Sunday, December 29, 2013

Guru Kecil

Guru Kecil
Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa hidup ini jauh lebih membahagiakan 
Jika kamu tak punya apa-apa
Atau setidaknya hanya punya keinginan-keinginan sederhana saja

Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa kata-kata cinta tidak punya arti sama sekali
Cinta adalah tentang merawat dan membesarkan
Lewat tindakan sekaligus lewat diam

Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa eksistensi manusia itu sungguh menyedihkan
Lahir dan mati keduanya ditopang air mata
Tapi kamu bisa menemukan kebahagiaan kecil yang sanggup menghapus segala duka
Seperti menyaksikan sang bayi belajar mengisap puting ibunda untuk kali pertama
 
Bayiku mengajarkan sesuatu tentang dunia
Bahwa ada perbedaan tipis
Antara menyelamatkan seluruh umat manusia
Dengan mengganti popok ketika dia pipis
Continue reading

Thursday, December 12, 2013

Setengah Kata, Setengah Makna

Setengah Kata, Setengah Makna
Tadi pagi saya iseng membongkar rak buku untuk menemukan bacaan-bacaan yang sekiranya menyejukkan. Kemudian saya menemukan koleksi buku-buku Gibran yang lama, yang salah satunya berjudul Pasir dan Buih. Buku itu tipis sekali hanya 85 halaman dan ukurannya kecil. Isinya adalah semacam aforisme dari Gibran, seorang penyair asal Lebanon kelahiran 1883, tentang segala renungan mengenai kehidupan. Saya membaca kembali satu per satu dengan teliti setelah lama tidak menyentuh buku tersebut. Ternyata iya, ada beberapa aforisme yang dulu tidak saya mengerti sekarang jadi mengerti (tapi yang dimaksud dengan "mengerti" tentu saja dalam batas pemahaman saya hari ini, sepuluh tahun lagi saya baca aforisme tersebut mungkin akan sadar bahwa dahulu itu saya sebenarnya belum mengerti). Saya tuliskan disini contoh salah satunya:

Setengah tuturku tanpa makna;
namun kuucapkan jua, agar setengahnya lagi mencapai dirimu

Untuk mengetahui bagaimana saya bisa "mengerti" aforisme tersebut, pada akhirnya, saya akan kembali ke masa-masa kemarin ketika saya tengah giat menggumuli hakikat bahasa. Saya menggilai bagaimana Nietzsche berkata tentang "penjara bahasa" dalam aforismenya yang terkenal, "Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama namun apa daya terpenjara bahasa." Pada titik itu saya menganggap bahasa adalah problem dalam hubungan antar manusia. Kita dilingkupi oleh kenyataan bahwa bahasa tidak mungkin sanggup merepresentasikan realitas dengan sebenar-benarnya. Ketika segala sesuatu diucap dalam kata, maka segala sesuatu menjadi tidak persis seperti kenyataannya. Untungnya, kehidupan mengijinkan manusia untuk merepresentasikan kenyataan tidak hanya melalui bahasa, tapi juga seni. Seni, dalam pemahaman saya waktu itu, adalah jalan keluar bagi keterbatasan bahasa. Seni adalah penelikungan terhadap rasionalitas yang kaku, sempit, dan kadang arogan.

Namun suatu hari dalam sebuah chatting dengan seorang dosen bernama Bambang Q-Anees, ia menegur ke-euforia-an saya terhadap "matinya bahasa".  Ia bertanya, "Tapi bisakah kita lepas dari bahasa?" Saya lupa apa jawaban saya waktu itu, tapi agaknya saya mengabaikan pertanyaan beliau karena dianggap kurang penting. Pertanyaan yang serupa dengan apa yang dilontarkan oleh Bambang Q-Anees tersebut muncul lagi kemarin-kemarin, di kelas ketika saya mengajar tentang hakikat bahasa di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ada seorang mahasiswa bertanya, "Lantas, kalau tanpa bahasa, dengan apa kita menyampaikan gagasan?" Pada titik itu saya tidak gamblang seperti sebelum-sebelumnya dengan langsung menjawab, "Dengan seni!". Saya sekali lagi tidak menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut secara memuaskan.

Sekarang, setelah membaca aforisme Gibran tersebut, saya sadar akan sesuatu. Bahwa bahasa tetap penting untuk dikemukakan karena pertama, kita tidak punya pilihan. Bahasa adalah satu-satunya jalan sebagaimana saya menyampaikan gagasan tentang "matinya bahasa" juga lewat bahasa. Kedua, Gibran benar, bahwa biarkan bahasa menjadi setengah dari kebenaran, dan setengahnya lagi adalah makna yang kita harus susah payah untuk menemukannya. Seperti halnya kitab suci yang kita kaji, novel yang kita baca, puisi yang kita nikmati, celakalah jika kita menerima kata demi kata yang ditulisnya sebagai representasi dari kebenaran. Kebenaran yang sejati, sebagian lagi, ada pada dirimu. 

Continue reading

Thursday, December 5, 2013

Mencari Mandela di Tengah Dunia yang Reaksioner

Mencari Mandela di Tengah Dunia yang Reaksioner
Di jagad Twitter, ada seseorang dengan nama akun @hafidz_ary yang barangkali bisa menjadi representasi xenophobia kontemporer. Ia menganggap orang di luar dirinya semisal orang non-muslim, orang Barat, orang sekuler, orang liberal, hingga orang yang bukan dari partai PKS, sebagai “orang asing”. Sebagaimana modus seorang xenophobic sejak ribuan tahun silam, ia berusaha rasional dalam melandasi setiap kebenciannya pada yang liyan. Namun dalam diri seorang xenophobic terang saja kerap ada cara berpikir yang sesungguhnya “melompat terlalu jauh”. Misalnya, sebuah kasus korupsi yang melanda partai non-PKS ia anggap sebagai “kegagalan kaum sekuler dalam mengurus negeri”, runtuhnya Presiden Mursi di Mesir ia anggap sebagai “Perang Agama”, dan perjuangan pahlawan Nusantara dalam melawan Belanda ia sebut sebagai “Islam vs Kristen”.

Rasisme sering dianggap sebagai bagian dari xenophobia tapi dalam konteks yang lebih spesifik yakni ras. Namun apa yang dimaksud sebagai “ras” ini juga pada akhirnya tidak terlalu jelas. Ras tidak bisa hanya kita identikkan dengan ciri-ciri fisik, melainkan juga teritori kebudayaan, bahasa, agama, geografis, serta afiliasi sosial. Dikotomi ras ini tidak selalu terberi melainkan ada juga yang dikelompokkan oleh kekuasaan. Berdasarkan definisi yang sedemikian luas cakupannya tersebut, barangkali dalam diri kita juga terdapat potensi rasisme, potensi xenophobic, dan potensi menjadi seorang @hafidz_ary. Sebagai contoh, dalam institusi yang dianggap rasional semisal kampus, tidak jarang mereka ingin mengidentifikasi sebagai yang superior dengan cara membedakan dirinya dengan orang di luar kampus. Caranya misal dengan melakukan dikotomi bahasa. Bahasa kampus selalu berbeda, eksklusif, dan menegaskan ada suatu perbedaan dengan yang liyan

Rasisme bisa jadi merupakan potensi alamiah setiap manusia, tapi juga potensi tersebut dibesar-besarkan oleh argumen rasional yang secara paradoks malah menunjukkan suatu kemalasan berfikir. Dalam buku berjudul Rasisme: Sejarah Singkat karya George M. Frederickson, sejarah rasisme dapat ditarik mula-mula ke antisemitisme di Abad Pertengahan. Pada masa wabah penyakit besar di Eropa, ribuan orang Yahudi dibantai oleh penguasa Kristen karena ada isu yang menghembus bahwa wabah terjadi karena mereka telah meracuni mata air. Diperkuat dengan dimensi keriligiusan bahwa orang-orang Yahudi ini menolak status Yesus sebagai raja mereka, maka rasisme seolah menjadi hal yang dibenarkan. Kemalasan berfikir terletak pada kenyataan bahwa pembantaian tersebut tidak berdasarkan suatu bukti sahih kecuali lewat desas desus belaka dan fakta sosial bahwa orang-orang Kristen memang tidak suka pada orang-orang Yahudi karena profesi mereka yang sebagian besar adalah tengkulak. 

Rasisme terhadap orang kulit hitam seringkali dikategorikan sebagai “rasisme modern” karena legitimasinya dimulai sejak para ilmuwan Abad Pertengahan mulai melakukan klasifikasi terhadap manusia. Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-16 menyebutkan bahwa ras Kaukasoid adalah ras manusia pertama yang darinya ras-ras lain mengalami penyimpangan atau kemerosotan –yang lain ini adalah Mongolia, Etiopia, Amerika dan Melayu-. Georges-Louis de Buffon beranggapan bahwa orang-orang Eropa secara intelektual lebih unggul daripada orang-orang Afrika. Ia mengasalkan kecerdikan orang-orang Eropa dari kenyataan bahwa mereka berhasil bertahan hidup di lahan yang tandus. Sedangkan orang Afrika, yang dipermudah oleh lingkungan, malah tumbuh menjadi ras yang sederhana dan bodoh. 

Berawal dari prasangka-prasangka masyarakat, rasisme kemudian bergerak menjadi legal dan terinstitusionalisasi. Di Amerika Serikat bagian Selatan, ada kebijakan Jim Crow yang terbentang antara tahun 1876 hingga 1965. Isinya adalah pemisahan tegas fasilitas publik untuk kulit putih dan kulit hitam mulai dari sekolah, transportasi, kamar ganti, restoran, hingga air minum. Hal serupa juga terjadi di Afrika Selatan yang belum genap dua puluh tahun lepas dari politik apartheid

Sebelum masuk membicarakan Nelson Mandela, menarik untuk terlebih dahulu melihat perjuangan Malcolm X di Amerika Serikat. Malcolm X menolak diskriminasi justru dengan mempertegas perbedaan. Meski kita tidak bisa mengabaikan kontribusi Malcolm X dalam penghapusan segregasi rasial di AS, tapi ada kesamaan sikap antara Malcolm X dan @hafidz_ary dalam menghadapi ketertindasan kaumnya. Mereka memilih sikap untuk berperang dengan terlebih dahulu membangkitkan superioritas kaumnya sendiri. Malcolm X dengan meneriakkan kredo bahwa “God is Black” dan “White people are devils”, sedangkan @hafidz_ary dengan “Islam itu sendirian benar, yang lain salah” dan “Orang-orang kafir dan salibis adalah penyebab perang-perang besar di dunia”. Dengan demikian, kaumnya merasakan satu posisi yang eksklusif dan berbeda dari yang lain. Malcolm X mengatakan bahwa jika orang kulit putih boleh merasa eksklusif, kenapa kulit hitam tidak boleh? @hafidz_ary mengatakan bahwa jika orang sekuler selalu diberi panggung dalam sejarah, kenapa muslim tidak boleh? 

Nelson Mandela tidak pernah bicara tentang supremasi ras. Perjuangannya untuk rakyat murni datang dari kenyataan bahwa kebijakan politik dari National Party (NP) sebagai kaum minoritas, tidak mencerminkan keinginan dari rakyat Afrika Selatan yang didominasi oleh orang-orang kulit hitam. Berbekal literatur mengenai komunisme, Mandela mempunyai kesamaan spirit dengan Marx meski berbeda konteks. Marx melawan kapitalisme yang biasanya dikuasai oleh sedikit orang yang berstatus sebagai pemilik modal. Marx mengatakan bahwa kapitalisme bisa digulingkan oleh kaum buruh yang secara jumlah lebih banyak. Mandela melawan kebijakan politik kaum Afrikaner yang jumlahnya justru minor di Afrika Selatan. Mandela juga percaya orang kulit hitam bisa menang karena jumlahnya yang lebih banyak. Mandela juga tidak tergerak oleh perasaan xenophobic ataupun rasis seperti yang dilakukan oleh Malcolm X dan @hafidz_ary. Ia tidak perlu melawan rasisme dengan rasisme. Mandela hanya ingin hidup berdampingan dengan hak-hak yang sejalan. 

Mari berbicara sedikit tentang filsafat. Hegel pernah berkata bahwa sejarah menyeimbangkan dirinya lewat dialektika tesis-antitesis-sintesis. Kekuasaan NP dengan politik apartheid-nya di Afrika Selatan sebagai tesis pada masa itu, mendapat antitesis dari Mandela dengan African National Congress (ANC)-nya. Mandela dengan ANC-nya, meski sudah dibungkam dengan berbagai cara, tetap mampu bersuara dalam sejarah karena demikian menurut Hegel, “fitrah”-nya sejarah. Pembungkaman, pemenjaraan, siksaan, pengasingan, tidak akan pernah mampu mencerabut suara-suara antitesis. Pembungkaman oleh tesis-tesis besar seperti Stalin, Mao, Pinochet, ataupun Suharto akan menciptakan bara dalam kekuasaannya sendiri. Kelak akan terjadi keseimbangan, bagaimanapun dihabisinya berbagai macam oposisi. 

Kembali lagi, Mandela adalah contoh perjuangan yang revolusioner, konsisten, dan tidak gegabah. Kata Acep Iwan Saidi, dunia hari ini sudah sulit sekali mencipta revolusionaris tulen. Yang ada hari ini adalah sikap-sikap reaksioner semata seperti Koin Prita, Angkot Day, Vickyisme, atau tagar twitter seperti #IndonesiaTanpaJIL, #SaveKPK, #SaveRI atau #EgyptMassacre. Celakanya, para reaksionaris itu sudah merasa menjadi seorang revolusionaris. Tidak ada satu keistiqamahan untuk berjuang demi sebuah ideologi yang dianggap benar. Sulit mencari figur seperti Che, Gandhi, atau Mandela yang tidak ingin terbuai dengan rayuan-rayuan gombal yang meruntuhkan perjuangan seperti hari ini orang tunduk pada tabungan, asuransi, iklan hape, dan segala tetek bengek simbol kemapanan.
Continue reading

Friday, November 29, 2013

Tukang Gorengan

Tukang Gorengan
Selepas membeli kelapa muda, saya mendadak ingin sejenak menepi di tukang gorengan itu. Tukang gorengan yang pernah berbincang dengan saya setahun lalu tentang apa-apa yang tidak saya mengerti. Sekarang saya memutuskan untuk duduk di tempat itu lagi dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa saya akan membeli gorengannya sebanyak lima buah untuk dimakan di tempat. 

Saya mengatakan sesuatu untuk memancing dirinya bicara, yaitu kabar tentang anaknya. Dia bilang anaknya sekarang sudah ada dua yang hampir bekerja, satu hampir lulus STM, satu lagi sedang magang menjadi akuntan di satu kantor. Oh, memang anak bapak berapa? Dia jawab lima dan semuanya bersekolah. Lalu saya bertanya dengan sebuah keimplisitan a la orang modern yang selalu ingin tahu tentang "Dari mana kamu dapat uang untuk semua itu?" dengan dibungkus pertanyaan, "Oh, istri kerja, Pak?" Tukang gorengan itu menjawab, "Tidak, kalau istri bekerja, bagaimana bisa mengurus anak yang jumlahnya lima?"

Tapi tukang gorengan itu seolah tahu bahwa saya hendak bertanya soal darimana dirinya dapat biaya untuk itu semua. Ia berbicara panjang lebar tentang kenyataan bahwa meskipun ia berprofesi sebagai pedagang gorengan, ia tetap memprioritaskan anak-anaknya untuk sekolah. "Saya pernah ditawari berkali-kali untuk menyicil motor, tapi saya selalu mengutamakan sekolah anak-anak. Sampai sekarang saya tidak pernah punya motor. Mau mudik? Tinggal pinjam sama tukang ojek." Ia juga berbicara tentang zakat mal yang rajin ditunaikannya setiap tiga bulan yang entah kenapa ia percayai memberi keselamatan bagi hidupnya hingga hari ini. 

Kemudian dia juga berbicara tentang ketenangannya dalam menjalani hidup dan juga menjalani mati, "Ah, untuk apa berpusing-ria. Hidup ya begini, jalani saja. Ujung-ujungnya kita akan telanjang, tak punya apa-apa, dan kembali ke tanah." Perkataan semacam itu tentu saja meruntuhkan prinsip kemodernan saya yang apa-apa harus terencana. Segala sesuatu bisa dihitung dan matematika adalah suatu kepastian yang harus dilibatkan dalam setiap gerak-gerik kehidupan. Namun matematika tercanggih sekalipun agaknya sulit untuk menghitung bagaimana seorang tukang gorengan bisa menghidupi lima orang anak dan menyekolahkannya secara layak. 

Hal-hal semacam ini tentu saja bukan sesuatu yang baru saya dengar untuk pertama kali: Cerita tentang perjuangan dalam keluarga, tentang hitung-hitungan magis dalam kehidupan, serta bagaimana agama dan kepercayaan -meskipun jika dinalar seringkali absurd- mampu memberi kekuatan bagi orang untuk hidup dan juga untuk mati. Seiring dengan nalar yang semakin rumit dan kedewasaan yang membawa pada kompleksitas, maka cerita-cerita semacam itu makin seperti dongeng ataupun mitos. Seolah itu adalah cerita dari orang-orang jaman dulu yang tidak punya relevansi dengan dunia hari ini yang kapitalistik. 

Saya bukan hendak menghimbau orang-orang untuk beranak banyak dalam rangka memenuhi kepercayaan tentang "banyak anak, banyak rejeki". Tapi saya sedang merenungkan dalam-dalam tentang bagaimana seorang tukang gorengan sedang bertindak seperti Sisifus yang tengah dikutuk untuk mendorong batu sepanjang hidupnya. Meski hidupnya berat, ia tetap menjalaninya dengan santai, gembira, dan sadar bahwa yang absolut akan menghadangnya hanyalah kematian. Saya menemukan pemikiran semacam ini hanya pada literatur Albert Camus dan menganggap bahwa yang mungkin mencapainya hanyalah kaum yang membaca bacaan-bacaan filosofis yang sejenis. Tapi anggapan itu runtuh ketika saya berjumpa dengan si tukang gorengan. Ia berlaku bak Sisifus meski mungkin tak pernah tahu siapa Sisifus itu. Hidupnya penuh keberanian, penuh heroisme, sekaligus juga penuh oleh kepasrahan. Ia sudah tahu siapa Sang Maha Absurd itu dan mengklaim diri sebagai kekasihnya yang sejati. 

Saya malu. Karena saya takut untuk hidup, juga takut untuk mati. 


Continue reading

Tuesday, November 26, 2013

Profesionalisme

Profesionalisme
Dalam Mahabharata, terdapat satu kisah yang cukup terkenal bernama Bhagavad Gita. Ini adalah cerita tentang bagaimana kegalauan Arjuna ketika akan berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri yaitu Kurawa. Arjuna kemudian mengadukan keluh kesahnya ini pada Dewa Krishna tentang dilema moral apakah ia sebaiknya berhenti atau meneruskan pertarungan walaupun dengan risiko membunuhi saudara-saudaranya. Jawaban Dewa Krishna adalah, "Kamu adalah prajurit, tugasmu berperang. Biarkan mencabut nyawa menjadi urusanku."

Etika yang ditawarkan Bhagavad Gita cukup jelas. Moralitas tertinggi dari bekerja adalah pekerjaan itu sendiri dan bukan konsekuensi dari pekerjaannya. Ini mungkin juga semacam seruan bagi kita yang kadangkala meremehkan pekerjaan orang lain yang gajinya kecil atau punya nilai status sosial rendah di mata masyarakat. Mengacu pada apa yang diucap oleh Dewa Krishna, mereka adalah mulia jika bekerja sepenuh hati.

Kemudian dunia modern mengenal konsep profesionalisme dalam pekerjaan yang juga mengandung etikanya tersendiri. Sekilas, etika dalam profesionalisme ini sejalan dengan apa yang digariskan dalam Bhagavad Gita, bahwa keduanya haruslah bekerja keras dalam bidangnya. Namun profesionalisme ini, jika kita perhatikan, basis dari bekerja kerasnya adalah terlebih dahulu setelah mengetahui konsekuensinya. Para profesional dapat didefinisikan sebagai mereka yang bekerja sesuai dengan apa yang sudah dibayarkan kepadanya. Jika ia dibayar satu juta, maka ia harus bekerja seharga satu juta itu. Jika ia dibayar seratus ribu, maka ia harus bekerja seharga seratus ribu itu. Jika ia bekerja di bawah harga yang dibayarkan kepadanya, maka ia gagal secara etis atau kita biasa menyematkan predikat kepadanya yaitu "tidak profesional".

Tapi agaknya dunia modern dengan profesionalismenya tidak memberi tempat bagi etika Bhagavad Gita. Bhagavad Gita justru berbicara tentang 'lupakanlah konsekuensi'. Manusia harus bekerja, karena bekerja adalah suatu kebaikan pada dirinya sendiri. Dewa Krishna seolah mau berkata tentang, "Jikapun tidak ada uang atau imbalannya, pekerjaan itu harus dilakukan sepenuh hati." Karena, iya, dalam Bhagavad Gita, konsekuensi dari pekerjaan kita bukanlah urusan kita, seperti halnya Dewa Krishna mengatakan tentang "nyawa adalah urusanku". 
Continue reading

Sunday, November 10, 2013

Musik dari Dalam, Musik dari Luar

Musik dari Dalam, Musik dari Luar
Musik klasik adalah musik yang amat direkomendasikan sebagai dasar bagi segala jenis musik. Kita diberinya pelajaran tentang penjarian, ritem, melodi, harmoni, dinamika, penghayatan, kalimat musik, dan lain-lain secara lengkap dan komprehensif. Saya belajar musik klasik sejak sekitar lima belas tahun yang lalu dan bisa dibilang secara formal dan tersertifikasi, pengetahuan-pengetahuan yang disebutkan di atas sudah saya kuasai. Namun apakah dengan demikian saya sudah mengerti apa itu musik? Ternyata tidak sama sekali.

Misalnya, saya belajar untuk mempelajari tanda-tanda dinamika dalam rangka mencapai satu penghayatan yang maksimal. Saya mengetahui segala rambu-rambu musikal mulai dari pelan, keras, semi-pelan, semi-keras, hingga gradasi dari pelan ke keras ataupun sebaliknya. Namun ketika saya main dengan musisi bermusikalitas tinggi semisal Kang Ammy Kurniawan, pengetahuan tentang tanda dinamika yang canggih itu mendadak hilang. Saya bingung luar biasa dan seperti anak baru belajar doremifasol. Begitupun ketika diminta berimprovisasi baik lewat melodi maupun akor, berbagai pengetahuan saya tentang tangga nada dan akor yang hapal mati menguap begitu saja entah kemana. Adakah saya gagal dalam mengartikulasikan arti musik dalam "kehidupan"?

Memang iya, saya gagal. Berbelas tahun belajar musik klasik dengan segala tetek bengeknya, ternyata saya sadari itu belum musik. Saya masih digelayuti awan hitam eksklusifitas, formalisme, saintifikasi seni, dan dikotomi-dikotomi antara musik tinggi dengan musik praktis. Dalam ajaran Kang Ammy, musik itu sederhana seperti halnya kehidupan. Tapi kehidupan menjadi tidak sederhana oleh sebab awan hitam yang kadang-kadang kita ciptakan sendiri juga. 

Jadi sekarang saya belajar musik lagi dari nol. Saya mencapainya bukan lagi lewat teori-teori formal yang kaku dan malah justru "non-musikal". Saya belajarnya lewat membuka telinga lebih banyak pada kehidupan. Melodi, ritem, harmoni, dinamika, kalimat, hingga penghayatan itu jangan-jangan sangat natural dan sekaligus juga manusiawi -ia bukan suatu imitasi dari invisible world seperti yang diungkap oleh Giuseppe Mazzani-. Harusnya musik dan kehidupan itu sejalan karena keduanya sungguh adalah dua hal yang sama. Semoga pencarian saya berhasil suatu hari entah kapan.


Continue reading

Saturday, November 9, 2013

Habitat

Habitat
Agaknya setiap orang, dalam dirinya sendiri, ada keinginan untuk memperbaiki dunia agar menjadi lebih baik. Namun niat tersebut sering jatuh pada godaan utilitarian, yaitu keinginan agar orang banyak langsung mendapat manfaat secara instan dari apa yang kita pikirkan maupun lakukan. Hal ini bukannya buruk, tapi kita bisa lihat contoh bagaimana "produksi massal kebaikan" biasanya hanya akan menguap begitu saja seiring dengan histeria yang juga selesai. Seminar motivasi, parpol yang mengadakan dangdutan atau bagi-bagi sembako, Koin Prita, gerakan ribuan orang entah apa untuk meraih rekor MURI, semuanya adalah contoh betapa utilitarianisme sering ditafsirkan secara keliru.

Saya sekarang akan memberi contoh dari teman-teman saya sendiri: Ada Mas Yunus yang mengajar dari SMA ke SMA sebagai guru seni rupa; Ada Ping yang juga sama-sama guru seni rupa tapi ia mengajar untuk anak-anak SD; Ada Diecky yang jadi dosen di Kalimantan; Ada Bilawa yang tinggal di Jerman, di sebuah kota kecil bernama Oldenburg; Ada Kang Trisna yang tinggal di Subang; dan lain-lainnya. Mereka membawa satu semangat yang mungkin secuilnya didapat dari kegiatan yang tidak utilitarian sama sekali seperti misalnya diskusi kelompok kecil atau bahkan ngobrol personal.

Saya ingat bagaimana Mas Yunus dan Diecky mengambil satu metode yang biasa kami lakukan ketika di KlabKlassik yaitu Edisi Playlist. Edisi Playlist adalah metode mengenal emosi musik lewat mendengarkan bersama-sama musik yang menjadi kesukaan orang lain. Kita belajar empati, belajar menerima selera orang lain, dan juga belajar menerima beragam musik. Kegiatan ini ditebar kembali oleh Mas Yunus di SMA-SMA tempat dia mengajar, begitupun Diecky di kampusnya di Kalimantan. Saya yakin mungkin teman-teman saya yang lain seperti Ping, Bil, ataupun Kang Trisna, merekapun pernah mendapatkan satu hikmah dari kegiatan di kelompok kami untuk disebar ke orang lebih banyak di habitatnya sendiri-sendiri.

Tulisan ini seperti pemikiran sepele yang kalian-semua-sudah-tahu-bahwa-iya-memang-begitu. Tapi sebagaimana khutbah Idul Adha yang topiknya selalu sama, terkadang memang harus ada sesuatu yang klise untuk disampaikan berulang-ulang sebagai cara untuk menyegarkan "keimanan" kita kembali. Bagi mereka yang "cuma" berjuang di kelompok kecil, keluarga, atau bahkan diri sendiri, ketahuilah bahwa itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dunia lebih baik. Lebih dari cukup daripada orang-orang yang merasa diri bagaikan Yesus yang sedang khutbah di bukit dan mencerahkan orang dalam sekali ucap. 
Continue reading

Thursday, October 17, 2013

Sejarah

Sejarah
Hari-hari belakangan ini, saya sedang disibukkan dengan menulis biografi seorang sutradara senior bernama Awal Uzhara. Saya datang ke rumahnya seminggu dua atau tiga kali untuk mendengarkan bagaimana beliau bercerita tentang sejarah kehidupannya. Dari pengalaman menuliskan biografi itu, saya belajar sesuatu tentang hakikat sejarah. Pertama, dari kenyataan bahwa Pak Awal sendiri sering memilah mana yang pantas dimasukkan ke dalam sejarah dan mana yang sebaiknya dibuang saja untuk kemudian lenyap bersama semesta. Artinya, mencatat sejarah dari penutur pertama itu belum tentu bisa menggambarkan kejadian sebenarnya. Apalagi penutur yang sudah estafet hingga beberapa generasi. Harus diakui bahwa orang yang mengalami sejarah apapun, ketika itu ditransfer pada orang lain, tidak akan bisa persis akurat dengan kejadian sebenarnya baik secara detail peristiwa maupun perasaan ketika mengalami.

Kang Ghani, seorang sejarawan asal UNPAD pernah berkata sesuatu tentang bagaimana ketidakmungkinan sejarah yang objektif tersebut. "Silakan ulangi apa yang kamu lakukan lima menit yang lalu secara persis sama. Apakah bisa? Sekarang bagaimana kamu bisa mengetahui apa yang orang lakukan beribu-ribu tahun silam jikapun ia sendiri, yang mengalaminya sendiri, tidak mampu mengulanginya?" demikian ujarnya. Jadi adakah peluang bagi kita untuk mengetahui apa yang sudah lampau?

Untuk menjawab itu, saya teringat satu perdebatan menarik antara sejarawan Prancis dan sejarawan lokal bernama Hidayat Suryalaga. Sejarawan Prancis itu memperdebatkan bukti-bukti otentik tentang keberadaan Kerajaan Pajajaran yang menurutnya kurang meyakinkan. Namun Pak Hidayat menjawab singkat saja. Katanya, "Tidak penting dia ada atau tidak, yang penting dia ada dalam benak kami." Seolah-olah bagi Pak Hidayat, secara epistemologis memang mustahil bagi kita untuk mengetahui apa yang lampau. Maka itu perdebatan diakhiri saja dengan kenyataan apakah hal yang lampau itu -terlepas dari benar tidaknya- punya dampak signifikan untuk masyarakat hari ini atau tidak. 

Prof. Dieter Mack, seorang musikolog asal Jerman, dalam suatu kesempatan ceramah pernah memperdebatkan pendapat kawan saya, Diecky, yang mengatakan bahwa sejarah Barat lebih sistematis daripada timur. Pak Dieter menolak keras pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Jangan membandingkan dua hal yang sangat berbeda. Barat sistematis lewat tulisan, Timur sistematis lewat tuturan. Faktanya, orang Timur sampai sekarang masih bisa memainkan musik seperti leluhurnya. Artinya apa yang lampau baginya tidak putus sekali meski tidak lewat tulisan." Senada dengan apa yang dikatakan Pak Dieter, Bambang Q-Anees pun pernah menyindir kebudayaan Barat yang meski canggih dalam mewariskan via tulisan, tapi sambil bergurau ia bertanya, "Mana ada filsuf Yunani yang beken di saat sekarang? Berarti tidak turun temurun itu kehebatan Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Ya kan?"

Artinya, jika secara epistemologis kita mustahil untuk menyelami yang lampau, kita bisa mengandaikan bahwa apa "yang lampau" itu cukup menjadi daya hidup untuk kita hari ini. Ini mungkin jauh lebih baik dan berguna daripada memperdebatkan eksistensi segala sesuatu yang lampau itu ada atau tidak. Barangkali ini yang jadi argumen kuat kenapa banyak orang masih mau bertuhan meski pemikiran ateisme terus menggurita dan semakin mampu memenangkan debat demi debat soal ketiadaan eksistensi Tuhan. Orang masih bertuhan mungkin karena jikapun ternyata Tuhan tidak ada "di-sana", toh setidaknya ia masih ada "di-sini", di dalam benak orang-orang yang mau ia tetap ada tanpa harus punya landasan kemasukakalan. Kedua, jika sejarah yang diturunkan lewat tulisan ataupun tuturan selalu terkena distorsi, maka dari mana sesungguhnya kita mendapatkan kebenaran? Soal ini saya dengar bapak berbicara, "Sejarah yang paling benar, adalah yang tidak dituliskan dan tidak dituturkan." Dalam arti kata lain, kebenaran sejati selalu tersimpan dalam sunyi. 


Continue reading

Thursday, October 10, 2013

"Karena Hidupku Seperti Chekov"


Semoga kamu tidak bosan jika lagi-lagi saya bercerita tentang orang tua istimewa bernama Awal Uzhara ini. Suatu hari, saya mendapat kabar mengejutkan tentang penyakit stroke yang menyerang Pak Awal. Yang mengherankan kemudian adalah keputusan dari istrinya, Ibu Susi Magdalena, yang tetap pergi ke Rusia selama tiga bulan sesuai rencana awalnya untuk semacam kepentingan studi. Maksudnya, sedemikian tegakah Ibu Susi meninggalkan sang suami yang sudah tua dan sedang sakit? 

Kepergian Ibu Susi adalah hal yang sungguh sulit untuk dibayangkan karena bapak saya pernah berkata bahwa, "Mamah pergi sebentar saja, dua atau tiga hari, saya sudah banyak kebingungan." Mungkin memang begitu, jika sudah berpasangan, akan ada ketidakseimbangan ketika yang satu pergi meskipun sebentar. Apalagi untuk kasus ini, sang suami butuh dukungan besar tidak hanya moral, tapi juga bantuan-bantuan konkrit seperti dibantu bangun dari tidur, ke belakang, makan, dan sebagainya.

Namun kadang kita tidak bisa terlalu cepat melakukan penilaian tanpa memahami seluk beluknya. Sampai suatu hari saya mendapat kesempatan untuk bertanya langsung pada Pak Awal yang sepertinya sedang bergelut dengan kesendirian, "Pak, kok rela membiarkan Ibu Susi pergi ke Rusia?" Sebenarnya itu jenis pertanyaan yang sudah dihaluskan. Pertanyaan sebenarnya adalah, "Pak, kok sampai hati Ibu Susi pergi meninggalkan Bapak?" Namun beliau sambil tersenyum berkata, "Karena saya merasa hidup saya seperti Anton Chekov." 

Kemudian seperti kebiasaannya, Pak Awal melanjutkan ceritanya dengan panjang lebar, "Istri Chekov, Olga Knipper adalah seorang pemain teater ternama di Moskow. Ia tengah berada di puncak karier ketika Chekov mengalami sakit tuberkulosis di ujung hidupnya. Suatu hari Chekov memutuskan untuk mati dengan cara membuka alat bantu pernapasannya sendiri dan berkata pada dokter, 'Dokter, saya mau mati.'." Begitulah dalam cerita Pak Awal, Chekov memutuskan untuk mengakhiri hidup lebih cepat karena tidak ingin menghambat karir istrinya. Pada titik itu saya mengerti sepenuhnya mengapa Pak Awal rela membiarkan Ibu Susi meninggalkannya tiga bulan untuk mengejar karir. Pak Awal, sebagaimana Chekov, justru ingin mengekspresikan rasa cinta yang adiluhung pada Ibu Susi, yakni: Cinta yang membebaskan.
Continue reading

Monday, September 30, 2013

Imagi-Nation: Provokasi bagi Para Komposer


Ketika kawan Erie Setiawan mengirimkan buku Imagi-Nation: Membuat Musik Biasa Jadi Luar Biasa dari Yogya, saya langsung menghabiskan buku setebal kurang lebih seratus halaman itu dalam sehari. Namun bukan ketipisan buku itu yang membuat saya sanggup membaca cepat. Entah oleh sebab sang penulis, Vince McDermott, atau kelihaian sang penerjemah, yang pasti kata-kata dalam buku ini amat renyah, lincah, dan sepertinya sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak membuat pembaca ketakutan dengan topiknya.

Apa yang dibahas oleh McDermott sesungguhnya tidak semudah gaya bahasanya. Ia menyuguhkan banyak hal mendasar tentang musik yang justru merupakan topik yang tidak populer -bahkan di kalangan akademisi musik sekalipun?-. Hal yang mendasar ini bukan berarti menyoal teori atau praktik dasar dalam bermusik. McDermott memulai bukunya dengan membahas apa itu estetika, apa perbedaan estetika barat dan timur, hingga memperdebatkan apakah musik kemudian harus ditransfer kembali pada kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang awam, "Musik yang dimainkan barusan, maknanya apa ya?" Ini jelas merupakan bahasan yang tidak menyenangkan untuk praktisi bahkan teoritisi musik khususnya di Indonesia -buktinya, buku yang membahas hal semacam ini sangat jarang beredar-. Mungkin mereka bisa melemparkan tanggung jawab atas persoalan estetika pada bidang kajian filsafat saja.

McDermott kemudian dengan perlahan memberikan panduan bagi para komposer untuk pertama-tama mempertanyakan ulang maksud dari pelbagai ciptaannya, hingga akhirnya masuk pada dimensi musik yang lebih kompleks seperti dinamika, frase, energi, bentuk, ritme, repetisi, tekstur, lapisan, harmoni, tempo, transisi, warna, hingga instrumen. Dalam pemaparan demi pemaparan, McDermott sama sekali tidak bersikap menggurui atau bahkan memberikan tips-tips sederhana (seperti yang sedikit tersirat lewat judulnya). McDermott rupanya ingin lebih tepatnya memberikan panduan. Ia tidak mau "penyair bunyi" (istilah yang McDermott ambil dari sebutan Beethoven bagi para komposer) manapun mengabaikan sejumlah peraturan dalam mencipta. Hal ini tersirat dalam pemaparannya mengenai musik jazz dan hubungannya dengan improvisasi:
Bahkan, dalam gaya improvisasional seperti "free jazz" atau "musik kebetulan" (chance music) sekalipun, tetap ada pembatas. Pemusik-komponis memiliki ide-ide tertentu yang ingin mereka sajikan, dan tujuan mereka adalah ide-ide itu. Dengan demikian, mereka sengaja membatasi fokus mereka. 
Meski "keras" dalam memberikan batas-batas mencipta, McDermott tetap mengatakan bahwa yang menjadi penentu pada akhirnya adalah kreativitas, keberanian untuk berpikir maju, dan petualangan menuju "yang sublim". Seni bukan rutinitas, seni itu pencarian. Ia mengajak mereka yang sudah berpikiran ke depan agar jangan melupakan fondasi bangunan musik seni yang baik. Sebaliknya, mereka yang sudah menguasai pelbagai fundamen dasar dalam bermusik, jangan hanya membuat "musik biasa yang mengenyangkan perut" saja. Jangan takut menciptakan musik yang sanggup dijadikan santapan rohani juga.

Continue reading

Sunday, September 29, 2013

Oh

Oh
Bapak pernah berkata bahwa hidup ini adalah sekumpulan oh demi oh. Apa artinya? Katanya, nanti juga kamu mengerti. Nanti juga kamu akan mengatakan, "Oh, maksud bapak oh itu, itu toh." Karena begitulah beliau akhirnya menyadari bahwa segala ucapan kebijaksanaan akan tiada artinya jika tanpa disertai pengalaman. Ketika pengalaman tersebut pada akhirnya sejalan dengan kata-kata kebijaksanaan yang dulu pernah termentahkan oleh hatimu, ketika itu pula kamu akan mengatakan oh. "Bapak dulu pernah mengatakan jangan merokok dan minum kopi, nanti jadi bodoh," demikian bapak berujar tentang nasihat bapaknya dulu. "Kita bisa sama-sama menertawakan pendapatnya yang tidak saintifik, tapi hal tersebut di kemudian hari terbukti, setidaknya bagi saya secara personal," demikian tambah bapak. Oh.

Oh, sekarang saya juga tahu kenapa bapak dulu menyuruh untuk membaca satu artikel koran setiap hari dengan imbalan seratus rupiah. Oh, sekarang saya tahu kenapa bapak selalu memutar musik keras-keras setiap pagi dari sejak saya bahkan tidak tahu apa itu musik. Bukan musik anak-anak seperti Enno Lerian atau Bondan Prakoso, tapi sekalian The Beatles atau Michael Franks. Oh, sekarang saya tahu kenapa saya sering diajak makan berdua saja untuk kemudian bapak bercerita tentang segala hal yang saya tidak mengerti. Katanya dalam suatu malam di restoran, "Waktu itu selalu berlalu. Ketika kita mengatakan 'sekarang', di saat itu pula kata 'sekarang' itu juga berlalu." Saya terbengong-bengong karena waktu itu masih SD.

Oh, sekarang saya mengerti, bahwa ternyata kata-kata kebijaksanaan itu selalu terdengar kosong di telinga seperti kata tokoh Gotama di novel Siddharta karya Herman Hesse, "Hanya pengetahuan yang bisa dibagikan, kebijaksanaan jika dibagikan akan lebih terdengar seperti kebodohan." Oh, sekarang saya mengerti mengapa Musashi mengembara untuk mencari hakikat ilmu pedang. Pengembaraannya bukan didasari oleh kemasukakalan, melainkan oleh sebuah keyakinan bahwa suatu saat pengalamannya sendiri yang akan membentuk pemahamannya. Itu sebabnya ia punya semboyan, "Jangan pernah menyesali segala sesuatunya." Seolah-olah ia mau berkata bahwa meskipun pengembaraannya akan berujung pada kesimpulan bahwa tak sanggup sesungguhnya Musashi jadi samurai, itu tidak apa-apa. Oh, sekarang saya mengerti mengapa Nietzsche mengatakan bahwa manusia dikutuk oleh bahasa. Di satu sisi kita berupaya menerangkan dengan kata-kata tentang pengalaman kita, di sisi lain kata-kata itu sendiri sebenarnya tak pernah sanggup membuat orang "ikut mengalami".

Oh, saya mengerti sekarang bahwa hal-hal di dunia ini tidak semuanya harus langsung dapat dimengerti. Biarkan oh terucap di ujung pengalamanmu.


Continue reading

Sunday, September 8, 2013

Rasionalitas dan Teknologi

Rasionalitas dan Teknologi
Kemarin saya dikejutkan oleh berita tentang anak bungsunya musisi pop Ahmad Dhani, Abdul Qadir Jaelani alias Dul, yang membuat tewas lima orang akibat mobil yang dikendarainya di jalan tol. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Dul masih berusia tiga belas tahun atau jauh di bawah syarat untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kita tidak akan membicarakan soal bagaimana tanggungjawab Ahmad Dhani soal ini. Kita bisa lebih jauh menyalahkan teknologi yang pada perkembangannya selalu mengandung dua sisi. Di satu sisi, ia membantu kehidupan manusia karena biasanya teknologi selalu mengandaikan ke-masuk-akal-an. Dalam arti kata lain, ketika teknologi diciptakan, tentunya ia sebisa mungkin dapat diakses orang sebanyak-banyaknya dan semudah-mudahnya -Itu sebabnya mengapa gadget masa kini seolah tidak mempunyai batas usia. Karena bagi anak-anak, gadget itu masuk akal untuk mereka mainkan-. Di sisi lain, ke-masuk-akal-an itu yang justru menjadi problem ketika penilaian-penilaian metafisis seperti "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", "penemuan jatidiri", dan hal-hal lain yang tak masuk akal dan tidak punya alat ukur objektif, dibuang jauh-jauh dari prasyarat pemakaian teknologi.

Mari kita ambil contoh dari teman saya yang sedang keranjingan buku The Secret dan menyebut ajarannya, yakni Law of Attraction, sebagai sesuatu yang sangat manjur. Ajaran Law of Attraction kira-kira berisi tentang bagaimana jika kita sungguh-sungguh memikirkan sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi -baik itu positif maupun negatif-. Sayangnya, dia (dan juga banyak orang lainnya) menggunakan prinsip Law of Attraction itu dengan cara yang sama seperti Dul menyetir mobil. Mereka menggunakannya sebagai alat yang kaku dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang non-rasional. Seperti kata teman saya itu, "Kalau kamu sakit, jangan dipikirin deh. Pikirin yang bagus-bagus saja agar sembuh." Mungkin hiburan semacam itu ada benarnya, tapi kita juga harus pertanyakan: Pikiran semacam apa yang bisa memberi dampak positif? Tentu saja berbeda antara pikiran seorang anak SD dengan pikiran seseorang yang sudah menjalani hidup 80 tahun dengan pengalaman segudang, meski sama-sama positif. Tentu saja berbeda antara pikiran orang yang sudah membaca seribu buku dengan macam-macam jenis dengan pikiran orang yang baru saja membaca The Secret

Kita bisa melihat teknologi di sekeliling kita hari ini sungguh mudah untuk digunakan: Motor, mobil, kulkas, latop, ponsel, televisi, LCD, dan sebagainya. Prasyaratnya hanyalah sebatas urusan asal secara fisik bisa terjangkau atau tidak. Keseluruhan teknologi itu sudah dibuat sedemikian rupa agar secara rasional bisa diterima dan digunakan secara praktis sejak usia dini. Buku-buku petunjuk tentang usia berapa seharusnya seseorang memakai benda-benda tersebut rasanya menjadi hal yang diabaikan dewasa ini. Kemudahan-kemudahan semacam itu secara otomatis meniadakan "teknologi-teknologi" purba yang sering dianggap punya efek membantu kehidupan manusia tapi tidak rasional seperti doa, sembahyang, telepati pikiran maupun perasaan, hingga pawang hujan. Mereka dianggap usang dan harus dibuang ke tong sampah karena semata-mata, "Tidak masuk akal, tidak bisa digunakan segala usia. Mungkin mereka yang bisa pun hanya mengada-ada saja."

Doa, sembahyang, dan lain-lain tersebut mungkin saja menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan jika dilakukan dalam penghayatan dan kematangan jiwa di fase tertentu yang barangkali tidak punya barometer objektifnya. Hal yang sama juga bisa kita tudingkan pada kenapa Dul bisa celaka padahal secara teknis ia sudah memenuhi syarat untuk menyetir. Ini bukan semata-mata soal usia -sesuatu yang sebenarnya masih sangat objektif dan rasional-, melainkan persoalan-persoalan metafisis yang sudah kita buang jauh-jauh konsepnya dari dunia kehidupan modern, yakni "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", dan "penemuan jatidiri".

Keseluruhan paparan di atas mungkin bisa dirangkum menjadi: Pepatah Timur mengatakan bahwa "Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa." Barat kemudian memodifikasinya menjadi "Tapi kita bisa membuat pohon lebih cepat tumbuh dengan segala teknologi".

Continue reading

Monday, September 2, 2013

Blues Mati Rasa

Blues Mati Rasa
Aku pernah berkata pada diri
Hidup ini sederhana saja
Jalani aturan, hindari larangan
Ikuti malaikat, jauhi setan

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku bekerja sepanjang hari
Menghitung uang apakah sebanding dengan peluh yang terbuang
Kutatap masa depan dengan sinar mata cemerlang
Kehidupan jelas terbentang diterangi oleh senter tabungan

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku pernah berpikir tentang kematian
Tentang duka nestapa dan penderitaan
Tapi kubiarkan mereka terbenam
Dalam derap langkah keseharian

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues

Aku mencari Tuhan kesana kemari
Kemari kesana
Hingga berkesimpulan
Tak mungkin Tuhan ada

Oh, aku mengerti sekarang
Itulah sebab mengapa aku tak sanggup memainkan blues
Continue reading

Sunday, August 25, 2013

Metallica dan Saya

Metallica dan Saya
Pertama kali saya mendengar nama "Metallica" adalah ketika SD. Waktu itu, kakak saya mewartakan kegembiraannya setelah membeli Black Album dengan harga Rp. 3.000. Katanya, "Album Metallica ini keren sekali. Coba lihat sampulnya. Seperti yang hitam pekat kan? Padahal ada gambar ularnya!" Setelah itu saya lupa sama sekali tentang Metallica hingga akhirnya pada masa SMP, saya menemukan majalah HAI edisi khusus membahas Metallica. Jadi, pertemuan pertama saya dengan Metallica tidak lewat musiknya terlebih dahulu, melainkan dengan mula-mula ikut-ikutan kakak saya dan membaca sejarahnya. 

Kaset Metallica yang saya beli pertama kali adalah Ride The Lightning. Album tersebut dibeli di Yogya ketika study tour bersama teman-teman satu angkatan. Saya, yang waktu itu kelas 2 SMP, sangat terkejut dengan kecepatan band ini sejak dari track pertamanya yang berjudul Fight Fire with Fire. Padahal dalam lagu tersebut, saya dibuai dengan petikan gitar akustik yang lembut sebagai intro. Dengan medium walkman, saya konsumsi Ride The Lightning berulang-ulang selama di Yogya. Pada masa itu juga saya merasa terpikat dengan permainan solo gitar Kirk Hammett yang sangat cepat.

Setelah Ride The Lightning, berturut-turut saya membeli kaset Master of Puppets, Kill 'Em All, And Justice for All dan Black Album. Tidak semua lagu dalam album-album tersebut langsung bisa saya cerna sejak pendengaran pertama. Namun setelah berkali-kali dengar, saya bisa memutuskan bahwa tidak ada satupun lagu Metallica yang tidak bagus. Semuanya menakjubkan dan semuanya dibuat oleh kemampuan yang tinggi dan atas niat yang tulus. Lagu-lagu semisal Master of Puppets, Battery, Orion, Hit The Lights, Seek and Destroy, Metal Militia, Harvester of Sorrow, Enter Sandman, Wherever I May Roam, dan sebagainya, menjadi hal yang wajib saya putar di saat bangun tidur dan pulang sekolah sebelum ganti baju. Saya pajang poster Metallica di kamar lengkap dengan para personilnya: Hetfield, Hammett, Newsted, dan Ulrich. Saya membeli gitar elektrik dengan distorsi dan berusaha bermain gitar dengan melodi cepat seperti yang biasa dilakukan oleh Hammett. Saya menawari teman-teman sebaya untuk kapan-kapan ayo kita mainkan lagu-lagu Metallica. Jawabannya? Negatif. 

Lama kelamaan, saya merasa tidak menemukan situasi yang tepat untuk mendukung cita-cita saya tersebut. Akhirnya saya mulai menyerah. Tidak ada lagi keinginan untuk bermain gitar seperti Hammett dan tidak ada lagi keinginan tampil di atas panggung sambil melakukan headbang. Saya konsentrasi pada gitar klasik untuk waktu yang lumayan lama -sesuatu yang pastinya sangat berbeda, tapi belakangan saya temukan bahwa antara Metallica dan musik klasik tertentu punya banyak kesamaan yang fantastis-. Kegagalan menjadi musisi rock tidak membuat saya kehilangan perasaan dengan cinta pertama saya, Metallica. Saya tetap menyimpan asa untuk suatu saat setidaknya bisa menyaksikan penampilan mereka secara live. Kemungkinan untuk itu katanya kecil sekali karena mereka pernah datang di tahun 1993 dan konsernya sendiri disebut Ulrich seperti "demonstrasi massal" karena terjadi kerusuhan di luar stadion Lebak Bulus.

Harapan tersebut tetap tersimpan meski saya sudah menjalani kehidupan yang non-metal selama lebih dari sepuluh tahun. Sampai akhirnya kemarin saya mendengar kabar bahwa mereka main di Singapura. Keadaan finansial yang pas-pasan pada waktu itu membuat saya berpikir untuk tidak pergi saja dengan sebuah pembenaran, "Ah, tidak semua mimpi kita harus diraih kan?" Tapi istri saya memberi kekuatan. Katanya, "Kejarlah. Kalau saya jadi kamu, akan saya kejar!" Akhirnya saya bertekad untuk mencari uang agar bisa membeli tiket konser sekaligus tiket pesawat. Dengan konspirasi rumit antara kawan saya yang tinggal di Singapura, Yos, dengan kawan istri saya yang juga tinggal di Singapura, Dinda dan Sufi, akhirnya tiket konser Metallica seharga 151 $ itu terbeli juga. Untuk tiket pesawat, saya mendapatkan tiket Air Asia yang relatif murah dengan dibantu oleh Ibu Shinta yang memang bekerja di travel biro. Sementara itu Iqbal, sahabat saya sejak SMA dan Oji, adiknya, yang kebetulan satu band dengan saya, turut serta menonton konser yang diadakan di Changi Exhibition Centre tersebut. Tak lama kemudian, sekitar seminggu setelahnya, ada kabar bahwa Metallica juga tampil di Jakarta. Meski saya diejek oleh teman-teman karena dianggap tidak sabaran, tapi saya tidak peduli -toh, saya juga memang belum pernah ke Singapura. Jadi sekalian berkunjung saja-. 

Singkat cerita kami bertiga berangkat subuh-subuh tanggal 24 Agustus dan mendarat di Bandara Changi pagi sekitar pukul delapan waktu setempat. Karena hanya membawa uang secukupnya, kami memutuskan untuk datang di hari-H dan pulang keesokan paginya dengan tidur di bandara saja. Setelah sempat jalan-jalan sebentar, kami tiba di Changi Exhibition Centre pukul lima. Di sana sudah banyak orang berbaju hitam-hitam yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari anak muda hingga kakek-kakek. Panggungnya terletak di lapangan besar dengan udara terbuka. Kami menanti cukup lama dengan ditemani dua band pembuka (satu dari Singapura, satu lagi dari Kanada namanya Anvil). Mereka tidak cukup keren sehingga saya bisa tidur nyenyak di pinggir Section B.

Masuk pukul delapan, penonton yang tadinya di pinggir mulai merangsek ke tengah. Mereka mulai riuh meski cuma mendengar checksound dari kru panggung. Setelah lima belas menit lewat dari jadwal yang seharusnya, tiba-tiba kami dikejutkan oleh adegan film The Good, The Bad, and The Ugly yang dilatari oleh musik Ecstasy of Gold karya Ennio Morricone. Setelah lagu tersebut, penonton diberi hening sejenak sebelum layar raksasa di belakang panggung menampilkan wajah Lars Ulrich yang langsung menggebuk drum sebagai intro lagu Hit The Lights. Hetfield, Hammett, dan Trujillo kemudian bergabung dan menghentak para penonton yang histeris dengan lagu dari album Kill 'Em All tersebut. 

Soal kualitas penampilan Metallica, tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang bagaimana stamina dan kecepatan mereka masih prima meski rata-rata usia sudah hampir lima puluh. Lagu-lagunya pun tiada yang asing dan tentang bagaimana cara mereka memainkannya secara live, sudah lumayan saya hafal dari beberapa kali lihat via DVD atau Youtube. Sebenarnya ada yang lebih penting bagi saya secara personal dari konser Metallica kemarin, yaitu kenyataan bahwa saya tiba di suatu situasi yang saya idam-idamkan sejak kecil -Berada pada jarak beberapa ratus meter saja dari grup yang sudah memberi kekuatan bagi saya untuk menjalani hidup-. Saya berada pada sebuah fase usia dimana teman-teman sebaya sudah mulai menanggalkan mimpi-mimpinya yang terdalam -dan menggantinya dengan kalimat klise, "Kita udah seumur begini, kita harus realistis."-. Tapi saya belum menyerah. Saya masih mengagumi band yang sama dan tidak kehilangan sedikitpun kekuatan untuk mengejarnya. Mungkin suatu hari nanti semangat masa kecil saya akan luntur dan semakin bergerak ke arah kedewasaan yang membosankan. Tapi setidaknya saya tidak membebani anak saya kelak dengan ambisi orangtuanya yang tidak selesai. Saya mempersilakan mereka untuk menjadi apapun yang mereka mau, karena saya sudah mencapai apa yang saya mau. Terima kasih, Metallica!   

Continue reading

Wednesday, August 7, 2013

30hari30film: Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984)

30hari30film: Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984)
30 Ramadhan 1434 H


Barangkali film Pengkhianatan G 30 S / PKI (1984) adalah film lokal yang paling banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia. Dari sejak kemunculannya di tahun 1984 hingga berakhirnya rezim pemerintahan Orde Baru di tahun 1998, film tersebut tidak pernah absen diputar setiap tanggal 30 September. Bahkan anak-anak sekolah di masa pemerintahan Soeharto diwajibkan menonton film yang disutradarai Arifin C. Noor tersebut. Sebagai film yang belakangan diganti statusnya menjadi film propaganda -alih-alih film sejarah-, pengaruhnya pun terbilang cukup sukses. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Tempo pada September tahun 2000, didapatkan data bahwa 1.110 pelajar SMA di tiga kota (Surabaya, Medan, dan Jakarta) menganggap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ajaran komunisme adalah hal yang sangat berbahaya.

Film Pengkhianatan G 30 S / PKI yang berdurasi hampir empat jam ini, bercerita tentang detail penculikan dan penyiksaan para Jenderal Angkatan Darat. Tidak hanya itu, diperlihatkan pula tetek bengek persiapan para anggota PKI beberapa hari menjelang tanggal 30 September 1965. Film ini menampilkan PKI sebagai partai yang bengis dan keji, baik secara personal orang per orang, maupun secara ideologis -Contohnya ketika mereka menyiksa para Jenderal disertai sorak sorai orang-orang berpesta sambil menyanyikan lagu Genjer-Genjer-. Kontras dengan kebiadaban PKI, sosok Pak Harto ditampilkan amat heroik dan tanpa cela. Ia bahkan dipamerkan sebagai pahlawan yang mengatasi kekisruhan nasional.

Meski berbau propaganda, film Pengkhianatan G 30 S / PKI adalah film yang berkualitas secara teknis. Arifin sangat pandai menciptakan ketegangan dan kegetiran yang timbul dari visualisasi berteknik tinggi. Contohnya, ketika para petinggi PKI melakukan rapat, Arifin hanya menyoroti gelas kopi yang saling dioper diantara mereka. Ini adalah suatu keputusan pengambilan gambar yang menarik agar penonton merasakan tensi tinggi dalam rapat revolusi tersebut. Jangan lupakan juga bagaimana anak dari Brigjen D.I. Pandjaitan yang mengusapi wajahnya sendiri dengan darah ayahnya yang baru saja ditembak. Adegan tersebut termasuk fenomenal dan konon gaya pengambilan gambar semacam itu belum pernah dilakukan oleh film manapun di Indonesia. Film Pengkhianatan G 30 S / PKI adalah film dengan dana besar dan dibuat untuk tujuan besar. Arifin berhasil mengejewantahkan keinginan pemerintah untuk menciptakan trauma serius pada masyarakat Indonesia akan komunisme, yang membekas bahkan hingga hari ini.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Barry Lyndon (1975)

30hari30film: Barry Lyndon (1975)
29 Ramadhan 1434 H


Barry Lyndon (1975) adalah film yang disutradarai oleh Stanley Kubrick, yang mengadaptasi novel berjudul The Luck of Barry Lyndon tahun 1844 dan ditulis oleh William Makepeace Thackeray. Barry Lyndon adalah filmnya yang kesepuluh dari total tiga belas film yang ia sutradarai sepanjang hidupnya. Berdurasi 184 menit, Barry Lyndon dibintangi oleh Ryan O'Neal, Marisa Berenson, dan Patrick Magee. Salah satu yang terkenal dari Barry Lyndon adalah visualisasi memukau yang ditampilkan oleh Kubrick. Pencahayaan alami, pemilihan kostum, interior ruangan, hingga pemajangan lukisan, membuat film yang mengambil latar di abad ke-18 ini tampak sangat artistik. 

Barry Lyndon bercerita tentang seorang pria bernama Redmond Barry (Ryan O'Neal) yang melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan status sosialnya. Perbuatannya ini bukannya tanpa dasar. Sedari kecil, ia sudah ditinggal ayahnya yang meninggal akibat duel pistol. Pada masa remaja, ia menyukai saudara sepupunya sendiri namun ditinggalkan begitu saja karena Barry dianggap tidak punya uang. Akhirnya Barry menikahi seorang kaya bernama Countess of Lyndon (Marisa Berenson). Pernikahannya ini, meski memberinya status sosial dan kemakmuran, mendapat tentangan dari Lord Bullingdon, anak dari Countess of Lyndon hasil pernikahan sebelumnya. Seiring dengan Lord Bullingdon yang bertambah dewasa, Barry semakin menyadari bahwa Lord Bullingdon dapat mengancam keberadaannya.

Mungkin saja kita bisa merasa bosan menyaksikan film panjang dan bertempo lambat ini. Namun hal itu dapat ditepis jika kita sungguh-sungguh memperhatikan kemampuan Kubrick dalam meramu estetika Barry Lyndon. Salah satu contohnya adalah ketika adegan di malam hari, Kubrick membiarkan penerangan dilakukan oleh lilin saja sehingga suasana remang-remang menjadi amat terasa. Di adegan lain, Kubrick juga membiarkan pencahayaan datang dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela, disertai latar belakang lukisan besar yang menakjubkan. Jangan lupa, seperti dalam film-film Kubrick pada umumnya, ia juga pandai memainkan musik klasik sebagai penguat impresi. Kali ini musik dari Bach, Vivaldi, Mozart, dan Schubert ikut menopang adegan demi adegan sehingga terasosiasikan demikian kuat dalam ingatan kita. Barry Lyndon ini adalah film yang amat artistik.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Pather Panchali (1955)

30hari30film: Pather Panchali (1955)
28 Ramadhan 1434 H



Pather Panchali dibuat dengan dana yang relatih rendah yakni US $ 3000. Tapi di tangan sutradara Satyajit Ray yang banyak terpengaruh oleh Neorealisme Italia, film yang berpusat pada seorang anak bernama Apu tersebut menjadi film yang berkualitas. Meski film tersebut adalah film pertamanya dan diperankan oleh aktor-aktor non-profesional, Pather Panchali -yang merupakan bagian pertama dari trilogi yang biasa disebut dengan Apu Trilogy-, meraup respon positif dan diakui oleh sutradara ternama Hollywood, Martin Scorsese, sebagai film favoritnya. Pather Panchali sering disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. 

Dengan kualitas visual yang seadanya, Pather Panchali bercerita tentang kehidupan Apu (Subir Banerjee) dan keluarganya yang miskin. Apu, bungsu dari dua bersaudara (kakaknya bernama Durga), dibesarkan oleh ayah yang bekerja sebagai pendeta tapi juga masih menyimpan harapan untuk menjadi pujangga. Meski pendapatan ayahnya tersebut kecil untuk menghidupi keluarga, namun Apu dan Durga tetap menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama. Film ini lambat laun menampakkan tragedinya ketika satu per satu anggota keluarga Apu meninggal. Apu dipaksa untuk mandiri menghadapi kenyataan demi kenyataan tersebut.

Pather Panchali adalah film dengan cerita yang relatif sederhana. Namun bagaimana Satyajit Ray menampilkan kesederhanaan tersebut, menjadi hal yang menarik untuk kita cermati. Gambar-gambar yang disajikan oleh Ray, meski hitam putih, dihadirkan sedemikian rupa sehingga tampak anggun dan puitik -Mengingatkan kita pada bagaimana teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh Akira Kurosawa-. Caranya melakukan montage, caranya melakukan mise en scène, menunjukkan bahwa Ray tidak terhambat oleh dana dan keamatiran pemainnya. Tidak dapat dipungkiri, film ini sangat penting untuk ditonton, terutama bagi mereka yang kadung mempunyai stereotip bahwa film India harus berisi tarian dan nyanyian.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

30hari30film: Malcolm X (1992)

30hari30film: Malcolm X (1992)
27 Ramadhan 1434 H


Malcolm X (1992) adalah film yang menceritakan tentang biografi pejuang orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bernama Malcolm X. Film yang disutradarai oleh Spike Lee tersebut menampilkan akting Denzel Washington yang sangat baik dalam memerankan tokoh yang lahir di tahun 1925 ini. Film Malcolm X, yang berdurasi lebih dari tiga jam, cukup lengkap dalam menceritakan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan orang yang bernama asli Malcolm Little tersebut. 

Film dimulai dari bagaimana Malcolm Little digambarkan mempunyai masa kecil yang traumatik karena keluarganya yang berkulit hitam kerapkali diteror oleh kelompok rasialis bernama Ku Klux Klan. Ayah Malcolm digambarkan sebagai pendeta yang mengajak jemaatnya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Afrika. Katanya, Amerika Serikat bukanlah tempat yang aman bagi kita semua. Rupanya rasialisme yang diterima Malcolm sejak kecil ini membentuk kepribadiannya ketika beranjak dewasa. Ia berkarir di Nation of Islam dan bersama Elijah Muhammad, ia menjadi orator ulung dalam menyebarkan keyakinan bahwa seyogianya orang kulit hitam dipisahkan dari orang kulit putih -alih-alih dileburkan-. Malcolm Little kemudian mengganti namanya menjadi Malcolm X. Katanya, "X" menggantikan nama budak kami sebelumnya. Nanti suatu saat ketika kami sudah merdeka dan hidup di tanah Afrika, "X" akan kami ganti dengan nama baru yang menunjukkan kemerdekaan kami. 

Rupanya tidak mudah untuk menggambarkan potret seorang Malcolm X di tengah kehidupannya yang cukup kontroversial. Ketika dirilis filmnya, Spike dan Denzel konon sudah mengantongi paspor untuk bersiap jika suatu hari mereka harus keluar dari Amerika Serikat karena mendapat tekanan dari film tersebut. Film Malcolm X tentu saja harus dilengkapi pengetahuan sejarah yang lebih komprehensif agar bisa dinikmati secara menyeluruh. Namun kita bisa melupakan itu semua ketika melihat bagaimana akting Denzel yang sempurna, seolah-olah menjadi Malcolm yang sebenarnya. 

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Superman: The Movie (1978)

26 Ramadhan 1434 H


Superman: The Movie (1978) adalah film tentang Superman, tokoh ciptaan Jerry Siegel dan Joe Shuster yang terlebih dahulu terkenal lewat komik. Tokoh Superman sudah malang melintang sejak tahun 1938. Meski demikian, ia baru mampu diwujudkan di layar kaca lima puluh tahun kemudian dengan Christopher Reeves berperan sebagai Superman -tentunya penantian lima puluh tahun ini terkait dengan pertimbangan teknologi-. Superman: The Movie disutradarai oleh Richard Donner dan skenarionya ditulis oleh Mario Puzo, David dan Leslie Newman, Robert Beriton, dan Tom Mankiewicz. Selain Christopher Reeve, Marlon Brando dan Gene Hackman ikut berperan sebagai Jor-El dan Lex Luthor.

Superman: The Movie diawali dari keadaan Planet Krypton yang berada di ujung kehancuran. Salah seorang penghuninya, Jor El (Marlon Brando), sempat menyelamatkan anaknya yang masih kecil, Kal El, dengan mengirimkannya ke Planet Bumi sebelum Planet Krypton akhirnya musnah. Di Bumi, Kal El mempunyai nama Clark Kent dan dibesarkan oleh pasangan yang kebetulan menemukannya, Jonathan dan Martha Kent. Karena mempunyai kekuatan super melebihi manusia lainnya, ia menjadi penyelamat bagi segala persoalan besar yang menimpa kota tempat tinggalnya, Metropolis. Meski mempunyai kekuatan amat kuat, Superman mendapat kesulitan ketika harus berhadapan dengan seorang ilmuwan bernama Lex Luthor (Gene Hackman).

Superman: The Movie adalah film dengan efek visual yang canggih -tidak hanya untuk jamannya, tapi juga dalam kacamata hari ini-. Adegan Superman terbang bersama dengan Lois Lane, wanita yang disukainya, di atas Kota Metropolis, masih adegan yang spektakuler. Hanya saja film ini terlalu sempurna untuk Superman. Ia begitu berkuasa penuh dan segalanya mudah di tangannya. Hal ini mungkin tidak masalah bagi mereka yang datang menyaksikan Superman: The Movie untuk menemukan hal-hal yang menyenangkan dari awal hingga akhir. Tapi bagi mereka yang ingin sedikit bumbu konflik dan teka-teki, Superman: The Movie tidak sanggup menyuguhkan itu. 

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Monday, August 5, 2013

30hari30film: The Beach (2000)

30hari30film: The Beach (2000)
25 Ramadhan 1434 H


The Beach (2000) adalah film yang disutradarai oleh Danny Boyle dan bercerita tentang kehidupan di sebuah pantai "rahasia". Di pantai tersebut, sebuah komunitas kecil hidup sebagai bentuk pelarian dari kehidupan perkotaan yang menjemukan. Film yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio, Virginie Ledoyen dan Guillaime Canet ini mengambil latar di Pulau Phi-Phi di wilayah Phuket, Thailand. 

Motivasi Richard (Leonardo di Caprio) menyeberang ke pantai rahasia tersebut diawali dari keinginannya untuk bertualang di Thailand. Ia menginginkan sebuah petualangan yang benar-benar menantang dan tidak ditopang oleh rasa aman. Keinginannya ini terjawab lewat peta yang diberikan oleh Daffy (Robert Carlyle). Setelah memberikan peta, Daffy bunuh diri dan meninggalkan rasa penasaran dalam diri Richard untuk benar-benar menemukan pulau yang tertera dalam peta tersebut. Ia mengajak kedua turis lainnya, Françoise (Virginie Ledoyen) dan Étienne (Guillaime Canet) untuk ikut menyeberang bersamanya. Ternyata pantai yang diidam-idamkan tidak sesepi yang mereka kira. Ada komunitas yang sudah terlebih dahulu bermukim. Mereka bertiga kemudian mencoba tinggal, beradaptasi, hingga akhirnya merasakan sejumlah keganjilan.

Film ini adalah film yang cukup bermuatan filosofis. Kita diajak untuk merenungkan apa sesungguhnya hakikat dari berkumpul bersama sesama manusia. Komunitas yang tinggal di pantai tersebut pada mulanya bertujuan untuk lepas dari kejenuhan hidup di perkotaan. Namun pelarian tersebut ternyata menciptakan suatu kecenderungan-kecenderungan sosial yang tidak baru sama sekali. Mereka, sebagaimana orang modern di perkotaan pada umumnya, pada akhirnya tetap tumbuh menjadi pribadi yang individualistik dan seperti kata Hobbes, menjadi homo homini lupus (manusia sebagai serigala bagi yang lainnya). Meski punya bahan untuk direnungkan, The Beach bukanlah film yang spesial.

Rekomendasi: Bintang Dua
Continue reading

30hari30film: Metal: A Headbanger's Journey (2005)

24 Ramadhan 1434 H



Metal: A Headbanger's Journey adalah film dokumenter yang bercerita tentang musik metal. Segala tetek bengek tentang musik yang konon dipelopori oleh Black Sabbath tersebut, dibahas oleh Sam Dunn dari aspek keilmuannya sebagai seorang antropolog. Sam, yang menyukai musik metal sejak usia dua belas tahun, mengajak penonton untuk mengenali bahwa metal adalah sebentuk identitas kultural -yang dalam konteks urban bisa dianggap sebagai sebuah kebudayaan tersendiri-. 

Dalam Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."

Sesuai apa yang diutarakan oleh Sam, film tersebut memang berhasil memberikan berbagai sudut pandang tentang musik metal. Antropolog tersebut berupaya menjawab stereotip-stereotip yang kadung melekat pada musik metal mulai dari tentang kultur, sensor lirik, isu-isu kematian, hingga pemujaan terhadap setan. Meski beberapa stereotip yang melekat tersebut memang ada benarnya setelah dikonfirmasi via wawancara (seperti Gaahl dari band Gorgoroth yang ia mengaku terinspirasi oleh setan), tapi juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa citra seram yang ditampilkan sesungguhnya tidak lebh dari aksi panggung dan luapan sensasi semata. Film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey adalah film yang cukup penting bukan saja bagi mereka penggemar musik metal, tapi juga bagi mereka yang hendak bersentuhan untuk pertama kalinya sehingga tidak mispersepsi terhadap kondisi sosio-kulturalnya yang cukup kompleks. 

Rekomendasi: Bintang Empat


Continue reading

Friday, August 2, 2013

30hari30film: Wedding Dress (2009)

30hari30film: Wedding Dress (2009)
23 Ramadhan 1434 H


Wedding Dress (2009) adalah film Korea (Selatan) lainnya yang bertema tragedi. Disutradarai oleh Kwon Hyeong-Jin, film ini bercerita tentang seorang anak bernama So-ra (Kim Hyang Gi) yang menghabiskan waktu bersama ibunya, Go-eun (Song Yun Ah), di hari-hari terakhir hidupnya. Sejak sang ibu divonis kanker rahim, hubungan keduanya berubah menjadi jauh lebih erat. Tadinya, Go-eun lebih banyak menghabiskan waktu di pekerjaannya sebagai perancang gaun sedangkan So-ra lebih sering diurus oleh bibinya. 

Wedding Dress adalah film yang menarik karena kita dimanjakan oleh akting Kim Hyang Gi yang sanggup menampilkan sisi jenaka dan memilukan sekaligus. Meski pemicu konflik sebenarnya terletak pada penyakit yang diderita oleh sang ibu, namun yang menjadi sentral film adalah bagaimana dinamika perasaan So-ra ditampilkan. Kita bisa jadi merasa sedih bukan disebabkan oleh kepergian Go-eun, melainkan bagaimana seorang So-ra, yang lugu, menyikapi tragedi ini dengan ketegaran. 

Film ini sedikit banyak mengingatkan pada Life is Beautiful karya sutradara Roberto Benigni. Keduanya punya kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai tema "ketegangan" antara bagaimana seorang dewasa mengatasi ketragisan hidupnya, dengan kenyataan bahwa dalam waktu bersamaan ia harus menjelaskan problem tersebut pada anaknya dengan bahasa yang bijaksana. Ketegangan semacam ini bisa jadi merupakan "formula kesedihan" yang laku dijual. 

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah
Continue reading

Thursday, August 1, 2013

30hari30film: Death Proof (2007)

30hari30film: Death Proof (2007)
22 Ramadhan 1434 H


Death Proof adalah film yang disutradari oleh Quentin Tarantino dan ambil bagian dalam paket bernama Grindhouse. Dalam paket Grindhouse tersebut, selain Death Proof, terdapat film lain yakni Planet Terror yang disutradarai oleh Robert Roriguez -agaknya Tarantino dan Rodriguez meniru gaya pemutaran jaman dahulu yang sering memaketkan dua film dalam satu pertunjukkan-. Keduanya sama-sama film yang tidak mementingkan isi cerita. Mereka berdua sebagai sutradara "spesialis B-movie" sedang ingin bermain-main dengan segala aspek yang biasa ada di film-film kelas dua seperti titik berat pada seks dan kekerasan. Hal tersebut kemudian ditunjang dengan visualisasi yang sengaja dibuat buruk seolah-olah film berkualitas rendah.

Death Proof bisa saja dikategorikan sebagai slasher film karena berkaitan dengan pembunuhan demi pembunuhan saja. Tapi kejeniusan Tarantino terlihat dari bagaimana ia menciptakan figur pembunuh berantai yang tidak umum. Alih-alih dengan senjata seperti pisau atau kail, pembunuh dalam film Death Proof yakni Stuntman Mike (Kurt Russell) menggunakan mobil Chevy Nova SS 396 tahun 1971 sebagai alat penjagalnya. Seperti pada umumnya slasher film, sasaran Stuntman Mike juga perempuan-perempuan muda dan cantik yang sedang bersenang-senang.

Barangkali bagi mereka yang tidak tahu karakteristik film-film Tarantino, Death Proof akan benar-benar dianggap sebagai film berkualitas rendah. Namun bagi mereka yang sudah kenyang bagaimana Tarantino berkreasi di film-filmnya seperti Reservoir Dogs, Pulp Fiction, Jackie Brown dan Kill Bill, pasti tahu bahwa segala "kejelekan" yang dibuat dalam Death Proof dilakukan dengan penuh kesengajaan. Tarantino sukses menjadi sutradara yang seolah-olah anti-art karena menyuguhkan estetika yang jauh dari arus besar film-film Hollywood. 

Rekomendasi: Bintang Dua


Continue reading

30hari30film: Jackie Brown (1997)

30hari30film: Jackie Brown (1997)
21 Ramadhan 1434 H


Jackie Brown adalah film ketiga yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Tarantino, seperti biasa, menyukai tema kriminal dan kekerasan yang ditampilkan dengan visualisasi a la film "kelas B". Meski terkesan murahan, film-film Tarantino tidak lantas kehilangan pengakuan baik dari penggemar maupun kritikus. Terbukti Jackie Brown meraih keuntungan besar secara finansial dan salah satu aktornya, Robert Forster, dinominasikan meraih Piala Oscar tahun 1998 untuk Aktor Pendukung Terbaik.

Jackie Brown bercerita tentang Jackie Brown (Pam Grier), perempuan yang berupaya untuk menyelundupkan uang pada pedagang senjata bernama Ordell Robbie (Samuel L. Jackson). Kemudian situasi menjadi pelik ketika Jackie tertangkap oleh detektif bernama Ray Nicolet (Michael Keaton) dan Mark Dargus (Michael Bowen). Ia menjadi bagian dari permainan besar antara Ordell, Ray dan Mark sendiri, plus Max Cherry (Robert Forster) dan Louis Gara (Robert de Niro). Upaya transaksi antara Jackie dan Ordell yang harusnya sederhana dan cepat, menjadi rumit dan berdarah.

Jackie Brown, sebagaimana film Tarantino, punya kekuatan salah satunya pada dialog. Dialog yang dimaksud bukan dialog yang penuh makna, melainkan justru dialog yang seolah-olah spontan dan terjadi dalam keseharian -istilah gampangnya, Tarantino lancar sekali menampilkan bagaimana orang saling mengobrol itu apa adanya-. Jackie Brown juga merupakan bukti kelihaian Tarantino tidak hanya dalam urusan penyutradaraan tapi juga penulisan skenario. Melihat estetikanya di awal film yang terkesan murahan, kita mungkin akan mengira Jackie Brown adalah film simpel yang tidak jauh dari urusan kriminal dan kekerasan. Mungkin sisi itu ada benarnya, tapi nilai seni yang ditawarkan Tarantino pun tidak kalah tingginya -secara visual, akting, dan pengembangan cerita yang menjadi rumit-.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading

Wednesday, July 31, 2013

30hari30film: Brazil (1985)

20 Ramadhan 1434 H


Terry Gilliam, sutradara film Brazil (1985), adalah anggota grup komedi terkenal asal Inggris bernama Monty Python. Kegilaannya tersebut tidak hanya disalurkan lewat Monty Python, melainkan juga melalui film-film yang ia sutradarai sejak tahun 1975. Hampir keseluruhan filmnya mengambil tema fantasi, futuristik, psikedelik, dan surealistik -tentu saja termasuk Brazil, filmnya yang keempat-. Film yang dibintangi oleh Jonathan Pryce, Robert de Niro, Kim Greist, dan Michael Palin ini mengambil tema masa depan yang distopis.

Film Brazil berpusat pada Sam Lowry (Jonathan Price) yang berupaya mencari perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya. Mimpinya tersebut menjadi semacam pelarian dari hidupnya yang berat: Bekerja di pangkat rendah, keadaan rumah yang mengkhawatirkan, dan situasi kota yang kompleks. Lowry punya peluang untuk menemukan perempuan dalam mimpinya yang diketahui bernama Jill Layton (Kim Greist), dengan bekerja pada kantor informasi. Lowry, di tengah-tengah geliat perkotaan yang absurd, kemudian mengejar Jill hingga ke ke dunia nyata.

Brazil, meski terdengar sederhana ceritanya, namun sebenarnya tidak terlalu mudah dimengerti. Gilliam agaknya lebih banyak bermain dengan visualisasi yang sureal sambil memberikan tekanan pada dunia masa depan yang jauh dari kegemerlapan dan harapan. Meski punya unsur komedi, namun sebagaimana Monty Python, candaannya lebih bernuansa gelap dan satir. Kita tahu seorang Gilliam, seperti dalam film lainnya macam The Adventures of Baron Munchausen, Fear and Loathing in Las Vegas, atau The Imaginarium of Doctor Parnassus, punya gaya mise-en-scene yang unik sehingga apa yang ditampilkannya punya kesan halusinatif dan dream-like. Film ini istimewa karena gaya Gilliam yang spesial dan rasa humornya yang kelam.

Rekomendasi: Bintang Tiga
Continue reading

Monday, July 29, 2013

30hari30film: For a Few Dollars More (1965)

19 Ramadhan 1434 H


For a Few Dollars More (1965) adalah film yang disutradarai oleh Sergio Leone dan merupakan bagian kedua dari trilogi yang disebut sebagai Dollars Trillogy - yang pertama berjudul A Fistful of Dollars, yang ketiga berjudul The Good, The Bad, and The Ugly-. Trilogi yang ketiganya menampilkan Clint Eastwood sebagai Koboi Tanpa Nama tersebut sering disemati label genre bernama spaghetti western. Spaghetti western berarti film "koboi rasa Italia" -merujuk pada kualitas film koboi yang mumpuni seringkali justru ada di tangan sutradara Italia daripada Amerika!-. Ketiga film tersebut selain dikenal karena akting Eastwood yang epik, juga disebabkan oleh musik garapan Ennio Morricone yang untuk ukuran masa itu terbilang mutakhir.

For a Few Dollars More, sebagaimana film koboi pada umumnya, tidak punya cerita yang istimewa. Isinya seputar uang, bandit, perempuan, sheriff, pembunuh bayaran, serta adegan tembak-tembakan. Ceritanya adalah tentang dua orang koboi, Monco (Clint Eastwood) dan Kolonel Douglas Mortimer (Lee Van Cleef) yang bekerjasama untuk menangkap penjahat bernama El Indio dengan iming-iming hadiah $ 10.000. Mereka berdua berpikir, bahwa untuk mengalahkan El Indio dan empat belas anak buahnya, harus ada yang menyusup dari dalam dan menjadi bagian dari geng bandit tersebut. Akhirnya Monco yang diputuskan untuk menjadi penyusup di geng El Indio dan berpura-pura untuk ikut serta membobol bank di El Paso. 

Spaghetti western barangkali tidak mempunyai titik berat pada cerita. Para sutradara Italia ini semisal Sergio Leone dan Sergio Corbucci (Django) sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis dan heroik. Cara Leone dalam membangun suspens sebelum gun fight digelar adalah ciri khas yang barangkali hanya terjadi di film-film "koboi rasa Italia". Kita tahu Leone sangat terinspirasi oleh bagaimana Akira Kurosawa menyutradarai sekumpulan film samurai yang adegan demi adegannya tersajikan dengan amat puitik. For A Few Dollars More sekilas seperti film murahan yang tidak punya tempat di sinema hari ini yang penuh dengan kompleksitas cerita dan permainan visual yang ruwet. Tapi sebenarnya karya Leone tersebut punya karakteristik yang tak tergantikan.

Rekomendasi: Bintang Empat
Continue reading

30hari30film: Project X (2012)

30hari30film: Project X (2012)
18 Ramadhan 1434 H


Project X (2012) adalah film komedi yang disutradarai oleh Nima Nourizadeh. Film tersebut bercerita tentang tiga orang bernama Thomas (Thomas Mann), Costa (Oliver Cooper), dan J.B. (Jonathan Daniel Brown) yang mengadakan pesta dalam rangka ulang tahun Thomas, namun kemudian berujung pada kerusuhan massal yang melibatkan media, polisi, hingga tim taktis (SWAT). Project X menarik karena menggunakan first person view. Kita, para penonton, menyaksikan pesta ulang tahun Thomas lewat kamera dari Dax yang juga terlibat dalam pesta. Memang jadinya Project X terasa seperti film yang dibuat secara sederhana, namun justru hal tersebut memberikan efek realistis, seolah-olah pesta ulang tahun Thomas tersebut benar-benar terjadi dan direkam oleh handycam.

Namun mungkin efek kamera itu adalah satu-satunya yang menjadi kelebihan Project X. Sisanya, film tersebut tidak punya sesuatu yang dapat disebut sebagai istimewa. Ceritanya standar, tentang kegilaan anak muda yang mengadakan pesta di luar kendali. Kita bisa bayangkan: ada banyak perempuan seksi, ada adegan seksual, ada banyak orang mabuk, ada kehancuran disana dan disini. Konfliknya pun tidak istimewa: Kenyataan bahwa rumah yang digunakan untuk pesta adalah rumah orangtuanya yang sedang tidak ada di tempat, lalu ketidaksetujuan para tetangga yang rumahnya terkena bising, serta sedikit bumbu-bumbu romansa yang tidak berkualitas. Film ini sama sekali tidak direkomendasikan kecuali sedang ingin tertawa sejenak dan sudah itu dilupakan selamanya.

Rekomendasi: Bintang Satu

Continue reading

Friday, July 26, 2013

30hari30film: Ben-Hur (1959)

30hari30film: Ben-Hur (1959)
17 Ramadhan 1434 H


Ben-Hur (1959) adalah film tentang seorang Yahudi bernama Judah Ben-Hur (Charlton Heston). Petualangan Ben-Hur tersebut bermula dari ia menjadi budak di kapal perang Romawi hingga kemudian ia sanggup bangkit menantang Messala, seorang Roma, untuk bertarung di arena balapan kereta perang (chariot). Petualangan tersebut digambarkan oleh sutradara William Wyler dalam durasi 3 jam 31 menit. Tak hanya mengenai Judah Ben-Hur dan aksi-aksinya, film Ben-Hur juga mengandung pesan religius yang kuat berkaitan dengan Kristianitas (Ben-Hur hidup di masa Yesus Kristus hidup dan ia menyaksikan sendiri penyaliban Sang Mesias).

Ben-Hur meraih 11 Piala Oscar dan hanya bisa ditandingi puluhan tahun kemudian oleh Titanic (1997) dan The Lord of The Rings: The Return of The King (2003). Film yang dibuat berdasarkan novel berjudul Ben-Hur: A Tale of The Christ karangan Lew Wallace tersebut merupakan film dengan biaya produksi termahal pada jamannya. Komposisi musik dari Miklós Rózsa ikut melengkapi film Ben-Hur yang konon dibuat sebagai bentuk jawaban atas tuduhan terhadap film-film Hollywood yang pada masa itu dianggap tidak mendidik.

Ben-Hur -meski barangkali sulit untuk dikonsumsi oleh generasi penikmat film hari ini oleh sebab durasinya yang amat panjang- merupakan salah satu film terpenting dalam sejarah sinema Hollywood. Adegan pertarungan chariot antara Ben-Hur dan Messala ditampilkan dengan spektakuler dan memikat tidak hanya bagi jamannya saja, tapi mungkin juga oleh kita yang menyaksikannya sekarang. Tema biblikal yang diusungnya pun dibuat sedemikian rupa agar muncul sedikit saja dalam film tapi mengena. Film ini mungkin terlalu naif bagi mereka yang tidak berminat dengan tema-tema religius. Tapi lepas daripada dogma yang ditawarkannya, secara estetika, Ben-Hur masuk kategori film yang harus ditonton.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

Thursday, July 25, 2013

30hari30film: Spiklenci Slasti (1996)

30hari30film: Spiklenci Slasti (1996)
16 Ramadhan 1434 H


Spiklenci Slasti (1996) atau Conspirators of Pleasure adalah film tanpa dialog yang disutradarai oleh seorang Ceko bernama Jan Švankmajer. Film ini bercerita tentang beberapa orang yang mempunyai kebiasaan ganjil dalam memenuhi hasrat seksualnya. Meski demikian, Švankmajer tidak sedang menampilkan pornografi. Tanpa pemandangan penis atau vagina, film Spiklenci Slasti sanggup menampilkan bagaimana orang-orang tersebut dipuaskan dengan benda-benda yang dikonstruksinya sendiri.

Pivonka, ia menikmati menjadi seseorang yang berkuasa di hadapan gadis yang disandera. Berkebalikan dengannya, Loubalová senang menjadi bos akan laki-laki yang tak berdaya di hadapan pecutnya. Sementara seorang detektif bernama Beltinsky punya cara tersendiri untuk memuaskannya, yakni dengan bulu dan benda-benda tajam. Malková, si perempuan tukang pos, senang memasukkan roti yang sudah ia comoti dan dibentuk menjadi bulatan kecil, ke telinga dan hidungnya. Penjual majalah bernama Kula diam-diam ia menyimpan hasrat pada pembaca berita bernama Beltinska. Setiap ia sedang membacakan majalah, Kula melakukan zoom-in agar wajahnya lebih jelas. Sementara Beltinska, si pembaca berita, mendapatkan kepuasan lewat ikan-ikan yang dibiarkan mengisap jari-jari kakinya. Keseluruhan tokoh dalam cerita ini punya keterkaitan satu sama lain.

Spiklenci Slasti adalah film yang cukup menarik karena sorotan yang cukup detail ketika orang-orang tersebut sedang membangun alat pemuat hasratnya. Švankmajer tampak sepaham dengan Freud tentang bagaimana sesungguhnya alam bawah sadar manusia adalah semata-mata tentang hasrat. Bedanya, terdapat orang-orang tertentu yang begitu menikmati rangsangan-rangsangan seksual yang oleh orang kebanyakan dianggap menyakitkan -seringkali disebut dengan BDSM atau Bondage, Discipline, Sadism, Masochism-. Spiklenci Slasti mengajak kita untuk lebih dekat dan lebih ekstrim melihat bagaimana perilaku BDSM tersebut dengan gaya yang artistik dan jauh dari kesan menjijikkan.

Rekomendasi: Bintang Lima

Continue reading

Wednesday, July 24, 2013

30hari30film: Memento (2000)

30hari30film: Memento (2000)
15 Ramadhan 1434 H


Christopher Nolan adalah sutradara yang sukses membuat tiga film Batman terakhir (Batman Begins, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises) menjadi lebih psikologis ketimbang laga-sentris. Yang demikian ternyata memang merupakan ciri khas Nolan dari sejak sebelum menggarap Batman. Dari sejak tiga film pertamanya yakni Following, Memento, dan Insomnia, Nolan memang akrab dengan gaya psychological thriller yang membuat penonton lebih tertarik pada apa yang ada di dalam alam pikiran para pemain ketimbang apa yang dilakukannya.

Memento (2000) adalah film yang berpusat pada Leonard Shelby (Guy Pearce), seorang pria yang bermasalah dengan memorinya -kerap mengalami kelupaan akan apa-apa yang sudah ia lakukan di hari sebelumnya-. Leonard, dengan keterbatasan ingatannya, berupaya membalas dendam pada orang yang membunuh istrinya. Untuk mengatasi penyakitnya tersebut, Leonard mencatat segala hal yang perlu ia ingat dari mulai dengan foto, nota, hingga tato di tubuhnya. 

Dengan gaya penceritaan yang melompat-lompat, Nolan menciptakan suatu efek psikologis yang serius tentang memory loss. Ia ingin agar tidak hanya Leonard yang mengalami keterbatasan ingatan tersebut, melainkan penonton juga ikut diajaknya. Di film Memento, kita akan menyaksikan betapa cepatnya Nolan mengalihkan satu adegan ke adegan lain di ruang dan waktu yang berbeda. Lompatan demi lompatan ini sama sekali tidak menimbulkan efek gembira. Justru kita diajak menyelami palung kejiwaan yang terdalam dari sang protagonis. Film-film Nolan mungkin tidak akan mudah dipahami kebanyakan orang, tapi -sebagaimana sutradara berkarakter lainnya- jelas ia mempunyai penggemar fanatiknya sendiri.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Continue reading