Senin, 31 Desember 2012

Dwilogi Novel Padang Bulan: Sastra Motivasi dan "Tampak Keren"


Setelah tandas membaca Taiko yang tebalnya 1140 halaman, saya coba cari novel yang sekiranya tidak terlalu berat untuk diselesaikan. Akhirnya saya temukan novel ini: Dwilogi Padang Bulan karya penulis Andrea Hirata yang naik daun oleh sebab Laskar Pelangi-nya. Saya belum membaca novel dia yang manapun. Ini adalah yang perdana.

Hanya dua hari saya perlukan untuk menyelesaikan kedua buku yang terkemas dalam dwilogi Padang Bulan yaitu Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Tidak ada kerut kening atau membulak-balik halaman ke belakang untuk menyusun kepingan memori karena tertumpuk alur atau penokohan yang kompleks. Teknik bercerita Andrea sangat mengalir, ringan, dan tak jarang membuat saya menyunggingkan senyuman. Senyum ini bisa disebabkan oleh hal yang memang mengandung kejenakaan, bisa juga karena saya tak habis pikir: Mengapa bisa tulisan semacam ini jadi seperti apa yang dicapkan di sampul depannya: Mega Bestseller -Terjual 25.000 eksemplar dalam 2 minggu. Pertanyaan kemudian muncul: Orang banyak yang tidak paham sastra, atau malah saya?

Tentu saja saya punya sejumlah argumen mengapa novel Andrea Hirata ini tidak pantas disejajarkan dengan penulis Indonesia lain sekelas Ayu Utami atau Nukila Amal misalnya. Pertama, adalah bagaimana Andrea begitu gatal ingin memamerkan sejumlah referensi "tampak keren" agar dirinya terlihat mempunyai wawasan yang melimpah. Berikut contoh uraiannya:

1) Kini ia duduk di depanku, sesosok perempuan perkasa, dengan lengan lebih besar dari lenganku. Dua orang petinju kulihat telah menguasai perempuan itu: Sugar Ray Leonard di lehernya, Thomas Hearns di bahunya. Kakinya kukuh seperti rusa Thomson.

2) Tujuh pionnya yang tersisa menjelma menjadi tujuh samurai: Kambei Shimada, Katsushiro, Kyuzo, Gorobei, Shichiroji, Heihachi, dan Kikuchiyo. 
Ketujuh samurai berjibaku secara kesatria walau kekuatan tak berimbang. Shichiroji tewas. Sisa enam pasukan Maryamah menjelma menjadi The Braveheart -WilliamWalace- dan lima pembebas Skotlandia sampai William Wallace mangkat. 
Lima warrior Skotlandia yang tersisa langsung berubah menjadi Power Rangers. Mereka berperang tak kenal takut. Menteri Syamsuri Abidin yang keji menghabisi Ranger Pink. Penonton berulang kali mengejek Maryamah agar meletakkan pedangnya di tanah, namun perempuan itu bertekad untuk membela kehormatannya sampai titik darah penghabisan.
Empat pion terakhir Maryamah mengubah dirinya menjadi Kura-Kura Ninja. Pertempuran sengit meletus sampai kura-kura Donatello mengembuskan napas yang terakhir. Tiga prajurit tersisa dengan cepat menjelma menjadi The Three Musketeers. Dalam sebuah penyergapan, D'Artagnan, salah satu dari Musketeers menjadi almarhum lantaran dibunuh luncus Syamsuri Abidin.

Dari segelintir paragraf yang diuraikan di atas, simak bagaimana penulis begitu ingin memperlihatkan keluasan wawasannya akan budaya pop dan pengetahuan umum. Hal tersebut tidak berlangsung dalam sedikit halaman, melainkan mendominasi seisi buku. Mungkin bagi sebagian pembaca, hal ini amat terpuji. Namun bagi pembaca yang sudah biasa membaca novel-novel berbobot yang ditulis oleh penulis berwawasan betul-betul luas, mungkin akan merasa upayanya ini justru menunjukkan kekurangan wawasan -ketidakpercayadirian akut sehingga harus mencomot istilah-istilah yang "tampak keren"-.

Pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa harus dijadikan dwilogi? Jujur, saya baru mendengar istilah dwilogi. Yang lebih umum barangkali trilogi ataupun -belakangan- tetralogi. Jika mau dibagi berdasarkan tema ataupun penokohan, baik Padang Bulan maupun Cinta di Dalam Gelas bisa dibilang mirip-mirip. Keduanya masih berpusat pada dua orang tokoh utama yaitu Ikal dan Maryamah. Bahasa gampangnya: Buku ini tidak perlu diberi label dwilogi, atau malah tak perlu dibagi dalam dua buku. Satu buku saja sudah cukup. Kecurigaan saya, diberi istilah dwilogi, lagi-lagi, demi teknik pemasaran yang berbasiskan istilah-istilah "tampak keren".

Terakhir, soal makna. Novel ini -salah, dwilogi novel ini- barangkali bertemakan sesuatu yang sedang digandrungi oleh masyarakat kita. Temanya sangat memotivasi: Perjuangan Maryamah yang kehilangan ayah sejak kecil, untuk kemudian berjuang mencari pekerjaan, sampai akhirnya menjadi perempuan pendulang timah pertama di dunia. Belum habis sampai situ, Maryamah melanjutkan perjuangannya dengan mengalahkan mantan suaminya, Matarom, di pertandingan catur. Yang mengharukan tentu saja sisi dimana Maryamah yang tadinya tidak bisa bermain catur, menjadi bisa oleh suatu perjuangan yang keras dan menjadi pesan cukup jelas: "Kita semua bisa jika semangat dan bersungguh-sungguh!". 

Ikal pun tak kalah menunjukkan perjuangannya -saya curiga Ikal ini adalah Ikal yang sama dengan yang ada di Laskar Pelangi. Ikal adalah panggilan lain dari sang penulis, Andrea Hirata. Berarti, buku-buku Andrea adalah selalu menceritakan dirinya yang penuh motivasi-. Ia mengejar cintanya, A Ling, dengan tekad yang kuat meski dirinya serba berkekurangan dibanding sang rival, Zinar. Di buku Cinta di Dalam Gelas, Ikal menjadi penjaga warung kopi, dimana ia diam-diam mencatat segala gerak-gerik para peminum kopi sehingga karakternya dan mood-nya bisa ditelaah satu persatu. Bagian pembukuan gerak-gerik peminum kopi ini, bagi saya, cukup menyelamatkan buku ini dari tuduhan dangkal total. Meski ditulis dengan gaya ringan dan jenaka, namun Andrea sepertinya melakukan survey yang cukup untuk ini -nah, kita bisa tahu bahwa tulisan ringan pun bisa kelihatan pintar walaupun tidak ditonjol-tonjolkan-. 

Buku ini menegaskan satu mitos yang diungkap oleh kawan saya, Pirhot Nababan, "Penulis Indonesia rata-rata memforsir diri untuk buku pertama. Setelah itu ia kehabisan tenaga." Betul, dwilogi novel Padang Bulan adalah contoh betapa Andrea kehabisan inspirasi sehabis dimabuk kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi. Ia berupaya membubuhkan disana-sini tambahan topik-topik kecil agar novelnya tampak tebal. Namun itu tidak membuat  novel tersebut menjadi punya bobot. 

Continue reading

Selasa, 25 Desember 2012

Lima Puluh Tahun di Bawah Langit


Hidup manusia
Hanya lima puluh tahun di bawah langit.
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia.
Hidup hanya sekali.
Adakah yang tidak akan hancur?


Syair kesukaan Oda Nobunaga tersebut terngiang-ngiang di dalam karya besar Eiji Yoshikawa selain Musashi yang berjudul Taiko. Sebelum membahas isinya, penting bagi saya untuk menceritakan bahwa sejarah kehadiran buku ini bisa dibilang cukup sentimentil. Taiko adalah hadiah pernikahan bagi saya dan istri dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Ia memberikannya pada sekitar tanggal 3 Februari, satu hari sebelum pernikahan kami.

Jujur saja, sewaktu menerima ini, ada perasaan senang sekaligus bingung. Bingung karena saya tidak punya tradisi membaca novel yang tebalnya ribuan halaman. Melihatnya secara sepintas pun terasa ngeri. Namun setelah memaksakan diri menamatkan Musashi yang sama tebalnya, saya mendapatkan motivasi dari Bambang Q-Anees, seorang dosen. Katanya, "Setelah baca Musashi, lengkapi dengan baca Taiko. Musashi mengajarkan teguh dalam kesendirian, Taiko mengajarkan bagaimana bersiasat menghadapi orang banyak."  Motivasi itu dilipatgandakan dengan mengajak Palupi Kinkin, kawan di Tobucil, untuk berseteru tentang siapa yang sanggup menamatkan buku dengan tebal 1140 halaman ini. Dengan motif-motif luar tersebut, akhirnya saya sukses menamatkannya dalam kurang dari dua bulan. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah karena Taiko secara penokohan jelas lebih kompleks daripada Musashi.  

Taiko mengambil latar periode Sengoku di Jepang. Ada tiga calon pemimpin yang masa itu tengah menonjol yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya hadir ketika Jepang tengah dilanda perang antar propinsi yang sangat dahsyat. Taiko menitikberatkan ceritanya pada Hideyoshi -Nobunaga disinggung banyak, Ieyasu sedikit-. Ceritanya dianggap menarik karena menurut catatan sejarah, ia lah satu-satunya calon pemimpin yang sama sekali tidak mempunyai keturunan penguasa. 

Hideyoshi betul-betul anak desa biasa dengan kemiskinan di bawah rata-rata, yang bahkan di usia muda hidupnya lebih sering diliputi kegagalan. Hidupnya berubah perlahan-lahan ketika secara nekat ia menawarkan diri jadi pengikut Nobunaga. Nobunaga acuh tak acuh menerima tawarannya karena kasihan. Pelan-pelan Si Monyet -julukan Hideyoshi karena tampangnya yang mirip monyet- mengalami peningkatan jabatan seiring dengan kesetiaan dan kecakapannya. Ia naik pangkat menjadi pembawa sandal, pemimpin dapur, pemimpin proyek pembangungan benteng, pemimpin pasukan infantri kecil, penasehat Nobunaga, pemimpin rombongan besar penaklukkan ke propinsi Barat. hingga berkembang menjadi penumpas pemberontakan Akechi Mitsuhide, yang ditutup secara gemilang dengan gelar penguasa negeri.

Dalam hal detail, Yoshikawa kembali patut mendapat acungan jempol. Bahkan untuk Taiko, rasa-rasanya riset sejarah harus lebih dalam dan menyeluruh ketimbang Musashi. Musashi, bagaimanapun, mencitrakan dirinya sebagai ronin yang jauh dari kemashyuran sehingga peluang untuk membangun latar secara fiktif jauh lebih terbuka. Sedangkan menovelisasikan sejarah Jepang Periode Sengoku adalah berarti harus mencermati teks demi teks, sehingga pengembangannya pun diwajibkan mematuhi sejumlah rambu-rambu historis. Namun Yoshikawa seolah tidak tertekan dengan itu. Ia membubuhkan fantasinya dimana-mana, namun tetap memberikan edukasi tiada terkira. Bahkan sosok Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu menjadi sangat hidup, dekat, dan bahkan mengundang simpati -Mba Palupi mengaku patah hati ketika mengetahui Nobunaga melakukan seppuku karena dikhianati Mitsuhide, sehingga ia memutuskan untuk menunda membaca sekian lama-. Inilah novel yang bagi saya tidak penting lagi batas antara fiksi dan non-fiksi. Kita bisa saja mengetahui sosok Hideyoshi dari teks-teks sejarah, tapi ia tidak cukup untuk menjadi hidup dan bergerak dalam benak, jika tidak difantasikan secara hidup pula. 

Pertanyaan berikutnya: Apa yang bisa dipetik dari novel epik ini? 

Banyak sekali. Novel ini adalah tentang siasat politik dan perang. Dulu saya berpikir bahwa ketika seseorang memilih jalur politik, maka ia sudah pasti mencemplungkan dirinya pada lumpur. Sudah pasti ia kotor dan maka itu bersebrangan dengan "kaum non-politis" seperti misalnya kaum agamawan atau spiritualis -oh, betapa naifnya saya!-. Namun rasa-rasanya setiap orang tidak bisa dilepaskan dari tindakan politis. Setiap orang bersiasat, bahkan antara dirinya dengan Tuhan. Taiko mengajarkan bahwa siasat demi siasat tidak identik dengan kebusukan hati. Dalam buku itu tetap ada: Orang yang bersiasat dengan hati yang luhur, dan orang yang bersiasat dengan hati yang rendah. Nobunaga pernah membakar Gunung Hiei yang isinya kuil-kuil bersejarah dengan bhiksu-bhiksu karismatik. Namun ia melakukannya karena suatu pandangan ke depan: Bhiksu-bhiksu itu bersenjata, berkomplot, dan memihak. Alangkah lebih baik membumihanguskan semua ketimbang menyisakan satu dua tapi menjadi bibit bencana. 

Hideyoshi adalah diplomat ulung -kata "diplomasi" tiada disinggung dalam novel-. Ia lebih baik menghabiskan waktu perang dengan bernegosiasi daripada menumpahkan darah. Ia memperhitungkan segala hal hingga ke rinci-rincinya, sebelum datang seorang diri menghadap musuh untuk berbicara dengan cara yang aneh: lemah tapi tegas, merendah tapi tampak tinggi, halus tapi kasar. Hideyoshi seolah punya anggapan: pertempuran fisik bisa saja dilakukan, tapi jika musuh punya ketetapan hati yang kuat, maka meski luluh lantak pasukannya, pemikirannya akan tetap mengancam. Hideyoshi selalu punya keberanian untuk mencoba masuk ke jantung hati lawan, langsung menyentuh sanubarinya untuk menyerahkan diri atau berpihak kepadanya. Seperti kata-kata di halaman depan: Nobunaga akan membunuh burung jika tidak mau berkicau, Hideyoshi akan membuat burung itu ingin berkicau, Ieyasu akan menunggu.

Namun segala siasat, taktik politik, pertumpahan darah, pemenggalan kepala, dan pengibaran panji-panji, tidak membuat novel ini kehilangan kedalamannya -seolah-olah segala unsur-unsur yang saya sebutkan tadi hanya berkisar di tataran nafsu rendah manusia-. Kita kembali ke syair favorit Nobunaga yang kalimat di baris pertama sering disinggung-singgung dalam novel: Lima puluh tahun di bawah langit. Kalimat itu tidak saya pahami sebelum masa ketika akhirnya sang penguasa negeri membelah perutnya sendiri. Ternyata inilah kedalaman yang ditawarkan si novel: Bahwa segala ambisi dan nafsu manusia hanya dinaungi hingga lima puluh tahun usia. Setelah itu mungkin ia masih akan mewujudkan sejumlah mimpinya, namun di saat yang sama, ia pun tentu saja berpikir tentang dekatnya sang ajal. Inilah kalimat menarik ketika Kuil Honno, tempat kediamannya, diserang pengkhianat bernama Akechi Mitsuhide:


Lima puluh tahun umur manusia di bawah langit. Itulah salah satu bait dari sandiwara yang begitu digandrungi Nobunaga, sebuah syair yang mencerminkan pandangan hidupnya di masa muda. Peristiwa yang kini dialaminya tidak dianggap sebagai peristiwa yang mengguncangkan dunia. Dan ia sama sekali tak gentar oleh pikiran bahwa ajalnya mungkin sudah dekat.

Pada usia lima puluh juga, Hideyoshi meraih kekuasaan tertingginya. Ia menyebutnya sebagai puncak tertinggi seorang laki-laki. Konfusius, sang saga, pernah berujar, "Pada usia lima puluh, aku sudah mengetahui kehendak surga." Isu usia ini tentu saja mudah untuk diperdebatkan karena toh kita menemukan bahwa ada juga orang berusia lima puluh yang masih kebingungan dan jauh dari ketetapan hati. Tapi bagi saya pribadi, kalimat lima puluh tahun di bawah langit ini sangat bermakna, terutama tentang bagaimana saya selalu dihantui pertanyaan tentang bagaimana perasaan mereka, terutama yang sudah tua, tentang kenyataan bahwa ajal selalu mengintipnya. Anak muda selalu mengenyahkan pertanyaan tentang kematian, seperti ia bukan bagian dari keseharian yang bisa terjadi kapan saja. Manusia berkepribadian agung seperti Nobunaga, yang mempunyai kekuasaan dunia yang sangat luas, ternyata termasuk ke dalam mereka yang tidak takut akan kematian -para sufi yang menganut kezuhudan (hidup sederhana) dan para bhiksu sering berdalih bahwa harta duniawi lah yang membuat seseorang takut akan mati-. Namun Nobunaga berpendapat lain: Usia lima puluh, jika iya kita sudah menghabiskan sepanjang hidup untuk mewujudkan cita-cita, maka sisa usia adalah tentang bagaimana kita mati tanpa rasa sesal.

Continue reading

Jumat, 14 Desember 2012

Page Turner (2)

Ini adalah kali kedua saya didaulat menjadi petugas pembalik halaman partitur alias page turner. Ini kali kedua juga saya merasa harus menuliskannya karena betapa pengalaman ini sedemikian berkesan.

Pengalaman pertama datang setahun lalu tepatnya tanggal 3 Desember 2011. Waktu itu di Surabaya, debut saya tak tanggung-tanggung: Menjadi page turner bagi resital yang melibatkan dua pemain berkelas, yang satu adalah Urs Bruegger, klarinetis asal Swiss, dan Ratnasari Tjiptorahardjo, pianis Indonesia domisili Australia. Ketegangan yang dialami luar biasa, terutama disebabkan itu merupakan pengalaman pertama. Pada akhirnya, kegiatan membulak balik halaman itu berlangsung cukup lancar -Ibu Ratna mencatat saya satu kali terlambat membalik-. Saya mendapat kesimpulan istimewa: Inilah posisi VVIP dalam apresiasi musik klasik. Tidak ada senot pun yang terlewat untuk diapresiasi. Adrenalin khas konser pun mau tak mau ikut ditularkan pemain, sehingga saya terseret untuk tegang. 

Kesempatan kedua kali baru saja datang tadi malam. Pianis Mutia Dharma meminta saya untuk membukakan tiga dari empat karya yang dibawakan malam itu. Resital Sarah Tunggal (flute) dan Arya Pugala Kitti (biola) tersebut membawakan komposisi dari Bach, Schubert, Dvorak, dan Faure. Dengan penuh rasa syukur, sekali lagi saya mendapatkan kesempatan untuk duduk di samping pianis dan merasakan aura konser secara utuh penuh. Liukan sahut menyahut ala Bach, sentimentalitas Schubert, serta keluasan Dvorak -bagai ia sedang memandangi tanah baru bernama Amerika yang penuh harapan- sanggup dinikmati tanpa kehilangan satu not pun. Sayang sekali saya tidak kebagian menikmati Faure dari tempat istimewa tersebut, padahal sungguh saya ingin mengapresiasi geliat scale janggal yang penuh kejutan dari sang impresionis. Rasa ngantuk yang sebelum konser sempat melanda, hilang entah kemana -berubah menjadi terjaga sepenuhnya-.Terdengar jelas bagaimana sang pianis sesekali berdecak kesal, bernapas tersengal, hingga melepaskan napas penuh kemenangan. Saya belum kehilangan nikmat itu, sebagaimana setahun lalu saya mendapati karya-karya Poulenc, Verdi dan Schumann bisa dikonsumsi tanpa sedikitpun gizinya terbuang. 

Foto diam-diam dari posisi page turner di samping Mutia Dharma.
Posisi page turner barangkali sedang dalam ancaman disebabkan keberadaan tablet yang sejumlah pianis sudah mulai menggunakannya. Partitur ditampilkan dalam tablet sehingga untuk membaliknya tinggal disentuh saja. Saya bisa paham jika lama-lama page turner tak digunakan. Selain digantikan teknologi, keberadaannya juga kerap mengganggu pemandangan dan tetap menyisakan kemungkinan human error yang fatal. Tapi sebelum kita ucapkan selamat tinggal pada posisi page turner ini dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, saya akan sekali lagi bertestimoni: Inilah posisi terbaik dalam apresiasi musik klasik. Kalian yang sanggup membaca notasi secara cepat, seyogianya pernah mencoba duduk di sana. Sebelum istilah page turner tinggal sejarah.

Continue reading

Selasa, 11 Desember 2012

Kehilangan

Kehilangan
Selasa kemarin saya mengalami kehilangan. Seserius apa nilai kehilangannya, selalu relatif bagi setiap orang. Saya kehilangan dua buah laptop yang digondol maling dengan cara memecahkan kaca mobil. Tapi orang yang pernah kehilangan lebih besar akan menganggap hal yang seperti ini sepele. "Saya pernah kehilangan anak," "Saya pernah kehilangan golok leluhur kakek saya," "Saya pernah kecurian tiga buah laptop," dst, dst. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kehilangan jelas merupakan pengalaman eksistensial. Bagi saya pribadi, hilang laptop berarti juga hilang hiburan dan pekerjaan. Sehari-hari saya menulis, entah itu demi uang atau demi penyaluran hasrat. Kehilangan laptop membuat saya membayangkan hari-hari ke depan yang penuh kehampaan.

Jika kehilangan merupakan suatu bencana. Maka saya teringat tiba-tiba suatu pepatah dari Sir Muhammad Iqbal, "Bencana membuat kita bisa melihat keseluruhan kehidupan." Saya menyatakan setuju untuk apa yang ia ungkapkan. Kehilangan secara mendadak seperti kemarin membuat saya mampu berpikir secara holistik tentang hidup, mati, nasib, rejeki, hingga cinta. Betapa manusia tiada punya kuasa tentang apa-apa yang ia rencanakan. Saya beri contoh sebaliknya: Pernah suatu hari rumah lupa dikunci, dan tidak terjadi kecurian apa pun. Sedangkan alarm mobil saya termasuk canggih dan sensitif, tapi ia tak sanggup menyalak meski kacanya dihantam. 

Kehidupan begitu menyayangi saya. Ia masih mengajarkan, bahwa di dunia yang makin rasionalistik ini, masih ada yang mistis. Masih ada misteri yang menyelimuti sehingga perasaan fascinatum et tremendum tetap lestari meski terdengar seperti cerita lama Abad Pertengahan. Kita bisa katakan kejadian seperti ini bisa dihindari seandainya tidak lalai, seandainya lebih waspada, seandainya bla bla bla. Tapi kehidupan tidak pernah kenal "seandainya". Ajarannya sudah mutlak, tinggal bagaimana seorang manusia bisa melihat setitik kebaikan di tengah prahara, ataupun setitik bahaya di tengah bahagia. 

"Tidak ada yang benar-benar datang, tidak ada yang benar-benar hilang," demikian kata seorang kawan yang kebetulan juga bernama Iqbal. Bahkan ayam yang kita santap dan masuk ke perut ia tidak lenyap, hanya berubah bentuk. Herman Hesse dalam Siddhartha mengatakan, bahkan tanaman yang merimbunkan kehidupan, ia tak mungkin hidup jika tanpa tanah, dan tanah tak mungkin terjadi jika bukan dari batu-batu yang hancur. Jadi bagaimana kita bisa mengatakan bahwa tanaman punya derajat lebih tinggi dari bebatuan, hanya karena yang satu hidup dan yang satu mati? 

Laptop saya hilang. Ia mungkin menjadi uang bagi si pencuri yang berhasil menjualnya. Uang itu ia belikan makanan. Makanan itu menjadi daging yang menghidupinya, dan sebagian lagi menjadi ampas, kembali ke tanah. Suatu hari saya, kita semua, akan kembali ke tanah. Di situ mungkin tiada beda antara yang datang dan yang hilang.

Continue reading

Jumat, 07 Desember 2012

Bane

Bane

Akibat sibuk menjalankan ibadah nonton tiga puluh film dalam tiga puluh hari bulan Ramadhan, saya dengan konyol melewatkan salah satu film terbaik tahun ini: The Dark Knight Rises yang marak diputar di bulan puasa. Bagian terakhir dari trilogi Batman karya sutradara Christopher Nolan ini baru saya tonton kemarin malam.

Kekeliruan pertama dalam menyaksikan rangkaian film Batman-nya Nolan ini adalah menganggapnya sebagai film hiburan sebagaimana yang sudah disajikan dulu oleh Tim Burton ataupun Joel Schumacher. Batman garapan Nolan adalah Batman yang penuh pergumulan psikologis maupun filosofis. Aksinya yang dahsyat -yang tentu saja sudah ditopang teknologi yang jauh lebih canggih ketimbang pendahulunya-, berlangsung tidak sebanyak dialognya yang sepertinya ingin lebih ditekankan oleh Nolan. Bagi mereka yang hanya berharap menyaksikan Batman beradu jotos secara full-action, tentu saja kehilangan banyak gizi jika tidak memerhatikan konten percakapan.

Ada satu ciri khas yang cukup menarik setidaknya dari dua film Batman terakhir yaitu The Dark Knight dan The Dark Knight Rises, yaitu bagaimana Nolan sanggup membuat penontonnya menyimpan simpati aneh terhadap para tokoh yang sudah secara tradisional merupakan antagonis sempurna seperti Joker dan Bane. Joker, kita tahu, diperankan dengan sempurna oleh almarhum Heath Ledger. Meski tidak semenjulang Ledger, Tom Hardy tidak kalah baiknya memerankan teroris intelek Bane -baik Joker maupun Bane kita sadari membuat posisi penonton kadang bimbang: Apakah betul keduanya jahat, atau malah Batman yang jahat?-

Bane, setelah menyekap Bruce Wayne di penjara bawah tanah yang "filosofis" -di penjara tersebut, para tahanan bisa menyaksikan langit cerah. Hal tersebut justru menyiksa karena seolah ada harapan untuk kabur padahal nyaris mustahil-, kemudian membuat situasi anarkis di Kota Gotham. Seisi kota dibuat tanpa kepemimpinan dan membiarkan rakyat mengontrol nasibnya sendiri-sendiri. Kota Gotham menjadi seperti milik bersama karena tiada lagi legitimasi kekuasaan maka itu yang kuat menjadi pemenang. Salah satu efek menarik dari anarki ciptaan Bane ini -dan sangat dirindukan oleh warga Indonesia- adalah bagaimana orang-orang kaya yang bersalah bisa diadili oleh rakyat dan dieksekusi saat itu juga.

Bane menciptakan khaos, itu jelas. Ia adalah antagonis yang meresahkan, membuat penonton gereget menanti Batman menata kembali Kota Gotham. Namun sadari sejenak bagaimana anarkisme ini ternyata menyenangkan juga, terutama ketika melihat para teroris binaan Bane bisa secara terbuka berperang melawan polisi yang cuma bermodalkan pentungan dan handgun seadanya. Pada situasi ini, polisi sebagai instrumen penegak hukum menjadi tidak lebih dari sekadar rakyat biasa berbaju hitam. Yang menang adalah mereka yang secara akses terhadap sumber daya jauh lebih terbuka -Dalam hal ini, kelompok Bane lebih unggul karena punya senjata-. 

Jika logika ini dibalik, tidakkah sesungguhnya kekuasaan juga hanya sekadar urusan akses terhadap sumberdaya? Tidakkah apa yang dimaksud dengan 'pemerintah', adalah tidak lebih dari sekumpulan orang rakus yang mempunyai sumberdaya lebih dan hanya mau dibagi sedikit dengan sesama? Mereka sesekali berbagi, agar wibawanya sebagai pemegang akses sumberdaya terjaga, maka itu posisi kekuasaan menjadi langgeng. Bane dengan ekstrim mewacanakan suatu perspektif yang berani: Apa jadinya jika segalanya dimulai dari nol. Tidakkah menjadi semacam fitrah manusia untuk mencari akses terhadap sumberdaya, sehingga daya tahan mereka untuk hidup lebih panjang menjadi terjamin?

Lebih jauh lagi, Bane hendak berkata tentang irelevansi pertentangan kapitalisme dan komunisme. Pada dasarnya keduanya berada dalam lubuk fitrah manusia sekaligus. Ketika kamu disejajarkan, kamu ingin menonjol. Ketika kamu menonjol, kamu ingin berpura-pura sejajar, agar terus menonjol!
Continue reading

Minggu, 02 Desember 2012

Perempuan di Moncong Senjata: Penggambaran Aung San Suu Kyi di film The Lady (2011)

Perempuan di Moncong Senjata: Penggambaran Aung San Suu Kyi di film The Lady (2011)
 Dimuat di Majalah Bhinneka Edisi Desember 2012


Tidak ada adegan yang lebih dramatis dalam film The Lady, selain ketika Aung San Suu Kyi berjalan ke arah sekelompok tentara yang membidikkan senapan. Dengan semangat anti-kekerasan ala Mahatma Gandhi, Suu Kyi -yang diperankan dengan sangat prima oleh artis Singapura, Michelle Yeoh- menghadapi pasukan junta militer yang represif tersebut dengan senyum menawan. Ini bukan persoalan apakah adegan tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana adegan itu menjadi simbol kekuatan perempuan dalam melawan tirani. 

Aung San Suu Kyi 

Sebelum membahas film The Lady, ada baiknya memberikan sedikit gambaran tentang tokoh yang diceritakan dalam film tersebut yakni Aung San Suu Kyi. Suu Kyi bukanlah perempuan yang menempati posisi puncak dalam pemerintahan Myanmar. Ia berdiri kokoh sebagai oposisi sejak tahun 1988 menentang tampuk tertinggi yang dijalankan oleh junta militer. Sejak tahun 1962, Myanmar, yang kala itu bernama Burma, diambil alih oleh kekuasaan militer di bawah pimpinan Jendral Ne Win. Dengan jalan kudeta, Ne Win membubarkan dengan paksa politik Burma yang cukup cemerlang di bawah pimpinan Presiden Win Maung dan Perdana Menteri U Nu. 

Sejak itu, Burma dipimpin oleh pemerintahan militer bernama Burma Socialist Programme Party (BSPP) dari tahun 1962 hingga 1988. Namun rakyat Burma tidak kunjung mendapatkan kebebasannya pasca BSPP terguling. Penggantinya, State Peace and Development Council (SPDC) memerintah dengan cara tak kalah represif di bawah pimpinan Jendral Saw Maung. Di masa SPDC ini pula, Burma berganti nama menjadi Myanmar. Pada periode SPDC inilah Suu Kyi berkarir secara politik. 

Keterlibatan Suu Kyi dalam politik sendiri bisa dibilang tidak disengaja. Pada tahun 1988, ia pulang ke Burma untuk mengunjungi ibunya yang sakit. Sebelumnya, Suu Kyi tinggal di Inggris beserta suaminya, Michael Aris dan hidup tenang dengan dua anak. Namun kepulangannya yang direncanakan singkat tersebut ternyata menjadi momentum bagi para aktivis yang tengah berdemonstrasi menentang kepemimpinan junta militer. Keberadaan Suu Kyi yang dianggap mampu memberikan kekuatan politik ini, tidak lepas dari sejarah. Ayah dari Suu Kyi, Aung San, adalah tokoh penting dalam politik Burma. Ia sukses memerdekakan Burma dari Inggris lewat jalur diplomasi, namun kemudian dieksekusi secara tiba-tiba oleh kelompok militer di usia 32 tahun. 

Meski meninggal sebelum Burma diresmikan merdeka dari Inggris, nama Aung San menjadi harapan bagi warga Burma. Mereka, khususnya aktivis anti pemerintahan militer, melihat keberadaan Suu Kyi sebagai mesias seperti halnya Aung San dulu membebaskan Burma dari penjajahan. Keberadaan Suu Kyi ini tercium oleh pemerintah SPDC yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap kestabilan. 

Suu Kyi, yang lahir pada tahun 1945, kemudian dikenakan tahanan rumah dari tahun 1989 hingga baru saja dibebaskan kemarin pada tahun 2011. Meski ditahan, ia tetap menjadi pemimpin bagi partai yang dinaunginya, National League of Democracy (NLD). Kabar terakhir, Suu Kyi, mewakili NLD, akhirnya resmi mempunyai posisi di pemerintahan. Ia menduduki parlemen sebagai oposisi bagi Presiden Thein Sein. Selain keberhasilannya menembus parlemen, Suu Kyi juga pernah dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 1991 dan sejumlah penghargaan internasional lainnya seperti Sakharov Prize for Freedom of Thought, Jawaharlal Nehru Award for International Understanding dan International Simón Bolívar Prize

The Lady (2011) 

The Lady, yang disutradarai oleh Luc Besson, adalah film yang menceritakan tentang Suu Kyi di periode antara kedatangannya ke Burma, perjuangannya bersama NLD, hingga statusnya sebagai tahanan rumah. The Lady juga tidak sedikit menyoroti kehidupan pribadi Suu Kyi dengan sang suami, Michael Aris, serta kedua anaknya, Kim dan Alexander. Film berdurasi 134 menit ini bermain di dalamnya Michelle Yeoh sebagai Suu Kyi dan David Thewlis sebagai Michael Aris. 

Meski secara gamblang menunjukkan bahwa film ini adalah biografi Suu Kyi, namun tentu saja setiap film mempunyai fokus tertentu. Sebelumnya, kita ambil contoh film Munich karya Steven Spielberg. Munich berpijak pada tragedi nyata tentang bagaimana para atlit Israel dibunuhi di Olimpiade Munich 1972 oleh para teroris. Kemudian fokus film ini adalah bagaimana agen rahasia Israel, Mossad, melakukan pembalasan terhadap tragedi tersebut. Jadi, kisah nyata hanya digunakan sebagai pijakan skenario. Selebihnya, sutradara boleh (dan bahkan harus) memilih angle mana yang ingin diangkat sebagai pesan dari sebuah film. 

Lantas, fokus mana yang diangkat oleh Luc Besson pada film The Lady? Suu Kyi dalam film ini tidak digambarkan hanya sebagai pejuang politik, melainkan juga posisinya sebagai istri bagi Michael dan ibu bagi Kim dan Alexander. Kekuatan Suu Kyi untuk maju menentang junta militer tidak hanya didapat dari para aktivis NLD, tapi juga dari dorongan keluarganya. Ada sisi yang hendak dipertunjukkan oleh Besson pada penonton: Bahwa Suu Kyi adalah perempuan pada umumnya. Ia bukan Yoanna dari Ark atau Hypatia yang menempa diri; lantas mengabdi sepenuhnya pada idealisme “kekuatan” ataupun “kebenaran”. Suu Kyi bukan perempuan seperti Simone de Beauvoir yang mencurahkan pikirannya untuk memberi landasan filosofis bagi kesetaraan perempuan. 

Suu Kyi, dalam penggambaran Besson, sungguh mencerminkan perempuan “rumah-an” yang menganggap bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan yang mesti dilestarikan. Bahkan Suu Kyi, yang untuk pertama kalinya pidato di depan pendukungnya dengan amat percaya diri dan berapi-api, harus sejenak menunjukkan wajah tegang dan keringat dingin pada sang suami sebelum menaiki podium. Ketika Suu Kyi berpidato, kamera juga menyoroti secara bergantian ekspresi Suu Kyi dan Michael Aris –yang begitu khawatir-. Seolah-olah menunjukkan bahwa dalam konteks panggung politik yang kejam dan dingin, keperempuanan Suu Kyi membutuhkan tenaga dari sanak famili. 

Lainnya, tentu saja adegan dramatis ketika sebaris tentara membidikkan senapan pada sekelompok aktivis NLD yang tengah berkampanye. Suu Kyi maju menghadapi tentara itu, berjalan tenang dengan hiasan bunga di rambut –tersenyum- dan melewati moncong senjata tanpa sedikitpun tersirat rasa takut. Suu Kyi, dalam perjuangannya, selalu menekankan anti-kekerasan seperti halnya Mahatma Gandhi ketika menghadapi represi Inggris. 

Junta militer Burma digambarkan sangat maskulin: demikian agresif dan menyukai penaklukan. Mereka juga anti-kritik dan menggilai tampuk kekuasaan. Demokrasi nyaris ditiadakan dan berdiri semacam pemerintahan totalitarian. Kita tidak bisa melihat bagaimana cara yang tepat untuk menggulingkan pemerintahan semacam itu –yang bahkan represif juga terhadap seni budaya!-. Jika ingin dilawan dengan kekerasan, akses senjata tentu saja tidak berimbang dengan yang dipunyai sipil.

Besson menunjukkan lewat filmnya, The Lady, bahwa situasi represif akut yang maskulin semacam itu, hanya bisa ditundukkan oleh keperempuanan yang natural. Pierre Bourdieu, filsuf Prancis, menyebutkan, “Dominasi laki-laki sudah sangat mengakar dalam kesadaran kita, sehingga bahkan kita tidak sanggup melihatnya.” Apa artinya? Jika Suu Kyi kemudian mengambil jalur sikap maskulin dengan melakukan agresi balik dan revolusi kekerasan, maka secara tidak langsung Suu Kyi menundukkan diri pada dunia kemaskulinan –ketika maskulin dilawan dengan maskulin, berarti seluruh dunia ini menjadi maskulin!-. 

Catatan Penutup 

Lewat penonjolan keperempuanan Suu Kyi dalam film The Lady yang amat sederhana, bisa jadi keberadaan perempuan pemimpin bukan saja perlu, tapi mendesak. Namun sekali lagi, kepemimpinan yang dimaksud tidak sama dengan kepemimpinan yang maskulin. Majunya perempuan ke medan politik bukan seperti majunya pria. Berjuangnya perempuan bukan seperti berjuangnya pria. Ekstrimnya perempuan tidak sama dengan ekstrimnya pria. Pernyataan-pernyataan semacam ini bukan menunjukkan kritik terhadap feminisme yang berupaya menyamaratakan posisi perempuan dengan laki-laki hingga ke tataran “kodrati”. Kemendesakan kepemimpinan perempuan menjadi perlu dalam segala lini untuk menjaga agar dunia tetap pada harmoninya: Seimbang antara maskulin dan feminin –kita bisa sebut Yin dan Yang-. Karena tanpa suatu kekuatan keperempuanan yang natural dan berintensi pada keseimbangan alam, tidak mungkin senyuman Suu Kyi bisa menaklukkan moncong senjata yang siap menyalak. 

Syarif Maulana 
Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD dan Penggiat Klab Filsafat Tobucil www.syarifmaulana.blogspot.com 

Referensi 
http://news.xinhuanet.com/english/world/2012-04/02/c_131504585.htm
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/1991/kyi-bio.html
http://www.youtube.com/watch?v=sZFpURJGv00&feature=related
http://editorials.voa.gov/content/burmese-parliamentary-elections-146265885/1493313.html http://en.wikipedia.org/wiki/The_Lady_%282011_film%29
Continue reading