Senin, 18 Februari 2013

Django Unchained (2012): Tarantino Menggila Lagi

 

Meski mengandalkan estetika film "kelas B", Tarantino jelas bukan sutradara "kelas B". Sejak film pertamanya yang berjudul Reservoir Dogs (1992), Tarantino menunjukkan dirinya bisa membuat film yang terkesan murahan -karena latar yang minimalis, adegan yang dominan berdarah-darah, aktor yang sedikit, musik yang ready-use, dan dialog yang amat keseharian- namun cukup konseptual, berprinsip, dan referensial. Dalam arti kata lain, ia menjadikan estetika "kelas B" ini sebagai pilihan pribadinya, bukan karena desakan dana yang minim.

Walhasil, atas karakteristik filmnya yang khas dan boleh dibilang idealistik, Tarantino mempunyai penggemarnya sendiri. Kita tidak bisa menyamakan popularitas Tarantino ini dengan sutradara Hollywood spesialis box office seperti Steven Spielberg atau Peter Jackson. Namun ia jelas akan dikenang sebagai seseorang yang kokoh memegang teguh gaya estetikanya seperti seorang David Lynch. Maka itu, kemunculan Django Unchained (2012) terang saja ditunggu dengan dahaga yang sudah kering kerontang karena film terakhir Tarantino, Inglorious Basterds (2009) adalah film yang mengesankan. Dalam film Inglorious Basterds, ia sukses melakukan sejumlah hal "gila" mulai dari kesuksesannya mengarahkan Christoph Waltz dari aktor yang hampir gagal menjadi aktor super-brilian dalam memerankan Kolonel Hans Landa, hingga menulis skenario kematian Adolf Hitler di gedung bioskop.

Sebelum menonton filmnya, saya sudah berani menduga bahwa Django Unchained akan menghadirkan kejutan a la Tarantino. Pertama, kita tahu bahwa Tarantino adalah penggemar film koboi. Artinya, ketika tahu bahwa film ini bertajuk Django -Django adalah nama tokoh koboi yang sangat populer diperankan oleh Franco Nero-, maka pastilah Tarantino sedang berupaya memuaskan idealisme masa mudanya ketika sedang rajin mengonsumsi Spaghetti Western. Kedua, pemeran Django sendiri bukanlah seorang kulit putih seperti halnya Nero di masa lalu. Sekarang sang sutradara memilih Jamie Foxx, seorang kulit hitam yang bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan berperan menjadi koboi!

Django Unchained dibuka dengan adegan khas Tarantino: Obrolan panjang yang absurd. Reservoir Dogs punya delapan orang berbincang di restoran riang gembira membahas apakah pantas seorang pelayan diberi tips. Pulp Fiction punya obrolan Pumpkin dan Honey Bunny di restoran sebelum mereka memutuskan untuk merampoknya. Inglorious Basterds? Inilah adegan favorit saya ketika Hans Landa dengan sangat mencekam menanyai Perrier LaPadite tentang keberadaan orang-orang Yahudi di rumahnya. Django Unchained juga tak kalah. Ia punya adegan mencekam ketika Dr. King Schulz hendak membeli seorang budak bernama Django dari majikannya yang bernama Speck Bersaudara. Adegan pembuka ini saya nilai sangat berhasil dan sama sekali mencerminkan satu karakter yang khas dari Tarantino -apalagi ketika adegan pembuka ini diawali dengan kesunyian dan kemudian diakhir dengan desing tembakan yang brutal-.

Django Unchained kemudian lebih banyak diwarnai dialog. Namun dalam dialog ini, Tarantino sedikit kehilangan keabsurdannya. Ia sepertinya ingin lebih banyak membangun emosi penonton lewat bagaimana orang kulit hitam ditindas di masa itu -tidak mau membuang-buang waktu dengan obrolan seperti pijat kaki di film Pulp Fiction-. Walhasil, obrolan-obrolannya cenderung "garing" dan sengaja dibuat sesekali konyol hanya agar penonton tidak terlalu serius dalam menanggapi sejumlah adegan penindasan terhadap orang kulit hitam yang dibuat terang-terangan (jika bukan karena Tarantino yang membuat, mungkin sudah banyak kritik yang disematkan bagi film ini. Kita tahu bahwa Tarantino memang blak-blakan tentang orang kulit hitam, salah satunya dengan tetap menyebutnya "negro" atau "nigger"). Namun tetap dari segi kualitas dialog, saya tidak merasa terkenang oleh satu percakapan. Sangat berbeda dibanding film-film sebelumnya dimana saya bisa hafal sejumlah dialog yang dirasa sangat kuat meski tengah membicarakan sesuatu yang kurang penting. 

Namun Django Unchained seperti menunda orgasme agar klimaks secara enak. Dengan dialog yang panjang dan bertele-tele, ia sukses menjadikan seperempat akhir filmnya penuh aksi brutal-berdarah yang estetik -sekali lagi khas Tarantino-. Ia juga sukses membuat penonton bertepuk tangan riuh pada tokoh Django yang dibuat simpatik sejak awal. Tarantino tidak hendak membuat film filosofis, multi tafsir, dan membuat kening berkerut-kerut. Ia tidak sedang membuat Pulp Fiction atau Kill Bill vol. 2 yang tidak bisa ternikmati dalam sekali lihat. Django Unchained memang film ringan dengan tokoh protagonis dan antagonis yang jelas.

Kematangan sang sutradara terlihat dari hal ini: Selalu ada adegan dialog mencekam dalam filmnya yang lain, namun hampir selalu adegan tersebut diakhiri dengan mexican stand-off dan tembak-tembakan brutal. Django Unchained tidak. Adegan dialog yang penuh ketegangan ini tidak selalu akan berujung pada adu tembak. Penundaan inilah yang justru asyik dan menunjukkan ada kehebatan Tarantino dalam mengatur alur agar penonton menunggu-nunggu kapan aksi koboi Django mencapai puncaknya. Terakhir adalah cerita yang brilian dan terasa pantas mengapa Tarantino masuk nominasi Oscar untuk best original screenplay. Tidak ada yang lebih gila dari ide mengangkat seorang Django yang berasal kulit hitam. Ia datang sebagai pembebas, sebagai mesias, sebagai seorang yang menantang hegemoni.

Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. jadi penasaran pengen nonton, secara emang nunggu film ini banget heuheu

    BalasHapus