Friday, January 25, 2013

Masalah Estetika

Dalam suatu kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan -ketika diminta mengajar estetika mendampingi dosen senior Zainal Abidin di jurusan psikologi-, saya mendapati sejumlah mahasiswa merumuskan sebuah kesimpulan: Estetika itu subjektif.

Meski argumen mahasiswa-mahasiswa jurusan psikologi itu masuk akal, namun Kang Zainal merasa tidak puas. Ia kembali mencoba memancing: Apakah tidak ada sedikitpun objektivitas dalam keindahan? Apakah keindahan itu harus melulu relatif tergantung selera? Apakah ada keindahan yang lepas dari konteks ruang dan waktu? Terus menerus ia melontarkan pertanyaan ala Sokrates tersebut demi membidani kesadaran mandiri dari mahasiswanya. Terus terang, meski saya meyakini bahwa estetika tak mungkin subjektif semata, saya tidak bisa memberikan argumen yang tepat tentang keobjektifan estetika.

Argumen para mahasiswa ini memang meyakinkan. Pertama-tama, mereka menunjukkan sejumlah karya seni mulai dari karya Picasso, Duchamp hingga Renoir, kemudian meminta apresiasi mahasiswa lainnya. Tentu saja sebagian besar diantaranya sulit mengatakan bahwa itu bagus. Namun di sisi lain, ditunjukkan juga fakta bahwa lukisan tersebut bernilai hingga jutaan dollar. Artinya, keindahan itu subjektif kan? Lalu sekarang aspek kecantikan menjadi pembahasan. Diperlihatkan foto sejumlah perempuan multiras dan memang yang cantik adalah relatif bagi masing-masing bangsa. Bahkan, media seolah mempunyai otoritas dalam menentukan bagaimana cantik seharusnya. Di Amerika misalnya, pernah yang cantik itu yang bertubuh "penuh", pernah juga yang cantik adalah yang kurus dan bahkan seperti pesakitan (sering disebut juga heroin chic). Argumen mereka yang meyakinkan membawa pada kesimpulan yang juga sejalan: Keindahan itu subjektif kan?

Kang Zainal mendelik pada saya, dan akhirnya memercayakan saya untuk menerangkan. Katanya, "Silakan, Syarif, berikan pandanganmu." Terus terang saya tidak ingat pada akhirnya apa yang saya sendiri paparkan di kejadian sekitar tiga bulan lalu tersebut. Saya juga lupa apakah jawaban saya itu memuaskan atau tidak. Namun semenjak kejadian tersebut, saya terus-menerus merenungkan jawaban yang dikiranya memuaskan setidaknya untuk diri sendiri. Inilah dia poin-poin renungan saya tentang estetika, yang sudah pasti jawabannya masih sementara karena pikiran yang akan terus berkembang seiring juga dengan pengalaman:


  • Pertama, kita harus kembali pada Kant. Ia mengatakan bahwa keindahan yang hakiki, atau "lebih di atas", adalah keindahan yang tidak punya fungsi praktis. Kant menyebutnya dengan disinterestedness, atau keindahan nir-kepentingan. Mas Heru Hikayat pernah memberi contoh pada proyektor, "Jika proyektor ini kita mengingat fungsinya, maka keindahan itu menjadi tidak murni. Tapi coba lepaskan nilai-nilai praktisnya, maka proyektor ini bisa kita sebut sebagai karya seni." Artinya, jika kita ambil contoh musik, maka ada musik yang memang ditujukan untuk mencari uang dan popularitas. Tapi ada juga yang menujukan musik untuk idealisme semata, untuk apa yang disebut Mas Heru sebagai "pencapaian artistik", atau dalam kredo seni rupa barat disebut dengan art for art itself. Kita bisa ambil contoh musik John Cage atau Philip Glass di jajaran musik yang tak berkepentingan ini. Meskipun kita juga tahu bahwa Philip Glass ia juga membuat album yang sekiranya lebih punya nilai praktis. Philip Glass juga mengomposisi music scoring untuk sejumlah film diantaranya yang paling terkenal adalah The Truman Show. Artinya, berdasarkan fungsi praktisnya, dalam perspektif Kant, tetap ada yang tinggi dan ada yang rendah.
  • Kedua, -ini agak berbau metafisik- sebagaimana halnya apa yang dikatakan oleh Sudjojono, bahwa seni adalah jiwa kethok. Setiap yang indah-indah, di dalamnya juga tertanam jiwa penciptanya. Saya pribadi bisa merasakan suatu watak arogan Andrea Hirata ketika membaca novelnya yang berjudul Dwilogi Padang Bulan, meski di dalamnya terkandung pesan moral yang baik dengan warna tulisan yang dibuat agar rendah hati. Saya pribadi bisa merasakan suatu kegalauan hebat dalam novel Yukio Mishima yang berjudul Kuil Kencana, meski ceritanya sederhana. Paparan ini tentu saja tidak bisa diobjektivikasi. Namun mereka yang sering mengapresiasi karya seni akan dengan cepat mengetahui mana karya yang dibuat "dengan jiwa" atau "tanpa jiwa", mana yang dibuat dengan jujur dan mana yang palsu.
  • Ketiga, dalam setiap pencapaian artistik, dalam segala hal, dibutuhkan suatu proses teknis mendasar. Proses teknis itu diperlukan sebagai kendaraan agar ekspresi bisa ditumpahkan sesuka hati. Kata Kang Ammy, violinis, "Pikiran kita selalu berkembang, inspirasi kita selalu bertambah setiap hari. Maka itu teknik harus ditingkatkan terus menerus agar sejalan dengan apa yang ingin kita ekspresikan." Proses teknis ini, minimal secara motorik, agaknya berlaku universal. Agaknya, sebelum berbicara keindahan, pelaku setidaknya mesti melewati suatu standar kemampuan motorik tertentu yang diperoleh lewat latihan dan disiplin tertentu pula. Maka itu saya ingat pernah bertanya pada mahasiswa-mahasiswa psikologi tersebut, "Apakah jika seorang Indra Lesmana kita suruh memainkan suatu karya secara asal-asalan, apakah betul ia akan melakukannya dengan asal-asalan? Bayangkan jika seseorang yang tidak menguasai ilmu bermain piano diminta bermain asal-asalan, pasti ia akan betul-betul asal-asalan."  Artinya, seseorang dengan penguasaan teknik tertentu, akan menciptakan pola bermain tertentu pula. Ketika ia menciptakan satu karya sederhana atau kompleks, pola-polanya akan tetap terlihat, karakteristiknya tetap akan kental. Maka itu kita tetap akan merasakan suatu perbedaan antara musik pop dari The Beatles dan musik pop dari Backstreet Boys meski barangkali nama terakhir membubuhkan suatu progresi akor yang lebih kompleks. Karya Jackson Pollock yang seperti muncratan-muncratan cat anak kecil, tetap berbeda jika orang awam melakukannya dengan teknik yang mirip-mirip. Seorang Lionel Messi diminta pura-pura bodoh dalam suatu pertandingan, tetap ia akan menunjukkan kegemulaian estetis dalam mendribel bola meski ia bertindak palsu. Ada kejujuran yang tak terbantahkan dari seseorang yang mahir secara teknis.
Poin-poin permenungan ini tentu saja jauh dari lengkap. Permasalahan subjektif-objektif ini sudah isu lama yang juga menyerang etika, logika, hingga epistemologi. Saya bisa mengatakan bahwa kesemuanya itu mengandung ketidakstabilan tergantung perspektif orangnya. Namun saya juga meyakini bahwa ada yang absolut, ada yang tak terbantahkan, ada yang objektif, dan ada yang "benar" dari unsur-unsur tersebut. Perjalanan pencarian ini tidak akan pernah sederhana, dan tidak akan pernah final. Bisa juga upaya saya untuk mengobjektifkan estetika ini adalah semacam arogansi dari seseorang yang belajar musik klasik cukup lama sehingga ogah disejajarkan dengan musik dari Kangen Band yang dibuat tanpa jiwa, tanpa teknik, dan penuh kepentingan. Seperti kata Mas Heru, "Selalu ada orang-orang serius yang menolak dirinya disamakan dengan seni-seni yang dianggap rendah dan palsu. Dikotomi akan selalu ada, strata dalam estetika akan selalu niscaya."

Previous Post
Next Post

0 comments: