Tuesday, December 25, 2012

Lima Puluh Tahun di Bawah Langit


Hidup manusia
Hanya lima puluh tahun di bawah langit.
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia.
Hidup hanya sekali.
Adakah yang tidak akan hancur?


Syair kesukaan Oda Nobunaga tersebut terngiang-ngiang di dalam karya besar Eiji Yoshikawa selain Musashi yang berjudul Taiko. Sebelum membahas isinya, penting bagi saya untuk menceritakan bahwa sejarah kehadiran buku ini bisa dibilang cukup sentimentil. Taiko adalah hadiah pernikahan bagi saya dan istri dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Ia memberikannya pada sekitar tanggal 3 Februari, satu hari sebelum pernikahan kami.

Jujur saja, sewaktu menerima ini, ada perasaan senang sekaligus bingung. Bingung karena saya tidak punya tradisi membaca novel yang tebalnya ribuan halaman. Melihatnya secara sepintas pun terasa ngeri. Namun setelah memaksakan diri menamatkan Musashi yang sama tebalnya, saya mendapatkan motivasi dari Bambang Q-Anees, seorang dosen. Katanya, "Setelah baca Musashi, lengkapi dengan baca Taiko. Musashi mengajarkan teguh dalam kesendirian, Taiko mengajarkan bagaimana bersiasat menghadapi orang banyak."  Motivasi itu dilipatgandakan dengan mengajak Palupi Kinkin, kawan di Tobucil, untuk berseteru tentang siapa yang sanggup menamatkan buku dengan tebal 1140 halaman ini. Dengan motif-motif luar tersebut, akhirnya saya sukses menamatkannya dalam kurang dari dua bulan. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah karena Taiko secara penokohan jelas lebih kompleks daripada Musashi.  

Taiko mengambil latar periode Sengoku di Jepang. Ada tiga calon pemimpin yang masa itu tengah menonjol yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya hadir ketika Jepang tengah dilanda perang antar propinsi yang sangat dahsyat. Taiko menitikberatkan ceritanya pada Hideyoshi -Nobunaga disinggung banyak, Ieyasu sedikit-. Ceritanya dianggap menarik karena menurut catatan sejarah, ia lah satu-satunya calon pemimpin yang sama sekali tidak mempunyai keturunan penguasa. 

Hideyoshi betul-betul anak desa biasa dengan kemiskinan di bawah rata-rata, yang bahkan di usia muda hidupnya lebih sering diliputi kegagalan. Hidupnya berubah perlahan-lahan ketika secara nekat ia menawarkan diri jadi pengikut Nobunaga. Nobunaga acuh tak acuh menerima tawarannya karena kasihan. Pelan-pelan Si Monyet -julukan Hideyoshi karena tampangnya yang mirip monyet- mengalami peningkatan jabatan seiring dengan kesetiaan dan kecakapannya. Ia naik pangkat menjadi pembawa sandal, pemimpin dapur, pemimpin proyek pembangungan benteng, pemimpin pasukan infantri kecil, penasehat Nobunaga, pemimpin rombongan besar penaklukkan ke propinsi Barat. hingga berkembang menjadi penumpas pemberontakan Akechi Mitsuhide, yang ditutup secara gemilang dengan gelar penguasa negeri.

Dalam hal detail, Yoshikawa kembali patut mendapat acungan jempol. Bahkan untuk Taiko, rasa-rasanya riset sejarah harus lebih dalam dan menyeluruh ketimbang Musashi. Musashi, bagaimanapun, mencitrakan dirinya sebagai ronin yang jauh dari kemashyuran sehingga peluang untuk membangun latar secara fiktif jauh lebih terbuka. Sedangkan menovelisasikan sejarah Jepang Periode Sengoku adalah berarti harus mencermati teks demi teks, sehingga pengembangannya pun diwajibkan mematuhi sejumlah rambu-rambu historis. Namun Yoshikawa seolah tidak tertekan dengan itu. Ia membubuhkan fantasinya dimana-mana, namun tetap memberikan edukasi tiada terkira. Bahkan sosok Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu menjadi sangat hidup, dekat, dan bahkan mengundang simpati -Mba Palupi mengaku patah hati ketika mengetahui Nobunaga melakukan seppuku karena dikhianati Mitsuhide, sehingga ia memutuskan untuk menunda membaca sekian lama-. Inilah novel yang bagi saya tidak penting lagi batas antara fiksi dan non-fiksi. Kita bisa saja mengetahui sosok Hideyoshi dari teks-teks sejarah, tapi ia tidak cukup untuk menjadi hidup dan bergerak dalam benak, jika tidak difantasikan secara hidup pula. 

Pertanyaan berikutnya: Apa yang bisa dipetik dari novel epik ini? 

Banyak sekali. Novel ini adalah tentang siasat politik dan perang. Dulu saya berpikir bahwa ketika seseorang memilih jalur politik, maka ia sudah pasti mencemplungkan dirinya pada lumpur. Sudah pasti ia kotor dan maka itu bersebrangan dengan "kaum non-politis" seperti misalnya kaum agamawan atau spiritualis -oh, betapa naifnya saya!-. Namun rasa-rasanya setiap orang tidak bisa dilepaskan dari tindakan politis. Setiap orang bersiasat, bahkan antara dirinya dengan Tuhan. Taiko mengajarkan bahwa siasat demi siasat tidak identik dengan kebusukan hati. Dalam buku itu tetap ada: Orang yang bersiasat dengan hati yang luhur, dan orang yang bersiasat dengan hati yang rendah. Nobunaga pernah membakar Gunung Hiei yang isinya kuil-kuil bersejarah dengan bhiksu-bhiksu karismatik. Namun ia melakukannya karena suatu pandangan ke depan: Bhiksu-bhiksu itu bersenjata, berkomplot, dan memihak. Alangkah lebih baik membumihanguskan semua ketimbang menyisakan satu dua tapi menjadi bibit bencana. 

Hideyoshi adalah diplomat ulung -kata "diplomasi" tiada disinggung dalam novel-. Ia lebih baik menghabiskan waktu perang dengan bernegosiasi daripada menumpahkan darah. Ia memperhitungkan segala hal hingga ke rinci-rincinya, sebelum datang seorang diri menghadap musuh untuk berbicara dengan cara yang aneh: lemah tapi tegas, merendah tapi tampak tinggi, halus tapi kasar. Hideyoshi seolah punya anggapan: pertempuran fisik bisa saja dilakukan, tapi jika musuh punya ketetapan hati yang kuat, maka meski luluh lantak pasukannya, pemikirannya akan tetap mengancam. Hideyoshi selalu punya keberanian untuk mencoba masuk ke jantung hati lawan, langsung menyentuh sanubarinya untuk menyerahkan diri atau berpihak kepadanya. Seperti kata-kata di halaman depan: Nobunaga akan membunuh burung jika tidak mau berkicau, Hideyoshi akan membuat burung itu ingin berkicau, Ieyasu akan menunggu.

Namun segala siasat, taktik politik, pertumpahan darah, pemenggalan kepala, dan pengibaran panji-panji, tidak membuat novel ini kehilangan kedalamannya -seolah-olah segala unsur-unsur yang saya sebutkan tadi hanya berkisar di tataran nafsu rendah manusia-. Kita kembali ke syair favorit Nobunaga yang kalimat di baris pertama sering disinggung-singgung dalam novel: Lima puluh tahun di bawah langit. Kalimat itu tidak saya pahami sebelum masa ketika akhirnya sang penguasa negeri membelah perutnya sendiri. Ternyata inilah kedalaman yang ditawarkan si novel: Bahwa segala ambisi dan nafsu manusia hanya dinaungi hingga lima puluh tahun usia. Setelah itu mungkin ia masih akan mewujudkan sejumlah mimpinya, namun di saat yang sama, ia pun tentu saja berpikir tentang dekatnya sang ajal. Inilah kalimat menarik ketika Kuil Honno, tempat kediamannya, diserang pengkhianat bernama Akechi Mitsuhide:


Lima puluh tahun umur manusia di bawah langit. Itulah salah satu bait dari sandiwara yang begitu digandrungi Nobunaga, sebuah syair yang mencerminkan pandangan hidupnya di masa muda. Peristiwa yang kini dialaminya tidak dianggap sebagai peristiwa yang mengguncangkan dunia. Dan ia sama sekali tak gentar oleh pikiran bahwa ajalnya mungkin sudah dekat.

Pada usia lima puluh juga, Hideyoshi meraih kekuasaan tertingginya. Ia menyebutnya sebagai puncak tertinggi seorang laki-laki. Konfusius, sang saga, pernah berujar, "Pada usia lima puluh, aku sudah mengetahui kehendak surga." Isu usia ini tentu saja mudah untuk diperdebatkan karena toh kita menemukan bahwa ada juga orang berusia lima puluh yang masih kebingungan dan jauh dari ketetapan hati. Tapi bagi saya pribadi, kalimat lima puluh tahun di bawah langit ini sangat bermakna, terutama tentang bagaimana saya selalu dihantui pertanyaan tentang bagaimana perasaan mereka, terutama yang sudah tua, tentang kenyataan bahwa ajal selalu mengintipnya. Anak muda selalu mengenyahkan pertanyaan tentang kematian, seperti ia bukan bagian dari keseharian yang bisa terjadi kapan saja. Manusia berkepribadian agung seperti Nobunaga, yang mempunyai kekuasaan dunia yang sangat luas, ternyata termasuk ke dalam mereka yang tidak takut akan kematian -para sufi yang menganut kezuhudan (hidup sederhana) dan para bhiksu sering berdalih bahwa harta duniawi lah yang membuat seseorang takut akan mati-. Namun Nobunaga berpendapat lain: Usia lima puluh, jika iya kita sudah menghabiskan sepanjang hidup untuk mewujudkan cita-cita, maka sisa usia adalah tentang bagaimana kita mati tanpa rasa sesal.

Previous Post
Next Post

0 comments: