Kamis, 28 Februari 2013

Balada Majalah Pria yang Tak Membuat Ereksi

Balada Majalah Pria yang Tak Membuat Ereksi

Ditulis sebagai suplemen bincang-bincang Majalah Bung! di Kineruku, 2 Maret 2013

 

“Laki-laki suka dua hal: permainan dan bahaya. Atas dasar itu mereka menyukai perempuan sebagai permainan yang paling berbahaya.” – Nietzsche dalam Zarathustra

Meski terkesan melakukan simplifikasi, namun pernyataan Nietzsche tersebut ada benarnya –setidaknya dari konteks yang akan kita bahas hari ini yaitu tentang majalah pria-. Tidak bisa tidak, majalah yang mengidentifikasi dirinya sebagai “majalah khusus pria”, sepertinya mewajibkan diri memuat gambar perempuan. Tidak hanya gambar perempuan, tapi juga pelbagai konten di dalamnya seolah punya pesan bagi para pria agar menjadi menarik bagi perempuan. Tips-tips di dalamnya seperti bagaimana bercinta, memodifikasi mobil, berbisnis yang handal, memilih makanan sehat, dsb, kita bisa curigai ia beraroma Freudian: Apa-apa ujung-ujungnya harus dalam rangka menenangkan id, nafsu tribalistik yang merongrong ke arah –salah satunya- kebutuhan kelamin.

MAJALAH BUNG!: ANTITESIS DAN ABNORMALITAS

Majalah Bung! jelas punya suatu ideologi perlawanan –jika memerhatikan tebaran majalah pria hari ini yang punya satu benang merah yang “kita-tahu-semua”-. Pertama, dari sampul pun kita sudah bisa judge the book by it’s cover. Mari bandingkan kover majalah Bung! dengan Maxim, FHM, Popular, atau ME. Bung! terasa tidak punya intensi untuk membangkitkan hasrat (kata “intensi” ini tentu saja bias. Sebias kita mendefinisikan kata “pornografi”). Perempuan di sampul majalah Bung! tidak setengah bugil atau setidaknya menyisakan ruang fantasi yang besar bagi imajinasi pria. Perempuan digambarkan dalam kesehariannya: dalam dunia yang kita tinggali tanpa asumsi tanpa pretensi, Saya merasa bahwa mereka yang ereksi ketika melihat sampul depan majalah Bung! pastilah orang yang –apakah Yasraf Amir Piliang sudah memakai istilah ini?- hiper-imajinatif.
Kedua, soal konten. Jelas isi dari majalah ini jauh dari arus utama. Ketika di majalah pada umumnya memuat soal tetek bengek otomotif –yang secara implisit mengatakan bahwa pria sedikitnya harus bisa menyetir-, Bung! malah menyodorkan sejumlah pria yang begitu percaya diri ia tidak kehilangan kelelakiannya hanya karena tidak bisa menyetir. Ketika di majalah pada umumnya memuat modifikasi motor-motor terkenal seperti Harley Davidson, Bung! menyoroti mereka yang bangga dengan Vespa-nya yang gembel. Majalah pada umumnya akan berbicara vagina dan letak g-spot, Bung! dengan berani dan –tampak tak takut dengan ketidaklakuan- membahas bulu ketiak dan hubungannya dengan sensualitas!
         
Kita bisa menyebut Bung! dalam dua kata filosofis yang sama-sama keren: Hegel barangkali akan menyebutnya antitesis, sedangkan Foucault akan menyebutnya abnormalitas. Jika majalah pria sedikitnya harus membuat ereksi, maka saya pribadi ketika membaca majalah Bung! ini tidak “bangun” sama sekali. Hantaman pemikiran demi pemikiran kritis yang ditulis oleh sejumlah kontributor ternama makin membuat saya paham fakta mengapa para filsuf besar rata-rata bisa tahan untuk tidak menikah dan hidup dalam kesendirian (Hehe). Sematan label antitesis dirasa tepat karena majalah ini menyoroti pangsa pasar pria yang sekiranya terbuang dari narasi besar seperti “seks”, “otot”, “gadget”, dan “otomotif”. Majalah Bung! ingin mengincar pria-pria yang kehilangan kelelakiannya karena konstruksi media yang tidak memihak mereka. Namun abnormalitas juga bisa disematkan karena satu kenyataan pahit yang sudah saya singgung tadi: Majalah ini tidak membuat ereksi; Majalah ini sedikit banyak menimbulkan efek kemurungan eksistensial akibat kekritisan berpikir; Majalah ini tidak banyak menyebabkan apa yang disebut Bergson sebagai elan vital (daya hidup).
Tapi saya punya pembelaan untuk abnormalitas tadi: Majalah Bung! hadir agar para pria memaknai ulang arti vitalitas. Agar para pria sadar dirinya selama ini, yang namanya vitalitas, sudah sejak lama dikonstruksi. Pria bisa seksi dengan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang tidak terduga, pria bisa seksi dengan menjadi dirinya sendiri, dan pria bisa seksi dengan tidak terepresi oleh bentukan media.

MAJALAH VS INTERNET

            Dalam TOR yang diserahkan oleh Budi Warsito via e-mail, ada kalimat yang dikutip dari The Association of Magazine Media, yang pada akhirnya saya tak setuju-setuju amat, “We surf the internet. We swim in magazines.” Seolah-olah, internet memang media untuk melihat segala sesuatu secara permukaan –seperti halnya berselancar-, sedangkan majalah memberi peluang bagi pembaca untuk melihat segala sesuatu secara mendalam.
            Internet sendiri merupakan suatu objek kajian yang teramat luas dan sama sekali tidak mudah ditangkap fenomenanya dalam bahasa tertata (pakar komunikasi masih berdebat seru tentang apakah internet masuk ke dalam jenis komunikasi massa atau komunikasi konvergen). Di internet, karena kebutuhan update yang cepat dalam hitungan detik, maka berbagai artikel dan berita disajikan secara singkat tanpa bahasa bersayap, ada benarnya. Namun internet juga punya peluang untuk menyajikan berita yang dikemas secara komplit, utuh, dan melalui riset yang cukup. Kedua hal ini ada di internet dalam porsi yang sulit diukur persentasenya. Internet memberi peluang bagi mereka yang ingin memberitakan sesuatu dalam 140 karakter (Twitter) hingga mendirikan majalah maya sendiri seperti yang marak belakangan ini.
       Keberagaman kemungkinan yang bisa ditampilkan lewat internet, disertai aksesnya yang semakin mudah, tentu saja menimbulkan pertanyaan klise: Untuk apa membeli jika internet sudah menyediakan sesuatu dengan semangat komunalistik? Untuk apa membeli jika apa-apa sekarang bisa diunduh secara gratis –dari pengalaman seorang teman, inilah surga yang spesial ada di Indonesia-? Dalam konteks yang lebih spesifik, untuk apa membeli majalah, jika berita apapun bisa dicari di dunia maya? Untuk apa mengonsumsi majalah pria dengan sejumlah gambar bugil, jika kamu bisa buffering film porno dengan mengorbankan waktu sejam saja untuk menunggu?
            Pertanyaan semacam itu barangkali bisa ditujukan pada mereka yang tetap membeli piringan hitam, DVD original, ataupun buku, meski segalanya bisa diperoleh secara gratis via internet. Membeli, jangan-jangan, sekarang menjadi sesuatu yang seksi. Dulu orang merindukan semangat komunalisme, ririungan, berbagi dalam skala besar sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme yang mengagungkan kepemilikan orang per orang. Sekarang diam-diam orang menjadikan kepemilikan pribadi bukan lagi dalam rangka survival dan isu hak milik. Kepemilikan pribadi adalah bagian dari pencitraan. Engkau membeli dan engkau mengunduh gratis bisa memeroleh konten yang sama, tapi membeli menunjukkan kesungguhan, menunjukkan suatu intensi untuk bersetubuh dengan si objek.
            Kemudian, martabat majalah juga saya peroleh malah dari salah satu artikel yang dimuat oleh Bung! berjudul Filsafat Bersepeda oleh Simon Lili Tjahjadi. Beliau berkata, “Mata melihat leukan-lekukan jalan, telinga mendengar suara, kulit merasakan hembusan angin, hujan dan panas, bahkan hidung bisa mencium wangi nasi goreng dari penjual bergerobak yang tengah mempersiapkan masakan itu di tepi jalan, hal yang pada gilirannya merangsang indra pengecapan.” Secara fisiologis, mengonsumsi tulisan via di internet sungguh cepat melelahkan mata. Majalah masih punya martabat karena ia, sebagaimana bersepeda, masih mempertahankan “sentuhan”. Masih ada orang yang, kata kawan saya, Pirhot Nababan, “Menganggap bahwa membaca haruslah memegang buku.”
        Membeli majalah berarti juga mempertimbangkan ruang dalam keseharian kita. Dengan membeli majalah, ia membuat kita sejenak berpikir tentang, “Ruang-ruang sebelah mana dalam kehidupan kita yang nantinya akan diambil oleh majalah ini?” Maksudnya, ketika kita membeli majalah, kita akan mempertimbangkan ia harus disimpan di mana, sebagai apa, dan dengan tampilan seperti apa. Karena majalah yang dionggokkan begitu saja setelah dibaca dengan majalah yang ditata rapi di sebuah rak, akan menimbulkan suatu sentimentalitas yang berbeda. Dalam ruang maya, segala sesuatu sudah “tersimpan di sana terus”. Ia bisa dibaca kapan saja tinggal kita memasukkan alamat dan mengklik laman yang tempat. Segala sesuatu dalam internet tersimpan dalam ruangan raksasa yang terang-terang tidak mengambil tempat dalam dunia keseharian kita.
            Kita bisa bayangkan jika semua hal tersimpan dalam dunia digital: Tidakkah dunia fisik kita menjadi lebih leluasa –tapi juga sekaligus hampa?-.
Continue reading

Senin, 18 Februari 2013

Django Unchained (2012): Tarantino Menggila Lagi

Django Unchained (2012): Tarantino Menggila Lagi
 

Meski mengandalkan estetika film "kelas B", Tarantino jelas bukan sutradara "kelas B". Sejak film pertamanya yang berjudul Reservoir Dogs (1992), Tarantino menunjukkan dirinya bisa membuat film yang terkesan murahan -karena latar yang minimalis, adegan yang dominan berdarah-darah, aktor yang sedikit, musik yang ready-use, dan dialog yang amat keseharian- namun cukup konseptual, berprinsip, dan referensial. Dalam arti kata lain, ia menjadikan estetika "kelas B" ini sebagai pilihan pribadinya, bukan karena desakan dana yang minim.

Walhasil, atas karakteristik filmnya yang khas dan boleh dibilang idealistik, Tarantino mempunyai penggemarnya sendiri. Kita tidak bisa menyamakan popularitas Tarantino ini dengan sutradara Hollywood spesialis box office seperti Steven Spielberg atau Peter Jackson. Namun ia jelas akan dikenang sebagai seseorang yang kokoh memegang teguh gaya estetikanya seperti seorang David Lynch. Maka itu, kemunculan Django Unchained (2012) terang saja ditunggu dengan dahaga yang sudah kering kerontang karena film terakhir Tarantino, Inglorious Basterds (2009) adalah film yang mengesankan. Dalam film Inglorious Basterds, ia sukses melakukan sejumlah hal "gila" mulai dari kesuksesannya mengarahkan Christoph Waltz dari aktor yang hampir gagal menjadi aktor super-brilian dalam memerankan Kolonel Hans Landa, hingga menulis skenario kematian Adolf Hitler di gedung bioskop.

Sebelum menonton filmnya, saya sudah berani menduga bahwa Django Unchained akan menghadirkan kejutan a la Tarantino. Pertama, kita tahu bahwa Tarantino adalah penggemar film koboi. Artinya, ketika tahu bahwa film ini bertajuk Django -Django adalah nama tokoh koboi yang sangat populer diperankan oleh Franco Nero-, maka pastilah Tarantino sedang berupaya memuaskan idealisme masa mudanya ketika sedang rajin mengonsumsi Spaghetti Western. Kedua, pemeran Django sendiri bukanlah seorang kulit putih seperti halnya Nero di masa lalu. Sekarang sang sutradara memilih Jamie Foxx, seorang kulit hitam yang bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan berperan menjadi koboi!

Django Unchained dibuka dengan adegan khas Tarantino: Obrolan panjang yang absurd. Reservoir Dogs punya delapan orang berbincang di restoran riang gembira membahas apakah pantas seorang pelayan diberi tips. Pulp Fiction punya obrolan Pumpkin dan Honey Bunny di restoran sebelum mereka memutuskan untuk merampoknya. Inglorious Basterds? Inilah adegan favorit saya ketika Hans Landa dengan sangat mencekam menanyai Perrier LaPadite tentang keberadaan orang-orang Yahudi di rumahnya. Django Unchained juga tak kalah. Ia punya adegan mencekam ketika Dr. King Schulz hendak membeli seorang budak bernama Django dari majikannya yang bernama Speck Bersaudara. Adegan pembuka ini saya nilai sangat berhasil dan sama sekali mencerminkan satu karakter yang khas dari Tarantino -apalagi ketika adegan pembuka ini diawali dengan kesunyian dan kemudian diakhir dengan desing tembakan yang brutal-.

Django Unchained kemudian lebih banyak diwarnai dialog. Namun dalam dialog ini, Tarantino sedikit kehilangan keabsurdannya. Ia sepertinya ingin lebih banyak membangun emosi penonton lewat bagaimana orang kulit hitam ditindas di masa itu -tidak mau membuang-buang waktu dengan obrolan seperti pijat kaki di film Pulp Fiction-. Walhasil, obrolan-obrolannya cenderung "garing" dan sengaja dibuat sesekali konyol hanya agar penonton tidak terlalu serius dalam menanggapi sejumlah adegan penindasan terhadap orang kulit hitam yang dibuat terang-terangan (jika bukan karena Tarantino yang membuat, mungkin sudah banyak kritik yang disematkan bagi film ini. Kita tahu bahwa Tarantino memang blak-blakan tentang orang kulit hitam, salah satunya dengan tetap menyebutnya "negro" atau "nigger"). Namun tetap dari segi kualitas dialog, saya tidak merasa terkenang oleh satu percakapan. Sangat berbeda dibanding film-film sebelumnya dimana saya bisa hafal sejumlah dialog yang dirasa sangat kuat meski tengah membicarakan sesuatu yang kurang penting. 

Namun Django Unchained seperti menunda orgasme agar klimaks secara enak. Dengan dialog yang panjang dan bertele-tele, ia sukses menjadikan seperempat akhir filmnya penuh aksi brutal-berdarah yang estetik -sekali lagi khas Tarantino-. Ia juga sukses membuat penonton bertepuk tangan riuh pada tokoh Django yang dibuat simpatik sejak awal. Tarantino tidak hendak membuat film filosofis, multi tafsir, dan membuat kening berkerut-kerut. Ia tidak sedang membuat Pulp Fiction atau Kill Bill vol. 2 yang tidak bisa ternikmati dalam sekali lihat. Django Unchained memang film ringan dengan tokoh protagonis dan antagonis yang jelas.

Kematangan sang sutradara terlihat dari hal ini: Selalu ada adegan dialog mencekam dalam filmnya yang lain, namun hampir selalu adegan tersebut diakhiri dengan mexican stand-off dan tembak-tembakan brutal. Django Unchained tidak. Adegan dialog yang penuh ketegangan ini tidak selalu akan berujung pada adu tembak. Penundaan inilah yang justru asyik dan menunjukkan ada kehebatan Tarantino dalam mengatur alur agar penonton menunggu-nunggu kapan aksi koboi Django mencapai puncaknya. Terakhir adalah cerita yang brilian dan terasa pantas mengapa Tarantino masuk nominasi Oscar untuk best original screenplay. Tidak ada yang lebih gila dari ide mengangkat seorang Django yang berasal kulit hitam. Ia datang sebagai pembebas, sebagai mesias, sebagai seorang yang menantang hegemoni.

Continue reading

Senin, 04 Februari 2013

Akechi Mitsuhide dan Raja-Filsuf Platonis

Akechi Mitsuhide dan Raja-Filsuf Platonis
Dalam bukunya yang berjudul The Republic, Plato menulis tentang konsep raja-filsuf. Konsep tersebut kurang lebih berarti: Seorang filsuf seyogianya menjadi raja. Dan seorang raja, ia harus sanggup menjadi filsuf.

Definisi "filsuf" ini tentu saja paling mengundang perdebatan. Karena kenyataannya, mereka yang menjadi pemimpin seringkali mencitrakan dirinya sebagai cendekiawan. Tidak perlu dibahas bagaimana para politisi di Indonesia sangat senang berburu gelar akademik untuk mendapatkan suatu posisi penting di ruang lingkup kekuasaan. Gelar Magister dan Doktor menjadi "syarat wajib" agar pencitraannya terlihat seolah-olah ia memenuhi konsep raja-filsuf Platonis. Namun apakah filsuf identik dengan kepintaran? Tentu saja, berdasarkan arti katanya saja, tidak. Filsuf berarti orang yang mencintai kebijaksanaan (hal yang mana akan menimbulkan perdebatan lagi tentang apa itu kebijaksanaan!). Plato barangkali hendak berbicara tentang raja yang memahami segala sesuatu, dan bertindak dengan adil - bijaksana berdasar pada pertimbangan rasional: "[A] true pilot must of necessity pay attention to the seasons, the heavens, the stars, the winds, and everything proper to the craft if he is really to rule a ship"  

Meski sekilas tampak klise, namun tipe kepemimpinan semacam ini tidak terlalu mudah ditemukan. Kita tahu bahwa politisi seringkali identik dengan sikap-sikap pragmatis dan melihat kekuasaan dengan kacamata kuda. Seringkali justru yang ada adalah logika sebaliknya: Kekuasaan dahulu yang diraih lewat segala cara, baru nanti citra kebijaksanaan bisa diperoleh belakangan -Ingat bagaimana kaisar Augustus meraih kekuasaan lewat pertumpahan darah, setelah itu di mana-mana ia membuat patung tentang bagaimana dirinya dicitrakan sebagai negarawan yang dipenuhi rasa damai. Ingat juga bagaimana Mao Zedong, di balik poster-posternya yang menggambarkan ia sangat menyayangi anak-anak, ternyata sedang terjadi Revolusi Kebudayaan yang membumihanguskan jutaan rakyat sendiri atas nama ideologi-.

Saya sempat setuju sepenuhnya tentang bagaimana orang intelek dan bijaksana seyogianya menjadi pemimpin alih-alih mereka yang bersikap praktis tanpa perhitungan. Namun ternyata saya akhirnya mengajukan pikir-pikir pada pemikiran Plato tersebut setelah melihat kasus Akechi Mitsuhide dalam buku Taiko karya Eiji Yoshikawa. Mitsuhide digambarkan sebagai seorang intelektual-filsuf yang mempunyai kecerdasan dan kebijaksanaan di atas rata-rata. Suatu ketika, oleh sebab perasaan sakit hati, ia menggulingkan kekuasaan Oda Nobunaga yang sebenarnya adalah junjungannya sendiri. Ia mengajak pasukannya dari marga Akechi untuk menyerang sang penguasa di pagi buta. Nobunaga, karena terpojok, memutuskan untuk melakukan seppuku. Kematian Nobunaga meniupkan wacana: Mitsuhide lah penguasa berikutnya.

Apa yang kauinginkan? Berkali-kali Mitsuhide mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya. Memimpin negeri! terngiang-ngiang di telinganya, tapi bunyinya sungguh hampa. Ia terpaksa mengakui bahwa ia tak pernah memeluk harapan sedemikian tinggi, karena tidak memiliki ambisi maupun kemampuan untuk itu. Sejak semula ia hanya mempunyai satu tujuan: membunuh Nobunaga. Keinginan Mitsuhide telah terpuaskan oleh kobaran api di kuil Honno, dan yang tersisa kini hanyalah nafsu tanpa keyakinan. 

"Mulai hari ini, Yang Mulia Mitsuhide merupakan penguasa seluruh negeri," para jendral Akechi berkata dengan keyakinan yang tak dimiliki Mitsuhide.

Namun junjungan yang mereka sanjung-sanjung telah berubah. Ia berbeda dalam penampilan dan watak - bahkan dalam kecerdasan.

Mitsuhide pada akhirnya tidak berdaya. Ia mengambil kesimpulan untuk dirinya sendiri bahwa ternyata kecerdasan dan kebijaksanaan saja tidak cukup untuk memerintah dan berkuasa. Ia merasa bahwa Nobunaga, junjungan yang digulingkannya, berhasil sebagai penguasa bukan semata-mata oleh kecerdasan dan kebijaksanaan, tapi kadang-kadang justru oleh sikap praktis, nekat, namun tegas. Nobunaga tidak terkenal dengan citra raja-filsuf, ia bahkan cenderung brutal dan kurang berpendidikan. Namun ada kalanya, berkaca pada pengalaman Mitsuhide, yang dibutuhkan seorang raja adalah semacam keberanian dalam bertindak. Tentu saja hal ini bukan berarti kecerdasan dan kebijaksanaan tidak diperlukan untuk menjadi seorang raja. Namun Plato luput membahas faktor-faktor lain yang lebih penting. Tanpa suatu ketegasan dan keberanian, raja-filsuf akan melempem seketika berada di pucuk kekuasaan, seperti Akechi Mitsuhide yang akhirnya terpenggal kepalanya.

Continue reading