Saturday, January 19, 2013

Seni dan Agama

Entah sejak era apa, kita akhirnya menemukan suatu dikotomi ketat antara seni, agama, sains, dan filsafat -biasa disebut empat pilar peradaban-. Keempatnya berpisah, ditekuni masing-masing, dan tidak jarang saling bertentangan. Saya mencurigai pemilahan ini adalah kerjaan para akademisi, tapi tak perlu kita bahas jauh-jauh pertentangan keempatnya.

Seni dan agama, makin hari makin menunjukkan tabiat bermusuhan. Seni bahkan sering didaulat sebagai agama baru. Dalam arti, ia sama-sama mengandung denyut spiritualitas. Seorang seniman mungkin pada taraf tertentu ia mengenali gejolak dalam dirinya seperti kerinduan transendental terhadap hal besar di luar sana. Hal ini tentu saja mirip dengan tema spiritualitas dalam agama-agama. Bahkan ada kecenderungan, seni melakukannya secara lebih jujur dan pribadi. Ini sekaligus semacam kritik terhadap agama yang spiritualitasnya cenderung beramai-ramai. Problem dari beramai-ramai adalah: Apakah itu sungguh spiritualitas, atau cuma histeria massal?


Namun pernah ada masa ketika seni dan agama punya hubungan amat mesra. Seni mengakomodasi keinginan agama untuk "menurunkan Tuhan ke dunia", menjadikan ia dapat dicerap indra, sehingga memenuhi hasrat manusia yang selalu rindu rupa dan rasa. Contoh semacam ini tentu saja berlimpah ada di kebudayaan Indo-Eropa. Kebudayaan Yunani Kuno misanya, mereka menciptakan citra dewa-dewi oleh sebab suatu kepercayaan bahwa "kita bisa paham sesuatu yang tidak kelihatan, lewat yang kelihatan". Kebudayaan Mesir dan Hindu pun melakukan hal yang sama. Yang berbeda barangkali adalah kebudayaan Semit yang mencium bahwa upaya "membumikan Tuhan lewat seni" adalah berbahaya karena pertama: Tuhan  jauh melampaui imajinasi manusia, kedua: upaya pembumian ini berbahaya karena manusia bisa menyembah mediumnya alih-alih objek sebenarnya. Namun tentu saja, agama Kristen lolos dari "aturan Semitis" ini karena persentuhannya dengan Yunani.

Kaitan antara seni dan agama ini saya renungkan setelah mengunjungi sejumlah kuil Buddha di propinsi Ayuttaya, Thailand. Di setiap kuilnya, citra Buddha bertebaran dimana-mana. Ada satu citra lagi yang menarik, yaitu seorang bhiksu yang diyakini sebagai orang suci karena pernah menyelamatkan satu pulau dari kelaparan -ia melakukannya dengan mengubah air laut menjadi air yang bisa diminum-. Di salah satu kuil bahkan ada citra Buddha yang berwajah banyak dan bertangan banyak -yang mengingatkan saya justru pada dewa-dewi Hindu-. Pada titik ini tentu saja terjadi semacam akulturasi antara Hindu dan Buddha. Karena sepengetahuan saya, Buddha sebagai sebuah ajaran, ia tidak mempunyai Tuhan secara personifikatif, apalagi jika harus divisualisasikan. 

Atas kesewengang-wenangan akulturasi ini, yang melibatkan imajinasi manusia begitu semena-mena, responnya beragam. Orang skeptik akan menganggap: karena agama itu tidak lebih daripada ciptaan manusia, maka citra Tuhannya pun tidak stabil. Ia disesuaikan dengan kepentingan dan lebih parahnya lagi, keinginan-keinginan estetik yang permukaan. Namun tengok sisi lain yang mungkin saja berseberangan: bukankah dengan demikian, agama memberikan inspirasi besar bagi seni? Jika tidak atas dorongan kerohanian, mungkin entah seperti apa wajah dunia ini tanpa musik Bach, lukisan Michaelangelo di Sistine Chapel, Piramida di Giza, atau bangunan megah Masjidil Haram di Makkah. Suka tidak suka, agama -yang disokong kekuasaan tentunya- punya kontribusi dalam menciptakan imej-imej yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dalam sejarah kebudayaan Thailand -atau dulu disebut dengan Siam-, citra Buddha ini selain digunakan untuk ritual, juga "terlibat" dalam perang antara Siam dan Burma. Ada satu kejadian yang diceritakan dalam sebuah tulisan di kuil, bahwa pernah terjadi satu perjanjian perdamaian antara Raja Siam dan Raja Burma, dengan Buddha sebagai saksinya. Artinya, pencitraan Tuhan di bumi ini begitu sentral dalam bagaimana membuat manusia betul-betul menyadari "ada Tuhan". Untuk menimbulkan kesadaran ini, tentu saja seni itu sendiri harus adiluhung -dalam arti, misalnya secara ukuran ia besar, terbuat dari bahan-bahan yang "mulia" seperti emas, atau setidaknya dikerjakan secara tekun sehingga seolah-olah tak mungkin manusia biasa bisa membuatnya-. Pada masa itu, barangkali belum ada isu seni seperti halnya seni modern yang begitu sibuk mendikotomi bahwa seni tinggi haruslah sebentuk karya yang tidak bisa direproduksi. Namun seni yang diproduksi atas motivasi agama, ia tidak memusingkan identitas individu semacam ini. Sang seniman sudah lebur bersama kepentingan-kepentingan ilahiah sehingga tak ada satupun yang kita ketahui siapa gerangan para pembuat patung Buddha spektakuler itu. Satu hal yang kita ketahui adalah: sudah barang tentu patung-patung tersebut adalah ekspresi keagamaan yang kental.

Satu hal lagi tentang ekspresi Tuhan yang turun ke bumi adalah wajah manusia. Dengan ia berwajah, ia bisa melihat, mendengar dan mengecap -bahkan jikapun matanya terpejam seperti Sang Buddha-. Wajah selalu menjadi isu yang didengungkan Emmanuel Levinas sebagai kontak antara diri dengan dunia luar. Novel berjudul The Face of Another karya Kobo Abe menunjukkan bahwa seorang profesor yang paling dihormati sekalipun, menjadi diperlakukan berbeda oleh sekitarnya ketika wajahnya hilang. Si istri sendiri bahkan menolak berhubungan seks dengannya. Ini isu menarik karena bukan lagi sekadar bahasa yang menjadi jembatan manusia dengan lingkungan, melainkan lebih tajam lagi: wajah. Artinya, Tuhan yang turun ke dunia, alangkah ia lebih berperan, sepertinya, jika mempunyai wajah.

Tuhan yang "ada", yang eksis dalam pencitraan visual, memang kerapkali mendapatkan kritik. Keberadaannya yang tak lebih dari sekadar "benda mati yang dibentuk", membuat orang semakin tak yakin bahwa Tuhan ada dalam dirinya sendiri -ia mungkin ada dalam benak manusia dan dieksternalisasikan dalam karya seni-. Namun ada suatu kecenderungan yang dapat diamati dalam diri manusia, bahwa perasaan fascinatum et tremendum kerap hadir ketika Tuhan "ada", mengeksternalisasikan dirinya lewat seni-seni yang adiluhung. Ketika perasaan agung itu tumbuh dalam dirinya, Tuhan yang "ada" itu tidak lagi dianggap sekadar semata-mata ciptaan manusia. Sosok patung itu hilang -eksistensinya tidak penting lagi-, dan manusia menyentuh suatu keilahian hakiki dalam dirinya. Itu sebabnya Pidi Baiq berkata, "Kita berdoa bukan menyembah Ka'bah, melainkan menghadap Ka'bah." Simbol tetap diperlukan sebagai suatu arah yang secara hakiki dibutuhkan manusia agar dirinya seimbang dan seleras. Setelah tahap permukaan ini selesai, sisanya tinggal transendensi. Pada titik itu, seni dan agama tak punya beda.

Previous Post
Next Post

5 comments:

  1. Edannnn... Mantaps..
    Kata Tuhan itu sendiri adalah Hantu yang menjebak..
    :-)

    ReplyDelete
  2. Asyik...nemu Baru nih, makasih bang,
    menarik...

    ReplyDelete
  3. permisi sebelumnya, ingin sedikit bertanya nih ke yang lebih berpengalaman :)
    Tapi sebelumnya saya ingin bercerita. Dimulai saat saya sedang presentasi dimata kuliah antropologi di kampus saya. Kebetulan saat itu pokok bahasan saya seni. Saya diajui pertanyaan "seni itu indah, agama juga indah, adakah kaitan diantara keduanya ?" Pertanyaan itu membuat saya bingung setengah mati dan membuat saya penasaran. Sedikit terlintas dibenak saya bahwa : seni dan agama adalah yang sangat berbeda dan tak berkaitan sama sekali. Hal itu saya dasari pada definisi seni dan agama itu sendiri yang 100% berbeda. Dan juga bahwa seni itu tidak lahir dari agama, dan agama tidak lahir dari seni. Jadi menurut saya, keduanya adalah objek yang berdiri sendiri dan tak memiliki ikatan apapun.

    yang ingin saya tanyakan, apakah pernyataan saya tersebut benar ?
    atau adakah sumber lain yang membuktikan bahwa agama dan seni memiliki kaitan karena berasal dari "satu akar" ?
    mohon bantuannya kang syarif ..
    buat dasar presentasi lagi minggu dpn sekalian lanjutin jawab pertanyaannya :)
    kalo salah jangan dipedesin ya kang hehee

    ReplyDelete