihat beberapa bagian dalam gedung tersebut yang kebanyakan berkisah tentang ragam kebudayaan di Rusia (ada foto besar Kremlin dan Lapangan Merah yang membuat mata Pak Awal berkaca-kaca melihatnya), atase kebudayaan bernama Vyacheslav Tuchmin menjamu kami ke rumahnya yang terletak tepat di belakang gedung. Kami disuguhi makanan bernama pelmeni yang kata Ibu Susi adalah makanan yang "cowok banget". "Ini biasanya jadi makanan anak muda Rusia di kost-kost-an untuk mereka berkumpul," kata Ibu Susi. Pak Vyacheslav kemudian melanjutkan, bahwa makanan ini aslinya dari Siberia. Orang-orang Siberia makan ini karena tahan lama dan bisa dikonsumsi ketika musim dingin. Pelmeni sendiri semacam pangsit dengan isi daging cincang namun dikonsumsi dengan cuka dan krim bernama smetana.
Pelmeni dengan cuka dan smetana.

Ketika asyik melahap makanan khas Siberia tersebut, Vyacheslav tiba-tiba bertanya dalam Bahasa Inggris, "Jika kamu mendengar kata Rusia, apa yang terlintas dalam benakmu?" Saya menjawab apa saja secara spontan: KGB, Stalin, Lenin, Sharapova, Arshavin, Komunis, Gorbachev, dsb. Saya tidak tahu apakah jawaban semacam itu memuaskannya. Tapi kemudian ia meneruskan perbincangan di meja makan dengan Bahasa Rusia (semua orang di meja itu bisa bicara Rusia kecuali saya, tapi saya menikmati mendengarkannya). Termasuk satu kelakar yang akhirnya diterjemahkan oleh Ibu Susi karena dia merasa kasihan oleh saya yang terbengong-bengong melihat seisi meja tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Pak Vyacheslav pernah bertemu Duta Besar AS dan dia bertanya, kapan seorang Rusia dikatakan menyenangkan? Dubes itu menjawab: Ketika mereka tidak minum." Kemudian dijelaskan bahwa orang Rusia memang biasa sekali minum (alkohol) dimana-mana.


Pak Awal dan Bu Susi asyik berbincang di meja makan.
Makan sore itu sendiri berlangsung terburu-buru karena kami harus bergegas ke auditorium untuk menyaksikan film Elena tepat pada waktunya. Di auditorium itu, hanya sekitar lima belas orang yang hadir dari total sekitar 150 kursi. Film karya Andrei Zvyagintsev tahun 2011 ini memenangkan Cannes Film Festival untuk kategori Special Jury Prize. Sebelum film dimulai, Vyacheslav sempat mengatakan bahwa film ini menyerahkan akhir ceritanya pada penonton. "Tidak ada pesan moral yang jelas," jelasnya singkat tanpa bermaksud ingin menjadi spoiler.

Elena bercerita tentang seorang perempuan separuh baya bernama Elena (Nadezhda Markina) yang terjepit di antara dua dunia. Dunia pertama adalah kehidupannya bersama seorang pria kaya bernama Vladimir (Andrey Smirnov) yang bagi keduanya adalah pernikahan nomor dua. Sedangkan dunia lain bagi Elena adalah kehidupan dengan anak laki-laki hasil dari pernikahan sebelumnya yang tidak mempunyai pekerjaan dan hidup miskin. Problemnya, Vladimir bersikukuh bahwa ia tidak mau membantu finansial anak dari Elena yang sudah berkeluarga dengan satu anak. Vladimir hanya akan mewariskan kekayaan pada putrinya yang berasal dari pernikahan sebelumnya bernama Katarina (Elena Lyadova). Keputusan Vladimir ini mencemaskan Elena yang demikian khawatir pada anak laki-lakinya. Elena pun memutuskan untuk meracun Vladimir demi mendapatkan warisannya.
Poster film Elena.
"Film tersebut adalah bagai membaca karya Dostoyevksy namun dalam versi sinema," ujar E. Katerina Tuchmina, istri dari Vyacheslav dengan penuh semangat. Memang film Elena tersebut, dalam pandangan saya, sangat eksistensialistik. Digambarkan keseharian Elena yang pergi kemana-mana dengan wajah muram karena kerap terantuk dilema. Alur filmnya juga sangat lambat sehingga efek dari kejemuan hidup Elena terasa sampai ke penonton. Akhir cerita yang "menggantung" pun membuat saya pribadi merasa gelisah dan membayangkan apa yang terjadi pada hidup Elena berikutnya. Secara terang-terangan saya meminta kopi dari film Elena untuk diputar kembali di Bandung. Jawabannya? "Tentu saja, akan kami kirimkan segera," ujar mereka dengan ramah.

Setelah film tersebut diputar, tidak ada diskusi di auditorium. Kami langsung pulang ke Bandung dan memilih untuk membicarakannya di mobil. Pak Awal tanpa rasa lelah menceritakan pandangannya tentang film tersebut sambil sesekali menyentuh sejarah Neo-Realisme Italia dan konsep Cinéma vérité milik Prancis untuk menunjang pemahaman kami mengenai film Elena tadi. Ketika suasana mulai sepi karena beberapa orang tidur lelap, Pak Awal tetap terjaga dan menyinggung-nyinggung perutnya yang lapar karena katanya, "Akibat cuka dalam pelmini tadi." Kami pun mampir di restoran Padang jam sembilan malam sebagaimana kami pun makan siang sebelumnya di restoran Padang juga (tidakkah Pak Awal, untuk seusianya, sangat berani memakan makanan Padang sehari dua kali?). 

Sampai di rumah jam dua belas malam, saya merasa sempat mencium aroma Rusia dengan sangat kuat meski cuma lewat cerita. Meski cuma lewat aura kerinduan Pak Awal akan negeri yang ditinggalinya setengah abad.


Previous Post
Next Post

1 komentar: