Jumat, 25 Januari 2013

Masalah Estetika

Masalah Estetika
Dalam suatu kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan -ketika diminta mengajar estetika mendampingi dosen senior Zainal Abidin di jurusan psikologi-, saya mendapati sejumlah mahasiswa merumuskan sebuah kesimpulan: Estetika itu subjektif.

Meski argumen mahasiswa-mahasiswa jurusan psikologi itu masuk akal, namun Kang Zainal merasa tidak puas. Ia kembali mencoba memancing: Apakah tidak ada sedikitpun objektivitas dalam keindahan? Apakah keindahan itu harus melulu relatif tergantung selera? Apakah ada keindahan yang lepas dari konteks ruang dan waktu? Terus menerus ia melontarkan pertanyaan ala Sokrates tersebut demi membidani kesadaran mandiri dari mahasiswanya. Terus terang, meski saya meyakini bahwa estetika tak mungkin subjektif semata, saya tidak bisa memberikan argumen yang tepat tentang keobjektifan estetika.

Argumen para mahasiswa ini memang meyakinkan. Pertama-tama, mereka menunjukkan sejumlah karya seni mulai dari karya Picasso, Duchamp hingga Renoir, kemudian meminta apresiasi mahasiswa lainnya. Tentu saja sebagian besar diantaranya sulit mengatakan bahwa itu bagus. Namun di sisi lain, ditunjukkan juga fakta bahwa lukisan tersebut bernilai hingga jutaan dollar. Artinya, keindahan itu subjektif kan? Lalu sekarang aspek kecantikan menjadi pembahasan. Diperlihatkan foto sejumlah perempuan multiras dan memang yang cantik adalah relatif bagi masing-masing bangsa. Bahkan, media seolah mempunyai otoritas dalam menentukan bagaimana cantik seharusnya. Di Amerika misalnya, pernah yang cantik itu yang bertubuh "penuh", pernah juga yang cantik adalah yang kurus dan bahkan seperti pesakitan (sering disebut juga heroin chic). Argumen mereka yang meyakinkan membawa pada kesimpulan yang juga sejalan: Keindahan itu subjektif kan?

Kang Zainal mendelik pada saya, dan akhirnya memercayakan saya untuk menerangkan. Katanya, "Silakan, Syarif, berikan pandanganmu." Terus terang saya tidak ingat pada akhirnya apa yang saya sendiri paparkan di kejadian sekitar tiga bulan lalu tersebut. Saya juga lupa apakah jawaban saya itu memuaskan atau tidak. Namun semenjak kejadian tersebut, saya terus-menerus merenungkan jawaban yang dikiranya memuaskan setidaknya untuk diri sendiri. Inilah dia poin-poin renungan saya tentang estetika, yang sudah pasti jawabannya masih sementara karena pikiran yang akan terus berkembang seiring juga dengan pengalaman:


  • Pertama, kita harus kembali pada Kant. Ia mengatakan bahwa keindahan yang hakiki, atau "lebih di atas", adalah keindahan yang tidak punya fungsi praktis. Kant menyebutnya dengan disinterestedness, atau keindahan nir-kepentingan. Mas Heru Hikayat pernah memberi contoh pada proyektor, "Jika proyektor ini kita mengingat fungsinya, maka keindahan itu menjadi tidak murni. Tapi coba lepaskan nilai-nilai praktisnya, maka proyektor ini bisa kita sebut sebagai karya seni." Artinya, jika kita ambil contoh musik, maka ada musik yang memang ditujukan untuk mencari uang dan popularitas. Tapi ada juga yang menujukan musik untuk idealisme semata, untuk apa yang disebut Mas Heru sebagai "pencapaian artistik", atau dalam kredo seni rupa barat disebut dengan art for art itself. Kita bisa ambil contoh musik John Cage atau Philip Glass di jajaran musik yang tak berkepentingan ini. Meskipun kita juga tahu bahwa Philip Glass ia juga membuat album yang sekiranya lebih punya nilai praktis. Philip Glass juga mengomposisi music scoring untuk sejumlah film diantaranya yang paling terkenal adalah The Truman Show. Artinya, berdasarkan fungsi praktisnya, dalam perspektif Kant, tetap ada yang tinggi dan ada yang rendah.
  • Kedua, -ini agak berbau metafisik- sebagaimana halnya apa yang dikatakan oleh Sudjojono, bahwa seni adalah jiwa kethok. Setiap yang indah-indah, di dalamnya juga tertanam jiwa penciptanya. Saya pribadi bisa merasakan suatu watak arogan Andrea Hirata ketika membaca novelnya yang berjudul Dwilogi Padang Bulan, meski di dalamnya terkandung pesan moral yang baik dengan warna tulisan yang dibuat agar rendah hati. Saya pribadi bisa merasakan suatu kegalauan hebat dalam novel Yukio Mishima yang berjudul Kuil Kencana, meski ceritanya sederhana. Paparan ini tentu saja tidak bisa diobjektivikasi. Namun mereka yang sering mengapresiasi karya seni akan dengan cepat mengetahui mana karya yang dibuat "dengan jiwa" atau "tanpa jiwa", mana yang dibuat dengan jujur dan mana yang palsu.
  • Ketiga, dalam setiap pencapaian artistik, dalam segala hal, dibutuhkan suatu proses teknis mendasar. Proses teknis itu diperlukan sebagai kendaraan agar ekspresi bisa ditumpahkan sesuka hati. Kata Kang Ammy, violinis, "Pikiran kita selalu berkembang, inspirasi kita selalu bertambah setiap hari. Maka itu teknik harus ditingkatkan terus menerus agar sejalan dengan apa yang ingin kita ekspresikan." Proses teknis ini, minimal secara motorik, agaknya berlaku universal. Agaknya, sebelum berbicara keindahan, pelaku setidaknya mesti melewati suatu standar kemampuan motorik tertentu yang diperoleh lewat latihan dan disiplin tertentu pula. Maka itu saya ingat pernah bertanya pada mahasiswa-mahasiswa psikologi tersebut, "Apakah jika seorang Indra Lesmana kita suruh memainkan suatu karya secara asal-asalan, apakah betul ia akan melakukannya dengan asal-asalan? Bayangkan jika seseorang yang tidak menguasai ilmu bermain piano diminta bermain asal-asalan, pasti ia akan betul-betul asal-asalan."  Artinya, seseorang dengan penguasaan teknik tertentu, akan menciptakan pola bermain tertentu pula. Ketika ia menciptakan satu karya sederhana atau kompleks, pola-polanya akan tetap terlihat, karakteristiknya tetap akan kental. Maka itu kita tetap akan merasakan suatu perbedaan antara musik pop dari The Beatles dan musik pop dari Backstreet Boys meski barangkali nama terakhir membubuhkan suatu progresi akor yang lebih kompleks. Karya Jackson Pollock yang seperti muncratan-muncratan cat anak kecil, tetap berbeda jika orang awam melakukannya dengan teknik yang mirip-mirip. Seorang Lionel Messi diminta pura-pura bodoh dalam suatu pertandingan, tetap ia akan menunjukkan kegemulaian estetis dalam mendribel bola meski ia bertindak palsu. Ada kejujuran yang tak terbantahkan dari seseorang yang mahir secara teknis.
Poin-poin permenungan ini tentu saja jauh dari lengkap. Permasalahan subjektif-objektif ini sudah isu lama yang juga menyerang etika, logika, hingga epistemologi. Saya bisa mengatakan bahwa kesemuanya itu mengandung ketidakstabilan tergantung perspektif orangnya. Namun saya juga meyakini bahwa ada yang absolut, ada yang tak terbantahkan, ada yang objektif, dan ada yang "benar" dari unsur-unsur tersebut. Perjalanan pencarian ini tidak akan pernah sederhana, dan tidak akan pernah final. Bisa juga upaya saya untuk mengobjektifkan estetika ini adalah semacam arogansi dari seseorang yang belajar musik klasik cukup lama sehingga ogah disejajarkan dengan musik dari Kangen Band yang dibuat tanpa jiwa, tanpa teknik, dan penuh kepentingan. Seperti kata Mas Heru, "Selalu ada orang-orang serius yang menolak dirinya disamakan dengan seni-seni yang dianggap rendah dan palsu. Dikotomi akan selalu ada, strata dalam estetika akan selalu niscaya."

Continue reading

Kamis, 24 Januari 2013

Hegel

Hegel
"Nalar adalah cara alam untuk melakukan kritik diri." 
-Sir Muhammad Iqbal

Kalimat di atas sungguh membingungkan saya hingga bertahun-tahun lamanya. Namun pelan-pelan misteri ini terkuak setelah mengetahui pengaruh filsuf Jerman era romantik, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang cukup kental terhadap pemikiran-pemikiran Iqbal. Atas dasar kepenasaranan yang menahun tersebut, saya akhirnya memaksakan diri mempelajari pemikiran-pemikiran Hegel. Kenapa harus mengatakan terpaksa? Harus diakui, pemikiran Hegel dipaparkan dengan cara yang begitu rumit. Tulisannya termasuk yang paling susah dipahami. Saya pun pada akhirnya (merasa) memahami Hegel lebih banyak melalui kejadian-kejadian sekitar.

Sebelum masuk ke tagline Iqbal di atas, mari renungkan terlebih dahulu: Dari mana asal kesadaran kita? Maksudnya, dari mana kita berpikir bahwa dunia hari ini sudah sedemikian kacau sehingga membutuhkan perubahan? Ketika seorang tiran membungkam mulut rakyat sehingga tidak ada lagi celah, apakah betul-betul kesadaran itu juga ikut terbungkam? Atau, contoh lebih konkrit, ketika saya ngobrol santai dengan Mbak Utet di Jalan Progo, ia berujar, "Aneh ya, sekarang orang-orang lebih seneng dengan nama yang ke-Arab-Arab-an ketimbang nama yang Indonesia." Apakah sesederhana bahwa kasus demikian bisa dijawab dengan gerak media? Sebelum media membabibuta seperti sekarang ini, bukankah sudah sejak dahulu orang mengalami dinamika kesadaran akan sesuatu di luar dirinya: tentang keluarga, masyarakat, negara, bangsa, hingga semesta?

Hegel punya tesis menarik. Ia mengatakan bahwa semesta lah yang menggerakan kita. Semesta sedang berevolusi, berkembang terus menerus, mencapai kesadaran lebih tinggi, lewat pergerakan manusia. Jadi doktrin tentang kehendak bebas manusia ditolak Hegel dengan mengatakan bahwa perubahan manusia sudah sedemikian niscaya sebagai konsekuensi dari berkembangnya kesadaran semesta. Marx menentang tesisnya ini dengan mengatakan bahwa harusnya manusia justru yang menjadi agen perubahan semesta -ia betul-betul membalikannya dengan istilah "materialisme dialektik"-.

Mari mengambil contoh lebih konkrit. Bagaimana kita melihat posisi Renaisans dalam sejarah kebudayaan Barat? Tentu saja, ia merupakan suatu respon terhadap gereja yang otoriter di Abad Pertengahan. Renaisans merespon hal tersebut dengan label "merayakan manusia" -sering disebut perubahan dari teosentris ke antroposentris-. Kemudian Renaisans mendapat respon kembali dari Periode Barok yang mencoba pelan-pelan mengembalikan wibawa agama. Kesadaran kembali bergolak lewat Periode Klasik atau sering juga disebut dengan pencerahan (aufklarung) yang memutar roda kesadaran kembali ke perayaan humanistik. Begitu seterusnya saling memukul, menentang, menginjak, dan entah hingga kapan mencapai finalitas.

Pertanyaan berikutnya, apakah pantas kita menuding Abad Pertengahan sebagai suatu "aib" bagi masyarakat Eropa? Bahkan istilah "Abad Pertengahan" itu sendiri konon merupakan sindiran, karena berada di tengah antara dua masa gemilang Eropa yaitu Klasik (Antiquty) dan Modern. Dalam khazanah filsafat, Abad Pertengahan juga sering dituduh sebagai "ladang pemikiran dimana orang menggaruk tidak pada tempatnya". Lantas, jika kita termasuk orang yang mengagungkan Renaisans, pikirkan kembali: Akankah ada Renaisans, tanpa ada Abad Pertengahan? Akankah ada peradaban Modern, tanpa Abad Pertengahan? Tidakkah ini adalah suatu evolusi mahabesar, yang menempatkan manusia bagaikan buih di tengah lautan. Kita bisa saja menyebutnya sebagai evolusi yang disebabkan oleh teknologi, ideologi, kekuasaan, atau apapun. Tapi Hegel "menyerah" pada hal-hal yang tampak dan material semacam itu. Ia memilih untuk bersandar pada "yang absolut", pada "yang mutlak". Maka itu ia menyebutnya semacam Evolusi Semesta: Suatu perkembangan kesadaran "yang mutlak" yang diperoleh dari dialektika peradaban manusia.

Tentu saja pemikiran Hegel ini tidak lepas dari kritik. Misalnya: Hegel menganggap sejarah adalah terlalu linear. Seolah-olah Renaisans adalah semata-mata antitesis dari Abad Pertengahan. Padahal Renaisans juga dipicu dari penemuan-penemuan teknologi seperti kompas, mesin cetak, dan mesiu. Kritik kedua: Jika semesta berevolusi melalui kesadaran manusia, apakah manusia masih berkehendak bebas? Karena ternyata, bagi Hegel, manusia ini sekadar "wayang-wayang" bagi semesta untuk berkembang. Kritik ketiga: Hegel optimis bahwa Evolusi Semesta mempunyai tujuan. Tujuannya, dengan arogan ia gamblang mengungkapkan, ujungnya ada di Prussia. Evolusi Semesta yang bertujuan ini menciptakan satu optimisme tersendiri. Namun ia juga punya kelemahan, seolah-olah manusia semakin kemari semakin beradab dan rasional. Padahal tidak selalu demikian halnya.

Terakhir, mari kita kembali pada tagline Iqbal dan obrolan saya dengan Mbak Utet. Iqbal mengatakan bahwa nalar adalah cara alam untuk kritik diri. Tentu saja ini sejalan dengan konsep Hegelian bahwa memang, alam selalu lebih atas, ia justru membawahi manusia. Apa yang kita anggap sebagai pemikiran sendiri, sesungguhnya berasal dari alam semesta yang ingin memperbaharui dirinya. Lantas Mbak Utet mengatakan tentang nama anak-anak hari ini yang ke-Arab-Arab-an. Jika mempercayai konsep Hegel, maka percayalah bahwa kelak hegemoni ke-Arab-Arab-an ini akan runtuh jua ketika orang-orang mulai bosan. 

Continue reading

Sabtu, 19 Januari 2013

Seni dan Agama

Seni dan Agama
Entah sejak era apa, kita akhirnya menemukan suatu dikotomi ketat antara seni, agama, sains, dan filsafat -biasa disebut empat pilar peradaban-. Keempatnya berpisah, ditekuni masing-masing, dan tidak jarang saling bertentangan. Saya mencurigai pemilahan ini adalah kerjaan para akademisi, tapi tak perlu kita bahas jauh-jauh pertentangan keempatnya.

Seni dan agama, makin hari makin menunjukkan tabiat bermusuhan. Seni bahkan sering didaulat sebagai agama baru. Dalam arti, ia sama-sama mengandung denyut spiritualitas. Seorang seniman mungkin pada taraf tertentu ia mengenali gejolak dalam dirinya seperti kerinduan transendental terhadap hal besar di luar sana. Hal ini tentu saja mirip dengan tema spiritualitas dalam agama-agama. Bahkan ada kecenderungan, seni melakukannya secara lebih jujur dan pribadi. Ini sekaligus semacam kritik terhadap agama yang spiritualitasnya cenderung beramai-ramai. Problem dari beramai-ramai adalah: Apakah itu sungguh spiritualitas, atau cuma histeria massal?


Namun pernah ada masa ketika seni dan agama punya hubungan amat mesra. Seni mengakomodasi keinginan agama untuk "menurunkan Tuhan ke dunia", menjadikan ia dapat dicerap indra, sehingga memenuhi hasrat manusia yang selalu rindu rupa dan rasa. Contoh semacam ini tentu saja berlimpah ada di kebudayaan Indo-Eropa. Kebudayaan Yunani Kuno misanya, mereka menciptakan citra dewa-dewi oleh sebab suatu kepercayaan bahwa "kita bisa paham sesuatu yang tidak kelihatan, lewat yang kelihatan". Kebudayaan Mesir dan Hindu pun melakukan hal yang sama. Yang berbeda barangkali adalah kebudayaan Semit yang mencium bahwa upaya "membumikan Tuhan lewat seni" adalah berbahaya karena pertama: Tuhan  jauh melampaui imajinasi manusia, kedua: upaya pembumian ini berbahaya karena manusia bisa menyembah mediumnya alih-alih objek sebenarnya. Namun tentu saja, agama Kristen lolos dari "aturan Semitis" ini karena persentuhannya dengan Yunani.

Kaitan antara seni dan agama ini saya renungkan setelah mengunjungi sejumlah kuil Buddha di propinsi Ayuttaya, Thailand. Di setiap kuilnya, citra Buddha bertebaran dimana-mana. Ada satu citra lagi yang menarik, yaitu seorang bhiksu yang diyakini sebagai orang suci karena pernah menyelamatkan satu pulau dari kelaparan -ia melakukannya dengan mengubah air laut menjadi air yang bisa diminum-. Di salah satu kuil bahkan ada citra Buddha yang berwajah banyak dan bertangan banyak -yang mengingatkan saya justru pada dewa-dewi Hindu-. Pada titik ini tentu saja terjadi semacam akulturasi antara Hindu dan Buddha. Karena sepengetahuan saya, Buddha sebagai sebuah ajaran, ia tidak mempunyai Tuhan secara personifikatif, apalagi jika harus divisualisasikan. 

Atas kesewengang-wenangan akulturasi ini, yang melibatkan imajinasi manusia begitu semena-mena, responnya beragam. Orang skeptik akan menganggap: karena agama itu tidak lebih daripada ciptaan manusia, maka citra Tuhannya pun tidak stabil. Ia disesuaikan dengan kepentingan dan lebih parahnya lagi, keinginan-keinginan estetik yang permukaan. Namun tengok sisi lain yang mungkin saja berseberangan: bukankah dengan demikian, agama memberikan inspirasi besar bagi seni? Jika tidak atas dorongan kerohanian, mungkin entah seperti apa wajah dunia ini tanpa musik Bach, lukisan Michaelangelo di Sistine Chapel, Piramida di Giza, atau bangunan megah Masjidil Haram di Makkah. Suka tidak suka, agama -yang disokong kekuasaan tentunya- punya kontribusi dalam menciptakan imej-imej yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dalam sejarah kebudayaan Thailand -atau dulu disebut dengan Siam-, citra Buddha ini selain digunakan untuk ritual, juga "terlibat" dalam perang antara Siam dan Burma. Ada satu kejadian yang diceritakan dalam sebuah tulisan di kuil, bahwa pernah terjadi satu perjanjian perdamaian antara Raja Siam dan Raja Burma, dengan Buddha sebagai saksinya. Artinya, pencitraan Tuhan di bumi ini begitu sentral dalam bagaimana membuat manusia betul-betul menyadari "ada Tuhan". Untuk menimbulkan kesadaran ini, tentu saja seni itu sendiri harus adiluhung -dalam arti, misalnya secara ukuran ia besar, terbuat dari bahan-bahan yang "mulia" seperti emas, atau setidaknya dikerjakan secara tekun sehingga seolah-olah tak mungkin manusia biasa bisa membuatnya-. Pada masa itu, barangkali belum ada isu seni seperti halnya seni modern yang begitu sibuk mendikotomi bahwa seni tinggi haruslah sebentuk karya yang tidak bisa direproduksi. Namun seni yang diproduksi atas motivasi agama, ia tidak memusingkan identitas individu semacam ini. Sang seniman sudah lebur bersama kepentingan-kepentingan ilahiah sehingga tak ada satupun yang kita ketahui siapa gerangan para pembuat patung Buddha spektakuler itu. Satu hal yang kita ketahui adalah: sudah barang tentu patung-patung tersebut adalah ekspresi keagamaan yang kental.

Satu hal lagi tentang ekspresi Tuhan yang turun ke bumi adalah wajah manusia. Dengan ia berwajah, ia bisa melihat, mendengar dan mengecap -bahkan jikapun matanya terpejam seperti Sang Buddha-. Wajah selalu menjadi isu yang didengungkan Emmanuel Levinas sebagai kontak antara diri dengan dunia luar. Novel berjudul The Face of Another karya Kobo Abe menunjukkan bahwa seorang profesor yang paling dihormati sekalipun, menjadi diperlakukan berbeda oleh sekitarnya ketika wajahnya hilang. Si istri sendiri bahkan menolak berhubungan seks dengannya. Ini isu menarik karena bukan lagi sekadar bahasa yang menjadi jembatan manusia dengan lingkungan, melainkan lebih tajam lagi: wajah. Artinya, Tuhan yang turun ke dunia, alangkah ia lebih berperan, sepertinya, jika mempunyai wajah.

Tuhan yang "ada", yang eksis dalam pencitraan visual, memang kerapkali mendapatkan kritik. Keberadaannya yang tak lebih dari sekadar "benda mati yang dibentuk", membuat orang semakin tak yakin bahwa Tuhan ada dalam dirinya sendiri -ia mungkin ada dalam benak manusia dan dieksternalisasikan dalam karya seni-. Namun ada suatu kecenderungan yang dapat diamati dalam diri manusia, bahwa perasaan fascinatum et tremendum kerap hadir ketika Tuhan "ada", mengeksternalisasikan dirinya lewat seni-seni yang adiluhung. Ketika perasaan agung itu tumbuh dalam dirinya, Tuhan yang "ada" itu tidak lagi dianggap sekadar semata-mata ciptaan manusia. Sosok patung itu hilang -eksistensinya tidak penting lagi-, dan manusia menyentuh suatu keilahian hakiki dalam dirinya. Itu sebabnya Pidi Baiq berkata, "Kita berdoa bukan menyembah Ka'bah, melainkan menghadap Ka'bah." Simbol tetap diperlukan sebagai suatu arah yang secara hakiki dibutuhkan manusia agar dirinya seimbang dan seleras. Setelah tahap permukaan ini selesai, sisanya tinggal transendensi. Pada titik itu, seni dan agama tak punya beda.

Continue reading

Rabu, 09 Januari 2013

Burnt by The Sun (1994): Intrik Politik di Tengah Kehangatan Keluarga

Burnt by The Sun (1994): Intrik Politik di Tengah Kehangatan Keluarga

Jumat minggu lalu saya menonton film yang cukup berkesan di sebuah forum di Garasi10. Film tersebut berasal dari Rusia. Judulnya Burnt by The Sun atau dalam bahasa aslinya:  Utomlyonnye Solntsem. Film yang disutradarai oleh Nikita Mikhalkov tersebut meraih Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 1994. 

Film ini awalnya sulit untuk diketahui arahnya kemana. Tidak terlihat semacam tokoh protagonis dan antagonis seperti umumnya film -yang langsung mengajak penonton untuk bersimpati ke tokoh tertentu-. Nyaris sembilan puluh menit pertama dari total film dua jam setengah ini dihabiskan untuk menampilkan suasana keluarga besar yang penuh kehangatan -yang tengah berlibur-. Banyak pertanyaan dari saya tentang dimana letak konfliknya. Yang ada hanya bentuk kasih sayang sederhana antara Sergei Petrovich Kotov, Maroussia -istrinya-, Nadia -anaknya-, dan sejumlah saudara-saudaranya seperti Philippe, Vsevolod, Mokhova dan Kirik. 

Kotov (diperankan oleh sang sutradara, Mikhalkov) adalah eks pahlawan perang di era Stalin. Di bagian mula-mula film, ada bagian menarik ketika Kotov diminta penduduk setempat untuk mengusir tentara merah yang hendak membabat ladang gandum milik warga. Kotov kemudian mengandalkan statusnya di masa lalu untuk meyakinkan para tentara tersebut bahwa ia lebih berkuasa. Para tentara paham, ketakutan, dan akhirnya mundur. Mereka kenal betul siapa Kotov, yang notabene pernah dekat dengan sang pemimpin negeri, Yang Mulia Stalin.

Kejanggalan terjadi ketika di tengah-tengah kehangatan keluarga tersebut mendadak bergabung seseorang bernama Mitya (Oleg Menshikov). Mitya punya pembawaan ceria, hangat, dan komikal -Ia juga pandai bermain musik dan mendongeng. Mitya sama sekali tidak sulit untuk merebut hati seisi keluarga Kotov. Terlebih lagi, ia memang pernah ke rumah tersebut. Selidik punya selidik, masa lalu Mitya pernah diwarnai hubungan dengan Maroussia, yang sekarang menjadi istri Kotov. 

Namun justru kehangatan itulah yang menimbulkan kegetiran -ketika mengetahui bahwa Mitya sebetulnya adalah seorang agen polisi rahasia-. Ia mencari Kotov dan hendak mengeksekusinya. Film ini menjadi menarik sekaligus menegangkan karena ditunjukkan dengan cerdas oleh Mikhalkov, bagaimana antara Kotov dan Mitya terjadi perang dingin diantara suasana keluarga yang hangat. Meski keduanya punya latar belakang kekerasan militer yang kental, namun mereka tetap enggan merusak liburan keluarga. 

Film ini, meski awalnya agak membosankan, terutama disebabkan oleh karakteristik sinema Rusia yang kata Pak Awal Uzhara, "Menitikberatkan pada dialog," namun lama-kelamaan saya pribadi tersedot juga ke tempat duduk. Hal ini mulai terjadi ketika pelan-pelan terbuka kedok Mitya, dan atas motif apa ia pura-pura masuk ke keluarga untuk bertindak ceria. Cara pembawaan yang berlama-lama di awal ini justru menjadi berhasil karena pada akhirnya saya membayangkan betul bagaimana rasanya ada intrik tingkat militer di tengah suasana liburan. Mikhalkov sukses membangun suspens bukan lewat ketegangan yang banyak, melainkan justru kegembiraan yang berlimpah. Film ini juga menjadi sangat simbolik ketika beberapa kali ditampilkan foto kebesaran Stalin yang secara kontradiktif disandingkan dengan adegan kekejaman Mitya. Satu lagi, film ini semakin menarik karena alur waktu yang diceritakan hanya terjadi dalam sehari penuh saja. 

Continue reading