Friday, December 7, 2012

Bane


Akibat sibuk menjalankan ibadah nonton tiga puluh film dalam tiga puluh hari bulan Ramadhan, saya dengan konyol melewatkan salah satu film terbaik tahun ini: The Dark Knight Rises yang marak diputar di bulan puasa. Bagian terakhir dari trilogi Batman karya sutradara Christopher Nolan ini baru saya tonton kemarin malam.

Kekeliruan pertama dalam menyaksikan rangkaian film Batman-nya Nolan ini adalah menganggapnya sebagai film hiburan sebagaimana yang sudah disajikan dulu oleh Tim Burton ataupun Joel Schumacher. Batman garapan Nolan adalah Batman yang penuh pergumulan psikologis maupun filosofis. Aksinya yang dahsyat -yang tentu saja sudah ditopang teknologi yang jauh lebih canggih ketimbang pendahulunya-, berlangsung tidak sebanyak dialognya yang sepertinya ingin lebih ditekankan oleh Nolan. Bagi mereka yang hanya berharap menyaksikan Batman beradu jotos secara full-action, tentu saja kehilangan banyak gizi jika tidak memerhatikan konten percakapan.

Ada satu ciri khas yang cukup menarik setidaknya dari dua film Batman terakhir yaitu The Dark Knight dan The Dark Knight Rises, yaitu bagaimana Nolan sanggup membuat penontonnya menyimpan simpati aneh terhadap para tokoh yang sudah secara tradisional merupakan antagonis sempurna seperti Joker dan Bane. Joker, kita tahu, diperankan dengan sempurna oleh almarhum Heath Ledger. Meski tidak semenjulang Ledger, Tom Hardy tidak kalah baiknya memerankan teroris intelek Bane -baik Joker maupun Bane kita sadari membuat posisi penonton kadang bimbang: Apakah betul keduanya jahat, atau malah Batman yang jahat?-

Bane, setelah menyekap Bruce Wayne di penjara bawah tanah yang "filosofis" -di penjara tersebut, para tahanan bisa menyaksikan langit cerah. Hal tersebut justru menyiksa karena seolah ada harapan untuk kabur padahal nyaris mustahil-, kemudian membuat situasi anarkis di Kota Gotham. Seisi kota dibuat tanpa kepemimpinan dan membiarkan rakyat mengontrol nasibnya sendiri-sendiri. Kota Gotham menjadi seperti milik bersama karena tiada lagi legitimasi kekuasaan maka itu yang kuat menjadi pemenang. Salah satu efek menarik dari anarki ciptaan Bane ini -dan sangat dirindukan oleh warga Indonesia- adalah bagaimana orang-orang kaya yang bersalah bisa diadili oleh rakyat dan dieksekusi saat itu juga.

Bane menciptakan khaos, itu jelas. Ia adalah antagonis yang meresahkan, membuat penonton gereget menanti Batman menata kembali Kota Gotham. Namun sadari sejenak bagaimana anarkisme ini ternyata menyenangkan juga, terutama ketika melihat para teroris binaan Bane bisa secara terbuka berperang melawan polisi yang cuma bermodalkan pentungan dan handgun seadanya. Pada situasi ini, polisi sebagai instrumen penegak hukum menjadi tidak lebih dari sekadar rakyat biasa berbaju hitam. Yang menang adalah mereka yang secara akses terhadap sumber daya jauh lebih terbuka -Dalam hal ini, kelompok Bane lebih unggul karena punya senjata-. 

Jika logika ini dibalik, tidakkah sesungguhnya kekuasaan juga hanya sekadar urusan akses terhadap sumberdaya? Tidakkah apa yang dimaksud dengan 'pemerintah', adalah tidak lebih dari sekumpulan orang rakus yang mempunyai sumberdaya lebih dan hanya mau dibagi sedikit dengan sesama? Mereka sesekali berbagi, agar wibawanya sebagai pemegang akses sumberdaya terjaga, maka itu posisi kekuasaan menjadi langgeng. Bane dengan ekstrim mewacanakan suatu perspektif yang berani: Apa jadinya jika segalanya dimulai dari nol. Tidakkah menjadi semacam fitrah manusia untuk mencari akses terhadap sumberdaya, sehingga daya tahan mereka untuk hidup lebih panjang menjadi terjamin?

Lebih jauh lagi, Bane hendak berkata tentang irelevansi pertentangan kapitalisme dan komunisme. Pada dasarnya keduanya berada dalam lubuk fitrah manusia sekaligus. Ketika kamu disejajarkan, kamu ingin menonjol. Ketika kamu menonjol, kamu ingin berpura-pura sejajar, agar terus menonjol!
Previous Post
Next Post

0 comments: